Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 11 – Halaqah 90 | Pembahasan Dalil Kesebelas dan Keduabelas

Halaqah 90 | Pembahasan Dalil Kesebelas dan Keduabelas

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-90 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mendatangkan ucapan Abul ‘Aliyah

وَقَالَ أَبُو العَالِيَةِ

Berkata Abul ‘Aliyah

تَعَلَّمُوا الإِسْلَامَ

Hendaklah kalian mempelajari Islam, yaitu mempelajari Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ baik aqidahnya, akhlak, ibadahnya

فَإِذَا عَلِمْتُمُوهُ فَلَا تَرْغَبُوا عَنْهُ

Dan kalau kalian sudah mempelajari Islam maka janganlah kalian membencinya atau lari darinya, tidak Istiqomah, futur, melenceng dari apa yang sudah dipelajari, kalau kalian sudah belajar maka janganlah kalian membencinya, jangan kalian menjauh darinya, jangan kalian lemah, pelajari dan amalkan

وَعَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ المُسْتَقِيمِ

Dan wajib bagi kalian untuk menempuh jalan yang lurus ini, عَلَيْكُمْ maknanya adalah ilzam atau maknanya adalah wajib bagi kalian untuk menempuh jalan yang lurus ini, apa yang dimaksud jalan yang lurus

فَإِنَّهُ الإِسْلَامُ

karena jalan yang lurus adalah islam ini, yang sedang kalian pelajari ini

وَلَا تُحَرِّفُوا الصِّرَاطَ يَمِينًا وَشِمَالًا

Dan janganlah kalian menyimpang dari jalan yang lurus ini baik ke kiri maupun ke kanan, jangan mengatakan ke kanan lebih baik daripada ke kiri, tidak, lurus. Dan berada di atas jalan yang lurus tidak boleh kita melenceng sedikit pun, tanḥarif maksudnya adalah menyimpang membelok baik ke kanan maupun kekiri, sama saja ke kanan ataupun ke kiri kalau itu keluar dari jalan yang lurus maka tempat kembalinya adalah siksaan dan juga jahanam. Mau ikut aliran apa saja kalau itu di luar الصِّرَاط المُسْتَقِيم maka itu akan membawa kepada jahanam, akan membawa kepada kesesatan.

Yakinlah bahwasanya jalan satu-satunya yang menyampaikan kita kepada tujuan yaitu kepada surga, kepada Allāh ﷻ adalah jalan yang lurus ini, adapun jalan yang lain bagaimanapun dia dihiasi dengan lampu, dihiasi dengan nama-nama yang indah, dihiasi dengan kegiatan-kegiatan yang wah, dihiasi dengan banyaknya harta mereka, yakinlah bahwa itu tidak akan menyampaikan kepada Allāh ﷻ, jangan tertipu, jalan inilah yang akan menyampaikan kita kepada Allāh ﷻ

وَعَلَيْكُمْ بِسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ

Dan wajib bagi kalian untuk memegang sunnah Nabi kalian, tadi mengatakan Islam sekarang berbicara tentang sunnah menunjukkan bahwasanya Islam itu ya sunnah dan menunjukkan bahwasanya sirāthul mustaqīm itu adalah islam dan sirāthul mustaqīm dia adalah sunnah, makanya tadi beliau mengatakan

وَعَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ المُسْتَقِيمِ، فَإِنَّهُ الإِسْلَامُ

Berarti sirāthul mustaqīm itu adalah Islam. Kemudian beliau mengatakan

وَعَلَيْكُمْ بِسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ

Berarti Islam ya sunnah Nabi ﷺ, Islam itu ya jalannya Nabi ﷺ berarti baik sirāthul mustaqīm Islam maupun sunnah maknanya sama

وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ

Dan hati-hati kalian dengan hawa nafsu-hawa nafsu ini. Hawa nafsu ini berarti bertentangan dengan Islam, masuk di dalamnya adalah bid’ah karena bid’ah ini adalah bagian dari hawa nafsu, karena harusnya Islam yaitu manut kepada Allāh ﷻ, ketika seseorang melakukan bid’ah berarti dia mengikuti hawa nafsunya, makanya digandengkan terus antara bid’ah dengan nama nafsu, ahlul bid’ah wal ahwa, mereka itu adalah ahli dalam masalah bid’ah dan mereka adalah ahli dalam masalah hawa nafsu, mengikuti hawa nafsu bukan mengikuti wahyu

وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ

Dan hati-hati kalian dengan hawa nafsu ini, menunjukkan bahwasanya hawa nafsu ini bertentangan dengan sunnah Nabi ﷺ.
Ucapan Abul ‘āliyah ini dikeluarkan oleh diantaranya oleh Abdur Rozzaq di dalam mushannah beliau, selain oleh Abdur Rozzaq maka ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Bathoh didalam kitab beliau Al-Ibanah Al-Qubroh, juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyatul Aulia.

Kemudian beliau mengucapkan sebuah ucapan dan ini mungkin kali yang ketiga kita menemukan ucapan penulis di dalam kitab ini, jarang sekali beliau mengucapkan ucapan dari diri beliau tapi kebanyakan adalah Al-Quran dan hadits dengan ucapan para salaf.
Kemudian Syaikh mengatakan

تَأَمَّلْ كَلَامَ أَبِي العَالِيَةِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى هَذَا، مَا أَجَلَّهُ

Perhatikanlah, dan ini sepertinya dalam dua ucapan beliau sebelumnya juga mengatakan تَأَمَّلْ dan seterusnya, beliau mengajak kita untuk jangan hanya melewati ucapan para salaf murūron kiroman, melewati ucapan-ucapan para salaf dengan begitu saja, mereka kalau berbicara berbicara di atas ilmu, ini sedikit tapi berdasarkan ilmu, maka beliau mengatakan perhatikanlah ucapan Abul ‘āliyah

هَذَا، مَا أَجَلَّهُ

Bagaimana besarnya dan berharganya ucapan ini

وَأَعْرَفَ زَمَانَهُ الَّذِي يُحَذِّرُ فِيهِ مِنَ الأَهْوَاءِ

Dan ketahuilah zaman beliau, zaman dimana saat itu beliau mentahdzir dari hawa nafsu, ketika beliau mengatakan

وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ

hati-hati kalian dengan ahwa’ ini, هَذِهِ menunjukkan bahwa di zaman beliau sudah ada, sudah banyak hawa nafsu-hawa nafsu.

الَّتِي مَنِ اتَّبَعَهَا؛ فَقَدْ رَغِبَ عَنِ الإِسْلَامِ

Yang barangsiapa yang mengikuti hawa nafsu tadi maka sungguh dia telah membenci Islam atau menjauhi dari Islam, dan sudah kita sampaikan bahwasanya orang yang mengikuti bid’ah tadi berarti dia sudah lama kelamaan akan membenci Islam itu sendiri, ketika dia melakukan bid’ah berarti dia membenci sunnah yang bertentangan dengan bid’ah tadi dan seterusnya dipupuk akhirnya dia membenci Islam itu sendiri.

الَّتِي مَنِ اتَّبَعَهَا؛ فَقَدْ رَغِبَ عَنِ الإِسْلَامِ

Beliau telah mentahdzir dari yang demikian. Kenapa belum mentahdzir dari hawa nafsu-hawa nafsu ini? Apa hubungannya dengan Islam? Karena mengikuti hawa nafsu ini, mengikuti bid’ah akan menjadikan dia membenci Islam, akhirnya keluar dari agama Islam, akhirnya keluar dari jalan yang lurus. Sehingga beliau mengatakan تَأَمَّلْ, perhatikan ucapan ini, kenapa beliau di akhir mengatakan

وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ

hati-hati kalian dengan hawa nafsu ini padahal sebelumnya menjelaskan tentang, harus mengikuti Islam, harus mengikuti sunnah, jangan kalian berpaling dari jalan yang lurus baik ke kanan maupun ke kiri. Apa hubungannya? Karena hawa nafsu ini kalau diikuti akan menjauhkan kita dari Islam.
Kemudian disebutkan didalam ucapan Abul ‘āliyah

وَتَفْسِيرُ الإِسْلَامِ بِالسُّنَّةِ

Di dalamnya juga ada penjelasan atau tafsir Islam dengan sunnah, dari mana diambil, karena sebelumnya وَعَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ المُسْتَقِيمِ، فَإِنَّهُ الإِسْلَامُ kemudian setelahnya وَعَلَيْكُمْ بِسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ dan semuanya adalah lawan dari hawa nafsu, dan sudah kita sebutkan (halaqah 12) ucapan dari al Imam Al Barbahari

الإسلام هو السنة والسنة هي الإسلام

وَخَوْفَهُ عَلَى أَعْلَامِ التَّابِعِينَ وَعُلَمَائِهِمْ مِنَ الخُرُوجِ عَنِ السُّنَّةِ

Dan dari ucapan ini kita mengetahui tentang rasa takutnya beliau, takutnya Abul ‘āliyah kalau sampai ini menimpa para tabi’in, karena beliau mengatakan

تَعَلَّمُوا الإِسْلَامَ

hendaklah kalian, ini beliau berbicara dengan para tabi’in

فَإِذَا عَلِمْتُمُوهُ

kalau kalian sudah belajar, berarti beliau berbicara kepada thullābul ‘ilm, berbicara kepada para ulamanya, kalau sudah mempelajari Islam

فَلَا تَرْغَبُوا عَنْهُ

jangan kalian membencinya, kalian jangan menjauhinya.

Maka disini kita lihat bagaimana takutnya beliau hal ini menimpa para tabi’in dan juga para ulama tabi’in jangan sampai mereka keluar dari Islam, keluar dari sunnah. Kalau ini terjadi pada seorang semisal Abul ‘āliyah dan beliau berbicara dengan kaum yang telah dikabarkan oleh Nabi ﷺ

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

kemudian orang-orang yang mengikuti mereka yaitu setelah para sahabat, dipuji oleh Nabi ﷺ, meskipun demikian Abul ‘āliyah khawatir akan menimpa para tabi’in tersebut

رَغبَ عَنِ الإِسْلَامِ والسنة

lalu bagaimana dengan kita yang jauh dari mereka baik dari sisi zaman maupun dari sisi Iman, tentunya kita harus lebih takut lagi mengikuti hawa nafsu-hawa nafsu tadi.

يَتَبَيَّنُ لَكَ

maka akan jelas bagimu

مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ﴾ [البقرة: 131

[البقرة: 131]

Dari sini engkau mengetahui makna dari firman Allāh ﷻ

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ

Siapa yang diperintahkan disini ? Ibrahim, disuruh untuk Islam.

Maka kita mengetahui makna ayat ini kenapa Allāh ﷻ memerintahkan, jangankan para tabi’in yang mereka dipuji Nabi ﷺ dikatakan oleh Abul ‘āliyah

فَإِذَا عَلِمْتُمُوهُ فَلَا تَرْغَبُوا عَنْهُ، وَعَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ المُسْتَقِيمِ، فَإِنَّهُ الإِسْلَام

Nabi Ibrahim saja diperintahkan oleh Allāh ﷻ untuk aslim, maksudnya adalah Istiqomah di atas Islam. Nabi Ibrahim disuruh untuk Istiqomah, berarti di sini kita memahami makna kenapa Allāh ﷻ menyuruh Nabi-Nyauntuk Istiqomah.
Tidak ada yang merasa aman di antara kita, dari fitnah keluar dari sunnah, keluar dari Islam karena hati manusia ini berada di antara dua jari di antara jari-jari Allāh ﷻ, sangat mudah sekali Allāh ﷻ bolak-balikkan. Nabi ﷺ mengatakan bahwasanya hati-hati kita itu berada diantara dua jari Allāh ﷻ, Allāh ﷻ membolak-balikkan hati manusia sesuai dengan kehendaknya.

Dan kita mengetahui tentang firman Allāh ﷻ

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [البقرة: 132

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.’”

(QS. Al-Baqarah [2]: 132)

Kita memahami ayat ini bahwasanya ayat ini berisi tentang wasiat dan perintah Ibrahim kepada anak-anaknya dan juga Ya’qub kepada anak-anaknya untuk Istiqomah di atas Islam, jangan sampai melenceng dari Islam, dan kita memahami firman Allāh ﷻ

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ﴾ [البقرة: 130].

[البقرة: 130]

Tidaklah membenci millahnya Ibrahim kecuali orang yang menjadikan dirinya bodoh, kecuali orang yang bodoh, orang yang melenceng dari Islam, tidak Istiqomah di atas Islam, itu adalah orang yang سَفِه orang yang bodoh, karena orang yang berakal menginginkan kebahagiaan bagi dirinya dan kebahagiaan yang sebenarnya adalah kebahagiaan yang Allāh ﷻ janjikan dengan islam ini.

Maka orang yang berusaha mencari kebahagiaan di luar Islam ini adalah orang yang bodoh dan ayat ini menunjukkan tentang wajibnya kita untuk Istiqomah di atas Islam

وَأَشْبَاهِ هَذِهِ الأُصُولِ الكِبَارِ

Dan ayat-ayat yang serupa dengan ayat-ayat yang agung ini, أُصُول terkadang maknanya adalah dalil, waashlu hādzihil mas’alah atau asal dari permasalahannya adalah firman Allāh ﷻ, maksudnya adalah dalil, karena dalil ini memang menjadi yang utama dia yang menjadi pegangan bagi kita

وَأَشْبَاهِ هَذِهِ الأُصُولِ الكِبَارِ الَّتِي هِيَ أَصْلُ الأُصُولِ، وَالنَّاسُ عَنْهَا فِي غَفْلَةٍ

Dan semisal dengan dalil-dalil yang besar ini atau pondasi-pondasi yang besar ini, yang dia adalah pokok dari pokok pokoknya dan bahwasanya manusia berada di dalam kelalaian di dalam masalah ini. Banyak orang yang lalai tentang pentingnya istiqomah di atas Islam dan bahwasanya bid’ah ini adalah sesuatu yang bertentangan dengan Islam

وَبِمَعْرِفَتِهَا يَتَبَيَّنُ مَعْنَى الأَحَادِيثِ فِي هَذَا البَابِ وَأَمْثَالِهَا

Dan dengan mengenal ini, dengan memahami ucapan Abul ‘āliyah ini, engkau bisa memahami dengan baik makna hadits-hadits yang ada di dalam bab ini dan yang semisalnya, maksudnya adalah hadits-hadits yang kita sebutkan yang isinya adalah perintah untuk Istiqomah di atas Islam seperti hadits Hudzaifah Ibnu Yaman, ma min maulūdin yūladu ‘alal fitrah kemudian juga hadits-hadits tentang haudh maka ini semua kita memahami kenapa kita harus istiqomah di atas Islam dan larangan kita untuk melakukan bid’ah di dalam agama

وَأَمَّا الإِنْسَانُ الَّذِي يَقْرَأُهَا وَأَشْبَاهَهَا وَهُوَ آمِنٌ مُطْمَئِنٌّ؛ أَنَّهَا لَا تَنَالُهُ، وَيَظُنُّهَا فِي قَوْمٍ كَانُوا، فَبَادُوا، ﴿مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا القَوْمُ الخَاسِرُونَ﴾ [الأعراف: 99]

Adapun seseorang manusia yang dia membaca dalil-dalil ini dan juga yang semisalnya sedangkan dia dalam keadaan آمِنٌ مُطْمَئِنٌّ, membaca ayat ayatnya membaca haditsnya tapi dia dalam keadaan tenang

أَنَّهَا لَا تَنَالُهُ

bahwasanya fitnah-fitnah ini, kejelekan-kejelekan ini, hawa nafsu ini tidak akan mengenai dirinya. Jadi orang Islam harusnya dia takut terkena fitnah ini, takut dia melenceng dan keluar dari jalan yang lurus. Adapun orang yang sekedar membaca dalil-dalil tadi tapi dia dalam keadaan آمِنٌ dalam keadaan merasa aman, ah nggak mungkin ini terkena ke saya, مُطْمَئِنٌّ dalam keadaan hatinya tenang tidak ada rasa takut terjerumus dalam kesesatan.

Dia menyangka bahwasanya kesesatan-kesesatan tadi hanya untuk nāsin kānu, ini hanya untuk orang-orang yang sudah berlalu saja, فَبَادُوا yang mereka berpisah dengan kita, seakan-akan fitnah bid’ah, fitnah syirik itu hanya untuk orang lain bukan untuk dirinya sehingga dia menyangka, dia merasa tenang, merasa aman tidak mungkin dia terkena kesesatan tadi, menyangka ini adalah untuk orang-orang yang sudah berlalu أْمَنا مَكْرَ اللَّهِ dalam keadaan dia merasa aman dari makar Allāh ﷻ

فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا القَوْمُ الخَاسِرُونَ

Maka tidak aman dari makar Allāh ﷻ kecuali orang-orang yang rugi, orang yang merasa aman dari makar Allāh ﷻ inilah orang yang rugi.

Adapun orang yang khawatir, ketika melihat fitnah banyak orang yang berjatuhan di dalam bid’ah, di dalam kesyirikan, di dalam kemaksiatan maka dia khawatir dirinya terjerumus ke dalam yang dialami orang-orang tersebut, maka dia akan berusaha, maka dia akan berdoa, maka dia akan mengambil sebab bagaimana selamat dari kesesatan tadi.

Kemudian Syaikh mengatakan

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا

Dan dari Abdullah bin Mas’ud beliau mengatakan Rasulullah ﷺ membuat sebuah garis, satu garis saja

ثُمَّ قَالَ: «هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ

Ini adalah jalan Allāh ﷻ, menunjukkan bahwasanya jalan Allāh ﷻ itu hanya satu dan dia adalah jalan yang lurus, sebagaimana dalam ayat shirāthal mustaqim, tharīqil mustaqim, sabīlil mustaqim

ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ

Kemudian beliau menggambar garis-garis yang lain baik di sebelah kanannya maupun di sebelah kirinya

ثُمَّ قَالَ: «هَذِهِ سُبُلٌ

Ini adalah subul, ini adalah jalan-jalan yang disebutkan di dalam ayat

وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ

[Al An’am:153]

عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ

Di atas masing-masing dari jalan ini ada setan yang dia mengajak kepada jalan-jalan ini. Dia ajak orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus ini untuk mengikuti jalannya

وقَرَأَ

kemudian Nabi ﷺ membaca

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ، فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ﴾ [الأنعام:153]

Ini adalah jalan مُسْتَقِيمًا yang lurus فَاتَّبِعُوهُ maka hendaklah kalian mengikutinya, dan ini adalah syahidnya kita disuruh mengikuti ini, jangan kita berbelok ke kiri dan ke kanan menyimpang dari Islam

وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ

Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan, subul ini, yang ada di sebelah kanan dan juga sebelah kiri karena inilah yang akan memecah kalian dari jalan Allāh ﷻ. Awalnya kalian berkumpul di sini, ketika kita sudah menoleh ke kanan dan ke kiri maka akhirnya masing-masing kita berada di aliran-aliran tadi, kalian akan pecah belah dari jalan Allāh ﷻ ini adalah syahidnya kita harus istiqomah di atas Islam dan jangan sampai kita menyimpang ke kanan maupun kiri

رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ

Hadits ini diriwayatkan oleh Imām Ahmad dan juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i, dan hadits ini adalah hadits yang shahih diriwayatkan sebagaimana ucapan Mu’allif disini diriwayatkan oleh Imām Ahmad dan juga An Nasa’i

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته