Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 12 – Halaqah 95 | Pembahasan Dalil Kelima Lanjutan Komentar Ibnu Wadhah

Halaqah 95 | Pembahasan Dalil Kelima Lanjutan Komentar Ibnu Wadhah

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-95 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

وَرَوَى ابْنُ وَضَّاحٍ مَعْنَاهُ: مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah makna hadits ini, yaitu makna hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi diatas, Syaikh al-Albani menyebutkan hadits ini didalam silsilah hadits ash-shahihah.

Disini disebutkan hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi dan juga Ibnu Majah berarti ashabus sunan kecuali an-Nasa’i meriwayatkan hadits ini, dan dihukumi oleh Syaikh al-Albani bahwasanya hadits ini adalah hadits yang dhoif, maksudnya lafadz yang diawal tadi, adapun fakrah ayyamusshobr maka ini adalah hadits yang tsābitah

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ

maka ini adalah hadits yang shahih. Adapun ayat tadi maka pemahamannya

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَيۡتُمۡۚ

Hendaklah kalian memperhatikan diri kalian sendiri, ini jangan diartikan ego atau yang lain bahkan kita katakan termasuk perhatian kita terhadap diri sendiri adalah ketika kita memperhatikan orang lain, karena nanti akan ditanya oleh Allāh ﷻ

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Dan orang yang meninggalkan kemungkaran, tidak saling melarang dari kemungkaran sebagaimana firman Allāh ﷻ

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ

[ Al Maidah المائدة:78-79]

Kemudian didalam surah Al-A’raf 164 kenapa mereka mengingkari kemungkaran mereka mengatakan مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ. Ketika ada sebagian kelompok, kenapa kalian memberikan nasihat kepada orang yang Allāh ﷻ sudah akan menghancurkan mereka, kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ mereka hancur, akan hancur, kenapa kalian memberikan nasihat kepada mereka

قَالُواْ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ

[ الأعراف:164 ]

Kami ingin meminta uzur kepada Allāh ﷻ, karena kami nanti akan di tanya, yang penting kami beramar ma’ruf nahi mungkar, masalah mereka mendapatkan hidayah atau tidak mendapatkan hidayah itu Allāh ﷻ yang menentukan, kami hanya melaksanakan yang diperintahkan.

Ketika kita beramar ma’ruf nahi mungkar berarti kita sedang menyelamatkan diri kita sendiri, illa qolīlan min man anjaina min hum, siapa yang diselamatkan, orang yang sedikit tadi yang mereka yanhauna anil fasādi fil ardh, mereka melarang dari kerusakan, kita tidak ingin hancur bersama mereka,

لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ

[Al Anfal:25]

Tidak menimpa fitnah tersebut kepada orang-orang yang dzalim saja tapi juga mengenai yang lain, jadi orang yang beramal ma’ruf nahi mungkar berarti dia telah memperhatikan dirinya sendiri, ketika Allāh ﷻ mengatakan

عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ

hendaklah kalian perhatian dengan diri kalian, maksudnya adalah disuruh kita beramar ma’ruf nahi mungkar, justru kita disuruh untuk tidak beramar ma’ruf nahi mungkar, justru kalimat عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ perintah bagi kita untuk apa beramar ma’ruf nahi mungkar

لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَيۡتُمۡۚ

Tidak akan memudhoroti kalian orang yang sesat, yaitu setelah kalian beramar ma’ruf nahi mungkar ada orang yang sesat itu tidak akan memudhororti kalian, Allāh ﷻ yang menentukan hidayah, selama kalian beramar ma’ruf nahi mungkar dan berpegang dengan agama kalian, tidak akan memudhoroti kalian orang yang sesat setelah itu, itu maksud ayat ini.

Jadi hadits ini lafadz yang awalnya dhaif tapi lafadz yang setelahnya adalah lafadz yang yang shahih. Lafadz yang shahih disebutkan dalam riwayat yang lain disebutkan oleh Syaikh al-Albani dalam silsilah hadits ash-shahihah dikeluarkan oleh Ibnu Nasr di dalam as-sunnah

إن من ورائكم أيام الصبر للمتمسك فيهن يومئذ بما أنتم عليـه أجر خمسين منكم قالوا: يا نبي الله أو منهم؟ قال: بل منكم

Ini dikeluarkan oleh Ibnu Nasr di dalam as-sunnah

وَرَوَى ابْنُ وَضَّاحٍ مَعْنَاهُ: مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَلَفْظُهُ: «إِنَّ مِنْ بَعْدِكُمْ أَيَّامًا الصَّابِرُ فِيهَا المُتَمَسِّكُ بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ اليَوْمَ؛ لَهُ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah dari haditsnya Abdullah bin Umar, haditsnya Abdullah bin Umar وَلَفْظُهُ dan lafadznya adalah

إِنَّ مِنْ بَعْدِكُمْ

setelah kalian ada hari-hari di mana orang yang bersabar di dalamnya, orang yang bertamassuk

بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ اليَوْمَ

berpegangan dengan seperti dengan apa yang kalian wahai para sahabat di atasnya hari ini, seperti yang kalian amalkan hari ini, seperti yang kalian pahami hari ini, di hari-hari itu dia berpegang teguh dengan apa yang kalian pegang hari ini

لَهُ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

Maka dia akan mendapatkan pahala lima puluh orang diantara kalian.

Kenapa di sini di sebutkan riwayat ini, karena di sini ada lafadz

المُتَمَسِّكُ بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ اليَوْمَ

Jadi lafadz, meskipun lafadz yang dhoif tadi ‘alā dīnihi, di atas agamanya maksudnya adalah agama Islam yang dipahami oleh para sahabat, mereka adalah salafiyyun, orang-orang yang berpegang teguh dengan apa yang dipahami oleh para sahabat, maka merekalah orang-orang yang mendapatkan pahala lima puluh orang sahabat Nabi ﷺ.

Dan mungkin ini rahasia kenapa disebutkan lima puluh orang sahabat diantaranya adalah karena mereka berpegang teguh dengan sunnahnya para sahabat Nabi ﷺ, mereka berusaha untuk mengikuti para sahabat di tengah-tengah rusaknya manusia maka mereka pun mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ mendapatkan pahala lima puluh orang sahabat Nabi ﷺ

ثُمَّ قَالَ

kemudian berkata, yaitu Ibnu Wadhdhah

أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ: أَنْبَأَنَا أَسَدُ بْنُ مُوسَى، قَالَ: أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ أَسْلَمَ البَصْرِيِّ، عَنْ سَعِيدٍ أَخِي الحَسَنِ يَرْفَعُهُ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad ibn Sa’id, telah mengabarkan kepada kami Asad, beliau mengatakan telah mengabarkan kepada kami Sufyan bin uyainah dari Aslam Al Bashri dari Sa’id Akhil Hasan, saudara dari Hasan Al bashri, yarfa’uhu, mengangkatnya kepada Rasulullah ﷺ, berarti di sini haditsnya adalah hadits yang mursal, dan hadits yang mursal termasuk hadits yang dhoif

قَالَ: «إِنَّكُمُ اليَوْمَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ، تَأْمُرُونَ بِالمَعْرُوفِ، وَتَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ، وَتُجَاهِدُونَ فِي اللَّهِ، وَلَمْ تَظْهَرْ فِيكُمُ السَّكْرَتَانِ: سَكْرَةُ الجَهْلِ، وَسَكْرَةُ حُبِّ العَيْشِ، وَسَتُحَوَّلُونَ عَنْ ذَلِكَ، فَالمُتَمَسِّكُ يَوْمَئِذٍ بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ لَهُ أَجْرُ خَمْسِينَ» قِيلَ: مِنْهُمْ؟ قَالَ: «لَا، بَلْ مِنْكُمْ

Sesungguhnya kalian wahai para sahabat hari ini berada di atas sesuatu yang jelas dari Robb kalian, tidak ada bid’ah, ada Nabi ﷺ, kalian beramar ma’ruf, melarang dari yang mungkar dan kalian berjihad fī sabīlillah dan belum muncul di tengah-tengah kalian dua mabuk, السَّكْرَتَان maksudnya adalah mabuk, mabuk yang pertama adalah

سَكْرَةُ الجَهْلِ

sehingga dengan kebodohannya seseorang tidak menyadari

وَسَكْرَةُ حُبِّ العَيْشِ

dan orang yang sedang mabuk dengan dunia, mabuk dengan kebodohan dan yang kedua adalah mabuk dengan dunianya.
Seseorang membiarkan dirinya dalam kebodohan, tidak mau belajar dan sebagian orang mabuk dengan dunianya, sibuk dengan dunianya, kemudian kalian akan dipindah dari yang demikian

وَسَتُحَوَّلُونَ عَنْ ذَلِكَ

kalian akan berpindah keadaan kalian dari keadaan sekarang ini, maka orang-orang yang berpegang teguh dihari tersebut

بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

maka dia mendapatkan pahala lima puluh orang

قِيلَ: مِنْهُمْ؟

Apakah dari mereka ya Rasulullah ﷺ, Beliau ﷺ mengatakan bahkan dari kalian.

Di sini ada lafadz بِالكِتَابِ وَالسُّنَّةِ berarti ini menjelaskan lagi bahwasanya keadaan orang-orang yang sabar saat itu mereka berpegang teguh dengan al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat radhiallahu ta’ala ‘anhum

وَلَهُ بِإِسْنَادٍ: عَنِ المَعَافِرِيِّ

Dan beliau Ibnu Wadhdhah dengan isnadnya dari al-Ma’āfirī (juga tabi’in), قَالَ dia mengatakan

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, berarti ini mursal juga dan ini adalah termasuk yang dhoif

طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، الَّذِينَ يُمْسِكُونَ بِكِتَابِ اللَّهِ حِينَ يُتْرَكُ، وَيَعمَلُونَ بِالسُّنَّةِ حِينَ تُطْفَأُ

Tūbā bagi orang-orang yang asing, siapa orang- orang yang asing, mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Quran ketika al-Quran ditinggalkan oleh manusia dan mereka mengamalkan sunnah Nabi ﷺ ketika di padamkan, artinya banyak orang yang tidak mengamalkan sunnah Nabi ﷺ dan dia terus mengamalkan sunnah tersebut.

Ini adalah hadits yang Mursal juga dan ini adalah hadits yang dhaif dan cukuplah apa yang disebutkan dalam riwayat-riwayat yang sahih sebelumnya menunjukkan tentang wajibnya kita untuk bersabar diatas sunnah Rasulullah ﷺ, meskipun kita asing di tengah-tengah manusia.

Dan ini bukan berarti seseorang tidak bermuamalah dengan manusia, jadi asingnya mereka bukan karena mereka tidak bergaul dan tidak bermuamalah dengan manusia, tetap mereka bergaul seperti biasa dengan manusia, dengan masyarakat, cuma mereka mutamayyiz, mereka memiliki keistimewaan tidak ikut-ikutan dengan perkara-perkara yang tidak disyariatkan di dalam agamanya, ini kelebihan mereka.

Muamalah mereka terus jalan, membeli, berjualan, tersenyum, bertetangga, tapi ketika sudah berkaitan dengan perkara yang menyelisihi agama maka mereka dengan tegas ia tidak melaksanakan perkara tersebut karena memegang Al-Quran dan juga Sunnah dengan pemahaman para sahabat radhiallahu ta’ala ‘anhum.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته