Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 13 – Halaqah 96 | Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh Bag 01

Halaqah 96 | Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh Bag 01

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-96 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan (Rahimahullahu Ta’ala)

بَابُ التَّحْذِيرِ مِنَ البِدَعِ

Bab tahdzir, peringatan, dari bid’ah-bid’ah.

Kembali beliau disini membuat sebuah bab yang mengingatkan kita tentang bahayanya bid’ah dan bahwasanya Nabi ﷺ dahulu beliau memperingatkan umat dari bid’ah, demikian pula para sahabat radhiallahu ta’ala anhum, manhaj mereka sama, memperingatkan manusia dari bid’ah.

Dan pada bab-bab yang sebelumnya beliau rahimahullah telah membuat bab yang isinya juga peringatan dari bid’ah, menyebutkan tentang bahaya bid’ah, bahwasanya bid’ah lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar, maka ini adalah termasuk diantara peringatan, peringatan dengan menyebutkan bahaya dari dosa bid’ah tadi sehingga dia lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar.
Demikian pula beliau membuat bab bahwasanya Allāh ﷻ menghalangi pintu taubat dari shahibul bid’ah dan ini telah berlalu ketika beliau menyebutkan tentang bahwasanya Allāh ﷻ menghalangi taubat bagi orang yang melakukan bid’ah, tentunya ini di dalamnya ada peringatan dari perbuatan bid’ah itu sendiri.

Maka di akhir kitab ini beliau ingin menguatkan kembali, yang sudah kita sampaikan di awal bahwasanya di dalam kitab ini syaikh ingin memprioritaskan, mengkonsentrasikan tentang masalah syahadat anna muhammadan rasulullāh dan bahwasanya konsekuensinya adalah seseorang berpegang teguh dengan sunnah dan meninggalkan bid’ah.

Berbicara tentang Islam diawal, ingin sampai kepada keyakinan bahwasanya diantara Islam adalah menyerahkan diri didalam masalah tata cara ibadah sehingga diakhir kitab ini beliau ingin membawakan sebagian dalil yang isinya adalah peringatan dari bid’ah, dan beliau di sini sebutkan sedikit saja karena ini hanyalah sebagai penguat sedangkan dalil-dalil yang sebelumnya itu sudah banyak disebutkan oleh beliau tentang bahaya bid’ah itu sendiri.

Beliau mengatakan

عَنِ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ

Dari ‘Irbād ibn Sāriyah radhiallahu anhu

قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً

‘Irbād ibn Sāriyah mengatakan telah memberikan مَوْعِظَة kepada kami, telah memberikan nasihat kepada kami Rasulullāh ﷺ dengan sebuah nasehat yang sangat dalam, yang langsung mengena hati para sahabat radhiallahu ta’ala anhum, dan Allāh ﷻ dialah yang menyuruh Nabi-Nya ﷺ untuk memberikan مَوْعِظَة, dan hendaklah engkau Muhammad memberikan مَوْعِظَة kepada mereka, dan disifati مَوْعِظَة Rasulullāh ﷺ saat itu adalah مَوْعِظَة yang بَلِيغَة yaitu مَوْعِظَة yang sangat dalam dengan kalimat-kalimat yang menyentuh hati manusia dan tentunya diiringi dengan keikhlasan kepada Allāh ﷻ karena ini adalah perintah dari Allāh ﷻ, Dia-lah yang memerintahkan beliau untuk memberikan مَوْعِظَة kepada orang-orang yang beriman.

وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوبُ

Dengan sebab مَوْعِظَة yang dalam tadi akhirnya مَوْعِظَة yang ikhlas dengan kata-kata yang penuh dengan makna sampai kepada hati mereka sehingga menggetarkan hati mereka

وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُونُ

Disamping itu مَوْعِظَة yang dalam tadi juga memberikan pengaruh terhadap mata mereka sehingga bercucuranlah air mata para sahabat radhiallahu a’ala nhum yang mendengar مَوْعِظَة dari Nabi ﷺ saat itu. Ini menunjukkan tentang bagaimana مَوْعِظَة yang dalam yang diberikan oleh Nabi ﷺ saat itu kepada para sahabat radhiallahu anhu

قلنا يَا رَسُولَ اللَّهِ

Mereka mengatakan wahai Rasulullāh ﷺ

كَأَنَّها مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ

Sepertinya ini adalah nasehat, arahan, مَوْعِظَة, peringatan dari orang yang akan berpisah, مُوَدِّع artinya adalah orang yang akan berpisah, orang yang akan meninggalkan kita. Orang yang akan meninggalkan maka dia akan berpesan dengan pesan yang menurut dia adalah pesan yang paling penting, mereka mencerna dari ucapan-ucapan Nabi ﷺ di sini bahwasanya beliau akan segera meninggalkan mereka, akan meninggal, akan meninggalkan para sahabat radhiallahu ta’ala anhum.

Inilah yang mereka pahami dari مَوْعِظَة nya Nabi ﷺ, karena Beliau ﷺ mereka merasakannya adalah orang yang akan berpisah dan berpisahnya adalah selama-lamanya, dan mereka mengenal bagaimana Nabi ﷺ memberikan selama ini cahaya, memberikan petunjuk, memberikan pengarahan, tentunya para sahabat radhiyallahu ta’ala anhum merasa takut dan khawatir ditinggal oleh Nabi ﷺ, hanya saja itu harus terjadi, sunnatullāh azza wa jall

كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ

[ الـرحـمـن:26] Ar Rahman 26


كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ

[ آل عمران:185] Ali Imran `185

dan itu disadari oleh para sahabat radhiallahu ta’ala anhum, bagaimanapun kecintaan mereka kepada Nabi ﷺ pasti di sana ada waktu di mana mereka akan berpisah.

Maka mereka pun, dan ini adalah fiqihnya para sahabat radhiallahu ta’ala anhum, pemahaman mereka Nabi ﷺ bagaimanapun kecintaan kita Beliau ﷺ akan pergi dan yang mereka butuhkan disini adalah petunjuk dan wasiat Beliau ﷺ.

Ketika Beliau ﷺ meninggalkan para sahabat radhiallahu ta’ala anhum apa sebenarnya wasiat dan pesan beliau untuk para sahabat radhiallahu ta’ala anhum saat itu. Inilah yang sangat mereka butuhkan, karena selama ini tentunya mereka para sahabat radhiallahu ta’ala anhum mendapatkan manfaat yang banyak, keluar dari kegelapan jahiliyah kemudian masuk ke dalam alam yang terang benderang, merasakan hidup yang sangat nikmat di dalam Islam maka mereka pun meminta kepada Nabi ﷺ untuk memberikan wasiat, yang wasiat itu akan mereka pegang sampai mereka meninggal dunia.

Mereka pun mengatakan fa’aushīnā, maka berikanlah wasiat kepada kami dan yang dimaksud dengan wasiat adalah pesan yang dikuatkan, itulah yang dimaksud dengan wasiat, bukan pesan biasa tapi dialah pesan yang dikuatkan, fa’aushīnā maka berikanlah wasiat kepada kami. Tentunya Nabi ﷺ yang disifati oleh Allāh ﷻ

عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

(QS. At Taubah: 128)

yang sangat menginginkan kebaikan bagi umatnya.

Maka Beliau ﷺ memberikan wasiat kepada mereka dan tentunya wasiat disini bukan wasiat sembarang wasiat, ini adalah wasiat dari Nabi ﷺ maka itu adalah sebuah keistimewaan, kemudian yang kedua disampaikan oleh Nabi ﷺ di hari-hari yang mendekati kematian Beliau ﷺ dan tentunya orang yang demikian memberikan nasehat yang paling penting. Antum misalnya ingin meninggalkan orang yang antum kenal atau keluarga antum dan antum memberikan wasiat kepada mereka tentunya isi wasiat tadi adalah wasiat-wasiat yang menurut antum itu adalah hal yang paling penting, antum tidak akan berwasiat kepada mereka dalam perkara-perkara yang remeh apa yang menurut antum itu adalah penting itulah yang antum sampaikan.

Maka Nabi ﷺ memberikan wasiat, kemudian Beliau ﷺ mengatakan

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ

Aku wasiatkan kalian dengan taqwa kepada Allāh ﷻ, sebelum wasiat-wasiat yang lain maka Beliau ﷺ berwasiat dengan ketakwaan kepada Allāh ﷻ dan ini adalah wasiat Allāh ﷻ untuk orang-orang yang terdahulu dan untuk kita. Allāh ﷻ mengatakan

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

(QS. An-Nissā: 131)

Dan sungguh Kami telah wasiatkan kepada orang-orang sebelum kalian dan juga kepada kalian supaya kalian bertakwa kepada Allāh ﷻ.

Oleh karena itu Nabi ﷺ mendahulukan wasiat taqwa ini sebelum yang lain

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ

Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allāh ﷻ, dan takwa kepada Allāh ﷻ ini adalah kalimat yang jāmi’, kalimat yang menyeluruh, orang yang memberikan wasiat dengan ketakwaan kepada Allāh ﷻ berarti dia telah memberikan wasiat untuk melakukan berbagai kebaikan dan meninggalkan berbagai larangan, sebagai ganti dia menyebutkan satu persatu. Hendaklah engkau sholat, hendaklah engkau zakat, hendaklah engkau shalat tahajud, hendaklah engkau shodaqoh dan seterusnya, janganlah engkau riba, janganlah engkau minum minuman keras, janganlah engkau lalai dari dzikrullāh, semua itu bisa digantikan dengan kalimat taqwa, karena taqwallāh artinya adalah menjadikan antara diri kita dengan Allāh ﷻ (dengan azab Allāh ﷻ) wiqāyah, yaitu penjagaan.
Demikian disampaikan oleh sebagian ulama, yang dimaksud dengan taqwa kepada Allāh ﷻ engkau menjadikan antara dirimu dengan azab Allāh ﷻ penghalang, berupa menjalankan perintah dan menjauhi larangan, kalau kita tidak menjalankan perintah berarti tidak ada penghalangnya nanti, kalau kita tidak menjauhi larangan maka nanti tidak ada penghalang sehingga seseorang akhirnya diazab, tapi dengan dia menjalankan perintah menjauhi larangan Allāh ﷻ maka ini adalah sebab dia terhindar dari azab Allāh ﷻ.

Oleh karena itu sebagian yang lain yaitu Talq bin Habib, beliau mengatakan

أن تعمل بطاعة الله، على نور من الله، ترجو ثواب الله

Engkau melaksanakan amalan itu, menjalankan perintah, diatas cahaya dari Allāh ﷻ, jadi bukan hanya sekedar mengamalkan tapi harus mengamalkan diatas cahaya, yang dimaksud cahaya dari Allāh ﷻ adalah ilmu dari Allāh ﷻ yang ada di dalam Al-Quran dan juga didalam Hadits, itu adalah cahaya petunjuk dari Allāh ﷻ, menunjukkan bahwasanya menjalankan perintah harus berdasarkan dalil. Kemudian

ترجو ثواب الله

Engkau mengharap pahala dari Allāh ﷻ, harus ada mengharap pahala berarti di sini ada dua syarat diterimanya amal, pertama adalah ittiba’ yang ada di dalam على نور من الله di atas cahaya dari Allāh ﷻ, maka ini adalah isyarat kepada ittiba’ adapun keikhlasan maka diisyaratkan di dalam ucapan beliau mengharap pahala dari Allāh ﷻ, jadi sejak dahulu sudah di isyaratkan tentang dua syarat diterimanya amal.

Kemudian

وأن تترك معصية الله

Engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allāh ﷻ

على نور من الله

Diatas cahaya dari Allāh ﷻ

تخافو عذاب الله

Engkau takut dari azab Allāh ﷻ. Ini juga sama di dalam meninggalkan larangan juga harus berdasarkan dalil, jangan sampai seseorang mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allāh ﷻ. Kemudian juga harus ikhlas meninggalkan larangan tadi bukan karena ingin mendapatkan dunia tapi tujuannya adalah karena dia takut dengan azab Allāh ﷻ, ini juga ikhlas didalam menjauhi larangan, karena ada sebagian menjauhi larangan mungkin karena kepentingan dunia saja. Ana kalau berzina takut nanti kena penyakit ini berarti bukan karena Allāh ﷻ tapi karena dunia, suatu dunia yang dia inginkan bukan karena takut dengan azab Allāh ﷻ, ana kalau minum minuman keras takut gula ana tambah naik, maka ini bukan karena takut dengan azab Allāh ﷻ tapi karena urusan dunia saja .

Kapan dinamakan taqwa kalau takutnya adalah karena Allāh ﷻ, oleh karena itu kalimat تَقْوَى اللَّه di sini adalah jami’, dia adalah wasiat dengan seluruh kebaikan, menyuruh kita untuk melakukan berbagai kebaikan dan wasiat meninggalkan seluruh larangan, maka wasiat yang paling baik yang paling menyeluruh adalah wasiat dengan taqwa kepada Allāh ﷻ. Allāh ﷻ telah mewasiatkan dengan taqwa ini nabi-Nya, ittaqillah kata Allāh ﷻ kepada nabi-Nya ﷺ dan menyuruh orang-orang beriman untuk bertaqwa

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِ…

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa…”

(QS. Ali-Imran[3]: 102)

Dan menyuruh manusia secara keseluruhan untuk bertaqwa

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ

[An-Nisa’ : 1]

dan kalau kita diminta orang lain untuk memberikan wasiat jadikanlah wasiat yang pertama adalah wasiat untuk bertakwa kepada Allāh ﷻ, sebab banyak manusia yang mereka tidak memahami tentang taqwa ini padahal sering disampaikan oleh khatib.

Inilah yang dipilih oleh Nabi ﷺ di dalam wasiat ini, kemudian yang kedua wasiat Beliau ﷺ

وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ

Dan mendengar dan taat

وَإنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ

Mendengar dan taat maksudnya adalah kepada penguasa, apabila antum menemukan isma’ wa aṭhi – tasma’u wa tuṭhi’ maka maksudnya adalah mendengar dan taat kepada penguasa

وَإنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ

meskipun yang memerintahkan kalian adalah seorang budak dan ini menguatkan apa yang kita sebutkan baru saja bahwasanya maksud mendengar dan taat disini adalah kepada penguasa karena disebutkan setelahnya meskipun yang memerintahkan kalian, yang menguasai kalian adalah seorang budak.

Coba antum ta’ammul, ketika Nabi ﷺ diminta untuk memberikan wasiat, dan sudah kita katakan tentunya Beliau ﷺ akan memberikan wasiat yang paling penting menurut Beliau ﷺ, ternyata Beliau ﷺ memulai dengan taqwallah dan yang kedua ternyata Beliau ﷺ memberikan wasiat supaya kita mendengar dan taat kepada penguasa, ini menunjukkan tentang ahammiyah dan pentingnya mendengar dan taat kepada penguasa ini di dalam agama Islam.

Oleh karena itu para ulama yang menulis tentang masalah aqidah tidak lupa mereka senantiasa menyebutkan perkara ini dalam kitab-kitab aqidah mereka, silahkan antum membuka

aqidah thahawiyah,

al-aqidah al-wasithiyah, l

um’atul i’tiqad,

syarah ushul i’tiqad ahlussunnah wal jama’ah,

syarhus sunnah al-barbahari, dan seterusnya

antum akan dapatkan pembahasan ini yaitu tentang mendengar dan taat kepada penguasa, karena dia adalah pondasi diantara pondasi-pondasi aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang membedakan antara mereka dengan aliran aliran yang sesat dan Nabi ﷺ tidak heran kalau Beliau ﷺ menjadikan ini adalah wasiat yang kedua.

Umar bin Khattab radhiallāhu anhu ketika beliau menyebutkan tentang Islam dan juga tentang pentingnya mendengar dan taat kepada penguasa beliau mengatakan lā islāma illā bi jama’ah, tidak ada Islam kecuali dengan ijtima, kecuali kita berkumpul, karena sebagian besar syariat demikian, tidak bisa kalau kita tegakkan kecuali dengan adanya ta’awun, kerjasama di antara kita, adanya ijtima’ kalimah

لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ

Dan tidak ada ijtima’, tidak mungkin ada perkumpulan kecuali kalau di sana ada kekuasaan, di mana-mana namanya perkumpulan kalau ingin perkumpulan tadi langgeng maka harus ada orang yang diangkat menjadi pemimpin. Sebuah rumah kalau tidak ada pemimpinnya kemudian masing-masing menganggap dirinya berkuasa, masing-masing berjalan sendiri, tidak mau diatur oleh orang lain maka akan kacau rumah tadi, sebuah sekolah kalau di sana tidak ada kepala sekolah dan masing-masing merasa berkuasa merasa berhak untuk memerintah membuat peraturan maka juga akan kacau

وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ

Tidak ada kekuasaan kecuali harus ada yang mendengarkan dan mentaati, kalau misalnya ada pemimpin tapi rakyatnya tidak mau mendengar dan taat maka tidak ada faedahnya dan tidak ada manfaatnya adanya kekuasaan, karena maksud adanya pemimpin adalah untuk di taati dan juga didengarkan, kalau misalnya tidak ada yang mau mentaati beliau, tidak ada yang mau mendengarkan beliau apa gunanya diangkat pemimpin tersebut lihat awalnya tadi beliau mengatakan

لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ

Disebutkan Islam dan diakhir beliau mengatakan

وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ

As-sam’u waththā’ah ujungnya dan ujung yang disana adalah Islam. Menunjukkan tentang bagaimana hubungan yang erat antara mendengar dan taat nya kita kepada pemimpin dengan tegaknya Islam, sangat erat hubungannya. Seandainya kita mendengar dan taat kepada penguasa dan penguasa melihat kesungguhan kita di dalam mendengar dan taat akhirnya negara menjadi tenang jadi tenteram, orang mau melakukan kegiatan ekonomi, berbisnis, bekerja, belajar berkunjung, berdakwah, perkara dunia, ataupun dia melakukan perkara-perkara yang berkaitan dengan agamanya, menuntut ilmu agama, berdakwah, bermulazamah, menulis, kalau negara dalam keadaan tenang maka semuanya itu insya Allāh biidznillāh akan lancar dan mudah untuk dilakukan.

Akan tegak shalat berjamaah, akan lancar kegiatan-kegiatan yang ada di pesantren, yang ada di sekolah, yang ada di sekolah tinggi, dengan mudah antum kapan-kapan sewaktu-waktu untuk melakukan umrah, melakukan haji, berdakwah di mesjid-mesjid, kapan itu terjadi, ketika rakyat mengetahui tentang kewajibannya mendengar dan taat kepada penguasa dan penguasa mereka mengetahui tentang kewajiban mereka menegakkan Islam, menegakkan keadilan.

Namun sebaliknya ketika rakyat tidak melakukan kewajibannya, tidak mendengar dan taat, bahkan menarik kembali baiatnya kepada penguasa, memberontak, mengangkat senjata kepada penguasa nya akhirnya penguasa pun tidak tinggal diam, berusaha untuk menumpas pemberontakan-pemberontakan yang terjadi sehingga terkadang orang yang tidak ikut-ikutan pun juga terkena korbannya, yang ini dicurigai, yang itu dianggap sedang membuat rencana dan seterusnya akhirnya terjadi fitnah yang besar, kekacauan.

Dan di tengah kekacauan tadi ada sebagian orang yang mungkin tidak bertanggung jawab berusaha untuk mencari kesempatan dalam kesempitan, menjarah, memperkosa, mengambil sesuatu yang bukan haknya, karena itu mereka lakukan ketika terjadi kekacauan, sudah tidak ada tentara misalnya, sekolah ini ditinggalkan oleh murid-muridnya, oleh gurunya, dan seterusnya yang ada adalah barang-barang berharga diambil oleh orang, karena mereka lari dalam keadaan ketakutan, antum bisa bayangkan apa yang terjadi ketika terjadi kekacauan tadi.

Maka jangan berharap ketika dalam keadaan kacau tadi, jangan berharap antum bisa ke mesjid dalam keadaan tenang, jangan berharap kita bisa bisnis membuka warung, membuka toko dalam keadaan kita tenang, sampai yang online pun kalau dalam keadaan kacau internet tidak jalan, pihak pengiriman juga tidak jalan, mungkin dari pihak pesawat terbang juga tidak beroperasi dan seterusnya, semua kegiatan baik yang berkaitan dengan ekonomi maupun dunia maupun agama bisa terhambat dengan sebab kekacauan ini.

Oleh karena itu tidak heran apabila Nabi ﷺ menjadikan ini adalah wasiat yang kedua setelah wasiat dengan taqwa kepada Allāh ﷻ

وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ

Aku wasiatkan kalian untuk mendengar dan taat, dan wasiat mendengar dan taat pada asalnya masuk di dalam wasiat bertaqwa. Tadi kita sebutkan bahwasanya taqwa ini kalimat yang jami’ah mencakup didalamnya seluruh kebaikan, termasuk diantaranya mendengar dan taat kepada penguasa ini masuk di dalam wasiat bertaqwa kepada Allāh ﷻ. Ketika Beliau ﷺ menyendirikan dan dikeluarkan secara tersendiri dan dikhususkan penyebutannya menunjukkan tentang pentingnya wasiat tadi.

Kita misalnya mengatakan kepada anak kita ketika kita mau pergi, tolong adik-adiknya dijaga, dijaga si fulan, padahal si fulan tadi masuk di dalam kalimat adik-adiknya tapi dia ulangi lagi untuk menegaskan supaya memiliki perhatian yang lebih kepada si fulan, karena dia sakit atau dia lumpuh dan seterusnya maka Nabi ﷺ mengulang kembali dan menjadikan wasiat tersendiri menunjukkan tentang kedudukan dan pentingnya mendengar dan taat kepada penguasa di dalam agama kita, ditambah lagi Beliau ﷺ kuatkan

وَإنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ

Meskipun yang menguasai kalian adalah seorang budak, ini menunjukkan tentang penguatan lagi, meskipun, meskipun yang menguasai kalian adalah seorang budak. Orang Arab sebagaimana kita tahu bahasanya yang namanya budak ini memiliki kedudukan yang lebih rendah daripada orang-orang yang merdeka, mereka yang disuruh, mereka yang diperintahkan, mereka yang dijual, mereka yang dibeli, mereka yang dibentak, itu adalah keadaan seorang budak. Tentunya apabila budak yang sebenarnya keadaannya adalah diperintahkan suatu saat dia menjadi yang memerintahkan kita, ini adalah perkara yang berat bukan perkara yang ringan, dia menyuruh kita, biasanya kita yang menyuruh kok dia yang menyuruh, seandainya itu terjadi padahal itu adalah perkara yang berat maka nasehat Beliau ﷺ dan wasiat Beliau ﷺ adalah

وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ

Kalian tetap diwajibkan untuk mendengar dan taat kepada penguasa, meskipun berat hati kita, mungkin benci hati kita tapi harus mendengar dan taat sesuai dengan wasiat Nabi ﷺ, maka kita ingat bahwasanya ini adalah wasiat Nabi ﷺ kalau memang kita cinta kepada Beliau ﷺ maka laksanakanlah wasiat Beliau ﷺ, kita harus dahulukan ucapan dan wasiat Beliau ﷺ di atas hawa nafsu kita, di atas ucapan seluruh manusia

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semua manusia, meskipun si fulan tidak mendengar dan taat kepada penguasa, si fulan memberontak kepada penguasa, kita jangan dahulukan ucapan mereka dan perilaku mereka di atas wasiat Nabi ﷺ. Untuk kepentingan kita sendiri, mendengar dan taatnya kita kepada penguasa bukan untuk memberikan kenikmatan kepada penguasa, bukan, maksudnya adalah untuk maslahat kita sendiri, kita yang akan menuai hasil dari mendengar dan taat kita kepada penguasa.

Terkadang di hari-hari biasa mungkin kaidah-kaidah seperti ini mudah untuk di sampaikan tapi belum tentu ketika terjadi fitnah yang disitu akan kelihatan siapa yang shādiq diantara kita dan siapa yang kādzib. Banyak orang di dalam hari-hari biasa dia bisa menyebutkan kaidah-kaidah seperti ini namun menjadi hilang separuh dari akalnya atau bahkan seluruh akalnya ketika dia sendiri yang terdzholimi, ketika dia sendiri yang mungkin melihat orang tuanya melihat keluarganya terdzholimi, kemudian panas hatinya dan dendam kemudian lupa dengan dalil-dalil yang mengharuskan dia untuk mendengar dan taat kepada penguasa, al-muwaffaq man wafaqahullāh, orang yang diberikan taufik adalah orang yang diberikan taufik oleh Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته