Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 77 | Pembahasan Dalil Ketujuh Hadits Shahih Riwayat Abu Hurairah

Halaqah 77 | Pembahasan Dalil Ketujuh Hadits Shahih Riwayat Abu Hurairah

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-77 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وَلَهُ: مِثْلُهُ

Dan didalam shahih muslim juga semisalnya

مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ،

di dalam hadits Abu Hurairah رضي الله عنه

وَلَفْظُهُ

dan lafadznya adalah

: «مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى»،

Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk

ثُمَّ قَالَ: «وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ

kemudian beliau mengatakan dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan.

Beliau meringkas disini hadits Abu Hurairah dan langsung mendatangkan syahid dari hadis ini yaitu sabda Beliau ﷺ

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ

Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya.

Beliau ﷺ mengatakan مَنْ تَبِعَهُ orang yang mengikutinya, karena orang yang berdakwah belum tentu orang lain mengikuti.
Mungkin dia mendakwahi 100 orang yang mengikuti dakwahnya hanya 5 orang maka dia mendapatkan pahala 5 orang tadi yang mengikuti dia dalam sunnah tadi.

مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ

Maka dia mendapatkan pahala orang yang mengikutinya. Beliau tidak mengatakan orang-orang yang dia dakwahi, tidak. Tapi mendapatkan pahala orang yang mengikutinya yaitu orang yang mendapatkan hidayah dengan sebab dakwahnya tadi

لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Yang demikian tidak mengurangi pahala mereka, yaitu pahala orang-orang yang mengikuti dia tadi شَيْئًا sedikit pun.

Hadits Abu Hurairah disini berbicara tentang orang yang mengajak yaitu berdakwah. Dia mengatakan ‘wahai manusia kerjakan atau jangan kalian kerjakan’, terang-terangan dia mengatakan dan mengajak manusia, adapun yang

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً

dia tidak mengajak dengan lisannya tetapi dia mencontohkan dengan perbuatannya.

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً

ini dia mencontohkan dengan amal perbuatannya kemudian diikuti oleh orang lain maka dia juga mendapatkan pahalanya.

Demikian pula orang yang دَعَا, orang yang mengajak, berdakwah, karena disana ada amalan atau ada sesuatu yang tidak bisa kita praktekkan secara langsung tapi kita bisa mendakwahi dan mengajak manusia. Kalau shadaqoh tadi mungkin bisa dilakukan oleh sebagian tapi di sana ada amalan yang tidak bisa kita praktekkan langsung di depan orang lain tapi harus disertai dengan ajakan maka ini juga mendapatkan pahalanya karena dia menjadi sebab orang lain mengamalkan amalan tersebut .

Sebaliknya

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ

Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan

كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ

Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti dosa dosa orang yang mengikutinya.

Disini beliau tidak mengatakan seperti yang pertama tadi, kalau yang pertama tadi

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا

dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya.

Ini lafadz yang lain فَلَهُ أَجْرُهَا maka dia mendapatkan pahalanya

وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ

ini pahala dia ini pahala orang lain yang mengamalkan amalan tadi karena dia sendiri juga mengamalkan

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً

dia mengamalkan maka dia mendapatkan pahala dari amalan tadi dan mendapatkan pahala orang yang mengamalkan amalan tadi, kalau yang

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ

tidak disebutkan فَلَهُ أَجْرُهَا karena terkadang kita mengajak kepada sesuatu tapi karena satu sebab kita tidak mengamalkannya ketika kita mengajak kemudian diamalkan oleh orang lain maka kita mendapatkan pahalanya juga.

Terkadang seorang da’i mengajak kepada sebuah amalan yang belum tentu dia bisa melaksanakan amalan tersebut tapi ini tidak menghalangi dia untuk menyampaikan kepada orang lain. Seorang da’i yang fakir misalnya boleh nggak dia mengajak orang lain untuk bersadaqoh? Boleh. Dia mengatakan kepada orang lain ‘wahai orang kaya, bersedekahlah’, antum punya uang ana tidak punya uang, antum punya sesuatu yang bisa digunakan oleh kalian untuk mendapatkan pahala dari Allah ﷻ.

Maka barangsiapa yang mengajak meskipun dia sendiri tidak mengerjakannya karena suatu sebab yang syar’i maka dia mendapatkan pahala orang yang menerima ajakan tadi.

الدَّالّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ

Orang yang menunjukkan kepada kebaikan itu seperti orang yang melakukannya.

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ

Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, masuk di dalam kesesatan adalah orang yang mengajak kepada bid’ah karena Nabi ﷺ mengatakan

وَكُل بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

setiap bid’ah adalah sesat maka barangsiapa yang mengajak kepada ضَلَالَةٌ, mengajak kepada kesesatan di sini, Nabi ﷺ menamakan bid’ah dengan kesesatan karena orang yang melakukan bid’ah ini beramal tanpa ilmu beramal tapi tidak berdasarkan dalil seperti orang-orang nasara yang mereka semangat beramal tetapi tidak berdasarkan dalil

Sehingga di dalam surah Al-Fatihah Allah ﷻ menamakan mereka dengan ٱلضَّآلِّينَ

غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ

adalah orang-orang Yahudi

وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

mereka adalah orang-orang Nasrani, sesat mereka karena mereka senang beramal tanpa ilmu dan inilah bid’ah, di antara mereka adalah rahbaniyyah, mereka membuat-buat rahbaniyyah yaitu sengaja tidak melakukan pernikahan dengan tujuan untuk mubalaghah di dalam beribadah kepada Allah ﷻ, menganggap bahwasanya pernikahan ini akan mengurangi ibadah mereka, akan menjadikan mereka sibuk dengan dunia sehingga orang-orang Nasrani banyak melakukan amalan tanpa ilmu. Ketika meninggal orang yang soleh di antara mereka dibuatlah tempat ibadah di atas kuburannya, tujuannya apa supaya mengingat tentang kesholehan orang tadi supaya kita semangat untuk beramal.

Ini jahl makanya mereka disifati dengan ٱلضَّآلِّينَ, orang yang sesat semangat dia untuk baik tetapi dia tidak berdasarkan ilmu sehingga sesat jalan seperti orang yang semangat untuk menuju ke sebuah tempat sebuah daerah tapi dia tidak punya ilmu tentang jalan menuju daerah tadi dia punya semangat untuk menuju ke daerah tersebut tapi tanpa ilmu, akhirnya dia tersesat demikian pula orang-orang nashara sesat mereka, punya semangat dalam beramal tapi tidak berdasarkan ilmu.

Dan Nabi ﷺ mensifati bid’ah dengan ضَلَالَة

وَكُل بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

setiap bid’ah itu adalah sesat

orang yang melakukan bid’ah tadi maka dia adalah melakukan sesuatu yang ضَلَالَة

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ

barang siapa yang mengajak kepada ضَلَالَة, dan makna ضَلَالَة diantaranya adalah kebid’ahan

كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ

maka dia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya

Meskipun dia sendiri mungkin dia tidak melakukan ke bid’ahan tadi tapi dia mengajak orang lain untuk melakukan kebid’ah tadi maka dia akan mendapatkan dosa orang yang mengikutinya dan ini menunjukkan tentang bahayanya bid’ah

لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

tidak akan mengurangi yang demikian dari dosa-dosa mereka sedikit pun.

Semakin banyak orang yang diajak kepada kebid’ahan tadi, kepada ضَلَالَة tadi dan diikuti oleh orang lain maka akan semakin banyak dosa yang mengalir kepada dirinya. Ini menunjukkan tentang bahaya bid’ah dan sekali lagi hal yang seperti ini tidak ada di dalam kabairu dzunub atau lebih sedikit. Jarang orang yang mengajak orang lain untuk melakukan kabairu dzunub, seandainya dia mengajak dia tidak meyakini itu adalah sebuah ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, dia sendiri juga mengetahui itu adalah sebuah dosa dan sebuah kemaksiatan.

Dan ini menunjukkan sekali lagi tentang bahaya bid’ah karena orang yang mengajak kepada kebid’ahan orang lain menganggap itu adalah sebuah ibadah yang mendekatkan diri mereka kepada Allah ﷻ sehingga dengan mudah sekali mereka mengikuti ibadah tadi bahkan menganggap orang yang tidak melakukan ibadah tadi atau bid’ah tadi sebagai orang yang tidak berilmu atau orang yang tidak senang beramal saleh atau orang yang malas di dalam beramal sholeh.

Maka beliau mendatangkan hadits ini dan mengatakan bahwasanya ini menunjukkan tentang bahaya bid’ah, bahwasanya dia bisa mendapatkan dosa orang yang melakukannya, atau juga bisa dikatakan seandainya di sana ada orang yang mengajak kepada kemaksiatan, mengiklankan kemaksiatan, mengajak orang lain untuk nonton bioskop atau nonton sesuatu yang diharamkan oleh Allah ﷻ dan itu ada, maka kita katakan bahwasanya bid’ah sebagaimana telah tetap didalam dalil-dalil yang lain itu lebih besar dosanya daripada maksiat-maksiat tadi.

Ada orang yang mengajak orang lain untuk berzina diumumkan, ada orang yang mengajak orang lain untuk melakukan riba diiklankan tapi kalau dibandingkan kemaksiatan dan dosa dosa besar yang diiklankan tadi dengan dosa bid’ah yang didakwahkan oleh ahlul bid’ah maka dosa bid’ah tadi jauh lebih besar. Ada satu orang saja dia terkena dakwah bid’ah tadi kemudian dia melakukan bid’ah dibandingkan dengan 10 orang yang akhirnya dia tergoda dan mengikuti perzinahan maka 1 orang yang melakukan bid’ah tadi, dosa bid’ah 1 orang tadi dibandingkan dengan dosa zina dari 10 orang tadi lebih besar dosa bid’ahnya dan ini menunjukkan tentang besarnya dosa bid’ah, Allahu a’lam.

Yang jelas di dalam bab ini beliau rahimahullah ingin menjelaskan kepada kita tentang bahaya bid’ah dan bahwasanya bid’ah ini lebih besar dan lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته