Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 65 | Pembahasan Dalil Pertama QS An Nisa 48 dan 116

Halaqah 65 | Pembahasan Dalil Pertama QS An Nisa 48 dan 116

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-65 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.


Beliau disini membawakan beberapa dalil, yang menunjukan tentang apa yang beliau tetapkan/simpulkan bahwasanya bidah itu lebih dahsyat daripada dosa² besar.

Kalau yang dimaksud al Kabair disini adalah kabair makna yang khusus, kalau disebutkan bidah

البدعة أشد من الكبائر

Isyarat bahwasanya yang dimaksud al kabair adalah yang berada dibawah bidah yaitu kabair dengan makna khusus.

Mustaqim kah ( Bisa kah) Seandainya kabair disini kita bawa kepada makna umum?

_tidak bisa_

Bagaimana bidah lebih dahsyat daripada dosa² besar termasuk diantaranya adalah syirik, dalam hadits disebutkan bahwasanya syirik adalah

أعظم ذنبٍ إلا الله

dosa yang paling besar disisi Allah adalah kesyirikan.

Disini kita tau bahwa makna kabair disini adalah makna yang khusus (bukan makna yang umum).

Beliau mendatangkan dalil dari beberapa al Quran & juga beberapa dalil dari sunnah Nabi ﷺ, adapun dalil dari al Quran maka yang pertama beliau bawakan adalah firman Allāh

۞ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ

[QS An Nisa 48]

_Sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa syirik_

Ayat ini ayat yang pertama yang dibawakan oleh beliau beliau ingin tunjukan dengan ayat ini bahwasanya Bidah itu lebih besar daripada Al Kabair, ini perlu taamul yang demikian karena ayat disini berbicara tentang syirik padahal didalam bab ini yang beliau sebutkan hanya bidah dengan dosa² besar, didalam judul babnya tidak disebutkan tentang syirik, jika disebutkan didalam babnya (disebutkan ttg syirik)

أن الشرك أشد من الكبائر

Tepat kita mendatangkan firman Allāh

۞ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ

Itu jika babnya

باب ما جاء أن الشرك أشد من الكبائر

Itu jika kalimatnya syirik karena kita ingin menjelaskan bahwasanya syirik adalah yang paling besar sehingga dia tidak diampuni dosanya, adapun dosa² besar yang lain masih

۞ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ

Yang disebutkan ayat ini adalah syirik kemudian yang kedua adalah yang ada dibawah syirik, Bidah & juga Kabair, itulah yang ada dibawah syirik. Berarti yang beliau sebutkan disini adalah syirik & apa yang ada dibawah syirik.

Lalu kenapa beliau disini mendatangkan ayat ini, padahal disini perbandingannya antara syirik dengan apa yang ada bawah syirik & apa yang ada dibawah syirik masuk didalamnya bidah & juga kabair, kalau yang dibandingkan adalah syirik dengan apa yang ada didalamnya ini jelas, kalau disini beliau mendatangkan ayat ini dengan bab

ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر

Bidah itu lebih dahsyat daripada dosa besar.

Maka sebagian syuro menjelaskan bahwasanya bidah kalau tadi kita lihat disini urutannya syirik, bidah dengan kabair maka dia memiliki sifat yang menjadikan dia lebih dekat kepada syirik daripada kepada dosa² besar.

Apa diantara kesamaannya?

Disebutkan bahwasanya diantara kesamaanya bahwasanya orang yang melakukan syirik ketika dia melakukan syirik niatnya adalah ibadah, seseorang melakukan sesuatu didepan patung Yesus misalnya ketika dia melakukan kesyirikan niat nya adalah ibadah & makna ini ada juga didalam bidah kalau orang yang melakukan bidah niatnya ingin beribadah.

Adapun Kabair ketika dia melakukan dosa besar tadi (orang yang melakukan kabair) niatnya bukan ibadah, dia memahami & mengetahui bahwasanya itu adalah dosa, dia melacur, minum²an keras tidak ada niat ibadah dia tau kalau itu dosa, berbeda dengan bidah maka niat orang yang melakukannya adalah ibadah & ini makna juga ada didalam orang yang melakukan kesyirikan sehingga dari sisi ini bidah lebih dekat & memiliki persamaan dari kesyirikan dari sisi lain orang yang melakukan bidah seakan² dia telah menjadikan dirinya sebagai musyariq, menjadikan dirinya yang mensyariatkan dia menentukan ini disunnahkan, ini diwajibkan, ini disyariatkan itu adalah orang yang mubtadi atau orang yang melakukan bidah & orang yang melakukan demikian berarti dia telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Tauhid masuk didalam Tauhid al Uluhiyyah yaitu mengEsakan Allāh didalam masalah hukum syar’i, sebagaimana disebutkan oleh syaikh Abdul Muhsin didalam beliau membantah sebagian jamaah yang mereka menambah didalam bagian Tauhid dengan Tauhid al Hakimiyyah.

Beliau mengatakan bahwasanya tidak perlu menambah dengan Tauhid al Hakimiyyah karena al Hakimiyyah disini Hukum disini ada 2 bisa artinya Hukum Syar’i atau hukum kauni, kalau dia Hukum Kauni maka ini masuk didalam Tauhid Rububiyyah, hukum Kauni maksudnya adalah diciptakannya alam, hidup & meninggal, digerakkannya Matahari dst, maka ini adalah hukum kauni, kita Esakan Allāh didalam hukum kauni berarti ini masuk didalam Rububiyyah, tapi kalau masuk didalam hukum yang Syar’i maka ini masuk didalam Tauhid al Uluhiyyah.

Orang yang melakukan Bidah berarti dia bertentangan dengan Tauhid al Uluhiyyah sehingga dia digabungkan disamakan dengan kesyirikan lebih dekat kepada syirik daripada kepada kabair, sehingga beliau mendatangkan ayat ini

۞ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Bidah ini lebih dekat kepada kesyirikan daripada kabair, karena masing-masing dari syirik maupun bidah itu adalah ingin bertaqarub kepada Allāh , ingin beribadah kepada Allāh.

Dari sisi ini menunjukkan bahwasanya Bidah itu lebih Asyad daripada Kabair, lebih dahsyat lebih besar dosanya daripada dosa² yang besar karena sama² pelakunya melakukan bidah maupun kesyirikan & niatnya adalah bertaqarub kepada Allāh ajja wa jalla, itu adalah sebab kenapa beliau mendatangkan ayat ini ingin menunjukan kepada kita bahwasanya bidah ini lebih dekat kesyirikan daripada dosa besar.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته