SUNNAH RASUL = SEKS ? (sebuah pengantar)

Dalam pergaulan sehari-hari di manapun, sering kita dengar atau kita jumpai  istilah “Sunnah Rasul” pada malam Jum’at.

Lalu apa sih sebenarnya definisi yang benar tentang Sunnah Rasul (Sunnaturrasul)?

Dalam pandangan syariat, Sunnah adalah sikap, tindakan, ucapan dan cara Rasulullah Saw menjalani hidupnya atau suatu aktifitas yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dengan penjagaan Allah.

Sunnah merupakan sumber hukum kedua dalam Islam, setelah Al-Quran atau  informasi yang disampaikan oleh para sahabat tentang sikap, tindakan, ucapan dan cara Rasulullah disebut sebagai Hadits, dan Sunnah yang diperintahkan oleh Allah disebut Sunnatullah.

Namun istilah Sunnah Rasul yang populer di malam Jum’at adalah hubungan suami istri.

Mungkin maksudnya adalah untuk menutupi sesuatu yang dianggap vulgar, maka digunakan istilah Sunnah Rasul sebagai pengganti dari istilah ML (Making Love)

Tapi akibatnya fatal, karena telah menyempitkan arti dari sumber hukum kedua setelah al-Qur’an menjadi hanya sebuah aktifitas seks belaka.

Lalu hal apa lagi yang melatar-belakangi  penyebutan Sunnah Rasul menjadi sebuah aktifitas seks, selain dari sekedar sebagai pengganti ucapan seks yang vulgar?

Ya memang ada hadits tentang berhubungan seks dimalam jumat dan mandi besar di hari jumat, namun apa derajat hadits tsb, Shahih, dhaif atau palsu?

Lalu sebenarnya sunnah apa yang dilakukan Rasulullah Saw dimalam jumat/hari jumat?

Kita kaji selanjutnya ya…

Yang sering kita dengar dari Ustadz, yang dianggap hadits, yaitu :

“Barangsiapa melakukan hubungan suami istri di malam Jumat (kamis malam) maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi.”

Dalam hadits yang lain disebutkan sama dengan membunuh 1000/7000 yahudi.

Hadist di atas tidak akan ditemukan dalam Kitab manapun.  Baik kumpulan hadits dhaif apalagi shahih.

Dan akhirnya pada satu kesimpulan bahwa hadits sunnah Rasul pada malam Jum’at tersebut apalagi sama dengan membunuh 100 Yahudi adalah sama sekali bukan hadist alias karangan orang-orang yang iseng dan gak jelas.

Tidak nyambung kepada para sahabat, apalagi ke Rasulullah Saw, sehingga jelas itu sama sekali bukan Hadist alias palsu alias bohong yang dikarang oleh orang orang yang tidak betanggung-jawab yang mengatas-namakan Rasulullah saw.

Jadi, kita tidak akan menemukan satu-pun hadits tentang Rasulullah Saw berhubungan suami istri pada malam-malam tertentu, termasuk malam Jum’at.

Di indonesia sangat subur akan hadits hadits dhaif dan palsu.

Oleh karenanya berhati-hatilah sahabat, banyak hadits palsu yang beredar dan bermaksud untuk menyesatkan dan membodoh-bodohi  umat !

Jaga, pelihara dan amalkan Sunnah sunnah Rasulullah Saw yang selama ini menjadi hukum syariat kedua setelah al-Qur’an.

Dan STOP mengatakan Sunnah Rasul sebagai pengganti dari istilah berhubungan suami istri alias ML.

Penentuan waktu dalam Islam adalah mengikuti peredaran bulan, bukan mengikuti peredaran matahari. Sehingga perubahan hari adalah saat maghrib bukan pukul 24.00.

Maka dari itu hari jumat dimulai pada hari kamis saat maghrib.

Nah pembicaran kita sekarang mengarah kepada seolah-olah malam Jum’at dan hari Jum’at adalah waktu yang cocok untuk melakukan hubungan suami-istri.  Keduanya akan mendapatkan pahala berlipat dan memperoleh keutamaan khusus yang tidak didapatkan pada hari selainnya.

Haditsnya shahih namun tidak mengatakan secara gamblang bahwa itu adalah hubungan seks suami istri.

Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mandi di hari Jum’at SEPERTI MANDI JANABAH, kemudian datang di waktu yang pertama (mendatangi masjid untuk shalat jumat), ia seperti berkurban seekor unta. Barangsiapa yang datang di waktu yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang datang di waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas. Barangsiapa yang datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).”

 (HR. Bukhari no. 881 Muslim no. 850)

Hadits tersebut menunjukkan  keutamaan shalat jumat namun disitu disebutkan juga tentang mandi janabat (ghuslal  janabah) pada hari Jum’at. Sedangkan mandi  janabat dilakukan setelah ada aktifitas hubungan seks suami-istri..

Sehingga munculah istilah Sunnah Rasul di malam jumat untuk hubungan seks suami istri.

Ya silahkan saja melakukan hubungan seks suami istri kapanpun juga termasuk malam jumat tapi janganlah istilah hubungan seks tersebut diganti menjadi “Sunnah Rasul”.

 

Adapun Sunnah Rasul yang sesungguhnya untuk dilakukan pada malam/hari Jum’at, yakni

1. Memperbanyak membaca Shalawat, kata Nabi SAW, “Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari Jum’at karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pd hari jum’at, maka barangsiapa yang paling banyak  bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku”.

(HR. Baihaqi)

Maksudnya adalah perbanyak shalat sunat karena disitu ada shalawat.

2. Membaca Al Qur’an khususnya surat Al Kahfi. Kata Nabi saw,: “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari jum’at akan diberikan cahaya baginya diantara dua jum’at”. (HR. Al Hakim)

Bukan membaca surah yasiin atau yang lainnya.

3. Memperbanyak do’a, Rasulullah Saw bersabda, ““Hari jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslimpun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tsb jatuh setelah ‘ashar”. (HR. Abu Dawud)

Maksudnya adalah sepanjang hari jum’at.

4. Shalat Jum’at , Rasulullah Saw bersabda, “Salat Jumat itu wajib atas tiap muslim dilaksanakan secara berjamaah terkecuali empat golongan yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit”. (HR.Abu Daud dan Al Hakim).

Wanita tidak usah shalat jum’at, seperti yang banyak dilakukan di masjidil haram dan nabawi.

KESIMPULAN, Tidak ditemukan dalil  Sunnah Rasul tentang hubungan suami istri di hari Jum’at (malam Jum’at).

Jadi HADITS di atas adalah KEUTAMAAN BAGI LAKI LAKI YANG MENDATANGI MASJID LEBIH AWAL UNTUK SHALAT JUM’AT, BUKAN KEUTAMAAN  BERHUBUNGAN SUAMI ISTRI DI MALAM JUM’AT.

Satu hal lagi, Jangan lupa, yang namanya sunnah Rasulullah saw itu pasti pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dalam urusan apapun, dan urusan ibadah harus ada dalilnya baik dari Al Qur’an maupun sunnah Rasulullah.

Sedangkan untuk urusan duniawi semuanya boleh, kecuali jika ada larangannya.

Mudahkan?


Salam !

Copas dari KTQS Bandung

Leave a Reply