Syafa’at

Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA
Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 13 | Syafa’at
⬇ Download audio: https://goo.gl/wZUfvv
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

SYAFA’AT

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-13 dari Silsilah kita kali ini adalah tentang “Syafa’at”.

Syafa’at adalah meminta kebaikan bagi orang lain di dunia maupun di akhirat.

Allāh dan Rasul-Nya telah mengabarkan kepada kita tentang adanya syafa’at pada hari kiamat.

Diantara bentuknya adalah bahwasanya Allāh mengampuni seorang Muslim dengan perantara do’a orang yang telah Allāh izinkan untuk memberikan syafa’at.

Syafa’at akhirat ini harus kita imani dan kita berusaha untuk meraihnya.

Dan modal utama untuk mendapatkan syafa’at akhirat adalah:

⑴ Bertauhid.

⑵ Dan bersihnya seseorang dari kesyirikan.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda ketika Beliau mengabarkan tentang bahwasanya Beliau memiliki syafa’at pada hari kiamat, Beliau mengatakan:

فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ الله مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لا يُشْرِكُ بِالله شَيْئًا

“Syafa’at itu akan didapatkan in syā Allāh oleh setiap orang yang mati dari umatku yang tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.”

(Hadits Shahih Riwayat Muslim)
Merekalah orang-orang yang Allāh ridhai karena ketauhidan yang mereka miliki.

Allāh berfirman:

…وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ…

“…Dan mereka (yaitu para nabi, para malaikat & juga yang lain) tidak memberikan syafā’at kecuali bagi orang-orang yang Allāh ridhai…”.

(QS Al Anbiyā: 28)

Syafa’at di akhirat ini berbeda dengan syafa’at di dunia karena seseorang pada hari kiamat tidak bisa memberikan syafā’at bagi orang lain kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, sampai meskipun dia adalah seorang nabi atau seorang malaikat sekalipun.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’ālā :

ﻣَﻦ ﺫَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻳَﺸْﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫْﻧِﻪِۦ ٓ

“Tidaklah ada yang memberikan syafa’at di sisi Allāh Ta’ālā kecuali dengan izin-Nya.”

(QS Al Baqarah: 255)

Oleh karena itu permintaan syafa’at hanya ditujukan kepada Allāh, Zat yang memilikinya.

Seperti seseorang mengatakan dalam yang do’anya:

“Ya Allāh, aku meminta syafa’at Nabi-Mu.”

⇒ Ini adalah cara meminta syafā’at yang diperbolehkan.

Bukan dengan meminta langsung kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam seperti mengatakan:

“Ya Rasūlullāh, berilah aku syafa’atmu.”

Atau dengan cara menyerahkan sebagian ibadah kepada makhluk dengan maksud meraih syafa’atnya.

Karena cara seperti ini adalah cara yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin zaman dahulu.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ﻭَﻳَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻀُﺮُّﻫُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻬُﻢْ ﻭَﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻫَٰﺆُﻟَﺎﺀِ ﺷُﻔَﻌَﺎﺅُﻧَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺗُﻨَﺒِّﺌُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑِﻤَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﻟَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ۚ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰٰ ﻋَﻤَّﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥ

“Dan mereka menyembah kepada selain Allāh, sesuatu yang tidak memudharati mereka dan tidak pula memberikan manfaat.

Dan mereka berkata: ‘Mereka adalah pemberi syafa’at bagi kami disisi Allāh.’

Katakanlah: ‘Apakah kalian akan mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui di langit maupun di bumi?’.

Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.”

(QS Yūnus: 18)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Saudaramu,
‘Abdullāh Roy

 

 

doadankajianislami-syafaat