Tag Archives: akhlaq Rasulullah Saw

SAYANG ANAK

 

Rasulullah memendekkan shalatnya ketika mendengar tangis anak. Karena anak pula, Rasulullah Saw pernah bersujud sangat lama.

Begitu lamanya Rasulullah Saw bersujud para sahabat mengira Rasulullah Saw sedang menerima wahyu dari Allah swt. Padahal ada cucunya yang menaiki punggungnya.

Air mata Nabi Muhammad saw menetes disebabkan kematian putra beliau bernama Ibrahim,

Abdurrahman bin ‘Auf ra bertanya kpd beliau: “Apakah Anda juga menangis wahai Rasulullah?”

Rasulullah saw menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang diiringi dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini menetes, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah. Sungguh, kami sangat berduka cita berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari)

Meskipun anak-anak biasa merengek dan mengeluh serta banyak tingkah, namun Nabi Muhammad saw tidaklah marah, memukul, membentak, dan menghardik mereka. Beliau tetap berlaku lemah lembut dan tetap bersikap tenang dalam menghadapi mereka.

Hari ini, ketika kita mengaku sebagai ummat Muhammad, apakah yang sudah kita lakukan pada anak-anak kita?

Apakah kita telah mengusap kepala anak-anak kita sebagaimana Rasulullah Saw melakukan?

Apakah kita juga telah mengecup kening anak-anak kita yang sangat rindu kasih-sayang bapaknya?

Kita ingin disayangi oleh anak-anak kita ketika usia kita telah tua kelak, tetapi tidak pernah menanam cinta dan kasih-sayang.

Kita ingin dirindukan oleh anak-anak kita di saat renta, tetapi tak pernah punya waktu untuk tertawa bersama. Banyak yang merasa, kerja sehari telah cukup untuk membeli semua. Sehingga tidak ada yang mengetahui urusan anak di rumah, kecuali istri. Bahkan yang lebih tragis, istri pun tak tahu sama sekali, sebab telah ada pembantu yang menggantikan semuanya.

Astaghfirullahal ‘adzim…

Alangkah sering kita merasa suci dan hebat, padahal masih banyak perilaku Nabi Saw kepada anak-anak yang belum kita tiru.

 

copas dari KTQS – Bandung

foto : New Collection

RASULULLAH dan BISNIS

RASULULLAH SAW adalah PEBISNIS HEBAT 

dan MANUSIA PALING BERPENGARUH DIDUNIA 

(The Most Influential Persons in History)  ,Michael H. Hart peneliti dari USA dalam bukunya “The 100”  yang diterbitkan pada tahun 1978. 

Buku yang memuat 100 tokoh yang ia rasa memiliki pengaruh paling besar dan paling kuat dalam sejarah manusia, meletakkan Muhammad di No.1 dari 100 orang, diatas Yesus, Sidharta Gautama, John F Kenedy dll (OMG tentu saja!!!) 

 

☑ Ingin sukses seperti Rasulullah? Kuncinya adalah 4 sifat yang harus ada dalam diri pebisnis:  

1.SHIDIQ (Jujur) 

2.AMANAH (Amanah) 

3.TABLIGH (Komunikatif) 

4.FATHONAH (Cerdik) 

 

 ☑ Bekerja itu kewajiban setiap Muslim,

 طَلَبُ الْحَلَالِ فَرِيْضَةٌ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ (الطبرانى و البيهقى) 

 “Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang ibadah fardhu 

(HR. Imam At-Thabrani dan Imam Baihaqi). 

 

 ☑ Rasulullah membenci Muslim yang tidak bekerja, 

 اَلبَطَالَةُ تُقَسِّى الْقَلْبَ (اشهاب) 

“Pengangguran menyebabkan hati keras (keji dan membeku)”. (HR. As-Syihab). 

 

 ☑ Sembilan Etika (akhlak) Marketers/Sales/Pemasar:    

 1.Memiliki kepribadian spiritual (Taqwa). 

2.Berperilaku baik & simpatik (Shidq). 

3.Berlaku adil dalam bisnis (Al’adl). 

4.Bersikap melayani dan rendah hati (Khidmah). 

5.Menepati janji & tidak curang. 

6.jujur dan terpercaya. 

7.Tidak suka berburuk sangka. 

 8.Tidak suka menjelek-jelekan saingan. 

9.Tidak melakukan sogok (Riswah) 

 

Rasulullah SAW is The Super Leader & Super Manager !

 

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ 

 Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad. 

 Yaa Allah, Sampaikan Sholawat kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad. 

 

 

copas dari KTQS dan berbagai sumber

RASULULLAH dan PENGEMIS BUTA

Dipasar Madinah ada seorang pengemis buta yang selalu berkata kepada tiap orang.

“Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, ia itu orang gila, ia itu pembohong, ia itu penyihir”

 

Namun, tiap pagi Nabi mendatanginya dengan membawakan makanan & sambil diam Nabi menyuapkan makanan, sedangkan pengemis itu tidak tahu bahwa yang menyuapinya itu adalah Nabi Saw. 

Hal ini dilakukan beliau tiap hari sampai wafat. 

 

Suatu hari, Abubakar berkunjung ke rumah anaknya Aisyah yang juga istri Nabi Saw, 

beliau bertanya kepada anaknya itu, 

“Anakku, adakah kebiasaan Nabi yang belum aku kerjakan?” 

Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah ahli sunnah & hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum dilakukan kecuali 1” 

“Apa Itu?” tanya Abubakar 

“Tiap pagi Nabi Saw pergi ke ujung pasar membawakan makanan untuk seorang pengemis buta yang ada disana” kata Aisyah 

 

Esoknya Abubakar pergi ke pasar membawa makanan untuk pengemis itu. 

Ketika mulai menyuapi, si pengemis itu marah sambil menghardik, “Siapakah kamu?” 

Abubakar menjawab, “Aku orang yang biasa mendatangi engkau.” 

“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis.  “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi lebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut” 

 

 Abubakar pun berlinangan air matanya, ia berkata kepada pengemis itu, 

 “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad SAW.” 

Pengemis itu pun terkejut dan menangis, 

ia berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina dan memfitnahnya, 

ia ia tidak pernah marah sedikitpun, ia tetap mendatangiku dengan membawa makanan tiap pagi, ia begitu mulia” 

 

Akhirnya pengemis yahudi buta itu bersyahadat dan menjadi muslim. 

 Subhanallah… 

 

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ 

 Yaa Allah, Sampaikan Sholawat kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad. 

 

 

 Dari beberapa sumber

ROMANTISME RASULULLAH

Bermesraan, itulah yang membuat hubungan suami-istri terasa indah dan nikmat. 

Caranya? Coba perhatikan uraian berikut ini.    

 

Rasulullah saw merasakan pentingnya bermesraan dengan istri, sehingga beliau pun mempraktekkannya untuk menghias hari-hari dalam keluarganya, yang tecermin seperti dalam hadis-hadis berikut:   

1. Tidur dalam satu selimut bersama istri   

Dari Atha’ bin Yasar: “Sesungguhnya Rasulullah saw dan ‘Aisyah ra biasa mandi bersama dalam satu bejana. 

Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan ‘Aisyah, tiba-tiba ‘Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya, ‘Mengapa engkau bangkit?’ Jawabnya, ‘Karena saya haidh, wahai Rasulullah.’ 

Sabdanya, ‘Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku.’ Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau.” (HR Sa’id bin Manshur)   

 

2. Memberi wangi-wangian pada auratnya   ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya Nabi saw apabila meminyaki badannya, beliau memulai dari auratnya dan mengolesinya dengan nurah (sejenis bubuk pewangi), dan istrinya meminyaki bagian lain seluruh tubuhnya. (HR Ibnu Majah)   

 

3. Mandi bersama istri   Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Aku biasa mandi bersama dengan Nabi saw dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana).” (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah) 

 Begitu mesra dan romantisnya beliau… 

 

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ 

 Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad. 

 Yaa Allah, Sampaikan Sholawat kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad. ———– 

 

Catatan:  Bejana seperti baskom besar yang bisa dimasuki oleh dua orang dan kalau sekarang semisal Bathtub 

 

 

sumber : KTQS – Bandung

1 s/d 10 DZULHIJAH

Dari Ibnu Abbas ra dia berkata, Rasulullah saw bersabda,

“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).”

Para sahabat ra  bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?”

Beliau bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan beramal shaleh pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sampai Allah Ta’ala bersumpah dengannya dalam firman-Nya:


وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Dan demi malam yang sepuluh.” (Qs. al-Fajr: 2).

Yaitu: sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, ini menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab, Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.”

Namun Amal shaleh dalam hadits ini bersifat umum, termasuk shalat, sedekah, puasa, berzikir, membaca al-Qur’an, berbuat baik kepada orang tua dsb, tdk ada ibadah khusus apapun kecuali shaum arafah.

Termasuk amal shaleh yang paling dianjurkan pada waktu ini adalah berpuasa pada hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), bagi yg tdk sedang melakukan ibadah haji.

Rasulullah saw ketika ditanya tentang puasa pada hari ‘arafah, beliau bersabda,


 أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ “

“Aku berharap kepada Allah puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) 2 tahun, di tahun yang lalu dan tahun berikutnya.” (HR. Muslim)

dari : KTQS-Bandung

SEDEKAH, PEMAAF dan RENDAH HATI

doa dan kajian islami

 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “SEDEKAH tidak mungkin mengurangi harta. Tidaklah seseorang suka MEMAAFKAN, melainkan ia akan semakin mulia. Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ (RENDAH HATI), melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” ( HR. Muslim no. 2588.)
Sembuhkanlah PENYAKIT kalian dengan cara SEDEKAH. Lindungi HARTA yang kalian miliki dengan ZAKAT.
(HR. Baihaqi)
“Seorang yang selalu MEMAAFKAN akan semakin mulia dan bertambah kemuliaannya. Ia juga akan mendapatkan balasan dan kemuliaan di akhirat.
Begitu pula orang yang tawadhu’ (RENDAH HATI) karena Allah, ia akan ditinggikan derajatnya di dunia, Allah akan senantiasa meneguhkan hatinya dan meninggikan derajatnya di sisi manusia, serta kedudukannya pun akan semakin mulia.
Di akhirat pun, Allah akan meninggikan derajatnya karena ketawadhu’annya di dunia.”
( Al Minhaj Syarh Muslim, 16/141-142.)
Ya Allah jadikan diri kami hamba2mu yg gemar SEDEKAH, PEMAAF dan RENDAH HATI, agar engkau tinggikan derajat kemulian kami di dunia maupun akhirat…
copas dari KTQS-Bandung

Kisah Para Sahabat Nabi: Mush’ab Bin Umair

Mush’ab Bin Umair

Mush’ab seorang pemuda yang lahir di Mekah di tengah keluarga yang sangat kaya raya. Beliau terbiasa hidup mewah karena orangtuanya sangat kaya dan memanjakannya. Beliau lebih dikenal dalam sejarah Islam sebagai “Mush’ab Al Khair” (Mush’ab pembawa Kebaikan), karena luar biasa jasanya bagi kepentingan Islam dan ummatnya. Beliau sering ikut secara diam-diam di tempat Rasul Saw berdakwah di Mekah di rumah Arqam bin Abil Arqam. Tempat inilah tempat yang agak tersembunyi yang dipergunakan Rasul Saw saat memulai dakwah Islam. Mush’ab sangat rajin sekali mengikuti dakwah Rasul Saw sampai suau ketika beliau tertarik dan menyatakan diri masuk Islam.

Mush’ab dibesarkan kedua orangtua dengan figur seorang ibu yang sangat keras dan kejam yang karenanya, konon tidak ada manusia yang ditakuti oleh Mush’ab di dunia ini kecuali ibunya. Oleh karena Mush’ab takut kepada ibunya, maka Mush’ab berusaha menyembunyikan keislamannya, Tapi Mekah pada waktu itu bukan suatu tempat bagi orang bisa merahasiakan sesuatu, sehingga suatu ketika Usman bin Thalhah seorang tokoh musyrikin sempat melihat Mush’ab berada di Daarul Arqam bersama Rasul Saw dan sesekali Usman ini sempat pula melihat Mush’ab melaksanakan shalat seperti shalatnya Rasul Saw. dia pun langsung mengadu kepada ibunda Mush’ab. Mendengar hal itu ibunda Mush’ab sempat marah, memukul dan menyiksa Mush’ab, lalu mengurungnya di rumah dan menyewa seseorang untuk menjaganya.

Suatu ketika Mush’ab mendengar bahwa sebagian sahabat Rasul sudah mulai berhijrah. Maka ketika para penjaga lalai begitu juga ibunya, Mush’ab lari dan langsung hijrah ke Madinah. Suatu ketika beliau kembali lagi ke Mekah, dalam kondisi sudah terpisah dari ibunya. sehingga ketika kembali ke Mekah dia tidak punya pegangan, beliau seorang pemuda yang terlantar dengan pakaian yang digunakan hanya satu-satunya dan itu pun sudah compang-camping, sehingga banyak ummat Islam pada waktu itu mencoba memalingkan pandangan dari Mush’ab untuk menahan air mata, mereka tidak mau Mush’ab melihat mereka menangis karena kehidupan yang semula mewah dengan segala macam tercukupi, kini ia korbankan demi kebenaran agamanya dan dia rela hidup dalam penderitaan seperti itu, sampai-sampai Rasul Saw mengatakan: “Saya pernah melihat Mush’ab tidak dalam kondisi seperti ini ketika dia masih hidup bersama orangtuanya dahulu, dan tidak ada di Mekah pemuda yang sangat mewah melebihi kemewahan seorang Mush’ab. Dan sekarang dia telah meninggalkan semuanya semata-mata karena cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya”. Inilah keimanan! Salah satu ciri keimanan seseorang itu rasa cintanya kepada Allah sangat kuat, mengalahkan cintanya kepada selain Allah.

Ketika dia kembali lagi kepada ibundanya, ibundanya betul-betul marah sampai dia mengatakan: “Pergilah kamu dari tempat ini, saya bukan ibumu lagi sampai kapan pun!”. Lalu Mush’ab mendekati ibunya, sambil berkata: “Wahai ibu,saya punya nasihat sebelum saya meninggalkan ibu. Nasihat saya: “Bersahadatlah wahai ibunda, Tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad hamba dan Rasul-Nya”. Sang Ibu menanggapi dengan amarah yang luar biasa lalu dengan kata-kata kasar dia berkata: “Selama-lamanya tidak akan pernah saya masuk ke dalam agamamu wahai Mush’ab, karena kalau saya masuk ke dalam agamamu itu akan membuat akal saya tidak sehat”. Sikap ibunya yang demikian membuat Mush’ab pergi meninggalkan kemewahan yang berlimpah. Bukan hanya bajunya yang compang-camping bahkan kadang-kadang beliau sehari makan, sehari tidak makan. Hal ini sama sekali tidak mengganggu bahkan semakin memperkuat keimanan Mush’ab.

Karena keimanan yang luar biasa seperti ini akhirnya Rasul Saw memilih Mush’ab sebagai utusan Rasul untuk menjadi duta di Madinah. Sebenarnya banyak sahabat Rasul yang lebih tua dibanding Mush’ab yang masih muda tapi Rasul tetap memilih Mush’ab. Pergilah Mush’ab ke Madinah bukan hanya sekedar berhijrah tapi menjadi utusan Rasul. Sesampainya di Madinah beliau pun mulai berdakwah. Orang pertama yang beliau dakwahi adalah Usaid bin Hudlair, seorang tokoh musyrik dari bani Abdul Asyhal, kepala suku yang sangat disegani. Mendengar dakwah Mush’ab maka Usaid berkata:“Ajaran apa yang kamu bawa karena kami tidak pernah kenal sebelumnya, Tuhan apa yang kamu maksud karena kami tidak.pernah melihatnya, sedangkan tuhan kami jelas nyata ada yaitu patung-patung, kami bisa menemuinya kapan saja dan kami bisa melihatnya sementara Tuhan yang kamu ceritakan itu tidak bisa dilihat. Segera kamu tinggalkan Madinah ini sebelum kami bunuh anda”. Lalu Mush’ab berkata: “Apakah tidak sebaiknya saya diberikan kesempatan sedikit berbicara kalau nanti apa yang saya sampaikan membuat kamu yakin, saya bersyukur kepada Allah, tapi kalau kamu tidak meyakini maka silakan kamu usir saya dan saya akan meninggalkan Madinah ini”. Baik, kata Usaid. Mush’ab berkata: “Silakan kamu duduk, maka Usaid pun duduk”. Lalu mulailah Mush’ab membaca ayat Al Qur’an, mendengar ayat-ayat yang dibacakan lalu Usaid mengatakan:“Firman apakah gerangan yang sangat luar biasa ini? Lalu dia berkata: “Apa yang harus saya lakukan,kalau saya akan masuk agama ini?” Kata Mush’ab: “Bersihkan pakaian dan badanmu lalu bersyahadat”. Maka Usaid pun pergi lalu membasuh badannya, kembali lagi masih tampak tetes air wudu dari rambutnya lalu dia bersyahadat. Setelah Usaid bersyahadat, maka tokoh yang lain pun mengikutinya, seperti Saad bin Mu’adz, Saad bin ‘Ubadah lalu diikuti oleh yang lainnya.

 

Suatu ketika terjadilah perang Uhud. Dalam situasi sangat kritis di mana ummat Islam sudah mulai terdesak dan musuh sudah mulai mengarahkan sasarannya kepada Rasul, maka tampillah Mush’ab membawa bendera Islam sambil bertakbir, hal ini dilakukan untuk memalingkan perhatian musuh dari Rasul. Tiba-tiba datanglah musuh menebas tangan Mush’ab. Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera lalu dengan kedua pangkal tangan meraihnya ke dada sambil bertakbir, lalu musuh menyerangnya dengan tombak dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Gugurlah Mush’ab dan bendera pun jatuh”. Posisi beliau sujud karena tidak ingin diketahui Rasul, sambil dihunus pedang beliuau selalu membaca QS. All Imran ayat 144.

Ketika perang sudah usai Rasul melihat para syuhada, melihat Mush’ab yang telungkup merangkul bendera Islam. Tidak ada yang dapat digunakan pada waktu itu kecuali selembar kain untuk mengkafani Mush’ab, di mana kain yang selembar itu kalau ditutupkan di kepalanya maka kakinya terlihat, kalau kakinya ditutup kepalanya terlihat. Rasul sangat lama berdiri di depan jasad Mush’ab, dengan kedua mata beliau yang berlinang, Beliau membacakan firman Allah SWT: “Di antara orang-orang Mu’min terdapat syuhada yang telah menepati janjinya dengan Allah (QS. Al Ahzab, 33:23).

Copas

Dari berbagai sumber