Tag Archives: asmaul husna

ASMAUL HUSNA : AL ‘JABBAR (Yang Maha Berkehendak)

 

Kata Al ‘JABBAR diulang sebanyak 10 kali dalam Al Qur’an.
Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Memaksa, yang kehendakNYA tidak dapat diingkari oleh siapapun. 
Sifat ini ditegaskan Allah dalam firmanNYA :

“Dialah Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Memelihara keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan… “.

(QS. Surah Al Hasyr 23)

Allah berkuasa menjadikan orang-orang yang lemah, miskin, teraniaya, berduka dan yang sakit, menjadi semakin sengsara. Sebaliknya, Dia juga kuasa menberikan kekayaan kepada orang-orang miskin, membebaskan orang-orang yang teraniaya, menyembuhkan orang sakit, dan sebagainya.

Imam Al Ghazali berkata, “Semua kehendakNYA terhadap individu makhlukNYA, berlaku tanpa terhalangi oleh kehendak yang lain. Tak ada seorangpun dapat terlepas dari kekuasaanNYA. Tanpa pertolonganNYA semua kekuatan menjadi tak berarti”.

Dzat Allah tak bisa terjangkau oleh akal pikiran dan penginderaan semua makhluk. Cahaya keagunganNYA tidak dapat digapai oleh pengetahuan semua manusia. Dia adalah Yang Maha Tinggi sehingga memaksa yang rendah untuk tunduk kepada yang dikendakiNYA. Kalaupun ada yang berusaha menjangkau ketinggianNNYA, maka Dia akan memaksanya sehingga semua bertekuk di hadapanNYA.

“Dan tunduklah semua muka dengan berendah diri kepada Tuhan Yang Maha Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus makhlukNYA. Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman”.
(QS Surah Thaha : 111)

“Sesungguhnya urusanNYA, apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah ia “.
(QS Surah Yasin : 82)

Jika sifat ini dikaitkan pada makhluk, maka akan memunculkan makna yang berkonotasi negatif, jelek, dan tercela. Manusia disebut jabbar jika berlagak congkak, sewenang-wenang, tidak rendah hati dan tidak mau tunduk pada siapapun. Allah SWT mencela makhlukNYA yang angkuh dan sombong. Sebab hanya Dialah yang pantas meyombongkan diri.

 
Dalam Hadist Qudsi :
“Kemuliaan adalah pakaian-KU, keangkuhan adalah selendang-KU, siapa yang mencoba merebutnya dari-KU akan KU-siksa”.
(HR. Muslim)
Karena Allah Al Jabbar, maka tiada lain bagi manusia untuk selalu mentaati segala kehendakNYA. Allah memang berkehendak atas segala sesuatu yang tidak mungkin bisa ditolerir oleh seluruh makhluk. Sebab Allah-lah yang menciptakan seluruh makhluk, segala alam beserta isinya. Dengan kehendakNYA pula, suatu saat nanti Dia akan meluluhlantakkan jagat raya ini.

Pesan sosial dari Allah sebagai dzat yang kehendakNYA tidak bisa diingkari, diantaranya yaitu :

a. Menjadi Teladan dalam Kebaikan
Seorang mu’min yang memahami makna sifat ini akan berusaha menularkan perilaku positif kepada lingkungannya. Ia tidak hanya melakukan kebaikan, tetapi juga mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Dengan demikian, ia memiliki dan menunjukkan keteladanan yang tidak diingkari oleh dirinya sendiri. Dia termasuk pelopor dalam kebaikan.

b. Menggunakan Kewenangan Secara Benar (Amanah)
Amanah, merupakan kebenaran yang tidak boleh diingkari oleh siapapun. Menggunakan kewenangan secara benar, harus dilakukan oleh siapapun tanpa memandang tinggi dan rendahnya jabatan/kedudukan yang dimilikinya.

Sumber landasan sikap dan mental, diantaranya :

• Tegar dalam menghadapi berbagai cobaan hidup, kemiskinan harta, rendahnya kedudukan, disikapi dengan kesabaran dan perilaku konstruktif lainnya.
• Kokoh pendirian, tidak mudah tergoda oleh iming-iming jangka pendek yang dapat menjerumuskan diri dalam kemaksiatan.
• Mampu menghadapi dan mengatasi kondisi yang kacau menjadi tenang, pertengkaran menjadi perdamaian.
• Mampu menjalankan tugas, tanggung jawab dan kewenangannya secara profesional dan amanah.

 

Hudzaifah Ibnul Yaman Ra pernah mengatakan , “Di antara tanda-tanda kiamat sudah dekat adalah adanya :
– Para pemimpin yang zhalim,
– Para ulama yang fasik,
– Dan orang yang dipercaya mulai berkhianat, maksudnya mereka yang diserahi suatu perkerjaan akan tetapi berkhianat. Atau mereka bisa dipercaya tetapi bekerja untuk para pengkhianat.

Semoga bila pada saat ini kita ditakdirkan mendapat jabatan/kedudukan yang tinggi, jangan sampai menyalahgunakan wewenang yang dapat menyengsarakan orang lain. Amien..

copas  dari file

Asma’ul Husna for Success in Business & Life

Bandung, 09 Februari 2010

Asmaul Husna : Al ALIIM

Allah SWT mempunyai nama AL ALIIM

AL ALIIM artinya adalah hanya Dia-lah Yang Maha Mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi dan akan terjadi, serta bagaimana dan akan seperti apa kejadiannya.

IlmuNya meliputi segala sesuatu, yang tampak maupun yang tidak, yang kecil maupun yang besar.

Ilmu Allah terhadap sesuatu yang belum ada adalah rahasia Allah atas makhluk-Nya, yang tidak diketahui oleh para malakikat yang terdekat sekalipun, juga tidak diketahui para Rasul yang diutus.

Inilah ilmu tentang takdir , kunci tentang apa yang akan terjadi  sampai datngnya hari pembalasan. Segala sesuatu yang gaib telah Allah tetapkan semenjak dahulu. Kuncinya hanya ada di sisiNya, dan tidak pernah akan hilang.

Demikian pula ilmu-Nya terhadap sesuatu yang ada telah tercatat dalam lauh mahfudzh. Allah Swt telah mencatatkan segala sesuatu dengan ukurannya dalam Lauh Madfudz, 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan nya.  Ilmu-Nya mencakup segala yang ada, bagaimana terjadinya,  waktu kejadiannya dan ajal  yang telah ditentukan.
Dialah Yang Mengetahui apa yang dikandung setiap perempuan dalam rahimnya. Dia pulalah Yang Maha Mengetahui  apa yang sedang berlaku di muka bumi  dan apa yang akan keluar darinya, apa yang akan turun dari langit dan apa yang akan naik ke sana, sehingga tidak ada satupun hal kecil maupun yang besar-kecuali Allah akan memeliharanya dari atas ‘Arsy-Nya.
Ilmu Allah Swt terhadap sesuatu yang telah ada dan diciptakan ada dalam ruang lingkup perbuatan-Nya. Semuanya akan terjadi berdasar kepada kandungan hikmahNya.
Seorang muslim  yang mengesakan Allah dengan nama ini harus mau berkorban meninggalkan apa yang menjadi pendapat dan ijtihad yang berasal dari hawa nafsunya, untuk menuju jalan Allah. Termasuk berkorban dengan meninggalkan berhukum kepada selain hukum Allah.

Hamba yang berakal akan mengetahui, bahwa kaidah-kaidah hukum yang bersumber dari rancangan undang-undang yg diterapkan di dalam persidangan  -betapapun sempurnanya-tidak akan pernah menyamai kesempurnaan Syariat Islam. Itu sebuah kepastian.

Betapapun tingginya ilmu manusia dalam kaidah hukum konvensional, ketika diletakan menjadi sebuah undang-undang atau sebuah hukum, tetap tidak akan mencakup kemaslahatan dunia secara sempurna, dan tidak akan mencakup kemaslahatan dunia secara sempurna, dan tidak akan pernah peduli akan kejadian di hari kebangkitan. Ketika kaidah-kaidah  itu dijadikan sebuah hukum, ia tidak akan memperhatikan masalah balasan kenikmatan yang abadi ataupun balasan siksaan yang kekal di akhirat. Ketika undang-undang itu disahkan, ia sarat dengan kekurangan karena kurangnya pemahaman ilmu dan terbatasnya akal pikiran.
Adapun hukum-hukum yang dikandung dalam al Quran dan hadits-hadits nabi, sudah bisa dipastikan bersumber dari Yang Maha Mengetahui, Yang  Esa dalam nama dan sifatNya,  mencakup segala sesuatu. Dialah yang mampu menghitung segala sesuatu, sehingga tidak ada satupun  di muka bumi ini dan juga di langit yang tersembunyi.

Bentuk lain peng-Esaan Allah dengan nama AL ALIIM ini, adalah ketika seorang hamba mampu memilih manhaj Allah sebagai manhaj hidupnya, mengedampingkan hukum yang dibuat manusia yang bertentangan dengan Syariat Allah atau hukum selain yang Allah turunkan.

Seorang muslim yang meng-Esakan Allah dengan nama AL ALIIM ini juga hendaknya mampu merendahlan hati dan dirinya di hadapan Allah, dirinya merasa kecil dan kerdil dibandingkan dengan ilmuNya. Betapapun luas ilmu dan pengetahuan seorang hamba, namun ketahuilah, bahwa di atas setiap yang berilmu ada Yang Mahaluas ilmuNya. Karena itu rendahkanlan dan hinakanlah diri di hadapan Allah, sampaikan ilmu dan jangan mendustakannya ketika diminta, sehingga dengan ilmunya Anda akan semakin dekat kepada Allah.

 

( Dr. Mahmud Abdurrazak Ar-Ridwani, Ad-Dua’u b’il  Asma’il Husna, 2005:60)

dari Al Qur’an Qordoba The Amazing

gambar dari 4shared

Asmaul Husna : At Tawwabu

Allah SWT mempunyai nama  AT TAWWABU artinya bahwa hanya Dialah yang Maha menerima tobat para hambaNya, maka tidaklah seorang hamba yang bermaksiat -sebesar apapun kemaksiatannya – kemudian ia ingin  bertobat  kepada Allah, maka Allah akan bukakan pintu tobat dan rahmat Nya.

Allah akan membahagiakannya karena tobat dan ia kembali kepadaNya, selama jiwanya belum terlepas atau sebelum maut menjemput.
Ia bertekad kuat untuk tidak kembali menyelisihi hukum-hukum ibadah yang telah digariskan pelaksanaannya. Allah Swt Maha Penerima taubat seorang hamba yang benar dalam tobatnya, mengembalikan hamba tersebut dalam kecintaan dan kasih sayangNya

Jika ia benar-benar menyesal , meninggalkan, memohon ampunan, berani berkorban -sehingga yg berbicara hanyalah kelemahan dan kemiskinan di hadapan-Nya- bahwa dosanya disebabkan kekalahannya atas gangguan setan atau kuatnya bisikan nafsu untuk berbuat maksiat, bahwasanya ia tak bermaksud menghinakan hak Allah ataupun berpura-pura terhadap takdirNya, tidak pula karena mengingkari Hak Allah karena merasa tahu akan rahasia-Nya , ataupun pula karena menghinakan ancaman-Nya.

Sejatinya dia bertekad dan bersemangat untuk meraih ampunan Allah , mengharap keridha-an-Nya, berbaik sangka, mengharap kemuliaan dan penuh harap akan luasnya kebijaksanaan-Nya.

Inilah tuntutan  tobat yang sebenarnya dan inilah pengesaan terhadap Allah dalam nama-Nya AT TAWWABU

 

(Dr. Mahmud Abdurrazak Ar-Ridwani , Ad-Du’au b’il Asma’il Husna, 2005 : 62)

copas dari Al Quran Qordoba Amazing

 gambar dari4shared

 

Asma’ul Husna

Berikut ini adalah 99 nama Allah SWT (Asmaul Husna) beserta maknanya
(Simpan di Media, Memo Pad …
Supaya bisa dibaca2 pas lagi nunggu antrian, lagi macet, lagi galau, lagi BT, lagi bersyukur, lagi zikir, dsb):

 

 

1. Ar-Rahmaan: ( الرحمن) Maha Pengasih

2. Ar-Rahim: ( الرحيم ) Maha Penyayang

3. Al-Malik: ( الملك ) Maha Merajai

4. Al-Quddus: ( القدوس ) Maha Suci

5. As-Salaam: ( السلام ) Maha Penyelamat,

6. Al-Mu’min: ( المؤمن ) Maha Pengaman

7. Al-Muhaimin: ( المحيمن) Maha Pelindung

8. Al-’Aziiz: ( العزيز ) Maha Mulia

9. Al-Jabbaar: ( الجبار ) Maha Perkasa

10. Al-Mutakabbir: ( المتكبر ) Maha Megah

11. Al-Khaaliq: ( الخالق ) Maha Pencipta,

12. Al-Baari’: ( البارئ ) Maha Pembuat

13. Al-Mushawwir: ( المصر) Maha Pembentuk

14. Al-Ghaffaar: ( الغفار ) Maha Pengampun

15. Al-Qahhaar: ( القهار ) Maha Pemaksa,

16. Al-Wahhaab: ( الوهاب ) Maha Pemberi

17. Ar-Razzaaq: ( الرز) Maha Pberi Rezeki

18. Al-Fattaah: ( الفتح) Maha Membukakan

19. Al-’Aliim: ( العليم ) Maha Mengetahui,

20. Al-Qaabidh: ( القابض ) Maha Pencabut

21. Al-Baasith: ( الباسط ) Maha Meluaskan

22. AI-Khaafidh: الخاف) Maha Mjatuhkan

23. Ar-Raafi’: ( الرافع ) Maha Mengangkat

24. Al-Mu’iz: ( المعز ) Maha Menghormati

25. Al-Muzil: ( المذل ) Maha Menghina

26. As-Samii’: ( السميع) Maha Mendengar

27. Al-Bashiir: ( البصير) Maha Melihat.

28. Al-Hakam: ( الحكم ) Maha Mengadili,

29. Al-’Adl: ( العدل) Maha Adil

30. Al-Lathiif: ( اللطيف) Maha Teliti

31. Al-Khabiir: ( الخبير ) Maha Waspada

32. Al-Haliim: ( الحليم ) Maha Penyabar

33. Al-’Adzhiim: ( العظيم ) Maha Agung,

34. Al-Ghafuur: ( الغفور) Maha Pengampun

35. Asy-Syakuur: ( الشكور) Maha Bsyukur

36. Al-’Aliy: ( العلي ) Maha Tinggi

37. Al-Kabiir: ( الكبير ) Maha Besar

38. Al-Hafidz: ( الحفيظ ) Maha Pemelihara

39. Al-Muqiit: ( المقيت ) Maha Pemberi

40. Al-Hasiib: ( الحسيب ) Maha Penjamin

41. Al-Jaliil: ( الجليل ) Maha Luhur

42. Al-Kariim: ( الكريم ) Maha Pemurah,

43. Ar-Raqiib: ( الركيب ) Maha Peneliti

44. Al-Mujiib: ( المجيب ) Maha Mngabulkan

45. Al-Waasi’: ( الواسع ) Maha Luas

46. Al-Hakiim: ( الحكيم ) Maha Bijaksana,

47. Al-Waduud: ( الودود ) Maha Pencinta

48. Al-Majiid: ( المجيد ) Maha Mulia

49. Al-Ba’ithu: الباعث) Maha Mbangkitkan

50. Asy-Syahiid: (الشهيد) Maha Mgetahui

51. Al-Haq: ( الحق ) Maha Benar

52. Al-Wakiil: ( الوكيل ) Maha Memelihara

53. Al-Qawiy: ( القوى ) Maha Kuat

54. Al-Matiin: ( المتين ) Maha Teguh

55. Al-Waliy: ( الولى ) Maha Melindungi,

56. Al-Hamiid: ( الحميد ) Maha Terpuji,

57. Al-Muhshii: ( المحصى ) Maha Mhitung

58. Al-Mubdi’: ( المبدئ ) Maha Memulai

59. Al-Mu’iid: ( المعيد) Maha Memulihkan,

60. Al-Muhyii: ( المحي ) Maha Mhidupkan

61. Al-Mumiit: ( المميت ) Maha Mematikan,

62. Al-Hay: ( الحي ) Maha Hidup

63. Al-Qayyuum: ( القيوم ) Maha Berdiri

64. Al-Waajid: ( الواجد ) Maha Penemu

65. Al-Maajid: ( الماجد ) Maha Mulia

66. Al-Waahid: ( الواحد ) Maha Esa.

67. Al-Ahad: ( الأحد ) Maha Tunggal.

68. Ash-Shamad: ( الصمد ) Maha Diperlukan

69. Al-Qaadir: ( القادر ) Maha Berkuasa/

70. Al-Muqtadir: ( المقتدر ) Maha Menentukan.

71. Al-Muqaddim: ( المقدم ) Maha Mendahulukan

72. Al-Muakhkhir: ( المؤخر ) Maha Menangguhkan

73. Al-Awwal: ( الأول ) Maha Pemulaan

74. Al-Aakhir: ( الآخر ) Maha Penghabisan

75. Azh-Zhaahir: ( الظاهر ) Maha mewujudan

76. Al-Baathin: ( الباطن ) Maha Tersembunyi

77. Al-Waalii: ( الوالى ) Maha Menguasai

78. Al-Muta’aalii: ( المتعال ) Maha Suci/

79. Al-Bar: ( البار ) Maha Dermawan

80. At-Tawwaab: ( التواب ) Maha Penerima Taubat

81. Al-Muntaqim: ( المنتقم ) Maha Penghukum

82. Al-’Afuw: ( العفو ) Maha Pemaaf

83. Ar-Rauuf: ( الرؤف ) Maha Pengasih

84. Maalikul Mulk: ( المالك الملك ) Maha Pemilik Kekuasaan

85. Zul-Jalaali Wal Ikraam: ( ذوالجلال والإكرام ) Maha Pemilik Keagungan dan Kemuliaan

86. Al-Muqsith: ( المقسط ) Maha Mengadili

87. Al-Jaami’: ( الجامع) Maha Mengumpulkan

88. Al-Ghaniy: ( الغنى ) Maha Kaya Raya

89. Al-Mughnii: ( المغنى ) Maha Pemberi kekayaan

90. Al-Maani’: ( المانع ) Maha Membela

91. Adh-Dhaar: ( الضار ) Maha Mendatangkan Mudharat

92. An-Naafi’: ( النافع ) Maha Pemberi Manfaat

93. An-Nuur: ( النور ) Maha Pemberi Cahaya

94. Al-Haadi: ( الهادى ) Maha Pemberi Petunjuk

95. Al-Badii’: ( البديع ) Maha Indah

96. Al-Baaqi: ( الباقع ) Maha Kekal

97. Al-Waarits: ( الوارث ) Maha Mewarisi

98. Ar-Rasyiid: ( الرشيد ) Maha Pandai

99. Ash-Shabuur: ( الصبور ) Maha Penyabar