Tag Archives: BID’AH

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 68 | Pembahasan Dalil Ketiga QS An Nahl 25 Bag 02

Halaqah 68 | Pembahasan Dalil Ketiga QS An Nahl 25 Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-68 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ,

۞ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ

Oleh karena setelahnya disebutkan orang² yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu.

Berarti dosa yang harus mereka tanggung jawabkan dipertanggung jawabkan oleh mubtadi tadi adalah dosa bidah yang dengannya dia menyesatkan manusia tanpa ilmu,

أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Sungguh jelas apa yang mereka tanggung (dosa yang harus mereka tanggung).

Dia mempertanggung jawabkan dosanya sendiri sudah berat apalagi kalau harus ditambah lagi dengan dosa bidah yang dilakukan oleh lain yang dia dakwahkan /ajak/sesatkan, maka ini menunjukan tentang bahaya bidah & mengajak orang lain untuk melakukan bidah & ini berbeda keadaannya dengan ahlul maksiat, ahlul bidah ketika dia menyangka itu adalah taqarub kepada Allāh. Ahlu bidah meniatkan bahwasanya dia sedang beribadah kepada Allāh, menganggap ini adalah sebuah kebaikan karena ini adalah bentuk beribadah kepada Allāh, sebuah kebaikan, maka dia tidak ragu² lagi untuk mengajak orang lain untuk melakukan bidah tadi, akhirnya dia sesatkan & juga menyesatkan orang lain akhirnya dia melakukan dosa bidah & menjadikan orang lain melakukan dosa bidah tadi, itu orang yang melakukan bidah karena menyangka itu adalah ibadah akhirnya dia dakwahkan kepada orang lain.

Berbeda dengan maksiat atau dosa besar maka masing² dari pelaku dosa besar tadi merasa & menyadari bahwasanya itu adalah dosa besar, malu untuk melakukannya apalagi mengajak orang lain untuk melakukannya.

Misal dia berzina kemudian setelah melakukan dosa zina menyesal (ko bisa terjadi/kenapa ini terjadi dst) malu kalau itu sampai dilihat orang lain, bagaimana dia mengajak orang lain untuk melakukan perzinahan tadi, dia sendiri malu, kerja misalnya disebuah tempat yang ribawi dia tau bahwsanya dia Salah, tempat dia bekerja ini bermasalah bertentangan dengan syariat, ketika ditanya mungkin orang kerja dimana dia tidak mau menyebutkan malu , tau bahwasanya ini sebuah kesalahan bagaimana dia mengajak orang lain untuk melakukan maksiat tersebut dst.

Orang² yang melakukan dosa² besar tadi melakukan kemaksiatan² tadi rata² mereka tau bahwasanya itu adalah dosa besar, mereka meskipun tidak bisa mengendalikan dirinya tapi mereka tidak ingin orang lain juga terkena seperti mereka, sembunyi dari anaknya, sembunyi dari tetangganya, sembunyi dari orang lain tidak ingin orang lain apa yang dia perbuat, karena dia tau ini adalah sebuah kemaksiatan/ini adalah sebuah kesalahan.

Berbeda dengan orang yang melakukan kebidahan tadi maka dia mengajak orang lain bahkan terang²an menyangka ini adalah ibadah ketika dia mengajak orang lain berarti memasukkan mereka didalam ibadah .

Kenapa beliau mendatangkan ayat ini dalam bab ini, babnya tentang bahwasannya bidah itu lebih dahsyat daripada kemaksiatan karena orang yang melakukan bidah kebanyakan dia karena menganggap itu adalah taqarub ibadah oleh karenanya dia tidak segan² untuk mengajak orang lain melakukan bidah tadi & ketika dia mengajak kemudian diterima dakwahnya maka semakin besar dosanya.

Adapun orang yang melakukan kemaksiatan maka tidak demikian keadaannya dia dalam keadaan malu, malu diketahui orang lain bagaimana ia mengajak orang lain untuk melakukan kemaksiatan tersebut sehingga dia menanggung dosa kabirah tadi, dosa² besar tadi.

Tentunya ini menunjukan bahwasanya bidah ini adalah sesuatu yang berbahaya lebih berbahaya daripada kemaksiatan karena pelaku bidah dia mendakwahkan & mengajak orang lain untuk melakukan bidah & itu semakin menambah dosanya berbeda dengan kemaksiatan maka dia mencukupkan diri dengan dirinya & mengetahui bahwasanya dirinya bersalah/keliru tidak sampai mendakwahkan kepada orang lain, sehingga tidak salah apabila syaikh rahimahullah disini mendatangkan ayat ini untuk menunjukan kepada kita tentang bahwa bidah ini lebih besar dosanya daripada dosa besar.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 67 | Pembahasan Dalil Ketiga QS An Nahl 25

Halaqah 67 | Pembahasan Dalil Ketiga QS An Nahl 25

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-67 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.


Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ,

۞ لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dan juga firman Allāh didalam Surat An Nahl bahwasanya Allāh mengatakan

۞ لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُو

Diantara yang menunjukan bahwasanya Bidah ini lebih besar daripada dosa² besar adalah apa yang ditunjukan oleh ayat yang mulia ini, dimana Allāh Subhanahu wa Taalā mengatakan

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Supaya mereka membawa dosa² mereka secara sempurna dihari kiamat

Jadi dosa² yang mereka lakukan akan mereka pertanggung jawabkan di hari Kiamat, apakah hanya sebatas disitu saja ternyata ada dosa yang lain dia pikul, bukannya dosanya saja yang akan dia pikul

۞ وَمَن یَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةࣲ شَرࣰّا یَرَهُۥ

[QS Az-Zalzalah 8]

Tapi disana ada tambahan yang lain yang juga dia pikul yaitu

وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan diantara dosa² orang² yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu

وَمِنْ أَوْزَارِ

Dan diantara

Artinya tidak semua dosa orang yang telah mengikuti dia dalam kesesatan tadi kemudian ditumpahkan dosanya kepada mubtadi tadi,

Contoh
Seorang Mubtadi kemudian dia mengajak orang lain untuk melakukan bidah tadi (misal 3 orang), orang pertama dia ikut melakukan bidah tadi, yang kedua & ketiga juga demikian disamping dia melakukan bidah tadi (yang diajak oleh mubtadi tadi) dia juga melakukan dosa Zina(misalnya) yang lain Riba, mencuri, berarti yang pertama melakukan dosa bidah tadi & zina, yang kedua bidah & mencuri, yang ketiga bidah & Riba. Ketika mubtadi ini dia mendakwahi kemudian yang pertama itu dakwahnya /mengamalkan bidahnya, yang kedua & ketiga mengamalkan bidahnya, dosa yang ditanggung Mubtadi tadi dosanya & dosa orang yang mengikuti, apakah maksudnya keseluruhan dosa atau hanya dosa bidahnya saja? (Dosa bidahnya saja), adapun dosa zina ditanggung oleh dirinya sendiri, dia melakukan bidah (orang yang pertama tadi) dia akan merasakan dosanya jika Allāh menghendaki.

Mubtadi tadi selain dia mempertanggung jawabkan dosanya sendiri dia juga akan terkena & akan menanggung dosa bidah yang telah dilakukan oleh yang pertama, kedua & ketiga, adapun dosa Zina, Riba & mencuri dia tidak ikut merasakan akibatnya .

Jadi dosa mubtadi tadi yang pertama adalah dosa bidah yang dia lakukan sendiri, kemudian yang kedua adalah dosa bidah orang yang mengikutinya, jika dia merasakan/ atau dia akan menangggung dosa bidahnya & dosa orang yang mengikutinya apakah orang yang mengikutinya di azab dengan sebab bidahnya? Sama dia juga di azab, orang yang pertama, kedua & ketiga dia juga di azab dengan sebab sebuah bidah tadi & mubtadi yang pertama (yang mengajak) dia lebih berat lagi lebih besar lagi lebih berlipat karena dia akan menanggung bidahnya sendiri(dosa bidahnya) & juga dosa bidah orang yang mengikutinya, jadi disini menjadi 2 dosanya, dosa mubtadi tadi kemudian orang yang diajak dia juga melakukan bidah tadi maka dosanya mubtadi dua kali lipat, jika 3 orang yang dia ajak berarti lebih besar lagi, apalagi sampai puluhan atau ratusan orang maka mubtadi tadi dia akan mempertanggung jawabkan disanyai sendiri & juga oleh Allāh akan ditambahi dengan dosa bidah yang dilakukan oleh orang² yang dia dakwahi karena sebab dia mereka menjadi melakukan bidah dan pelaku bidah tadi juga akan mempertanggung jawabkan dosa bidahnya sendiri.

Jadi jangan dipahami bahwasanya dosa tadi akan ditanggung sepenuhnya oleh mubtadinya tidak, orang yang mengikuti dakwah mubtadi tadi juga akan mempertanggung jawabkan dosanya, disamping itu mubtadinya juga akan mempertanggung jawabkan dosa bidah yang diamalkan oleh pengikutnya.

Oleh karenanya disini disebutkan menggunkan min yang artinya menunjukan sebagian, beda dengan jika misalnya bunyi ayatnya

و أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ

Kalau ayatnya – و أَوْزَارِ – di athofkan kepada – أَوْزَارِ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

BID’AH

 

BID’AH

Kajian kemarin kita bicara soal Sunnah. Sedangkan Bid’ah adalah kebalikan dari itu, yaitu ibadah yg BUKAN berdasarkan petunjuk dari Rasulullah, yaitu yg berasal dari hadits lemah (dhaif) & palsu (maudhu).

Rasulullah bersabda, “Sungguh, setiap perkara baru yg dibuat-buat (ibadah baru) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat !”. (HR. Abu Daud [4607],  At-Tirmidzi [2676] dan Ibnu Majah [43—44])

“…dan semua kesesatan tempatnya di Neraka”. (HR. Muslim)

Fenomena tersebarnya hadits palsu sudah disinyalir oleh Rasulullah Saw, beliau mengatakan :

“…akan ada satu kaum yg mengikuti contoh teladan selain sunnahku, dan mengambil petunjuk selain petunjukku (bid’ah)”. (HR Bukhari dan Muslim).

“Pada akhir zaman akan ada para dajjal lagi pendusta. Mereka membawa kepada kamu hadith-hadith yg tidak pernah kamu dan bapa-bapa kamu mendengarnya (hadits-hadits palsu). Kamu hendaklah berhati-hati dgn mereka, agar mereka tidak menyesatkan kamu dan menipu kamu sehingga yg batil disangka benar”. (Mukaddimah Sahih Muslim)

Jadi pelaku bid’ah sudah diketahui oleh Rasulullah akan muncul kelak.

Jadi berhati-hatilah, carilah ilmu dan bertanyalah kepada ahlinya.

Ibnu Al-Majisun berkata, aku mendengar Imam Malik berkata, “Barangsiapa yang berbuat bid‘ah dalam Islam dan dia menganggap hal itu baik (menganggap itu sebuah kebaikan), berarti dia telah lancang kepada Allah dan menganggap bahwa Muhammad telah berkhianat, karena tdk menyampaikan risalah Allah dgn sempurna, pdhl Allah telah berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu.” (Q.S. Al-Maidah:3)

Maka dari itu kerjakan Sunnah, jauhi bid’ah, karena Rasulullah sudah menyampaikannya kepada kita dgn lengkap dan telah disempurnakan oleh Allah, sehingga tdk membutuhkan kreatifitas kita.

Firman Allah :
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (Q.S. Al-Hasyr:7)

Salam

dari KTQS

 

PAKE HP BID’AH ?

(3 Syarat Disebut Bid’ah)

Sebagian org menganggap bahwa bid’ah adalah setiap perkara baru.

Sehingga wajar kalau mereka mengatakan,

“Kalau memang hal itu bid’ah, kamu tidak boleh pakai HP, pake blackberry, tidak boleh haji dengan naik pesawat, tidak boleh pakai komputer, dst karena semua itu baru dan bid’ah adalah suatu yang baru dan dibuat-buat”.

Padahal bukan itu yg dimaksud dalam Islam, karena bid’ah yg tercela dan sesat adalah bid’ah dalam masalah syariat agama, sedangkan hal-hal diatas adalah bid’ah lughowi (bid’ah secara bahasa)

Ini muncul karena tdk memahami hakekat bid’ah yg terdapat dalam hadits ini :

“Hati-hatilah dgn perkara yg diada-adakan (yg baru) karena setiap perkara yg diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676)

Untuk lebih jelas dalam memahami bid’ah, kita harus memahami tiga syarat disebut bid’ah yg disimpulkan dari dalil berikut :

Rasulullah saw bersabda,

مَنْأَحْدَثَفِىأَمْرِنَاهَذَامَالَيْسَمِنْهُفَهُوَرَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yg tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”. (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Dalam hadits Nabi saw diatas  menyebutkan,

فِىأَمْرِنَاهَذَا

“Dalam urusan agama kami”

Sehingga perkara dunia tidak termasuk dalam hal ini (seperti hal hal yg dicontohkan diatas, penggunaan hp dst).

Ibnu Hajar Al Hambali berkata,
“Yang dimaksud dgn bid’ah adalah sesuatu yg baru yg tidak memiliki landasan (dalil) dalam syari’at sebagai pendukung. Adapun selain itu, maka itu bukanlah bid’ah menurut istilah syar’i, namun bid’ah secara bahasa”. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 127)

Jadi kesimpulannya, bid’ah yg terlarang dalam agama, tercela, sesat dan tertolak, yaitu yg memenuhi 3 syarat :

1. Sesuatu yg baru (dibuat-buat).
2. Sesuatu yg baru dalam agama.
3. Dan yg tidak disandarkan pada dalil syar’i

SUNNAH

Sering kita mendengar kata “SUNNAH”

Lantas apa sebenarnya SUNNAH itu?

Sunnah, yaitu ucapan dan perbuatan Rasulullah terkait sifat ibadah beliau yang berdasarkan hadits-hadits shahih.

1. Sesungguhnya, segala sesuatu yang terdapat di dalam Al-Kitab (Al-Quran) dan As-Sunnah (hadits Rasulullah saw) adalah sunnah Rasulullah saw yang merupakan sebuah jalan yg ditempuh oleh Rasulullah saw.

Firman Allah :
“Barang siapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS. An Nisa’: 80)

Sabda Rasulullah :
“Barangsiapa yang menolak sunnahku maka dia bukanlah bagian dariku”. (H.R. Bukhari [5063] dan Muslim [1401])

2. Sunnah sebagai lawan dari bid’ah.

Sabda Rasulullah saw dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah,

“Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang tetap hidup (setelah kematianku), niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka, berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang memperoleh petunjuk dan berilmu. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta berhati-hatilah terhadap perkara-perkara baru yang dibuat-buat. Sungguh, setiap perkara baru yang dibuat-buat (ibadah baru) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat !”.

(HR. Abu Daud [4607],  At-Tirmidzi [2676] dan Ibnu Majah [43—44])

Salam !

Dari KTQS Darul Arqom