Tag Archives: Bimbingan Islam

DEFINISI KURBAN DAN HUKUMNYA

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Jum’at, 28 Dzulqa’dah 1442 H/09 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 05: Definisi kurban dan hukumnya

〰〰〰〰〰〰〰

DEFINISI KURBAN DAN HUKUMNYA

بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له و من يضلل فلا هادي له أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له واشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه و على آله وأصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada pertemuan yang ke-5 ini, kita akan bersama-sama belajar tentang :

▪︎ Definisi Kurban dan Hukumnya

Para ulama kita (rahimakumullāh) telah menuliskan banyak sekali definisi tentang kurban ini. Tetapi makna dari definisi tersebut berdekatan dan tidak saling bertentangan satu sama lain.

Di antaranya disebutkan التضْحِيَة kurban itu adalah syātun (شاة) domba atau hewan kurban dalam definisi lain disebutkan hayawānun (الْحَيَوَان).

مَخْصُوْص

Hewan yang khusus (dengan kriteria khusus).

تذبح بعد صلاة العيد

Yang disembelih setelah shalat Iedul Adha.

تقربا الى الله

Dalam rangka untuk mendekatkan diri atau beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

التضْحِيَة :شاة خُصُوْصِيّ تذبح بعد صلاة العيد تقربا الى الله

“Kurban adalah menyembelih domba atau hewan khusus setelah shalat Iedul Adha dalam rangka untuk mendekatkan diri atau beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Ibadah kurban merupakan syiar islam yang disyari’atkan di dalam al-Kitab (Al-Qurān) dan di dalam Sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, serta ijma’ para ulama kaum muslimin.

Di antara ayat Al-Qurān yang menegaskan pensyariatan kurban adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ۞ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

“Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau kenikmatan yang banyak (besar) maka tegakkanlah shalat dan berkurbanlah.”

(QS. Al-Kautsar:1-2)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ۞ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allāh, Tuhan seluruh alam.

Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).”

(QS. Al-An’ām:162-163)

Kata an-nusuk (النسك) adalah penyembelihan sebagaimana dikatakan oleh Said bin Zubair. Adapula yang mengatakan an-nusuk (النسك) adalah semua ibadah termasuk sembelihan. Pendapat kedua ini lebih luas cakupannya.

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, dan ibadahku seluruhnya” termasuk di dalamnya penyembelihan (menurut pendapat yang kedua) hanya aku peruntukkan bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Al-Bukhāri dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu (masih berkaitan dengan pensyariatan kurban) dia berkata:

ضَحَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih hewan kurban berupa dua ekor domba dengan warna putih garam (warna putih seperti warna garam) sebagian riwayat ditambahkan أَقْرَنَيْنِ (yang bertanduk). Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih kurbannya dengan tangan beliau sendiri, dan beliau membaca tasmiyah dan bertakbir (بسم لله ….الله أكبر) dan beliau meletakkan kaki beliau pada sisi samping kedua hewan kurban tersebut.”

(Hadīts shahīh riwayat Al-Bukhāri nomor 5565)

Maksud pada sisi samping yaitu badan samping bagian dada di atas leher sedikit domba tersebut.

Dari Abdullāh bin Umar radhiyallāhu ‘anhumā, dia berkata:

أَقَامَ النبي صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ يُضَحِّي ‏ ‏

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tinggal di Madīnah selama sepuluh tahun dalam keadaan senantiasa beliau berkurban setiap tahunnya.” (tidak pernah absen).

(Hadīts hasan riwayat At-Tirmidzi nomor 1507)

Ini adalah beberapa dalīl yang menjelaskan kepada kita tentang pensyariatan ibadah kurban.

Dan jumhur ulama berpendapat bahwa kurban ini hukumnya sunnah muakaddah (sunnah yang ditekankan), sunnah tetapi sangat dianjurkan, sunnah tetapi sangat diwasiatkan untuk dilakukan. Karena Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah meninggalkan kurban semasa beliau hidup di Madīnah selama sepuluh tahun.

Ini adalah madzhab Asy-Syafī’i, Mālik, Ahmad dan pendapat yang masyhur dari keduanya.

Sedangkan selain mereka berpendapat bahwa ia wajib. Kelompok ulama yang kedua mengatakan kurban itu hukumnya wajib tidak sunnah. Ini adalah madzhab Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari dua riwayat Ahmad.

Dan pendapat wajibnya kurban ini, dipilih oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāhu ta’āla, beliau berkata:

“Ia adalah salah satu pendapat dari dua pendapat dalam madzhab Mālik atau dhahir dari madzhab Mālik.”

Ikhwāni wa Akhawatiy Fīllāh rahīmani wa rahīmakumullāh wa A’azzakumullāh.

Disebagian kitab beliau Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah di antaranya dalam Majmu’ Fatawa mengatakan, bahwa dalīl terkuat yang dipakai oleh ulama untuk mengatakan kurban itu hukumnya sunnah berarti dalīlnya banyak, tetapi menurut Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah yang terkuat adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, janganlah ia memotong rambutnya dan memotong kukunya.”

(Hadīts shahīh Muslim nomor 1977)

Para ulama yang menyatakan kurban itu sunnah:

الوجوب لا يعلق بالإرادة

“Satu kewajiban itu tidak dikaitkan dengan keinginan.”

Tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan, “Jika telah masuk sepuluh pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban”. Artinya kurban itu hanya berlaku bagi orang yang ingin, jika tidak ingin maka tidak berkurban, tidak apa-apa.

Ini merupakan dalīl yang dikatakan Ibnu Taimiyyah sebagai ‘ūdah (عوْدَة) dan beliau membantahnya.

Yang benar,

الوجوب قد يعلق بالإرادة بشرط

“Satu kewajiban itu kadang dikaitkan dengan keinginan tetapi bersyarat”

Seperti sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إذا أراد أحدكم أن يصلي فليتوضأ

“Jika salah seorang dari kalian ingin shalat, hendaknya dia berwudhu”

Sedangkan shalat lima waktu adalah wajib.

Apakah kita akan mengatakan shalat itu berlaku bagi orang yang ingin, sedangkan yang tidak ingin (tidak shalat) tidak apa-apa?

Tidak demikian, maka wallāhu ta’āla a’lam bishawab. Pendapat yang benar dalam masalah ini, “Kurban itu hukumnya wajib”.

Ditambah lagi dengan ancaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bagi orang yang tidak berkurban.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam satu hadīts shahīh.

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa memiliki kelongaran rezeki namun ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati tanah lapang untuk shalat hari raya.”

(Hadīts hasan riwayat Ibnu Mājah nomor 3123)

Di dalam kitab Ahkamul Idain Fīsunnatil Muthaharah syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari rahimahullāhu ta’āla, tatkala menyebutkan hadīts ini, beliau mengatakan seolah-olah tidak ada manfaatnya orang yang memiliki kelonggaran rezeki kemudian dia tidak berkurban dan dia ikut shalat.

“Seolah-olah shalatnya tidak bermanfaat bagi dirinya ketika ia meninggalkan kewajiban tersebut (berkurban).”

Tadi di atas disebutkan;

Ada riwayat bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah meninggalkan kurban. Ada ancaman bagi orang yang memiliki kelebihan rezeki tetapi ia tidak berkurban maka ia tidak boleh mendekat ke tanah lapang untuk shalat.

Ikhwāni wa Akhawatiy Fīllāh rahīmani wa rahīmakumullāh wa A’adzakumullāh yang senantiasa dirahmati oleh Allāh.

Kemudian ada riwayat juga, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةً وَعَتِيرَةً هَلْ تَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ؟ هِيَ الَّتِي تُسَمُّونَهَا الرَّجَبِيَّةَ

“Wajib bagi setiap satu rumah pada setiap tahunnya untuk melakukan kurban di bulan Dzulhijjah yang disebut udhhiyyah (أُضْحِيَّةً) dan kurban di bulan Rajab yang disebut ‘atirah (عَتِيرَةً).

Apakah kalian tahu apa itu ‘atirah ((عَتِيرَةً)?

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

هِيَ الَّتِي تُسَمُّونَهَا الرَّجَبِيَّةَ

Dia adalah kurban yang dilakukan di bulan Rajab.”

(Hadīts riwayat At-Tirmidzī, Abu Dawud , An-Nassā’i, Ibnu Mājah. At-Tirmidzī mengatakan hadīts ini gharībun dhaīf dan Abu Dawud mengatakan pensyariatan Al-‘Atirah (الْعَتِيرَة) telah dihapus. Syaikh Al-Albāniy menghukumi hadīts ini dhaif)

Dan Imam Nawawi rahimahullāhu mengatakan الْعَتِيرَة مَنْسُوخَة pensyariatan Al-‘Atirah (الْعَتِيرَة) Ini
telah dihapus, sedangkan pensyariatan (kewajiban) kurban masih tetap berlaku.

Wallāhu ta’āla a’lam bishawab.


HARI TASYRIQ DAN DZIKIR-DZIKIR YANG DIANJURKAN

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Kamis, 27 Dzulqa’dah 1442 H/08 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 04: Hari Tasyriq dan Dzikir- Dzikir yang Dianjurkan

〰〰〰〰〰〰〰

HARI TASYRIQ DAN DZIKIR-DZIKIR YANG DIANJURKAN

بسم الله الرحمن الرحيم
الـحـمـد لله رب الـعـالـمـيـن و الـصـلاة و الـسـلام عـلـى أشـرف الأنـبـيـاء و الـمـرسـلـيـن وعلى آله وأصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulillāh kita dipertemukan kembali pada kesempatan kali ini, dan kita akan bersama-sama mempelajari tentang:

▪︎ Hari Tasyriq serta Doa dan Dzikir

Doa dan dzikir apa saja yang bisa kita lakukan, kita baca, bisa kita amalkan, bisa kita dawwamkan dan rutinkan pada hari-hari tersebut.

⑴ Hari Tasyriq (أَيَّامُ اَلتَّشْرِيقِ)

Imamu Muslim telah meriwayatkan di dalam shahīhnya dari hadīts Nubaisyah al-Hudzali bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

أَيَّامُ مِنَى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ, وَذِكْرٍ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Hari-hari Mina adalah hari-hari makan, minum dan berdzikir kepada Allāh Azza wa Jalla.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1141)

Hari-hari Mina di sini maksudnya adalah hari-hari tasyriq yaitu hari-hari yang jatuh setelah selesai hari penyembelihan (Idul Adha) yaitu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah setiap tahunnya.

Diriwayatkan oleh para penulis kitab As-Sunnan dan Al-Musnad dari jalan yang banyak. Dari Nabi dan dalam sebagian jalannya disebutkan:

أن النبي صلى الله عليه وسلم مبعث في ايام منى مندينا مندي لَا تصوم هذه الايام فان ايام اكل وشرب وذكر لله عز وجل

Bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengutus di hari-hari Mina yaitu di hari Tasyriq, Nabi mengutus seorang penyeru yang berseru dan berteriak, “Janganlah kalian berpuasa di hari-hari ini (hari Mina atau hari-hari Tasyriq) karena ia merupakan hari-hari untuk makan, minum (berhari raya, bersuka-cita) dan hari untuk berdzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.

Hari-hari Mina atau hari-hari Tasyriq yang telah ditentukan jumlahnya sebagaimana difirmankan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْدُودَٰتٍۢ

“Dan berdzikirlah kalian dengan mengingat dan menyebut asma Allāh pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Yaitu jumlahnya tiga hari setelah hari penyembelihan sebagaimana tadi kita sampaikan.

Kemudian dari hari-hari Tasyriq yang tiga itu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah yang paling utama di antara ketiga hari tersebut adalah hari yang pertama yaitu tanggal 11 Dzulhijjah, biasa di sebut dengan hari Al-Qarr (القر) atau hari untuk menetap.

Kenapa dinamakan Al-Qarr (القر) ?

Karena orang yang berada di Mina (orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji) menetap di sana dan tidak boleh keluar dari sana. Sehingga tanggal 11 Dzulhijjah, orang-orang yang melaksanakan ibadah haji menetap di Mina.

Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam surat Al Baqarah 203.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوۡمَيۡنِ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِۖ

“Dan barangsiapa mempercepat untuk meninggalkan Mina setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Adapun meninggalkan Mina di hari yang pertama yaitu hari ke-11 maka tidak boleh, maka disebut sebagai hari Al-Qarr (القر) Sehingga jama’ah haji tidak boleh keluar dari Mina.

Adapun yang keluar setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya dan barangsiapa mengakhirkan keberangkatannya maka tidak ada dosa pula baginya.

Itu adalah sekelumit tentang hari-hari Tasyriq.

⑵ Doa dan Dzikir

Macam-macam dzikir yang sangat dianjurkan untuk dibaca dan di amalkan pada hari-hari Tasyriq. Karena Allāh telah memerintahkan agar kita memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut sebagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

أإنها أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Hari Tasyriq adalah hari untuk makan, minum dan berdzikir kepada Allāh.”

(HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i)

Dzikir seperti apa yang disyariatkan?

① Bertakbir

Banyak di antaranya yang pertama adalah dzikir kepada Allāh setelah shalat fardhu, dengan membaca dzikir setelah shalat kemudian boleh juga bertakbir.

Sebagian ulama mengatakan ini adalah takbir khusus setelah seseorang selesai melakukan shalat jama’ah lima waktu.

اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ….. لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ….. اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Atau bacaan takbir yang lainnya.

Tetapi sebagian ulama kita mengatakan bahwa tidak ada keterangan untuk bertakbir secara khusus setelah shalat.

Tapi takbir itu setelah shalat, ketika kita di pasar, ketika kita di jalan, ketika kita di tempat kerja, ketika kita naik kendaraan. Sangat dianjurkan sekali untuk bertakbir.

② Dzikir kepada Allāh dengan membaca tasmiyah yaitu membaca bismillāh dan takbir (الله اكبر)

بسم الله الله اكبر

Kapan itu?

Saat menyembelih, karena hari-hari Tasyriq merupakan hari-hari diperbolehkan bagi kita untuk menyembelih, yang tidak bisa menyembelih di hari Idul Adha bisa menyembelih di hari taysriq.

Sesaat sebelum menyembelih dia membaca بسم الله الله اكبر sebagaimana disebutkan dalam satu hadīts,

ضَحَّى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih dua ekor domba dan beliau meletakkan kaki beliau di samping badan si domba dan beliau membaca tasmiyah dan bertakbir (بسم الله الله اكبر).”

(HR. Bukhari dan Muslim)

③ Dzikir kepada Allāh saat makan dan minum, karena tadi dikatakan hari Tasyriq adalah hari makan dan minum, sebelum makan membaca bismillāh dan setelah makan membaca alhamdulillāh.

Jika tidak sebagaimana disebutkan dalam kitab Adabul Mufrad, ada satu riwayat hadīts dari Nabi menerangkan orang yang makan kemudian dia tidak membaca bismillāh tidak membaca tasmiyah maka syaithan akan ikut makan dengannya.

Dan jika dia membaca tasmiyah maka syaithan akan berkhutbah kepada teman-temannya لَا أَسْأَلكُمْ tidak ada jatah makan bagi kalian. Karena si fulan sebelum makan dia membaca tasmiyah.

Itu di antara dzikir yang bisa kita lakukan.

Kemudian dalam hadīts yang lain, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ

‘Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar ridha, Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar senang dan suka terhadap hamba jika dia makan kemudian dia memuji Allāh atas nikmat tersebut (setelah makan dia mengucapkan Alhamdulillāh memuji Allāh).

وَيَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Dan si hamba tadi minum kemudian memuji Allāh atas nikmat berupa minuman tersebut.”

(Hadīts riwayat Muslim Nomor 2734)

Jadi sebelum makan membaca bismillāh setelah makan dan minum membaca alhamdulillāh.

⑷ Dzikir kepada Allāh dengan bertakbir pada saat melempar jumrah di hari-hari Tasyriq yang ini berlaku khusus untuk orang-orang yang menunaikan ibadah haji.

Dalam perintah berdzikir pada saat selesai ibadah haji terdapat satu makna khusus yaitu bahwa ibadah-ibadah itu bisa habis waktunya dan berakhir, sedangkan dzikir kepada Allāh tetap abadi. Tidak habis waktunya, tidak berakhir, bahkan ia terus berlaku bagi orang-orang mukmin di dunia maupun di akhirat.

Allāh juga memerintahkan untuk berdzikir setiap kali selesai shalat.

فَإِذَا قَضَيۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡۚ

“Jika kalian telah selesai shalat maka bacalah dzikir kepada Allāh baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring.”

(QS. An-Nissā: 103)

Bacaan setelah shalat yang sudah sangat kita kenal itu lebih ditekankan lagi dibaca pada hari-hari Tasyriq.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan di antara bentuk kecerdasan seorang hamba adalah dia senantiasa bersyukur dan berdzikir kepada Allāh atas nikmat dan anugerah yang telah Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepadanya.

Terjemah

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsunya dan ia beramal untuk kepentingan setelah mati”

Mumpung Allāh masih menganugerahkan kesehatan kepada kita, kita gunakan nikmat sehat itu untuk banyak-banyak berdzikir kepada Allāh.

Disebutkan dalam beberapa untaian syair, satu nasehat untuk kita semua dan ini sebagai penutup juga (untuk pertemuan hari ini)

Dikatakan:

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها ~ فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم
وداوم عليها بشكر الإله ~ فشكر الإله يزيل النقم

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها

Apa bila engkau merasakan satu kenikmatan, maka jagalah, peliharalah, lestarikanlah, kenikmatan itu

فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم

Karena sesungguhnya maksiat itu menghilangkan kenikmatan tersebut.

Ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan kepada kita kesehatan. Jatah makan, jatah minum, anak, istri, sandang, papan, pangan, maka hendaknya kita menjaga kenikmatan itu agar tidak tidak hilang.

Dengan cara apa?

Menjauhi maksiat, karena maksiat akan menghilangkan nikmat.

وداوم عليها بشكر الإله

Dan abadikan kenikmatan itu dengan bersyukur kepada Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”

(QS. Ibrahim: 7)

فشكر الإله يزيل النقم

Karena bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghilangkan hukuman-hukuman

Menghilangkan apa?

Pidana-pidana yang barangkali Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada orang-orang yang tidak mau bersyukur.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu ta’āla a’lam.


Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Rabu, 26 Dzulqa’dah 1442 H/07 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 03: Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah

〰〰〰〰〰〰〰

SEBAB-SEBAB MENDAPATKAN PEMBEBASAN DAN AMPUNAN PADA HARI ARAFAH

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين وأفضل الصلاة وأتم التسليم على
نبينا هذا الآمين المبعوث في رحمة للعالمين و على آله و أصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada kesempatan kali ini kita akan bersama mendengarkan paparan tentang :

▪︎ Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah

Ketika kita memaparkan pada pertemuan yang lalu bahwa sebagian ulama. Sebagian ulama ulul Islām menyatakan bahwa hari Arafah merupakan hari yang paling utama.

Maka di dalamnya kita teramat sangat dianjurkan sekali untuk memperbanyak ibadah, untuk memperbanyak berdoa dan berdzikir di hari tersebut (sebanyak-banyaknya).

ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا

“Ingatlah kepada Allāh, dengan mengingat nama-Nya sebanyak-banyaknya.”

(QS. Al-Ahzāb: 41)

Dan di hari tersebut sebagaimana sudah kita bacakan dalīlnya, di hari itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla paling banyak membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka.

Tidak ada hari lain yang melebihi banyaknya pembebasan dari neraka (dari sisi jumlah hamba-hamba Allāh yang dibebaskan).

Kalau di hari lain Allāh memberikan ampunan, maka di hari Arafah Allāh lebih banyak lagi memberikan ampunan dan Allāh lebih banyak lagi membebaskan manusia dari neraka.

Maka pada kesempatan kali ini kita akan sampaikan sebab atau sarana yang bisa menjadikan kita mendapatkan pembebasan dan ampunan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla di hari Arafah.

Barangsiapa berantusias tinggi meraih pembebasan dan perlindungan dari api neraka serta pengampunan dosa-dosanya pada hari Arafah hendaknya ia menjaga sebab-sebab dan meraih pembebasan serta ampunan. Tidak cukup seseorang bercita-cita untuk mendapatkan ampunan, tidak cukup seseorang bercita-cita untuk dibebaskan dari neraka kalau dia tidak menempuh sebab-sebabnya.

Kata pepatah disebutkan:

ترجو النجاة و لم تسلك مسالكها إن السفينة لَا تجرى على اليبس

“Engkau mengharapkan keselamatan, namun engkau tidak menempuh jalan-jalan yang bisa mengantarkan engkau kepada keselamatan. Karena sesungguhnya perahu dan kapal, sampan dan kano tidak akan mampu berjalan atau berlayar di atas daratan yang kering kerontang.”

Maka keinginan kita untuk diampuni oleh Allāh, terbebas dari neraka Allāh harus disertai usaha:

⑴ Berpuasa pada hari Arafah bagi orang-orang yang tidak berhaji.

Sebagaimana disebutkan dalam shahīh Muslim dari Abu Qatadah radhiyallāhu ‘anhu, dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

صِيَامُ يَومِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ علَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتي بَعْدَهُ

“Puasa yang dilakukan pada hari Arafah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah setiap tahunnya. Aku harapkan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, untuk menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu dan dosa satu tahun yang akan datang.”

(Hadits riwayat Muslim no. 1162)

Adapun dosa-dosa yang diampunkan di sini adalah dosa-dosa kecil, adapun dosa yang besar tidak akan terhapus dan dia hanya bisa terhapus dengan taubatan nasuha.

Beristighfar kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla kemudian berjanji tidak akan mengulangi dan meninggalkan sebab-sebab yang bisa mengantarkan dia kepada perbuatan dosa besar tersebut.

Para ulama mengatakan:

لَا صَغائر مع الإستمرار و ما كبائر مَعَ اِسْتِغْفَارٍ

“Tidak ada dosa-dosa kecil jika dosa itu dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar ketika dia diikuti dengan taubatan nasuha.”

⑵ Menjaga…
[16:16, 7/7/2021] +62 821-3371-5314: بِسْــــــــــــــــــمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

🔰 EVALUASI HARIAN TELAH DIBUKA

Sahabat Bimbingan Islām, rahimaniy wa rahimakumullāh, yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Silahkan mengikuti Evaluasi Harian WAG BiAS via telegram…

📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 #Halaqah 03:
( Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah)

Jumlah Soal : 2 buah
Link : https://t.me/QuisWAGBIAS

Baarokallahu fiikum…

🖋️

BIAS CENTER
[16:16, 7/7/2021] +62 821-3371-5314: ▪️▪️▪️▪️▪️
[09:32, 7/8/2021] +62 821-3371-5314: 🌍 BimbinganIslam.com
📆 Kamis, 27 Dzulqa’dah 1442 H/08 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 04: Hari Tasyriq dan Dzikir- Dzikir yang Dianjurkan

〰〰〰〰〰〰〰

🏦 Yuk, Dukung Program Dakwah Islam melalui :

| Bank Syariah Indonesia (ex. BSM)
| Kode Bank (451)
| Nomor Rekening : 78.14.5000.17
| a.n CINTA SEDEKAH (INFAQ)
| Konfirmasi klik cintasedekah.org/donasi
[09:32, 7/8/2021] +62 821-3371-5314: 🌍 BimbinganIslam.com
📆 Kamis, 27 Dzulqa’dah 1442 H/08 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 04: Hari Tasyriq dan Dzikir- Dzikir yang Dianjurkan

〰〰〰〰〰〰〰

HARI TASYRIQ DAN DZIKIR-DZIKIR YANG DIANJURKAN

بسم الله الرحمن الرحيم
الـحـمـد لله رب الـعـالـمـيـن و الـصـلاة و الـسـلام عـلـى أشـرف الأنـبـيـاء و الـمـرسـلـيـن وعلى آله وأصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulillāh kita dipertemukan kembali pada kesempatan kali ini, dan kita akan bersama-sama mempelajari tentang:

▪︎ Hari Tasyriq serta Doa dan Dzikir

Doa dan dzikir apa saja yang bisa kita lakukan, kita baca, bisa kita amalkan, bisa kita dawwamkan dan rutinkan pada hari-hari tersebut.

⑴ Hari Tasyriq (أَيَّامُ اَلتَّشْرِيقِ)

Imamu Muslim telah meriwayatkan di dalam shahīhnya dari hadīts Nubaisyah al-Hudzali bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

أَيَّامُ مِنَى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ, وَذِكْرٍ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Hari-hari Mina adalah hari-hari makan, minum dan berdzikir kepada Allāh Azza wa Jalla.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1141)

Hari-hari Mina di sini maksudnya adalah hari-hari tasyriq yaitu hari-hari yang jatuh setelah selesai hari penyembelihan (Idul Adha) yaitu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah setiap tahunnya.

Diriwayatkan oleh para penulis kitab As-Sunnan dan Al-Musnad dari jalan yang banyak. Dari Nabi dan dalam sebagian jalannya disebutkan:

أن النبي صلى الله عليه وسلم مبعث في ايام منى مندينا مندي لَا تصوم هذه الايام فان ايام اكل وشرب وذكر لله عز وجل

Bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengutus di hari-hari Mina yaitu di hari Tasyriq, Nabi mengutus seorang penyeru yang berseru dan berteriak, “Janganlah kalian berpuasa di hari-hari ini (hari Mina atau hari-hari Tasyriq) karena ia merupakan hari-hari untuk makan, minum (berhari raya, bersuka-cita) dan hari untuk berdzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.

Hari-hari Mina atau hari-hari Tasyriq yang telah ditentukan jumlahnya sebagaimana difirmankan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْدُودَٰتٍۢ

“Dan berdzikirlah kalian dengan mengingat dan menyebut asma Allāh pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Yaitu jumlahnya tiga hari setelah hari penyembelihan sebagaimana tadi kita sampaikan.

Kemudian dari hari-hari Tasyriq yang tiga itu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah yang paling utama di antara ketiga hari tersebut adalah hari yang pertama yaitu tanggal 11 Dzulhijjah, biasa di sebut dengan hari Al-Qarr (القر) atau hari untuk menetap.

Kenapa dinamakan Al-Qarr (القر) ?

Karena orang yang berada di Mina (orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji) menetap di sana dan tidak boleh keluar dari sana. Sehingga tanggal 11 Dzulhijjah, orang-orang yang melaksanakan ibadah haji menetap di Mina.

Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam surat Al Baqarah 203.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوۡمَيۡنِ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِۖ

“Dan barangsiapa mempercepat untuk meninggalkan Mina setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Adapun meninggalkan Mina di hari yang pertama yaitu hari ke-11 maka tidak boleh, maka disebut sebagai hari Al-Qarr (القر) Sehingga jama’ah haji tidak boleh keluar dari Mina.

Adapun yang keluar setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya dan barangsiapa mengakhirkan keberangkatannya maka tidak ada dosa pula baginya.

Itu adalah sekelumit tentang hari-hari Tasyriq.

⑵ Doa dan Dzikir

Macam-macam dzikir yang sangat dianjurkan untuk dibaca dan di amalkan pada hari-hari Tasyriq. Karena Allāh telah memerintahkan agar kita memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut sebagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

أإنها أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Hari Tasyriq adalah hari untuk makan, minum dan berdzikir kepada Allāh.”

(HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i)

Dzikir seperti apa yang disyariatkan?

① Bertakbir

Banyak di antaranya yang pertama adalah dzikir kepada Allāh setelah shalat fardhu, dengan membaca dzikir setelah shalat kemudian boleh juga bertakbir.

Sebagian ulama mengatakan ini adalah takbir khusus setelah seseorang selesai melakukan shalat jama’ah lima waktu.

اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ….. لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ….. اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Atau bacaan takbir yang lainnya.

Tetapi sebagian ulama kita mengatakan bahwa tidak ada keterangan untuk bertakbir secara khusus setelah shalat.

Tapi takbir itu setelah shalat, ketika kita di pasar, ketika kita di jalan, ketika kita di tempat kerja, ketika kita naik kendaraan. Sangat dianjurkan sekali untuk bertakbir.

② Dzikir kepada Allāh dengan membaca tasmiyah yaitu membaca bismillāh dan takbir (الله اكبر)

بسم الله الله اكبر

Kapan itu?

Saat menyembelih, karena hari-hari Tasyriq merupakan hari-hari diperbolehkan bagi kita untuk menyembelih, yang tidak bisa menyembelih di hari Idul Adha bisa menyembelih di hari taysriq.

Sesaat sebelum menyembelih dia membaca بسم الله الله اكبر sebagaimana disebutkan dalam satu hadīts,

ضَحَّى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih dua ekor domba dan beliau meletakkan kaki beliau di samping badan si domba dan beliau membaca tasmiyah dan bertakbir (بسم الله الله اكبر).”

(HR. Bukhari dan Muslim)

③ Dzikir kepada Allāh saat makan dan minum, karena tadi dikatakan hari Tasyriq adalah hari makan dan minum, sebelum makan membaca bismillāh dan setelah makan membaca alhamdulillāh.

Jika tidak sebagaimana disebutkan dalam kitab Adabul Mufrad, ada satu riwayat hadīts dari Nabi menerangkan orang yang makan kemudian dia tidak membaca bismillāh tidak membaca tasmiyah maka syaithan akan ikut makan dengannya.

Dan jika dia membaca tasmiyah maka syaithan akan berkhutbah kepada teman-temannya لَا أَسْأَلكُمْ tidak ada jatah makan bagi kalian. Karena si fulan sebelum makan dia membaca tasmiyah.

Itu di antara dzikir yang bisa kita lakukan.

Kemudian dalam hadīts yang lain, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ

‘Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar ridha, Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar senang dan suka terhadap hamba jika dia makan kemudian dia memuji Allāh atas nikmat tersebut (setelah makan dia mengucapkan Alhamdulillāh memuji Allāh).

وَيَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Dan si hamba tadi minum kemudian memuji Allāh atas nikmat berupa minuman tersebut.”

(Hadīts riwayat Muslim Nomor 2734)

Jadi sebelum makan membaca bismillāh setelah makan dan minum membaca alhamdulillāh.

⑷ Dzikir kepada Allāh dengan bertakbir pada saat melempar jumrah di hari-hari Tasyriq yang ini berlaku khusus untuk orang-orang yang menunaikan ibadah haji.

Dalam perintah berdzikir pada saat selesai ibadah haji terdapat satu makna khusus yaitu bahwa ibadah-ibadah itu bisa habis waktunya dan berakhir, sedangkan dzikir kepada Allāh tetap abadi. Tidak habis waktunya, tidak berakhir, bahkan ia terus berlaku bagi orang-orang mukmin di dunia maupun di akhirat.

Allāh juga memerintahkan untuk berdzikir setiap kali selesai shalat.

فَإِذَا قَضَيۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡۚ

“Jika kalian telah selesai shalat maka bacalah dzikir kepada Allāh baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring.”

(QS. An-Nissā: 103)

Bacaan setelah shalat yang sudah sangat kita kenal itu lebih ditekankan lagi dibaca pada hari-hari Tasyriq.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan di antara bentuk kecerdasan seorang hamba adalah dia senantiasa bersyukur dan berdzikir kepada Allāh atas nikmat dan anugerah yang telah Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepadanya.

Terjemah

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsunya dan ia beramal untuk kepentingan setelah mati”

Mumpung Allāh masih menganugerahkan kesehatan kepada kita, kita gunakan nikmat sehat itu untuk banyak-banyak berdzikir kepada Allāh.

Disebutkan dalam beberapa untaian syair, satu nasehat untuk kita semua dan ini sebagai penutup juga (untuk pertemuan hari ini)

Dikatakan:

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها ~ فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم
وداوم عليها بشكر الإله ~ فشكر الإله يزيل النقم

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها

Apa bila engkau merasakan satu kenikmatan, maka jagalah, peliharalah, lestarikanlah, kenikmatan itu

فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم

Karena sesungguhnya maksiat itu menghilangkan kenikmatan tersebut.

Ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan kepada kita kesehatan. Jatah makan, jatah minum, anak, istri, sandang, papan, pangan, maka hendaknya kita menjaga kenikmatan itu agar tidak tidak hilang.

Dengan cara apa?

Menjauhi maksiat, karena maksiat akan menghilangkan nikmat.

وداوم عليها بشكر الإله

Dan abadikan kenikmatan itu dengan bersyukur kepada Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”

(QS. Ibrahim: 7)

فشكر الإله يزيل النقم

Karena bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghilangkan hukuman-hukuman

Menghilangkan apa?

Pidana-pidana yang barangkali Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada orang-orang yang tidak mau bersyukur.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu ta’āla a’lam.


Hari Raya Umat Islām

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Selasa, 25 Dzulqa’dah 1442 H/06 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 02: Hari Raya Umat Islām

〰〰〰〰〰〰〰

HARI-HARI RAYA UMAT ISLĀM

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين وأفضل الصلاة وأتم التسليم على
نبينا هذا الآمين المبعوث رحمة للعالمين و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada kesempatan kali ini kita akan bersama mendengarkan paparan tentang :

▪︎ Hari-Hari Raya Umat Islām

Ketika Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tiba di Madīnah yaitu pada peristiwa hijrah. Orang-orang Madīnah memiliki dua hari di mana mereka biasa bermain-main pada kedua hari tersebut, yaitu mereka memiliki hari raya.

Maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَانِ خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Sesungguhnya Allāh telah mengganti untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari daripada hari raya kalian sebelum ini yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha.”

(Hadīts riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nassā’i)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengganti untuk umat ini dari dua hari bermain-main dan bersenda-gurau menjadi dua hari raya yang berisi dzikir, syukur, ampunan dan pemberian maaf.

Di dalam kitab Al-Bida’ wa Al-Akhtha’ Tata’ alaqu Bil Ayyam Was Syuhur disebutkan bahwa pada hari raya kita diperbolehkan untuk saling berkunjung satu sama lain, menyambung silaturahim, kemudian memakan makanan yang lezat yang mungkin tidak biasa kita makan, menghidangkan minuman yang istimewa, kemudian saling memberikan hadiah, memberikan hadiah pula kepada anak-anak dengan hadiah yang mereka sukai.

Di samping tentunya pada dua hari tersebut, yang lebih utama kita memperbanyak dzikir, syukur, istighfar serta memaafkan orang lain.

Di samping dua hari raya tersebut, ada hari raya yang berulang pada setiap pekannya, dan ini yang menyebabkan kesempurnaan shalat-shalat wajib. Dan di dalam aktifitas menghadiri shalat Jum’at terdapat kemiripan dengan ibadah haji.

Hari raya yang terulang setiap pekannya adalah hari raya hari Jum’at. Adapun dua hari raya yang lain tidak berulang pada setiap tahunnya. Dia hanya terjadi satu tahun sekali, Idul Fithri sekali kemudian Idul Adha sekali.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ketika hari raya penyembelihan atau Idul Adha, merupakan hari raya yang paling besar dan paling utama di antara kedua hari raya tersebut.

Kenapa demikian?

Karena di Idul Adha terkumpul padanya keutamaan tempat dan keutamaan waktu, bagi orang yang menunaikan ibadah haji. Mereka memiliki hari-hari raya lain sebelum dan sesudahnya yaitu hari Arafah sebelum Idul Adha kemudian hari-hari Tasyrik setelah Idul Adha.

Jadi bagi orang yang menunaikan ibadah haji sebelum tibanya hari raya Idul Adha, mereka memiliki hari raya yang lain yaitu hari Arafah kemudian setelah Idul Adha mereka memiliki hari Tasyrik.

Sebagaimana disebutkan dalam hadīts ‘Utbah bin Amir dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ يَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Arafah, hari penyembelihan dan hari-hari tasyrik merupakan hari raya kita orang Islām dan ia merupakan hari untuk makan dan minum.”

(Hadīts ini diriwayat oleh para penulis kitab As-Sunnan dan dishahīh oleh Imam At-Tirmidzi rahimahullāhu ta’āla)

Maka dari itu tidak disyari’atkan bagi orang yang menunaikan ibadah haji untuk berpuasa di hari Arafah. Puasa Arafah disyariatkan bagi umat Islām yang tidak (sedang) menunaikan ibadah haji.

Diriwayatkan dari beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

أنه صلى الله عليه وسلم ما نهى يوم عرفة بعرفة

“Bahwasanya beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang puasa pada hari Arafah di Arafah.”

Melarang puasa pada hari Arafah di Arafah. Adapun bagi orang yang tidak menunaikan ìbadah haji disunnahkan untuk melakukan puasa Arafah.

Beberapa keutamaan hari Arafah:

⑴ Hari Arafah merupakan hari disempurnakannya agama dan nikmat.

⑵ Diriwayatkan bahwa hari Arafah merupakan hari yang paling utama.

Ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban di dalam shahīhnya yang bersumber dari hadīts Jabīr radhiyallāhu ta’ala ‘anhu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau mengatakan:

أفضل الأيام يوم عرفة

“Hari yang paling utama adalah hari Arafah”

Namun sebagian ulama (yang lainnya) menyatakan bahwa hari yang paling utama adalah hari penyembelihan yaitu pada tanggal 10 Dzulhijjah. Dan hari Arafah merupakan hari haji akbar menurut sekelompok ulama Salaf di antaranya adalah Umar radhiyallāhu ‘anhu dan yang lainnya.

Namun ini ditentang oleh sekelompok ulama Salaf yang lain, dan mereka mengatakan, “Haji akbar adalah hari penyembelihan” yaitu tanggal 10 Dzulhijjah pada saat hari raya Idul Adha.

⑶ Berpuasa pada hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun.

Kenapa koq puasa Asyura hanya menghapuskan dosa satu tahun, sedangkan puasa di hari Arafah bisa menghapuskan dosa dua tahun (yang telah berlalu dan yang akan datang)?

Di antara jawabannya adalah Asyura itu adalah harinya Musa sedangkan Arafah adalah harinya Nabi besar Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah افضل الأنبياء و رسول (Nabi dan Rasul yang paling utama dibandingkan nabi dan rasul yang lainnya). Maka hari Arafah memiliki keutamaan yang besar.

Bagi orang yang tidak berhaji disunnahkan berpuasa di hari Arafah.

Puasa hari Arafah akan mendapatkan pengampunan dosa setahun sebelumnya dan setahun yang akan datang.

⑷ Hari Arafah merupakan hari pengampunan dan pemaafan dosa-dosa, pembebasan dari api neraka dan hari dibanggakannya orang-orang yang sedang melakukan wuquf di padang Arafah.

Jadi Allāh Subhānahu wa Ta’āla membanggakan kaum muslimin yang berhaji dan berkumpul di Arafah pada hari tersebut, sebagaimana disebutkan di dalam shahīh Muslim dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

“Tidak ada satu hari di mana Allāh Subhānahu wa Ta’āla lebih banyak membebaskan hamba dari neraka dibandingkan hari Arafah. Sesungguhnya Allāh benar-benar mendekat, kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla membanggakan hamba-Nya di hadapan para malaikat. Kemudian Allāh berfirman, ‘Apa yang diinginkan oleh mereka?’.”

(Hadīts shahīh riwayat Imam Muslim nomor 3354)

Itu adalah beberapa paparan tentang hari raya umat Islām dan beberapa keutamaan hari Arafah.

Semoga bermanfaat.
Wallāhu ta’āla a’lam bishawab.


KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Senin, 24 Dzulqa’dah 1442 H/05 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 01: Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

〰〰〰〰〰〰〰

KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين وأفضل الصلاة وأتم التسليم على
نبينا هذا الآمين المبعوث في رحمة للعالمين و على آله و أصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ahlan wa Sahlan, kepada antum dan antunna semua.

In syā Allāh pada kesempatan kali ini kita akan sama-sama mempelajari beberapa hal yang berkaitan dengan keutamaan bulan Dzulhijjah dan apa saja yang berkaitan dengannya, demikian pula ibadah qurban.

▪︎ Keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Imam Al-Bukhāri meriwayatkan hadīts dari Ibnu Abbās dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ

“Tidaklah ada hari-hari

الْعَمَلُ الصَّالِحُ فيها

Di mana amal shalih di dalamnya

أَحَبُّ إِلَى اللَّه

Lebih dicintai oleh Allāh

مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ

Dibandingkan dari hari-hari ini

يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ

Yaitu hari-hari pertama di bulan Dzulhijjah.”

“Tidak ada amal shalih yang lebih dicintai oleh Allāh daripada amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

قال:

Para sahabat bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟

“Wahai Rasūlullāh, amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah itu lebih dicintai oleh Allāh daripada jihad fīsabilillāh?”

قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Nabi mengatakan, “Meskipun jihad fīsabilillāh, tidak bisa menandingi amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah

إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ

Kecuali seorang laki-laki yang dia keluar berjihad dengan membawa jiwanya dan hartanya

فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Dan dia tidak kembali dengan membawa jiwa dan hartanya”

Maknanya dia berjihad kemudian meninggal dunia (mati syahid) fīsabilillāh.

Maknanya adalah amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah itu adalah amalan yang tidak bisa ditandingi dengan amal lain yang dilakukan di luar sepuluh hari tersebut.

Kecuali ditandingi dengan orang yang berjihad fīsabilillāh dengan harta dan jiwanya kemudian dia (mati syahid) fīsabilillāh.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian di dalam hadīts yang lain Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَفضل مِنْ أَيَّامَ الْعَشْرِ.

“Tidaklah ada hari-hari الْعَمَلُ الصَّالِحُ فيها di mana amal shalih di dalamnya افضل من ايام العشر lebih utama di bandingkan, apa? Amal yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah”.

Bulan Dzulhijjah lebih utama dan lebih dicintai oleh Allāh di sepuluh hari pertamanya, dibandingkan amal-amal yang dilakukan pada hari-hari yang lain dalam setahun.

Maka amal pada waktu tersebut (sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah) walaupun pada asalnya tidak utama menjadi lebih utama, daripada amal yang dilakukan pada waktu-waktu yang lainnya.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di dalam hadīts yang tadi kita baca, baru keutamaan amal shalih di bulan Dzulhijjah, di sepuluh hari pertamanya itu bisa ditandingi tatkala seorang berjihad dengan jiwa dan hartanya dan dia tidak kembali.

Ini dikuatkan pula oleh sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tatkala beliau ditanya. “Apakah jihad yang paling utama?”

Beliau menjawab:

مَنْ عُقِرَ جَوادُه، وأُرِيقَ دَمُه

“Seorang mujahid yang kudanya disembelih oleh musuh dan darah mujahid tersebut ditumpahkan sehingga dia gugur (mati syahid fīsabilillāh).”

Ada beberapa amal shalih yang bisa kita lakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, di samping amal-amal yang umum di sana ada beberapa amal-amalan khusus:

⑴ Puasa

Disebutkan di dalam Musnad dan Sunnan dari Hafshah radhiyallāhu ‘anhā.

إن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يدع صيام عاشوراء، والعشر، وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

“Adalah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak meninggalkan puasa di hari Asyura yaitu di bulan Muharram, dan puasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan puasa tiga hari di setiap bulannya.”

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di dalam riwayat yang lain, diriwayatkan dari salah seorang istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, disebutkan di sana:

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يدع صيام تسع ذي الحجة

“Bahwasanya Nabi tidak pernah meninggalkan puasa sembilan hari pertama di bulan Dzulhijjah.”

Kenapa koq sembilan?

Karena tanggal sepuluh adalah hari raya Idul Adha dan para ulama kita ijma’ (sepakat) haram melakukan puasa di hari raya.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Namun puasa sembilan hari di bulan Dzulhijjah yang pertama, itu diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian mengatakan boleh, sebagian mengatakan yang disyari’atkan hanya puasa di tanggal 09 Dzulhijjah saja yang disebut dengan puasa Arafah.

Puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah sebelum Idul Adha, karena apa?

Karena di sana ada riwayat lain dari ‘Aisyah yang menyebutkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak berpuasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah kecuali puasa Arafah bagi orang-orang yang tidak melaksanakan ibadah haji dan hukumnya sunnah.

Namun diriwayat yang lain, dari istri-istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang lain, menyebutkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam melakukan puasa تسع (puasa sembilan) di bulan Dzulhijjah.

Para syurah (para pensyarah) Sunnan Abī Dawud mereka memberikan alasan lain yang dimaksud dengan تسع (puasa sembilan) adalah bukan berpuasa sembilan hari, tetapi berpuasa di tanggal 9 bulan Dzulhijjah yang disebut dengan puasa Arafah.

Syaikh Masyhur Hasan Ali Salman menyatakan, “Ini adalah masalah khilafiyyah العمر وَسِعَ (perkaranya luas), silahkan bagi yang ingin berpuasa sembilan hari, dan silahkan pula yang hanya ingin puasa di tanggal 9 Dzulhijjah”.

Syaikh Abdul Azīz bin Abdillah bin Baz menyatakan, “Salah satu bentuk penggabungan dua riwayat adalah bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, ‘Sesekali beliau berpuasa sembilan hari dan sesekali beliau tidak melakukan puasa sebanyak sembilan hari’ “.

Ketika beliau melakukan puasa sembilan diketahui oleh sebagian istri beliau, kemudian istri beliau meriwayatkannya. Ketika beliau tidak sedang puasa diketahui oleh sebagian istri beliau dan sebagian istri menyatakan beliau tidak berpuasa.

Jadi yang di fatwakan oleh Imam Abdul Azīz bin Baz yang dilakukan oleh Nabi adalah beliau sesekali puasa sembilan hari, namun sesekali beliau tidak berpuasa sembilan hari (wallāhu ta’āla a’lam bishawab).

⑵ Memperbanyak Dzikir

Yaitu ditunjukkan oleh firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْلُومَـٰتٍ

“Dan agar mereka menyebut asma-asma Allāh pada hari-hari yang telah ditentukan.”

(QS. Al-Hajj: 28)

Hari-hari yang telah ditentukan adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Menurut jumhur (mayoritas para ulama) pembahasan tersebut dibahas oleh para ulama dengan pembahasan yang panjang lebar.

Kemudian diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dari Ibnu Umar radhiyallāhu ‘anhumā dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda:

ما مِن أيَّامٍ أَعظَمَ عِندَ اللهِ ولا أَحَبَّ إلَيهِ فيهِنَّ مِن هذِه الأَيَّامِ العَشرِ فأَكثِرُوا فيهِنَّ مِنَ التَّهليلِ، والتَّكبيرِ، والتَّحميدِ.

“Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allāh

ولا أَحَبَّ إلَيهِ

Dan tidak dicintai amal di dalamnya

فيهِنَّ مِن هذِه الأَيَّامِ العَشرِ

Dibandingkan hari-hari pertama di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah

فأَكثِرُوا فيهِنَّ مِنَ التَّهليلِ، والتَّكبيرِ، والتَّحميدِ

Maka perbanyaklah oleh kalian di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah membaca kalimat tahlil (Lā ilāha illallāh لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) membaca takbir, dan membaca tahmīd.”

Di dalam kondisi biasa saja, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

لأنْ أقولَ : سُبحانَ اللهِ والحمدُ للهِ ولا إلهَ إلَّا اللهُ واللهُ أكبَرُ

“Aku membaca Subhānallāh, Walhamdulillāh, Lā ilāha illallāh, Allāhu akbar

أحَبُّ إليَّ ممَّا طلَعَتْ عليه الشَّمسُ

Lebih aku cintai daripada dunia dengan seluruh isinya.”

Itu di hari biasa, bagaimana di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah? Tentu akan lebih besar lagi pahalanya.

Dan para ulama kita mengatakan:

“Sepuluh hari yang terakhir bulan Ramadhān, malamnya lebih utama, dibandingkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, tapi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah siangnya lebih utama dibandingkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān.”

√ Siangnya lebih utama bulan Dzulhijjah.
√ Malamnya lebih utama bulan Ramadhān.

Jadi kita bisa membayangkan betapa besar keutamaan yang dimiliki oleh sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan taufik kepada kita semua untuk memperbanyak amal shalih di dalamnya.

Semoga bermanfaat.
Wallāhu ta’āla a’lam bishawab

〰〰〰〰〰〰〰

〰〰〰〰〰〰〰

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH

10 WASIAT PERLINDUNGAN DIRI DARI WABAH

بسم الله
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الخلق و سيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله واصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. اما بعد

Sahabat Bimbingan Islām rahīmani wa rahīmakumullāh.

Pada kesempatan kali ini, in syā Allāh kita akan membahas salah satu kitāb kecil yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazaq Al Badr Hafīzhahullāh Ta’āla yang berjudul “10 Wasiat Perlindungan Diri dari Wabah”.

Kitāb kecil ini beliau tulis ketika ada pendemi wabah corona yang sudah mendunia, sehingga beliau ingin mewasiatkan beberapa wasiat yang semoga wasiat ini bisa bermanfaat untuk kaum muslimin sebagai jalan untuk menjaga diri dari sisi rohani dan juga fisik.

Wasiat yang beliau sampaikan adalah:

• Wasiat Pertama | Berdo’a sebelum terjangkiti wabah

Wasiat ini beliau sebutkan berdasarkan sebuah hadīts dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau mengatakan:

“Barangsiapa membaca do’a ini tiga kali di waktu sore, maka dia akan dijaga ia tidak akan terkena musibah yang datang tiba-tiba sampai masuk waktu pagi. Dan apabila dia membaca do’a ini tiga kali di waktu pagi maka dia tidak akan terkena musibah yang datang tiba-tiba sampai masuk waktu sore.”

Do’anya adalah:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dengan menyebut nama Allāh yang bila disebut nama-Nya, tidak akan ada sesuatu apapun di bumi dan di langit yang dapat membahayakan, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar Maha Mengetahui.”

(Hadīts shahīh riwayat Abū Dāwūd nomor 5088)

Dahulu, salah seorang tābi’in yaitu Abān bin Utsman, beliau adalah anak dari khalifah ke-3 (Utsman bin Affan radhiyallāhu ‘anhu), meriwayatkan hadīts ini dari ayahnya Utsman bin Affan dan Utsman bin Affan meriwayatkan hadīts ini dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Setahun sebelum beliau (Abān bin Utsman) meninggal dunia, beliau menderita penyakit Hemiplegia atau lumpuh di sebagian badannya.

Hemiplegia bisa lumpuh sebagian anggota geraknya, bisa tangannya, bisa kakinya bahkan bisa lumpuh sebagian wajahnya, yang mana hal ini membuat seseorang tidak bisa berdiri (kurang keseimbangan) dan bisa mengakibatkan seseorang buta.

Salah seorang, mungkin orang-orang di sekitar Abān bin Utsman, melihat Abān bin Utsman seakan-akan mengatakan:

“Ini ada seorang tābi’in yang meriwayatkan hadīts dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwa kalau dia membaca do’a ini 3 kali di waktu pagi tidak akan terbahayakan sampai masuk waktu sore, dan jika membaca di waktu sore sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa bala yang datang secara tiba-tiba di waktu pagi, tapi kenapa beliau tiba-tiba sakit terkena penyakit ini (Hemiplegia).”

Seakan-akan orang tersebut mengatakan hal ini.

Maka Abān bin Utsman mengatakan, “Demi Allāh, saya tidak berbohong atas nama ayah saya. Ayah saya pun tidak berbohong atas nama Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

Abān bin Utsman mengatakan:

“Hadīts ini adalah benar, hanya saja hari ini saya tertimpa musibah ini, karena saya lupa tidak membaca do’a ini.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Saat itu beliau marah, sehingga lupa dengan do’a ini.”

Dan hal itu ditakdirkan oleh Allāh agar Allāh bisa menjalankan ketetapan-Nya, sehingga saya sakit seperti ini.

Sehingga, sahabat Bimbingan Islām rahīmani wa rahīmakumullāh, merupakan satu hal yang sangat penting untuk kita ingat dan perhatikan bersama bahwasanya do’a ini sangat penting sekali dan jangan sampai lupa membaca do’a ini tiga kali di waktu pagi dan sore hari.

• Wasiat Kedua | Memperbanyak do’a nabi Yunus alayhissalām

Allāh Ta’āla menyebutkan kisah nabi Yunus ini di dalam surat Al-Anbiyyā ayat 87 sampai 88. Dimana ketika Nabi Yunus alayhissalām berada di dalam perut ikan paus, di tengah kegelapan malam, di tengah kegelapan samudera, di tengah kegelapan perut ikan yang tidak akan ada yang bisa menyelamatkan beliau. Nabi Yunus berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan do’a yang ringkas tetapi sangat bermakna:

لَّاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنتَ سُبۡحَـٰنَكَ إِنِّی كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ

“Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zhālim.” (QS Al-Anbiyyā:87)

Dengan do’a ini beliau diselamatkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dan di akhir ayat Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَكَذَٰلِكَ نُـۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS Al-Anbiyyā’ :88)

Terkait tafsir ayat وَكَذَٰلِكَ نُـۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman”.

Al-Hafizh Ibnu Katsīr mengatakan maksud dari ayat ini adalah:

“Ketika orang-orang yang beriman tertimpa musibah mereka berdo’a dengan do’a ini seraya inabah, kembali bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla atas segala kekurangannya.”

Ibnu Katsīr rahimahullāh mengatakan do’a ini semakin kuat efeknya ketika musibah telah datang menghampirinya.

Dalam sebuah hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan, “Tidaklah seorang muslim berdo’a dengan do’a ini dalam suatu hajat melainkan Allāh pasti akan mengubahnya”.”

(Hadīts riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzī)

Ibnul Qayyim rahimahullāh ketika menjelaskan rahasia do’a ini beliau mengatakan:

“Tidak ada yang melebihi tauhīd dalam menolak berbagai kesulitan dunia, atas dasar inilah do’a untuk menghilangkan kesusahan sering kali menggunakan tauhīd”.

Misalnya Do’a nabi Yunus, dalam kebuntuan beliau dibukakan jalan oleh Allāh sebab do’a tersebut, dimana do’a tersebut berisi tauhīd. Kesyirikanlah yang menjerumuskan seseorang ke dalam kesusahan dan tauhīd lah yang menyelamatkan mereka dari kesusahan tersebut.

Sehingga tauhīd merupakan amalan yang digunakan oleh seorang hamba untuk berlindung, bernaung, bertameng dan memohon pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kalimat tauhīd dari do’a nabi Yunus:

لَّاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنتَ

“Tidak ada ilāh yang berhak untuk disembah kecuali Engkau.” Itu kalimat tauhīd nya.

Jadi kita memperbanyak do’a ini:

لَّاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنتَ سُبۡحَـٰنَكَ إِنِّی كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ

• Wasiat Ketiga | Memperbanyak do’a berlindung dari cobaan yang berat

Do’a nya:

اللهمَّ إنِّي أعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

“Yā Allāh, Aku berlindung kepada-MU dari cobaan yang berat, kesengsaraan yang sangat, takdir yang buruk dan kegembiraan musuh.”

(Hadīts riwayat Al-Bukhāri dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu)

Abū Hurairah mengatakan bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dahulu sering berlindung kepada Allāh dari cobaan yang berat, kesengsaraan yang sangat, takdir yang buruk dan kegembiraan musuh.

Dalam riwayat lain :

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda :

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ

“Berlindunglah kalian kepada Allāh dari bala yang berat, sebab-sebab kesengsaraan, takdir yang buruk dan kegembiraan musuh.”

(Hadīts shahīh riwayat Al-Bukhāri nomor 6616)

• Wasiat Keempat | Senantiasa membaca do’a keluar rumah

Do’a nya :

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

“Dengan menyebut nama Allāh, aku bertawakal hanya kepada Allāh, tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allāh semata.”

Apabila seseorang membaca do’a ini maka akan dikatakan kepadanya,”Engkau telah mendapatkan petunjuk, diberikan kecukupan dan penjagaan.” Syaitan-syaithan pun menjauhinya. Syaithan yang lain berkata kepada mereka,”Bagaimana bisa engkau menyesatkan orang yang telah mendapatkan petunjuk, kecukupan dan penjagaan?”

(Hadīts shahīh riwayat Abū Dāwūd)

• Wasiat Kelima | Mohon keselamatan kepada Allāh di pagi dan sore hari

Do’anya :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Yā Allāh, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Yā Allāh, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Yā Allāh, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Yā Allāh, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku.“

Dahulu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah meninggalkan do’a ini di waktu pagi dan sore hari, sebagaimana dalam hadīts Abdullah Ibnu Umar ibnu Khaththāb radhiyallāhu ‘anhumā sebagaimana disebutkan di dalam hadīts riwayat Ahmad dan Abū Dāwūd.

• Wasiat Keenam | Memperbanyak do’a

Memperbanyak do’a, apapun, baik itu do’a untuk keselamatan diri sendiri, keselamatan keluarga, keselamatan bangsa dan negara dan siapa pun. Saudara seislam dan seiman bisa masuk dalam do’a-do’a tersebut.

Wasiat ini berdasarkan hadīts dari Ibnu Umar, ia berkata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

مَنْ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَمَا سُئِلَ اللَّهُ شَيْئًا يَعْنِي أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُسْأَلَ الْعَافِيَةَ

“Barangsiapa yang telah dibukakan baginya pintu do’a, maka ia telah dibukakan pintu rahmat. Dan tidaklah Allāh dimintai sesuatu yakni yang lebih Dia cintai daripada dimintai keselamatan.”

(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 3548)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ

“Sesungguhnya do’a dapat memberikan manfaat dari sesuatu yang telah terjadi dan dari sesuatu yang belum terjadi, maka itu wahai hamba-hamba Allāh hendaklah kalian berdo’a.”

(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 3548)

Itulah dasar Syaikh Abdurrazaq mewasiatkan kita untuk memperbanyak do’a.

• Wasiat Ketujuh | Menghindari Tempat-tempat tersebarnya wabah

Orang-orang yang berada di daerah wabah tidak boleh keluar dan orang-orang yang berada di luar daerah wabah tidak boleh masuk ke dalamnya.

Sebagaimana hadīts dari Abdullāh bin Amir radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ‘anhu pernah bepergian menuju Syām. Ketika beliau sampai di daerah Sargh datang kabar kepada beliau bahwa telah tersebar wabah tha’un di Syām.

Kemudian Abdurrahman bin Auf radhiyallāhu ‘anhu mengabarkan kepada beliau bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

“Apabila kalian mendengar ada wabah di suatu negeri maka janganlah kalian mendatanginya, dan apabila wabah tersebut berada di suatu negeri sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar untuk melarikan diri darinya.”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 5730)

Ini adalah bimbingan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam agar kita tidak mendatangi tempat wabah dan orang-orang yang berada di tempat wabah tidak keluar dari tempat atau daerah tersebut.

Hadīts yang lain, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

“Jangan kalian campurkan unta yang sakit dengan unta yang sehat.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim)

• Wasiat Kedelapan | Senantiasa berbuat kebaikan

Wasiat ini berdasarkan sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim, bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Perbuatan-perbuatan yang baik itu akan menghindarkan pelakunya dari kematian yang buruk, begitu juga bisa menghindarkan dari berbagai penyakit dan bencana.”

Ibnul Qayyim rahimahullāh berkata:

“Di antara obat paling mujarab dalam memberantas penyakit adalah dengan berbuat kebaikan, berdzikir, berdo’a, permohonan bersungguh-sungguh sepenuh hati kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan bertaubat.”

Kemudian beliau memberikan faedahnya:

Beberapa amalan ini memiliki pengaruh yang lebih besar dalam menolak berbagai penyakit dan mendatangkan kesembuhan daripada berbagai obat alami.

Namun manfaatnya atau pengaruhnya tergantung kepada kesiapan jiwa, penerimaan dan keyakinannya terhadap hal ini. (Kitāb Zadul Ma’ad)

• Wasiat Kesembilan | Mengerjakan shalāt malam

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الْجَسَدِ

“Kerjakanlah shalāt malam, karena sesungguhnya ia merupakan kebiasaan orang-orang shālih sebelum kalian. Sesungguhnya shalāt malam dapat mendekatkan diri kepada Allāh, mencegah dari perbuatan dosa, menggugurkan keburukan-keburukan dan mengusir penyakit dari tubuh manusia.”

(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 3549)

Sebagian dokter mengatakan shalāt malam itu bisa membangkitkan enzim-enzim yang bisa memperkuat imun dan daya tahan tubuh kita.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan shalāt malam bisa menolak penyakit dari tubuh manusia dan secara ilmiyyah shalāt malam bisa menguatkan sistem kekebalan tubuh manusia.

• Wasiat Kesepuluh | Menutup tempat makanan dan minuman

Ini juga merupakan wasiat yang sangat penting sekali. Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullāh mengatakan banyak ilmu kedokteran yang terlewatkan dari ilmu yang ada dalam hadīts ini.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلاَّ نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ

“Tutuplah wadah makanan dan rapatkanlah bejana minuman, karena sesungguhnya dalam setahun ada satu malam dimana wabah akan turun padanya. Tidaklah wabah itu melewati wadah makanan yang tidak ditutup dan bejana minuman yang tidak dirapatkan melainkan ia akan masuk ke dalamnya.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2014)

Maka kita perlu untuk menutup tempat makanan dan minuman kita sehingga kita bisa mengamalkan hadīts nabi ini.

Kita hidup di dunia ini tentu sudah tahu bahwa dunia adalah medan ujian kita. Dimana kita akan diuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, entah dengan kelapangan entah dengan kesusahan.

Semua itu akan menjadi kebaikan bagi seorang yang beriman. Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sudah bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2999)

Di dalam penutup ini, Syaikh Abdurrazaq mengatakan bahwa ketika musibah menimpa seseorang hendaknya seorang muslim itu bersungguh-sungguh menerimanya dengan kesabaran dan mengharapkan pahala, karena Allāh telah menjanjikan pahala yang besar bagi orang-orang yang bersabar.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”

(QS Az Zumar: 10)

Dahulu Āisyah radhiyallāhu ‘anhā pernah bertanya kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang wabah tha’un, lalu Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ

“Sesungguhnya tha’un itu dahulunya merupakan adzab yang Allāh kirim kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki. Kemudian Allāh menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Maka itu, tidaklah seorang hamba berada di suatu negeri yang tersebar padanya wabah tha’un, lalu ia tetap menetap di sana dengan penuh kesabaran, ia yakin bahwa tidak ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allāh tetapkan baginya, melainkan baginya pahala seperti orang yang mati syahid.”

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 5734)

Kalau 4 hal ini terpenuhi pada seorang muslim yaitu:

⑴ Tetap tinggal di daerah tersebut.
⑵ Bersabar.
⑶ Mengharap pahala dari Allāh.
⑷ Dia yakin dan tahu bahwa tidak akan menimpanya kecuali yang telah Allāh tetapkan maka ia akan mendapatkan pahala syahid.

Ibnu Hajar rahimahullāh menyatakan berkaitan dengan orang yang memenuhi empat syarat di atas, dia akan diberikan pahala mati syahid,

اقتضى منطوقه أن من يتصف بالصفات المذكورة يحصل له أجر الشهيد و إن لم يمت

“Sesuai dengan apa yang terucap dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang sesuai mantuqnya, siapa yang bersifat dengan sifat-sifat yang disebutkan maka dia memperoleh pahala syahid walaupun dia tidak meninggal dunia.”

Walaupun dia tidak meninggal dunia gara-gara wabah ini, jika dia memenuhi empat syarat ; tetap tinggal di daerah tersebut, bersabar, kemudian mengharap pahala dari Allāh, dia yakin dan tahu bahwa itu sudah merupakan ketetapan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tidak akan menimpanya kecuali yang telah Allāh tetapkan, maka ia akan mendapatkan pahala syahid.

Apapun yang menimpa kita, kita harus mengembalikan urusan kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan selalu memilih jalan yang terbaik untuk kita bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Kita raih pahala pada setiap apa yang menimpa diri kita, baik itu kebaikan maupun keburukan. Baik itu kelapangan atau kesempitan. Baik itu kekayaan atau kemiskinan. Semuanya akan mendatangkan kebaikan bagi seorang mukmin.

Semoga pembahasan kitāb 10 wasiat perlindungan diri dari wabah ini bermanfaat.

Wallāhu Ta’āla A’lam bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد


BimbinganIslam.com
Sya’ban 1441H / April 2020M
Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
Kajian Tematik | 10 Wasiat Perlindungan Diri Dari Wabah

Siroh Nabawiyah – Halaqah 75 – Perang Uhud bagian 3

HSI 10 – Kajian 75 – perang uhud 3

■ Siroh Nabawiyah

■ Halaqah 75 | Perang Uhud Bag 3

🌐 link audio

•┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈•

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Diantara kejadian yang terjadi sebelum perang Uhud ketika didaerah Asy Syaikhoini ada beberapa orang shahabat yang umurnya baru 14 tahun atau kurang yang menawarkan diri ingin berperang bersama Nabi & para shahabat yang lain, namun Nabi ﷺ menolak mereka semua karena dianggap belum cukup memiliki kekuatan untuk berperang kecuali dua orang, yang pertama Rafi’ bin Khodij karena beliau pandai memanah & yang kedua Samurah bin Junduq karena diketahui bahwa beliau lebih kuat daripada Rafi’.

Jumlah para shahabat muda yang ditolak oleh Nabi ﷺ saat itu mencapai 14 orang adalah diantaranya Abdullah bin Umar & ini adalah jumlah yang tidak sedikit, menunjukkan bagaimana Nabi ﷺ & para shahabat mendidik & mentarbiah anak² mereka menawarkan diri untuk meninggal dijalan Allāh padahal mereka masih muda belia tanpa ada paksaan dari seorang pun, semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan Taufiq kepada orang tua untuk bisa mendidik dengan didikan para salaf.

Bergeraklah pasukan kaum muslimin ke Uhud & masing-masing menempati posisi sesuai dengan yang direncanakan. Nabi ﷺ mengatur pasukan mereka menjadikan gunung Uhud dibelakang mereka menempatkan 50 orang pemanah yang dipimpin Abdullah bin Jubair diatas gunung ‘Ainaini gunung yang berada tepat didepan gunung Uhud, mereka ditempatkan disana untuk melindungi kaum muslimin apabila ada pasukan berkuda orang² musyrikin yang mencoba menyerang mereka dari belakang peran yang sangat penting sampai² Nabi ﷺ mengatakan kepada pasukan pemanah

إِنْ رَأَيْتُمُونَا تَخْطَفُنَا الطَّيْرُ فَلَا تَبْرَحُوا مَكَانَكُمْ هَذَا حَتَّى أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ وَإِنْ رَأَيْتُمُونَا هَزَمْنَا الْقَوْمَ وَأَوْطَأْنَاهُمْ فَلَا تَبْرَحُوا حَتَّى أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ

Apabila kalian melihat burung² mematuki kami maka janganlah kalian meninggalkan tempat kalian ini & apabila kalian melihat kami mengalahkan mereka & kami menginjak injak mereka maka janganlah kalian meninggalkan tempat kalian ini

HR Al Bukhari

Di dalam sebagian riwayat yang lemah disebutkan bahwa sebelum perang antara dua pasukan Ali bin Abi Tholib perang tanding dengan Tholhah bin Usman pemegang bendera orang-orang Musyrikin.

Ali pun berhasil membunuhnya, Hamzah ditantang oleh Siba’ bin Abdil Uzza untuk perang tanding juga & Hamzah pun berhasil membunuh nya, kemudian terjadilah perang yang dahsyat antara kaum muslimin dan orang-orang musyrikin & untuk memberikan semangat kepada kaum muslimin Nabi ﷺ mengambil pedang kemudian mengatakan

siapa yang mengambil dariku pedang ini

Maka masing-masing membuka tangannya & mengatakan

saya

Kemudian Nabi berkata

siapa yang mengambilnya dengan hak nya

Maka merekapun terdiam, kemudian berkata Abu Dujanah

saya yang akan mengambilnya dengan haknya

Maka Abu Dujanah pun mengambilnya & memecah pasukan musyrikin dengan pedang tadi

HR Muslim

Hamzah berperang saat itu dengan semangat kekuatan yang luar biasa, Wahsi (budak Zubair bin Mut’im) telah di janjikan oleh majikannya, apabila berhasil membunuh Hamzah dia akan dibebaskan, Zubair melakukan ini karena balas dendam kepada Hamzah yang telah membunuh Tuaimah bin Adi diperang Badr, Wahsi pun bersembunyi dibelakang batu besar & ketika Hamzah mendekat melempar tombak kecil nya ke arah Hamzah & membunuhnya, pada fase pertama ini juga terbunuh Muf’ad bin Umair pemegang bendera kaum muslimin (seorang dai) beliau terbunuh dalam keadaan tidak meninggalkan sesuatu apapun kecuali sehelai kain yang digunakan untuk mengkafani beliau, kain kafan yang bila digunakan untuk menutupi kepalanya terbuka kedua kakinya & kalau digunakan menutup kedua kakinya terbuka kepalanya, setelah itu Ali bin Abi Tholib (beliau lah yang memegang bendera muslimin)

Demikian yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy

Di kota Jember

Siroh Nabawiyah – Halaqah 74 – Perang Uhud Bagian 2

HSI 10 – Kajian 74 – Perang Uhud 2

■ Siroh Nabawiyah

■ Halaqah 74 | Perang Uhud Bag 2

🌐 link audio

•┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈•

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Diantara pelajaran yang bisa kita ambil dari musyawarah Nabi ﷺ dengan para shahabatnya sebelum perang Uhud

①. Seorang pemimpin hendaknya dia meminta pendapat kepada orang-orang yang dia pimpin

②. Seorang pemimpin sudah mengambil keputusan maka hendaklah dia bertawakal kepada Allāh & tidak ragu² supaya tertanam dalam diri orang² yang dia pimpin rasa percaya diri, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ..

[QS Ali ‘Imran 159]

bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan & apabila dirimu sudah berazam atau bertekad, maka bertawakallah kepada Allāh

Berkibarlah bendera perang satu bendera hitam & 3 liwa,

Liwa yang pertama adalah Liwa Muhajirin dibawa oleh Mushab bin Umair yang nantinya akan diganti oleh Ali bin Abi Thalib setelah terbunuh nya Mushab.

Liwa yang kedua adalah Liwa Al Aus yang dibawa oleh Usaib bin Khudair &

Liwa yang ketiga adalah Liwa Al-Khodroj yang dibawa oleh Al Hubab bin al Mundzir

Terkumpullah seribu orang, ada diantara mereka yang merupakan orang² munafik, kaum muslimin hanya memiliki 2 kuda & 100 orang saja yang memakai baju perang.

Rasulullãh ﷺ sendiri memakai dua baju perang untuk menunjukkan bahwa bertawakal kepada Allāh bukan berarti meninggalkan sebab.

Pasukan kaum muslimin bergerak menuju Uhud melewati bagian barat dari Al Haroh As-Syarkiyah & ketika mendekati Uhud tepatnya di daerah As-Syaikhoini

Abdullah bin Ubaid bin Salul memimpin orang-orang munafik menarik diri dari pasukan kaum muslimin bersama 300 orang munafik dengan alasan bahwa tidak akan terjadi perang.

Abdullāh bin Amr bin Harom berusaha untuk membujuk mereka untuk kembali untuk bergabung bersama kaum muslimin namun mereka tetap tidak mau.

Banu Salimah dari suku Khodroj & Banu kharitah dari suku Aus hampir terpengaruh dengan kejadian ini & pulang ke Madinah namun Allāh Subhānahu wa Ta’āla menguatkan mereka ,

Allāh berfirman

إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ

[QS Ali ‘Imran 122]

ketika dua golongan dari pihak kalian ingin mundur karena takut padahal Allāh adalah penolong mereka

Allāh menyebutkan tentang sebagian hikmah mundurnya orang² munafik sebelum perang tersebut yaitu untuk membersihkan barisan kaum muslimin sehingga tidak ada diantara mereka orang² yang kelak ketika perang justru membuat kekacauan barisan kaum muslimin & akan menurunkan semangat perang, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ

[QS Ali ‘Imran 179]

tidaklah Allāh meninggalkan orang-orang yang beriman seperti dalam keadaan kalian sekarang ini sehingga Allāh membedakan antara yang jelek dengan yang baik

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy

Di kota Jember

Siroh Nabawiyah – Halaqah 73 – Perang Uhud Bagian 1

Sirah Nabawiyah

■ Halaqah 73 | Perang Uhud Bag 1

🌐 link audio

•┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈•

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Perang ini terjadi pada tahun ke-3 Hijriyah setahun lebih satu bulan setelah perang Qubra tepatnya pertengahan bulan Syawal tahun ke-3 Hijriyah, sebab perang Uhud adalah

①. Karena Orang-orang Quraisy ingin membalas dendam atas kekalahan mereka diperang Badr, dimana tokoh² mereka yang terbunuh.

②. Untuk menyelamatkan rute perdagangan mereka ke arah Syam yang dikuasai kaum muslimin.

③. Untuk mengembalikan kehormatan & kemuliaan mereka yang sempat terkoyak setelah perang Badr.

Dinamakan perang Uhud dikarenakan perang ini terjadi di sekitar gunung Uhud sebuah gunung yang terletak 5.5 kilometer kearah Utara dari Masjid Nabawi tinggi nya kurang lebih 121 meter , disebelah Selatannya ada gunung Ainain yang dikenal setelah perang Uhud dengan nama Jabal ar Rumah yaitu Gunung para pemanah.

Antara Jabal Uhud dengan Jabal ar rumah ada lembah qonaah.

Orang-orang Quraisy sudah mempersiapkan perang ini sepulang mereka dari perang Badr, pasukan mereka mencapai kurang lebih 3000 orang, 200 pasukan berkuda , 700 orang diantaranya memakai pakaian perang lengkap, pasukan sayap kanan dipimpin oleh Kholid bin Walid & pasukan sayap kiri dipimpin oleh Ikrimah bin Abi Jahl.

Pasukan ini terdiri dari orang-orang musyrikin Quraisy, orang² Kinanah & Tuhamah yg mereka masih loyal dengan orang-orang Quraisy, mereka juga membawa wanita, ada yg mengatakan jumlahnya adalah 14 wanita diantaranya adalah Hindun istri Abu Sufyan.

Sementara itu kaum muslimin sudah mengetahui akan datangnya pasukan musyrikin, Nabi ﷺ sempat bermimpi dan mimpi para Nabi adalah wahyu. Dan beliau ﷺ mengajak para sahabatnya bermusyawarah apakah mereka tetap tinggal di kota Madinah karena kota Madinah adalah kota yang sangat kuat untuk berlindung ataukah mereka keluar untuk menyambut pasukan Quraisy diluar Madinah & Nabi ﷺ lebih cenderung pada pendapat yang pertama, namun sebagian orang² Anshor mengatakan kami tidak senang kalau kami terbunuh di jalan jalan kota Madinah, kami dahulu dijaman jahiliyah tidak mau berperang didalam kota Madinah maka didalam Islām kami lebih tidak mau oleh karena itu sambutlah pasukan tersebut diluar kota Madinah

Akhirnya mereka saling menyalahkan satu dengan yang lain seraya berkata Nabi menawarkan satu perkara, kemudian kalian menawarkan perkara yang lain pergilah kamu wahai Hamzah kepada Nabi ﷺ dan katakan kepada beliau perkara kami mengikuti perkara mu

Datanglah Hamzah kepada Nabi ﷺ dan menceritakan apa yang terjadi maka Nabi ﷺ berkata :

Sesungguhnya tidak pantas bagi seorang Nabi apabila sudah memakai baju perang kemudian melepaskannya sehingga dia selesai berperang

Demikian yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy

Di kota Jember

Siroh Nabawiyah – Halaqah 72 – Dampak Perang Badr Kubro

HSI 10 – Kajian 72 – Dampak Perang Badr Kubro

■ Siroh Nabawiyah

■ Halaqah 72 | Dampak Perang Badr Kubro

🌐 link audio

•┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈•

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Berita kekalahan orang² Quraisy & kemenangan kaum muslimin di perang Badr memiliki pengaruh yang besar terhadap Jazirah Arab baik di Mekkah, Al Madinah maupun ditempat² yang lain.

Kedudukan kaum muslimin di kota Madinah semakin nampak, orang² yahudi menjadi ciut nyali mereka & semakin terlihat kedengkian & permusuhan mereka terhadap kaum muslimin, mereka semakin marah mendengar hasil dari perang Badr yang sama sekali tidak mereka sangka, sehingga mereka pun tidak bisa menutupi kemarahan mereka yang meledak² didalam diri mereka seperti yang dilakukan oleh Bani Qoinuqo yang akhirnya ini menjadi sebab diusir nya mereka dari kota Madinah.

Diantara dampak Perang Badr, banyaknya orang yang masuk Islām meskipun ada diantara mereka yang masuk Islām karena menjaga kepentingan² mereka, seperti orang-orang munafikin yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubai bin Salud.

Orang-orang Quraisy yang berada di Mekkah hampir-hampir mereka tidak percaya dengan apa yang telah terjadi terbunuh tokoh² mereka & jagoan² mereka & mereka pun berniat untuk membalas kekalahan tadi, sempat mereka mengutus Umair bin Wahab Al Jumahi untuk membunuh Nabi ﷺ secara sembunyi, Sofwan bin Umayyah menjanjikan kepadanya kalau dia terbunuh maka keluarganya akan di tanggung.

Pergilah Umair ke kota Madinah, namun ketika Umair sampai ke Masjid Rasulullãh ﷺ, Umar bin Khotob menangkapnya & membawanya kepada Rasulullãh ﷺ, Rasulullãh ﷺ kemudian bertanya kepada Umair tentang tujuan dia datang ke kota Madinah, Umair pun berdusta & mengatakan bahwa dia datang untuk menembus tawanan, maka Nabi ﷺ mengatakan kepada Umair tentang niat dia sebenarnya yaitu untuk membunuh Nabi ﷺ & beliau juga mengabarkan tentang perjanjian antara dia dengan Sofwan, ketika mendengar ucapan Nabi ﷺ ini, maka tahu lah Umair bahwasanya beliau ﷺ adalah Nabi yang di wahyu kan kepada nya, kemudian akhirnya dia masuk Islām & meminta ijin kepada Nabi ﷺ untuk mendakwahi orang-orang Mekkah supaya masuk kedalam agama Islām.

Dan diantara bentuk pembalasan orang-orang Quraisy adalah membunuh Khubaid & Zaid Ibnu ad-Datsilah yang merupakan dua orang tawanan pada peristiwa ar Roji’ (yang insyaallah datang keterangannya).

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy

Di kota Jember