Tag Archives: Djulhijah

DEFINISI KURBAN DAN HUKUMNYA

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Jum’at, 28 Dzulqa’dah 1442 H/09 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 05: Definisi kurban dan hukumnya

〰〰〰〰〰〰〰

DEFINISI KURBAN DAN HUKUMNYA

بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له و من يضلل فلا هادي له أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له واشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه و على آله وأصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada pertemuan yang ke-5 ini, kita akan bersama-sama belajar tentang :

▪︎ Definisi Kurban dan Hukumnya

Para ulama kita (rahimakumullāh) telah menuliskan banyak sekali definisi tentang kurban ini. Tetapi makna dari definisi tersebut berdekatan dan tidak saling bertentangan satu sama lain.

Di antaranya disebutkan التضْحِيَة kurban itu adalah syātun (شاة) domba atau hewan kurban dalam definisi lain disebutkan hayawānun (الْحَيَوَان).

مَخْصُوْص

Hewan yang khusus (dengan kriteria khusus).

تذبح بعد صلاة العيد

Yang disembelih setelah shalat Iedul Adha.

تقربا الى الله

Dalam rangka untuk mendekatkan diri atau beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

التضْحِيَة :شاة خُصُوْصِيّ تذبح بعد صلاة العيد تقربا الى الله

“Kurban adalah menyembelih domba atau hewan khusus setelah shalat Iedul Adha dalam rangka untuk mendekatkan diri atau beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Ibadah kurban merupakan syiar islam yang disyari’atkan di dalam al-Kitab (Al-Qurān) dan di dalam Sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, serta ijma’ para ulama kaum muslimin.

Di antara ayat Al-Qurān yang menegaskan pensyariatan kurban adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ۞ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

“Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau kenikmatan yang banyak (besar) maka tegakkanlah shalat dan berkurbanlah.”

(QS. Al-Kautsar:1-2)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ۞ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allāh, Tuhan seluruh alam.

Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).”

(QS. Al-An’ām:162-163)

Kata an-nusuk (النسك) adalah penyembelihan sebagaimana dikatakan oleh Said bin Zubair. Adapula yang mengatakan an-nusuk (النسك) adalah semua ibadah termasuk sembelihan. Pendapat kedua ini lebih luas cakupannya.

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, dan ibadahku seluruhnya” termasuk di dalamnya penyembelihan (menurut pendapat yang kedua) hanya aku peruntukkan bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Al-Bukhāri dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu (masih berkaitan dengan pensyariatan kurban) dia berkata:

ضَحَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih hewan kurban berupa dua ekor domba dengan warna putih garam (warna putih seperti warna garam) sebagian riwayat ditambahkan أَقْرَنَيْنِ (yang bertanduk). Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih kurbannya dengan tangan beliau sendiri, dan beliau membaca tasmiyah dan bertakbir (بسم لله ….الله أكبر) dan beliau meletakkan kaki beliau pada sisi samping kedua hewan kurban tersebut.”

(Hadīts shahīh riwayat Al-Bukhāri nomor 5565)

Maksud pada sisi samping yaitu badan samping bagian dada di atas leher sedikit domba tersebut.

Dari Abdullāh bin Umar radhiyallāhu ‘anhumā, dia berkata:

أَقَامَ النبي صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ يُضَحِّي ‏ ‏

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tinggal di Madīnah selama sepuluh tahun dalam keadaan senantiasa beliau berkurban setiap tahunnya.” (tidak pernah absen).

(Hadīts hasan riwayat At-Tirmidzi nomor 1507)

Ini adalah beberapa dalīl yang menjelaskan kepada kita tentang pensyariatan ibadah kurban.

Dan jumhur ulama berpendapat bahwa kurban ini hukumnya sunnah muakaddah (sunnah yang ditekankan), sunnah tetapi sangat dianjurkan, sunnah tetapi sangat diwasiatkan untuk dilakukan. Karena Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah meninggalkan kurban semasa beliau hidup di Madīnah selama sepuluh tahun.

Ini adalah madzhab Asy-Syafī’i, Mālik, Ahmad dan pendapat yang masyhur dari keduanya.

Sedangkan selain mereka berpendapat bahwa ia wajib. Kelompok ulama yang kedua mengatakan kurban itu hukumnya wajib tidak sunnah. Ini adalah madzhab Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari dua riwayat Ahmad.

Dan pendapat wajibnya kurban ini, dipilih oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāhu ta’āla, beliau berkata:

“Ia adalah salah satu pendapat dari dua pendapat dalam madzhab Mālik atau dhahir dari madzhab Mālik.”

Ikhwāni wa Akhawatiy Fīllāh rahīmani wa rahīmakumullāh wa A’azzakumullāh.

Disebagian kitab beliau Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah di antaranya dalam Majmu’ Fatawa mengatakan, bahwa dalīl terkuat yang dipakai oleh ulama untuk mengatakan kurban itu hukumnya sunnah berarti dalīlnya banyak, tetapi menurut Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah yang terkuat adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, janganlah ia memotong rambutnya dan memotong kukunya.”

(Hadīts shahīh Muslim nomor 1977)

Para ulama yang menyatakan kurban itu sunnah:

الوجوب لا يعلق بالإرادة

“Satu kewajiban itu tidak dikaitkan dengan keinginan.”

Tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan, “Jika telah masuk sepuluh pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban”. Artinya kurban itu hanya berlaku bagi orang yang ingin, jika tidak ingin maka tidak berkurban, tidak apa-apa.

Ini merupakan dalīl yang dikatakan Ibnu Taimiyyah sebagai ‘ūdah (عوْدَة) dan beliau membantahnya.

Yang benar,

الوجوب قد يعلق بالإرادة بشرط

“Satu kewajiban itu kadang dikaitkan dengan keinginan tetapi bersyarat”

Seperti sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إذا أراد أحدكم أن يصلي فليتوضأ

“Jika salah seorang dari kalian ingin shalat, hendaknya dia berwudhu”

Sedangkan shalat lima waktu adalah wajib.

Apakah kita akan mengatakan shalat itu berlaku bagi orang yang ingin, sedangkan yang tidak ingin (tidak shalat) tidak apa-apa?

Tidak demikian, maka wallāhu ta’āla a’lam bishawab. Pendapat yang benar dalam masalah ini, “Kurban itu hukumnya wajib”.

Ditambah lagi dengan ancaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bagi orang yang tidak berkurban.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam satu hadīts shahīh.

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa memiliki kelongaran rezeki namun ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati tanah lapang untuk shalat hari raya.”

(Hadīts hasan riwayat Ibnu Mājah nomor 3123)

Di dalam kitab Ahkamul Idain Fīsunnatil Muthaharah syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari rahimahullāhu ta’āla, tatkala menyebutkan hadīts ini, beliau mengatakan seolah-olah tidak ada manfaatnya orang yang memiliki kelonggaran rezeki kemudian dia tidak berkurban dan dia ikut shalat.

“Seolah-olah shalatnya tidak bermanfaat bagi dirinya ketika ia meninggalkan kewajiban tersebut (berkurban).”

Tadi di atas disebutkan;

Ada riwayat bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah meninggalkan kurban. Ada ancaman bagi orang yang memiliki kelebihan rezeki tetapi ia tidak berkurban maka ia tidak boleh mendekat ke tanah lapang untuk shalat.

Ikhwāni wa Akhawatiy Fīllāh rahīmani wa rahīmakumullāh wa A’adzakumullāh yang senantiasa dirahmati oleh Allāh.

Kemudian ada riwayat juga, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةً وَعَتِيرَةً هَلْ تَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ؟ هِيَ الَّتِي تُسَمُّونَهَا الرَّجَبِيَّةَ

“Wajib bagi setiap satu rumah pada setiap tahunnya untuk melakukan kurban di bulan Dzulhijjah yang disebut udhhiyyah (أُضْحِيَّةً) dan kurban di bulan Rajab yang disebut ‘atirah (عَتِيرَةً).

Apakah kalian tahu apa itu ‘atirah ((عَتِيرَةً)?

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

هِيَ الَّتِي تُسَمُّونَهَا الرَّجَبِيَّةَ

Dia adalah kurban yang dilakukan di bulan Rajab.”

(Hadīts riwayat At-Tirmidzī, Abu Dawud , An-Nassā’i, Ibnu Mājah. At-Tirmidzī mengatakan hadīts ini gharībun dhaīf dan Abu Dawud mengatakan pensyariatan Al-‘Atirah (الْعَتِيرَة) telah dihapus. Syaikh Al-Albāniy menghukumi hadīts ini dhaif)

Dan Imam Nawawi rahimahullāhu mengatakan الْعَتِيرَة مَنْسُوخَة pensyariatan Al-‘Atirah (الْعَتِيرَة) Ini
telah dihapus, sedangkan pensyariatan (kewajiban) kurban masih tetap berlaku.

Wallāhu ta’āla a’lam bishawab.


HARI TASYRIQ DAN DZIKIR-DZIKIR YANG DIANJURKAN

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Kamis, 27 Dzulqa’dah 1442 H/08 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 04: Hari Tasyriq dan Dzikir- Dzikir yang Dianjurkan

〰〰〰〰〰〰〰

HARI TASYRIQ DAN DZIKIR-DZIKIR YANG DIANJURKAN

بسم الله الرحمن الرحيم
الـحـمـد لله رب الـعـالـمـيـن و الـصـلاة و الـسـلام عـلـى أشـرف الأنـبـيـاء و الـمـرسـلـيـن وعلى آله وأصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulillāh kita dipertemukan kembali pada kesempatan kali ini, dan kita akan bersama-sama mempelajari tentang:

▪︎ Hari Tasyriq serta Doa dan Dzikir

Doa dan dzikir apa saja yang bisa kita lakukan, kita baca, bisa kita amalkan, bisa kita dawwamkan dan rutinkan pada hari-hari tersebut.

⑴ Hari Tasyriq (أَيَّامُ اَلتَّشْرِيقِ)

Imamu Muslim telah meriwayatkan di dalam shahīhnya dari hadīts Nubaisyah al-Hudzali bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

أَيَّامُ مِنَى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ, وَذِكْرٍ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Hari-hari Mina adalah hari-hari makan, minum dan berdzikir kepada Allāh Azza wa Jalla.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1141)

Hari-hari Mina di sini maksudnya adalah hari-hari tasyriq yaitu hari-hari yang jatuh setelah selesai hari penyembelihan (Idul Adha) yaitu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah setiap tahunnya.

Diriwayatkan oleh para penulis kitab As-Sunnan dan Al-Musnad dari jalan yang banyak. Dari Nabi dan dalam sebagian jalannya disebutkan:

أن النبي صلى الله عليه وسلم مبعث في ايام منى مندينا مندي لَا تصوم هذه الايام فان ايام اكل وشرب وذكر لله عز وجل

Bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengutus di hari-hari Mina yaitu di hari Tasyriq, Nabi mengutus seorang penyeru yang berseru dan berteriak, “Janganlah kalian berpuasa di hari-hari ini (hari Mina atau hari-hari Tasyriq) karena ia merupakan hari-hari untuk makan, minum (berhari raya, bersuka-cita) dan hari untuk berdzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.

Hari-hari Mina atau hari-hari Tasyriq yang telah ditentukan jumlahnya sebagaimana difirmankan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْدُودَٰتٍۢ

“Dan berdzikirlah kalian dengan mengingat dan menyebut asma Allāh pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Yaitu jumlahnya tiga hari setelah hari penyembelihan sebagaimana tadi kita sampaikan.

Kemudian dari hari-hari Tasyriq yang tiga itu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah yang paling utama di antara ketiga hari tersebut adalah hari yang pertama yaitu tanggal 11 Dzulhijjah, biasa di sebut dengan hari Al-Qarr (القر) atau hari untuk menetap.

Kenapa dinamakan Al-Qarr (القر) ?

Karena orang yang berada di Mina (orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji) menetap di sana dan tidak boleh keluar dari sana. Sehingga tanggal 11 Dzulhijjah, orang-orang yang melaksanakan ibadah haji menetap di Mina.

Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam surat Al Baqarah 203.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوۡمَيۡنِ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِۖ

“Dan barangsiapa mempercepat untuk meninggalkan Mina setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Adapun meninggalkan Mina di hari yang pertama yaitu hari ke-11 maka tidak boleh, maka disebut sebagai hari Al-Qarr (القر) Sehingga jama’ah haji tidak boleh keluar dari Mina.

Adapun yang keluar setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya dan barangsiapa mengakhirkan keberangkatannya maka tidak ada dosa pula baginya.

Itu adalah sekelumit tentang hari-hari Tasyriq.

⑵ Doa dan Dzikir

Macam-macam dzikir yang sangat dianjurkan untuk dibaca dan di amalkan pada hari-hari Tasyriq. Karena Allāh telah memerintahkan agar kita memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut sebagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

أإنها أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Hari Tasyriq adalah hari untuk makan, minum dan berdzikir kepada Allāh.”

(HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i)

Dzikir seperti apa yang disyariatkan?

① Bertakbir

Banyak di antaranya yang pertama adalah dzikir kepada Allāh setelah shalat fardhu, dengan membaca dzikir setelah shalat kemudian boleh juga bertakbir.

Sebagian ulama mengatakan ini adalah takbir khusus setelah seseorang selesai melakukan shalat jama’ah lima waktu.

اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ….. لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ….. اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Atau bacaan takbir yang lainnya.

Tetapi sebagian ulama kita mengatakan bahwa tidak ada keterangan untuk bertakbir secara khusus setelah shalat.

Tapi takbir itu setelah shalat, ketika kita di pasar, ketika kita di jalan, ketika kita di tempat kerja, ketika kita naik kendaraan. Sangat dianjurkan sekali untuk bertakbir.

② Dzikir kepada Allāh dengan membaca tasmiyah yaitu membaca bismillāh dan takbir (الله اكبر)

بسم الله الله اكبر

Kapan itu?

Saat menyembelih, karena hari-hari Tasyriq merupakan hari-hari diperbolehkan bagi kita untuk menyembelih, yang tidak bisa menyembelih di hari Idul Adha bisa menyembelih di hari taysriq.

Sesaat sebelum menyembelih dia membaca بسم الله الله اكبر sebagaimana disebutkan dalam satu hadīts,

ضَحَّى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih dua ekor domba dan beliau meletakkan kaki beliau di samping badan si domba dan beliau membaca tasmiyah dan bertakbir (بسم الله الله اكبر).”

(HR. Bukhari dan Muslim)

③ Dzikir kepada Allāh saat makan dan minum, karena tadi dikatakan hari Tasyriq adalah hari makan dan minum, sebelum makan membaca bismillāh dan setelah makan membaca alhamdulillāh.

Jika tidak sebagaimana disebutkan dalam kitab Adabul Mufrad, ada satu riwayat hadīts dari Nabi menerangkan orang yang makan kemudian dia tidak membaca bismillāh tidak membaca tasmiyah maka syaithan akan ikut makan dengannya.

Dan jika dia membaca tasmiyah maka syaithan akan berkhutbah kepada teman-temannya لَا أَسْأَلكُمْ tidak ada jatah makan bagi kalian. Karena si fulan sebelum makan dia membaca tasmiyah.

Itu di antara dzikir yang bisa kita lakukan.

Kemudian dalam hadīts yang lain, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ

‘Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar ridha, Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar senang dan suka terhadap hamba jika dia makan kemudian dia memuji Allāh atas nikmat tersebut (setelah makan dia mengucapkan Alhamdulillāh memuji Allāh).

وَيَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Dan si hamba tadi minum kemudian memuji Allāh atas nikmat berupa minuman tersebut.”

(Hadīts riwayat Muslim Nomor 2734)

Jadi sebelum makan membaca bismillāh setelah makan dan minum membaca alhamdulillāh.

⑷ Dzikir kepada Allāh dengan bertakbir pada saat melempar jumrah di hari-hari Tasyriq yang ini berlaku khusus untuk orang-orang yang menunaikan ibadah haji.

Dalam perintah berdzikir pada saat selesai ibadah haji terdapat satu makna khusus yaitu bahwa ibadah-ibadah itu bisa habis waktunya dan berakhir, sedangkan dzikir kepada Allāh tetap abadi. Tidak habis waktunya, tidak berakhir, bahkan ia terus berlaku bagi orang-orang mukmin di dunia maupun di akhirat.

Allāh juga memerintahkan untuk berdzikir setiap kali selesai shalat.

فَإِذَا قَضَيۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡۚ

“Jika kalian telah selesai shalat maka bacalah dzikir kepada Allāh baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring.”

(QS. An-Nissā: 103)

Bacaan setelah shalat yang sudah sangat kita kenal itu lebih ditekankan lagi dibaca pada hari-hari Tasyriq.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan di antara bentuk kecerdasan seorang hamba adalah dia senantiasa bersyukur dan berdzikir kepada Allāh atas nikmat dan anugerah yang telah Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepadanya.

Terjemah

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsunya dan ia beramal untuk kepentingan setelah mati”

Mumpung Allāh masih menganugerahkan kesehatan kepada kita, kita gunakan nikmat sehat itu untuk banyak-banyak berdzikir kepada Allāh.

Disebutkan dalam beberapa untaian syair, satu nasehat untuk kita semua dan ini sebagai penutup juga (untuk pertemuan hari ini)

Dikatakan:

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها ~ فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم
وداوم عليها بشكر الإله ~ فشكر الإله يزيل النقم

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها

Apa bila engkau merasakan satu kenikmatan, maka jagalah, peliharalah, lestarikanlah, kenikmatan itu

فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم

Karena sesungguhnya maksiat itu menghilangkan kenikmatan tersebut.

Ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan kepada kita kesehatan. Jatah makan, jatah minum, anak, istri, sandang, papan, pangan, maka hendaknya kita menjaga kenikmatan itu agar tidak tidak hilang.

Dengan cara apa?

Menjauhi maksiat, karena maksiat akan menghilangkan nikmat.

وداوم عليها بشكر الإله

Dan abadikan kenikmatan itu dengan bersyukur kepada Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”

(QS. Ibrahim: 7)

فشكر الإله يزيل النقم

Karena bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghilangkan hukuman-hukuman

Menghilangkan apa?

Pidana-pidana yang barangkali Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada orang-orang yang tidak mau bersyukur.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu ta’āla a’lam.


Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Rabu, 26 Dzulqa’dah 1442 H/07 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 03: Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah

〰〰〰〰〰〰〰

SEBAB-SEBAB MENDAPATKAN PEMBEBASAN DAN AMPUNAN PADA HARI ARAFAH

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين وأفضل الصلاة وأتم التسليم على
نبينا هذا الآمين المبعوث في رحمة للعالمين و على آله و أصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada kesempatan kali ini kita akan bersama mendengarkan paparan tentang :

▪︎ Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah

Ketika kita memaparkan pada pertemuan yang lalu bahwa sebagian ulama. Sebagian ulama ulul Islām menyatakan bahwa hari Arafah merupakan hari yang paling utama.

Maka di dalamnya kita teramat sangat dianjurkan sekali untuk memperbanyak ibadah, untuk memperbanyak berdoa dan berdzikir di hari tersebut (sebanyak-banyaknya).

ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا

“Ingatlah kepada Allāh, dengan mengingat nama-Nya sebanyak-banyaknya.”

(QS. Al-Ahzāb: 41)

Dan di hari tersebut sebagaimana sudah kita bacakan dalīlnya, di hari itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla paling banyak membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka.

Tidak ada hari lain yang melebihi banyaknya pembebasan dari neraka (dari sisi jumlah hamba-hamba Allāh yang dibebaskan).

Kalau di hari lain Allāh memberikan ampunan, maka di hari Arafah Allāh lebih banyak lagi memberikan ampunan dan Allāh lebih banyak lagi membebaskan manusia dari neraka.

Maka pada kesempatan kali ini kita akan sampaikan sebab atau sarana yang bisa menjadikan kita mendapatkan pembebasan dan ampunan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla di hari Arafah.

Barangsiapa berantusias tinggi meraih pembebasan dan perlindungan dari api neraka serta pengampunan dosa-dosanya pada hari Arafah hendaknya ia menjaga sebab-sebab dan meraih pembebasan serta ampunan. Tidak cukup seseorang bercita-cita untuk mendapatkan ampunan, tidak cukup seseorang bercita-cita untuk dibebaskan dari neraka kalau dia tidak menempuh sebab-sebabnya.

Kata pepatah disebutkan:

ترجو النجاة و لم تسلك مسالكها إن السفينة لَا تجرى على اليبس

“Engkau mengharapkan keselamatan, namun engkau tidak menempuh jalan-jalan yang bisa mengantarkan engkau kepada keselamatan. Karena sesungguhnya perahu dan kapal, sampan dan kano tidak akan mampu berjalan atau berlayar di atas daratan yang kering kerontang.”

Maka keinginan kita untuk diampuni oleh Allāh, terbebas dari neraka Allāh harus disertai usaha:

⑴ Berpuasa pada hari Arafah bagi orang-orang yang tidak berhaji.

Sebagaimana disebutkan dalam shahīh Muslim dari Abu Qatadah radhiyallāhu ‘anhu, dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

صِيَامُ يَومِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ علَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتي بَعْدَهُ

“Puasa yang dilakukan pada hari Arafah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah setiap tahunnya. Aku harapkan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, untuk menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu dan dosa satu tahun yang akan datang.”

(Hadits riwayat Muslim no. 1162)

Adapun dosa-dosa yang diampunkan di sini adalah dosa-dosa kecil, adapun dosa yang besar tidak akan terhapus dan dia hanya bisa terhapus dengan taubatan nasuha.

Beristighfar kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla kemudian berjanji tidak akan mengulangi dan meninggalkan sebab-sebab yang bisa mengantarkan dia kepada perbuatan dosa besar tersebut.

Para ulama mengatakan:

لَا صَغائر مع الإستمرار و ما كبائر مَعَ اِسْتِغْفَارٍ

“Tidak ada dosa-dosa kecil jika dosa itu dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar ketika dia diikuti dengan taubatan nasuha.”

⑵ Menjaga…
[16:16, 7/7/2021] +62 821-3371-5314: بِسْــــــــــــــــــمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

🔰 EVALUASI HARIAN TELAH DIBUKA

Sahabat Bimbingan Islām, rahimaniy wa rahimakumullāh, yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Silahkan mengikuti Evaluasi Harian WAG BiAS via telegram…

📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 #Halaqah 03:
( Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah)

Jumlah Soal : 2 buah
Link : https://t.me/QuisWAGBIAS

Baarokallahu fiikum…

🖋️

BIAS CENTER
[16:16, 7/7/2021] +62 821-3371-5314: ▪️▪️▪️▪️▪️
[09:32, 7/8/2021] +62 821-3371-5314: 🌍 BimbinganIslam.com
📆 Kamis, 27 Dzulqa’dah 1442 H/08 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 04: Hari Tasyriq dan Dzikir- Dzikir yang Dianjurkan

〰〰〰〰〰〰〰

🏦 Yuk, Dukung Program Dakwah Islam melalui :

| Bank Syariah Indonesia (ex. BSM)
| Kode Bank (451)
| Nomor Rekening : 78.14.5000.17
| a.n CINTA SEDEKAH (INFAQ)
| Konfirmasi klik cintasedekah.org/donasi
[09:32, 7/8/2021] +62 821-3371-5314: 🌍 BimbinganIslam.com
📆 Kamis, 27 Dzulqa’dah 1442 H/08 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 04: Hari Tasyriq dan Dzikir- Dzikir yang Dianjurkan

〰〰〰〰〰〰〰

HARI TASYRIQ DAN DZIKIR-DZIKIR YANG DIANJURKAN

بسم الله الرحمن الرحيم
الـحـمـد لله رب الـعـالـمـيـن و الـصـلاة و الـسـلام عـلـى أشـرف الأنـبـيـاء و الـمـرسـلـيـن وعلى آله وأصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulillāh kita dipertemukan kembali pada kesempatan kali ini, dan kita akan bersama-sama mempelajari tentang:

▪︎ Hari Tasyriq serta Doa dan Dzikir

Doa dan dzikir apa saja yang bisa kita lakukan, kita baca, bisa kita amalkan, bisa kita dawwamkan dan rutinkan pada hari-hari tersebut.

⑴ Hari Tasyriq (أَيَّامُ اَلتَّشْرِيقِ)

Imamu Muslim telah meriwayatkan di dalam shahīhnya dari hadīts Nubaisyah al-Hudzali bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

أَيَّامُ مِنَى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ, وَذِكْرٍ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Hari-hari Mina adalah hari-hari makan, minum dan berdzikir kepada Allāh Azza wa Jalla.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1141)

Hari-hari Mina di sini maksudnya adalah hari-hari tasyriq yaitu hari-hari yang jatuh setelah selesai hari penyembelihan (Idul Adha) yaitu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah setiap tahunnya.

Diriwayatkan oleh para penulis kitab As-Sunnan dan Al-Musnad dari jalan yang banyak. Dari Nabi dan dalam sebagian jalannya disebutkan:

أن النبي صلى الله عليه وسلم مبعث في ايام منى مندينا مندي لَا تصوم هذه الايام فان ايام اكل وشرب وذكر لله عز وجل

Bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengutus di hari-hari Mina yaitu di hari Tasyriq, Nabi mengutus seorang penyeru yang berseru dan berteriak, “Janganlah kalian berpuasa di hari-hari ini (hari Mina atau hari-hari Tasyriq) karena ia merupakan hari-hari untuk makan, minum (berhari raya, bersuka-cita) dan hari untuk berdzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.

Hari-hari Mina atau hari-hari Tasyriq yang telah ditentukan jumlahnya sebagaimana difirmankan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْدُودَٰتٍۢ

“Dan berdzikirlah kalian dengan mengingat dan menyebut asma Allāh pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Yaitu jumlahnya tiga hari setelah hari penyembelihan sebagaimana tadi kita sampaikan.

Kemudian dari hari-hari Tasyriq yang tiga itu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah yang paling utama di antara ketiga hari tersebut adalah hari yang pertama yaitu tanggal 11 Dzulhijjah, biasa di sebut dengan hari Al-Qarr (القر) atau hari untuk menetap.

Kenapa dinamakan Al-Qarr (القر) ?

Karena orang yang berada di Mina (orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji) menetap di sana dan tidak boleh keluar dari sana. Sehingga tanggal 11 Dzulhijjah, orang-orang yang melaksanakan ibadah haji menetap di Mina.

Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam surat Al Baqarah 203.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوۡمَيۡنِ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِۖ

“Dan barangsiapa mempercepat untuk meninggalkan Mina setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Adapun meninggalkan Mina di hari yang pertama yaitu hari ke-11 maka tidak boleh, maka disebut sebagai hari Al-Qarr (القر) Sehingga jama’ah haji tidak boleh keluar dari Mina.

Adapun yang keluar setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya dan barangsiapa mengakhirkan keberangkatannya maka tidak ada dosa pula baginya.

Itu adalah sekelumit tentang hari-hari Tasyriq.

⑵ Doa dan Dzikir

Macam-macam dzikir yang sangat dianjurkan untuk dibaca dan di amalkan pada hari-hari Tasyriq. Karena Allāh telah memerintahkan agar kita memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut sebagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

أإنها أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Hari Tasyriq adalah hari untuk makan, minum dan berdzikir kepada Allāh.”

(HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i)

Dzikir seperti apa yang disyariatkan?

① Bertakbir

Banyak di antaranya yang pertama adalah dzikir kepada Allāh setelah shalat fardhu, dengan membaca dzikir setelah shalat kemudian boleh juga bertakbir.

Sebagian ulama mengatakan ini adalah takbir khusus setelah seseorang selesai melakukan shalat jama’ah lima waktu.

اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ….. لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ….. اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Atau bacaan takbir yang lainnya.

Tetapi sebagian ulama kita mengatakan bahwa tidak ada keterangan untuk bertakbir secara khusus setelah shalat.

Tapi takbir itu setelah shalat, ketika kita di pasar, ketika kita di jalan, ketika kita di tempat kerja, ketika kita naik kendaraan. Sangat dianjurkan sekali untuk bertakbir.

② Dzikir kepada Allāh dengan membaca tasmiyah yaitu membaca bismillāh dan takbir (الله اكبر)

بسم الله الله اكبر

Kapan itu?

Saat menyembelih, karena hari-hari Tasyriq merupakan hari-hari diperbolehkan bagi kita untuk menyembelih, yang tidak bisa menyembelih di hari Idul Adha bisa menyembelih di hari taysriq.

Sesaat sebelum menyembelih dia membaca بسم الله الله اكبر sebagaimana disebutkan dalam satu hadīts,

ضَحَّى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih dua ekor domba dan beliau meletakkan kaki beliau di samping badan si domba dan beliau membaca tasmiyah dan bertakbir (بسم الله الله اكبر).”

(HR. Bukhari dan Muslim)

③ Dzikir kepada Allāh saat makan dan minum, karena tadi dikatakan hari Tasyriq adalah hari makan dan minum, sebelum makan membaca bismillāh dan setelah makan membaca alhamdulillāh.

Jika tidak sebagaimana disebutkan dalam kitab Adabul Mufrad, ada satu riwayat hadīts dari Nabi menerangkan orang yang makan kemudian dia tidak membaca bismillāh tidak membaca tasmiyah maka syaithan akan ikut makan dengannya.

Dan jika dia membaca tasmiyah maka syaithan akan berkhutbah kepada teman-temannya لَا أَسْأَلكُمْ tidak ada jatah makan bagi kalian. Karena si fulan sebelum makan dia membaca tasmiyah.

Itu di antara dzikir yang bisa kita lakukan.

Kemudian dalam hadīts yang lain, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ

‘Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar ridha, Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar senang dan suka terhadap hamba jika dia makan kemudian dia memuji Allāh atas nikmat tersebut (setelah makan dia mengucapkan Alhamdulillāh memuji Allāh).

وَيَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Dan si hamba tadi minum kemudian memuji Allāh atas nikmat berupa minuman tersebut.”

(Hadīts riwayat Muslim Nomor 2734)

Jadi sebelum makan membaca bismillāh setelah makan dan minum membaca alhamdulillāh.

⑷ Dzikir kepada Allāh dengan bertakbir pada saat melempar jumrah di hari-hari Tasyriq yang ini berlaku khusus untuk orang-orang yang menunaikan ibadah haji.

Dalam perintah berdzikir pada saat selesai ibadah haji terdapat satu makna khusus yaitu bahwa ibadah-ibadah itu bisa habis waktunya dan berakhir, sedangkan dzikir kepada Allāh tetap abadi. Tidak habis waktunya, tidak berakhir, bahkan ia terus berlaku bagi orang-orang mukmin di dunia maupun di akhirat.

Allāh juga memerintahkan untuk berdzikir setiap kali selesai shalat.

فَإِذَا قَضَيۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡۚ

“Jika kalian telah selesai shalat maka bacalah dzikir kepada Allāh baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring.”

(QS. An-Nissā: 103)

Bacaan setelah shalat yang sudah sangat kita kenal itu lebih ditekankan lagi dibaca pada hari-hari Tasyriq.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan di antara bentuk kecerdasan seorang hamba adalah dia senantiasa bersyukur dan berdzikir kepada Allāh atas nikmat dan anugerah yang telah Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepadanya.

Terjemah

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsunya dan ia beramal untuk kepentingan setelah mati”

Mumpung Allāh masih menganugerahkan kesehatan kepada kita, kita gunakan nikmat sehat itu untuk banyak-banyak berdzikir kepada Allāh.

Disebutkan dalam beberapa untaian syair, satu nasehat untuk kita semua dan ini sebagai penutup juga (untuk pertemuan hari ini)

Dikatakan:

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها ~ فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم
وداوم عليها بشكر الإله ~ فشكر الإله يزيل النقم

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها

Apa bila engkau merasakan satu kenikmatan, maka jagalah, peliharalah, lestarikanlah, kenikmatan itu

فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم

Karena sesungguhnya maksiat itu menghilangkan kenikmatan tersebut.

Ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan kepada kita kesehatan. Jatah makan, jatah minum, anak, istri, sandang, papan, pangan, maka hendaknya kita menjaga kenikmatan itu agar tidak tidak hilang.

Dengan cara apa?

Menjauhi maksiat, karena maksiat akan menghilangkan nikmat.

وداوم عليها بشكر الإله

Dan abadikan kenikmatan itu dengan bersyukur kepada Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”

(QS. Ibrahim: 7)

فشكر الإله يزيل النقم

Karena bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghilangkan hukuman-hukuman

Menghilangkan apa?

Pidana-pidana yang barangkali Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada orang-orang yang tidak mau bersyukur.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu ta’āla a’lam.


1 s/d 10 DZULHIJAH

Dari Ibnu Abbas ra dia berkata, Rasulullah saw bersabda,

“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).”

Para sahabat ra  bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?”

Beliau bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan beramal shaleh pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sampai Allah Ta’ala bersumpah dengannya dalam firman-Nya:


وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Dan demi malam yang sepuluh.” (Qs. al-Fajr: 2).

Yaitu: sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, ini menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab, Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.”

Namun Amal shaleh dalam hadits ini bersifat umum, termasuk shalat, sedekah, puasa, berzikir, membaca al-Qur’an, berbuat baik kepada orang tua dsb, tdk ada ibadah khusus apapun kecuali shaum arafah.

Termasuk amal shaleh yang paling dianjurkan pada waktu ini adalah berpuasa pada hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), bagi yg tdk sedang melakukan ibadah haji.

Rasulullah saw ketika ditanya tentang puasa pada hari ‘arafah, beliau bersabda,


 أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ “

“Aku berharap kepada Allah puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) 2 tahun, di tahun yang lalu dan tahun berikutnya.” (HR. Muslim)

dari : KTQS-Bandung