Tag Archives: Doa dan Kaian Islami

Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 8

? Group WA HSI AbdullahRoy
? hsi.abdullahroy.com
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

? Silsilah Ilmiyyah 6
Beriman Kepada Malaikat
? Halaqah 19 ~ Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 8
?Ustadz Dr. Abdullah Roy

 

 

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah “Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 8”.

Diantara amalan malaikat & tugas mereka yang berkaitan dengan alam semesta yang ke-4 adalah,

 

⑷ MENJALANKAN AWAN & MENURUNKAN HUJAN

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا

“Maka demi malaikat-malaikat yang menggiring awan.” (Ash-Shāffāt 2)

Dan diantara malaikat-malaikat tersebut adalah Ar-Ra’d, sebagaimana telah berlalu haditsnya.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwa suatu saat seorang laki-laki sedang di tanah yang lapang. Tiba-tiba dia mendengar suara dari arah mendung, “Airilah kebun Fulān”. Maka bergeraklah awan tersebut dan mencurahkan airnya disuatu bidang tanah.

 

Yang kelima diantara amalan malaikat & tugas mereka yang berkaitan dengan alam semesta adalah,

⑸ MENGURUS GUNUNG

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

فنظرت فإذا فيها جبريل، فناداني فقال: إن الله قد سمع قول قومك لك وما ردوا عليك، وقد بعث إليك ملك الجبال لتأمره بما شئت فيهم فناداني ملك الجبال، فسلم عليَّ، ثم قال: يا محمد فقال ذلك فيما شئت؟ إن شئت أن أطبق عليهم الأخشبين

“Maka aku melihat tiba-tiba Jibrīl memanggilku dan berkata, ‘Sesungguhnya Allāh telah mendengar kaummu kepadamu dan bantahan mereka kepadamu. Dan sungguh Allāh telah mengutus malaikat gunung supaya kamu memerintahnya sesuai dengan kehendakmu’. Kemudian malaikat gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, seperti yang diucapkan Jibrīl, kalau kamu menghendaki maka aku akan menjatuhkan 2 gunung yang keras ini ke atas mereka’.” (HR Bukhāri III/1180, No. 3059 dan Muslim III/1420, no. 1795)

 

⑹ MENIUP SANGKAKALA

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

كيف أنعم وقد التقم صاحب القرن القرن وحنى جبهته وأصغى سمعه ، ينتظر أن يؤمر أن ينفخ فينفخ

“Bagaimana aku bisa merasa nikmat sedangkan peniup sangkakala telah menaruh sangkakala di mulutnya, mengerutkan dahi, memasang telinganya, menunggu sewaktu-waktu diperintahkan oleh Allāh untuk meniup maka dia akan meniup.” (Hadīts shahīh diriwayatkan oleh Tirmidzi IV/42, no. 2548)

Dan telah berlalu sebagian sifat malaikat peniup sangkakala.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

‘Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

Salat Jenazah Bayi

 

Salat Jenazah Bayi

 

Bagi jenazah bayi, tidak dishalatkan tidak apa-apa, namun jika ingin dishalatkan itu baik. (Baca kajian berikutnya)

Salat jenazah tidak dilakukan dengan ruku’, sujud maupun iqamah, melainkan dalam posisi berdiri sejak takbiratul ihram hingga salam,

urutannya:

1. Takbir pertama lalu membaca surat Al Fatihah

2. Takbir kedua lalu membaca shalawat atas Rasulullah SAW lengkap atau minimal :

“Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad”

artinya : “Yaa Allah berilah salawat atas nabi Muhammad”

Bacaannya sama dgn bacaan duduk tahiyat dalam shalat.

3. Takbir ketiga lalu membaca do’a untuk jenazah bayi yg panjang atau minimal (lihat KTQS #912) :

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا

“Ya Allah! Jadikan kematian anak ini sebagai simpanan pahala dan amal baik serta pahala buat kami”.

Jika jenazah dewasa baca doa : “Allahhummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ mudkhalahu”

artinya : “Yaa Allah ampunilah dia, berilah rahmat, kesejahteraan dan ma’afkanlah dia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya”.

4. Takbir keempat lalu membaca do’a (bebas) minimal:

“Allahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinna ba’dahu waghfirlanaa walahu.”

artinya : “Yaa Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepadanya atau janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya, dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia.”

5.Mengucapkan salam, menoleh kekiri dan kekanan dan tangan tetap sedekap.

Setelah dishalatkan segeralah dikuburkan dan Tidak ada tuntunan utk mengazani dan mengiqamahi jenazah yg akan dikubur. Tidak ada dalam Sunnah Nabi Muhammad Saw.

Entah kalau syi’ah, nabinya ahmadiyah, nabinya baha’i atau nabi-nabi baru lainnya.

Entah juga jika jenazahnya komunis atau liberal akan diapakan, dikubur, dibakar, atau dibuang kelaut, karena di KTP mereka kolom agama ingin dihapus.
Salam!

copas dari KTQS

DOA BAGI BAYI YANG WAFAT

KTQS # 912

DOA BAGI BAYI YANG WAFAT

(1)
اَللَّهُمَّ أَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, lindungilah dia dari siksa kubur”. (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ I/288, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 3/217, dan Al-Baihaqi 4/9)

(2)
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا وَذُخْرًا لِوَالِدَيْهِ، وَشَفِيْعًا مُجَابًا. اَللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا وَأَعْظِمْ بِهِ أُجُوْرَهُمَا، وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَاجْعَلْهُ فِيْ كَفَالَةِ إِبْرَاهِيْمَ، وَقِهِ بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيْمِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَسْلاَفِنَا، وَأَفْرَاطِنَا وَمَنْ سَبَقَنَا بِاْلإِيْمَانِ

“Ya Allah! Jadikanlah kematian anak ini sebagai pahala pendahulu dan simpanan bagi kedua orang tuanya dan pemberi syafaat yg dikabulkan doanya. Ya Allah! Dengan musibah ini, beratkanlah timbangan perbuatan mereka dan berilah pahala yg agung. Anak ini kumpulkan dgn orang-orang yg shalih dan jadikanlah dia dipelihara oleh Nabi Ibrahim. Peliharalah dia dgn rahmatMu dari siksaan Neraka Jahim. Berilah rumah yg lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (di Surga) yg lebih baik daripada keluarganya (di dunia). Ya Allah, ampunilah pendahulu-pendahulu kami, anak-anak kami, dan orang-orang yg mendahului kami dalam keimanan”. (Lihat Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah 3/416)

Doa pendeknya :
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا وَذُخْرًا لِوَالِدَيْهِ، وَشَفِيْعًا مُجَابًا

“Ya Allah! Jadikanlah kematian anak ini sebagai pahala pendahulu dan simpanan bagi kedua orang tuanya dan pemberi syafaat yg dikabulkan doanya”.
(3)
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا

“Ya Allah! Jadikan kematian anak ini sebagai simpanan pahala dan amal baik serta pahala buat kami”. (HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 5/357, Abdurrazaq no. 6588 dan Al- Bukhari meriwayatkan hadits tersebut secara mu’allaq dalam Kitab Al-Janaiz, 65 bab Membaca Fatihatul Kitab Atas Jenazah 2/113)

Salam !

copas dari KTQS

BERDOA SAMBIL MENGANGKAT TANGAN-KAH SETELAH SHALAT WAJIB? (3)

KTQS # 813

BERDOA SAMBIL MENGANGKAT TANGAN-KAH SETELAH SHALAT WAJIB? (3)

Hadits-hadits yang menyatakan berdoa sambil mengangkat tangan namun dhaif/lemah bahkan palsu :

Dari Al Aswad Al Amiri,”Kami salat Fajar (Subuh) beserta Rasulullah Saw., ketika beliau salam, beliau bergeser serta mengangkat kedua tangannya seraya berdoa”.

Al Mubarakafuri mengatakan dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi, ’Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah tanpa sanad. Jadi hadits diatas adalah laa asla lahu, tidak ada asal usulnya alias palsu.

Hadits lain :

Dari Al Fadl bin Abbas, dari Rasulullah Saw. bersabda,”Salat itu dua rakaat-dua rakaat…kemudian tadahkan kedua tanganmu kepada Tuhanmu Azza wa Jalla sambil mengadapap kiblat dgn dua telapak tangan (bagian dalam) mengahadap wajahmu…”. (HR At Thabrani, Musnad al Imam Ahmad, III : 315, Sunan at Tirmidzi, II : 225, as Sunanul Kubra, II : 487)

Sanad hadis di atas dhaif seluruh jalur periwayatannya. Haditsnya tertolak

Hadits lain :

“Rasulullah Saw. apabila beliau selesai dari salatnya, beliau mengangkat kedua tanganya serta beliau menyatukan keduanya seraya berdoa…”. (HR Ibnul Mubarak, az Zuhdu, I : 405)

Hadis ini termasuk hadis Maqthu. Kalimat di atas dari Ismail bin Umayah serta ‘Alqamah bin Martsad. Sedangkan hadis Maqthu itu tertolak.

KESIMPULAN :
Karena ketiga hadis di atas tidak ada satu pun yg shahih, jg bbrp yg lain, maka secara khusus mengangkat tangan saat berdoa setelah salat wajib bukan sunnah nabi saw.

Mengenai pendapat yg menyatakan bolehnya berdoa sambil mengangkat tangan setelah selesai salat dgn alasan tidak ada hadis yg melarangnya sungguh sebuah pernyataan yg janggal dan aneh.

Bukankan ibadah itu dikerjakan setelah dicontohkan, bukan dilaksanakan dan baru akan berhenti jika ada larangan.

Perbuatan Nabi saw termasuk sunnah, begitu pula apa yg beliau tinggalkan juga termasuk sunnah.

 

Barakallahu fiikum !

 

(copas dari KTQS)

BERDOA SAMBIL MENGANGKAT TANGAN-KAH SETELAH SHALAT WAJIB ?

KTQS # 812

BERDOA SAMBIL MENGANGKAT TANGAN-KAH SETELAH SHALAT WAJIB ?

Tidak disyari’atkan untuk mengangkat kedua tangan (ketika berdo’a) pada kondisi di mana Nabi saw tidak mengangkat tangannya pada saat itu.

Contohnya, adalah berdo’a ketika selesai shalat lima waktu, Dalam kondisi seperti ini hendaknya kita tidak mengangkat tangan (ketika berdo’a) karena memang Nabi saw tidak melakukan demikian padahal beliau saw adalah suri tauladan kita dalam hal ini. (Majmu’ Fatawa (11/181))

Adapun hadits yang masyhur di tengah-tengah umat bahwa Nabi saw mengangkat kedua tangan saat berdoa setelah shalat adalah :

“Tidaklah seorang hamba menadahkan kedua tanganya pada setiap akhir salat, lalu berdoa,’Ya Allah! Tuhanku dan Tuhan Ibrahim…melainkan hak bagi Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengembalikan kedua tangannya dalam keadaan hampa”. (HR. Ibnu As Sunni. (Lihat, Tuhfatul Ahwadzi, II : 199)

Hadis ini dhaif disebabkan ke-dhaif-an rawi bernama Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman al Qurasyi.

Keterangan :
– Imam Ahmad mengatakan,’Aku tinggalkan hadis-hadisnya sebab hadis-hadisnya itu palsu’. – An Nasai menyatakan,’Ia rawi yang tidak tsiqat’.
– Ad Daraquthni berkata,’Munkarul hadis’.
– Ad Du’afau wal Matrukin Libnil Jauzi, serta Ibnu Hiban menyatakan,’Tidak halal untuk dijadikan hujjah’. II : 110,  al Jarhu Wat Ta’dil, V : 388, Mizanul ‘Itidal, IV : 376.

Dan masih ada beberapa hadits yg serupa namun semuanya dhaif/lemah sehingga tidak bisa dijadikan hujah.

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata tentang berdoa bersama-sama setelah shalat, “Tidak ada satupun sahabat yg meriwayatkan bahwa Rasulullah apabila setelah selesai shalat lalu beliau berdoa bersama para sahabatnya, akan tetapi Beliau Saw hanya berdzikir kepada Allah”. (Majmu’ Fatawa 22/492)

KESIMPULAN :
Tidak perlu mengangkat tangan saat berdoa setelah shalat fardhu dan tidak ada berdoa bersama-sama (jama’i).

Barakallahu fiikum !

Copas

BERDOA SAMBIL MENGANGKAT TANGAN ATAU TIDAK ?

KTQS # 811

BERDOA SAMBIL MENGANGKAT TANGAN ATAU TIDAK ?

Mengangkat tangan ketika berdoa yang terkait suatu ritual ibadah, hukumnya kembali pada dalil-dalil ibadah tsb. Jika terdapat dalil bahwa Rasulullah Saw mengangkat tangan dalam ibadah tsb, maka dianjurkan mengangkat tangan. Jika tidak ada dalil, maka tidak disyari’atkan mengangkat tangan.

Karena perbuatan Nabi saw termasuk sunnah, begitu pula apa yang beliau tinggalkan juga termasuk sunnah.

Banyak hadits shahih yg menunjukkan bahwa Nabi Saw MENGANGKAT TANGAN ketika berdoa, CONTOHNYA :
– Shalat istisqa.
– Selesai melempar jumrah yg pertama ula dan kedua wustha.
– Saat qunut witir/nazilah.
– Saat sa’i di bukit shafa dan marwah.
– Saat wukuf di arafah.
– Setelah berwudhu.

Namun sebaliknya banyak hadits-hadits dhoif yg tidak bisa diamalkan, sehingga Nabi saw TIDAK MENGANGKAT TANGAN ketika berdoa, CONTOHNYA :
– Saat Doa dzikir setelah shalat fardhu.
– Saat melihat kabah.
– Setelah menguburkan jenazah.
– Setelah Adzan.
– Ketika khutbah jum’at, Khutbah Ied, dll.

Yang disyariatkan kepada kita adalah meneladani Nabi Saw dalam melakukan suatu atau meninggalkan suatu (dalam ibadah). (Majmu’ Fatawa, 26/144)

Jadi tidak setiap berdoa kita  mengangkat tangan.

Berikutnya, insya Allah kita kaji lengkap seuai sunnah Rasulullah saw kondisi dimana saja Rasulullah saat berdoa “Tidak Mengangkat Tangan” dan “Mengangkat Tangan”, serta perlukah “Mengusap Wajah” setelah berdoa dan setelah shalat.

Barakallahufiikum !

Copas dari KTQS Daarul Arqom-Bandung

WAKTU MUSTAJAB DOA

KTQS # 808-810

WAKTU MUSTAJAB DOA

Waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa sehingga kita bisa maksimal dalam berdoa. Antara lain:

1. Sepertiga Akhir Malam

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga akhir malam terakhir, lalu berfirman: Barangsiapa yang berdoa, pasti akan Kukabulkan, barangsiapa yang memohon pasti akan Aku perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti akan Ku ampuni”. (HR Bukhari)

2. Tatkala berbuka puasa bagi orang yang berpuasa

Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ra, dia mendengar Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka ada doa yang tidak ditolak”. (HR Ibnu Majah)

3 Pada setiap dubur shalat fardhu (sesudah tasyahud akhir, sebelum salam)

Dari Abu Umamah Radhiyallahu’anhu, Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wata’alla, beliau menjawab: “Dipertengahan malam yang akhir dan pada setiap dubur shalat fardhu”. (HR At Tirmidzi)

4. Pada saat perang berkecamuk

Dari Sahl bin Sa’ad ra bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak; doa pada saat adzan dan doa tatkala perang berkecamuk”. (HR Abu Daud dishahihkan oleh Imam Nawawi)

 

5. Sesaat pada hari Jum’at

Dari Abu Hurairah ra, Abul Qasim saw bersabda:
“Sesungguhnya pada hari Jum’at ada sesaat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan dikabulkan. Beliau berisyarat dengan tangannya untuk menunjukkan sebentarnya waktu tersebut”. (HR Al Bukhari)

6. Pada waktu bangun tidur malam hari bagi orang yang bersuci dan berdzikir sebelum tidur

Dari ‘Amr bin ‘Anbasah ra bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya”. (HR Ibnu Majah)

7. Diantara adzan dan iqamah

Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah saw bersabda: “Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah”. (HR Abu Daud)

8. Pada waktu sujud dalam shalat

Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw bersabda:
“Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab doa saat itu sangat diharapkan untuk terkabul”. (HR Muslim)

 

9. Pada saat sedang turun hujan

Dari Sahl bin Sa’ad ra, Rasulullah saw bersabda:
“Dua doa yang tidak pernak ditolak; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu turun hujan”. (HR Hakim)

10. Pada saat ada orang yang baru saja meninggal

Dari Ummu Salamah ra, Rasulullah saw bersabda tatkala Abu Salamah sakaratul maut:
“Sesungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya.” Semua keluarga histeris. Beliau bersabda:”Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat meng-amini apa yang kamu ucapkan”. (HR Muslim)

11. Pada malam lailatul qadr

Allah Subhanahu wata’alla berfirman:
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam penuh kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Qs Al Qadr: 3-5)

12. Doa pada hari Arafah

Dari ‘Amr bin Syu’aib ra dari bapaknya dari kakeknya, Nabi saw bersabda:
“Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah”. (HR At Tirmidzi)
 
Barakallahu fiikum !

Copas dari KTQS

 

Barakallahu fiikum !
Copas dari KTQS

ADAB BERDOA

 

ADAB BERDOA

1. Ikhlas karena Allah semata.

“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya”. (QS. Al-Mu’min: 14)

2. Merendahkan diri/tadharru, berharap untuk dikabulkan (raghbah) dan merasa takut tidak dikabulkan (rahbah).

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yg selalu bersegera di dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yg baik dan mereka berdoa kepada Kami dgn penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yg khusyu` kepada Kami”. (QS. Al-Anbiya’: 90).

3. Diawali dengan bertahmid dan bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, diakhiri dgn hal yg sama.

Dari Fudhalah bin Ubaid berkata, ketika Rasulullah SAW sedang duduk (di masjid) tiba-tiba datang seseorang lalu shalat. Kemudian berdoa seraya mengucapkan “Ya Allah ampunilah aku dan . Lantas Nabi bersabda:

“Kamu telah tergesa-gesa. Jika selesai shalat, lalu kamu duduk (berdoa), maka memujilah kepada Allah dgn pujian yg layak bagi-Nya, dan bershalawatlah kepadaku, lalu berdoalah”. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i)

4. Bersungguh-sungguh dalam berdoa dan merasa yakin akan dikabulkan.

Rasulullah Saw bersabda:

“Apabila kamu berdoa, maka janganlah mengatakan : ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau kehendaki, sayangilah aku jika Engkau kehendaki, berilah aku rezeki jika Engkau kehendaki’; hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam berdoa. Sesungguhnya Allah berbuat menurut apa yg Ia kehendaki dan tidak ada yg dapat memaksa-Nya”. (HR Bukhari)

Barakallahu fiikum !
Copas dari KTQS

SHALAT SUNAT TAUBAT?

KTQS # 779

SHALAT SUNAT TAUBAT?

Dalam sebuah hadits diriwayatkan: Dari Ali dari Abu Bakar as-Shidiq ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Siapapun dari hamba yg beriman, ia melakukan sebuah dosa, kemudian ia berwhudhu dan ia membaguskan wudhunya kemudian ia sholat dua rakaat, lalu ia meminta ampun kepada Allah, maka Allah akan ampunkan dosanya…”

Hadits tsb diriwayatkan oleh

Imam Ahmad dlm musnadnya :I:2,9,10,

al-Maruzie dlm musnad Abi Bakr no. 9,10, at-Thoyalisie : II : 78.

Imam Tirmidzie dlm kitab us-Sholat 409 dan kitab ut-Tafsir 3009.

Ibnu Jarir dlm Jami’ul-Bayan 7852/7854,

Ibnu Majah dlm iqamatis sholat wa sunan fiha, melalui Utsman bin Abi Zur’ah, dari Ali bin Rabi’ah dari Asma’ bin al-Hakim al-Fazarie dari Ali bin Abi Tholib, dari Abu Bakr as-Shiddiq.

Juga dlm hadits riwayat Imam al-Baihaqy, Ibnu Abi Syaibah, al-Humaidi, Abu Ya‘la dan ath-Thabrani, juga semuanya ini melalui jalan Asma’ bin al-Hakim al-Fazarie.

Imam al-Bukhari mengingkari/menolak hadits dari jalan Asma’ bin al-Hakim al-Fazarie ini disebabkan kecacatannya yaitu lemah hafalannya.

Buku-buku seperti Nailul-Authar karya Imam asy-Syaukani, Subulus-Salam karya Imam ash-Shan‘ani, Zadul-Ma‘ad karya Ibnul Qayyim al-Jauziyah, mereka tidak mencantumkan di dalamnya tentang shalat taubat.

Maka sesuai dengan qaidah umum yang dipegang ahli hadits, yaitu ‘jarah didahulukan daripada ta‘dil’, artinya cacat didahulukan daripada pujian, atas dasar itulah shalat taubat tidak termasuk ke dalam deretan shalat-shalat sunat yg shahih.

Masih banyak shalat-shalat sunat lainnya yg jelas-jelas shahih tanpa ada perselisihan didalamnya. sehingga menenangkan kita untuk mengamalkannya.

Bertobat itu adalah : Memohon ampun kepada Allah Swt, menyesal terhadap apa yg dilakukan, serta tidak mengulangi dosa tsb, lalu memperbanyak amalan-amalan sunnah.

Salam !

copas dari KTQS

SHALAT SUNAT TASBIH ?

KTQS # 779

SHALAT SUNAT TASBIH ?

Didalam hadits disebutkan, Dilakukan 4 rakaat, membaca Tasbih, ‘Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illa Allah, wallahu akbar’ sebelum ruku sebanyak 15 kali. Kemudian ruku’ 10 kali, itidal 10 kali, sujud pertama 10 kali, duduk diantara dua sujud 10 kali, sujud kedua 10 kali, Kemudian duduk sejenak sebelum berdiri ke rakaat kedua 10 kali. Maka total 75 kali membaca tasbih pada setiap satu rakaat.

Amalan Shalat Tasbih ini terdapat pada hadits riwayat Abu Dawud 1:298, Ibnu Majah 1:418, at-Tirmidzi 2:350-351, Al-Hakim al-Mustadrak 1:318.

Hadits ini lemah (dhaif), Kelemahannya ada pada sanadnya yaitu, terdapat rawi bernama Musa Ibnu Abd al ‘Aziz al ‘Adaniy dan Musa Ibnu Ubaidah, mereka rawi yang dhaif dan haditsnya tidak bisa dijadikan hujah.

Adz-Dzahabiy mengatakan : “Hadits-haditsnya tergolong hadits munkar”. (Mizan al-Itidal 4:212-213)

Imam Ahmad mengatakan : “Tidak ditulis haditsnya (tidak termasuk hadits)”. An Nasa’i dan yang lainnya mendhaifkan.

Ibnu Mu’in : “Tidak bisa dijadikan hujjah”.

Ya’qub Ibnu Syaibah: “Haditsnya dhaif sekali”. (Mizan al-Itidal 2:140)

Imam Tirmidzi berkata : “Tentang hadits shalat tasbih, tidak ada satupun yg shahih”. (Sunan at-Tirmidzi 2:348)

Abu Bakar Ibnul A’rabi berkata, “Hadits Abu Rafi’ ini dha’if, tidak memiliki asal di dalam (hadits) yg shahih dan yg hasan. Imam Tirmidzi menyebutkannya hanyalah untuk memberitahukan agar orang tidak terpedaya (tertipu) dengannya.” (Tuhfzatul Ahwadzi Syarh Tirmidzi, al-Adzkar karya an-Nawawi, hal. 168).

Ibnu al-Jauziy mengatakan : “(Hadits shalat tasbih) termasuk hadits-hadits maudhu (palsu)”. (Tuhfat Ahwadziy 2:598)

Imam Nawawi mengatakan: “Haditsnya dhaif, maka selayaknya shalat itu (shalat tasbih) tidak dikerjakan”. (Tuhfat Ahwadziy 2:598)

Dari keterangan-keterangan diatas maka disimpulkan bahwa, Shalat Sunat Tasbih termasuk shalat yg tidak dicontohkan Rasulullah Saw alias tidak ada.

Salam !

copas dari KTQS