Tag Archives: Fadhul Islam

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 50 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nama Nama Ahlu Bid’ah

Halaqah 50 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nama Nama Ahlu Bid’ah

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-50 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kalau kita melihat perbedaan nama² Ahlus Sunnah dengan nama² Ahlu Bida, kita lihat nama² Ahlu Bida ada diantara mereka yang bernama al Khowarij, Jahmiah, Asyairoh, al Manturidiah, al Kullabiah kemudian al Murjiah, ar Rofidhoh az Zaidiyah, Qodariah, Jabriah. Kita lihat nama² aliran tadi tidak kembali kepada Islām tapi kemungkinan yang pertama kembali kepada muasisnya bukan kembali kepada Islām tapi kembali kepada Muasisnya karena muasis ini membawa sesuatu yang baru yang tidak ada didalam Islām akhirnya bukan dinisbahkan kepada Islām tapi dinisbahkan kepada Muasisnya, diantaranya Jahmiah Ibnu Sofwan, al Qulabiyah dinisbahkan kepada Abdullah Ibnu Qullab, Ahmadiyyah dinisbahkan kepada Mirza Ghulam Ahmad dst.

Ini sudah penamaan yang salah, kenapa menisbahkan diri kepada orang nya kepada Muasisnya, berarti dia membawa sesuatu yang baru yang tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ.

Atau terkadang nama tersebut diambil dari isi dari Bid’ahnya, contoh al Murjiah diambil dari kata al Irja yang maknanya adalah takhir/mengakhirkan atau diambil dari kata roja, kalau diambil dari kata Al Irja yang maknanya adalah takhir sebagaimana Firman Allāh – أَرْجِهْ وَأَخَاهُ – Akhirkan/ditunda maksudnya adalah mereka mengakhirkan amalan, menjadikan amalan itu bukan termasuk Iman. Karena orang² Murjiah mengatakan bahwasanya amalan bukan termasuk Iman.

Atau dari kata Roja artinya mereka terlalu memberikan Roja kepada pelaku dosa besar, kemudian mengatakan tidak masalah melakukan dosa besar ini tidak memudhoroti karena ini bukan termasuk Iman. Berarti diambil nama mereka dari inti bidah mereka.

Atau Rofidhoh diambil dari kata Roqob yang artinya adalah menolak karena mereka menolak ke khalifahan Abu Bakar & juga Umar Oleh sebab itu mereka dinamakan Rofidhoh.

Atau Orang² Khowarij diambil dari kata khuruj karena mereka mengeluarkan pelaku dosa besar dari Islām, atau khuruj yang berarti mereka memberontak kepada pemerintah & juga penguasa yang sah, karena keluar memberontak kepada mereka juga dinamakan dengan khuruj, sehingga mereka dinamakan dengan Khowarij, dilihat dari Inti bidah mereka.

Atau diambil/aliran tadi namanya tempat dia keluar/sejarah dia keluar seperti Mu’tazilah dinamakan Mu’tazilah karena wafin saat itu dia meninggalkan majlisnya Hasan Al Basri karena dia I’tazala meninggalkan majlisnya Hasan Al Basri maka dinamakan dia & orang² yang mengikutinya dinamakan Al Mu’tazilah.

kita lihat disini perbedaan Antara nama² Ahlus Sunnah dengan nama² aliran tersebut. Aliran² tadi tidak kembali kepada Islām adapun nama² Ahlus Sunnah maka kembali kepada Islām.

Bagi yang mencermati nama² tersebut dia akan melihat bahwasanya nama² tersebut kembali kepada Islām, belum lagi ciri² yang lain & juga perbedaan yang lain nama² yang ada didalam Ahli Sunnah ini tidak menyebabkan wala & Baro selain kepada Islām berbeda dengan nama² tadi, adapun nama² tadi maka disitu ada wala & Baro nya bukan kepada Islām bukan atas nama Islām tetapi atas nama yang lain.

Jika Islām Jamaah, kenapa dinamakan Islām Jamaah karena Intinya pada jamaahnya karena itu memang yang dikonsentrasikan tentang masalah Jamaah, berkaitan dengan Jamaah, yang namanya Jamaah harus ada Imam nya yang namanya Imam harus di baiat

لا إسلام إلا بجماعة

Kita ini harus (Islām)nya Harus Jamaah, Oleh sebab itu dinamakan Islām Jamaah.

Terkadang namanya benar tapi isi nya yang tidak benar

Yang dituntut dari kita nama & juga isinya, Isinya sudah disebutkan tentang keharusan untuk berpegang teguh dengan Islām, sekarang disebutkan tentang keharusan untuk bernama dengan nama yang Islām, Jadi namanya harus syarii & Isinya juga harus Islāmi tidak cukup dengan penamaan atau gelar saja yang Islāmi tetapi isinya jauh dari Islām.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 49 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nama Nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Bag 02

Halaqah 49 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nama Nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-49 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kalau kita melihat Nama² Ahlus Sunnah wal Jamaah maka semuanya kembali kepada Islām.

Contoh misalnya Ahlus Sunnah wal Jamaah atau ahlul Al Jamaah atau Al Firqotun Najiah atau Ahlul Atsar atau Hadits atau As Salafiun atau nama mereka Athoifatul Manshuro golongan yang ditolong, ditolong karena berpegang teguh dengan agama Islām sebagaimana didalam Hadits

ولَنْ تَزَالَ هَذِه الأُمَّةُ قائِمَةً عَلَى أمْر الله لاَ يضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفُمْ حَتَّى يأتِي أمْرُ الله

Amrullah yang pertama ini adalah Al Islām, dia tetap tegak diatas Amrullah yaitu Amrullah Syar’i,

adapun Amrullah yang kedua adalah Amrullah al Kauni.

Amrullah Syarii ini adalah Islām syariat Islām adapun Amrullah al Kauni adalah hidupnya atau dikirimnya angin & barangsiapa yang menghirup angin tadi & didalam dirinya ada iman meskipun hanya kecil keimanannya maka dia akan meninggal dunia.

قائِمَةً عَلَى أمْر الله

Dia tetap tegak diatas agama Islām.

Amrullah disini adalah Dien Syarii

لاَ يضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفُمْ

Tidak akan memudhoroti mereka orang yang menyelisi mereka

Kita lihat lafadz yang lain

ولَا تَزَالَ هَذِه الأمة ظاهرين على من خالفهم حتى يأتي أمر الله وهم ظاهرون

Apa makna – ظاهرون – maksudnya adalah منتصرين mereka senantiasa tertolong.

ظافرين على عدوهم الذي يخالفهم في العقيدة والمنهج

Mereka nampak & mereka ditolong oleh Allāh diatas musuh² mereka

Didalam sebuah lafadz

لاتزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق

Mereka nampak tetap diatas al Haq yaitu diatas agama Islām yang murni

لايضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم كذالك

Didalam lafadz ath Tirmidzi

لا تزال طائفة من أمتي منصورين لايضره من خذلهم حتى الساعة

Dalam sunan ibnu Majjah

لا تزال طائفة من أمتي منصورين

Dari sini kita mengetahui asal usul dari penamaan athoifa al Mansyuro golongan yang ditolong oleh Allāh, kalau kita melihat hadits² tadi & kita kumpulkan, kenapa mereka – ظاهرين – kenapa mereka – منصورين – karena mereka

قائمة على أمر الله
قائمة على حق

Sebagian lafadz tadi disebutkan mustaqiman mereka istiqomah diatas kebenaran & ini seperti firman Allāh ﷺ

كتب الله لأغلبن أنا ورسلي

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ ٱلْأَشْهَٰدُ

Sesungguhnya Kami akan menolong Rasul² Kami & juga orang² yang beriman

Dan tentunya yang dimaksud orang yang beriman disini adalah orang yang benar² beriman & mewujudkan keimanan, berpegang teguh dengan Islām yang murni sehingga mereka menamakan dirinya dengan athoifa Al Mansyuro, Mansyuro karena berpegang teguh dengan Islām.

Berarti kembali nama mereka ini kepada Islām.

As Salafiun menisbahkan diri mereka kepada salaf, siapa Salaf? Generasi pertama, kedua & ketiga. As Salafusholeh mereka adalah para pendahulu kita yang shaleh. Salafy adalah orang yang menisbahkan diri mereka kepada para salaf, apa yang dilakukan oleh para Salaf perpegang teguh dengan Islām

من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابه

Mereka adalah orang yang berada diatas jalanku & jalan para Shahabatku.

Maka Salafiyun adalah orang² yang menisbahkan diri mereka kepada para salaf yaitu para Shahabat, para Tabiin & juga para Tabiut Tabiin yang mereka berada diatas Islām yang murni. Berarti salafiun nama yang syarii karena ia kembali kepada Islām.

Maka seluruh Nama² yang kembali kepada Islām maka ini nama² yang syarii.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post navigation

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 48 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nama Nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Halaqah 48 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nama Nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-48 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kalau kita melihat nama² Ahlus Sunnah wal Jamaah, atau ahlul Jamaah atau ahlul atsar atau ahlul Hadits atau as salafiun atau athoifa Al Mansyuroh, Al Firqotun Najiyah maka semuanya kembali kepada Islām. Terkadang nama² tadi ada secara nash didalam dalil & terkadang tidak ada secara nash hanya kalau kita perhatikan dia kembali kepada Islām itu sendiri.

Dan ini adalah perbedaan antara nama² Ahlus Sunnah gelar² Ahlus Sunnah dibandingkan dengan nama² dimiliki aliran², contoh misalnya Ahlus Sunnah orang² yang berpegang teguh dengan sunnah.

Apa yang dimaksud dengan Sunnah, yang dimaksud dengan Sunnah adalah jalan , yaitu jalannya Rasulullāh ﷺ, dan jalannya Rasulullāh ﷺ adalah Islām itu sendiri, berarti Ahlus Sunnah adalah orang² yang mereka konsekwen/komitmen dengan ajaran Islām. Lihat kembali nama mereka kepada Islām bukan kepada yang lain.

Atau dinamakan dengan Ahlul Jamaah & jamaah asal katanya makna jamaah adalah Istima dia adalah masdar, akhirnya menjadi nama kumpulan manusia, asalnya dia adalah Al Istima jadi kalau kita mengatakan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Al Jamaah disini maknanya Istima) jangan diartikan orangnya, Ahlus Sunnah wal Jamaah maksudnya adalah Ahlus Sunnah wal Istima oleh sebab itu lawannya Ahlul Bida’ wal furqah, karena Ahlul Bida’ adalah lawan dari Ahlus Sunnah kemudian disebutkan wal furqah & furqah adalah lawan dari Al Istima.

Jadi kalau dikatakan Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka Al Jamaah disini maksudnya adalah Al Istima mereka adalah orang yang ahli dalam bersatu.

Kenapa dinamakan ahlul jamaah atau ahlul Istima karena mereka tidak mau memisahkan diri mereka dari jamaahnya Rasulullāh ﷺ & juga para shahabat, bagaimanapun mereka dicela, disakiti, dihadang maka mereka tidak mau meninggalkan jalan ini, ingin terus bersatu diatas kebenaran oleh sebab itu mereka dinamakan ahlul jamaah & seringnya digabungkan antara sunnah dengan jamaah & dikatakan Ahlus Sunnati wal jamaah, mereka adalah orang yang berpegang teguh dengan sunnah & mereka yang menjaga & terus berpegang dengan jamaahnya Rasulullah ﷺ untuk menjaga persatuan.

Kalau kita lihat ahlu Istima ini kembali kepada Islām juga, karena maksud Istima disini adalah Istima diatas Islām

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا

Seluruhnya, disuruh untuk berpegang teguh dengan – بِحَبْلِ اللَّهِ – dengan tali Allah/Al Quran .

Berarti Ahlul Istima mereka adalah ahli didalam persatuan maksudnya adalah persatuan diatas Islām, berarti kembali kepada Islām itu sendiri.

Atau nama mereka adalah Ahlul atsar, mereka adalah orang yang ahli didalam atsar, yang dimaksud dengan atsar mungkin atsar Rasulullah ﷺ atau nama lain dari Hadits atau maksudnya atsar para Shahabat & juga para tabiin, berpegang teguh dengan atsar mereka, apa atsar para Shahabat & juga para tabiin? Islām. Karena mereka kembali kepada Islām yang murni mereka tidak memisahkan diri dari jamaahnya Nabi ﷺ

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Dipuji oleh Nabi ﷺ karena berpegangnya mereka dengan kuat terhadap Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Berarti Ketika mereka menamakan dirinya dengan Ahlul Atsar nama ini kembali kepada Islām juga.

Atau nama mereka adalah al Firqotun Najiah mereka adalah kelompok yang selamat diambil dari Hadits Nabi ﷺ, dimana beliau mengabarkan tentang iftiroqul umma (perpecahan umat) & mengabarkan bahwasanya umat ini terpecah menjadi 73 golongan

كُلُّهُمْ فِي النَّارِ

Semuanya masuk kedalam Neraka

إِلَّا وَاحِدَةً

Kecuali 1 golongan, kemudian beliau mengatakan

من كان على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي

Mereka adalah orang yang berada diatas jalanku juga jalan para Shahabatku.

Inilah golongan yang selamat tadi, golongan yang satu tadi, dinamakan dengan golongan yang selamat karena pertama mereka selamat dari perpecahan yang lainnya berpecah belah, adapun golongan ini maka mereka selamat dari perpecahan, tetap mereka berada diatas jalannya Nabi ﷺ, sehingga mereka dinamakan golongan yang selamat yaitu selamat dari perpecahan karena perpecahan ini musibah adapun mereka, mereka tidak berpecah tetap mereka bersatu diatas Islām yang murni.

Atau yang kedua selamat disini adalah selamat dari Neraka karena nabi mengatakan

كلهم في النار

Semuanya masuk kedalam Neraka kecuali satu.

Kedua makna ini benar, baik dikatakan selamat dari Neraka atau selamat dari perpecahan ini benar karena perpecahan itu membawa mereka kepada Neraka. Perpecahan tadi yaitu memisahkan diri/memecahkan diri dari jalannya Nabi ﷺ ini adalah sebab masuknya mereka kedalam Neraka.

Berarti golongan yang selamat tadi yaitu yang selamat dari perpecahan karena selamat dari perpecahan berarti tetap berpegang teguh dengan Islām tidak mau memecahkan diri. Berarti disini kembali kepada makna Islām, Al Firqotun Najiah firqoh yang Selamat yaitu selamat dari perpecahan karena dia tidak memisahkan dirinya dari jamaahnya Nabi ﷺ yang berada diatas Islām yang murni. Berarti Al Firqotun Najiah kembali kepada Islām.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 47 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nukilan Dari Majmu Fatawa Li Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Jilid 28 Halaman 328

Halaqah 47 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Nukilan Dari Majmu Fatawa Li Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Jilid 28 Halaman 328

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-47 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

قال أبو العباس كل ما خرج عن دعوى الإسلام والقرآن من نسب أو بلد أو جنس أو مذهب أو طريقة فهو من عزاء الجاهلية.

Berkata Abul Abbas

Ini adalah kunyah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, terkadang beliau memakainya ketika di dalam kitabut Tauhid.

setiap orang yang keluar dari nama Islām & juga Al-Quran, fanatiknya bukan karena Islām bukan karena Al Quran,

من نسب berupa nasab, wala & baro nya karena nasab, misalnya kalau dia ahlul bait wala kalau bukan ahlul bait baro,

أو بلد atau berupa negeri, kalau satu negara yang sama wala kalau diluar negaranya baro,

أو جنس atau berupa suku / jenis, jika satu suku maka dia wala kalau diluar sukunya dia baro ,

أو مذهب atau madzhab, kalau sama² syafii dia wala kalau diluar Syafii maka dia baro,

أو طريقة atau berbeda jalan / cara

فهو من عزاء الجاهلية

_Maka ini semua termasuk jalan Jahiliyyah_

Kalau misalnya wala dan baro’ seseorang diukur dari semuanya itu, bukan diukur oleh keislaman seseorang, bukan diukur sesuai dengan Al Quran atau tidak apa yang dia lakukan, tapi diukur dari nasab, negeri, suku, madzhab.

Kemudian beliau mendatangkan dalil

بل لما اختصم مُهاجري وأنصاري

Bahkan ketika saling berseteru antara seorang Muhajirin & seorang Anshor

فَقَالَ المُهَاجِرِيُّ : يَا لَلْمُهَاجِرِينَ

Berkata orang Muhajirin tersebut – يَا لَلْمُهَاجِرِينَ – memanggil orang² Muhajirin

وَقَالَ الأَنْصَارِيُّ : يَا لَلْأَنْصَارِ

Dan berkata orang Anshor – يَا لَلْأَنْصَارِ –

قال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم؟

Maka Nabi ﷺ mengatakan _apakah dengan panggilan jahiliyyah_ karena panggilan يَا لَلْمُهَاجِرِينَ , يَا لَلْأَنْصَارِ adalah panggilan jahiliyyah dia bukan berdasarkan Islām, tapi berdasarkan golongan, berdasarkan orangnya, padahal kita tahu bagaimana kedudukan Muhajirin & juga kedudukan Anshor disisi Allah ﷻ. Kalau ta’asub dengan sesuatu selain Islām, karena sama² hijrah karena sama² orang Mekah atau yang satunya karena sama² orang Madinah padahal mereka adalah Muhajirin & Anshor yang memiliki kedudukan yang tinggi disisi Allah ﷻ, tidak boleh kita taasub dengan orang²nya, bukan kepada Islām, lalu bagaimana dengan orang yang ta’asub dengan golongan yang lebih rendah daripada Muhajirin & Anshor, tentu nya Ini lebih diharamkan & lebih tidak diperbolehkan.

Ta’asub dengan orang² Muhajirin & Anshor tapi kalau tidak didasarkan oleh Islām maka ini tidak boleh, lalu bagaimana dengan ta’asub dengan yg selain Muhajirin & Anshor yang tentunya kedudukannya lebih rendah dari keduanya.

وغضب لذلك غضبًا شديدًا.

Dan Nabi ﷺ marah dengan sebab ini semua, dengan kemarahan yang sangat besar.

انتهى كلامه.

Selesai ucapan beliau.

Dan ini adalah nukilan, kalau kita kembali kepada kitab asalnya maka ini yang diucapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah didalam Majmu’ Fatawa

و كل ما خرج عن دعوى الإسلام والقرآن من نسبٍ أو بلدٍ أو جنسٍ أو مذهبٍ أو طريقةٍ فهو من عزاء الجاهلية.
بل لما اختصم رجلان من المهاجرين و الأنصاري فقال المهاجري: يا للمهاجرين! وقال الأنصاري: يا للأنصار
قال ﷺ: أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم؟ وغضب لذلك غضبا شديدا
.

Ini disebutkan oleh beliau di dalam jilid ke-28 halaman 328.

Dengan demikian kita mengetahui tentang bagaimana keharusan untuk menisbatkan diri kepada Islām bukan kepada selain Islām.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 46 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim

Halaqah 46 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-46 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan,

وفيه: أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم؟

Dan didalamnya (mungkin kembali kepada Hadits yang shahih) atau maksudnya adalah didalam Hadits yang diriwayatkan Bukhori & juga Muslim .

أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم؟

Ini Hadits yang lain, jika Hadits yang sebelumnya

من فارق الجماعة شبرا فمات فميتته جاهلية

Ini adalah haditsnya Abdullah Ibnu Abbas, adapun hadits yang dimaksud oleh beliau disini – أبدعوى الجاهلية – maka yang dimaksud adalah haditsnya Jabir Ibnu Abdillah, dari mana kita tahu ini hadits yang dimaksud oleh pengarang di sini, pertama beliau mengatakan – وفيه – maksudnya adalah didalam hadits yang shahih yang tadi kita sebutkan bisa didalam Hadits yang shahih atau didalam Hadits yang juga diriwayatkan oleh Bukhori dan juga Muslim.

Kemudian kita melihat penjelasan dari Ibnu Taimiyyah yang dinukil oleh beliau disini karena beliau setelah mendatangkan hadits Ini, beliau mendatangkan ucapan Ibnu Taimiyyah & disini beliau menyebutkan sebuah hadits yaitu adanya kasus yang hampir menjadikan disana perseteruan antara muhajirin & anshor.

Haditsnya

أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ غَزَوْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kami berperang bersama Rasulullah ﷺ

وَقَدْ ثَابَ مَعَهُ نَاسٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ حَتَّى كَثُرُوا وَكَانَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلٌ لَعَّابٌ فَكَسَعَ أَنْصَارِيًّا

Dan telah pergi bersama beliau beberapa orang dari kalangan Muhajirin sehingga mereka banyak (banyak berkumpul orang² Muhajirin), diantara orang² Muhajirin tersebut ada seorang laki² yang la’ab (suka bermain)

فَكَسَعَ أَنْصَارِيًّا

Maka dia memukul dubur dari orang Anshor tadi (mungkin mencolek) & dia adalah rajulun yang la’ab (suka bercanda) -al Kasa – mungkin memukul dengan tangannya atau dengan kakinya (ditendang pantatnya dengan kaki atau dipukul dengan tangannya) – – ada yang mengatakan dia adalah memukul makna nya sama pantat – bil kodam – dengan kakinya
Apa yang terjadi

فَغَضِبَ الْأَنْصَارِيُّ غَضَبًا شَدِيدًا

Maka orang Anshor tadi marah dengan marah yang sangat – حَتَّى تَدَاعَوْا – sampai akhirnya mereka saling memanggil satu dengan yang lain

وَقَالَ الْأَنْصَارِيُّ يَا لَلْأَنْصَارِ وَقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ

Berkata orang Anshor Ini – yaitu memanggil orang² Anshor _wahai orang² Anshor_
Berkata orang Muhajirin tadi – – _wahai orang² Muhajirin_

Jadi orang Anshor tadi memanggil kawan²nya dari golongan Anshor & orang Muhajirin memanggil kawan²nya Muhajirin,

فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

Maka Nabi ﷺ keluar (mungkin keluar dari kemah nya) kemudian beliau mengatakan

مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

kenapa kalian mengajak ajakan orang² ahli jahiliyyah karena mereka dahulu taasubnya bukan kepada agama Islām tapi taasubnya adalah kepada qobilah ya quraisy, ya fulan, qobilah fulan bin fulan yang mereka seru adalah bukan kepada Islām tapi taasub terhadap golongan-kesukuan

maka Nabi ﷺ ketika mendengar

يَا لَلْمُهَاجِرِينَ … يَا لَلْأَنْصَارِ

Beliau keluar & mengatakan kenapa kalian masih menyeru kepada seruan ahlu jahiliyyah, wala dan baro nya bukan kepada Islām

ثُمَّ قَالَ مَا شَأْنُهُمْ

Kemudian beliau menyebutkan tentang apa yang terjadi diantara mereka

فَأُخْبِرَ بِكَسْعَةِ الْمُهَاجِرِيِّ الْأَنْصَارِيَّ

Kemudian beliau dikabarkan tentang apa yang terjadi
(ada seorang Muhajirin dia memukul/menendang pantatnya seorang Anshor)

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ

Kemudian Nabi ﷺ mengatakan tinggalkan ini karena sesungguhnya adalah jelek (busuk). Maksudnya adalah ta’asub dengan selain Islām meskipun itu ta’asub terhadap Muhajirin & Anshor yang mereka adalah laqob² ini ada didalam Al Quran tapi kalau menggunakan laqob² tersebut Muhajirin & juga Anshor & menjadikan dia ta’asub bukan kepada Islām tapi kepada orangnya, kalau ta’asubnya terhadap Islām orang Anshor juga Islām orang Muhajirin juga Islām, kenapa dia memanggil Ya Ahlal Anshor/Muhajirin, berarti disini ta’asubnya bukan kepada Islām tapi kepada orangnya, karena sama² Muhajirin karena ta’asubnya dengan Muhajirin.

Kalau Taasubnya adalah benar yaitu Ta’asubnya adalah kepada Islām maka dia memandang juga Anshor karena Anshor juga Muslimin & juga sebaliknya. Maka dakwah seperti ini dakwah kepada selain Islām tapi kepada golongan kepada orang per orang selain Nabi ﷺ maka ini adalah dakwah jahiliyyah disifati oleh Nabi ﷺ

فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ

Ini adalah perkara yang jelek/busuk.

Didalam shahih Muslim

كن مع النبي صلى الله عليه وسلم في غزات

Ini adalah didalam sebuah peperangan

فكسع رجل من المهاجرين رجل من الأنصاري فقال الأنصاري يا للأنصار فقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ فقال رسول الله ﷺ ما بال دعوى الجاهلية

Kalau tadi

ما بال دعوى أهل الجاهلية
قالوا يا رسول الله كسع رجل من الْمُهَاجِرِين رجلا من الأنصار فقال دعوها فإنها منتنة فسمع بذلك عبد الله بن أبي فقال فعلوها أما والله لئن رجعنا إلى المدينته ليخرجن الأعز منها الأذل..

Itu adalah kisah yang sebenernya sebagaimana kisah ini diisyaratkan didalam nukilan syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Setelahnya.

Jadi lafadz (shahih Muslim)

ما بال دعوى الجاهلية

Di dalam shahih Bukhori

ما بال دعوى أهل الجاهلية

Tidak ada kalimat – وأنا بين أظهركم – mungkin disini beliau karena menukil dari ucapan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah & syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan – أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم؟ – akhirnya beliau mengikuti & khusnudzon terhadap syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang lafadz Ini, dan ini pentingnya kita (jika sebagai thulabul ilmu) maka jika Kita masih bisa kembali kepada nukilan yang ada didalam kitab asalnya itu lebih baik, karena disana terkadang pengarang menukil dengan makna mungkin benar mungkin salah.

Jadi kalau kita bisa kembali kepada asalnya maka ini lebih baik.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post navigation

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 45 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Ketiga

Halaqah 45 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Ketiga

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-45 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan,

وفي الصحيح:

Di dalam Ash-Shahih

من فارق الجماعة شبرا فمات فميتته جاهلية

_barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah_, memisahkan dari jamaah nya Rasulullāh ﷺ & juga para shahabatnya yang mereka berada diatas jalan yang lurus, _شبرا meskipun hanya sejengkal kemudian dia meninggal_
Dan tidak kembali ke jalan yang lurus tadi / tidak bergabung kembali kepada jamaah nya Rasulullāh ﷺ & juga para shahabat sebelum dia meninggal dunia, _فميتته جاهلية maka meninggalnya dia adalah (sifatnya) Jahiliah

Dan bukan berarti disini dia meninggal dalam keadaan kafir (diluar agama Islām), karena mufarroqotu jamaah sudah kita sebutkan ada bermacam², terkadang meninggalkan jamaah atau berpisah dengan jamaah meninggalkan atslul Islām / meninggalkan Islām yang merupakan jalan ini & dia adalah sesuatu yang membatalkan keIslāman nya maka meninggalnya disini adalah meninggal dalam keadaan kafir, kalau memang dia memisahkan dari jamaah tersebut dengan sesuatu yang membatalkan keIslāman.

Tapi kalau mufaroqoh nya disini / meninggalkan jamaah disini melakukan sesuatu yang tidak sampai membatalkan keIslāman dia, bid’ah yang tidak mukafiro atau kemaksiatan, kemudian dia meninggal dunia maka meninggalnya adalah meninggal Jahiliah tapi tidak sampai kepada keluar dari agama Islām.

Dan segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Jahiliah ini adalah perkara yang tercela karena dia adalah bertentangan dengan Islām & sesuatu yang bertentangan dengan Islām ada bermacam², ada yang memang bertentangan secara Ushul, Islām menyeru pengesaan kepada kepada Allāh ﷻ di dalam Ibadah kemudian Jahiliah menyeru kepada menyekutukan Allāh ﷻ, maka ini jelas bertentangan dengan fatslul Islām, ini mengeluarkan seseorang dari agama Islām. Tapi disana ada sesuatu yang bertentangan dengan agama Islām tetapi tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām, seperti kemaksiatan & juga bid’ah yang tidak mukafiro maka ini bukan sesuatu yang mengeluarkan seseorang dari agama Islām.

Syahidnya kenapa disini Beliau mendatangkan lafadz ini karena diantara bentuk mufaroqotul jamaah adalah memberikan nama kepada dirinya selain dengan nama yang sudah Allāh ﷻ berikan kepadanya, semuanya yang ada disini memberikan kepada mereka nama yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada mereka, muslimin mukminin ibadallāh.

Ternyata dia lebih memilih nama² yang lain selain nama muslimin mukminin ibadallāh, maka ini termasuk mufaroqotu Al Jamaah, karena seluruh jamaah yang ada disini jamaahnya Rasulullāh ﷺ & seluruh yang ada diatas jalan yang lurus nama mereka adalah nama yang Allāh ﷻ berikan kepada mereka.

Maka jika masih memilih nama yang lain, tidak kembali kepada Islām berarti dia termasuk orang yang mufaroqotu Al Jamaah, akibat nya jika dia meninggal dunia maka dia meninggal dunia dalam keadaan sifat kematiannya adalah sifat Jahiliah, Jadi sifat yang tercela dengan perincian yang tadi disebutkan, tapi disini jika hanya sekedar berbeda penisbatan kemudian pelanggaran yang ada di dalamnya (disana ada pelanggaran) tetapi tidak sampai mengeluarkan dia dari agama Islām maka jahiliah disini adalah jahiliah yang tidak sampai mengeluarkan dia dari agama Islām, tapi jika dia mengajak kepada nama selain Islām ditambah lagi ajaran yang ada di dalamnya yang dia seru adalah ajaran yang merupakan satu diantara pembatal keIslāman maka _mitatuhu Jahiliah_ jahiliah disini sampai maknanya mengeluarkan dia dari agama Islām.

Jadi jahiliah disini umum, bisa jahiliah yang mengeluarkan seseorang dari agama Islām bisa jahiliah tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām dan semuanya dinamakan dengan Jahiliah.

Misalnya menjadikan orang yang sholeh yang sudah meninggal sebagai perantara, termasuk pembatal keIslāman & dia termasuk perkara jahiliah. Ta’asub terhadap orang tua, suku, tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām, terkadang ada ta’asub terhadap kesukuan, ta’asub terhadap negaranya termasuk perkara jahiliah tetapi tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām.

Jadi jahiliah jangan langsung di pahami setiap yang jahiliah berarti mengeluarkan seseorang dari agama Islām, harus ada perincian disana.

Berarti disini ada ancaman yang lain yaitu meninggal dalam keadaan jahiliah & termasuk mufaroqotul jamaah adalah menamakan dirinya dengan selain Islām dan juga Iman selain hamba Allāh ﷻ.

Hadits Ini diriwayatkan Bukhori & juga Muslim dari Abdullah Ibnu abbas , di dalam shahih Muslim juga dari Abdullah Ibnu Abbas.

«مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً».

Dalam shahih Muslim

«مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فمِيتَةً جَاهِلِيَّةً».

Ini lafadz yang ada di shahih bukhori & Muslim, adapun disini disebutkan famitatuhu jahiliyatun & makna nya sama.

Kenapa beliau mendatangkan lafadz ini, makna mufaroqotu jamaah diantara bentuknya adalah memberikan nama dengan nama yang bukan diberikan oleh Allāh ﷻ, ini termasuk menyelisihi jamaah mereka semua menamakan diri dengan muslimin, mukminin ibadallāh tapi dia sendiri menisbahkan bukan kepada Islam, iman & juga Ibadallāh maka ini termasuk mufaroqotu jamaah yang ancamannya jika dia meninggal dunia maka mitatun jahiliyyah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Halaqah 44 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua Bag 03

Halaqah 44 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua Bag 03

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-44 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan bahwasanya Rasulullāh ﷺ bersabda

ومن دعا بدعوى الجاهلية فإنه من جثى جهنم

Dan barangsiapa yang menyeru dengan seruan jahiliah
Yang dimaksud dengan seruan jahiliah adalah seruan selain seruan kepada agama Islām. Islām & jahiliah ini adalah bertolak belakang satu dengan yang lain.

Segala sesuatu yang menyeru kepada sesuatu yang bertentangan dengan Islām dinamakan dengan Jahiliah, menyeru kepada selain Islām maka ini menyeru kepada Jahiliah.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ

Apakah mereka mencari hukum jahiliah

Jadi yg dimaksud dengan Jahiliah adalah segala sesuatu yang bertentangan dengan agama Islām, dakwah jahiliah berarti seruan untuk mengajak manusia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan agama Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

ومن دعا بدعوى الجاهلية

Barangsiapa yang menyeru kepada seruan jahiliah.

Diantaranya misalnya dia menisbahkan diri kepada sesuatu yang bukan kembali kepada Islām diantaranya adalah
Pertama, menyeru kepada sesuatu yang bertentangan dengan Islām, Islām mengajarkan kita beriman dengan Nama & sifat Allāh ﷻ kemudian dia menyeru kepada pengingkaran kepada Nama & juga Sifat Allāh ﷻ, Islām mengajarkan kita untuk tidak menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk kemudian dia menyeru kepada penyerupaan Nama dan sifat Allāh ﷻ terhadap makhluk

Maka ini masuk kedalam sabda Nabi ﷺ

فإنه من جثى جهنم

Dia termasuk جثى جهنم yaitu orang² yang masuk kedalam Jahanam

Dan ini adalah ancaman bagi orang yang menyeru kepada dakwah jahiliah, menyeru kepada sesuatu yang bertentangan dengan Islām.

Bisa maknanya kalau dia menyeru kepada sesuatu yang membatalkan keIslāman berarti جثى جهنم menjadi orang yang kafir & dia kekal di dalam neraka, tapi kalau yang dia seru dia adalah jahiliah bertentangan dengan agama Islām tetapi tidak sampai kepada pembatal keIslāman maka dia terancam dengan masuk kedalam Neraka, dan kalau dia seorang muslim maka dia kelak akan keluar dari Neraka dan akan masuk kedalam Surga.

Jadi جثى جهنم apakah dia kekal atau tidak kekal dilihat dari dakwah jahiliah yang dia serukan, apakah Jahiliah disini sampai membatalkan keIslāman dia atau tidak.

فقال رجل يا رسول الله: وإن صلى وصام؟

Maka seorang laki-laki mengatakan _Ya Rasulullāh, meskipun orang tersebut shalat & juga puasa?
Dia shalat, melakukan 5 shalat waktu, berpuasa di bulan Ramadhan tapi sayang diwaktu yang sama dia mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Islām.

قال: وإن صلى وصام،

Meskipun dia orang yang shalat & berpuasa

Menunjukkan bahwasanya disana terkadang ada orang yang secara dzhohir, shalat bersama kita melakukan shalat 5 waktu dan juga berpuasa di bulan Ramadhan tapi dia mengajak kepada aliran yang sesat, mengajak kepada kemaksiatan, kebidahan.

فادعوا بدعوى الله الذي سماكم

Maka hendaklah kalian mengajak / memanggil dengan panggilan Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ namakan kalian dengannya.

Berarti

ومن دعا بدعوى الجاهلية

Bisa juga diartikan _Barangsiapa yang memanggil dengan panggilan jahiliah_ bisa diartikan yang pertama menyeru kepada selain Islām atau yang kedua memanggil dengan panggilan selain agama Islām, panggilan jahiliah selain Islām, selain Iman, selain hamba Allāh ﷻ maka balasannya adalah dia termasuk jama’ahnya jahanam yaitu orang² yang masuk kedalam Jahanam.

Apa nama² yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kita, Al Muslimin wal Mu’minin Ibadallāh, diantaranya adalah muslimin atau orang² yang beriman atau hamba² Allāh ﷻ, atau mengatakan

يا عباد الله اوصيكم ونفسي بتقوى الله

atau mengatakan ayyuhal muslimin, ma’asyirol mu’minin dan seterusnya, kita memanggil mereka dengan nama² yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kita, ketika beliau mengatakan – فادعوا – maka ini adalah perintah & perintah asalnya adalah wajib, berarti wajib bagi kita untuk memberikan nama diri kita dengan nama yang sudah Allāh ﷻ berikan.

Kemudian yang sebelumnya ancaman orang yang menyeru dengan seruan jahiliah atau memanggil dengan panggilan jahiliah bukan dengan nama yang Allāh ﷻ berikan kepada kita bahwasanya dia adalah – من جثى جهنم – dan جثى artinya adalah jama’at, جثى جهنم maksudnya adalah jamaah nya jahanam. Ini menunjukkan tentang larangan menyeru dengan seruan jahiliah, memberi nama dengan nama² Jahiliah,

Apa yang dimaksud dengan nama² jahiliah : nama² dimana Wala dan Baro tidak kembali kepada Islām itu sendiri tapi kembali kepada negara, orang, kembali kepada organisasi, ormas, suku, itu dinamakan dengan دعوى الجاهلية bukan dakwah Islām.

Berarti hadits ini jelas menunjukkan kepada kita tentang bab yang disebutkan oleh muallif tentang celaan keluar dari dakwah Islām, keluar dari nama² Islām, ini adalah perkara yang diharamkan, wajib bagi kita untuk tetap berada di dalam nama Islām, jangan membuat nama² sendiri & ini adalah termasuk bagian dari menyerahkan diri kita kepada Allāh ﷻ.

Selain kita menyerahkan diri di dalam masalah aqidah, menyerahkan diri di dalam Ibadah, tidak beribadah kecuali dengan cara yang Allāh ﷻ ajarkan kepada kita melalui lisan Nabi Nya, menyerahkan diri dengan akhlak, demikian pula dengan masalah Nama, jangan kita mencari nama yang lain, kita mencukupkan diri dengan nama yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kita, Muslimin, mukminin, ibadallāh, kalau tidak demikian maka kita telah menyelisihi perintah Nabi ﷺ yang mengatakan

فادعوا بدعوى الله

Dan dikhawatirkan masuk kedalam ancaman Nabi

ومن دعا بدعوى الجاهلية فإنه من جثى جهنم.

Awalnya adalah dari nama yang tidak disyariatkan di dalam Islām akhirnya menyeret manusia kepada perkara yang lebih jauh dari itu, awalnya diawali dari sebuah nama yang tidak disyariatkan.

رواه أحمد والترمذي وقال: حديث حسن صحيح

Hadits ini diriwayatkan oleh imam Ahmad & juga ath Tirmidzi & dia adalah dikatakan oleh Al Imam ath Tirmidzi حديث حسن صحيح.
Syaikh Al Albani beliau menshahihkan hadits ini, Al Imam ath Tirmidzi mengatakan حديث حسن صحيح
.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 43 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua bag 02

Halaqah 43 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-43 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan bahwasanya Rasulullāh ﷺ bersabda

فإنه من فارق الجماعة قيد شبر

Ketika beliau menyebutkan tentang masalah Al Jamaah, perintah untuk kumpul & bersatu diatas Islām, maka beliau menyebutkan tentang ancaman orang yang memisahkan diri dari jama’ahnya Rasulullāh ﷺ yang mereka berkumpul diatas jalan yang satu

فإنه من فارق الجماعة قيد شبر

Karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah meskipun hanya sepanjang 1 jengkal

فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه

Sungguh dia telah melepaskan tali keIslāman dari lehernya

إلا أن يراجع

kecuali dia mau kembali

Yang dimaksud dengan – ربقة – asalnya adalah tali yang digunakan untuk mengikat unta & dengannya seseorang bisa mengatur unta tersebut, menyeretnya kemanapun kita inginkan, biasanya ada dileher unta atau yang semacamnya, ini dinamakan – ربقة – selama kita pegang tali tersebut Maka kita masih bisa mengatur dengan baik hewan tersebut tapi kalau kita lepas – ربقة – tadi yang ada pada leher hewan tadi maka dia akan pergi, berpisah dengan kita.

Maka barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah Nabi ﷺ meskipun hanya 1 jengkal maka sungguh dia telah melepaskan tali keIslāman dari lehernya, maka menunjukkan tentang peringatan dari memisahkan diri dari Jamaah Rasulullāh ﷺ.

Dan mufarroqoh disini ada 2 makna, mufarroqoh sampai dia meninggalkan ajaran Nabi ﷺ yang menjadikan dia keluar dari Islām seperti misalnya orang yang melakukan syirik yang besar atau melakukan 1 diantara pembatal² keIslāman, mufarroqoh jenis ini tentunya dia sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām

Tapi disana ada mufarroqoh yang tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām, seorang melakukan kebidahan ghoiro mukaffiro atau dia melakukan kemaksiatan maka ini termasuk jenis mufarroqoh tapi tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām.

Yang dimaksud dengan Jamaah adalah jama’ahnya Rasulullāh ﷺ, jangan kita maknai sendiri, kemudian menamakan jamaah kita adalah yang dimaksud di dalam hadits ini, membuat sebuah jamaah kemudian menganggap bahwasanya seluruh hadits yang disitu ada kalimat jamaah berarti itu adalah jamaah nya, barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah kemudian dia langsung menafsirkan jamaah kita ini berarti dia telah melepaskan ikatan Islām dari lehernya, kemudian mengkafirkan selain jama’ahnya. Jamaah yang ada di luar sana juga menganggap jamaah disini adalah jamaah mereka dan mereka juga mengeluarkan orang lain dari Islām karena tidak mengikuti jamaahnya mereka.

Dan pemahaman yang benar bahwasanya jama’ah disini adalah jama’ahnya Rasulullāh ﷺ yang mereka berada diatas jalan yang lurus, maka barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah tersebut sungguh dia telah melepaskan tali keIslāman dari lehernya & tali keIslāman disini mungkin yang dia lepaskan adalah Ushul diantara Ushul² Islām atau yang dia lepaskan dia adalah sesuatu yang merupakan kesempurnaan di dalam agama Islām bukan termasuk Ushul nya, karena Al Islām itu sendiri ada arkan dan dia memiliki furu’ nya. Kalau yang dia tinggalkan adalah satu diantara perkara yang merupakan Ushulul Islām kemudian dia melakukan 1 diantara pembatal² keislaman maka ini yang dia lepaskan adalah seluruh keIslāman itu sendiri, tapi kalau yang dia lepaskan adalah bagian dari Islām tetapi tidak sampai membatalkan keIslāman dia berarti yang dia lepaskan adalah bukan Ushulnya tapi adalah bagian dari Islām yang tidak sampai mengeluarkan dia dari agama Islām apabila dia melepaskan 1 unsur tadi.

إلا أن يراجع

Kecuali dia dalam keadaan mau bertaubat & kembali kepada Islām.

Mungkin kembali kepada Ushul Islām berarti dia kembali Muslim setelah murtadnya atau dia kembali menyempurnakan Islām, pokok Islām nya masih hanya ada kekurangan di dalam Islāmnya kemudian dia bertobat maka akan kembali sempurna lagi keIslāman dia yang sebelumnya berkurang dengan sebab kebidahan, dengan sebab kemaksiatan yang dia lakukan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 42 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua

Halaqah 42 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-42 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau rahimahullah mengatakan

عن الحارث الأشعري رضي الله عنه عن النبي ﷺ أنه قال: آمركم بخمس الله أمرني بهن السمع، والطاعة، والجهاد والهجرة، والجماعة. فإنه من فارق الجماعة قيد شبر فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه، إلا أن يراجع. ومن دعا بدعوى الجاهلية فإنه من جثى جهنم. فقال رجل يا رسول الله: وإن صلى وصام؟ قال: وإن صلى وصام، فادعوا بدعوى الله الذي سماكم المسلمين والمؤمنين عباد الله
رواه أحمد والترمذي وقال: حديث حسن صحيح

Dari Harits Al Asy’ari semoga Allāh ﷻ meridhoi beliau bahwasanya Rasulullāh ﷺ bersabda:

Aku memberi perintah pd kalian dengan 5 perkara yang Allāh ﷻ telah memerintahkan aku dengan 5 perkara tersebut,

Perkara yang pertama & kedua adalah mendengar & taat dan

ketiga berjihad, dan Allāh ﷻ juga memerintahkan diriku (dan ini adalah perintahku untuk kalian)

yang keempat yaitu untuk berhijrah &

Yang kelima adalah Al Jamaah,

maka barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah meskipun hanya 1 jengkal maka dia telah melepaskan ikatan Islām dari lehernya kecuali dia dalam keadaan mau bertaubat & kembali kepada Islām & barangsiapa yang menyeru dengan seruan jahiliyah maka dia termasuk جثى جهنم yaitu orang² yang masuk kedalam Jahanam

Maka seorang laki² mengatakan Ya Rasulullāh meskipun orang tersebut shalat & juga berpuasa? meskipun dia adalah orang yang shalat & berpuasa. Maka hendaklah kalian memanggil dengan panggilan Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ telah menanamkan kalian dengan panggilan tersebut, Al Muslimin wal Mu’minin Ibadallāh diantaranya adalah muslimin atau orang² yang beriman atau hamba² Allāh ﷻ.


Hadits ini diriwayatkan oleh imam Ahmad & juga ath Tirmidzi & dia adalah dikatakan oleh Al Imam ath Tirmidzi حديث حسن صحيح.
Syaikh Al Albani beliau menshahihkan hadits ini, Al Imam ath Tirmidzi mengatakan حديث حسن صحيح.

Beliau mengatakan

عن الحارث الأشعري رضي الله عنه

Dari Al-Harits Al Asy’ari رضي الله عنه

عن النبي ﷺ أنه قال قال: آمركم بخمس الله أمرني بهن:

aku memperingatkan kalian dengan 5 perkara & 5 perkara tadi Allāh ﷻ telah memerintahkan aku dengan 5 perkara tersebut_
Kemudian beliau sampaikan ini kepada umat beliau & ini menunjukkan tentang kedudukan 5 perkara tersebut, Allāh ﷻ perintahkan ini kepada Nabi-Nya & Allāh ﷻ juga perintahkan ini kepada umat-Nya.

السمع، والطاعة،

Perkara yang pertama & kedua adalah mendengar & taat.

Yang dimaksud adalah mendengar & taat kepada penguasa, ini menunjukkan tentang kedudukan – السمع، والطاعة – di dalam agama Islām, mendengar dan taat kepada penguasa didalam agama Islām, Allāh ﷻ yang memerintah kepada Nabi-Nya sebagaimana Allāh ﷻ memerintahkan kepada kita (Umat Nya) karena di dalam mendengar dan taat kepada pemerintah dan juga penguasa ini ada maslahat yang besar bagi rakyat, dan sebaliknya di dalam pemberontakan, tidak mendengar dan juga tidak taat kepada penguasa maka ini ada mudhorot bagi rakyat.

والجهاد

Dan berjihad

Maka Allāh ﷻ memerintahkan kepada Nabi-Nya sebagaimana Allāh ﷻ juga memerintahkan kepada umat beliau ﷺ, untuk berjihad fisabilillah, berjihad berperang fisabilillah dengan menggunakan harta & juga dengan jiwanya.

والهجرة والجماعة

Dan Allāh ﷻ juga memerintahkan kepada diriku & ini adalah perintah ku untuk kalian yaitu untuk berhijrah & sudah berlalu pengertian hijrah ketika membahas tentang Tsalatsatul Ushul, berpindah dari negeri kesyirikan menuju negeri Islām kalau memang disana ada sebabnya maka disyariatkan disana untuk berhijrah & sudah berlalu pembagian hukum hijrah menjadi 2, wajib & juga mustajab. والهجرة ini adalah perintah Allāh ﷻ kepada Nabi Nya dan dia juga adalah perintah Nabi ﷺ untuk kita semuanya.

والجماعة

Dan yang kelima adalah Al Jamaah.

Dan makna Al Jamaah adalah Al Ijtima, kita diperintahkan untuk bersatu & yang dimaksud adalah bersatu diatas Islām bersatu diatas kitabullah, ini adalah perintah Nabi ﷺ untuk kita semuanya diantaranya adalah perintah untuk berijtima/bersatu, berpegang dengan jamaahnya Rasulullāh ﷺ & tidak keluar dari jamaah beliau ﷺ, yang terdiri dari orang² yang berpegang teguh dengan agama beliau ﷺ, berpegang teguh dengan sunnah beliau ﷺ .

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 41 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Pertama Bag 02

Halaqah 41 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Pertama Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-41 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Allāh ﷻ telah menamakan kita & menamakan orang² sebelum kita yang mereka adalah orang² yang meng Esa kan Allāh ﷻ di dalam ibadah sebagai muslimin, maka cukupkan dengan nama tersebut, jangan kita memilih nama yang lain, karena Allāh ﷻ sudah memberi nama kita dengan nama tersebut .

Di dalam penamaan Allāh ﷻ tentunya disana adalah penanaman yang paling baik, Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan kita dengan nama tersebut & tidak sembarangan Allāh ﷻ memberikan nama. Oleh karena itu keluar dari nama ini yaitu nama Islām atau nama yang tidak kembali kepada makna Islām maka ini termasuk ketidaksempurnaan di dalam keislaman seseorang.

Bahkan memberi nama kita dengan Muslimin atau dengan nama yang kembali makna nya kepada Islām ini adalah hukumnya wajib. Tidak boleh seseorang keluar dari nama selain nama Islām, sebagaimana Allāh ﷻ telah menanamkan kita dengan Muslimin maka itulah yang kita jadikan nama, jangan kita keluar dari selain nama tersebut kemudian membuat nama² yang lain yang mubtadaah yang mungkin nama nya dilihat dari lafadz nya tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam agama Islām demikian pula isinya bahkan tidak sesuai & tidak mencerminkan agama Islām itu sendiri.

Seandainya seseorang yang diamalkan adalah amalan Islām dari awal hingga akhir tapi dia tidak memberikan nama kepada dirinya sendiri dengan nama yang Allāh ﷻ berikan, tidak kembali dengan makna Islām maka ini adalah perkara yang diharamkan. Apalagi selain nama & nisbah tidak sesuai dengan Islām & tidak kembali kepada nilai² Islām ternyata isinya juga bertentangan dengan agama Islām maka ini – ظلمات فوق زلمة (kegelapan diatas kegelapan) .

Jadi keharusan kita adalah isinya sesuai dengan Islām penamaannya juga harus sesuai dengan Islām, itu yang Allāh ﷻ inginkan dari kita. Jangan kita mencari nama yang lain, kita berikan kepada diri kita sesuai dengan nama yang Allāh ﷻ berikan kepada kita, muslimin, mukminin, ibadallah, orang-orang yang beriman atau orang² Islām atau hamba² Allāh ﷻ, ini semua kalau dilihat maka kembali kepada satu makna atau nama² yang lain yang kembali kepada nilai² Islām itu sendiri.

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا

Dia lah Allāh ﷻ yang telah menanamkan kalian dengan Muslimin, sebelum ini, yaitu yang ada di dalam kitab² sebelumnya Allāh ﷻ menamakan umat² sebelumnya adalah muslimin juga -وَفِي هَذَا – dan di dalam Al Qur’an ini Allāh ﷻ menamakan kita sebagai muslimin.

Maka ini adalah dalil tentang wajibnya menamakan diri sesuai dengan nama yang Allāh ﷻ berikan kepada kita, karena nama ini jelas ada pengaruhnya kepada diri seseorang & Allāh ﷻ sekali lagi memberikan nama kepada kita dengan Muslimin mukminin ibadallāh pasti disana ada hikmahnya.

Allāh ﷻ pilih diantara sekian banyak nama, kemudian Allāh ﷻ memilih nama² tersebut. Nama ini berpengaruh dengan kejiwaan, dengan amalan seseorang, ketika diberi nama dengan Muslimin & kita mengetahui dengan maknanya muslimin berarti menyerahkan diri, berarti kita sebagai seorang yang muslim harus menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ secara total, kami dinamakan dengan mukminin yaitu orang² yang beriman maka kalau orang yang beriman konsekuensinya adalah demikian & demikian, kita harus percaya, harus beramal, harus beriman dengan takdir, beriman dengan hari akhir & jika beriman kita harus beramal.

Atau dinamakan dengan ibadallāh berarti kita adalah hamba Allāh ﷻ, yang namanya hamba harus beribadah kepada Al Ma’bud, taat kepada-Nya bukan membangkang, membenarkan apa yang Dia ucapkan & bukan mendustakan apa yang Dia ucapkan, mengikuti Rasul yang Dia utus, bukan membangkang kepada Rasul yang Dia utus. Itu adalah pengaruh dari sebuah nama kepada kejiwaan seseorang.

Maka Allāh ﷻ memberikan nama kepada kita dengan muslimin, mukminin, ibadallāh, tentunya disana ada hikmah, ada pengaruh terhadap diri kita maka jangan kita mencari nama yang lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته