Tag Archives: Fadhul Islam

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 65 | Pembahasan Dalil Pertama QS An Nisa 48 dan 116

Halaqah 65 | Pembahasan Dalil Pertama QS An Nisa 48 dan 116

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-65 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.


Beliau disini membawakan beberapa dalil, yang menunjukan tentang apa yang beliau tetapkan/simpulkan bahwasanya bidah itu lebih dahsyat daripada dosa² besar.

Kalau yang dimaksud al Kabair disini adalah kabair makna yang khusus, kalau disebutkan bidah

البدعة أشد من الكبائر

Isyarat bahwasanya yang dimaksud al kabair adalah yang berada dibawah bidah yaitu kabair dengan makna khusus.

Mustaqim kah ( Bisa kah) Seandainya kabair disini kita bawa kepada makna umum?

_tidak bisa_

Bagaimana bidah lebih dahsyat daripada dosa² besar termasuk diantaranya adalah syirik, dalam hadits disebutkan bahwasanya syirik adalah

أعظم ذنبٍ إلا الله

dosa yang paling besar disisi Allah adalah kesyirikan.

Disini kita tau bahwa makna kabair disini adalah makna yang khusus (bukan makna yang umum).

Beliau mendatangkan dalil dari beberapa al Quran & juga beberapa dalil dari sunnah Nabi ﷺ, adapun dalil dari al Quran maka yang pertama beliau bawakan adalah firman Allāh

۞ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ

[QS An Nisa 48]

_Sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa syirik_

Ayat ini ayat yang pertama yang dibawakan oleh beliau beliau ingin tunjukan dengan ayat ini bahwasanya Bidah itu lebih besar daripada Al Kabair, ini perlu taamul yang demikian karena ayat disini berbicara tentang syirik padahal didalam bab ini yang beliau sebutkan hanya bidah dengan dosa² besar, didalam judul babnya tidak disebutkan tentang syirik, jika disebutkan didalam babnya (disebutkan ttg syirik)

أن الشرك أشد من الكبائر

Tepat kita mendatangkan firman Allāh

۞ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ

Itu jika babnya

باب ما جاء أن الشرك أشد من الكبائر

Itu jika kalimatnya syirik karena kita ingin menjelaskan bahwasanya syirik adalah yang paling besar sehingga dia tidak diampuni dosanya, adapun dosa² besar yang lain masih

۞ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ

Yang disebutkan ayat ini adalah syirik kemudian yang kedua adalah yang ada dibawah syirik, Bidah & juga Kabair, itulah yang ada dibawah syirik. Berarti yang beliau sebutkan disini adalah syirik & apa yang ada dibawah syirik.

Lalu kenapa beliau disini mendatangkan ayat ini, padahal disini perbandingannya antara syirik dengan apa yang ada bawah syirik & apa yang ada dibawah syirik masuk didalamnya bidah & juga kabair, kalau yang dibandingkan adalah syirik dengan apa yang ada didalamnya ini jelas, kalau disini beliau mendatangkan ayat ini dengan bab

ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر

Bidah itu lebih dahsyat daripada dosa besar.

Maka sebagian syuro menjelaskan bahwasanya bidah kalau tadi kita lihat disini urutannya syirik, bidah dengan kabair maka dia memiliki sifat yang menjadikan dia lebih dekat kepada syirik daripada kepada dosa² besar.

Apa diantara kesamaannya?

Disebutkan bahwasanya diantara kesamaanya bahwasanya orang yang melakukan syirik ketika dia melakukan syirik niatnya adalah ibadah, seseorang melakukan sesuatu didepan patung Yesus misalnya ketika dia melakukan kesyirikan niat nya adalah ibadah & makna ini ada juga didalam bidah kalau orang yang melakukan bidah niatnya ingin beribadah.

Adapun Kabair ketika dia melakukan dosa besar tadi (orang yang melakukan kabair) niatnya bukan ibadah, dia memahami & mengetahui bahwasanya itu adalah dosa, dia melacur, minum²an keras tidak ada niat ibadah dia tau kalau itu dosa, berbeda dengan bidah maka niat orang yang melakukannya adalah ibadah & ini makna juga ada didalam orang yang melakukan kesyirikan sehingga dari sisi ini bidah lebih dekat & memiliki persamaan dari kesyirikan dari sisi lain orang yang melakukan bidah seakan² dia telah menjadikan dirinya sebagai musyariq, menjadikan dirinya yang mensyariatkan dia menentukan ini disunnahkan, ini diwajibkan, ini disyariatkan itu adalah orang yang mubtadi atau orang yang melakukan bidah & orang yang melakukan demikian berarti dia telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Tauhid masuk didalam Tauhid al Uluhiyyah yaitu mengEsakan Allāh didalam masalah hukum syar’i, sebagaimana disebutkan oleh syaikh Abdul Muhsin didalam beliau membantah sebagian jamaah yang mereka menambah didalam bagian Tauhid dengan Tauhid al Hakimiyyah.

Beliau mengatakan bahwasanya tidak perlu menambah dengan Tauhid al Hakimiyyah karena al Hakimiyyah disini Hukum disini ada 2 bisa artinya Hukum Syar’i atau hukum kauni, kalau dia Hukum Kauni maka ini masuk didalam Tauhid Rububiyyah, hukum Kauni maksudnya adalah diciptakannya alam, hidup & meninggal, digerakkannya Matahari dst, maka ini adalah hukum kauni, kita Esakan Allāh didalam hukum kauni berarti ini masuk didalam Rububiyyah, tapi kalau masuk didalam hukum yang Syar’i maka ini masuk didalam Tauhid al Uluhiyyah.

Orang yang melakukan Bidah berarti dia bertentangan dengan Tauhid al Uluhiyyah sehingga dia digabungkan disamakan dengan kesyirikan lebih dekat kepada syirik daripada kepada kabair, sehingga beliau mendatangkan ayat ini

۞ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Bidah ini lebih dekat kepada kesyirikan daripada kabair, karena masing-masing dari syirik maupun bidah itu adalah ingin bertaqarub kepada Allāh , ingin beribadah kepada Allāh.

Dari sisi ini menunjukkan bahwasanya Bidah itu lebih Asyad daripada Kabair, lebih dahsyat lebih besar dosanya daripada dosa² yang besar karena sama² pelakunya melakukan bidah maupun kesyirikan & niatnya adalah bertaqarub kepada Allāh ajja wa jalla, itu adalah sebab kenapa beliau mendatangkan ayat ini ingin menunjukan kepada kita bahwasanya bidah ini lebih dekat kesyirikan daripada dosa besar.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 WAJIBNYA MASUK KE DALAM ISLAM SECARA TOTAL DAN MENINGGALKAN SELAINNYA- Halaqah 64 | Penjelasan Umum Bab Bag 03

Halaqah 64 | Penjelasan Umum Bab Bag 03

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-64 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

أشد من الكبائر

Dia lebih dahsyat/ besar dosanya daripada dosa² besar.

Al Kabair jama’ dari kadziroh, yang dimaksud adalah dosa² yang besar, terkadang maknanya adalah makna yang umum masuk masuk seluruhnya seluruh dosa² yang besar baik dosa² yang tidak mengeluarkan seseorang dari agama Islām maupun dosa² yang sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām, terkadang makna kabair adalah sesuatu yang umum seluruh dosa besar baik yang tidak mengeluarkan maupun mengeluarkan dari agama Islām.

Dari sisi ini berarti syirik termasuk Kabair, ini kabair secara makna yang umum, bid’ah termasuk dosa besar Rasulullah ﷺ bersabda

ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْكَبَائِرَ، أَوْ سُئِلَ عَنِ الْكَبَائِرِ

Nabi ﷺ ditanya tentang dosa besar, kemudian beliau menyebutkan

فَقَالَ ‏”‏ الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَقَتْلُ النَّفْسِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

_syirik kepada Allāh, membunuh jiwa & juga durhaka kepada kedua orangtua

Al Kabair disini makna yang umum, buktinya disebutkan disini – الشِّرْكُ بِاللَّهِ – berarti disini disebutkan didalam hadits ini adalah kabair dengan makna yang umum masuk didalamnya kesyirikan.

Ada makna Kabair yang lebih khusus yaitu dosa² besar dibawah kesyirikan & juga bidah, seluruh dosa besar dibawah bidah & kesyirikan ini dinamakan dengan al Kabair. Urutannya yang tertinggi adalah syirik kemudian yg kedua adalah bidah kemudian yang ketiga adalah kabair, yang paling besar dosanya adalah syirik kemudian urutan yang kedua adalah bidah kemudian yang ketiga adalah Kabair. Kabair didoni adalah makna khusus yaitu seluruh dosa besar dibawah syirik & dibawah bidah itu dinamakan dengan kabair.

Oleh karena itu jangan ada yang mengatakan syirik itu dosa besar, yang kita pakai ini adalah kabair makna yang khusus yaitu dosa² besar dibawah syirik & juga bidah, adapun yang ada dalam hadits tadi maka itu adalah kabair dengan makna yang umum masuk didalamnya syirik & juga bidah.

Pengertian kabair adalah seluruh dosa yang diancam yang pertama dengan laknat atau diancam dengan Neraka, disebutkan ancaman neraka secara khusus atau hukuman didunia contoh laknat misalnya meratap ada ancaman laknat disana, atau menyerupai lawan jenis seorang wanita yang berdandan seperti laki² atau sebaliknya, ancaman dengan Neraka seperti Isbal, hukuman didunia seperti mencuri dipotong kemudian membunuh tanpa hak, berzina baik yang mukhson ataupun uang bukan kedua²nya mendapatkan hukuman didunia.

Bagaimana para ulama bisa mengarang al Kabair seperti adzahabi adalah dengan Qoidah ini tathabu, istiqro ayat & juga hadits yang isinya adalah tentang ancaman dari sebuah dosa, jika itu disebutkan disana laknat atau hukuman dengan Neraka, hukuman didunia maka ini termasuk dosa besar, manakah yang lebih besar dosanya bidah atau al Kabair inilah yang ingin beliau sebutkan disini.

Akibat seseorang tidak pasrah didalam masalah tata cara beribadah & dia kelakuan didalam agama maka dia terjerumus kedalam sebuah dosa yang besar bahkan dia lebih besar daripada dosa² besar, kita tau bahwasanya dosa² besar didalamnya ada membunuh ternyata orang yang melakukan bidah lebih besar dosanya daripada orang yang berzina & kita tau bagaimana hukuman zina & bagaimana besar dosanya sampai orang yang mukhson Kalau dia berzina maka dia dihalalkan darahnya di rajam sampai dia meninggal dunia adapun orang yang belum pernah menikah yang syari maka dia dicambuk kemudian dia di asingkan selama 1 tahun.

Kalau berzinanya 2 kali mana yang lebih besar dosa bidahnya atau zinahnya? Tetap bidah. Kalau berzinanya 3 kali tetap bidah lebih besar, seandainya dia berzina 10 kali maka tetap besar dosa bidah ini menunjukan tentang bahayanya melakukan bidah bahayanya tidak kaafah didalam Islām, tidak pasrah didalam masalah tata cara ibadah sampai dosa tersebut lebih besar daripada dosa kabair membunuh kalau kabair itu sudah menghancurkan seseorang mengurangi keimanannya & bisa menghancurkan kehidupan seseorang lalu bagaimana dengan bidah yang dia dosa nya lebih besar daripada dosa² besar tadi.

Tentunya ini adalah menunjukan tentang betapa bahayanya bidah betapa bahayanya orang yang tidak pasrah didalam masalah tata cara Ibadah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 08: Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total Dan Meninggalkan Selainnya – Halaqah 63 | Penjelasan Umum Bab Bag 02

Halaqah 63 | Penjelasan Umum Bab Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-63 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Yang dimaksud dengan bid’ah sebagaimana diterangkan oleh al Imam Asy Syatibi rahimahullah didalam beliau (al Itishob), beliau menyebutkan bahwasanya yang dimaksud dengan bidah adalah:

عبارة عن طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه الله و تعالى

Yang dimaksud dengan Bidah adalah sebuah jalan / cara didalam agama,

Ucapan beliau _didalam agama_ keluar darinya jalan didalam urusan dunia. Masalah Dunia, Listrik microphon, internet dll, ini bukan pembahasan kita.

طريقة في الدين

Sebuah jalan didalam agama/ibadah – مخترعة – dan dia Adalah sesuatu yang baru tidak pernah diajarkan oleh agama Islām yang Murni, tidak ada dalilnya didalam al Quran, tidak ada dalilnya didalani as Sunnah – تضاهي الشرعية – dan dia menyerupai sesuatu masyruk sesuatu yang disyariatkan sehingga orang yang jahil karena dia menyerupai syariatkan menyangka bahwasanya itu adalah bagian dari agama.

Contoh, di dalam agama kita ada disyariatkan seseorang untuk memperbanyak dzikir kemudian ada orang yang membuat tata cara beribadah yang secara dhohir seakan² dia adalah sesuatu yang disyariatkan, kita baca لا إله إلا الله misalnya 1000 kali.

Hampir mirip dengan syariat, dari lafadznya kemudian disana juga disebutkan ketentuan jumlahnya, karena terkadang didalam hadits Nabi ﷺ menyebutkan jumlah, membaca tasbih 33X Tahmid 33X , takbir 33X (setelah shalat) disebutkan disana jumlah, ada sebagian orang mendatangkan lafadznya kemudian mendatangkan jumlahnya tapi dia ganti bilangan, diganti waktunya, kalau tadi setelah shalat dia tambah dengan membaca-لا إله إلا الله

1000X setelah pertengahan malam, orang jahil mendengar seperti itu dia menyangka ini bagian dari syariat karena mirip lafadznya, kemudian disitu disebutkan tentang jumlahnya.

تضاهي الشرعية

Dia serupa / mirip dengan syariat tetapi tidak memiliki dalil yang shahih didalam agama ini.

يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه الله و تعالى

Dimaksudkan menempuh jalan ini yaitu menempuh Toriqoh / cara ini tujuannya adalah untuk – المبالغة – berlebih²an didalam beribadah kepada Allāh, ingin lebih & ingin ghuluw didalam beribadah kepada Allāh.

Jadi tujuan dibuatnya jalan yang baru ini adalah ingin tambah didalam beribadah kepada Allāh.

Itu adalah pengertian bidah secara syariat adapun secara bahasa jelaa bahwasanya bidah ini adalah sesuatu yang baru, segala sesuatu yang baru dinamakan dengan bidah, maka Listrik bidah menurut bahasa, internet bidah menurut bahasa, adapun secara syariat maka hanya berkaitan dengan agama berkaitan dengan ibadah, ditempuh jalan tadi dengan tujuan untuk beribadah kepada Allāh subhanahua wa Taalā, itu adalah pengertian bidah secara syariat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Bab 08 : Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid’ah termasuk Dosa Besar yang Paling Dahsyat – Halaqah 62 | Penjelasan Umum Bab

Halaqah 62 | Penjelasan Umum Bab

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-62 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.

قال رحمه اللّٰه : (باب) ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر

“Bab apa-apa yang datang berupa penjelasan, berupa dalīl yang menjelaskan bahwasanya bid’ah, ini lebih keras, lebih besar dosanya daripada Al-Kabāir”

Di dalam bab ini beliau ingin menjelaskan kepada kita (masih temanya) tentang masalah Islām.

Kitāb ini berbicara tentang keutamaan Islām, kewajiban Islām, Intisab kepada Islām, kewajiban untuk kaffah di dalam Islām.

Beliau ingin menjelaskan di sini, satu di antara bentuk keislāman kita, adalah pasrah kepada Allāh di dalam masalah tata cara beribadah (ini juga bagian dari Islām).

Orang yang sudah tunduk kepada Allāh dengan bertauhīd, maka di antara ketundukkan dia adalah tunduk di dalam masalah tata cara beribadah. Bukan hanya sekedar tunduk kepada Allāh dalam hal tauhīd saja, sehingga dia tidak menyembah kepada selain Allāh bersama Allāh, tapi dia juga menyerahkan diri di dalam masalah tata caranya.

“Ya Allāh, ana pasrah, semua ibadah ana serahkan kepada diri-Mu dan tata caranya juga ana serahkan kepada diri-Mu, ana ikut dan ana taat”.

Pasrah kepada Allāh termasuk di antaranya adalah dalam tata cara beribadah.

Dan beliau ingin menunjukkan bahwasanya orang yang tidak demikian, berarti masih ada kekurangan di dalam keIslāmannya, berarti dia belum sempurna keIslāmannya, belum benar-benar pasrah kepada Allāh, masih mengikuti hawa nafsunya, menganggap bahwasanya apa yang dia lakukan itu lebih baik daripada yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Ini adalah termasuk ketidak sempurnaan Islām seseorang. Dan Ahlus Sunnah wal Jamā’ah sebagaimana sudah kita sampaikan, mereka adalah orang-orang yang memiliki bagian yang besar di dalam masalah Islām ini.

Bukan hanya sekedar tauhīd yang mereka perjuangkan (yang mereka amalkan), tetapi mereka juga berusaha bagaimana amalan yang mereka lakukan ini bukan amalan yang bid’ah, tapi dia adalah amalan yang sunnah (sesuai dengan sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Dan di dalam bab ini, ada makna bukan hanya sekedar penjelasan dan isyarat bahwasanya bid’ah ini bukan termasuk Islām.

Jadi, kenapa di sini beliau berbicara tentang bid’ah?

Ingin menjelaskan bahwasanya bid’ah ini bukan termasuk Islām, dan orang yang melakukan bid’ah berarti dia memiliki kekurangan di dalam keIslāmannya.

Dan kesempurnaan Islām seseorang adalah ketika dia meninggalkan bid’ah-bid’ah dan berpegang teguh dengan sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Seandainya antum ditanya, “apa hubungan antara bab ini dengan keIslāman?”

Jadi, kesempurnaan Islām seseorang di antaranya adalah pasrah, menyerahkan diri di dalam tata cara beribadah.

Dan orang yang melakukan bid’ah, ini bertentangan dengan pasrah tadi, karena dia masih melakukan bid’ah, melakukan ibadah bukan dengan tata cara Islām yang dibawa oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, tapi dengan cara yang lain.

Dan di sini beliau ingin memasukkan makna yang lebih daripada itu, bahwasanya bid’ah ini, ternyata dia lebih dahsyat, lebih keras, lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar.

Berarti :

⑴ Yang pertama, tujuannya ingin menjelaskan bahwasanya bid’ah ini bukan dari Islām dan bahwasanya orang yang melakukan bid’ah adalah orang yang kurang keIslāman-nya.

⑵ Kemudian, juga ingin menjelaskan bahwasanya bid’ah ini ternyata berbahaya, bahkan dia lebih berbahaya daripada dosa-dosa besar.

Akibat seseorang tidak Islām secara kaffah dan masih mengikuti hawa nafsunya, kemudian melakukan bid’ah di dalam agama, maka dia terjerumus ke dalam sebuah dosa, yang dia lebih besar daripada dosa-dosa besar.

Ini adalah hubungan antara bab ini dengan Islām itu sendiri.

Thayyib.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, semoga bermanfaat, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهPost

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 07: Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total Dan Meninggalkan Selainnya – Halaqah 61 | Pembahasan Dalil Keenam Dan Ketujuh

Halaqah 61 | Pembahasan Dalil Keenam dan Ketujuh

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-61 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau menyebutkan hadits yang merupakan dalil atas kewajiban masuk kedalam Islām secara kaffah,

وهو في حديث معاوية (عند) أحمد وأبي داود

Dan dia adalah didalam hadits Muawiyyah, ada didalam Musnad Imam Ahmad & Abu Daud

وفيه:

Didalamnya ada tambahan,

أنه سيخرج من أمتي قوم تتجارى بهم الأهواء

Akan keluar diantara umatku,

Didalamnya mereka ini masih umat Islām yang iftiroq, apa sifatnya?

قوم تتجارى بهم الأهواء

Ternyata masih mengalir – تتجارى – hawa nafsu, sehingga dengan hawa nafsu tadi akhirnya mereka melaksanakan Islām dengan memisah² tadi, yang sesuai dengan hawa nafsunya diambil, dia tinggalkan Islām, adapun yang sesuai dengan hawa nafsunya dia amalkan, yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya maka dia tinggalkan, inilah memisah² agama.

Adapun Ahlu sunnah tidak mengikuti hawa nafsunya, justru hawa nafsunya mereka tundukan kepada Islām yang mereka pasrahkan semuanya kepada Allāh & mereka tidak mengikuti hawa nafsunya,

كما يتجارى الكَلَب بصاحبه،

Sebagaimana penyakit Rabies itu menjalar kepada orangnya,

Kalau sudah masuk kedalam jasad seseorang maka penyakit tadi maka itu akan segera menjalar kepada dirinya

فلا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله

Maka tidak akan tersisa dari jasadnya baik berupa urat ataupun sendi²nya yang ada didalam dirinya kecuali disitu ada virusnya.

Sehingga dia mudah mengikuti hawa nafsunya, yang sesuai dengan hawa nafsunya dia laksanakan, yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya maka dia tinggalkan.

Ini menunjukan faedah tentang kenapa sebab mereka memisah²kan agama tadi karena disini ada perang hawa nafsu & hawa nafsu bertentangan dengan Islām, Islām menyerahkan diri,, adapun hawa nafsu berarti masih mengikuti hawa nafsunya bukan lagi Islām menyerahkan diri kepada Allāh

وتقدم قوله: ومبتغ في الإسلام سنة جاهلية.

Sudah berlalu didalam bab ketika beliau menyebutkan

Diantaranya adalah orang yang mencari didalam Islām sunnah jahiliyyah, sudah kita sebutkan maknanya, sudah masuk Islām,, sudah diberi hidayah kepada Islām.. kepada cahaya ini,, kepada sesuatu yang terang benderang ini,, tetapi dia masih mencari sunnah jahiliyyah,, masih mengikuti hawa nafsunya.

Berarti disini dia – مبتغ إلإسلام – orang Islām ada sebagian yang dia amalkan sebagai seorang Muslim, tetapi ternyata masih mubtaghin, masih mencari² sunnah jahiliyyah berarti tidak sempurna / tidak kaafah didalam Islāmnya – مبتغ إلإسلام – berarti dia seorang Muslim tapi dia masih mencari sunnah jahiliyyah, sunnah yang bertentangan dengan Islām, sudah kita sebutkan bahwa makna Jahiliyyah adalah sesuatu yang bertentangan dengan Islām, berarti ada sebagian Islām yang diamalkan ada sebagian yang tidak dia amalkan, berarti disini memisah² agamanya.

Beliau datangkan kembali dalil ini karena dia juga mengisyaratkan bab ini yaitu wajibnya masuk Islām secara keseluruhan.

Bagaimana cara berdalil dengan hadits ini, jangan sampai memisah² agama,, sudah diberikan hidayah kepada Islām tapi mencari selain Islām & selain Islām dinamakan Jahiliyyah.

Maka ketika Nabi ﷺ mengabarkan ini adalah bentuk sesuatu yang dimurkai oleh Allāh menunjukan bahwasana memisah²kan agama adalah sesuatu yang dibenci oleh Allāh, menunjukan tentang wajibnya masuk Islām secara kaffah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 07 – Halaqah 60 | Komentar Muallif Kitab Terhadap Dalil Kelima Hadits Dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu

Halaqah 60 | Komentar Muallif Kitab Terhadap Dalil Kelima Hadits Dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-60 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mendatangkan ucapan beliau disini dan ini jarang syaikh mengucapkan ucapan dari diri beliau sendiri biasanya Qur’an-Hadits-atsar² & jarang sekali didalam kitab ini beliau mendatangkan dari ucapan beliau, Syaikah mengatakan,

وليتأمل المؤمن

Maka hendaklah orang yang beriman memperhatikan/merenungkan,

الذي يرجو لقاء الله

Seorang yang beriman yang dia mengharapkan pertemuan dengan Allāh.

Karena tentunya dia tidak ingin masuk kedalam – كلهم في النار – tidak ingin bertemu dengan Allāh kemudian akhirnya dia masuk kedalam Neraka, orang yang mengharapkan bertemu dengan Allāh maksudnya adalah mengharap bertemu dengan Allah dalam keadaan baik, diridhoi oleh Allāh akhirnya masuk kedalam Surga.

Maka hendaklah orang yang mengharap pertemuan dengan Allāh memperhatikan ucapan

كلام الصادق الصدوق في هذا المقام،

Mendengar ucapan ashodiqil Masdhuq (Rasulullah ﷺ) & ucapan ini (penyebutan ashodiqil Masdhuq) Ash nya kalau kita sebutkan ketika beliau menyebutkan tentang Al Ikhbar bil ghoib/ kabar perkara yang ghoib, maka kita katakan – قال الصادق الصدوق – sebagaimana Abdullah Ibnu Mas’ud ketika menyebutkan tentang

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَاً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ

Beliau mengatakan ashodiqil Masdhuq karena akan menyebutkan hadits yang didalamnya ada penyebutan Al Ikhbar bil ghoib, karena ada sebagian mungkin maknanya benar tetapi kurang tepat, menyebutkan tentang sebuah hadits tidak ada disitu kabar tentang ghoib yang misalnya

(لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ -إذَا أَحْدَثَ- حَتَّى يَتَوَضَّأَ)

misalnya

قال الصادق الصدوق لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ

Ini kurang pas, meskipun maknanya benar – الصادق الصدوق – maksudnya Rasulullah ﷺ, karena makna ashodiqil Masdhuq adalah yang Jujur & dijujuri, yang benar & dia dibenarkan oleh yang lain atau tidak dibohongi oleh yang lain karena Nabi ﷺ beliau benar didalam ucapan beliau ﷺ.

Dan Jibril ketika mengabarkan kepada beliau khabar ini beliau juga shodaq, kabar ini dari Allāh, kemudian disampaikan Jibril & disampaikan kepada Nabi Muhammad ﷺ, Jibril ketika mengabarkan kepada Nabi (Shodaq) dia jujur didalam menyampaikan & ruhul amin (Ruh yang amanah) dia sampaikan secara jujur kepada Nabi ﷺ, berarti disini yang shidiq Jibril mengabarkan kepada Nabi Muhammad,
Shodiq : Jibril
Masdhuq : Rasulullah ﷺ.

Berarti Jibril Shadaqo Rosul maksudnya jujur kepada Rasul, maka beliau adalah mashduq.

Ketika Nabi mengabarkan kepada para Shahabat
Shidiq: Rasulullah ﷺ
Masdhuq : Para shahabat

Berarti Nabi ﷺ beliau adalah shoddiq sekaligus mashduq, ketika beliau berbicara shodiq ketika beliau dikabarkan oleh Jibril maka beliau adalah mashduq.

Dari sini beliau mengatakan ashiduqul mashduq disini ada ikhbarul bil ghoib

وتفترق هذه الأمة

Umat ini akan berpecah belah, oleh sebab itu tepat sekali beliau menggunakan kalimat ashidiqu mashduq

خصوصا قوله:

Khususnya ucapan beliau ﷺ

ما أنا عليه اليوم وأصحابي.

Apa yang aku berada diatasnya hari ini & juga para shahabatku.

Kita artikan Islām, Islām itulah yang ada diatasnya Nabi ﷺ, demikian pula para Shahabat mereka berpegang teguh dengan Islām yang murni secara kaffah

Perhatikan & renungi ucapan ini, ini adalah isyarat tentang kewajiban untuk melakukan Islām, karena manhaj Nabi ﷺ & para shahabat saat itu bukan memisah² agama tetapi Islām secara keseluruhan itulah yang dilakukan oleh Nabi & juga para Shahabatnya

يا لها من موعظةٍ

Ini adalah Nasehat yang sangat besar

لو وافقت من القلوب حياة

Seandainya موعظةٍ ini mengenai kehidupan dari hati-hati

Maksudnya adalah seandainya موعظةٍ yang sangat besar dari Nabi ﷺ ini menemui/jatuh didalam hati yang memiliki kehidupan, hati yang memang ingin dia selamat, yang masih hidup hatinya masih memiliki semangat untuk selamat di akhirat ingin bertemu Allāh dalam keadaan baik.

Mendengar hadits/ucapan ini maka dia akan terkena didalam hati tersebut, berarti kita harus mengikuti Islām yang dibawa oleh Nabi & juga para sahabat nya, Islām yang murni sebelum ada aliran² ini semuanya, khowarij, tidak ada dizaman tersebut, Qodariah Jabariah baru datang setelahnya, aliran² yang lain itu bukan termasuk

ما أنا عليه اليوم وأصحابي

Maka orang yang hidup hatinya akan meninggalkan aliran² tadi & berpegang teguh dengan Islām & masuk kedalam Islām secara keseluruhan sebagaimana dilakukan oleh Nabi ﷺ.

رواه الترمذي. ورواه أيضا من حديث أبي هريرة وصححه

Dan beliau menshahihkannya berarti didalam sunan ath Tirmidzi juga ada hadits Abu Hurairah, didalam hadits Abu Hurairah tidak ada lafadz

ما أنا عليه وأصحابي.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 7-Halaqah 59 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu Bag 03

Halaqah 59 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu Bag 03

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-59 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

وَسَتْفَتِرقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً

Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.

Dan sungguh umat Islam ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan.

Firqoh sama dengan millah, jalan, aliran. Sebagaimana orang-orang Bani Israil juga berpecah-belah, maka umat ini akan berpecah belah. Dan ini menunjukkan tentang kenabian Shallallâhu Alaihi Wasallam, mengabarkan sesuatu yang belum terjadi. Karena sesuatu yang ghoib, Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dialah saja yang mengetahuinya. Aalimul ghoib. Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib, maksudnya adalah ghoib yang mutlak yang terjadi di masa yang akan datang. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menampakkan ilmu yang ghoib tadi kecuali kepada sebagian makhluk-Nya dan mereka adalah para rasul.

{عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا}

[الجن : 26]

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu).

Allah tidak menampakkan ilmu yang ghoib tadi kepada siapapun kecuali orang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridhoi di antara para rasul.

Jadi di antara manusia, di antara makhluk yang dikabarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang ilmu ghoib adalah para rasul saja. Itupun hanya sebagian saja, bukan semuanya. Sampai Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam menafikan dari dirinya ilmu ghoib ini. Lalu bagaimana dengan yang lain?

كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً

Semuanya 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu.

Kenapa mereka masuk ke dalam neraka?

Sebabnya adalah karena mereka iftiroq, berpecah-belah. Kenapa mereka berpecah belah? Karena mereka memisah-misahkan agamanya. Ancamannya adalah masuk ke dalam neraka, dan maksud dari masuk ke dalam neraka ini bukan masuk ke dalam neraka selamanya sebagaimana orang-orang kafir, tidak. Karena beliau berbicara di sini tentang umatnya. Hadzihil umah, maksudnya adalah umat ijabah. Yaitu umat beliau Shallallâhu Alaihi Wasallam. Sehingga masuk kulliha finnnar bukan kholidina fiiha, bukan kekal di dalamnya. Tapi maksudnya di sini adalah tahta masyiatillah, mereka di bawah kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kalau Allah menghendaki diazab dengan sebab mereka memisah-misahkan agamanya tadi. Dan kalau Allah menghendaki Allah ampuni yang demikian.

Sehingga tidak diazab dengan sebab iftiroq, yaitu memisah-misahkan agama tadi. Dan kalau ada di antara mereka yang tidak diampuni karena memisah-misahkan agama tadi, kemudian diazab di dalam neraka, maka itu hanya sementara dan kelak dia akan masuk ke dalam surga.

إِلاَّ وَاحِدَةً

Kecuali satu golongan saja.

Siapa satu golongan tadi? Mereka adalah Ahlussunnah, yang mereka kaffah di dalam Islamnya. Maka merekalah yang selamat dari ancaman neraka tadi.

Hadits ini menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam Islam secara keseluruhan. Di sini disebutkan, di antara hal yang menjadikan sebab seseorang masuk ke dalam neraka adalah karena berpecah-belah. Mengapa? Karena mereka berkelompok-kelompok, beraliran-aliran, karena mereka memisah-misahkan agamanya.

Sebagaimana dalam ayat :

{إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ}

[الأنعام : 159]

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.

Ini menunjukkan bahwasanya memisah-misah agama dilarang. Karena ada ancaman dan menunjukkan tentang wajibnya tidak memisah-misahkan. Yaitu masuk Islam secara keseluruhan, sebagaimana Ahlussunnah Wal jamaah.

Islam secara keseluruhan, tidak memisah-misahkan agama. Dalam masalah akidah, akhlak, ibadah, dakwah, imamah, semuanya kita menggunakan Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam.

Kemudian para sahabat mengatakan :

قَالُوا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Ya Rasulullah, siapakah golongan yang satu ini?

Yaitu Illa Wahidah tadi Ya Rasulullah?

Maka para sahabat yang mereka menginginkan keselamatan, bertanya kepada Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam dan tidak diundur. Karena ini pertanyaan yang penting, masing-masing dari mereka ingin masuk ke dalam yang wahidah tadi. Dan tidak ingin masuk di dalam yang terancam dengan neraka tadi.

Sehingga qooluu, bukan hanya 1 orang, mereka bertanya man hiya ya Rasulullah?

Siapa kelompok ini ya Rasulullah?

Para sahabat bertanya untuk mengamalkan apa yang mereka tanyakan, bukan sekedar bertanya dan menambah ilmu, menambah pengetahuan, tidak. Tapi ingin mengamalkan. Semangat hatinya untuk bertanya, sehingga timbul dari mereka pertanyaan-pertanyaan yang memang bermanfaat.

قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم وَأَصْحَابِي

Yang dimaksud dengan kelompok tadi adalah kelompok yang berpegangan dengan apa yang aku berada di atasnya hari ini.

Alyaum yang diucapkan oleh Nabi yaitu hari tersebut, ketika Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam mengucapkan ucapan ini.

Maksudnya adalah Islam yang beliau bawa saat itu. Adapun yang terjadi setelah hari tersebut, berupa bid’ah, maka ini bukan termasuk maka ana alaihil yaum.

مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم

Maksudnya adalah Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, baik dalam masalah akidah, ibadah, dan seterusnya. Itu masuk di dalam kalimat مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم.

وَأَصْحَابِي

Dan apa-apa yang para sahabatku ada di atasnya hari ini.

Apa yang dilakukan oleh para sahabat, termasuk ke dalam Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam secara keseluruhan.

Para sahabat tidak ada di antara mereka yang membuat bid’ah di dalam agama. Islam mereka dan Islam yang kaffah, di dalam seluruh bidang kehidupannya, mereka Islam secara kaffah. Bid’ah ini terjadi setelah mereka.

Ini adalah golongan yang selamat tadi. Beliau menyebutkan di sini sifat, manhaj, cara, yang dilakukan oleh firqoh yang wahidah tadi. Beliau tidak menyebutkan tentang nama aliran, nama organisasi, atau yang lain, tapi beliau menyebutkan di sini tentang sifat dari golongan tersebut. Barangsiapa yang memiliki sifat ini yang intinya adalah Islam secara kaffah, Islam secara sempurna dalam seluruh kehidupan dia, maka dia adalah golongan yang satu ini, Ahlussunnah Wal jamaah. Makanya kita katakan bahwa Ahlussunnah Wal jamaah merekalah yang masuk Islam secara kaffah dalam seluruh bidang kehidupan. Dan inilah yang menjadikan kelak di hari kiamat wajah menjadi bersih, bersinar, karena mereka masuk Islam secara kaffah.

Dari sini juga kita mengetahui dari ucapan beliau :

مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم وَأَصْحَابِي

Menunjukkan tentang wajibnya Islam secara keseluruhan, karena Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam mensifati golongan yang wahidah tadi dengan مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم وَأَصْحَابِي. Dan ini adalah sebab selamatnya mereka dari iftiroq. Karena mereka berpegang dengan Islamnya para sahabat secara keseluruhan, akhirnya mereka menjadi selamat dari perpecahan. Dan mereka tetap bersatu bersama Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Syaikh Al Albani, beliau menghukumi hadits ini dengan hadits yang hasan.

Di dalam kitab yang lain beliau menghukumi hadits ini dengan dhoif.

Kemudian di dalam Al jami’ ash shoghir Wa ziyadatuhu disebutkan bahwasanya yang ada di dalam lafadz ini di antara dua qousain (tanda kurung) ini didhoifkan oleh Syaikh Al Albani.

حتَّى إن كانَ مِنهم من أتى أُمَّهُ علانيَةً لَكانَ في أمَّتي من يصنعُ ذلِكَ

Ini didhoifkan oleh Syaikh Al Albani.

Adapun lafadz yang lain, maka ini adalah lafadz yang hasan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 7-Halaqah 58 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu Bag 02

Halaqah 58 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu Bag 02

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-58 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kalau kita teliti banyak sekali apa yang diamalkan oleh ahlul bid’ah dan lain-lain ternyata memang ada asalnya di dalam agama orang-orang Bani Israil.

Contoh, misalnya menjadikan kuburan sebagai masjid. Ini ada asalnya di dalam apa yang dilakukan oleh Bani Israil.

Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam mengatakan :

ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد؛ فإنيي أنهاكم عن ذلك (رواه مسلم)

Man Kana qoblakum di sini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Kemudian ulama yang mereka tidak mengamalkan ilmunya, maka ini ada di dalam diri orang-orang Yahudi. Orang yang semangat beramal tapi tidak berdasarkan ilmu, sebagaimana ini adalah ahlul bid’ah, maka ini dilakukan oleh Nasrani. Tidak lepas dari dua ini,

1. Mungkin dia berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya.

2. Atau dia semangat beramal tapi dia tidak kembali kepada ilmu.

Contoh yang lain maulud nabi, mereka juga menjadikan hari lahirnya Isa sebagai hari raya mereka, ada di dalam Bani Israil. Contoh yang lain, kalau kita melihat sejarah di abad pertengahan dan ketika orang-orang Kristen, mereka punya kedudukan, mereka memeras orang-orang yang ada di bawah dengan kaffarotu adz-dzunub, suququl ghufron, yakni ada surat-surat yang di situ ada permintaan untuk bertobat, ingin mendapatkan ampunan, maka harus membayar. Itu ada di dalam perilaku orang-orang Nasrani. Nyanyi-nyanyi dan menjadikan itu sebagai ibadah, menjadikan patung, menjadikan gambar, ini juga dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Mereka memiliki gambar Yesus atau patung Yesus, dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, secara umum tadi. Kembali kepada thiriqotun-nashoro, semangat dalam beramal, tapi kurang berilmu.

{وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۖ فَآتَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ}

[الحديد : 27]

Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.

Dan mereka membuat rohbaniyyah yang mereka buat-buat sendiri.

Membuat bid’ah dalam agama, itu seperti orang-orang Nasrani. Atau seperti yang ada dalam hadits Abu Waqid Al-Laitsy Radhiyallahu Anhu, ada di antara umat Islam yang mengatakan seperti yang diucapkan oleh Bani Israil kepada Musa.

عن أبي واقد الليثي قال: “خرجنا مع رسول الله ﷺ إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط. فمررنا بسدرة، فقلنا: يا رسول الله، اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط، فقال رسول الله ﷺ: الله أكبر، إنها السنن. قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو إسرائيل لموسى: اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

[الأعراف:138]، لتركبن سنن من كان قبلكم” رواه الترمذي وصححه

Orang-orang Yahudi, mereka menyukai sihir, menyukai dukun, demikian pula di dalam umat Islam ada yang demikian. Melakukan sihir, menyukai sihir, menyukai dukun.

Fitnah Bani Israil yang pertama adalah perempuan, demikian pula banyak di antara umat Islam yang terfitnah dengan wanita, dan seterusnya.

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengarang sebuah kitab, Iqtidho ash-shirothil mustaqim mukholafatu ashabil jahim. Termasuk konsekuensi dari jalan yang lurus adalah kita harus menyelisihi jalan orang-orang yang mereka adalah ashabul jahim. Di situ disebutkan oleh beliau tentang di antara bentuk tasyabbuh umat Islam terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani. Termasuk di antaranya adalah membuat peringatan-peringatan yang tidak ada dasarnya. Dan orang-orang Yahudi sebagaimana dalam atsar, ketika mereka mengucapkan kepada Umar bin Khattab sebuah ayat.

أنَّ رَجُلًا، مِنَ اليَهُودِ قالَ له: يا أمِيرَ المُؤْمِنِينَ، آيَةٌ في كِتَابِكُمْ تَقْرَؤُونَهَا، لو عَلَيْنَا مَعْشَرَ اليَهُودِ نَزَلَتْ، لَاتَّخَذْنَا ذلكَ اليومَ عِيدًا. قالَ: أيُّ آيَةٍ؟ قالَ: {اليومَ أكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وأَتْمَمْتُ علَيْكُم نِعْمَتي ورَضِيتُ لَكُمُ الإسْلَامَ دِينًا}

[المائدة: 3]

قالَ عُمَرُ: قدْ عَرَفْنَا ذلكَ اليَومَ، والمَكانَ الذي نَزَلَتْ فيه علَى النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وهو قَائِمٌ بعَرَفَةَ يَومَ جُمُعَةٍ.

Bermudah-mudahan membuat sebuah perayaan, padahal ini adalah tauqifiyah. Demikian pula ada sebagian kaum muslimin ada yang mentang-mentang ini adalah kejadian yang besar, hijrahnya Nabi, turunnya Al-Qur’an, isra dan mi’raj, mereka jadikan ini sebagai peringatan. Maka ini adalah termasuk bentuk tasyabbuh dengan orang-orang Yahudi dan juga Nasrani. Dan di sini juga beliau sebutkan tentang masalah pakaian juga demikian. Masalah hari raya.

Termasuk di antaranya tawassul bis sholihin, ini dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Apa yang mereka yakini tentang Isa? Mereka bertawasul dengan Isa alaihimassalam. Nah, di sini beliau, apa hubungannya dengan ucapan beliau ini dengan ucapan setelahnya, tentang masalah tafarruqul ummah? Ini adalah contoh dari sebelumnya, akan menimpa umat ini apa yang menimpa Bani Israil. Termasuk di antaranya adalah tafarruq. Tafarruq umat ini akan terjadi sebagaimana ini terjadi pada Bani Israil. Itu sudah kaidah, apa yang menimpa Bani Israil akan menimpa kepada umat ini. Kalau Bani Israil ada perpecahan di antara mereka, maka di dalam umat ini juga akan ada perpecahan.

ليأتينَّ على أمَّتي ما أتى على بني إسرائيل حَذوَ النَّعلِ بالنَّعلِ ، حتَّى إن كانَ مِنهم من أتى أُمَّهُ علانيَةً لَكانَ في أمَّتي من يصنعُ ذلِكَ ، وإنَّ بَني إسرائيل تفرَّقت على ثِنتينِ وسبعينَ ملَّةً ، وتفترقُ أمَّتي على ثلاثٍ وسبعينَ ملَّةً ، كلُّهم في النَّارِ إلَّا ملَّةً واحِدةً ، قالوا : مَن هيَ يا رسولَ اللَّهِ ؟ قالَ : ما أَنا علَيهِ وأَصحابي

Dan sesungguhnya Bani Israil telah berpecah belah, mereka menjadi 72 golongan.

Kenapa mereka berpecah belah?

Ini sudah disebutkan dalam ayat.

(إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ )

(الأنعام: من الآية159)

Kenapa mereka menjadi syiya’an?

Karena mereka farroqu diinahum. Sebabnya adalah karena mereka memisah-misah agama Islam yang dibawa oleh Nabi Musa, agama Islam yang dibawa oleh Nabi Isa. Tidak sempurna di dalam keislamannya, tidak kaffah di dalam keislamannya.

Yang ini benar-benar manut, taat, tapi dalam hal ini dia masih mengikuti hawa nafsunya. Dalam masalah ini dia Islam, namun dalam hal yang lain dia masih mengikuti hawa nafsunya, belum menyerahkan diri secara total kepada Allah. Sehingga terjadi perpecahan di antara mereka. Seandainya mereka semuanya, sama-sama Islam secara kaffah yang dibawa oleh Nabi mereka, niscaya tidak akan terjadi perpecahan di antara mereka.

Sebagaimana hal ini menimpa orang-orang Bani Israil, maka dia akan menimpa umat ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost navigation

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 7 – Halaqah 57 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu

Halaqah 57 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-57 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mendatangkan ucapan dari Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma karena masih berkaitan dengan ayat yang beliau gunakan sebagai dalil tentang kewajiban untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan, sehingga beliau mendatangkan ucapan Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma untuk menjelaskan tentang makna :

(يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ )

(آل عمران: من الآية106) ali Imran 106

Barulah setelah itu beliau mendatangkan hadits yang menunjukkan tentang kewajiban masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhan.

Jadi bukan berarti beliau di sini  mendahulukan ucapan Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma daripada ucapan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, tidak. Tapi beliau mentaqdim ucapan Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma untuk menjelaskan ayat yang beliau bawakan.

Asalnya adalah ayat, hadits, kemudian baru ucapan sahabat.

وعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً )) قَالُوا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : (( مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي))

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ

Akan datang kepada umatku apa yang datang kepada Bani Israil.

Kata لَيَأْتِيَنَّ menunjukkan tentang sungguh-sungguh akan datang. Karena Lam di sini dan nun taukid yang ada di akhir, ini menunjukkan tentang penguatan.

Sungguh-sungguh akan datang, akan mendatangi umatku apa yang telah mendatangi Bani Israil. Dan Bani Israil di sini masuk di dalamnya orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Dua-duanya adalah Bani Israil. Jangan kita menganggap bahwasanya maksudnya di sini hanya orang-orang Yahudi saja. Bahkan orang-orang Nasrani, diutus kepada mereka Taurat dan juga Injil.

حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ

Seperti keseimbangan antara sebuah sandal dengan sandal yang lain.

Beliau ingin menggambarkan bagaimana benar-benar akan datang kepada umat Islam apa yang datang kepada orang-orang Bani Israil.

Apa yang terjadi pada mereka, orang-orang Bani Israil akan menimpa umat Islam. Apa yang mereka lakukan akan diikuti oleh umat Islam. Sampai saking serupanya, saking mengikutinya, seperti keseimbangan antara sandal dengan sandal yang lain.

Kalau kita lihat masing-masing dari sandal kita, ukurannya sama, warnanya juga sama, bentuknya juga sama, sampai diibaratkan oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, mengikutinya umat Islam terhadap cara orang-orang Bani Israil, adalah seperti sandal dengan sandal yang lain.

Kalau di situ ada dia yang kanan, berarti kebanyakan, gholibnya, di situ ada yang kiri juga. Kalau dia ada di rumah, maka yang satunya ada di rumah. Kalau yang ada satunya ada di masjid, maka yang satunya juga ada di masjid. Ini menunjukkan bagaimana syiddah tasyabbuhnya sebagian umat Islam terhadap apa yang dilakukan oleh Bani Israil sebelum kita.

Kemudian beliau memperkuat lagi dengan ucapan beliau :

حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً

Seandainya ada di dalam fiihim, Bani Israil. Seandainya ada di antara mereka yang mendatangi ibunya (maksudnya adalah mendatangi sebagaimana dia mendatangi istrinya), alaniyah, dengan terang-terangan, artinya tidak ada malu, tidak ada rasa sembunyi-sembunyi.

Di sini beliau ingin menjelaskan jangan dikira bahwasanya orang-orang Islam mengikuti mereka dalam perkara yang mubah saja, atau dalam perkara yang baik saja, tidak. Ternyata di dalam perkara yang merupakan kemaksiatan, bahkan kemaksiatan yang sangat maksiat, bahkan berzina adalah tercela dan muharrom.

Berzina dengan mahram maka ini lebih tercela dan lebih besar dosanya. Berzina dengan ibunya sendiri maka ini lebih besar dosanya. Harusnya umat Islam lebih jauh dan lebih bersih dari dosa-dosa tersebut. Tapi ternyata ada di antara mereka yang mengikuti orang-orang Bani Israil, termasuk di antaranya di dalam masalah dosa.

لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ

Niscaya ada di dalam umatku orang yang melakukan demikian.

Beliau ingin menekankan lagi tentang bagaimana di antara umat Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, ada di antara mereka yang yuqollid, yatasyabbah, dia mengikuti orang-orang Bani Israil, atau menyerupai dengan Bani Israil. Maka ini menjadi perhatian bagi kita.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 7 – Halaqah 56 | Pembahasan Dalil Keempat Tafsiran Ibnu Abbas Dari QS Aali Imran 106

Halaqah 56 | Pembahasan Dalil Keempat Tafsiran Ibnu Abbas Dari QS Aali Imran 106

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-56 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mendatangkan atsar dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma, menafsirkan tentang firman Allah :

(يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ)

(آل عمران: من الآية 106 )

Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram.

قال ابن عباس – رضي الله عنهما –

Berkata Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma,

في قوله تعالى: يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

Berkata Abdullah bin Abbas semoga Allah meridhai keduanya, yaitu Abdullah dan Abbas, ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

Pada hari di mana sebagian wajah itu akan terlihat, akan bersinar putih, dan pada waktu yang sama di hari tersebut, maka ada wajah-wajah yang hitam.

Dan tentunya hari jaza’ tersebut ada sebabnya di dunia. Apa yang terjadi saat itu adalah cerminan, dan panen, atau hasil dari apa yang dilakukan oleh seseorang di dunia.

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

Pada hari di mana wajah ada yang putih bersih dan ada di antara wajah-wajah tersebut yang hitam legam. Bisa dia menjadi dalil yang lain. Dalil di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan tentang wajibnya yang masuk ke dalam Islam secara keseluruhan.

Dan nanti akan kita lihat seperti yang sudah kita sampaikan bahwasanya di dalam kitab ini, yaitu Fadhlul Islam, yang ingin beliau tekankan adalah tentang syahadat anna muhammadan Rasulullah. Lebih khusus lagi tentang kewajiban untuk mengikuti sunnah dan meninggalkan bid’ah.

Dan bahwasanya bid’ah ini bertentangan sekali dengan Islam. Keharusan kita adalah, bukan hanya di dalam masalah i’tiqod saja kita Islam, tapi juga di dalam masalah amaliyah, kita harus Islam juga. Dan di antara bentuknya adalah dengan mengikuti sunnah dan meninggalkan bid’ah.

Di sini akan mulai dan setelah bab ini akan kita lihat bagaimana beliau secara khusus membahas tentang masalah bid’ah.

Dan bahwasanya bid’ah ini adalah bertentangan dengan Islam itu sendiri.

Di sini beliau mendatangkan tafsirnya Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma.

Beliau mengatakan :

تبيض وجوه أهل السنة والائتلاف، وتسود وجوه أهل البدع والاختلاف.

Akan putih wajah-wajah Ahlussunnah dan ahli al-i’tilaf.

Apa yang dimaksud dengan i’tilaf? Al-ijtima’.

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

Disebutkan atsar dari Abu Umamah.

فأما الذين اسودت وجوههم أكفرتم بعد إيمانكم”، قال: هم الخوارج.

تبيض وجوه أهل السنة والائتلاف، وتسود وجوه أهل البدع والاختلاف.

Di sini dinukil oleh Ibnu Katsir :

وقوله تعالى : ( يوم تبيض وجوه وتسود وجوه ) يعني : يوم القيامة ، حين تبيض وجوه أهل السنة والجماعة ، وتسود وجوه أهل البدعة والفرقة ، قاله ابن عباس ، رضي الله عنهما .

Tapi, tentunya dalam tafsir Ibnu Katsir, beliau meringkas, tidak disebutkan sanadnya.

Di sini disebutkan,

ذكره أبو بكر أحمد بن علي بن ثابت الخطيب البغدادي

Ada dalam tafsir Ibnu Abi Hatim dengan sanad beliau.

عن سعيد بن جبير عن ابن عباس في قوله يوم تبيض وجوه وتسود وجوه قال تبيض وجوه أهل السنة والجماعة

Kemudian

قول تعالى وتسود وجوه وبه عن ابن عباس وتسود وجوه قال تسود أهل البدع والضلالة

Berarti bisa ditulis, dikeluarkan oleh Imam Abu Hatim di dalam tafsirnya.

Dengan lafadz bukan Ahlussunnah Wal i’tilaf tapi Ahlussunnah Wal jamaah.

تبيض وجوه أهل السنة والجماعة

تسود أهل البدع والضلالة

Berarti penamaan Ahlussunnah Wal jamaah, ini bukan penamaan yang muta’akhir, bahkan seorang sahabat, yaitu seperti Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, sudah menggunakan lafadz ini.

Dan lawan dari Ahlussunnah Wal jamaah adalah ahlul bid’ah wa adh-dholalah. Ini tafsir dari turjumanul Qur’an, Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, yang kita tahu tentang keutamaan beliau dan ilmu beliau di dalam masalah tafsir Al-Qur’an.

Beliau menafsirkan wajah-wajah yang memutih tadi adalah wajah-wajah siapa? Ahlussunnah Wal jamaah. Karena mereka masuk Islam secara keseluruhan, tidak setengah-setengah, seperempat-seperempat, tapi masuk Islam secara keseluruhan.

Adapun Ahlul bida’, maka wajah mereka akan menjadi hitam, karena mereka tidak kaffah di dalam Islam mereka. Tapi mereka melakukan bid’ah. Mereka melakukan bid’ah-bid’ah. Dan ini seseorang melakukan bid’ah, ini menunjukkan ketidaksempurnaan Islam yang dia miliki.

Sudah kita jelaskan berulangkali, bahwasanya termasuk konsekuensi dari keislaman seseorang adalah pasrah di dalam masalah tata cara ibadah. Tidak perlu dia membuat sesuatu yang baru, pokoknya ana manut dengan apa yang tersebut di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Kalau ada dalilnya ana amalkan. Kalau tidak ada dalilnya maka saya tidak amalkan. Ini yang namanya pasrah.

Adapun Ahlul bida’, masih ada Nau, membangkang, ingin menentang, ingin membuat sesuatu yang baru yang tidak ada di dalam dalil yang shahih. Karena sebab inilah, akhirnya mereka di akhirat akan menjadi gelap wajah mereka.

Bagaimana segi pendalilannnya?

Jelas di sini menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam Islam secara keseluruhan, karena di sini ada ancaman dengan hitamnya wajah bagi orang yang tidak Islam secara kaffah. Di antaranya adalah Ahlul bida’. Di antaranya adalah ancaman tentang hitamnya wajah di hari kiamat bagi Ahlul bida’ yang mereka adalah bagian dari orang-orang yang tidak Islam secara kaffah, menunjukkan tentang haramnya tidak Islam secara kaffah, dan menunjukkan tentang wajibnya masuknya ke dalam Islam secara kaffah. Karena di sini ada ancaman sampai hitam wajahnya, menunjukkan tentang haramnya perbuatan mereka, yaitu memisah-misahkan agama ini. Dan menunjukkan tentang wajibnya menerima Islam secara kaffah dan masuk ke dalam Islam secara kaffah, seluruhnya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost navigati