Tag Archives: Fadhul Islam

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām-Halaqah 23 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Keenam Hadīts Dari Ibnu Abbās

Halaqah 23 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Keenam Hadīts Dari Ibnu Abbās

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-23 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan,

وفي الصحيح عن ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله ﷺ قال:

Di dalam Shahih yaitu di dalam shahih Bukhori atau di dalam hadits yang shahih dari Ibnu Abbas radiallāhu anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

أبغض الناس إلى الله ثلاثة:

Orang yang paling dimurkai/dibenci oleh Allāh ﷻ ada 3.

Yang Pertama:

ملحد في الحرم،

Orang yang menyimpang dan dia di dalam tanah Haram.


Mulhid artinya menyimpang dari kata lahdun, liang lahad, kenapa dinamakan liang lahad karena dia liang lubang yang menyimpang, awalnya kebawah kemudian ada lubang kearah kiblat dinamakan dengan liang Lahad.

Mulhid artinya adalah orang yang menyimpang. Menyimpang ditanah Haram, harusnya orang yang berada ditanah Haram menjadi orang yang mustaqim, datang dari Indonesia ke Mekkah atau ke Madinah biasanya orang ingin berubah/ bertobat/ mendekatkan diri kepada Allāh ﷻ.

Baik tinggal disana ataupun berziarah kesana rata² ditanya disana kalau ingin bertaubat/berubah/ ingin baik / bertaqrub kepada Allāh ﷻ, datang ke tanah Haram harusnya adalah dalam keadaan istiqomah ini yang seharusnya dilakukan, ternyata tidak ketika dia berada ditanah Haram dia justru Mulhid(menyimpang dari Istiqomah), melakukan kemaksiatan, melihat sesuatu yang di haramkan atau merokok misalnya disana atau justru disana di hotelnya melakukan ritual² yang bid’ah, melakukan kebid’ahan yang ada dinegaranya dilakukan juga selama disana, ini termasuk

– ملحد في الحرم –

Harusnya disana dia semakin baik justru disana tetap melakukan perkara yang menyimpang maka ini termasuk orang yang paling dibenci oleh Allāh ﷻ.

Oleh sebab itu jika ke sana hendaklah selain tanah kita berubah dari tanah biasa menjadi tanah haram maka amalan kita juga hendaklah berubah juga jangan kita samakan keadaan kita selama disana dengan keadaan kita selama di Indonesia, disana sungguh² berdoa menyibukan diri dengan membaca Al-Quran dia mendatangi Masjid Nabawi – Masjidil Harom jika bisa shalat disana (shalat 5 waktu disana) menghadiri masjid Ilmu harus kita bedakan antara keadaan diri kita disana dengan keadaan diri kita diluar Tanah Haram.

Yang Kedua:

ومبتغ في الإسلام سنة جاهلية،

Dibenci /sangat dibenci oleh Allāh ﷻ adalah orang yang mencari di dalam Islām sunnah Jahiliyyah.

Sudah diberikan hidayah oleh Allāh ﷻ Islām , Quran, Sunnah, Atsar para Shahabat, ini nikmat yang besar bagi seseorang, tetapi orang ini tidak memanfaatkan nikmat & karunia tadi dengan baik, padahal disana ada Nur/Cahaya disitu ada aturan yang kalau dia berpegang teguh dengan Islām tadi, Quran & Sunnah dengan pemahaman para Shahabat maka dia akan mendapatkan kebahagiaan, ternyata dia masih mencari sunnah jahiliyyah.

Yang dimaksud dengan Sunnah jahiliyyah : seluruh apa yang menyelisihi agama Rasulullāh ﷺ, yaitu menyelisihi Islām maka itu dinamakan dengan sunnah Jahiliyyah.

Yang dimaksud dengan sunnah adalah jalan, kalau jalannya jalan² Nabi ﷺ maka itu adalah Islām, yang menyelisihi jalan Nabi dinamakan dengan sunnah Jahiliyyah. Islām itu adalah jalan Nabi ﷺ

عليكم بسنتي عليكم في سبيلي و سنة إعلموا أن الإسلام هوسنة و سنة هي الإسلام

Maka Islām adalah jalan Nabi ﷺ , yang menyelisihi Islam dinamakan Sunnah Jahiliyyah, bagaimana segi pendalilannya orang yang mencari sunnah jahiliyyah di dalam Islām maka dia adalah termasuk dimurkai oleh Allāh ﷻ & wajib bagi kita untuk lari & keluar dari apa yang dimurkai oleh Allāh ﷻ, berarti wajib bagi kita untuk meninggalkan sunnah Jahiliyyah & kalau wajib bagi kita meninggalkan sunnah jahiliyyah berarti wajib bagi kita untuk masuk kedalam Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Jadi di dalam hadits ini Nabi ﷺ mengatakan diantara yang paling dibenci adalah orang yang masih mencari² Sunnah Jahiliyyah padahal dia sudah diberikan hidayah kepada Islām, mungkin bilang tidak mantap, kalau tidak demikian tidak terasa, masih mencari² sunnah Jahiliyyah ini termasuk orang sangat dibenci oleh Allāh ﷻ & lari dari kemurkaan Allāh ﷻ adalah sebuah kewajiban berarti wajib bagi kita untuk masuk kedalam agama Islām dan jangan kita mencari² sunnah Jahiliyyah.

Yang Ketiga:

ومطلب دم امرئ مسلم بغير حق ليهريق دمه رواه البخاري

Kalau tanpa muslimin – ومطلب دم امرئ – imri’in disini umum baik Muslim maupun kafir karena diantara orang kafir juga ada yang diharamkan darahnya, bahkan diantara 4 jenis orang kafir hanya 1 saja yang dihalalkan darahnya yaitu *Kafir yang Harbi* orang yang memang memerangi kita di dalam agama kita

Adapun kafir yang Dzimmi, Musta’man, Mu’ahad, maka 3 golongan ini diharamkan untuk ditumpahkan darahnya, maka

ومطلب دم امرئ

Umum baik yang muslim atau yang kafir.

Muslim jelas diharamkan darahnya

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا..

Diharamkan bagi kita menumpahkan darah seorang muslim tanpa hak.

Demikian pula darah seorang kafir diantara 3 golongan tadi ( Dzimmi, Musta’man, Mu’ahad) hukumnya juga termasuk diharamkan tidak boleh menumpahkan darahnya

بغير حق ليهريق دمه

Dengan tujuan untuk menumpahkan darahnya

maksudnya disini adalah orang yang berusaha untuk membunuh orang tanpa hak maka ini termasuk orang yang dibenci oleh Allāh ﷻ.

Syahidnya disini adalah di dalam ucapan beliau

ومبتغ في الإسلام

Dan Islām yang dimaksud adalah Islām dibawa oleh Nabi ﷺ, mencari di dalam agama Islām ini sunnah Jahiliyyah masih mencari² sunnah Jahiliyyah.

Hadits ini diriwayatkan oleh al Bukhori.

Kemudian beliau mendatangkan ucapan syaikhul Islam Ibn Taimiyyah sepertinya mendatangkan secara makna (ini ucapan Syaikhul Islam di dalam Istigho ash Shirot al mustaqim).


Berkata Syaikhul Islām ibn Taimiyyah semoga Allāh ﷻ mensucikan ruh beliau

(قال ابن تيمية: قوله: سنة جاهلية) يندرج فيها كل جاهلية مطلقة أو مقيدة،

Masuk di dalamnya setiap Jahiliyyah baik yang mutlak maupun yang terikat

أي في شخص دون شخص

Apa yang dimaksud dengan muqoyyadah terikat disini?
Terikat di dalam sebagian orang bukan sebagian yang lain.

كتابية أو وثنية أو غيرهما،

Baik sunnah Jahiliyyah tersebut adalah sunnah ahlul Kitab (kitabiyyah) atau sunnahnya orang-orang Musyrik atau selain keduanya.

من كل مخالفة لما جاء به المرسلون.

Dari segala penyimpangan yang itu adalah penyimpangan terhadap apa yang dibawa oleh para Rasul.

Jadi Jahiliyyah adalah setiap apa yang menyelisihi apa yang dibawa oleh para Rasul.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 22 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalīl Kelima Hadīts Dari Abū Hurairah

Halaqah 22 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalīl Kelima Hadīts Dari Abū Hurairah

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-22 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وللبخاري عن أبي هريرة رضى الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ

Di dalam shahih Bukhori dari Abu hurairah radiallāhu anhu beliau mengatakan Rasulullah ﷺ bersabda:

كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى

_Setiap umatku di akan masuk kedalam surga kecuali orang yang enggan diantara mereka_
Maka kaget dengan orang yang enggan tadi padahal surga di dalamnya adalah darunna’im ( di dalamnya adalah kenikmatan)

فيه ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت، ولا خطر على قلب بشر

_Kenikmatan yang pernah kita lihat pernah kita dengar/ pernah terpetik dalam hati kita maka kenikmatan disana jauh lebih besar daripada itu belum pernah dilihat oleh mata & belum pernah didengar oleh telinga bahkan tidak pernah terpetik di dalam hati seseorang_.

Kenapa bisa ada orang yang tidak mau masuk kedalam surga tersebut,

قيل: ومن يأبى؟

_Siapa yang enggan tersebut wahai Rasulullah_

قال:من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى.

_barangsiapa yang taat kepadaku maka dia akan masuk kedalam, surga & barangsiapa yang memaksiati diriku maka dialah orang yang enggan_

Man’atoani – من أطاعني – maksudnya adalah mentaati beliau ﷺ dan masuk kedalam Islām karena beliau menyuruh kepada Islām, Islām yang mana? Islām yang dzhohir dan juga bathin, bukan hanya sekedar Islām dzhohir bathinnya kufur tidak, dzhohir & batin taat kepada Nabi ﷺ.

Maka orang yang demikian – دخل الجنة – dia akan masuk kedalam Surga, menunjukan bahwasanya Islām ini adalah sebab masuknya seseorang kedalam Surga.

Sebaliknya – ومن عصاني – orang yang memaksiati diriku artinya tidak mau masuk kedalam Islām (dzhohir & bathin) – فقد أبى – maka dialah yang enggan masuk kedalam surga, jika enggan masuk kedalam Surga maka tempat kembalinya di dalam Neraka.

Orang yang memaksiati Nabi ﷺ sehingga dia tidak Islām secara dzhohir dan bathin maka dialah yang enggan masuk kedalam Surga artinya tempat kembalinya adalah di dalam Neraka & tentunya menghindarkan diri dari Neraka ini adalah sebuah keharusan, kalau itu sebuah keharusan maka itu masuk Islām adalah sebuah keharusan, supaya kita terhindar dari azab di dalam Neraka.

Baik, – كل أمتي – bisa dua makna
❶ pertama كل أمتي umatku disini maksudnya adalah umat Islām, أمتو الإجبه umat Islām umatnya Nabi ﷺ maksudnya Umat Islām yang menjawab dakwah beliau – يدخلون الجنة – maksudnya adalah semuanya akan masuk kedalam Surga diawal, kalau maksudnya – كل أمتي -maksudnya adalah umat beliau yaitu umat Islām yaitu umat beliau – يدخلون الجنة – maksudnya adalah masuk kedalam Surga diawal, إلا من أبى kecuali yang tidak mau, artinya tidak mau masuk kedalam surga diawal,

Siapa yang enggan masuk kesurga tersebut Ya Rasulullah – قيل: ومن يأبى قال:من أطاعني دخل الجنة- orang yang benar² taat Islāmnya dzhohir dan bathin keikhlasannya yang luar biasa dzhohirnya benar² mengikuti Nabi ﷺ benar² bertauhid, benar² mengikuti sunnah – دخل الجنة- maksudnya adalah masuk kedalam Surga diawal itu kalau memang dia – أطاعني نبي ﷺ – dengan sebenar²nya Islam dengan secara dzhohir dan bathin ,

– ومن عصاني – dan kalau dia memaksiati diriku, dia didalam agama Islām tetapi masih melakukan kemaksiatan mengikuti syahwatnya, melakukan perkara, yang diharamkan melakukan dosa besar, – فقد أبى – maka sungguh dia telah enggan (maksudnya adalah enggan untuk masuk kedalam Surga) diawal, sehingga dia ada kemungkinan kalau Allāh ﷻ tidak mengampuni maka dia akan dimasukkan kedalam Neraka terlebih dahulu, ini makna yang pertama.

❷ Bisa juga diartikan – كل أمتي – ummat ad dakwah, karena umat beliau ada dua, ada umat al ijabah, ada ummat ad Dakwah.

Ummatul Ijazabah (dari kata Ijabah) yaitu menjawab – menjawab dakwah beliau, setiap orang yang menjawab dakwah beliau artinya masuk kedalam agama Islām karena dakwah beliau adalah Islām berarti kita termasuk umatul Ijabah,

Adapun Umatul dakwah adalah setiap orang yang datang setelah diutusnya Nabi ﷺ baik dia muslim maupun kafir itu adalah umat beliau masuknya ummatul dakwah mereka adalah target dakwah Nabi ﷺ, masa² sebelum beliau maka ini bukan target dakwah beliau tapi setelah beliau menjadi Nabi setiap manusia yang datang setelah itu yang kafir yang musyrik yang ahlul kitab mereka semuanya adalah Umat beliau maksudnya adalah Ummatul dakwah (umat yang ditargetkan dakwah ini untuk mereka).

Umat Islām selain mereka adalah Umatul Ijabah mereka juga umatu dakwah. Adapun ahlu kitab yang sekarang tidak beriman dengan Nabi mereka adalah Umatu dakwah tetapi bukan Umatu Ijabah.

Berarti Umatul Ijabah ini lebih sempit daripada umatu Dakwah. Setiap yang termasuk di dalam Umatul Ijabah maka dia termasuk umatul dakwah, tetapi tidak setiap yang masuk dalam Umatul dakwah kemudian dia adalah Umatul Ijabah.

Sekarang kalau diartikan

كل أمتي

Disini adalah Umatu Dakwah – كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى – setiap umatku (Umatu dakwah) akan masuk kedalam Surga kecuali orang yang enggan saja.

Maksudnya disini bukan hanya menjadi orang yang pertama tapi disini adalah asalnya memang setiap umatku (Umatu Dakwah) dia akan masuk kedalam surga kecuali orang yang enggan

قيل : ومن يأبى

Siapa yang enggan untuk masuk kedalam surga
Karena ini sekedar bukan (diawal) tapi siapa yang enggan untuk masuk kedalam surga

قال : من أطاعني

Barangsiapa yang mentaatiku
Maksudnya adalah yang masuk kedalam agama Islām , orang yang masuk kedalam agama Islam diantara Umatu dakwah tadi maka dialah yang – دخل الجنة –

«من قال: لا إله إلا الله دخل الجنة»

Orang yang mengatakan – لا إله إلا الله – maka dia akan masuk kedalam surga

ومن عصاني

Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku
Maksudnya tidak mau masuk kedalam agama Islām, di dakwahi

قول لا إله إلا الله

Dia yastakbirun maka dia bermaksiat kepada Nabi & tidak mau masuk kedalam agama Islām

فقد أبى

Maka sungguh dia telah enggan.

Yaitu enggan untuk masuk kedalam Surga.

Maka hadits yang mulia ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori menunjukan tentang keutamaan Islam & juga menunjukan kewajiban masuk kedalam agama Islām.

Jika dilihat dari babnya Babu wujubul Islām & Islām yang dimaksud adalah Islām yang bawa oleh Nabi Muhammad ﷺ yang menunjukan kewajiban disini adalah karena orang yang sampai tidak dia masuk kedalam agama Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ maka dia akan masuk kedalam Neraka & wajib bagi kita untuk menghindarkan diri dari Neraka dan untuk menghindarkan diri dari Neraka adalah dengan masuk kedalam agama Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ dan ini menunjukan tentang wajibnya mengikuti agama Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Baik ini kalau diartikan dengan Umatul Dakwah jelas sekali maknanya & mungkin saja bisa juga di artikan dengan Umatul Ijabah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 21 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallāhu ‘anhā

Halaqah 21 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallāhu ‘anhā

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-21 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Setelah beliau mendatangkan ayat yang menunjukan tentang wajibnya masuk kedalam agama Islām, maka beliau mendatangkan dalil dari as Sunnah

وعن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله ﷺ قال:

Dari Aisyah radiallāhu anha bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Barangsiapa yang membuat perkara yang baru di dalam urusan kami , Ahdath – أحدث – membuat sesuatu yang yang baru di dalam agama kami yaitu agama Islām, sekarang kita berbicara tentang wujub al-Islām, barangsiapa membuat sesuatu yang baru di dalam agama kami – ما ليس منه – sesuatu yang bukan termasuk Islām kalau misalnya ini adalah agama kemudian dia membuat sesuatu yang baru bukan termasuk agama diluar jalan Islām – فهو رد – maka sesuatu yang baru tersebut adalah tertolak.

Kenapa demikian karena dia berada diluar Islām bukan termasuk agama Islām, kalau demikian sama yang – فلا يقبل منه – kalau kita berada diluar Islām menyebabkan amalan kita tertolak melakukan sesuatu yang baru yang itu tidak diajarkan dalam Islām menyebabkan amalan tertolak dan menghindarkan diri dari tertolaknya amal adalah sebuah kewajiban, karena tertolaknya amal ini menyebabkan kerugian – وهو في الآخرة من الخاسرين – berarti sama dengan ayat yang dituliskan oleh mualif ini menunjukan tentang kewajiban mengikuti agama Islām karena kalau kita membuat sesuatu yang baru diluar agama ini/ diluar yang diajarkan oleh Nabi ﷺ maka amalan tersebut tertolak dan ini membawa kerugian dan wajib bagi kita untuk mengindarkan diri dari kerugian.

Oleh karena itu wajib bagi kita untuk memeluk Islām dzhohir dan bathin, kita ikuti Islām yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ maka ini adalah sebuah kewajiban.

أخرجاه،

Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhori & Muslim.

وفي لفظ:

Dan lafadz yang lain beliau ﷺ mengatakan

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد.

Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan tidak ada diatasnya agama kami, amalan tadi tidak dipayungi oleh agama Islām, bukan termasuk agama Islām tidak dipayungi Islām bukan termasuk agama Islām artinya dia adalah sesuatu yang muhdats/baru karena tidak ada diatasnya agama Islām ini – فهو رد – maka amalan tersebut adalah tertolak – فهو – disini kembali kepada al amal,

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

juga demikian kembali kepada amalan

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

juga demikian kembali kepada amalan -فهو – amalan – رد – disini adalah masdar ( رد يرد ردا )

Terkadang masdar maknanya adalah maful – رد – maknanya adalah mardudun seperti misalnya kitabun maknanya maktubun. – فهو رد – maksudnya adalah amalan tersebut tertolak, kenapa tertolak , karena dia diluar Islām – ليس عليه أمرنا – tidak di payungi oleh Islām sehingga dia adalah amalan yang tertolak.

Ada yang membedakan – من أحدث – itu bagi orang yang pertama kali dia membuat bidah adapun – من عمل – sekedar mengikuti saja, baik yang pertama kali yang membuat maupun yang mengikuti sama akibatnya amalan yang diamalkan tersebut tidak diterima, bukan hanya yang membuat pertama kali orang yang taklid terhadap dia mengikuti dia kemudian mengamalkan amalan yang tidak di syariatkan juga tertolak.

Ini menunjukan bahwasanya kewajiban bagi dia haruslah yaitu untuk mengikuti Islām tanpa membuat bidah² seperti ini & nanti akan kita perdalam lagi ternyata disini beliau (di dalam kitab ini) kenapa disini disebutkan tentang Islām, Fadhlul Islām, Wujubul Islām, kalau kita perhatikan beliau ingin menanamkan dalam diri kita pentingnya mengikuti sunnah dan menjauhi bidah, jadi lebih di konsentrasikan di dalam kitab ini kepada syahadat yang kedua yaitu syahadatu anna muhammadan rosulullah, akan disebutkan nanti tentang bahaya bidah dan seterusnya, dengan kalimat Fadhlul Islām, keutamaan Islām yaitu keutamaan mengikuti Islām yang murni yang bawa oleh Nabi ﷺ.

Intinya ingin menyampaikan kepada kita tidak boleh kita melakukan bid’ah, nanti akan kita lalui satu persatu bab² yang sebutkan oleh syaikh disini, beliau ingin sampai kepada perkara yaitu mengajak kita untuk berpegang teguh kepada Sunnah & menjauhi bidah di dalam kitab Fadhlul Islām ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 20 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Ketiga QS Al-An’am 153 (Bagian 02)

Halaqah 20 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Ketiga QS Al-An’am 153 (Bagian 02)

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

قال مجاهد: السبل: البدع والشبهات

Berkata Mujahid (Ibnu Jabr al Makki) beliau adalah murid seniornya Abdullah Ibnu Abbas, diantara ucapan beliau

عرضت القرآن على ابن عباس ثلاثين مرة

Aku membacakan mushaf dihadapan Abdullah Ibnu Abbas 3 kali

أقف عند كل آية

setiap ayat aku berhenti dan bertanya kepada beliau tentang ayat ini

Jadi bukan hanya tasmi’ tapi juga mengambil tafsir dari Abdullāh Ibn Abbas bukan hanya sekali tetapi sampai 3 kali, tentunya ini lain sekali beliau sudah faham dua kali beliau ternyata Abdullah Ibnu Abbas mengulang lagi tafsirnya tentunya lebih berbekas lagi ditambah yang ketiga tentunya mujahid memiliki kedudukan di dalam masalah ilmu tafsir apalagi dilihat guru beliau adalah Abdullāh Ibn Abbas yang didoakan oleh Nabi ﷺ

اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

As Subul – السبل – yang dimaksud disini – وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ – adalah – البدع والشبهات – bid’ah²,

Dan bid’ah sesuatu yang berada diluar Islām,

Kalau itu di dalam Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ maka itu tidak dinamakan dengan bid’ah, dia adalah sesuatu yang baru, tidak ada di dalam Islām & di dalamnya adalah subhat kerancuan².

Dari satu sisi kelihatannya dia adalah benar tetapi setelah dari sisi yang lain ternyata dia adalah kebatilan, sebagaimana sebagian terkadang mendatangkan keumuman²

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

[QS Al Ahzab 41]

wahai orang² yang beriman hendaklah kalian berdzikir dengan dzikir yang banyak

Berdalil dengan ayat ini tentang Dzikir jamaah, ini dengan alasan didalam Al-Quran kita disuruh untuk berdzikir dengan dzikir yang banyak, orang yang masih kurang keilmuawannya sulit untuk membendung subhat seperti ini. Dilihat dari satu sisi adalah kita harus banyak dzikir kepada Allāh ﷻ tapi setelah dilihat dari sisi yang lain ternyata ini adalah sebuah bidah, sesuatu yang menyelisihi sunnah karena Nabi ﷺ tidak melakukan yang demikian.

Jadi yang menjadi sesuatu yang bidah asalnya amalan tersebut ada tetapi ditambah dirubah caranya dirubah tempatnya dirubah zamannya dirubah angkanya maka ini menjadi bidah Idzofiyah, asalnya disyariatkan tetapi ada idhofat (tambahan²) sehingga jadilah dia sebuah bidah ini yang kadang samar bagi seseorang maka jalan² tadi adalah – البدع والشبهات – subhat

Yang menjadikan perpecahan itu adalah al Bid’a, adapun syahwat maka ada diantara orang² yang menempuh jalan yang lurus ini yang dia terjerumus kedalam syahwat, tapi yang menjadikan iftirokul ummah menjadi 73 golongan (72 golongan diantaranya masuk kedalam neraka dan 1 golongan merekalah yang masuk kedalam Surga) yang menjadikan mereka berpecah belah tersebut adalah bidah, adalah bid’ah² itiqodiah itulah yang menjadikan aliran² (A, aliran B, C (Mutazilah, Murjiah, Khowarij dan seterusnya)) dan bidah² yang ada pada aliran² tersebut yang ada di dalam hadits iftirokul ummah adalah bidah² yang tidak sampai mengeluarkan mereka dari agama Islām, tapi bidah tersebut termasuk dosa besar & dosa besar bidah ini adalah dosa besar yang berada dibawah kesyirikan

۞ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ …

[QS An Nisa 48]

Bidah termasuk – دُونَ الشرك – berarti dia masuk dalam firman Allāh ﷻ -وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ –

Allāh ﷻ masih mengampuni dosa yang dibawah syirik termasuk bidah diantaranya – لِمَن يَشَاءُ – bagi orang yang Allāh ﷻ kehendaki.

Oleh sebab itu aliran² yang ada yang mereka masuk kedalam 72 golongan, keyakinan ahlu sunnah mereka kelak (mereka dibawah kehendak Allāh ﷻ) kalau Allāh ﷻ menghendaki Allāh ﷻ mengampuni dosa bidah yang dia lakukan, mungkin saja Allāh ﷻ ampuni mereka, Allāh ﷻ mengampuni sebagian dari mereka tapi kalau Allāh ﷻ menghendaki maka Allāh ﷻ memasukan dia kedalam Neraka dengan sebab bidah yang mereka lakukan.

Jadi bidah yang dilakukan oleh 72 golongan tadi adalah bidah yang tidak mukaffiroh bidah yang tidak sampai mengeluarkan mereka dari agama Islām. Tapi masuk kedalam dosa besar yang disebutkan oleh Allāh – وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاء – ada diantara ahlu bidah yang mungkin dia mukhlis berbeda dengan ahlu bidah yang lain yang keliatan sombong mutakabbir suka mencela tidak menjaga lisannya ada sebagian ahlu bidah dia menjaga lisannya & kelihatan di dalam dirinya keinginan untuk mencari kebenaran, mereka bertingkat².

Oleh karena itu disini Mujahid menyebutkan

السبل: البدع والشبهات

Yang dimaksud dengan jalan² tadi adalah bidah²& juga syubhat² itulah yang menjadikan manusia berpecah belah karena bidah & syubhat ini orang yang berada di dalamnya menganggap dirinya berada diatas kebaikan sehingga disuruh untuk kembali kepada jalan yang tengah, jalan yang lurus sulit, menganggap ini yang benar, yang B-C juga demikian dan seterusnya, akhirnya

۞ …كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

[QS Ar Rum 32]

masing² merasa gembira hizb nya

Berbeda dengan ahlu syahwat ketika dia melakukan syahwatnya /mengikuti hawa nafsunya setelah melakukannya dia dalam keadaan menyesal dan tahu bahwasanya dia itu salah, meskipun ada seorang yang mungkin ditokohkan di dalam agama dia mengatakan halal tapi dia tidak akan percaya, apa yang ana lakukan itu adalah salah, tahu bahwasanya dia diatas kegelapan mengikuti hawa nafsunya & berkeinginan seandainya kelak dia akan kembali kepada Allāh ﷻ, kembali kepada jalan yang lurus.

Ini diakui oleh orang² yang minum²an keras atau wanita² yang menjadi pelacur & di dalam hati kecil mereka, mereka ingin untuk kembali seperti orang yang normal tapi tidak tahu bagaimana cara kembali, kadang ada diantara mereka yang menulis disecarik kertas ditempelkan dikamarnya _Ya Allāh ﷻ kapan dia kembali_ mengungkapkan tentang penyesalan dia atas jalan yang sedang dia jalani sekarang ini, mereka adalah ahli syahwat.

Adapun ahlu Bidah mereka ahul subhat maka mereka merasa bahwasanya dia berada diatas jalan yang benar sehingga inilah yang memecah belah umat – فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ –

Sehingga tidak jauh apabila Mujahid disini menafsirkan assubul disini dengan al Bid’ah wa syubhat, menunjukan bahwasanya bidah² inilah yang menyebabkan perpecahan umat. Adapun sunnah maka dia lah yang menyatukan umat, inilah yang mengumpulkan kita, adapun kalau masing² kita masih berada di dalam aliran² tersebut maka kita akan terus berpecah belah tapi ketika kita mau berkumpul mempelajari aqidah yang benar, manhaj yang benar inilah yang akan mengumpulkan kita diatas jalan ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām- Halaqah 19 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Kedua QS Ali Imran 19 Dan Dalil Ketiga QS Al-An’am 153 (Bagian 01)

Halaqah 19 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Kedua QS Ali Imran 19 Dan Dalil Ketiga QS Al-An’am 153 (Bagian 01)
Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وقوله تعالى: إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

[آل عمران: 19 QS Ali Imran 19].

Kemudian dalil yang kedua adalah firman Allāh ﷻ sesungguhnya Agama – عِنْدَ اللَّهِ – disisi Allāh ﷻ (agama yang diridhoi disisi Allāh ﷻ) adalah agama Islām

Yaitu Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ, atau bisa diartikam Islām disini adalah Islām dengan makna yang umum yaitu agamanya para Nabi & juga para Rasul masuk di dalamnya adalah agamanya Rasulullah ﷺ.

Menunjukan bahwasanya selain agama Islām adalah agama yang tidak di ridhoi, yang di ridhoi disisi Allāh ﷻ adalah Islām. Menunjukan bahwasanya selain agama Islām ini bukan diridhoi oleh Allāh ﷻ dan kewajiban kita adalah mencari keridhoan Allāh ﷻ dan menghindarkan diri dari kemurkaan Allāh ﷻ.

Oleh karena itu mencari keridhoan & menghindari diri dari kemurkaan Allāh ﷻ adalah sebuah kewajiban maka kewajiban kita adalah memeluk agama Islām, karena Islām inilah yang diridhoi oleh Allāh ﷻ.

Berarti – إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ – juga menunjukan tentang wajibnya memeluk agama Islām yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, karena mencari keridhoan Allāh ﷻ dan menghindari kemurkaan Allāh ﷻ adalah sebuah kewajiban.

وقوله تعالى: وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا

Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus

فَاتَّبِعُوهُ

Maka hendaklah kalian mengikuti jalan tersebut

وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ

dan janganlah kalian mengikuti jalan yang lain²

فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

[الأنعام: 153 -QS Al An’am 153]

maka akan berpecah belah kalian dari jalan Allāh ﷻ

Allāh ﷻ mengatakan _Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus_ yang dimaksud adalah Islām sebagaimana telah berlalu – الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ – adalah Al Islām dan ini disebutkan di dalam hadits an Nawas ibn Sam’an yang diriwayatkan al Imam Ahmad disini disebutkan tentang tafsir bahwasanya – الصِّرَاطَ – adalah al Islām.

Sudah kita sebutkan bahwa – الصِّرَاطَ – artinya adalah jalan, jalan yang lurus yaitu jalan yang menyampaikan kita kepada Allāh ﷻ & Islām adalah jalannya Rasulullah ﷺ untuk sampai kepada Allāh ﷻ sehingga kalau ditafsirkan – الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ – dengan al Islām (shahih)

& ternyata di dalam sebuah hadits

عن النواس بن سمعان رضي الله عنه قال عليه الصلاة والسلام: [ضرب الله مثلا صراطا مستقيما، وعلى جنبتي الصراط سوران ..

Allāh ﷻ membuat permisalan sebuah jalan yang lurus kemudian dipinggir jalan yang lurus tadi ada dua pagar

فيهما أبواب مفتحة،

Di dalam dua pagar tadi ada pintu² yang terbuka

وعلى الأبواب ستور مرخاة،

Dan diatas pintu² tadi ada tirai²

وعلى باب الصراط داع يقول: يا أيها الناس، ادخلوا الصراط جميعا ولا تعوجوا،

Dan dipintu – الصِّرَاطَ – ini ada seorang Da’i yang yang mengatakan _hai manusia masuklah kalian di dalam -الصِّرَاطَ – semuanya dan janganlah kalian meninggalkan – الصِّرَاطَ – ini_

وداع يدعو من فوق الصراط، فإذا أراد الإنسان أن يفتح شيئا من تلك الأبواب، قال: ويحك، لا تفتحه؛ فإنك إن تفتحه تلجه .

Disana ada orang yang menyeru ditengah² (syirot tadi) apabila dia akan membuka satu diantara pintu² tadi maka dia mengatakan – ويحك – celaka kamu jangan engkau membuka pintu² tadi, karena seandainya engkau membuka pintu² yang ada dipinggir tadi maka engkau akan masuk kedalamnya.

Ada yang melarang jangan engkau membuka pintu ini karena kalau dibuka pintunya niscaya engkau akan masuk kedalam pintu tadi, kemudian Nabi ﷺ mengatakan

فالصراط الإسلام،

Yang dimaksud dengan shirot disini adalah al Islām.

والسوران حدود الله،

Dan dua pagar tadi adalah batasan² Allāh ﷻ,

والأبواب المفتحة محارم الله،

Dan pintu² yang terbuka tadi adalan perkara² yang diharamkan oleh Allāh ﷻ,

وذلك الداعي على رأس الصراط كتاب الله،

Dan Da’i yang berada dikepala shirot adalah kitabullah

والداعي من فوق الصراط واعظ الله في قلب كل مسلم

Dan Da’i yang ada diatas shirot , tadi yang mengatakan – لا تفتحه – jangan engkau buka pintu ini adalah yang memberikan dia peringatan/mengingatkan dia yang ada di dalam hati seorang muslim. Karena hati seorang muslim menjadikan dia cinta dengan keimanan

۞ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

[QS al Hujarat]

Dijadikan hati kita ini senang dengan keimanan & benci dengan kefasikan sehingga disana ada yang menasehati kita dalam hati kita (jangan, jangan).

Syahidnya disini adalah – الصراط الإسلام – Shirot tersebut adalah al Islām

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا

sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus
Maksudnya adalah Islām, dia adalah jalan yang lurus, jalan yang menyampaikan kita kepada Allāh ﷻ dan ini adalah jalannya Rasulullah ﷺ karena Shiroti ini adalah jalanku

فَاتَّبِعُوهُ

maka hendaklah kalian mengikuti jalan tersebut.
Syahidnya disini Allāh ﷻ mengatakan – فَاتَّبِعُوهُ – maka hendaklah kalian mengikuti jalan tersebut yaitu – صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا – yang ditafsirkan dia adalah al Islām.

Perintah untuk mengikuti dan asal dari perintah adalah menunjukan kewajiban, jelas ayat ini menunjukan wajibnya mengikuti Islām yang dibawa Nabi ﷺ

فَاتَّبِعُوهُ

Hendaklah kalian mengikutinya.

Ditambah lagi

وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ

dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan.
Maksudnya adalah jalan-jalan selain al Islām, jalan-jalan selain sabilullah. Sabilullah hanya satu saja dan itulah yang lurus yang akan menyampaikan kepada Allāh ﷻ, adapun jalan selain ini maka disekitarnya ini banyak jalan-jalan baik sebelah kiri maupun sebelah kanan, disana ada aliran² /thoriqot² dan masing² jalan tersebut ada syaitan yang mengajak manusia untuk masuk kedalam jalan tersebut.

Dan syaitan tidak peduli, orang yang berjalan diatas jalan yang lurus tadi dia mau mengikuti jalan apa saja yang penting tujuan dia adalah bagaimana orang yang jalan diatas jalan yang lurus tadi dia menyimpang (mau ikut sufiyyah, mu’tazilah, jahmiah, khowarij) yang penting keluar dari jalan yang lurus mereka merasa sudah berhasil,

firman Allāh ﷻ

وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ

Dan jangan engkau mengikuti jalan² tadi, disini kita dilarang mengikuti selain jalan Islām tadi/selain jalan Allāh ﷻ dan larangan pada asalnya diharamkan, diharamkan untuk mengikuti selain Islām.

Selain Islām yang murni yang dibawa Rasulullah ﷺ diharamkan mengikuti jalan² tersebut menunjukan wajibnya mengikuti agama Islām. Ini bisa kewajiban mengikuti Islām diambil dari – وَلَا تَتَّبِعُوا- ditambah lagi dengan kalimat – وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ – selain orang yang mengikuti subul tadi dia melakukan perkara yang diharamkan

فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Orang yang membiarkan diri dia dan diri orang lain mengikuti jalan² selain Islām tadi maka yang terjadi adalah jalan² tersebut akan memecah belah kalian dari jalan Allāh ﷻ karena jalan² tersebut banyak yang sebelumnya manusia berkumpul di jalan yang satu jalannya Allāh ﷻ kemudian ketika dia keluar satunya ingin ikut aliran yang lain akhirnya kalian berpecah belah di jalan Allāh ﷻ.

Perpecahan umat akibatnya adalah karena tidak mau mengikuti Islām yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ secara dzhohir maupun secara bathin.

Jadi ayat ini jelas tentang menunjukan wajibnya mengikuti Islām yang dibawa Nabi ﷺ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām -Halaqah 18 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Pertama QS Ali Imran 85 (Bagian 03)

Halaqah 18 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Pertama QS Ali Imran 85 (Bagian 03)

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kalau seseorang mencari menggunakan agama yang lain sebagai jalan hidup selain agama Islām tidak diterima darinya

۞ وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

[آل عمران: QS Ali Imran 85]

Dan di akhirat dia termasuk orang² yang merugi.

Karena di dunia tentunya agama selain agama Islām tadi ada aturan, tata cara Ibadah, tapi ternyata ibadah karena itu dilakukan selain Islām tidak diterim oleh Allāh ﷻ kemudian dia meninggal dunia & meninggal dunia masuk ke alam akhirat ternyata ketika dia datang kepada Allāh ﷻ di yaumul qiyamah dia menemukan dia tidak memiliki sedikitpun dari amal sholeh,

۞وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.

[QS Al Furqon 23]

Kami akan datangi apa yang mereka lakukan berupa amalan, kemudian Allāh ﷻ akan jadikan itu sebagai debu yang berterbangan (yang tidak bermanfaat).

Tentunya ini adalah sebuah kekagetan yang luar biasa seandainya seseorang didunia selama bertahun² dia menabung sedikit demi sedikit dia tabung yang diharapkan, ketika sudah sampai waktunya dia buka tabungannya ternyata dimakan rayap atau diambil oleh orang lain, maka dia akan merasakan penyesalan yang luar biasa / kesedihan yang sangat dalam sudah bertahun² dia kumpulkan sedikit demi sedikit tabungan dari keuntungan usahanya ternyata dia dapatkan dihari tersebut dia tidak melihat apapun dari hasilnya.

Jika dibandingkan penyesalan orang tersebut dengan tabungan tadi didunia maka ini tidak ada bandingannya dibandingkan dengan penyesalan yang sangat dalam yang terjadi pada orang yang memilih selain agama Islām.

Kenapa demikian, adapun orang tadi ketika melihat tabungan ternyata tidak ada masih ada waktu untuk mengumpulkan tabungan kembali & mungkin disana ada orang yang kasihan dan seterusnya, mungkin saja disana ada jalan yang lain dan bukan sebuah kewajiban dia kalau memang tidak mampu/paham bukan sebuah kewajiban semoga Allāh ﷻ menggantikan dengan yang lebih baik & semoga Allāh ﷻ membalas dengan niat yang sudah ada di dalam hatinya.

Tapi kalau yang terjadi diakhirat ternyata dia mendapatkan hilang amalannya, ternyata tidak ada dia meminta kembalikan lagi kedunia (MUSTAHIL) sesuatu yang mustahil dihidupkan kembali /diciptakan kembali kebumi diberikan umur kembali untuk beramal beragama Islām beriman dengan Rasulullah ﷺ jangan harap yang demikian. Dan didepannya adalah azab bukan hanya batalnya amal yang dia lakukan azab yang pedih sudah menanti dia depan, bukan sehari, seminggu, sebulan masuk kedalam Neraka selama²nya dan dia tidak akan keluar dari Neraka sampai kapanpun dalam keadaan di azab.

Setiap waktu semakin pedih azabnya, azab dari arah atas, bawah, depan maupun belakang. Neraka ini adalah Darul Azab (negeri azab) isi di dalamnya berbagai jenis siksaan apa saja siksaan sampai minuman yang diminum oleh penduduka Neraka adalah siksaan bagi mereka, keluarnya mereka adalah siksaan bagi meraka ketika tentunya mereka merasakan panas yang luar biasa, panas yang ada didunia ini adalah satu diantara 70 bagian panas yang ada di akhirat, seandainya seluruh panas yang ada didunia dikumpulkan (dan didunia bukan hanya bumi saja) yang ada diatas juga termasuk dunia (bintang² ada yang mengatakan disana ada bintang yang derajatnya jauh lebih panas daripada matahari) itu jika dikumpulkan hanyalah 1/70 dari api yang ada di Neraka.

Seandainya salah seorang dari kita menaruh ujung jarinya diatas lilin maka dia tidak akan betah meskipun hanya 2 detik. Kemudian panas yang sedemikian panasnya tentunya mereka akan merasakan bagaimana hausnya, mereka tidak minum sampai di padang Mahsyar yang selama itu (karena mereka adalah orang² kuffar) sementara yang meminum telaga para Nabi & Rasul hanyalah umat yang beriman dengan mereka saja.

Haus dengan haus yang sangat haus maka mereka minta/istighosah meminta air

وَإِن يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

[QS Al Kahfi 29]

Kalau mereka meminta air diberikan air tapi air disini ternyata dia adalah siksaan yang lain, hausnya mereka itu tersiksa, siksaan tersendiri bagi mereka, mendapatkan panas yang luar biasa juga siksaan sekarang mau dikasih air ternyata air ini juga siksaan tersendiri bagi mereka, kalmuhul *air tersebut adalah seperti al Muhl yaitu seperti minyak yang jelek* kalau dalam bahasa kita jelantah.

Dari sisi penampilannya tidak mengenakan disuruh minum jika warnanya hijau-merah semangat kita untuk minum, tetapi ini warnanya/bentuknya adalah minyak yang jelek/kotor ditambah lagi selain rupa yang tidak mengenakan baunya juga tidak mengenakan tapi dia dalam keadaan haus meskipun baunya & bentuk sangat tidak mengenakan dan ternyata air yang bentuknya seperti minyak yang jelek tadi dia adalah air yang sangat panas, ketika dia akan minum yang sudah dalam keadaan kehausan sekali ingin minum ternyata airnya adalah air yang sangat panas, air tadi karena dia sudah mendekati wajahnya saking panasnya wajah yang mendekati disini dagingnya menjadi mateng – يشوي الوجوه – Dia seakan² mau mendapatkan kenikmatan ternyata air tersebut adalah azab tersendiri.

Dalam keadaan wajahnya mateng tersebut tetap dia minum masuk kedalam perutnya tersiksa

فقطع أمعاءهم

Sampai menghancurkan apa yang ada di dalam perutnya(badanya).

Itu bukan hanya sekali, dua kali seterusnya

كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُم بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا

[QS An Nisa 56]

Setiap matang kulitnya maka akan Kami gantikan kulit tadi dengan kulit yang lain

لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ

Supaya mereka merasakan azab

Terkadang seakan² diberikan mereka kesempatan untuk keluar tapi ternyata

كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), “Rasailah azab yang membakar ini”.

[QS Al Haj 22]

Seakan² dia sudah mau keluar (gembira) tapi ternyata dikembalikan lagi & seterusnya.

Mereka tidak ada akhirnya. Maka tentunya ini adalah sebuah kerugian, kenapa sebabnya? Karena dia di dunianya tidak mau memeluk agama Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ ,karena tidak mau memeluk agama Islām, tidak beriman dengan Nabi ﷺ, tidak bertauhid terus dia ngeyel & membantah & ada di dalam angan/khayalan dia seakan² dia berada dijalan yg benar, ternyata diakhirat dia tidak menemukan sedikitpun, tidak bisa dia kembali & azab yang sangat besar tadi dan dia langgeng itu akan menanti dia didepan.

Ayat ini jelas menunjukan tentang wajibnya memeluk agama Islām, dari sisi mana?

Karena orang yang tidak memeluk agama Islām
❶ Tidak akan diterima
❷ Di Akhirat dia termasuk orang yang merugi

Dan selamat dari kerugian dari Akhirat adalah sebuah keharusan, demikian pula menghindarkan diri dari ditolaknya amalan ini adalah sebuah keharusan.

Oleh karena itu mengikuti dan memeluk agama Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ ini adalah sebuah kewajiban sehingga kita terhindar dari kerugian di Akhirat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām-Halaqah 17 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Pertama QS Ali Imran 85 (Bagian 02)

Halaqah 17 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Pertama QS Ali Imran 85 (Bagian 02)

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kita beribadah kepada Allāh ﷻ bukan hanya sekedar ibadah, tapi kita ingin supaya ibadah kita diterima oleh Allāh ﷻ, telah disampaikan bahwasanya Ibadah yang akan bermanfaat bagi seseorang di hari Kiamat yang akan diberikan pahala oleh Allâh itu adalah ibadah yang maqbul, ibadah yang memang diterima/dianggap oleh Allāh ﷻ itulah yang diberikan pahala.

Itulah yang akan berpengaruh di dalam kehidupan di dunia ini karena terkadang pahala dari amal sholeh kalau memang amal sholeh itu diterima, Allāh ﷻ berikan pahalanya sebagian di dunia, atau pahala yang didapatkan oleh seseorang di alam kuburnya, ganjaran yang dia dapatkan ketika dibangkitkan, dikumpulkan, dihisab, melewati jembatan Ash Siroth dan seterusnya itu adalah kalau amalan kita diterima Allāh ﷻ, tidak semua amalan yang diamalkan oleh seseorang kemudian dia mendapatkan tsamaroh/buahnya, yang akan didapatkan buahnya apabila amalan tersebut -مقبلا عند الله …

۞ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ

[QS An Nahl 97]

Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amal sholeh baik laki-laki maupun wanita dan dia dalam keadaan beriman maka akan Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang toyyibah.

Ini jika amalan sholehnya diterima oleh Allāh ﷻ, diterima baru dia mendapatkan ganjaran – حَيَاةً طَيِّبَةً – di dalam kehidupan di dunia ini

وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan sungguh Kami akan membalas dia dengan ganjaran mereka dengan amalan yang paling baik yang mereka kerjakan.

Kapan ini ? Apabila diterima amalannya.

Tujuan kita beramal adalah bagaimana supaya amalan kita ini diterima, oleh karena itu para salaf mereka berdoa kepada Allāh ﷻ untuk supaya diterima amalannya, semangat & berusaha bagaimana amalannya benar² diterima oleh Allāh ﷻ, diantara usaha mereka adalah tentunya belajar.

Karena diterimanya amalan ini ada syarat, harus sesuai dengan Sunnah kalau tidak maka tidak akan diterima oleh Allāh ﷻ maka mereka belajar bagaimana ibadahnya sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ.

Disamping itu juga mereka mempelajari bagaimana supaya ikhlas belajar Tauhid, belajar Aqidah ditambah mereka berdoa meminta kepada Allāh ﷻ supaya diterima amal sholeh.

Sebagian salaf 6 bulan pertama setelah bulan Ramadhan mereka gunakan memperbanyak meminta kepada Allāh ﷻ supaya diterima amal sholehnya selama bulan Ramadhan, mereka menunjukan kepada Allāh ﷻ bahwasanya mereka butuh amalannya ini diterima sehingga mereka (yulihun) merengek² bagaimana amalannya diterima oleh Allāh ﷻ karena inilah yang akan bermanfaat bagi mereka & akan mereka petik buahnya di dunia maupun di Akhirat.

Nabi ﷺ setiap hari diantara dzikir yang dibaca shalat Shubuh

اللهم إني أسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا

Beliau membaca & meminta kepada Allāh ﷻ amalan yang diterima, bukan hanya sekedar amalan saja, tapi ingin amalan yang diterima.

Nabi Ibrahim alaihi salam & juga Ismail ketika diperintahkan oleh Allāh ﷻ untuk membangun dan menaikkan Kabah

۞ وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِۦمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ

[QS Al Baqorah 127]

Itu doa yang pertama sebelum doa

۞ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

[QS Al Baqoroh128]

Dan mengatakan

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ

[QS Al Barqoroh 129]

Doa yang pertama adalah

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Kenapa demikian, karena mereka yaitu al Anbiya wa sholihun mengetahui tentang keutamaan amalan yang diterima oleh Allāh ﷻ, itulah keinginan kita bukan hanya sekedar mujarrot al amal kemudian kita lupakan dan kita cuek apakah diterima atau tidak.

Sebagian salaf saking inginnya dia dan rindunya dia dengan diterimanya amalan dia mengatakan:
seandainya aku mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ menerima 2 rakaat dariku niscaya aku adalah orang yang menjadi paling gembira/bahagia didunia

Karena di dalam sebuah ayat Allāh ﷻ mengatakan

۞ … قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

QS Al Maidah 27]

Karena Allāh ﷻ itu hanya menerima dari orang yang bertaqwa.

Kalau diterima meskipun dua rakaat menunjukan bahwasanya dia termasuk orang yang bertaqwa & orang yang bertaqwa merekalah yang berhak, merekalah yang disediakan syurga wa’idat lil muttaqin (surga disediakan bagi orang² yang bertaqwa).

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām- Halaqah 16 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Pertama QS Aali Imran 85 (Bagian 01)

Halaqah 16 | Bab 02 Wujubul Islam – Pembahasan Dalil Pertama QS Aali Imran 85 (Bagian 01)

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-16 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Masuk pada Bab yang kedua yaitu

 باب وجوب الإسلام

Berkata Mushanif

– باب وجوب الإسلام – Bab tentang Wajibnya Islam.

Yang dimaksud Islām disini adalah seperti di bab pertama yaitu Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ, yang mencakup di dalamnya

الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة

Keharusan untuk mengesakan Allāh ﷻ di dalam Ibadah & keharusan untuk tunduk kepada Allāh ﷻ di dalam dzhohir kita.

Apa hukumnya – وجوب – hukumnya adalah wajib untuk memeluk mengikuti dan menjadikan agama Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ sebagai jalan hidup kita. Wajib untuk menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ baik dzhohir kita maupun bathin kita.

Disini beliau mendatangkan – باب وجوب الإسلام – setelah – باب فضل الإسلام – karena mungkin ada diantara pembaca ketika dia membaca bab yang pertama – باب فضل الإسلام – Bab tentang keutamaan Islām seakan² kalau disebutkan keutamaan maka dia adalah perkara yang sunnah dia adalah perkara yang utama tetapi tidak merupakan kewajiban.

Ketika disebutkam tentang – فضل – keutamaan mungkin ada yang memahami seakan² memang Islām memiliki keutamaan kita akui bahwa dia adalah sesuatu yang utama/istimewa tapi dipahami bahwasanya memeluk agama Islām bukan sebuah kewajiban.

Oleh karena itu beliau ingin mengingatkan bahwasanya ternyata Islām yang disebutkan keutamaannya di dalam bab yang pertama dia adalah sesuatu yang Istimewa/utama dan dia adalah sebuah kewajiban bukan sesuatu yang mustahab/dianjurkan.

Apakah mungkin sesuatu yang memiliki keutamaan kemudian hukumnya wajib ? IYA, shalat 5 waktu hukumnya wajib dan dia memiliki keutamaan, puasa dibulan Ramadhan hukumnya wajib & dia memiliki keutamaan, jadi yang memiliki keutamaan bukan hanya sesuatu yang sunnah saja, perkara yang sunnah memiliki keutamaan sesuatu yang wajib juga memiliki keutamaan.

Islām dengan makna yang kita sebutkan Islām yang merupakan agama Nabi ﷺ yang di dalamnya ada pasrah menyerahkan diri secara bathin dan dzhohir, secara bathin dia bertauhid ikhlas & secara dzhohir manut dan nurut di dalam syariat mengikuti syariatnya Rasulullah ﷺ. Maka ini adalah hukumnya wajib, artinya wajib kalau sampai seseorang tidak mengikuti Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ maka dia berdosa itulah makna Wajib. Bukan hanya dia meninggalkan keutamaan di dalam Islām tapi juga berdosa.

Untuk menunjukan tentang wajibnya Islām ini , beliau membawakan beberapa dalil, 3 diantaranya adalah dari Al-Quran kemudian 3 berupa sunnah kemudian beliau menyebutkan 2 atsar dari para salaf. Kita lihat sebagaimana di dalam bab pertama tidak ada ucapan disini dari beliau yang beliau nukil adalah ucapan firman Allāh ﷻ atau sabda Nabi ﷺ atau dia adalah ucapan para salaf atau ucapan para ulama. Jangan mengatakan mudah sekali untuk menukil (menukil juga perlu keterampilan)

Beliau mengatakan

Dalil yang pertama adalah firman Allāh ﷻ

۞ وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

[آل عمران: 85].

Dan barangsiapa yang mencari selain agama Islām sebagai agama, (يَبْتَغِ – menginginkan, mencari; mencari agama selain agama Islām setelah datangnya Nabi ﷺ yang membawa agama Islām) kemudian ada diantara manusia yang berusaha untuk mencari agama selain yang dibawa beliau ﷺ baik itu agama wasaniah (agama yang mengajarkan kesyirikan) atau bahkan agama Islām yang dibawa oleh Nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ, seandainya sekarang masih ada agama yang dibawa oleh Nabi Sulaiman, syariat yang dibawa oleh Nabi Daud, kemudian ada manusia yang lebih memilih agama Islām yang dibawa oleh Nabi Daud – Sulaiman – Musa, فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْه maka tidak akan diterima darinya فَلَنْ Tidak akan, sampai kapan pun tidak akan diterima.

Kalau sudah datang Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ maka barangsiapa yang mencari agama selain agama beliau ﷺ menjadikan itu sebagai jalan hidupnya maka tidak akan diterima darinya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 15 | Bab 01 Fadhlul Islam – Pembahasan Dalil Kedelapan Atsar Abū Darda Bag 02

Halaqah 15 | Bab 01 Fadhlul Islam – Pembahasan Dalil Kedelapan Atsar Abū Darda Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-15 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وعن أبي الدردا رضي الله عنه قال

Dan dari Abu Darda semoga Allāh ﷻ meridhoinya, beliau berkata

كيف يعيبون سهر الحمقى وصومهم؟

Bagaimama mereka tertipu dengan begadangnya orang² yang – الحمقى – (lawan dari الأكياس) orang yang tidak cerdas/bodoh, mereka justru yang asalnya amalan tersebut adalah ibadah yang harusnya mereka dapat pahala justru menjadi Azab atau bahkan justru menjadi sebab mereka masuk kedalam neraka, bagaimana itu?
Ketika misalnya mereka salah di dalam niat. Berpuasa tetapi tidak ada niat untuk mendapatkan pahala, karena orang lain mereka berpuasa dibulan Ramadhan maka dia juga ikut berpuasa.

Tidak ada ikhtisaban, pahala puasa itu bagi orang yang ikhtisaban

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا

Kalau tidak ada – احْتِسَابًا -hanya sekedar adat istiadat / kebiasaan karena mereka semua puasa maka dia tidak akan mendapatkan pahala puasa yaitu

غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Ini bagi orang puasa – احْتِسَابًا – .

Demikian pula orang yang sahar, mereka begadang (untuk shalat malam diantaranya) kalau tidak ada – احْتِسَابًا – tidak akan mendapatkan pahala & Nabi ﷺ mengatakan

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا

Orang yang shalat malam karena ihtisab, kalau tidak ihtisab tidak mendapat pahala yang dicantumkan di dalam hadits tadi bahkan ada diantara mereka yang justru menjadi sebab dia mendapatkan maksiat dan juga dosa, kapan?
Ketika dia melakukan amalan tadi tidak diatas Islām/tidak diatas Sunnah tapi melakukannya dengan kebida’ahan maka ini justru mendapatkan dosa, shalat selama 1 malam tetapi dengan cara yang bid’ah, selama satu malam dia begadang dalam rangka niatnya beribadah tapi karena dilakukan tidak diatas Islām sehingga justru menjadi sebab dia berdosa dan ini menjadi sebab dia masuk kedalam neraka.

Ini adalah perilaku – الحمقى – (perilaku orang² yang bodoh) orang² yang tidak cerdas, kenapa?
Pertama mungkin salah dalam bathinnya (shaum atau melakukan shalat malam tetapi salah dalam bathinnya berarti tidak sesuai dengan Islām)
Kedua atau salah di dalam dhohirnya tidak sesuai Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ
Ketiga atau salah kedua²nya baik dhohirnya maupun bathinnya.

Maka ini adalah prilaku الحمقى bagaimana mereka tertipu dengan begadangnya orang² yang – الحمقى – tadi & puasa mereka tidak akan tertipu mereka.

Ini menunjukan tentang keutamaan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ, kalau memang dia berpegang dengan Islām sesuatu yang asalnya mubah bisa menjadi pahala, jika niatnya benar.

ولمثقال ذرة من بر مع تقوى ويقين، أعظم وأفضل وأرجح عند الله من عبادة المغترين

Dan satu Dzarroh (semut) yang dikenal oleh orang arab, mereka mengatakan semut kecil itu dengan Dzarroh (jangan di artikan biji sawi atau semisalnya) Dzarroh disini menunjukan tentang kecilnya, seberat semut (yang diukur disini beratnya) kalau itu amalan diiringi dengan – بر وتقوى ويقين – maka itu lebih besar pahalanya & lebih afdhol disisi Allāh ﷻ & lebih berat disisi Allāh ﷻ dari pada Ibadahnya orang² yang mughtarin, البر وتقوى masuk di dalamnya adalah makna Islām, البر apabila dia digabungkan dengan taqwa maka makna البر adalah menjalankan perintah & taqwa adalah menjauhi larangan.

Maksudnya adalah menjalankan perintah sesuai dengan Islām dan menjauhi larangan sesuai dengan Islām, sebagian mengartikan taqwa

أن تعمل بطاعة الله على نور من الله

Diatas cahaya dari Allāh ﷻ maksudnya adalah sesuai dengan Islām sesuai yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Disertai dengan keyakinan – ويقين –. Kalau dilakukan meskipun amalan tersebut hanya sebesar/seberat semut tapi diiringi dengan Bir & Taqwa (maksudnya disini adalah Islām itu sendiri) jadi المغترين disini bisa dia maghrur dengan disebabkan salah niatnya meskipun amalannya sesuai dengan sunnah, ada orang yang maghrur ada yang mukhtar (tertipu) niatnya benar ingin mengharapkan pahala dari Allāh ﷻ tetapi dia melakukan itu tidak sesuai dengan sunnah. Maka dua²nya adalah mughtar tidak diterima amalannya.

Adapun orang yang melakukan amalan yang sedikit tapi sesuai dengan Islām (dzhohir maupun bathin) maka dia mendapatkan pahala. Dan ucapan ini (ucapan Abu Darda) diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya di dalam kitab beliau al Yaqin dan juga Abu Nu’aim di dalam Hilyatul auliya dan kitab² yang lain. Allāhu ta’ala a’lam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah PembahasanHalaqah 14 | Bab 01 Fadhlul Islam – Pembahasan Dalil Kedelapan Atsar Abū Darda Bag 01

Halaqah 14 | Bab 01 Fadhlul Islam – Pembahasan Dalil Kedelapan Atsar Abū Darda Bag 01

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-14 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وعن أبي الدرداء رضي الله عنه قال

Dan dari Abu Darda semoga Allāh ﷻ meridhoinya, beliau mengatakan

يا حبذا نوم الأكياس وإفطارهم

يا حبذا ini adalah ucapan sebuah pujian, pujian terhadap tidurnya orang² yang cerdas & ifthornya orang² yang cerdas ,

siapa yang dimaksud disini ?

– الأكياس –

seperti yang disebutkan dalam hadits

الكَيِّس مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِما بَعْدَ الْموْتِ،

Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya & orang yang beramal untuk setelah kematiannya

Mereka adalah ulul albab (orang² yang berakal) maksudnya orang² yang cerdas & dia mengetahui bagaimana menjadikan sebuah amalan yang sebenarnya dia adalah perkara yang mubah tapi bisa menjadi sebuah ibadah, ini adalah orang yang cerdas.

Disini ada sebagian manusia bisa menjadikan sesuatu yang sebenarnya mubah tapi bisa bernilai ibadah. يا حبذا beliau memuji bagaimana orang² tersebut tidur mereka dan ifthornya mereka, ifthornya mereka berarti mereka dalam keadaan tidak puasa.

Tapi ternyata ketika mereka tidur bernilai ibadah, ketika mereka ifthor juga bernilai ibadah, mengapa bisa demikian? ketika mereka tidur mereka punya niat benar, niatnya karena ingin besok kuat segar kembali sehingga bisa shalat malam kemudian shalat shubuh kemudian dilanjutkan dars & halaqoh Quran, niatnya ingin menguatkan dirinya untuk beribadah berarti ini adalah niat yang benar, niat yang sesuai dengan Islām.

Kemudian juga bisa bernilai ibadah ketika dia akan tidur melakukan adab² mau tidur seperti berwudhu terlebih dahulu, meruqyah dirinya terlebih dahulu berdizikir Subhanallāh 33X, Alhamdulillah 33X, Allāhuakbar 34X, kemudian dia tidur diatas bagian sebelah kanannya mendapat pahala, tidurnya selama 4-5 jam

Allāh ﷻ memberikan nilai pahala bagi dia & dia mendapatkan pahala dengan sebab niatnya tadi, yang satunya sama tidurnya sama 5 jam tapi dia tidak ada niat dengan tidurnya tadi untuk menguatkan dirinya dalam beribadah. Berlalu 5 jam, yang pertama mendapat pahala adapun yang kedua dia tidak mendapatkan pahala. Sama² waktunya sama tapi orang cerdas menjadikan waktu yang sama tadi bernilai dengan ibadah, karena dia tahu hidupnya hanya sebentar berapa jam yang dia gunakan melakukan ibadah Shalat, dzikir jika dihitung selama satu hari, tentunya dia tidak ingin waktu yang berlalu tadi tanpa bernilai ibadah, maka dia cerdas bagaimana bisa bernilai ibadah maka diniatkan.

Sebagian salaf mengatakan

إني أحتسب على الله في نومتي كما أحتسب في قومتي

Aku berharap kepada Allāh ﷻ pahala di dalam tidurku sebagaimana aku berharap kepada Allāh ﷻ pahala di dalam bangunku

Ini orang yang cerdas, bisa dikiaskan dengan yang lain, dia bekerja niatnya adalah niat yang benar (mencukupi dirinya dan mencukupi juga keluarganya) dia ingin shodaqoh boleh dan dia akan mendapatkan pahala, bukan sia² dia keluar dari rumahnya karena dia dalam keadaan beribadah ini adalah orang-orang yang cerdas.

Demikian pula di dalam ifthornya kalau orang yang cerdas maka dia bisa mendapatkan pahala. Sebagian orang dia ifthor & ternyata ifthornya ada niat, ingin lebih kuat untuk membaca al-Quran , tadris, ta’lim misalnya. Sebagaimana yang dilakukan Abdullāh bin Mas’ud dia mendapatkan dirinya jika dalam keadaan berpuasa dia lemah sehingga beliau memperbanyak membaca al-Quran daripada memperbanyak puasa, ketika beliau ifthor dengan sebab supaya lebih kuat di dalam membaca al-Quran dan beliau mendapatkan dirinya lemah ketika dalam keadaan puasa maka dia mendapatkan pahala dengan sebab niat tadi & dia niat seandainya saya kuat seperti fulan niscaya saya akan berpuasa.

Ketika dia niat dengan sungguh² tentunya seandainya saya kuat seperti si fulan (artinya bisa menjamak) antara quran dengan puasa & tentunya ini adalah aljama’ baina alkhoirain (menjama antara dua kebaikan), seandainya saya kuat saya akan berpuasa, ketika dia niat seperti itu mendapat pahala.

Dia dalam keadaan ifthor tapi mendapatkan pahala puasa dengan sebab niat maka dia mendapatkan pahala ifthor, pahala Quran dia dapat & pahala puasa dapat dengan sebab niat, tentunya ini tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang² yang الأكياس tadi (orang² yang cerdas) bukan orang² yang cerdas dalam matematika dan seterusnya. Orang yang cerdas di dalam agama dia bisa memanfaatkan waktu dengan baik, memperhatikan hatinya.

Ini bedanya antara kita dengan para Ulama dan juga para salaf dahulu, jika mereka perkara² yang mubah disisi Allāh ﷻ apa yang mereka lakukan karena ada niat di dalam hati mereka menjadi perkara yang merupakan ibadah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته