Tag Archives: FIQIH RAMADHĀN

Masuknya Orang-Orang Yang Beriman Ke Dalam Surga (Bag.2)

BimbinganIslam.com
Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA
Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 69 | Masuknya Orang-Orang Yang Beriman Ke Dalam Surga (Bag.2)
Download Audio: bit.ly/BiAS01-AR-S05-69

____________________________
MASUKNYA ORANG-ORANG YANG BERIMAN KE DALAM SURGA (BAG 2)
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-69 dari Silsilah Beriman kepada hari akhir adalah tentang

“Masuknya Orang-Orang Yang Beriman Ke Dalam Surga Bagian ke-2”

Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah menyebutkan di dalam hadīts Abdullāh bin Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu  yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim tentang orang yang terakhir masuk ke dalam surga.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya aku mengetahui orang yang paling terakhir keluar dari neraka dan paling terakhir masuk ke dalam surga.

Seorang laki-laki keluar dari neraka dalam keadaan merayap, maka Allāh berkata kepadanya, “Pergilah dan masuklah ke dalam surga!”

Diapun mendatangi surga kemudian dibuat terbayang baginya bahwa surga telah penuh,  Diapun kembali dan berkata, “Wahai Rābb-ku aku mendapatkan surga sudah penuh”.

Allāh berkata, “Pergilah dan masuklah!”

Maka dia mendatangi surga kemudian dibuat terbayang baginya bahwa surga telah penuh.

Diapun kembali dan berkata, “Wahai Rābb-ku, aku mendapatkan surga sudah penuh”.

Allāh berkata, “Pergilah dan masuklah!”

Maka sungguh untukmu semisal dengan dunia dan sepuluh kali lipat dari dunia (atau) bagimu sepuluh kali lipat dari dunia.

Maka hamba tersebut berkata, “Apakah Engkau mengejekku? Atau menertawakanku, sedangkan Engkau adalah Raja?”

➢Berkata Abdullāh Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu,

Sungguh aku melihat Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tertawa sampai terlihat gigi geraham beliau.

Dikatakan bahwa orang ini adalah penduduk surga yang paling rendah tingkatannya.

◊ Pintu-pintu surga ada 8 (Delapan) ◊

Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

فِي الجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ، لاَ يَدْخُلُهُ إِلَّا الصَّائِمُونَ

“Di dalam surga ada delapan pintu, di antaranya sebuah pintu yang bernama Ar-Rayyān, tidak memasukinya kecuali orang-orang yang berpuasa.””

(HR Bukhāri dari Sahl Ibnu Sa’ad Radhiyallāhu ‘anhu )

➢Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan beberapa nama dari pintu-pintu surga.

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

√Barang siapa yang menginfakkan dua pasang unta di jalan Allāh, maka akan dipanggil dari Pintu-pintu surga. Wahai Abdullāh ini adalah baik.
√ Barang siapa yang termasuk ahli shalāt ,dia akan dipanggil dari pintu shalāt.
√ Barang siapa yang termasuk ahli Jihād, maka akan dipanggil dari pintu Jihād.
√ Barang siapa yang termasuk ahli puasa, maka akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyān.
√ Barang siapa yang termasuk ahli shādaqāh, maka akan dipanggil dari pintu shādaqāh.

➢Berkata Abū Bakr Radhiyallāhu ‘anhu,

Tebusanku bapak dan ibuku, Yā… Rasūlullāh. Tidak ada yang rugi dipanggil dari pintu manapun.

Apakah ada yang dipanggil dari semua pintu?

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Iya’,  dan aku berharap engkau termasuk mereka.

(HR. Bukhāri dan Muslim )

✾Orang yang memperbaiki wudhunya kemudian membaca dua kalimat syahadat, maka akan dibuka untuknya 8 pintu surga.

Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu kemudian memperbaiki wudhunya kemudian berkata,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُُالله وَرَسُوْلُهُ

kecuali akan dibuka baginya 8 pintu surga, silahkan dia memasuki dari mana saja dia kehendaki.”

(HR Muslim)

✾Delapan pintu surga ini dibuka setiap tahun di bulan Ramadhan.

Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila masuk bulan Ramadhan, maka akan dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu jahannam dan akan dibelenggu syaithān-syaithān.”

(HR Bukhāri dan Muslim)

↝Ada di antara pintu-pintu surga yang jarak antara kedua tepi pintunya seperti jarak antara kota Mekkah dan kota Busra atau kota Mekkah dan kota Hajar.

(HR Bukhāri dan Muslim )

↝Hajar adalah kota masyhur di Bahrain
↝Busra adalah kota masyhur di Suriah

Apabila diukur maka jarak antara kota Mekkah dan kedua kota tersebut kurang lebih 1200 km.

Di dalam hadīts yang lain,

Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan,

“Bahwasanya ada di antara pintu-pintu surga yang jarak antara kedua tepinya 40 tahun perjalanan.”

(HR Muslim )

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan jalan kita menuju Surga.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

‘Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

Masuknya Orang-Orang Yang Beriman Ke Dalam Surga (Bag.2)

Fiqih Ramadhān (Bagian 12)

BimbinganIslam.com
Senin, 08 Ramadhān 1437 H / 13 Juni 2016 M
Ustadz Zaid Susanto, Lc
Materi Tematik | Fiqih Ramadhān (Bagian 12)
⬇ Download Materi Fiqih Ramadhan Lengkap : bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UZS
———————————–

FIQIH RAMADHĀN (BAG. 12)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh, yang di rahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kita kembali melanjutkan apa yang tersisa dari pembahasan fiqih puasa (fiqih Ramadhān). Kita akan sampaikan beberapa perkara yang membatalkan puasa.
Syaikh Muhammad Shālih bin Al ‘Utsaimin rahimahullāh mengatakan :
والْمفط ِّرات سبعة أنواع
Pembatal-pembatal puasa itu ada 7:
*⑸ Keluarnya darah*
Keluarnya darah karena sebab berbekam.
Ini ada khilaf di kalangan para ulamā, akan tapi Syaikh Muhammad Shālih bin Al ‘Utsaimin mengatakan bahwasanya orang yang dibekam itu batal puasanya.
Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
 أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ
“Orang yang membekam dan dibekam batal puasanya.”
(Hadīts ini juga dikeluarkan oleh Abū Dāwūd, Ibnu Mājah dan Ad Darimi. Syaikh Al Albani dalam Irwa’ no. 931 mengatakan bahwa hadīts ini shahīh)
Kata Syaikh Muhammad Shālih bin Al ‘Utsaimin dalam masalah batal dibekam dan membekam:
هذا مذهب الإمام أحمد وأكثر فقهاء الحديث
“Ini adalah pendapatnya Imām Ahmad, dan kebanyakan ulamā hadīts.”
Jadi, untuk masalah dibekam dan membekam sebaiknya dihindari, walaupun sebagian ulamā memperinci bahwa kalau memang yang dibekam itu kuat tidak menyebabkan dia lemah maka dia boleh berbekam, kalau memang dibutuhkan.
Dan bekam itu sebuah pengobatan yang sangat efektif. Berdasarkan testimoni, kanker bisa diobati dengan dibekam, māsyā Allāh.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menurunkan pengobatan untuk umat ini diantaranya adalah dengan bekam.
Kemudian juga ada type pengobatan yang sama yaitu dengan fasdu.
⇛Fasdu itu adalah pengobatan dengan memutuskan sebagian pembuluh darah sehingga darah akan keluar. Ini pengobatan di Arab.
⇛Jadi diputuskan sebagian urat darahnya sehingga darah mengucur, seperti kran mampet dibocorin kemudian air yang kotor keluar, setelah itu di tutup lagi, jadi yang kotor biar keluar terlebih dahulu.
Yang seperti ini tidak membatalkan puasa. Wallāhu Ta’āla A’lam bish Shawwab
*⑹ Muntah dengan sengaja (التقيؤ عمدا)*
Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِ اسْتَقَاءَ فَليَقْضِ
“Barangsiapa yang muntah, tidak sengaja maka dia tidak wajib untuk mengqadha’ (artinya puasanya tidak batal) tapi orang yang sengaja memuntahkan diri, maka dia harus mengqadha’ puasanya.”
(Hadīts riwayat Abū Dāwūd 2/310, Tirmidzi 3/79, Ibnu Mājah 1/536, Ahmad 2/498 dari jalan Hisyam bin Hasan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, sanadnya shahīh)
Atau dengan perkara-perkara lain, misalnya sengaja perutnya di tekan-tekan, dia tahu bila ditekan akan muntah (sengaja) atau dengan menunggingkan kepala, dia tahu bahwa menunggingkan kepala akan muntah, maka batal puasanya.
Segala perkara yang menyebabkan muntah dengan sengaja maka itu membatalkan puasa.
*⑺ Keluarnya darah hāidh dan nifas*
Wanita, bila tiba-tiba keluar darah hāidh maka harus membatalkan puasanya dan tidak sah puasanya, meskipun kurang 5 menit lagi berbuka.
Selesai dalam masalah: مُفَطِرَاتٍ الصَّوم , pembatal-pembatal puasa.
Sekarang timbul pertanyaan:
“Ustadz, apakah setiap pembatal itu, apabila dilakukan pasti membatalkan puasa?
Misalnya seseorang tiba-tiba makan dan minum, apakah pasti dia batal?”
Tidak, ada syaratnya.
Maka dalam majelis ke lima belas Syaikh mengatakan: Syarat-syarat sehingga pembatal puasa itu betul-betul membatalkan.
Kalau hāidh dan nifas pasti batal, karena hāidh dan nifas keluar dengan sendirinya, baik disengaja ataupun tidak.
Singkat kata kata Beliau bahwa pembatal-pembatal puasa itu tidak akan membatalkan kecuali dengan 3 (tiga) syarat :
①  أن يكون عالما
Orang ini tahu bahwa hal itu benar-benar membatalkan.
Maka kalau ada orang jāhil, tidak tahu kalau perkara itu dapat membatalkan maka tidak batal.
Dia berpuasa tapi makan dan minum, ditanya: “Kamu puasa?”
“Iya ,saya puasa”
“Lah, kok makan dan minum?”
“Lho, memang kenapa?”
“Lho, yang namanya puasa itu tidak boleh makan dan minum bisa batal puasa nya.”
” Oh ,iya tah? Dalīl nya apa?”
Baru kemudian disebutkan (dibacakan) surat Al Baqarah.
“Oh, saya tidak tahu, betul-betul baru tahu sekarang yang namanya puasa tidak boleh makan dan minum.”
Berarti puasanya batal atau tidak?
Tidak.
Mana dalīlnya?
Firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
“Yā Allāh, mudah-mudahan engkau tidak menghukum kami, sesuatu yang tidak atau kami lupa atau kami salah.”
(QS Al Baqarah: 286)
Termasuk di dalamnya adalah ketidaktahuan.
Atau misalnya orang yang memang tidak tahu hukumnya syar’i, betul-betul tidak tahu hukum syar’i.
أن يظن أن هذا الشيء غير مفطر فيفعله، أو جاهلا  بالحال أي بالوقت
“Jadi dia tidak tahu bahwa hal itu membatalkan atau dia tidak tahu kalau dia sedang puasa”.
Misalnya dia tidak tahu bahwasanya waktu saat itu dia sudah wajib berpuasa.
⇛Misalnya ada seseorang menyangka bahwa waktu fajar belum tiba (misalnya karena jamnya mati), kemudian dia makan terus, padahal fajar sudah tiba. Maka yang seperti ini tidak membatalkan puasa, karena tidak tahu.
② أن يكون ذاكرا
Ingat kalau dia sedang puasa.
Kalau dia lupa maka pembatal-pembatal tersebut tidak membatalkan dan tidak mengqadha’.
⇛Contoh seorang makan dan minum karena lupa, termasuk di dalamnya (maaf) suami istri melakukan jima’ karena lupa kalau keduanya sedang puasa.
Wallāhu Ta’āla a’lam bishawab
③ أن يكون مختارا
Melakukannya dengan sukarela.
Jadi tidak dipaksa, makanya bila ada wanita sedang puasa kemudian suaminya pulang dari safar memaksa istrinya (untuk jimak) maka yang seperti ini istrinya tetap tidak batal.
‘Alā kulli hal, yang jelas kalau seseorang melakukannya karena terpaksa maka tidak batal.
Demikian yang bisa saya sampaikan pada kesempatan hari ini, mudah-mudahan yang sedikit ini bermanfaat dan masih banyak tentunya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan puasa, tetapi saya cukupkan sampai disini.
Demikian.
وصلى الله على نبينا محمد
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
fiqih12
___________________________

Fiqih Ramadhān (Bagian 11)

BimbinganIslam.com
Sabtu, 06 Ramadhān 1437 H / 11 Juni 2016 M
Ustadz Zaid Susanto, Lc
Materi Tematik | Fiqih Ramadhān (Bagian 11)
———————————–

FIQIH RAMADHĀN (BAG. 11)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Kaum Muslimin dan Muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh, yang di rahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kita kembali melanjutkan apa yang tersisa dari pembahasan fiqih puasa (fiqih Ramadhān), kita akan sampaikan beberapa perkara yang membatalkan puasa.
Syaikh Muhammad Shālih bin Al ‘Utsaimin rahimahullāh mengatakan:
وال ْمفتطِّرات سبعة أنواع
*Jadi Pembatal-pembatal puasa itu ada 7*
الأكل أو الشرب
*(3) Makan atau Minum*
Yaitu masuknya makanan atau minuman ke dalam rongga tubuh dari (lewat) mulut atau hidung, makanan apa saja.
⇛Sehingga kalau seorang sengaja menelan batu, padahal batu bukan makanan, tapi dia maksudkan untuk makan, maka batal puasanya.
▪Bagaimana hukumnya kalau hanya sekedar mencium bau makanan?
*Maka tidak batal.*
√ Demikian juga kalau mencicipi makanan, maka tidak batal.
→ Maksud mencicipi makanan adalah hanya sekedar rasa di lidah setelah itu dikeluarkan (kalau bisa) tapi terkadang sulit (jadi tidak mengapa).
→ Dicicipi saja sudah terasa dan tidak harus ditelan, karena mencicipi makanan itu letak rasanya di lidah. Syaraf (indra) perasa itu letaknya di lidah, karena itu jika makanan sudah ditelan hilang rasanya.
⇛ *Jadi kalau sekedar mencicipi tidak masalah dan tidak membatalkan puasa.*
▪Ustadz, bagaimana kalau ada orang memakai tetes mata kemudian terasa pahit ditenggorokan (karena memang ada jalur saraf dari mata ke tenggorokan), apakah membatalkan puasa?
*Jawabannya: Tidak !*
√ Sebagaimana orang yang kentut di dalam air, kalaupun air betul-betul masuk lewat dubur maka tidak membatalkan puasa.
√ Karena mata, telinga kemudian dubur dan anggota tubuh yang lainnya bukan tempat masuknya makanan atau minuman. Tempat masuknya makanan dan minuman adalah mulut atau hidung.
Sampai dicontohkan oleh ulama:
*Seandainya ada orang yang sedang masak sayur, menggunakan panci/belanga yang besar sekali, mau berbuka puasa bersama. Terus, mau mencicipi atau mau mengaduk kemudian dicari sendok besar yang digunakan untuk mengaduk tapi tidak ada, sehingga memakai kakinya. Ketika mengaduk terasa gurih di tenggorokannya maka puasanya tidak batal.*
⇛Mengapa?
Karena kaki bukan tempat masuknya makanan.
ما كان بمعنى الأكل والشراب
*(4) Sesuatu yang seperti makanan dan minuman*
Ada 2 macam sesuatu yang seperti (bermakna sama) dengan makanan dan minuman:
حقن الدم في الصائم
① Donor darah yang dimasukkan ke dalam tubuh orang yang sedang berpuasa.
Misal:
Seorang yang lagi berpuasa kemudian mengalami pendarahan, فيحقن به دم , kemudian darah itu didonorkan kepada dia (ada donor ada penerima.
⇛Bagaimana orang yang berpuasa kemudian menerima donor darah?
Kata Syaikh, فيفطر بذل , maka puasanya batal.
لأن الدم هو غاية الغذاء بالطعام والشراب
“Karena darah itulah tujuan dari makanan dan minuman.”
الإبر المغذ ِّية
② Infus
التي يكتفى بها عن الأكل والشرب فإذا تناولها أفطر
“Infus ini apabila dia mewakili makanan dan minuman maka yang seperti ini membatalkan puasa.”
⇛Walaupun infus bukan makanan dan minuman akan tetapi maknanya sama, dia menguatkan.
▪Ustadz, bagaimana kalau suntikan obat, misalkan suntikan anti biotik?
Misalnya:
Lagi puasa digigit anjing rabies, نعوذ بالله من ذالك , maka harus disuntik anti rabies, maka yang seperti itu tidak menbatalkan puasa.
Wallāhu Ta’āla A’lam bishawab
fiqih11
[insyā Allāh, bersambung ke bagian 12]
___________________________

Fiqih Ramadhān (Bagian 10)

BimbinganIslam.com
Jum’at, 05 Ramadhān 1437 H / 10 Juni 2016 M
Ustadz Zaid Susanto, Lc
Materi Tematik | Fiqih Ramadhān (Bagian 10)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UZS-10
Video Source: https://youtu.be/48pgv9ZUnCc
———————————–

FIQIH RAMADHĀN (BAG. 10)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh, yang di rahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita kembali melanjutkan pembahasan apa yang tersisa dari pembahasan fiqih puasa (fiqih Ramadhān). Kita akan sampaikan beberapa perkara yang membatalkan puasa.

Syaikh Muhammad Shālih bin Al ‘Utsaimin rahimahullāh mengatakan:

وال ْمفتطِّرات سبعة أنواع

Pembatal-pembatal puasa itu ada 7:

⑴ Al jima’ | Hubungan suami istri

Baik itu halal maupun harām.

⇛Yang halal bagaimana? Yaitu hubungan suami istri (pada umumnya).

⇛Yang harām bagaimana?

√ Hubungan suami istri ketika hāidh.
√ Hubungan suami istri (maaf) tidak lewat kemaluannya tapi lewat dubur, ini kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah perbuatan homoseksual shaghir (menyerupai kaumnya Nabi Luth).

√ Masih pacaran (ini banyak sekali sekarang), belum resmi. Terkadang orang itu inginnya cepet yang enak-enak saja tidak mau melalui suatu proses yang sebetulnya mudah sekali.

Agama islam itu mudah dan memudahkan, menjadikan sesuatu yang harām menjadi halal.

Maka segala bentuk jima’, entah itu yang halal atau yang harām, (yaitu) masuknya kemaluan laki-laki kedalam kemaluan perempuan maka ini membatalkan puasa.

Kata Syaikh:

Dan ini adalah pembatal puasa yang paling besar dosanya.

Puasanya batal dan dia juga berdosa.

Maka, kapan saja kalau ada orang yang berpuasa kemudian berhubungan suami istri, maka puasanya batal, baik puasa wajib maupun puasa sunnah.

Lalu bagaimana apabila ini dilakukan?

Maka wajib bagi orang yang melakukannya mengqadha’ untuk hari itu dan ditambah kafarah mughaladhah (denda yang berlipat-lipat besar).

Apa itu kafarahnya?

Kafarah yang pertama membebaskan budak, kemudian kalau tidak bisa membebaskan budak maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut, tidak boleh batal disela-selanya kecuali ada udzur syar’i.

⇛Misalnya terpotong oleh dua hari raya atau hari tasyrik atau mungkin sakit yang memang menghalangi dia dari puasa, atau safar sehingga mengakibatkan dia untuk berbuka, atau hāidh, dan lain-lain. Ini adalah udzur-udzur syar’i.

Demikian, Wallāhu Ta’āla A’lam.

⑵ Keluarnya air mani

Keluarnya air mani karena sengaja, baik karena dia mencium, menyentuh, meraba atau onani (masturbasi).

Bahkan sebagian ulama mengatakan, kalau mikir (menghayal) kemudian sampai keluar air mani maka puasanya batal.

Kalau melihat kemudian dia menundukan pandangan mata, kemudian melihat lagi sampai keluar air mani maka batal puasanya.

Makanya ada pembahasan masalah seperti itu berarti kemungkinan besar ada (terjadi). Sampai pernah bercerita kepada saya tentang kejadian itu, melihat kemudian keluar air mani, karena kuatnya syahwat.

Sebagian ulamā ada yang mengatakan, kalau melihat pertama kemudian keluar air mani maka tidak batal puasanya, tapi kalau dia melihat pertama kemudian diulang lagi kemudian keluar air mani, maka batal puasanya, kenapa?

Karena dia mengulang-ulang melihatnya.

Dalam hadīts dikatakan:

“Pandangan pertama itu jatahmu (tidak sengaja) dan pandangan kedua ini tanggung jawabmu.”

~~
Dari Buraidah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu:

يَا عَلِيّ ُ! لاَتُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ, فَإِنَّمَا لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الأَخِيْرَةُ

“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama, dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua).”

(HR At Tirmidzi nomor 2701, versi Maktabatu Ma’arif Riyadh nomor 2777)
~~~

Maka, kalau tidak sengaja kemudian keluar air mani maka tidak batal.

Allāhu Ta’āla A’lam bish Shawwab.

Adapun yang berpikir (kemudian keluar mani) yang saya sampaikan tadi sebetulnya tidak batal karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا

“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengampunkan dari umatku sesuatu yang hanya merupakan bisikan-bisikan dalam hatinya.”

(HR Bukhari nomor 4864, versi Fathul Bari nomor 5249)

Jadi kalau mikir kemudian keluar mani maka tidak batal.

Wallāhu Ta’āla A’lam bish Shawab

Tapi kalau keluar mani dengan sengaja, dengan mencium atau memegang atau onani dan yang lainnya maka yang seperti ini adalah membatalkan puasa.

Karena puasa itu hakikatnya adalah meninggalkan hawa nafsu sebagaimana sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts qudsi:

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، الصِّيَامُ لِي

“Dia meninggalkan makannnya, minumannya, dan nafsu syahwatnya, karena puasa untuk-Ku.”

(HR Bukhari nomor 1761, versi Tathul Bari nomor 1894)

Kalau mencium boleh tidak?

Kalau dia orang yang kuat
syahwatnya dan yakin dengan mencium akan keluar air mani maka tidak boleh mencium, dan anda lebih tahu tentang diri anda.

Apabila suaminya tidak mengapa bila mencium, maka tidak mengapa.

Wallāhu Ta’āla A’lam bish Shawwab.

fiqih10
[insyā Allāh, bersambung ke bagian 11]
_________

Fiqih Ramadhān (Bagian 9)

BimbinganIslam.com
Kamis, 04 Ramadhān 1437 H / 09 Juni 2016 M
Ustadz Zaid Susanto, Lc
Materi Tematik | Fiqih Ramadhān (Bagian 9)
———————————–

FIQIH RAMADHĀN (BAG. 9)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh, yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kita kembali melanjutkan apa yang tersisa dari pembahasan fiqih puasa (fiqih Ramadhān). Kita akan sampaikan beberapa perkara yang membatalkan puasa.
Kata Syaikh Muhammad bin Shālih Al Utsaimin rahimahullāh dalam pertemuan ke empat belas: فِي مُفَطِرَاتٍ الصَّوم  , Perkara-perkara Yang Membatalkan Puasa.
*· Puasa Secara Bahasa*
Puasa secara bahasa  berasal dari kata as shiam yang berarti al imsāk yaitu menahan.
⇛Jadi setiap usaha untuk menahan, bisa dikatakan dengan “shiam”.
Diantaranya ketika seseorang menahan untuk tidak berbicara maka ini juga disebut dengan puasa (shiam).
Sebagaimana Maryam bintu Imrān, beliau ketika mengandung putranya (Nabi Īsā ‘alayhissalām), Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan Maryam untuk berpuasa.
Maka beliau diperintahkan oleh Allāh untuk menjawab kepada kaum Bani Isrāil  dengan perkataan:
 إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
“Aku bernadzar untuk tidak berbicara (shaum, imsak, menahan). Aku tidak akan berbicara dengan seorangpun pada hari ini.”
(QS Maryam: 26)
Kalau kalian ingin tanya tentang diriku dan ingin tanya tentang anak yang aku bawa ini maka:
 فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ
“Tanya saja padanya (pada bayi yang ku gendong ini, saya tidak akan menjawab).”
Maka orang-orang Bani Isrāil ketika Maryam diam bahkan menunjuk pada bayinya, mereka mengatakan:
 كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا
“Bagaimana kita bisa mengajak bicara bayi yang masih di gendongan?”
Tiba-tiba Nabi Īsā yang saat itu masih bayi berkata:
قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ, آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا
“Saya ini Abdullāh, Allāh telah mengajarkan kepadaku Al Kitāb dan menjadikan aku seorang Nabi.”
(QS Maryam  30)
⇛Nabi Īsā, masih bayi sudah diangkat menjadi Nabi dan beliau sempat berdakwah.
Maka Maryam menahan dirinya dari berbicara, itulah yang disebut dengan shaum.
*· Secara Istilah*
Pengertian dan definisi puasa adalah:
Menahan diri untuk tidak makan, tidak minum dan juga dari perkara-perkara yang semakna dengan makan dan minum, dan dari segala macam perkara yang membatalkan puasa, dari sejak munculnya fajar shadiq sampai terbenamnya matahari (sampai bulatan matahari itu betul-betul tenggelam di ufuk barat).
Yang semakna dengan makan dan minum contohnya: merokok. Segala macam perkara yang membatalkan puasa contohnya: di infus dll.
Fajar ada dua:
⑴ Fajar Kadzib.
Fajar kadzib adalah yang muncul pertama kali, biasanya 1/2 jam sebelum fajar shadiq
⑵ Fajar Shadiq.
Fajar shadiq biasanya ditandai dengan dikumandangkan adzan subuh.
Hanya terkadang sebagian adzan subuh itu terlalu cepat dikumandangkan dibandingkan munculnya fajar shadiq. Maka adzan ini belum bisa dijadikan patokan.
Patokannya bagaimana?
⇛Lihat ciri-ciri fajar shadiq, yaitu munculnya warna terang yang melintang di ufuk timur, makin lama makin terang.
Wallāhu Ta’āla A’lam.
 وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
“Makan dan minumlah kalian, sampai telah jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam (yakni munculnya benang putih dari benang hitam), yakni fajar. Kemudian sempurnakan puasa itu hingga lail.”
⇛Benang putih itu fajar shadiq, benang hitam itu malam.
Maksudnya bukan membedakan benang putih atau hitam sebagaimana kisah Adi bin Hatib. Ketika mendengar ayat ini maka diapun tidur dan di bawah bantalnya ditaruh dua benang (benang hitam dan putih). Setiap saat dia lihat mana benang yang hitam mana yang putih. Akhirnya bercerita kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
“Kok saya tidak bisa membedakan antara benang putih dan hitam sampai subuh, ini bagaimana?”
Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
“Kalau begitu bantalmu besar sekali, karena yang dimaksud dengan benang putih dengan benang hitam itu adalah malam hari dan fajar, seluas langit.”
Kapan disebut lail?
Yaitu ketika matahari terbenam (waktu maghrib) dan pada waktu maghrib itulah perubahan hari (bukan jam 12 malam).
Kalau kita sudah tahu definisi puasa, bahwasanya puasa adalah menahan dari segala perkara yang membatalkannya, maka kita simpulkan berarti puasa bisa batal, cuma banyak orang yang menyepelekan.
Terkadang dia melakukan pembatal tapi dia tidak sadar, maka untuk itu kita perlu mempelajari pembatal-pembatal puasa.
fiqih9
[insyā Allāh, bersambung ke bagian 10]
___________________________

Fiqih Ramadhān (Bagian 8)

BimbinganIslam.com
Rabu, 03 Ramadhān 1437 H / 08 Juni 2016 M
Ustadz Zaid Susanto, Lc
Materi Tematik | Fiqih Ramadhān (Bagian 8)
———————————–

FIQIH RAMADHĀN (BAG. 8)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh, saya akan membahas tentang fiqih dan ini bahas atau saya ambil dari bukunya Syaikh Muhammad bin Shālih Al Utsaimin rahimahullāh, “Majālis Syahri Ramadhān”
Dalam kitab tersebut pada المجلس العاشر (pertemuan ke 10) beliau mangatakan
في آداب الصيام الواجبة
“Tentang adab-adab yang hukumnya wajib dikerjakan oleh orang yang berpuasa.”
Adab itu ada yang sifatnya sunnah ada juga yang sifatnya wajib.
Adab yang wajib dikerjakan orang yang berpuasa.
*(5) Yang kelima | Tinggalkan Kecurangan*
Curang dalam hal apa? Curang dalam masalah jual beli (timbangan, takaran).
Secara umum jujur dalam jual beli di luar bulan Ramadhān sangat dianjurkan.
Kata Rāsulullāh shālallahu ‘alayhi wassalam bahwasanya:
فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا
“Apabila penjual dan pembeli sama-sama menerangkan (sang penjual menerangkan aib barangnya), maka akan diberkahi jual beli keduanya.”
(HR Muslim nomor 2825, versi Syarh Muslim nomor 1532)
Semakin kita jujur semakin barākah harta yang kita dapatkan.
Itu di luar bulan Ramadhān, dalam bulan-bulan Ramadhān lebih-lebih lagi.
Kita harus meninggalkan curang karena kecurangan itu dosanya besar.
Kata Rāsulullah shalallahu ‘alayhi wassalam:
وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Orang yang curang bukan termasuk golonganku.”
(HR Muslim nomor 146, versi Syarh Muslim nomor 101)
Suatu saat Rāsulullah shalallahu ‘alayhi wassalam inspeksi ke pasar, Beiau melihat seorang pedagang menumpuk makanan, luarnya bagus. Kemudian:
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memasukan jarinya ke dalam tumpukan makanan. Maka didapatkan tumpukan makanannya itu  basah bagian dalamnya.
Kemudian ditarik dan katakan:
‘Wahai penjual makanan, ini kok basah kenapa?’
Kata sang penjual:
‘Oh, itu kehujanan ya Rāsulullah, sehingga agak lembab dan agak busuk.’
Kata Rāsulullah shalallahu ‘alayhi wassalam:
 ‘Kenapa tidak kamu letakan di bagian atas sampai manusia bisa melihatnya?’
(Kata Rāsulullah shalallahu ‘alayhi wassalam selanjutnya:)
‘Yang berbuat curang tidak termasuk golonganku’.”
(HR Muslim nomor 147, versi Syarh Muslim nomor 102)
Itu diluar bulan Ramadhān, lebih-lebih lagi nanti dibulan Ramadhān. Hati-hati !
*(6) Yang keenam | Jaga Telinga*
Yang ke 6 ini betul-betul dinasehatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.
Telinga wajib dijaga, dijaga dari apa?
Mendengan musik.
Ya Allāh, musik itu sudah kaya racun dalam keehidupan para pemuda. Seikit-dikit musik.
Kalau bulan Ramadhān, rumah kita ubah jadi madrasah Qurān.
Maka, cobalah di bulan Ramadhān ini kita hindarkan dari pendengaran-pendengaran yang tidak diridhai oleh Allāh. Kita ganti rumah kita menjadi rumah Al Qurān. Itu jauh lebih bermanfa’at.
Saya kira sampai sini apa yang bisa saya sampaikan. Ini tentang adab-adab yang wajib.
Adapun tentang adab-adab yang mustahab, contohnya adalah kalau sahur diakhirkan, kalau buka disegerakan. Terus kalau buka pakai kurma. Ruthab kalau ada, kalau tidak ada, kurma dan seterusnya.
Wallāhu Ta’ala A’lam bish Shawaab.
fiqih8
[insyā Allāh, bersambung ke bagian 9]

Fiqih Ramadhān (Bagian 7)

BimbinganIslam.com
Selasa, 02 Ramadhān 1437 H / 07 Juni 2016 M
Ustadz Zaid Susanto, Lc
Materi Tematik | Fiqih Ramadhān (Bagian 7)
———————————–

FIQIH RAMADHĀN (BAG. 7)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh, saya akan membahas tentang fiqih dan ini bahas atau saya ambil dari bukunya Syaikh Muhammad bin Shālih Al Utsaimin rahimahullāh, “Majālis Syahri Ramadhān”
Dalam kitab tersebut pada المجلس العاشر (pertemuan ke 10) beliau mangatakan
في آداب الصيام الواجبة
“Tentang adab- adab yang hukumnya wajib dikerjakan oleh orang yang berpuasa.”
Adab itu ada yang sifatnya sunnah ada juga yang sifatnya wajib.
Adab yang wajib dikerjakan orang yang berpuasa:
*(2) Yang kedua | Tinggalkan Dusta*
Karena orang yang berpuasa kalau dusta sebagian ulamā mengatakan puasanya batal tidak ada pahalanya.
Dusta itu di luar bulan puasa saja dosa besar apalagi di bulan puasa.
Jangan berdusta baik di luar bulan Ramadhān terlebih di dalam bulan Ramadhān.
كونوا مع الصادقين
“Berlakulah anda, kumpulah anda bersama orang-orang yang jujur.”
Sekarang harus kita praktekan, kalau jujur pasti mujur.
Jadi, jangan berdusta di dalam bulan Ramadhān.
Termasuk berdusta yang berbahaya adalah dusta atas nama Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Mubaliqh, Ustadz, hati-hati, tidak boleh berdusta. Lebih-lebih di bulan Ramadhān.
Kenapa (saya katakan demikian)?
Sebagaimana (telah banyak beredar) kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, bahwasanya, “10 hari pertama Ramadhān rahmat, pertengahannya maghfirah, akhirnya ‘Itqun minannār (pembebasan dari api neraka).”
*Itu hadīts dha’if.*
Tapi bukan berarti Ramadhān itu tidak ada rahmatnya, tidak ada maghfirahnya, bukan berarti tidak   ‘Itqun minannār (pembebasan dari api neraka).
‘Itqun min annār itu sepanjang malam bulan Ramadhān,
“Wadzalika kula lailah…,” pembebasan dari api neraka itu setiap malam, kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Hadīts dha’if itu tidak bisa di nisbatkan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Ini Ustadz kita mengatakan jangan dusta, dusta itu dosa besar, lebih-lebih di bulan Ramadhān, bulan yang penuh rahmat seperti sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Berarti dia dusta atau tidak? Dusta.
Dusta atas nama siapa?
Dusta atas nama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Ini dosanya besar, bertumpuk-tumpuk karena kalau dusta atas nama seseorang saja, misal nya:
“Eh, Pak Fulān tadi mengatakan begitu,” padahal tidak.
Ini dusta atu tidak? “Dusta”. Besar tidak? “Besar”, karena memfitnah orang.
Ini yang di fitnah, dikatakan telah berkata begini-begini bukan orang biasa, tapi Rasūl shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dan diancam oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku maka hendaklah dia menyiapkan tempat untuknya di dalam Neraka.”
(Hadist riwayat Bukhāri nomor 104, versi Fathul Bari nomor 107)
Jadi, kalau mau menyampaikan hadīts, maka sampaikanlah hadīts-hadits yang shahīh-shahīh saja.
Bagaimana cara mengetahui hadīts-hadits ini shahīh atau tidak?
Sekarang māsyā Allāh, internet itu faedahnya luar biasa, anda yang bisa berbahasa arab tinggal ketik hadīts apa saja kemudian tahu hukumnya hadīts itu.
Anda yang tidak bisa berbahasa Arab bisa ditulis terjemahannya hukum hadīts ini, nanti akan keluar, kedudukan hadīts tersebut.
Jadi, māsyā Allāh, sekarang dimudahkan.
Maka, untuk berceramah itu cukup dengan hadīts-hadits yang shahīh saja.
*(3) Yang ketiga | Tinggalkan Ghībah.*
Ibu-ibu, māsyā Allāh, menjelang berbuka ada tukang sayur kemudian ngobrol:
“Bukanya pakai apa?”
“Ikan asin dengan kangkung.”
“Ooh, tiap hari ikan asin sama kangkung?”
“Iya, itulah suami saya. Ih, enak bener.”
“Kalau suami saya tiap hari lauknya harus berubah, sekarang ikan, besok telur, besok kambing, besok sapi, terus berubah.”
Tadinya memuji suami, akhirnya ikut ghībah suami orang.
Hati-hati !
Kalau dikerjakan dibulan Ramadhān dosanya semakin besar. Sebagian ulamā mengatakan puasanya tidak akan diterima, Allāhu musta’an.
Mudah-mudahan Allāh melindungi kita.
*(4) Yang keempat | Tinggalkan Namimah*
Tinggalkan adu domba.
Misalnya:
Sama sama panitia ta’jil, Subhānallāh:
“Eh, kata Si Fulān demikian loh.”
“Kamu takjilnya cuma bisa ni.”
“Kata ini begini!”
 Akhirnya kerengan (ribut).
Ini namanya mengadu domba, namimah.
Namimah itu menukil perkataan dengan tujuan merusak hubungan.
Hati-hati, apalagi yang dirusak itu hubungan suami istri, ini di bulan puasa tidak boleh demikian, juga di bulan yang lain.
Sebagian orang bisa melakukan amalan ibadah dengan meninggalkan perkara-perkara yang halal (karena berpuasa) tapi mereka sulit untuk meninggalkan perkara-perkara yang harām.
Contohnya yang halal makan dan minum.
Tapi yang harām, baik itu di luar bulan Ramadhān atau di dalam bulan Ramadhān sama-sama tidak boleh, bahkan di bulan Ramadhān lebih lagi.
Maka sungguh aneh kalau ada orang bisa meninggalkan sesuatu yang halal tapi dia tidak bisa meninggalkan sesuatu yang harām.
Lalu, paling aman bagaimana Ustadz bila bulan Ramadhān?
Paling aman, perbanyak hubungan kita dengan Allāh.
Orang kalau sudah memperbanyak hubungan dengan Allāh berarti hubungan dengan manusia bagaimana? Berkurang, jadi kesempatan untuk berbuat maksiat itu akan semakin berkurang, mumpung bulan Ramadhān.
Lho Ustadz, katanya kalau beribadah harus sepanjang hari sepanjang tahun, lah ini Ramadhān koq saja?
Tidak apa-apa, ulamā juga begitu mereka tambah semanggat di bulan Ramadhān dibandingkan di luar bulan Ramadhān.
Kalau mungkin biasanya di luar bulan Ramadhān khatamnya sebulan sekali, ini sebagian ulamā, walaupun ini ijtihad mereka, ada yang mengkhatamkan Al Qurān sehari dua kali, ada yang mungkin mereka sepuluh hari sekali.
Maka, silahkan mumpung bulan Ramadhān, semanggat sebagaimana para ulamā juga dulu semanggat.
Kita tingkatkan hubungan kita dengan Allāh, sehingga kita tersibukan dan terkurangi hubungan kita dengan manusia.
Bukan melupakan, karena kita masih butuh hubungan dengan istri, ngemong anak, sang istri butuh dengan suaminya, suami membutuhkan dia, anak-anak membutuhkan dia, tetangga membutuhkan dia, tapi yang seperti itu di kurangi.
Dulu para ulamā kalau sudah masuk bulan Ramadhān tdak ngaji, pengajian-pengajian tutup kemudian baca Al Qurān.
Bukan berarti majelis ilmu adalah majelis yang jelek, tidak ! Mereka melihat kesempatannya adalah untuk sebanyak-banyaknya membaca Al Qurān.
fiqih7
[insyā Allāh, bersambung ke bagian 8]
___________________________

Fiqih Ramadhān (Bagian 6)

BimbinganIslam.com
Senin, 01 Ramadhān 1437 H / 06 Juni 2016 M
Ustadz Zaid Susanto, Lc
Materi Tematik | Fiqih Ramadhān (Bagian 6)
———————————–

FIQIH RAMADHĀN (BAG. 6)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Kaum muslimin dan muslimat, rahīmani wa rahīmakumullāh, saya akan membahas tentang fiqih dan saya ambil dari bukunya Syaikh Muhammad bin Shālih Al Utsaimin rahimahullāh, “Majlis Syahri Ramadhān”.
Dalam kitab tersebut pada المجلس العاشر (pertemuan ke 10) beliau mangatakan:
في آداب الصيام الواجبة
“Tentang adab- adab yang hukumnya wajib dikerjakan oleh orang yang berpuasa.”
Karena adab itu ada yang sifatnya sunnah dan ada yang sifatnya wajib.
فمن الآداب الواجبة أن يقوم الصائم بما أوجب االله عليه من العبادات القولية والفعلية ومن أهمها
“Diantara kewajiban seorang yang berpuasa adalah melakukan adab-adab adab-adab yang telah diwajibkan oleh Allāh berupa ibadah-ibadah qauliyah (ucapan) ataupun fi’liyah (perbuatan). Di antara kewajiban orang yang berpuasa adalah”
*(1) Yang pertama | الصلاة المفروضة  Shalāt wajib*
Dan diantara adab ibadah yang paling penting bagi orang yang berpuasa adalah shalat wajib.
Diantara rukun iman yang paling besar setelah syahadatain adalah shalat wajib. Ada riwayat, bahkan banyak, yang menerangkan bahwa batas antara kekafiran dan ke-Islaman seseorang itu bukan puasa tapi shalat.
العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تََرَكَهَا فََقَدْ كََفََرَ .
“Batas antara kita (kaum muslimin) dengan orang- orang kufar itu adalah shalat.”
(HR Tirmidzi nomor 2545, versi Maktabatu al Ma’arif Riyadh nomor 2621)
Orang muslim itu tanda (ciri) utamanya adalah shalat. Kalau sampai meninggalkan shalat maka kafir, terlepas dari perbincangan para ulama dalam menghukumi bahwa kafirnya keluar dari agama Islam ataukah dia masih muslim tapi fasik.
Kalau dia meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya, (misal meyakini):
“Shalat ki ra wajib,” (shalat ini tidak wajib). “Sing wajib ki apik karo tonggone,” (yang wajib ini baik sama tetangga).
Jika dia mengatakan begitu maka orang ini kafir karena dia mengingkari wajibnya shalat, sepakat para ulama bahwa orang ini kafir.
Adapun selama orang itu masih meyakini:
“Shalat ki yo wajib, ning males, aras-arasen, sibuk, mengko disek nek wis tuwo,” (Shalat ini ya wajib, tapi malas, ogah-ogahan, nanti dulu kalau sudah tua) sehingga dia tidak shalat sampai sudah tua, maka sebagian ulama mengatakan tidak kafir.
Tapi yang rajih, pendapat yang kuat, Wallāhu A’lamu bish Shawab, kalau terus-terusan tidak shalat meskipun dia meyakini wajibnya shalat maka dia kafir, na’udzu billāhi min dzalik.
~~> Ustadz, saya dengan pengajian ini ingin menghukumi orang.
Pak, Bu, “Ngaji iku ora nggunuhi uwong, ngaji itu untuk merangkul orang.
Ingat, ngaji itu bukan untuk memvonis, tapi justru semakin ngaji kita semakin sayang kepada orang lain.
Kita ini dengan semakin ngaji jadi seperti dokter. Dokter itu kalau lihat pasien bagaimana? Pasti berpikiran bagaimana pasiennya sembuh.
Orang yang ngaji itu makin lama semakin rahmat, semakin kasih sayang kepada orang lain, tidak gampang memvonis, tidak gampang.
Maka betul kata Syaikhul Islam Ibnu Qayyim:
أعلام الناس بالله أرحمهم بالمخلوق أهل السنة والجماعة
“Ahlus sunnah wal jama’ah itu adalah orang yang paling kenal Allāh dan paling sayang kepada makhluk.”
Kita ngaji itu untuk selamat, bukan menganggap diri paling selamat. Nek (kalau) sekedar nganggep (menganggap) dirinya paling selamat semua orang mengaku dirinya ahlus sunnah waljama’ah, semuanya.
Kata pepatah:
“Semua orang mengaku jadi kekasihnya Laila, tetapi Laila ternyata tidak menerima cintanya.”
Kenapa ?
Karena syaratnya tidak masuk hitungan Laila.
Semua orang mengaku dirinya yang paling benar tapi ternyata kebenaran tidak berpihak kepadanya.
Maka, betul kata para ulama:
الحق لايقوّم بالرجال ولكن الرجال يقومون بالحق
“Kebenaran itu tidak diukur dari orang. Tapi justru orang-orang itu diukur kebenarannya. “
Jadi yang menjadi parameter adalah *kebenaran* bukan orangnya.
Angger sing kondo iku (kalau yang ngomong itu) Ustadz, Kyai, Doktor, Profesor, LC, MA itu pasti benar, belum tentu.
Kita kembali.
Ternyata banyak orang yang tidak mau shalat tapi mau puasa, ini namanya adalah mendahulukan suatu kewajiban yang sifatnya di bawah meninggalkan sesuatu yang lebih wajib.
Puasa dibandingkan dengan shalat kedudukannya adalah jauh lebih tinggi shalat.
Makanya sebagian ulama bahkan mengatakan:
“Orang yang tidak shalat puasanya tidak sah.”
Karena kei-Islamannya diragukan.
Terlebih lagi kalau kaum pria yang wajib shalat berjamaah. Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam saja dalam keadaan peperangan bersama dengan shahabat tetap diperintahkan untuk melakukakn shalat berjamaah.
Orang buta dituntun datangnya menghadap Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
“Ya Rasūlullāh, saya ini buta, wajib tidak saya shalat berjamaah?”
Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam: “Tidak.”
Kemudian orang itu kembali, kemudian dipanggil lagi oleh Rasul shallallāhu ‘alaihi wasallam:
“Kamu masih mendengar panggilan adzan atau tidak?”
Kata orang tadi: “Ya, saya mendengar.”
“Kalau begitu datang.”
Dan perintah Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam itu menunjukkan sesuatu yang wajib.
Maka kewajiban pertama ketika bulan Ramadhān adalah kita tegakkan shalat.
Dan ditingkatkan pahalahnya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Ibadah itu ditingkatkan pahalanya (mutunya) oleh Allāh kemungkinan karena tempatnya yang mulia atau waktunya yang mulia.
Waktu yang mulia, contohnya bulan Ramadhān. Contohnya lagi shalat di tengah malam, makanya shalat tahajud adalah shalat yang paling utama:
أفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل
“Shalat malam itu adalah shalat yang utama setelah shalat fardhu.”
Kemudian, puasa juga bertingkat-tingkat. Ada puasa Ramadhān itu mulia,  puasa Senin-Kamis juga mulia tapi ada yang lebih mulia daripada Senin-Kamis yaitu puasa hari arafah.
Shalat di bulan Ramadhān berbeda dengan shalat di bulan-bulan biasanya.
Demkian juga dengan tempat, shalat di masjidil Haram berapa kali lipat? 100 ribu kali, māsyā Allāh. 100 ribu kali dibandingkan dengan shalat sunnah di sini.
Demikian juga shalat di masjid Nabawi,1000 kali. Kalau bisa ke masjidil Aqsha dan tidak membahayakan, shalat di sana 500 kali.
Masjid Quba’, dari penginapan menuju masjid berjalan kaki maka seperti halnya orang yang melakukan umrah.
Ini adab yang pertama.
fiqih6
[insyā Allāh, bersambung ke bagian 7]
___________________________

Fiqih Ramadhān (Bagian 5)

BimbinganIslam.com
Sabtu, 28 Sya’ban 1437 H / 04 Juni 2016 M
Ustadz Zaid Susanto, Lc
Materi Tematik | Fiqih Ramadhān (Bagian 5)
———————————–

FIQIH RAMADHĀN (BAG. 5)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Kaum muslimin dan muslimat, rahimanī wa rahimakumullāh,
Saya akan membahas tentang fiqih dan ini saya ambil dari bukunya Syaikh Muhammad bin Shālih Al Utsaimin rahimahullāh “Majālis Syahri Ramadhān”.
Beliau mengatakan:
فِيْ أَقْسَامِ النَّاسِ فِيْ الصِّيَامِ
Macam-macamnya manusia dibulan Ramadhān (di hadapan ibadah puasa).
Beliau mengatakan bahwa manusia itu terbagi menjadi 10 macam :
*(8) Kelompok yang kedelapan*
Wanita yang haidh.
Sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Muhammad bin Shālih Al Utsaimin dan tentunya para ulama, wajib atau tidak puasa?
Tidak wajib puasa dan tidak sah untuk melakukan puasa.
Bagaimana apabila ada wanita sedang berpuasa kemudian haidh menjelang magrib?
Maka puasanya batal,  walaupun kurang sedikit. Kalau memang benar-benar haidh maka puasanya batal.
Demikian juga sebaliknya, seorang wanita yang sedang haidh, siang hari kemudian suci. Bagaimana?
Sebagian ulama mengatakan, haruskah tidak boleh makan tidak boleh minum?
Akan tapi yang benar, tidak apa-apa makan dan minum, karena memang dari awal tidak wajib puasa.
Tapi dia tetap wajib qādhā untuk hari itu.
Bagaimana apabila ada seorang wanita suci dari haidh persis sebelum fajar, apakah dia wajib puasa ataukah tidak?
Wajib puasa meskipun belum mandi besar.
Wallãhu Ta’ala A’lam.
*(9) Kelompok yang kesembilan*
Wanita yang menyusui atau hamil.
Kata Syaikh:
.وخافت على نفسها أو على الولد
“Dia khawatir kesehatan diri atau anaknya?”
Biasanya, kalau ibu sedang menyusui kemudian berpuasa, bayinya biasanya ikut lemes. Begitu berbuka biasanya bayinya ikut riang.
Terkadang, ibunya khawatir. Khawatir tidak bisa ada batasannya.
Maka yang seperti itu :
فإنها تفطر
“Dia boleh untuk berbuka.”
Masalahnya, dia nanti mengqādhā atau fidyah atau qādhā dan fidyah jadi satu?
Ada khilaf dikalangan para ulama.
Syeikh Muhammad bin Shālih Al Utsaimin (mengatakan _qadha tanpa fidhyah,_ tambahan tim Transkrip BiAS dari kitab beliau), mungkin nanti ada pendapat yang lainnya atau masyayikh yang lain, Syaikh Nashiruddin Al Albani, cukup fidyah saja.
Na’am, Wallãhu Ta’ala A’lam bish Shawwab.
*(10) Kelompok yang kesepuluh*
Orang yang membutuhkan untuk berbuka.
Misalnya:
لدفع ضرورة غيره
“Untuk menolong orang lain.”
Ibaratnya, kalau kita tidak berbuka maka tidak bisa nolong orang lain.
Misal, kita lihat orang tenggelam. Kita tidak bisa berenang kalau kita tidak berbuka, padahal kita tau berenang dan harus menolong orang itu. Kita bisa berenang tanpa berbuka sebetulnya, tapi jaraknya tidak terjangkau (terbatas), badan kita lemes.
Kita berbuka dengan yang ada disekitar kita, minum air atau apa, kemudian kita berenang untuk menolong.
Ini wajib hukumnya. Dan dia wajib untuk mengqādhānya.
Wallãhu Ta’ala A’lam.
Kemudian, misalnya juga ada orang yang butuh untuk berbuka dalam memperkuat jihad fii sabilillah. Lagi perang yang seperti ini maka wajib untuk berbuka untuk memperkuat jihad.
Demikian, untuk pertemuan selanjutnya akan kita bahas tentang adab yang berkaitan dengan orang yang berpuasa atau pembatal-pembatal puasa, in syā Allāh.
fiqih5
[insyā Allāh, bersambung ke bagian 6]

Fiqih Ramadhān (Bagian 4)

BimbinganIslam.com
Jum’at, 27 Sya’ban 1437 H / 03 Juni 2016 M
Ustadz Zaid Susanto, Lc
Materi Tematik | Fiqih Ramadhān (Bagian 4)
———————————–

FIQIH RAMADHĀN (BAG 4)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Kaum muslimin dan muslimat, rahimanī wa rahimakumullāh, saya akan membahas tentang fiqih dan ini saya ambil dari bukunya Syaikh Muhammad bin Shālih Al Utsaimin rahimahullāh “Majālis Syahri Ramadhān”.
Beliau mengatakan,
فِيْ أَقْسَامِ النَّاسِ فِيْ الصِّيَامِ
Macam-macamnya manusia dibulan Ramadhān (di hadapan ibadah puasa).
Beliau mengatakan bahwa manusia itu terbagi menjadi 10 macam :
*⑹ Kelompok yang keenam*
Al Musāfir yaitu orang yang tidak menjadikan safarnya sebuah usaha untuk menghalalkan berbuka.
Jadi benar-benar safar, minimal safar yang mubah yakni jarak yang memang sudah dibolehkan untuk melakukan qashar.
Sebagian ulamā berbeda pendapat masalah jarak safar, ada yang mengatakan dengan jarak tertentu, 80an atau 70 sekian km (jumhūr). Kemudian ada yang mengatakan dikembalikan kepada ‘urf (hitungan kebiasaan orang).
Cirinya safar, kata sebagian ulamā biasanya persiapannya matang, kemudian kalau ditanya: Mau kemana? Mau safar (itu bahasa Arabnya) mau pergi jauh.
⚠Tapi syaratnya orang ini tidak menjadikan safarnya sebuah usaha untuk menghalalkan berbuka.
⇛Contohnya orang yang melarikan diri dari puasa (misalnya) sengaja safar ke luar kota dalam rangka melarikan diri agar tidak berpuasa (pent.), maka ini tidak boleh, dosa. Orang seperti ini tetap mempunyai kewajiban untuk berpuasa dan dosa karena dia berusaha melarikan diri dari syari’at.
فإذا لم يقصد التحيل فهو مخير بين الصيام والفطر
Orang yang melakukan safar sungguh-sungguh diberi pilihan:
√ Boleh berpuasa
√ Boleh berbuka
Sama saja apakah safarnya itu lama ataukah tidak.
Bagaimana kalau yang punya kebiasaan safar itu adalah seorang supir angkutan (misalnya)? Setiap hari dia safar Jogya-Purwokerto (sudah jarak kurang lebih jaraknya 181 Km) setiap hari seperti itu, bagaimana?
⇛Kalau memang sangat sulit dia melakukan puasa maka dia boleh untuk berbuka membatalkan puasanya dan dia nanti puasa di waktu yang memang mudah bagi dia.
⇛Tapi utamanya dia tetap berusaha sekiranya dia mampu tetap berpuasa.
Hati orang-orang beriman dibulan Ramadhān itu bersih. Disuruh puasa, mereka puasa semuanya.  Puasa nilainya dihati orang beriman itu luar biasa, ‘ala kulli hal.
Oleh sebab itu, nanti, puasa itu betul-betul dimuliakan oleh Allāh, tidak seperti yang lainnya.
Kenapa?
Nilai keikhlasannya bisa jauh lebih tinggi.
Bagaimana mereka?
Maka orang-orang yang safar itu diberi pilihan, kalau memang safarnya menyulitkan dia maka dia boleh berbuka, tapi kalau safarnya itu mudah bagi dia maka sebaiknya dia tetap berpuasa.
Kenapa?
Kata Syaikh Muhammad Shālih bin Utsaimin: Karena beda, mengerjakan puasa ketika sendirian nanti (membayar puasa) dengan puasa bareng-bareng. Kekuatannya itu beda apabila nanti kita berpuasa di tempat atau waktu yang lain.
Tapi kalau memang safar itu menyebabkan kesulitan bagi kita maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla menginginkan kemudahan bagi anda.
  يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allāh menginginkan kemudahan bagimu, dan tidak menginginkan kesulitan.”
(QS Al Baqarah: 185)
*⑺ Kelompok yang ketujuh*
Orang sakit yang diharapkan sembuhnya.
Ini ada 3 kelompok:
① Orang yang puasanya tidak berat bagi dia (ringan) dan tidak membahayakan sakitnya.
⇛Orang seperti ini wajib berpuasa, kenapa?
Karena ini bukan udzur untuk tidak berpuasa.
Jadi kalau sakit ringan kalau puasa pun tidak pengaruh misalnya sakit gigi, pilek.
② Orang-orang yang sakit, dan sakitnya mempersulit untuk berpuasa tapi tidak memperberat sakitnya.
⇛Maka yang seperti ini Makruh hukumnya untuk berpuasa, karena mempersulit dia.
Berarti sebaiknya berbuka Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam suatu hadīts:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتِى رُخْصَهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتِى مَعْصِيَتَهُ
“Sesungguhnya Allāh suka untuk diambil rukhsahnya (keringanan) yang diberikan oleh Allāh kepada umatnya”
(Hadīts Riwayat Ahmad 2/108, Ibnu Hibban 2742 dari Ibnu Umar dengan sanadnya yang Shahīh)
Kalau sulit maka jangan puasa, Allāh suka sebagaimana Allāh suka kemaksiatannya tidak dikerjakan.
Sebagaimana Allāh suka hambanya tidak mengerjakan maksiat.
③ Orang yang sakit, yang apabila puasa sakitnya tambah parah, dan tentunya sulit bagi dia untuk puasa.
⇛Maka apa hukumnya?
Harām untuk puasa dan wajib untuk berbuka.
Apa kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla?
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allāh adalah Maha Penyayang kepadamu.”
(QS An Nisā’: 29)
[insyā Allāh, bersambung ke bagian 5]
____________________________
Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
Dikirim dari ponsel cerdas BlackBerry 10 saya dengan jaringan 3 Indonesia.