Tag Archives: HAJI

DEFINISI KURBAN DAN HUKUMNYA

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Jum’at, 28 Dzulqa’dah 1442 H/09 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 05: Definisi kurban dan hukumnya

〰〰〰〰〰〰〰

DEFINISI KURBAN DAN HUKUMNYA

بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له و من يضلل فلا هادي له أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له واشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه و على آله وأصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada pertemuan yang ke-5 ini, kita akan bersama-sama belajar tentang :

▪︎ Definisi Kurban dan Hukumnya

Para ulama kita (rahimakumullāh) telah menuliskan banyak sekali definisi tentang kurban ini. Tetapi makna dari definisi tersebut berdekatan dan tidak saling bertentangan satu sama lain.

Di antaranya disebutkan التضْحِيَة kurban itu adalah syātun (شاة) domba atau hewan kurban dalam definisi lain disebutkan hayawānun (الْحَيَوَان).

مَخْصُوْص

Hewan yang khusus (dengan kriteria khusus).

تذبح بعد صلاة العيد

Yang disembelih setelah shalat Iedul Adha.

تقربا الى الله

Dalam rangka untuk mendekatkan diri atau beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

التضْحِيَة :شاة خُصُوْصِيّ تذبح بعد صلاة العيد تقربا الى الله

“Kurban adalah menyembelih domba atau hewan khusus setelah shalat Iedul Adha dalam rangka untuk mendekatkan diri atau beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Ibadah kurban merupakan syiar islam yang disyari’atkan di dalam al-Kitab (Al-Qurān) dan di dalam Sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, serta ijma’ para ulama kaum muslimin.

Di antara ayat Al-Qurān yang menegaskan pensyariatan kurban adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ۞ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

“Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau kenikmatan yang banyak (besar) maka tegakkanlah shalat dan berkurbanlah.”

(QS. Al-Kautsar:1-2)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ۞ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allāh, Tuhan seluruh alam.

Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).”

(QS. Al-An’ām:162-163)

Kata an-nusuk (النسك) adalah penyembelihan sebagaimana dikatakan oleh Said bin Zubair. Adapula yang mengatakan an-nusuk (النسك) adalah semua ibadah termasuk sembelihan. Pendapat kedua ini lebih luas cakupannya.

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, dan ibadahku seluruhnya” termasuk di dalamnya penyembelihan (menurut pendapat yang kedua) hanya aku peruntukkan bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Al-Bukhāri dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu (masih berkaitan dengan pensyariatan kurban) dia berkata:

ضَحَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih hewan kurban berupa dua ekor domba dengan warna putih garam (warna putih seperti warna garam) sebagian riwayat ditambahkan أَقْرَنَيْنِ (yang bertanduk). Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih kurbannya dengan tangan beliau sendiri, dan beliau membaca tasmiyah dan bertakbir (بسم لله ….الله أكبر) dan beliau meletakkan kaki beliau pada sisi samping kedua hewan kurban tersebut.”

(Hadīts shahīh riwayat Al-Bukhāri nomor 5565)

Maksud pada sisi samping yaitu badan samping bagian dada di atas leher sedikit domba tersebut.

Dari Abdullāh bin Umar radhiyallāhu ‘anhumā, dia berkata:

أَقَامَ النبي صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ يُضَحِّي ‏ ‏

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tinggal di Madīnah selama sepuluh tahun dalam keadaan senantiasa beliau berkurban setiap tahunnya.” (tidak pernah absen).

(Hadīts hasan riwayat At-Tirmidzi nomor 1507)

Ini adalah beberapa dalīl yang menjelaskan kepada kita tentang pensyariatan ibadah kurban.

Dan jumhur ulama berpendapat bahwa kurban ini hukumnya sunnah muakaddah (sunnah yang ditekankan), sunnah tetapi sangat dianjurkan, sunnah tetapi sangat diwasiatkan untuk dilakukan. Karena Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah meninggalkan kurban semasa beliau hidup di Madīnah selama sepuluh tahun.

Ini adalah madzhab Asy-Syafī’i, Mālik, Ahmad dan pendapat yang masyhur dari keduanya.

Sedangkan selain mereka berpendapat bahwa ia wajib. Kelompok ulama yang kedua mengatakan kurban itu hukumnya wajib tidak sunnah. Ini adalah madzhab Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari dua riwayat Ahmad.

Dan pendapat wajibnya kurban ini, dipilih oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāhu ta’āla, beliau berkata:

“Ia adalah salah satu pendapat dari dua pendapat dalam madzhab Mālik atau dhahir dari madzhab Mālik.”

Ikhwāni wa Akhawatiy Fīllāh rahīmani wa rahīmakumullāh wa A’azzakumullāh.

Disebagian kitab beliau Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah di antaranya dalam Majmu’ Fatawa mengatakan, bahwa dalīl terkuat yang dipakai oleh ulama untuk mengatakan kurban itu hukumnya sunnah berarti dalīlnya banyak, tetapi menurut Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah yang terkuat adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, janganlah ia memotong rambutnya dan memotong kukunya.”

(Hadīts shahīh Muslim nomor 1977)

Para ulama yang menyatakan kurban itu sunnah:

الوجوب لا يعلق بالإرادة

“Satu kewajiban itu tidak dikaitkan dengan keinginan.”

Tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan, “Jika telah masuk sepuluh pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban”. Artinya kurban itu hanya berlaku bagi orang yang ingin, jika tidak ingin maka tidak berkurban, tidak apa-apa.

Ini merupakan dalīl yang dikatakan Ibnu Taimiyyah sebagai ‘ūdah (عوْدَة) dan beliau membantahnya.

Yang benar,

الوجوب قد يعلق بالإرادة بشرط

“Satu kewajiban itu kadang dikaitkan dengan keinginan tetapi bersyarat”

Seperti sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إذا أراد أحدكم أن يصلي فليتوضأ

“Jika salah seorang dari kalian ingin shalat, hendaknya dia berwudhu”

Sedangkan shalat lima waktu adalah wajib.

Apakah kita akan mengatakan shalat itu berlaku bagi orang yang ingin, sedangkan yang tidak ingin (tidak shalat) tidak apa-apa?

Tidak demikian, maka wallāhu ta’āla a’lam bishawab. Pendapat yang benar dalam masalah ini, “Kurban itu hukumnya wajib”.

Ditambah lagi dengan ancaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bagi orang yang tidak berkurban.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam satu hadīts shahīh.

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa memiliki kelongaran rezeki namun ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati tanah lapang untuk shalat hari raya.”

(Hadīts hasan riwayat Ibnu Mājah nomor 3123)

Di dalam kitab Ahkamul Idain Fīsunnatil Muthaharah syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari rahimahullāhu ta’āla, tatkala menyebutkan hadīts ini, beliau mengatakan seolah-olah tidak ada manfaatnya orang yang memiliki kelonggaran rezeki kemudian dia tidak berkurban dan dia ikut shalat.

“Seolah-olah shalatnya tidak bermanfaat bagi dirinya ketika ia meninggalkan kewajiban tersebut (berkurban).”

Tadi di atas disebutkan;

Ada riwayat bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah meninggalkan kurban. Ada ancaman bagi orang yang memiliki kelebihan rezeki tetapi ia tidak berkurban maka ia tidak boleh mendekat ke tanah lapang untuk shalat.

Ikhwāni wa Akhawatiy Fīllāh rahīmani wa rahīmakumullāh wa A’adzakumullāh yang senantiasa dirahmati oleh Allāh.

Kemudian ada riwayat juga, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةً وَعَتِيرَةً هَلْ تَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ؟ هِيَ الَّتِي تُسَمُّونَهَا الرَّجَبِيَّةَ

“Wajib bagi setiap satu rumah pada setiap tahunnya untuk melakukan kurban di bulan Dzulhijjah yang disebut udhhiyyah (أُضْحِيَّةً) dan kurban di bulan Rajab yang disebut ‘atirah (عَتِيرَةً).

Apakah kalian tahu apa itu ‘atirah ((عَتِيرَةً)?

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

هِيَ الَّتِي تُسَمُّونَهَا الرَّجَبِيَّةَ

Dia adalah kurban yang dilakukan di bulan Rajab.”

(Hadīts riwayat At-Tirmidzī, Abu Dawud , An-Nassā’i, Ibnu Mājah. At-Tirmidzī mengatakan hadīts ini gharībun dhaīf dan Abu Dawud mengatakan pensyariatan Al-‘Atirah (الْعَتِيرَة) telah dihapus. Syaikh Al-Albāniy menghukumi hadīts ini dhaif)

Dan Imam Nawawi rahimahullāhu mengatakan الْعَتِيرَة مَنْسُوخَة pensyariatan Al-‘Atirah (الْعَتِيرَة) Ini
telah dihapus, sedangkan pensyariatan (kewajiban) kurban masih tetap berlaku.

Wallāhu ta’āla a’lam bishawab.


HARI TASYRIQ DAN DZIKIR-DZIKIR YANG DIANJURKAN

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Kamis, 27 Dzulqa’dah 1442 H/08 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 04: Hari Tasyriq dan Dzikir- Dzikir yang Dianjurkan

〰〰〰〰〰〰〰

HARI TASYRIQ DAN DZIKIR-DZIKIR YANG DIANJURKAN

بسم الله الرحمن الرحيم
الـحـمـد لله رب الـعـالـمـيـن و الـصـلاة و الـسـلام عـلـى أشـرف الأنـبـيـاء و الـمـرسـلـيـن وعلى آله وأصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulillāh kita dipertemukan kembali pada kesempatan kali ini, dan kita akan bersama-sama mempelajari tentang:

▪︎ Hari Tasyriq serta Doa dan Dzikir

Doa dan dzikir apa saja yang bisa kita lakukan, kita baca, bisa kita amalkan, bisa kita dawwamkan dan rutinkan pada hari-hari tersebut.

⑴ Hari Tasyriq (أَيَّامُ اَلتَّشْرِيقِ)

Imamu Muslim telah meriwayatkan di dalam shahīhnya dari hadīts Nubaisyah al-Hudzali bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

أَيَّامُ مِنَى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ, وَذِكْرٍ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Hari-hari Mina adalah hari-hari makan, minum dan berdzikir kepada Allāh Azza wa Jalla.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1141)

Hari-hari Mina di sini maksudnya adalah hari-hari tasyriq yaitu hari-hari yang jatuh setelah selesai hari penyembelihan (Idul Adha) yaitu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah setiap tahunnya.

Diriwayatkan oleh para penulis kitab As-Sunnan dan Al-Musnad dari jalan yang banyak. Dari Nabi dan dalam sebagian jalannya disebutkan:

أن النبي صلى الله عليه وسلم مبعث في ايام منى مندينا مندي لَا تصوم هذه الايام فان ايام اكل وشرب وذكر لله عز وجل

Bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengutus di hari-hari Mina yaitu di hari Tasyriq, Nabi mengutus seorang penyeru yang berseru dan berteriak, “Janganlah kalian berpuasa di hari-hari ini (hari Mina atau hari-hari Tasyriq) karena ia merupakan hari-hari untuk makan, minum (berhari raya, bersuka-cita) dan hari untuk berdzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.

Hari-hari Mina atau hari-hari Tasyriq yang telah ditentukan jumlahnya sebagaimana difirmankan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْدُودَٰتٍۢ

“Dan berdzikirlah kalian dengan mengingat dan menyebut asma Allāh pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Yaitu jumlahnya tiga hari setelah hari penyembelihan sebagaimana tadi kita sampaikan.

Kemudian dari hari-hari Tasyriq yang tiga itu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah yang paling utama di antara ketiga hari tersebut adalah hari yang pertama yaitu tanggal 11 Dzulhijjah, biasa di sebut dengan hari Al-Qarr (القر) atau hari untuk menetap.

Kenapa dinamakan Al-Qarr (القر) ?

Karena orang yang berada di Mina (orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji) menetap di sana dan tidak boleh keluar dari sana. Sehingga tanggal 11 Dzulhijjah, orang-orang yang melaksanakan ibadah haji menetap di Mina.

Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam surat Al Baqarah 203.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوۡمَيۡنِ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِۖ

“Dan barangsiapa mempercepat untuk meninggalkan Mina setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Adapun meninggalkan Mina di hari yang pertama yaitu hari ke-11 maka tidak boleh, maka disebut sebagai hari Al-Qarr (القر) Sehingga jama’ah haji tidak boleh keluar dari Mina.

Adapun yang keluar setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya dan barangsiapa mengakhirkan keberangkatannya maka tidak ada dosa pula baginya.

Itu adalah sekelumit tentang hari-hari Tasyriq.

⑵ Doa dan Dzikir

Macam-macam dzikir yang sangat dianjurkan untuk dibaca dan di amalkan pada hari-hari Tasyriq. Karena Allāh telah memerintahkan agar kita memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut sebagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

أإنها أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Hari Tasyriq adalah hari untuk makan, minum dan berdzikir kepada Allāh.”

(HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i)

Dzikir seperti apa yang disyariatkan?

① Bertakbir

Banyak di antaranya yang pertama adalah dzikir kepada Allāh setelah shalat fardhu, dengan membaca dzikir setelah shalat kemudian boleh juga bertakbir.

Sebagian ulama mengatakan ini adalah takbir khusus setelah seseorang selesai melakukan shalat jama’ah lima waktu.

اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ….. لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ….. اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Atau bacaan takbir yang lainnya.

Tetapi sebagian ulama kita mengatakan bahwa tidak ada keterangan untuk bertakbir secara khusus setelah shalat.

Tapi takbir itu setelah shalat, ketika kita di pasar, ketika kita di jalan, ketika kita di tempat kerja, ketika kita naik kendaraan. Sangat dianjurkan sekali untuk bertakbir.

② Dzikir kepada Allāh dengan membaca tasmiyah yaitu membaca bismillāh dan takbir (الله اكبر)

بسم الله الله اكبر

Kapan itu?

Saat menyembelih, karena hari-hari Tasyriq merupakan hari-hari diperbolehkan bagi kita untuk menyembelih, yang tidak bisa menyembelih di hari Idul Adha bisa menyembelih di hari taysriq.

Sesaat sebelum menyembelih dia membaca بسم الله الله اكبر sebagaimana disebutkan dalam satu hadīts,

ضَحَّى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih dua ekor domba dan beliau meletakkan kaki beliau di samping badan si domba dan beliau membaca tasmiyah dan bertakbir (بسم الله الله اكبر).”

(HR. Bukhari dan Muslim)

③ Dzikir kepada Allāh saat makan dan minum, karena tadi dikatakan hari Tasyriq adalah hari makan dan minum, sebelum makan membaca bismillāh dan setelah makan membaca alhamdulillāh.

Jika tidak sebagaimana disebutkan dalam kitab Adabul Mufrad, ada satu riwayat hadīts dari Nabi menerangkan orang yang makan kemudian dia tidak membaca bismillāh tidak membaca tasmiyah maka syaithan akan ikut makan dengannya.

Dan jika dia membaca tasmiyah maka syaithan akan berkhutbah kepada teman-temannya لَا أَسْأَلكُمْ tidak ada jatah makan bagi kalian. Karena si fulan sebelum makan dia membaca tasmiyah.

Itu di antara dzikir yang bisa kita lakukan.

Kemudian dalam hadīts yang lain, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ

‘Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar ridha, Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar senang dan suka terhadap hamba jika dia makan kemudian dia memuji Allāh atas nikmat tersebut (setelah makan dia mengucapkan Alhamdulillāh memuji Allāh).

وَيَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Dan si hamba tadi minum kemudian memuji Allāh atas nikmat berupa minuman tersebut.”

(Hadīts riwayat Muslim Nomor 2734)

Jadi sebelum makan membaca bismillāh setelah makan dan minum membaca alhamdulillāh.

⑷ Dzikir kepada Allāh dengan bertakbir pada saat melempar jumrah di hari-hari Tasyriq yang ini berlaku khusus untuk orang-orang yang menunaikan ibadah haji.

Dalam perintah berdzikir pada saat selesai ibadah haji terdapat satu makna khusus yaitu bahwa ibadah-ibadah itu bisa habis waktunya dan berakhir, sedangkan dzikir kepada Allāh tetap abadi. Tidak habis waktunya, tidak berakhir, bahkan ia terus berlaku bagi orang-orang mukmin di dunia maupun di akhirat.

Allāh juga memerintahkan untuk berdzikir setiap kali selesai shalat.

فَإِذَا قَضَيۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡۚ

“Jika kalian telah selesai shalat maka bacalah dzikir kepada Allāh baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring.”

(QS. An-Nissā: 103)

Bacaan setelah shalat yang sudah sangat kita kenal itu lebih ditekankan lagi dibaca pada hari-hari Tasyriq.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan di antara bentuk kecerdasan seorang hamba adalah dia senantiasa bersyukur dan berdzikir kepada Allāh atas nikmat dan anugerah yang telah Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepadanya.

Terjemah

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsunya dan ia beramal untuk kepentingan setelah mati”

Mumpung Allāh masih menganugerahkan kesehatan kepada kita, kita gunakan nikmat sehat itu untuk banyak-banyak berdzikir kepada Allāh.

Disebutkan dalam beberapa untaian syair, satu nasehat untuk kita semua dan ini sebagai penutup juga (untuk pertemuan hari ini)

Dikatakan:

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها ~ فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم
وداوم عليها بشكر الإله ~ فشكر الإله يزيل النقم

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها

Apa bila engkau merasakan satu kenikmatan, maka jagalah, peliharalah, lestarikanlah, kenikmatan itu

فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم

Karena sesungguhnya maksiat itu menghilangkan kenikmatan tersebut.

Ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan kepada kita kesehatan. Jatah makan, jatah minum, anak, istri, sandang, papan, pangan, maka hendaknya kita menjaga kenikmatan itu agar tidak tidak hilang.

Dengan cara apa?

Menjauhi maksiat, karena maksiat akan menghilangkan nikmat.

وداوم عليها بشكر الإله

Dan abadikan kenikmatan itu dengan bersyukur kepada Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”

(QS. Ibrahim: 7)

فشكر الإله يزيل النقم

Karena bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghilangkan hukuman-hukuman

Menghilangkan apa?

Pidana-pidana yang barangkali Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada orang-orang yang tidak mau bersyukur.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu ta’āla a’lam.


Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Rabu, 26 Dzulqa’dah 1442 H/07 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 03: Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah

〰〰〰〰〰〰〰

SEBAB-SEBAB MENDAPATKAN PEMBEBASAN DAN AMPUNAN PADA HARI ARAFAH

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين وأفضل الصلاة وأتم التسليم على
نبينا هذا الآمين المبعوث في رحمة للعالمين و على آله و أصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada kesempatan kali ini kita akan bersama mendengarkan paparan tentang :

▪︎ Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah

Ketika kita memaparkan pada pertemuan yang lalu bahwa sebagian ulama. Sebagian ulama ulul Islām menyatakan bahwa hari Arafah merupakan hari yang paling utama.

Maka di dalamnya kita teramat sangat dianjurkan sekali untuk memperbanyak ibadah, untuk memperbanyak berdoa dan berdzikir di hari tersebut (sebanyak-banyaknya).

ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا

“Ingatlah kepada Allāh, dengan mengingat nama-Nya sebanyak-banyaknya.”

(QS. Al-Ahzāb: 41)

Dan di hari tersebut sebagaimana sudah kita bacakan dalīlnya, di hari itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla paling banyak membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka.

Tidak ada hari lain yang melebihi banyaknya pembebasan dari neraka (dari sisi jumlah hamba-hamba Allāh yang dibebaskan).

Kalau di hari lain Allāh memberikan ampunan, maka di hari Arafah Allāh lebih banyak lagi memberikan ampunan dan Allāh lebih banyak lagi membebaskan manusia dari neraka.

Maka pada kesempatan kali ini kita akan sampaikan sebab atau sarana yang bisa menjadikan kita mendapatkan pembebasan dan ampunan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla di hari Arafah.

Barangsiapa berantusias tinggi meraih pembebasan dan perlindungan dari api neraka serta pengampunan dosa-dosanya pada hari Arafah hendaknya ia menjaga sebab-sebab dan meraih pembebasan serta ampunan. Tidak cukup seseorang bercita-cita untuk mendapatkan ampunan, tidak cukup seseorang bercita-cita untuk dibebaskan dari neraka kalau dia tidak menempuh sebab-sebabnya.

Kata pepatah disebutkan:

ترجو النجاة و لم تسلك مسالكها إن السفينة لَا تجرى على اليبس

“Engkau mengharapkan keselamatan, namun engkau tidak menempuh jalan-jalan yang bisa mengantarkan engkau kepada keselamatan. Karena sesungguhnya perahu dan kapal, sampan dan kano tidak akan mampu berjalan atau berlayar di atas daratan yang kering kerontang.”

Maka keinginan kita untuk diampuni oleh Allāh, terbebas dari neraka Allāh harus disertai usaha:

⑴ Berpuasa pada hari Arafah bagi orang-orang yang tidak berhaji.

Sebagaimana disebutkan dalam shahīh Muslim dari Abu Qatadah radhiyallāhu ‘anhu, dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

صِيَامُ يَومِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ علَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتي بَعْدَهُ

“Puasa yang dilakukan pada hari Arafah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah setiap tahunnya. Aku harapkan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, untuk menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu dan dosa satu tahun yang akan datang.”

(Hadits riwayat Muslim no. 1162)

Adapun dosa-dosa yang diampunkan di sini adalah dosa-dosa kecil, adapun dosa yang besar tidak akan terhapus dan dia hanya bisa terhapus dengan taubatan nasuha.

Beristighfar kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla kemudian berjanji tidak akan mengulangi dan meninggalkan sebab-sebab yang bisa mengantarkan dia kepada perbuatan dosa besar tersebut.

Para ulama mengatakan:

لَا صَغائر مع الإستمرار و ما كبائر مَعَ اِسْتِغْفَارٍ

“Tidak ada dosa-dosa kecil jika dosa itu dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar ketika dia diikuti dengan taubatan nasuha.”

⑵ Menjaga…
[16:16, 7/7/2021] +62 821-3371-5314: بِسْــــــــــــــــــمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

🔰 EVALUASI HARIAN TELAH DIBUKA

Sahabat Bimbingan Islām, rahimaniy wa rahimakumullāh, yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Silahkan mengikuti Evaluasi Harian WAG BiAS via telegram…

📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 #Halaqah 03:
( Sebab-sebab Mendapatkan Pembebasan dan Ampunan pada Hari Arafah)

Jumlah Soal : 2 buah
Link : https://t.me/QuisWAGBIAS

Baarokallahu fiikum…

🖋️

BIAS CENTER
[16:16, 7/7/2021] +62 821-3371-5314: ▪️▪️▪️▪️▪️
[09:32, 7/8/2021] +62 821-3371-5314: 🌍 BimbinganIslam.com
📆 Kamis, 27 Dzulqa’dah 1442 H/08 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 04: Hari Tasyriq dan Dzikir- Dzikir yang Dianjurkan

〰〰〰〰〰〰〰

🏦 Yuk, Dukung Program Dakwah Islam melalui :

| Bank Syariah Indonesia (ex. BSM)
| Kode Bank (451)
| Nomor Rekening : 78.14.5000.17
| a.n CINTA SEDEKAH (INFAQ)
| Konfirmasi klik cintasedekah.org/donasi
[09:32, 7/8/2021] +62 821-3371-5314: 🌍 BimbinganIslam.com
📆 Kamis, 27 Dzulqa’dah 1442 H/08 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 04: Hari Tasyriq dan Dzikir- Dzikir yang Dianjurkan

〰〰〰〰〰〰〰

HARI TASYRIQ DAN DZIKIR-DZIKIR YANG DIANJURKAN

بسم الله الرحمن الرحيم
الـحـمـد لله رب الـعـالـمـيـن و الـصـلاة و الـسـلام عـلـى أشـرف الأنـبـيـاء و الـمـرسـلـيـن وعلى آله وأصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulillāh kita dipertemukan kembali pada kesempatan kali ini, dan kita akan bersama-sama mempelajari tentang:

▪︎ Hari Tasyriq serta Doa dan Dzikir

Doa dan dzikir apa saja yang bisa kita lakukan, kita baca, bisa kita amalkan, bisa kita dawwamkan dan rutinkan pada hari-hari tersebut.

⑴ Hari Tasyriq (أَيَّامُ اَلتَّشْرِيقِ)

Imamu Muslim telah meriwayatkan di dalam shahīhnya dari hadīts Nubaisyah al-Hudzali bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

أَيَّامُ مِنَى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ, وَذِكْرٍ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Hari-hari Mina adalah hari-hari makan, minum dan berdzikir kepada Allāh Azza wa Jalla.”

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1141)

Hari-hari Mina di sini maksudnya adalah hari-hari tasyriq yaitu hari-hari yang jatuh setelah selesai hari penyembelihan (Idul Adha) yaitu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah setiap tahunnya.

Diriwayatkan oleh para penulis kitab As-Sunnan dan Al-Musnad dari jalan yang banyak. Dari Nabi dan dalam sebagian jalannya disebutkan:

أن النبي صلى الله عليه وسلم مبعث في ايام منى مندينا مندي لَا تصوم هذه الايام فان ايام اكل وشرب وذكر لله عز وجل

Bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengutus di hari-hari Mina yaitu di hari Tasyriq, Nabi mengutus seorang penyeru yang berseru dan berteriak, “Janganlah kalian berpuasa di hari-hari ini (hari Mina atau hari-hari Tasyriq) karena ia merupakan hari-hari untuk makan, minum (berhari raya, bersuka-cita) dan hari untuk berdzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.

Hari-hari Mina atau hari-hari Tasyriq yang telah ditentukan jumlahnya sebagaimana difirmankan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْدُودَٰتٍۢ

“Dan berdzikirlah kalian dengan mengingat dan menyebut asma Allāh pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Yaitu jumlahnya tiga hari setelah hari penyembelihan sebagaimana tadi kita sampaikan.

Kemudian dari hari-hari Tasyriq yang tiga itu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah yang paling utama di antara ketiga hari tersebut adalah hari yang pertama yaitu tanggal 11 Dzulhijjah, biasa di sebut dengan hari Al-Qarr (القر) atau hari untuk menetap.

Kenapa dinamakan Al-Qarr (القر) ?

Karena orang yang berada di Mina (orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji) menetap di sana dan tidak boleh keluar dari sana. Sehingga tanggal 11 Dzulhijjah, orang-orang yang melaksanakan ibadah haji menetap di Mina.

Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam surat Al Baqarah 203.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوۡمَيۡنِ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِۖ

“Dan barangsiapa mempercepat untuk meninggalkan Mina setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Adapun meninggalkan Mina di hari yang pertama yaitu hari ke-11 maka tidak boleh, maka disebut sebagai hari Al-Qarr (القر) Sehingga jama’ah haji tidak boleh keluar dari Mina.

Adapun yang keluar setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya dan barangsiapa mengakhirkan keberangkatannya maka tidak ada dosa pula baginya.

Itu adalah sekelumit tentang hari-hari Tasyriq.

⑵ Doa dan Dzikir

Macam-macam dzikir yang sangat dianjurkan untuk dibaca dan di amalkan pada hari-hari Tasyriq. Karena Allāh telah memerintahkan agar kita memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut sebagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

أإنها أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Hari Tasyriq adalah hari untuk makan, minum dan berdzikir kepada Allāh.”

(HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i)

Dzikir seperti apa yang disyariatkan?

① Bertakbir

Banyak di antaranya yang pertama adalah dzikir kepada Allāh setelah shalat fardhu, dengan membaca dzikir setelah shalat kemudian boleh juga bertakbir.

Sebagian ulama mengatakan ini adalah takbir khusus setelah seseorang selesai melakukan shalat jama’ah lima waktu.

اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ….. لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ….. اللهُ أكْبَرُ….. اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Atau bacaan takbir yang lainnya.

Tetapi sebagian ulama kita mengatakan bahwa tidak ada keterangan untuk bertakbir secara khusus setelah shalat.

Tapi takbir itu setelah shalat, ketika kita di pasar, ketika kita di jalan, ketika kita di tempat kerja, ketika kita naik kendaraan. Sangat dianjurkan sekali untuk bertakbir.

② Dzikir kepada Allāh dengan membaca tasmiyah yaitu membaca bismillāh dan takbir (الله اكبر)

بسم الله الله اكبر

Kapan itu?

Saat menyembelih, karena hari-hari Tasyriq merupakan hari-hari diperbolehkan bagi kita untuk menyembelih, yang tidak bisa menyembelih di hari Idul Adha bisa menyembelih di hari taysriq.

Sesaat sebelum menyembelih dia membaca بسم الله الله اكبر sebagaimana disebutkan dalam satu hadīts,

ضَحَّى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih dua ekor domba dan beliau meletakkan kaki beliau di samping badan si domba dan beliau membaca tasmiyah dan bertakbir (بسم الله الله اكبر).”

(HR. Bukhari dan Muslim)

③ Dzikir kepada Allāh saat makan dan minum, karena tadi dikatakan hari Tasyriq adalah hari makan dan minum, sebelum makan membaca bismillāh dan setelah makan membaca alhamdulillāh.

Jika tidak sebagaimana disebutkan dalam kitab Adabul Mufrad, ada satu riwayat hadīts dari Nabi menerangkan orang yang makan kemudian dia tidak membaca bismillāh tidak membaca tasmiyah maka syaithan akan ikut makan dengannya.

Dan jika dia membaca tasmiyah maka syaithan akan berkhutbah kepada teman-temannya لَا أَسْأَلكُمْ tidak ada jatah makan bagi kalian. Karena si fulan sebelum makan dia membaca tasmiyah.

Itu di antara dzikir yang bisa kita lakukan.

Kemudian dalam hadīts yang lain, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ

‘Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar ridha, Allāh Subhānahu wa Ta’āla benar-benar senang dan suka terhadap hamba jika dia makan kemudian dia memuji Allāh atas nikmat tersebut (setelah makan dia mengucapkan Alhamdulillāh memuji Allāh).

وَيَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Dan si hamba tadi minum kemudian memuji Allāh atas nikmat berupa minuman tersebut.”

(Hadīts riwayat Muslim Nomor 2734)

Jadi sebelum makan membaca bismillāh setelah makan dan minum membaca alhamdulillāh.

⑷ Dzikir kepada Allāh dengan bertakbir pada saat melempar jumrah di hari-hari Tasyriq yang ini berlaku khusus untuk orang-orang yang menunaikan ibadah haji.

Dalam perintah berdzikir pada saat selesai ibadah haji terdapat satu makna khusus yaitu bahwa ibadah-ibadah itu bisa habis waktunya dan berakhir, sedangkan dzikir kepada Allāh tetap abadi. Tidak habis waktunya, tidak berakhir, bahkan ia terus berlaku bagi orang-orang mukmin di dunia maupun di akhirat.

Allāh juga memerintahkan untuk berdzikir setiap kali selesai shalat.

فَإِذَا قَضَيۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡۚ

“Jika kalian telah selesai shalat maka bacalah dzikir kepada Allāh baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring.”

(QS. An-Nissā: 103)

Bacaan setelah shalat yang sudah sangat kita kenal itu lebih ditekankan lagi dibaca pada hari-hari Tasyriq.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan di antara bentuk kecerdasan seorang hamba adalah dia senantiasa bersyukur dan berdzikir kepada Allāh atas nikmat dan anugerah yang telah Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepadanya.

Terjemah

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsunya dan ia beramal untuk kepentingan setelah mati”

Mumpung Allāh masih menganugerahkan kesehatan kepada kita, kita gunakan nikmat sehat itu untuk banyak-banyak berdzikir kepada Allāh.

Disebutkan dalam beberapa untaian syair, satu nasehat untuk kita semua dan ini sebagai penutup juga (untuk pertemuan hari ini)

Dikatakan:

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها ~ فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم
وداوم عليها بشكر الإله ~ فشكر الإله يزيل النقم

إِذا كُنتَ في نِعمَةٍ فَاِرعَها

Apa bila engkau merasakan satu kenikmatan, maka jagalah, peliharalah, lestarikanlah, kenikmatan itu

فَإِنَّ المَعاصي تُزيلُ النِعَم

Karena sesungguhnya maksiat itu menghilangkan kenikmatan tersebut.

Ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan kepada kita kesehatan. Jatah makan, jatah minum, anak, istri, sandang, papan, pangan, maka hendaknya kita menjaga kenikmatan itu agar tidak tidak hilang.

Dengan cara apa?

Menjauhi maksiat, karena maksiat akan menghilangkan nikmat.

وداوم عليها بشكر الإله

Dan abadikan kenikmatan itu dengan bersyukur kepada Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”

(QS. Ibrahim: 7)

فشكر الإله يزيل النقم

Karena bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghilangkan hukuman-hukuman

Menghilangkan apa?

Pidana-pidana yang barangkali Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada orang-orang yang tidak mau bersyukur.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu ta’āla a’lam.


Hari Raya Umat Islām

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Selasa, 25 Dzulqa’dah 1442 H/06 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 02: Hari Raya Umat Islām

〰〰〰〰〰〰〰

HARI-HARI RAYA UMAT ISLĀM

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين وأفضل الصلاة وأتم التسليم على
نبينا هذا الآمين المبعوث رحمة للعالمين و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada kesempatan kali ini kita akan bersama mendengarkan paparan tentang :

▪︎ Hari-Hari Raya Umat Islām

Ketika Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tiba di Madīnah yaitu pada peristiwa hijrah. Orang-orang Madīnah memiliki dua hari di mana mereka biasa bermain-main pada kedua hari tersebut, yaitu mereka memiliki hari raya.

Maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَانِ خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Sesungguhnya Allāh telah mengganti untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari daripada hari raya kalian sebelum ini yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha.”

(Hadīts riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nassā’i)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengganti untuk umat ini dari dua hari bermain-main dan bersenda-gurau menjadi dua hari raya yang berisi dzikir, syukur, ampunan dan pemberian maaf.

Di dalam kitab Al-Bida’ wa Al-Akhtha’ Tata’ alaqu Bil Ayyam Was Syuhur disebutkan bahwa pada hari raya kita diperbolehkan untuk saling berkunjung satu sama lain, menyambung silaturahim, kemudian memakan makanan yang lezat yang mungkin tidak biasa kita makan, menghidangkan minuman yang istimewa, kemudian saling memberikan hadiah, memberikan hadiah pula kepada anak-anak dengan hadiah yang mereka sukai.

Di samping tentunya pada dua hari tersebut, yang lebih utama kita memperbanyak dzikir, syukur, istighfar serta memaafkan orang lain.

Di samping dua hari raya tersebut, ada hari raya yang berulang pada setiap pekannya, dan ini yang menyebabkan kesempurnaan shalat-shalat wajib. Dan di dalam aktifitas menghadiri shalat Jum’at terdapat kemiripan dengan ibadah haji.

Hari raya yang terulang setiap pekannya adalah hari raya hari Jum’at. Adapun dua hari raya yang lain tidak berulang pada setiap tahunnya. Dia hanya terjadi satu tahun sekali, Idul Fithri sekali kemudian Idul Adha sekali.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ketika hari raya penyembelihan atau Idul Adha, merupakan hari raya yang paling besar dan paling utama di antara kedua hari raya tersebut.

Kenapa demikian?

Karena di Idul Adha terkumpul padanya keutamaan tempat dan keutamaan waktu, bagi orang yang menunaikan ibadah haji. Mereka memiliki hari-hari raya lain sebelum dan sesudahnya yaitu hari Arafah sebelum Idul Adha kemudian hari-hari Tasyrik setelah Idul Adha.

Jadi bagi orang yang menunaikan ibadah haji sebelum tibanya hari raya Idul Adha, mereka memiliki hari raya yang lain yaitu hari Arafah kemudian setelah Idul Adha mereka memiliki hari Tasyrik.

Sebagaimana disebutkan dalam hadīts ‘Utbah bin Amir dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ يَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Arafah, hari penyembelihan dan hari-hari tasyrik merupakan hari raya kita orang Islām dan ia merupakan hari untuk makan dan minum.”

(Hadīts ini diriwayat oleh para penulis kitab As-Sunnan dan dishahīh oleh Imam At-Tirmidzi rahimahullāhu ta’āla)

Maka dari itu tidak disyari’atkan bagi orang yang menunaikan ibadah haji untuk berpuasa di hari Arafah. Puasa Arafah disyariatkan bagi umat Islām yang tidak (sedang) menunaikan ibadah haji.

Diriwayatkan dari beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

أنه صلى الله عليه وسلم ما نهى يوم عرفة بعرفة

“Bahwasanya beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang puasa pada hari Arafah di Arafah.”

Melarang puasa pada hari Arafah di Arafah. Adapun bagi orang yang tidak menunaikan ìbadah haji disunnahkan untuk melakukan puasa Arafah.

Beberapa keutamaan hari Arafah:

⑴ Hari Arafah merupakan hari disempurnakannya agama dan nikmat.

⑵ Diriwayatkan bahwa hari Arafah merupakan hari yang paling utama.

Ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban di dalam shahīhnya yang bersumber dari hadīts Jabīr radhiyallāhu ta’ala ‘anhu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau mengatakan:

أفضل الأيام يوم عرفة

“Hari yang paling utama adalah hari Arafah”

Namun sebagian ulama (yang lainnya) menyatakan bahwa hari yang paling utama adalah hari penyembelihan yaitu pada tanggal 10 Dzulhijjah. Dan hari Arafah merupakan hari haji akbar menurut sekelompok ulama Salaf di antaranya adalah Umar radhiyallāhu ‘anhu dan yang lainnya.

Namun ini ditentang oleh sekelompok ulama Salaf yang lain, dan mereka mengatakan, “Haji akbar adalah hari penyembelihan” yaitu tanggal 10 Dzulhijjah pada saat hari raya Idul Adha.

⑶ Berpuasa pada hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun.

Kenapa koq puasa Asyura hanya menghapuskan dosa satu tahun, sedangkan puasa di hari Arafah bisa menghapuskan dosa dua tahun (yang telah berlalu dan yang akan datang)?

Di antara jawabannya adalah Asyura itu adalah harinya Musa sedangkan Arafah adalah harinya Nabi besar Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah افضل الأنبياء و رسول (Nabi dan Rasul yang paling utama dibandingkan nabi dan rasul yang lainnya). Maka hari Arafah memiliki keutamaan yang besar.

Bagi orang yang tidak berhaji disunnahkan berpuasa di hari Arafah.

Puasa hari Arafah akan mendapatkan pengampunan dosa setahun sebelumnya dan setahun yang akan datang.

⑷ Hari Arafah merupakan hari pengampunan dan pemaafan dosa-dosa, pembebasan dari api neraka dan hari dibanggakannya orang-orang yang sedang melakukan wuquf di padang Arafah.

Jadi Allāh Subhānahu wa Ta’āla membanggakan kaum muslimin yang berhaji dan berkumpul di Arafah pada hari tersebut, sebagaimana disebutkan di dalam shahīh Muslim dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

“Tidak ada satu hari di mana Allāh Subhānahu wa Ta’āla lebih banyak membebaskan hamba dari neraka dibandingkan hari Arafah. Sesungguhnya Allāh benar-benar mendekat, kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla membanggakan hamba-Nya di hadapan para malaikat. Kemudian Allāh berfirman, ‘Apa yang diinginkan oleh mereka?’.”

(Hadīts shahīh riwayat Imam Muslim nomor 3354)

Itu adalah beberapa paparan tentang hari raya umat Islām dan beberapa keutamaan hari Arafah.

Semoga bermanfaat.
Wallāhu ta’āla a’lam bishawab.


KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Senin, 24 Dzulqa’dah 1442 H/05 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 01: Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

〰〰〰〰〰〰〰

KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين وأفضل الصلاة وأتم التسليم على
نبينا هذا الآمين المبعوث في رحمة للعالمين و على آله و أصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ahlan wa Sahlan, kepada antum dan antunna semua.

In syā Allāh pada kesempatan kali ini kita akan sama-sama mempelajari beberapa hal yang berkaitan dengan keutamaan bulan Dzulhijjah dan apa saja yang berkaitan dengannya, demikian pula ibadah qurban.

▪︎ Keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Imam Al-Bukhāri meriwayatkan hadīts dari Ibnu Abbās dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ

“Tidaklah ada hari-hari

الْعَمَلُ الصَّالِحُ فيها

Di mana amal shalih di dalamnya

أَحَبُّ إِلَى اللَّه

Lebih dicintai oleh Allāh

مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ

Dibandingkan dari hari-hari ini

يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ

Yaitu hari-hari pertama di bulan Dzulhijjah.”

“Tidak ada amal shalih yang lebih dicintai oleh Allāh daripada amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

قال:

Para sahabat bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟

“Wahai Rasūlullāh, amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah itu lebih dicintai oleh Allāh daripada jihad fīsabilillāh?”

قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Nabi mengatakan, “Meskipun jihad fīsabilillāh, tidak bisa menandingi amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah

إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ

Kecuali seorang laki-laki yang dia keluar berjihad dengan membawa jiwanya dan hartanya

فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Dan dia tidak kembali dengan membawa jiwa dan hartanya”

Maknanya dia berjihad kemudian meninggal dunia (mati syahid) fīsabilillāh.

Maknanya adalah amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah itu adalah amalan yang tidak bisa ditandingi dengan amal lain yang dilakukan di luar sepuluh hari tersebut.

Kecuali ditandingi dengan orang yang berjihad fīsabilillāh dengan harta dan jiwanya kemudian dia (mati syahid) fīsabilillāh.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian di dalam hadīts yang lain Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَفضل مِنْ أَيَّامَ الْعَشْرِ.

“Tidaklah ada hari-hari الْعَمَلُ الصَّالِحُ فيها di mana amal shalih di dalamnya افضل من ايام العشر lebih utama di bandingkan, apa? Amal yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah”.

Bulan Dzulhijjah lebih utama dan lebih dicintai oleh Allāh di sepuluh hari pertamanya, dibandingkan amal-amal yang dilakukan pada hari-hari yang lain dalam setahun.

Maka amal pada waktu tersebut (sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah) walaupun pada asalnya tidak utama menjadi lebih utama, daripada amal yang dilakukan pada waktu-waktu yang lainnya.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di dalam hadīts yang tadi kita baca, baru keutamaan amal shalih di bulan Dzulhijjah, di sepuluh hari pertamanya itu bisa ditandingi tatkala seorang berjihad dengan jiwa dan hartanya dan dia tidak kembali.

Ini dikuatkan pula oleh sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tatkala beliau ditanya. “Apakah jihad yang paling utama?”

Beliau menjawab:

مَنْ عُقِرَ جَوادُه، وأُرِيقَ دَمُه

“Seorang mujahid yang kudanya disembelih oleh musuh dan darah mujahid tersebut ditumpahkan sehingga dia gugur (mati syahid fīsabilillāh).”

Ada beberapa amal shalih yang bisa kita lakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, di samping amal-amal yang umum di sana ada beberapa amal-amalan khusus:

⑴ Puasa

Disebutkan di dalam Musnad dan Sunnan dari Hafshah radhiyallāhu ‘anhā.

إن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يدع صيام عاشوراء، والعشر، وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

“Adalah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak meninggalkan puasa di hari Asyura yaitu di bulan Muharram, dan puasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan puasa tiga hari di setiap bulannya.”

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di dalam riwayat yang lain, diriwayatkan dari salah seorang istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, disebutkan di sana:

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يدع صيام تسع ذي الحجة

“Bahwasanya Nabi tidak pernah meninggalkan puasa sembilan hari pertama di bulan Dzulhijjah.”

Kenapa koq sembilan?

Karena tanggal sepuluh adalah hari raya Idul Adha dan para ulama kita ijma’ (sepakat) haram melakukan puasa di hari raya.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Namun puasa sembilan hari di bulan Dzulhijjah yang pertama, itu diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian mengatakan boleh, sebagian mengatakan yang disyari’atkan hanya puasa di tanggal 09 Dzulhijjah saja yang disebut dengan puasa Arafah.

Puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah sebelum Idul Adha, karena apa?

Karena di sana ada riwayat lain dari ‘Aisyah yang menyebutkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak berpuasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah kecuali puasa Arafah bagi orang-orang yang tidak melaksanakan ibadah haji dan hukumnya sunnah.

Namun diriwayat yang lain, dari istri-istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang lain, menyebutkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam melakukan puasa تسع (puasa sembilan) di bulan Dzulhijjah.

Para syurah (para pensyarah) Sunnan Abī Dawud mereka memberikan alasan lain yang dimaksud dengan تسع (puasa sembilan) adalah bukan berpuasa sembilan hari, tetapi berpuasa di tanggal 9 bulan Dzulhijjah yang disebut dengan puasa Arafah.

Syaikh Masyhur Hasan Ali Salman menyatakan, “Ini adalah masalah khilafiyyah العمر وَسِعَ (perkaranya luas), silahkan bagi yang ingin berpuasa sembilan hari, dan silahkan pula yang hanya ingin puasa di tanggal 9 Dzulhijjah”.

Syaikh Abdul Azīz bin Abdillah bin Baz menyatakan, “Salah satu bentuk penggabungan dua riwayat adalah bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, ‘Sesekali beliau berpuasa sembilan hari dan sesekali beliau tidak melakukan puasa sebanyak sembilan hari’ “.

Ketika beliau melakukan puasa sembilan diketahui oleh sebagian istri beliau, kemudian istri beliau meriwayatkannya. Ketika beliau tidak sedang puasa diketahui oleh sebagian istri beliau dan sebagian istri menyatakan beliau tidak berpuasa.

Jadi yang di fatwakan oleh Imam Abdul Azīz bin Baz yang dilakukan oleh Nabi adalah beliau sesekali puasa sembilan hari, namun sesekali beliau tidak berpuasa sembilan hari (wallāhu ta’āla a’lam bishawab).

⑵ Memperbanyak Dzikir

Yaitu ditunjukkan oleh firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْلُومَـٰتٍ

“Dan agar mereka menyebut asma-asma Allāh pada hari-hari yang telah ditentukan.”

(QS. Al-Hajj: 28)

Hari-hari yang telah ditentukan adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Menurut jumhur (mayoritas para ulama) pembahasan tersebut dibahas oleh para ulama dengan pembahasan yang panjang lebar.

Kemudian diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dari Ibnu Umar radhiyallāhu ‘anhumā dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda:

ما مِن أيَّامٍ أَعظَمَ عِندَ اللهِ ولا أَحَبَّ إلَيهِ فيهِنَّ مِن هذِه الأَيَّامِ العَشرِ فأَكثِرُوا فيهِنَّ مِنَ التَّهليلِ، والتَّكبيرِ، والتَّحميدِ.

“Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allāh

ولا أَحَبَّ إلَيهِ

Dan tidak dicintai amal di dalamnya

فيهِنَّ مِن هذِه الأَيَّامِ العَشرِ

Dibandingkan hari-hari pertama di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah

فأَكثِرُوا فيهِنَّ مِنَ التَّهليلِ، والتَّكبيرِ، والتَّحميدِ

Maka perbanyaklah oleh kalian di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah membaca kalimat tahlil (Lā ilāha illallāh لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) membaca takbir, dan membaca tahmīd.”

Di dalam kondisi biasa saja, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

لأنْ أقولَ : سُبحانَ اللهِ والحمدُ للهِ ولا إلهَ إلَّا اللهُ واللهُ أكبَرُ

“Aku membaca Subhānallāh, Walhamdulillāh, Lā ilāha illallāh, Allāhu akbar

أحَبُّ إليَّ ممَّا طلَعَتْ عليه الشَّمسُ

Lebih aku cintai daripada dunia dengan seluruh isinya.”

Itu di hari biasa, bagaimana di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah? Tentu akan lebih besar lagi pahalanya.

Dan para ulama kita mengatakan:

“Sepuluh hari yang terakhir bulan Ramadhān, malamnya lebih utama, dibandingkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, tapi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah siangnya lebih utama dibandingkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān.”

√ Siangnya lebih utama bulan Dzulhijjah.
√ Malamnya lebih utama bulan Ramadhān.

Jadi kita bisa membayangkan betapa besar keutamaan yang dimiliki oleh sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan taufik kepada kita semua untuk memperbanyak amal shalih di dalamnya.

Semoga bermanfaat.
Wallāhu ta’āla a’lam bishawab

〰〰〰〰〰〰〰

〰〰〰〰〰〰〰

silsilah 2 mahazi – KEWAJIBAN HAJI DAN KAPAN DIWAJIBKAN

SILSILAH 2 MAHAZI (MANASIK-HAJI-ZIARAH)

Halaqah yg kedua dari silsilah manasik haji (mahazi) adalah KEWAJIBAN HAJI DAN KAPAN DIWAJIBKAN

Haji diwajibkan sekali seumur hidup atas setiap muslim yang memenuhi syarat wajib haji.

Allah berfirman :

Walinnasi hijjulbaiti manistahoo’a ilaihi sabiilan wa man kafaro fa  innallaha ghaniyyun anil alamiin

”Dan kewajiban manusia kepada Allah untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Yaitu bagi orang-orang yang mampu kesana. Dan barangsiapa yang mengingkari kewajiban haji maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam” (Qs Al Imran 97)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda ketika ditanya malaikat Jibril tentang Islam :

Antasada lailahailallah wa ana muhammadan rasulullah watuqimashalata wa tu’tiya zakata, wa tashuma ramadhana wa tahudzjal baita inis ta’thota ilaihi sabiilan

“Engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di Bulan Romadhon, dan engkau berhaji ke Baitullah apabila engkau mampu kesana”

HR Muslim dari Umar Ibn Khoththob rhadiyallahu anhu

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah berkhutbah dan berkata :

“Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian maka berhajilah. Maka berkata seorang laki-laki ‘Apakah setiap tahun ya Rasulullah ?’ beliau diam sampai ditanya 3 kali lalu kemudian beliau berkata ‘kalau aku berkata iya maka niscaya haji akan menjadi wajib setiap tahun, dan kalau demikian maka kalian tidak akan mampu melakukannya’.”

HR Muslim

Dan kaum muslimin telah bersepakat atas wajibnya Haji bagi yang mampu sebagaimana dinukil ijma ini dari Imam An-Nawawi rahimahullah.

Dan pendapat mayoritas ulama bahwa kewajiban Haji harus segera ditunaikan dan tidak boleh ditunda-tunda sebagaimana sebuah hadits, Rasulullah bersabda :

Taadzlu ilal hajji fa ina ahadakum la yadri ma yadrilulahum

Rasulullah bersabda “Hendaklah kalian bersegera melakukan Haji karena salah seorang diantara kalian tidak tau apa yang menimpanya”

HR Imam Ahmad Ibnu Hambal dalam musnadnya, hadits hasan.

Sebagian kaum ulama berpendapat bahwa haji diwajibkan atas kaum muslimin ditahun ke-9 Hijriyah. Diantara alasannya krn ayat tentang kewajiban haji ada pada surat Al Imron dan awal surat Al Imron diturunkan pada tahun datangnya para utusan kabilah-kabilah kepada Rasulullah pada tahun ke-9 H.

Inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Amin al Syinthiqi rahimahullah dan Asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah, dan beliau Shalallahu Alaihi Wassalam baru menunaikan ibadah Haji pada tahun ke-10 H, diantara sebabnya karena kesibukan beliau menyambut para utusan dan menyampaikan risalah Allah kepada mereka.

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 30 DARI 30

 

? BimbinganIslam.com
Sabtu, 20 Dzulqa’dah 1438H / 12 Agustus 2017M
? Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
? Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 30 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-30
? Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
———————————–

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 30 DARI 30
بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dalam kajian ini kita akan membahas kesalahan-kesalahan ketika pelaksanaan amal ibadah haji.
◆ Kesalahan-kesalahan ketika wuqūf

⑵ Keluar dari ‘Arafāh menuju Muzdalifah sebelum terbenam matahari.

Yang dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah beliau berwuqūf ‘Arafāh dari mulai zhuhur sampai terbenam matahari, menunjukkan masuk waktu Maghrib. Lalu beliau bertolak dari ‘Arafāh menuju Muzdalifah.

Kalau ada orang bertolak dari ‘Arafāh menuju Muzdalifah sebelum terbenam matahari maka ini sebuah kesalahan.

Nanti terjadi perbedaan pendapat antara para ulamā, apakah dinyatakan dia sebagai orang yang berwuqūf?

Kita katakan, “Iya,” sah hajinya tetapi apakah dia dikaatakan orang yang sudah mengerjakan kewajiban?

Karena salah satu kewajiban haji berwuqūf di ‘Arafāh sampai terbenam matahari.

Pendapat yang benar adalah bahwasanya orang yang pergi sebelum terbenam matahari dari ‘Arafāh ke Muzdalifah berarti dia telah meninggalkan ‘Arafāh (telah meninggalkan kewajiban haji) berarti dia harus bayar sanksi dengan menyembelih kambing.

⑶ Menghadap ke jabal rahmah

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika beliau wuqūf, beliau menjadikan jabal rahmah diantara beliau dengan Ka’bah (di antara arah Ka’bah).

Ada orang yang berwuqūf di depan jabal rahmah, dia menghadap jabal rahmah dan membelakangi Ka’bah, ini keliru, karena salah satu adab dalam berdo’a adalah menghadap kiblat.

Kemudian keyakinan harus menaiki jabal rahmah, ini tidak benar.
◆ Kesalahan-kesalahan ketika melempar jamarah

⑴ Keyakinan harus mengambil batu di Muzdalifah pada malam hari.

Ingat! Kita bermalam di Muzdalifah tanggal 9 malam 10 Dzulhijjah sampai di Muzdalifah kita mengerjakan shalāt Maghrib dan ‘Isyā kemudian istirahat.

⑵. Keyakinan pada waktu melempar adalah melempar syaithān

Ini tidak benar!

Yang pertama kali mencontohkan melempar adalah Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām, ketika beliau mau menyembelih putranya Ismāil diganggu oleh syaithān dan beliau melempar syaithān itu dengan batu.

Kita melempar itu karena mengikuti ajaran beliau, bukan karena melempar syaithān.

⑶ Melempar dengan batu yang terlalu besar atau selain batu.

⑷ Tidak berdo’a setelah melempar jumrah As Shugra atau jumrah wusthā.

Ini keliru.

Karena termasuk waktu yang mustajab kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah setelah melempar jumrah Al ‘Ulā dan Al Wusthā kemudian beliau berdo’a.

Adapun kebalikannya, sebagian orang malah berdo’a setelah jumrah ‘Aqabah. Ini keliru.

Baik ketika hari nahr atau hari tasyriq tidak ada prosesi berdo’a setelah melempar jumratul ‘Aqabah.

⑸ Melempar 7 butir batu secara bersamaan (sekaligus) dalam satu kali lemparan.

Yang benar adalah dilempar dan setiap lemparan adalah satu batu kerikil dan mengucapkan, “Bismillāhi Allāhu Akbar,” atau, “Allāhu Akbar.”

⑹ Mengkhususkan do’a yang tidak ada contohnya ketika melempar.

Tiap satu lemparan ada do’anya, ini salah. Yang benar setiap satu lemparan kita mengucapkan, “Bismillāhi Allāhu Akbar,” atau, “Allāhu Akbar.”
⑺ Mewakilkan kepada orang lain padahal dia mampu.

Yang diperbolehkan mewakilkan orang lain adalah orang yang tidak mampu adapun jika mampu hanya karena malas saja maka tidak diperlukan untuk mewakilkan kepada orang lain.
◆ Kesalahan-kesalahan ketika thawāf wadā

⑴ Thawāf wadā sebelum melempar jamarat pada hari terakhir lalu kembali lagi ke Minā untuk melempar.

Apa maksudnya?

Perhatikan!

Seseorang pada hari ke-13 (13 Dzulhijjah) tidak ingin sibuk. Lalu dia pagi-pagi pergi ke Mekkah untuk thawāf wadā, selesai thawāf wadā pulang ke Minā lalu melempar jamarat (jamratul ‘Ulā, Wusthā dan ‘Aqabah), ini tidak boleh!

Kenapa?

Karena thawāf wadā adalah pekerjaan terakhir yang harus dilaksanakan oleh jama’ah haji. Jadi thawāf wadā itu diakhirkan.

⑵ Berdiam di Mekkah setelah thawāf wadā

Seseorang ingin berdiam diri di Mekkah tetapi dia melakukan thawāf Wadā dulu. Ini tidak benar.

Thawāf Wadā adalah pekerjaan terakhir bagi jama’ah haji.

⑶ Keluar dari masjidil harām dengan jalan mundur

Karena thawāf Wadā adalah thawāf terakhir maka seseorang berjalan mundur (misalnya). Ini tidak benar tidak ada contohnya dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⑷ Memberikan isyarat di pintu masjidil harām setelah selesai thawāf Wadā dan ingin keluar.

Ini tidak benar.
Ini semua adalah kekeliruan ketika menunaikan ibadah haji.

Alhamdulillāh selesai kajian intensif tentang manasik haji dan umrah. Mudah-mudahan ini menjadi ilmu yang bermanfaat dan mudah-mudahan kita ikhlās di dalam melaksanakan ini.

Semua kemulyaan dan kemudahan hanya berasal dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla sampai kita menyelesaikan kajian ini.

Apa yang baik dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan apa yang buruk itu dari saya pribadi dan dari syaithān. Saya mohon ampun kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

 

30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 29 DARI 30

 

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 19 Dzulqa’dah 1438H / 11 Agustus 2017M
? Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
? Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 29 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-29
? Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
———————————–

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 29 DARI 30
بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dalam kajian ini kita akan membahas kesalahan-kesalahan ketika melaksanakan amal ibadah haji.

◆ Kesalahan-kesalahan ketika thawāf

⑻ Melakukan thawāf dipimpin oleh satu orang dan mengucapkan do’a secara bersama-sama dengan suara yang keras

Ini menganggu orang lain ketika thawāf.

Kenapa?

Karena di dalam thawāf kita berdo’a, berdzikir, bermunajat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau berhaji dan berumrah bersama beberapa ribu shahābatnya dan tidak ada riwayatnya beliau memimpin berdo’a para shahābatnya ketika berthawāf.

Jadi yang paling benar adalah pemimpin jama’ah haji (baik itu pemimpin kloter, pemimpin grup, panitia haji pemimpin KBIH) dia mengajarkan do’a yang sesuai dengan sunnah Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Kemudian dibaca sendiri-sendiri nantinya.

⑼ Shalāt dua raka’at setelah selesai thawāf dan harus dekat dengan maqām Ibrāhīm.

Kata-kata “harus” tolong diperhatikan, tidak mesti harus di dekat maqām Ibrāhīm, di mana saja di masjidil harām silahkan kita shalāt. Jangan sampai kita menganggu orang lain yang sedang thawāf.

⑽ Shalāt lebih dari dua raka’at setelah thawāf

Setelah thawāf apa yang kita kerjakan?

Setelah thawāf Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengerjakan shalāt di belakang maqām Ibrāhīm sebanyak dua raka’at.

Setelah itupun tidak berdo’a langsung menuju air zamzam (minum air zamzam), kemudian kembali lagi ke Hajar Aswad lalu langsung ke Shafā untuk mengerjakan sa’i.

Hendaklah kita mencukupkan apa yang sudah dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Para ulamā seperti Abdullāh bin Mas’ud para shahābat Nabi radhiyallāhu ‘anhum mengatakan:

لاقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الاجْتِهَادِ فِي بِدْعَةٍ

“Amalan yang sederhana tetapi sesuai dengan sunnah lebih baik daripada terlalu berlebihan tetapi perbuatan bid’ah.”

Jadi ini adalah kesalahan-kesalahan ketika thawāf.
◆ Kesalahan-kesalahan ketika sa’i

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam setelah thawāf, kemudian shalāt dua raka’at lalu minum air zamzam lalu kembali ke hajar Aswad lalu beliau menuju tempat sa’i.

Pada saat sa’i beliau mengucapkan:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

Kemudian mengucapakan:

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

Setelah itu beliau melakukan takbir tiga kali, lalu kalimat tauhīd, lalu berdo’a. Dan beliau ulangi hingga 3 kali seperti itu.

Itu adalah pekerjaan di Shafā, lalu beliau berjalan dari Shafā menuju Marwah. Di tengah perjalanan beliau lari di antara dua lampu hijau dan ini disebut satu putaran.

Sa’i adalah perjalanan dimulai dari Shafā dan berakhir di Marwah sebanyak 7 putaran.

Kesalahan-kesalahannya adalah:

⑴ Jika naik ke atas bukit Shafā atau Marwah yang ada, sebagian orang kalau sudah naik ke atas bukit Shafā atau Marwah mengucapkan “Allāhu Akbar” mengangkat kedua tangannya 3 kali.

Ini keliru!

Cukup dia mengangkat kedua tangan mengucapkan:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ  (3x)

Kemudian dia mengucapkan kalimat tauhīd

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Kemudian berdo’a.

Sebagian orang tidak sampai kepada do’a tersebut, biasanya hanya mengucapkan, “Allāhu Akbar, Allāhu Akbar,” lalu berlari (karena ingin cepet).

Ini tidak benar ! Tanpa do’a tanpa kalimat tauhīd.

⑵ Ketika Sa’i selalu berlari

Padahal yang dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah berlari ketika dari lampu hijau pertama ke lampu hijau kedua.

⑶ Setiap kali naik, baik naik ke Shafā atau ke Marwah membaca إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

Bacaan ini dibaca hanya satu kali pertama kali kita naik saja, adapun ketika kita sampai ke Shafā dan Marwah pada putaran-putaran sa’i tidak perlu.

⇒Pertama kali kita naik ke bukit Shafā saja kita membacanya.
◆ Kesalahan-kesalahan ketika wuqūf

Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam wuqūf di Arafāh dan beliau bersabda:

وَقَفْتُ هَاهُنَا وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ

“Saya telah berwuquf di sini (‘Arafah) dan ‘Arafah semuanya adalah tempat wuquf.”

(HR Ahmad nomor 13918)

Ada sebagian orang yang tidak memperhatikan dia berada di dalam Arafāh kah atau di luar Arafāh.

Seperti yang di dalam masjid Namirah, bagian depan masjid Namirah kalau kita garis miring itu bukan merupakan bagian dari “Arafāh tetapi itu bagian dari luar ‘Arafāh.

Jangan sampai kita berwuqūf di sana.

Ini adalah kesalah pertama ketika wuqūf di ‘Arafāh.

والله تبارك وتعالى أعلم
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 30, In syā Allāh

 

29 sa'i

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 28 DARI 30

 

? BimbinganIslam.com
Kamis, 18 Dzulqa’dah 1438H / 10 Agustus 2017M
? Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
? Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 28 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-28
? Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
———————————–

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 28 DARI 30
بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dalam kajian ini kita akan membahas kesalahan-kesalahan pelaksanaan amal ibadah haji dari mulai ihrām sampai thawāf wadā.
◆ Kesalahan-kesalahan ketika berihrām

Kita ketahui dalam hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim ‘Abdullāh bin ‘Abbās bercerita bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menentukan miqāt untuk beberapa kota.

√ Miqāt kota Madīnah adalah Dzulhulaifah.

√ Miqāt penduduk Syām adalah Al Julfah.

√ Miqāt penduduk Najed adalah Al Qarnul Manazil.

√ Miqāt penduduk Yaman adalah Yalamlam.

√ Miqāt penduduk Irāq adalah Dzatu’Irq.

Miqāt-miqāt ini sudah ditentukan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan yang sesuai dengan sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah:

“Siapa yang ingin menunaikan ibadah haji dan ‘umrah maka dia melewati miqāt dalam keadaan berihrām, baik dia dari penduduk miqāt-miqāt tersebut atau orang-orang yang melewati miqāt tersebut selama dia masih ingin melaksanakan ibadah haji dan ‘umrah maka dia berihrām ketika melewati miqāt tersebut.”

Kesalahannya adalah:

⑴ Berihrām di airport Jeddah.

Ingat!

Ihrām itu sebuah keadaan bukan sebuah kain, berihrām di Jeddah adalah sebuah kesalahan karena Jeddah sudah di dalam miqāt, bagi penduduk Indonesia yang ingin langsung ke Mekkah maka dia berihrām di atas pesawat.

Kalau seandainya dia sudah sampai ke Jeddah maka dia sudah masuk ke dalam area miqāt, dan Jeddah bukan miqāt yang ditentukan oleh Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Berarti jika ada jama’ah haji dari Indonesia langsung pergi ke Mekkah, dia bertolak dari airport Jakarta (daerah-daerah lain) menuju airport Jeddah, dia diwajibkan untuk berihrām di pesawat ketika posisi pesawat sejajar dengan Yalamlam (miqāt penduduk Yaman) karena miqāt itu yang dilewati.

⇒ Adapun apabila berihrām di Jeddah maka ini tidak benar dan merupakan kesalahan.

Dan siapa yang melakukannya berarti melanggar sebuah kewajiban dan harus membayar sanksi dengan menyembelih kambing.

⑵ Berkeyakinan bahwa berihrām harus dalam keadaan suci

Ini tidak mesti, karena ‘Asma binti Umais radhiyallāhu ‘anhā beliau berihrām dalam keadaan nifas.

⑶ Berkeyakinan berihrām harus di atas tanah tidak boleh di udara.

Sehingga mereka tidak mau berihrām di pesawat. Ini salah!
◆ Kesalahan-kesalahan ketika thawāf

Kita ketahui yang telah tetap dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau mulai thawāf sebelumnya beliau beridhtibā’, yaitu menyelendangkan kain ihrāmnya dibawah ketiak kanannya dan membiarkan pundak kanannya terbuka.

Lalu beliau memulai thawāfnya dari hajar aswad mengucapkan, “Allāhu Akbar,” dan memberikan salah satu dari 4 hal yang ketika kita membicarakan hajar aswad sudah kita sebutkan.

Kemudian beliau jalan mengelilingi Ka’bah sampai rukun Yamani beliau mengusap rukun Yamani tersebut kemudian berjalan menuju hajar Aswad sambil membaca do’a:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Itu disebut satu putaran.

Dan setiap putaran mengucapkan, “Allāhu Akbar,” atau, “Bismillāhi Allāhu Akbar.”

 

Kesalahan-kesalahan ketika thawāf di antaranya:

⑴ Memulai thawāf sebelum hajar Aswad.

Ini terjadi ketika berjama’ah dan yang depan sudah sejajar dengan hajar Aswad tetapi yang dibelakang belum sejajar dengan hajar Aswad tapi sudah mengangkat tangan dan mengucapkan, “Allāhu Akbar,” atau, “Bismillāhi Allāhu Akbar.”

⑵ Melakukan raml (berlari-lari dengan mendekatkan kaki) di setiap putaran.

Padahal raml itu dilakukan hanya 3 putaran pertama dan itupun hanya pada thawāf umrah dan qudūm.

⑶ Berdesak-desakan sambil menyakiti orang lain hanya untuk mencium hajar aswad.

Bukan kita meremehkan penciuman hajar aswad akan tetapi mencium hajar aswad adalah sunnah hukumnya bukan wajib.

Sah orang yang menunaikan umrah atau haji tanpa mencium hajar Aswad.

Tetapi untuk mencium hajar Aswad kemudian menyakiti dan menzhālimi orang lain bahkan di tanah suci dan di depan Ka’bah maka ini tidak diperbolehkan.

Terkadang ada penyewaan ojek hajar Aswad, ini tidak diperbolehkan.

Kita mencium hajar Aswad karena mencontoh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan mengharap pahala, sebagaimana yang sudah kita jelaskan bahwa mengusap hajar aswad atau rukun Yamani akan menghapuskan dosa.

Bukan karena hajar aswad itu berkah atau bisa menyembuhkan penyakit, bisa memberikan manfaat atau menghalang mudarat. Tidak!

⑷ Berkeyakinan bahwa hajar Aswad memberikan manfaat dan mudharat.

Ini keliru dan salah karena hajar aswad seperti hajar biasa sebagaimana perkataan ‘Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ‘anhu:

لَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ.

“Kalau seandainya aku tidak melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mencium engkau wahai hajar aswad maka aku tidak akan menciummu, sesungguhnya aku sangat mengetahui bahwa engkau adalah batu yang tidak memberikan manfaat dan tidak menahan mudharat.”

(HR Bukhari nomor 1610)

Jadi kita mencium hajar Aswad karena meniru Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⑸ Mengusap seluruh pojokan Ka’bah.

Yang sesuai dengan sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah hanya dua pojok Ka’bah yaitu rukun hajar aswad dan rukun Yamani.

Adapun rukun hijir tidak perlu diusap apalagi sampai mengusap seluruh Ka’bah.

Mengusap rukun hajar aswad dan rukun Yamani adalah proses thawāf artinya di luar thawāf tidak disyariatkan untuk mengusapnya.

⑹ Mengkhususkan do’a di setiap putaran thawāf.

Ini tidak benar!

Kekeliruan yang terjadi dan ini adalah koreksi bagi para panitia jama’ah haji yang membagikan buku-buku, yang di dalam buku tersebut disebutkan do’a untuk putaran pertama thawāf.

Pengkhususan do’a seperti do’a putaran pertama atau do’a putaran kedua tidak ada contohnya dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Silahkan berdo’a apa saja, silahkan membaca do’a apa saja termasuk yang dianjurkan di dalam syari’at Islām.

Seperti; membaca Al Qurān, shalawat, istighfār, tasbih, takbir, bahkan silahkan membaca bacaan putaran pertama, putaran kedua dan seterusnya (saya sudah cek do’a-do’a tersebut bagus) tapi jangan ada pengkhususan.

Kekeliruan lagi di sini disebutkan,

⑺ Membawa buku do’a yang berbahasa Arab, dia membaca tapi tidak paham.

Berdoalah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla harus dengan yakin, khusyuk.

والله تبارك وتعالى أعلم
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 29, In syā Allāh

 

28 ihram

 

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 27 DARI 30

 

? BimbinganIslam.com
Rabu, 17 Dzulqa’dah 1438H / 09 Agustus 2017M
? Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
? Materi Tematik | Kajian Islam Intensif Tentang Manasik Haji Dan Umroh (Bag. 27 dari 30)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-ManasikHaji-27
? Sumber: http://www.youtube.com/playlist?list=PLsGyF7LoLNd_MRjTZehq0ykcPfYDjef_i
———————————–

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH BAGIAN 27 DARI 30
بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita akan membicarakan amalan-amalan haji pada tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah (hari Tasyriq).

Kenapa disebut hari tasyriq?

Karena dahulu di zaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam orang-orang ini menjemur daging-daging hadyu mereka. Makanya di sebut Tasyriq.

 

Apa yang kita kerjakan pada hari-hari tasyriq ini?
⑴ Banyak berdzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam surat Al Baqarah 203:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ

“Dan sebutlah nama Allāh pada hari-hari yang berbilang.”

Kemudian Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam bermalam, pada malam-malam hari Tasyriq di Minā dan hukumnya menurut para ulamā adalah wajib.

Karena Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada malam-malam Tasyriq bermalam di Minā dan karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberi izin kepada para pengembala kambing.

Dari ini kita bisa pahami bahwa selain mereka yang tidak punya udzur tidak boleh untuk keluar dari Minā dan bermalam di luar Minā.

⑵ Pada hari ke-11 kita melempar jamarāt yang tiga dari mulai jamratul Ulā, Wusthā dan ‘Aqabah.

Melempar jamratul Ulā, Wusthā, ‘Aqabah adalah tanggal 11,12 dan 13 bagi yang mengambil waktu yang akhir pada pelaksanaan ibadah haji.

◆ Waktu bolehnya melempar tiga jamarat ini pada tanggal 11,12 dan 13

⇒ Waktiu bolehnya adalah setelah tergelincir matahari dari atas kepala kita yang menunjukkan waktu shalāt zhuhur.

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim dari Jābir radhiyallāhu ‘anhu:

رَمَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَمْرَةَ يَوْمَ النَّحْرِ ضُحًى وَأَمَّا بَعْدُ فَإِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ

“Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam melempar jamrah pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) di waktu Dhuha dan beliau melempar jamrah setelah itu (tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah) pada ba’da zawal, setelah tergelincirnya matahari dari atas kepala kita.”

(HR Muslim nomor 2290, versi Syarh Muslim nomor 1299)

Dan ini yang dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dalīl yang lain yang menunjukkan bahwasanya melempar jamratul ba’da zhuhur adalah hadīts riwayat Imām Baihaqi bahwasanya ‘Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ‘anhu berkata:

لا تُرمى الجمرة حتى يميل النهار

“Tidak boleh jumrah dilempar sampai tergelincir matahari dari atas kepala kita.”

Hadīts riwayat Imām Mālik dalam kitābnya Al Muwathā, ‘Abdullāh bin ‘Umar berkata:

لا تُرمى الجمار في الأيام الثلاثة حتى تزول الشمس

“Tidak boleh melempar jamrah pada tiga hari ini (11,12 dan 13 Dzulhijjah) sampai tergelincir matahari.”

Ini semua dalīl yang sangat jelas sekali, sehingga tidak boleh melempar jamrah pada hari Tasyriq ini sebelum waktu zhuhur.

 

◆ Sifat melempar jamarāt

Sifat melempar yang dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

√ Kita mulai dari jamratul ‘Ulā (jamrah yang paling jauh dari kota Mekkah tetapi dekat dengan kota Minā disamping masjidil khāif).

Kita mengambil batu kerikil di Minā dan sekitarnya sebanyak yang akan kita lempar misalnya kita memerlukan 7 butir kerikil berarti dikali 3 menjadi 21 butir kerikil. Ini untuk hari pertama.

Lalu kita datang ke jamratul ‘Ulā. Kita lempar (di hadapan jamarah) posisi kita agak ke kanan sedikit (bila kita membelakangi Minā).

Setiap lemparannya kita mengucapkan, “Bismillāhi Allāhu Akbar,” sebanyak 7 butir lemparan.

Lalu kita bergeser ke kanan menghadap kiblat dan berdo’a (berdo’a dalam waktu yang lama).

Setelah berdo’a kita menuju jumratul Wusthā.

Kita lempar bila kita membelakangi Minā agak ke kiri sedikit, kemudian setelah itu kita bergeser sedikit ke kiri menghadap kiblat kemudian berdo’a.

Setelah itu kita menuju jamratul ‘Aqabah.

Cara melempar jamratul ‘Aqabah seperti melempar pada pada hari Nahr (tanggal 10 Dzulhijjah) bagian kanan dari tubuh kita ke arah Minā bagian kiri dari tubuh kita ke arah Mekkah.

Ini adalah tata cara yang disunnahkan oleh Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, jika penuh atau tidak mampu seperti ini (misalnya) tidak mengapa, dari arah mana saja kita lempar tetapi jangan lupa berdo’a nya karena ini waktu-waktu yang mustajab dalam haji.

◆ Akhir pelemparan jamrah

Tanggal 11 Dzulhijjah kita boleh melempar awalnya setelah shalāt zhuhur, akhirnya sebelum fajar tanggal 12 Dzulhijjah.

Yang keliru adalah melempar jamarat pada hari Tasyriq sebelum zhuhur, ini dikhawatirkan, (pendapat yang lebih kuat) pelemparan jamarat yang hukumnya wajib tidak sah kalau seandainya dilempar sebelum waktunya.

Kalau tidak sah berarti dia meninggalkan sebuah kewajiban, kalau meninggalkan sebuah kewajiban maka dia kena sanksi (menyembelih kambing).

Bagi orang tua yang sakit, anak kecil, wanita hamil dan semisalnya maka boleh untuk mewakilkan dengan yang lain.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam surat At Thaghābun ayat 16.

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertaqwalah kepada Allāh sesuai dengan kemampuan kalian.”

Hari ke-12 juga seperti itu, bagi yang ingin mengambil nafar awwal, maka dia melempar jamarah yang tiga ini sebelum Maghrib dan harus keluar dari Minā sebelum Maghrib. Kalau tidak maka dia harus bermalam sampai besok harinya lagi.

Bagi yang mengambil nafar tsani (dua-duanya diperbolehkan) dan yang dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah nafar tsani. Maka dia melempar jamarah ini pada hari ke-13 di waktunya. Dan jangan melemparnya setelah Maghrib (sebelum Maghrib sudah selesai).

Setelah pekerjaan di Minā selesai 11,12 dan 13 Dzulhijjah (setiap malam wajib bermalam) setelah itu dia boleh pergi ke Mekkah untuk mengerjakan yang disebut dengan thawāf Wadā.

Untuk thawāf Wadā ini hukumnya wajib, dalīl yang menunjukkan akan hak ini adalah hadīts riwayat Muslim dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لاَ يَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ

“Salah satu dari kalian tidak boleh pergi (dari Mekkah) sampai pekerjaan yang paling terakhir dari amalan hajinya adalah thawāf di baitullāh.”

(HR Muslim nomor 1327)

Tetapi bagi wanita yang hāidh dan wanita yang nifas maka dia diperbolehkan untuk tidak thawāf Wadā, sebagaimana hadīts yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim juga dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā.

أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ، آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ إِلاَّ أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْمَرْأَةِ الْحَائِضِ

“Manusia diperintahkan untuk menjadikan pekerjaan paling terakhir mereka pada ibadah hajinya adalah mengelilingi Ka’bah (thawāf di baitullāh) kecuali diringankan bagi wanita yang hāidh (dan nifas).”

(HR Muslim nomor 1328)

Ada beberapa pertanyaan di sini.

⑴ Bolehkah mengakhirkan (menggabung) thawāf Ifadhah dengan thawāf Wadā karena satu dan lain hal?

Jawabannya:

⇒Boleh, dengan catatan ketika kita thawāf niatkan itu thawāf Ifadhah dan sudah mencukupi itu sebagai thawāf Wadā.

Karena yang dimaksud dengan thawāf Wadā adalah kita mengakhiri ibadah haji kita dengan thawāf.

Jadi kalau seseorang mengerjakan thawāf Ifadhah dan dia niatkan thawāf Ifadhah sebelum dia meninggalkan Mekkah (keluar dari Mekkah) maka itu disebut dengan thawāf Wadā pada saat yang bersamaan.

⑵ Wanita yang sedang hāidh dan sebelumnya belum mengerjakan thawāf Ifadhah, sedangkan jadwal pulang ke Indonesia sudah dekat maka bagaimana caranya?

Jawabannya:

⇒Jika tidak memungkinkan dia tinggal menunggu sampai hāidhnya bersih maka dia diperbolehkan untuk thawāf Ifadhah dan pada saat yang bersamaan thawāf Wadā dengan menggunakan pembalut (ini difatwakan oleh Syaikhul Islām ibnu Taimiyyah rahimahullāh) karena kondisinya dalam keadaan sangat darurat untuk melakukan itu.

Karena kalau dia tidak thawāf Ifadhah berarti hajinya belum selesai, karena thawāf Ifadhah hukumnya adalah rukun haji.

Selesailah perkerjaan amal ibadah haji, mudah-mudahan bermanfaat. Apa yang baik dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla apa yang buruk itu dari kami pribadi.
والله تبارك وتعالى أعلم
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 28, In syā Allāh

 

 

 

27 hari tasyriq