Tag Archives: HSI ABDULLAH ROY

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 11 – Halaqah 90 | Pembahasan Dalil Kesebelas dan Keduabelas

Halaqah 90 | Pembahasan Dalil Kesebelas dan Keduabelas

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-90 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mendatangkan ucapan Abul ‘Aliyah

وَقَالَ أَبُو العَالِيَةِ

Berkata Abul ‘Aliyah

تَعَلَّمُوا الإِسْلَامَ

Hendaklah kalian mempelajari Islam, yaitu mempelajari Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ baik aqidahnya, akhlak, ibadahnya

فَإِذَا عَلِمْتُمُوهُ فَلَا تَرْغَبُوا عَنْهُ

Dan kalau kalian sudah mempelajari Islam maka janganlah kalian membencinya atau lari darinya, tidak Istiqomah, futur, melenceng dari apa yang sudah dipelajari, kalau kalian sudah belajar maka janganlah kalian membencinya, jangan kalian menjauh darinya, jangan kalian lemah, pelajari dan amalkan

وَعَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ المُسْتَقِيمِ

Dan wajib bagi kalian untuk menempuh jalan yang lurus ini, عَلَيْكُمْ maknanya adalah ilzam atau maknanya adalah wajib bagi kalian untuk menempuh jalan yang lurus ini, apa yang dimaksud jalan yang lurus

فَإِنَّهُ الإِسْلَامُ

karena jalan yang lurus adalah islam ini, yang sedang kalian pelajari ini

وَلَا تُحَرِّفُوا الصِّرَاطَ يَمِينًا وَشِمَالًا

Dan janganlah kalian menyimpang dari jalan yang lurus ini baik ke kiri maupun ke kanan, jangan mengatakan ke kanan lebih baik daripada ke kiri, tidak, lurus. Dan berada di atas jalan yang lurus tidak boleh kita melenceng sedikit pun, tanḥarif maksudnya adalah menyimpang membelok baik ke kanan maupun kekiri, sama saja ke kanan ataupun ke kiri kalau itu keluar dari jalan yang lurus maka tempat kembalinya adalah siksaan dan juga jahanam. Mau ikut aliran apa saja kalau itu di luar الصِّرَاط المُسْتَقِيم maka itu akan membawa kepada jahanam, akan membawa kepada kesesatan.

Yakinlah bahwasanya jalan satu-satunya yang menyampaikan kita kepada tujuan yaitu kepada surga, kepada Allāh ﷻ adalah jalan yang lurus ini, adapun jalan yang lain bagaimanapun dia dihiasi dengan lampu, dihiasi dengan nama-nama yang indah, dihiasi dengan kegiatan-kegiatan yang wah, dihiasi dengan banyaknya harta mereka, yakinlah bahwa itu tidak akan menyampaikan kepada Allāh ﷻ, jangan tertipu, jalan inilah yang akan menyampaikan kita kepada Allāh ﷻ

وَعَلَيْكُمْ بِسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ

Dan wajib bagi kalian untuk memegang sunnah Nabi kalian, tadi mengatakan Islam sekarang berbicara tentang sunnah menunjukkan bahwasanya Islam itu ya sunnah dan menunjukkan bahwasanya sirāthul mustaqīm itu adalah islam dan sirāthul mustaqīm dia adalah sunnah, makanya tadi beliau mengatakan

وَعَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ المُسْتَقِيمِ، فَإِنَّهُ الإِسْلَامُ

Berarti sirāthul mustaqīm itu adalah Islam. Kemudian beliau mengatakan

وَعَلَيْكُمْ بِسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ

Berarti Islam ya sunnah Nabi ﷺ, Islam itu ya jalannya Nabi ﷺ berarti baik sirāthul mustaqīm Islam maupun sunnah maknanya sama

وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ

Dan hati-hati kalian dengan hawa nafsu-hawa nafsu ini. Hawa nafsu ini berarti bertentangan dengan Islam, masuk di dalamnya adalah bid’ah karena bid’ah ini adalah bagian dari hawa nafsu, karena harusnya Islam yaitu manut kepada Allāh ﷻ, ketika seseorang melakukan bid’ah berarti dia mengikuti hawa nafsunya, makanya digandengkan terus antara bid’ah dengan nama nafsu, ahlul bid’ah wal ahwa, mereka itu adalah ahli dalam masalah bid’ah dan mereka adalah ahli dalam masalah hawa nafsu, mengikuti hawa nafsu bukan mengikuti wahyu

وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ

Dan hati-hati kalian dengan hawa nafsu ini, menunjukkan bahwasanya hawa nafsu ini bertentangan dengan sunnah Nabi ﷺ.
Ucapan Abul ‘āliyah ini dikeluarkan oleh diantaranya oleh Abdur Rozzaq di dalam mushannah beliau, selain oleh Abdur Rozzaq maka ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Bathoh didalam kitab beliau Al-Ibanah Al-Qubroh, juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyatul Aulia.

Kemudian beliau mengucapkan sebuah ucapan dan ini mungkin kali yang ketiga kita menemukan ucapan penulis di dalam kitab ini, jarang sekali beliau mengucapkan ucapan dari diri beliau tapi kebanyakan adalah Al-Quran dan hadits dengan ucapan para salaf.
Kemudian Syaikh mengatakan

تَأَمَّلْ كَلَامَ أَبِي العَالِيَةِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى هَذَا، مَا أَجَلَّهُ

Perhatikanlah, dan ini sepertinya dalam dua ucapan beliau sebelumnya juga mengatakan تَأَمَّلْ dan seterusnya, beliau mengajak kita untuk jangan hanya melewati ucapan para salaf murūron kiroman, melewati ucapan-ucapan para salaf dengan begitu saja, mereka kalau berbicara berbicara di atas ilmu, ini sedikit tapi berdasarkan ilmu, maka beliau mengatakan perhatikanlah ucapan Abul ‘āliyah

هَذَا، مَا أَجَلَّهُ

Bagaimana besarnya dan berharganya ucapan ini

وَأَعْرَفَ زَمَانَهُ الَّذِي يُحَذِّرُ فِيهِ مِنَ الأَهْوَاءِ

Dan ketahuilah zaman beliau, zaman dimana saat itu beliau mentahdzir dari hawa nafsu, ketika beliau mengatakan

وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ

hati-hati kalian dengan ahwa’ ini, هَذِهِ menunjukkan bahwa di zaman beliau sudah ada, sudah banyak hawa nafsu-hawa nafsu.

الَّتِي مَنِ اتَّبَعَهَا؛ فَقَدْ رَغِبَ عَنِ الإِسْلَامِ

Yang barangsiapa yang mengikuti hawa nafsu tadi maka sungguh dia telah membenci Islam atau menjauhi dari Islam, dan sudah kita sampaikan bahwasanya orang yang mengikuti bid’ah tadi berarti dia sudah lama kelamaan akan membenci Islam itu sendiri, ketika dia melakukan bid’ah berarti dia membenci sunnah yang bertentangan dengan bid’ah tadi dan seterusnya dipupuk akhirnya dia membenci Islam itu sendiri.

الَّتِي مَنِ اتَّبَعَهَا؛ فَقَدْ رَغِبَ عَنِ الإِسْلَامِ

Beliau telah mentahdzir dari yang demikian. Kenapa belum mentahdzir dari hawa nafsu-hawa nafsu ini? Apa hubungannya dengan Islam? Karena mengikuti hawa nafsu ini, mengikuti bid’ah akan menjadikan dia membenci Islam, akhirnya keluar dari agama Islam, akhirnya keluar dari jalan yang lurus. Sehingga beliau mengatakan تَأَمَّلْ, perhatikan ucapan ini, kenapa beliau di akhir mengatakan

وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ

hati-hati kalian dengan hawa nafsu ini padahal sebelumnya menjelaskan tentang, harus mengikuti Islam, harus mengikuti sunnah, jangan kalian berpaling dari jalan yang lurus baik ke kanan maupun ke kiri. Apa hubungannya? Karena hawa nafsu ini kalau diikuti akan menjauhkan kita dari Islam.
Kemudian disebutkan didalam ucapan Abul ‘āliyah

وَتَفْسِيرُ الإِسْلَامِ بِالسُّنَّةِ

Di dalamnya juga ada penjelasan atau tafsir Islam dengan sunnah, dari mana diambil, karena sebelumnya وَعَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ المُسْتَقِيمِ، فَإِنَّهُ الإِسْلَامُ kemudian setelahnya وَعَلَيْكُمْ بِسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ dan semuanya adalah lawan dari hawa nafsu, dan sudah kita sebutkan (halaqah 12) ucapan dari al Imam Al Barbahari

الإسلام هو السنة والسنة هي الإسلام

وَخَوْفَهُ عَلَى أَعْلَامِ التَّابِعِينَ وَعُلَمَائِهِمْ مِنَ الخُرُوجِ عَنِ السُّنَّةِ

Dan dari ucapan ini kita mengetahui tentang rasa takutnya beliau, takutnya Abul ‘āliyah kalau sampai ini menimpa para tabi’in, karena beliau mengatakan

تَعَلَّمُوا الإِسْلَامَ

hendaklah kalian, ini beliau berbicara dengan para tabi’in

فَإِذَا عَلِمْتُمُوهُ

kalau kalian sudah belajar, berarti beliau berbicara kepada thullābul ‘ilm, berbicara kepada para ulamanya, kalau sudah mempelajari Islam

فَلَا تَرْغَبُوا عَنْهُ

jangan kalian membencinya, kalian jangan menjauhinya.

Maka disini kita lihat bagaimana takutnya beliau hal ini menimpa para tabi’in dan juga para ulama tabi’in jangan sampai mereka keluar dari Islam, keluar dari sunnah. Kalau ini terjadi pada seorang semisal Abul ‘āliyah dan beliau berbicara dengan kaum yang telah dikabarkan oleh Nabi ﷺ

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

kemudian orang-orang yang mengikuti mereka yaitu setelah para sahabat, dipuji oleh Nabi ﷺ, meskipun demikian Abul ‘āliyah khawatir akan menimpa para tabi’in tersebut

رَغبَ عَنِ الإِسْلَامِ والسنة

lalu bagaimana dengan kita yang jauh dari mereka baik dari sisi zaman maupun dari sisi Iman, tentunya kita harus lebih takut lagi mengikuti hawa nafsu-hawa nafsu tadi.

يَتَبَيَّنُ لَكَ

maka akan jelas bagimu

مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ﴾ [البقرة: 131

[البقرة: 131]

Dari sini engkau mengetahui makna dari firman Allāh ﷻ

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ

Siapa yang diperintahkan disini ? Ibrahim, disuruh untuk Islam.

Maka kita mengetahui makna ayat ini kenapa Allāh ﷻ memerintahkan, jangankan para tabi’in yang mereka dipuji Nabi ﷺ dikatakan oleh Abul ‘āliyah

فَإِذَا عَلِمْتُمُوهُ فَلَا تَرْغَبُوا عَنْهُ، وَعَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ المُسْتَقِيمِ، فَإِنَّهُ الإِسْلَام

Nabi Ibrahim saja diperintahkan oleh Allāh ﷻ untuk aslim, maksudnya adalah Istiqomah di atas Islam. Nabi Ibrahim disuruh untuk Istiqomah, berarti di sini kita memahami makna kenapa Allāh ﷻ menyuruh Nabi-Nyauntuk Istiqomah.
Tidak ada yang merasa aman di antara kita, dari fitnah keluar dari sunnah, keluar dari Islam karena hati manusia ini berada di antara dua jari di antara jari-jari Allāh ﷻ, sangat mudah sekali Allāh ﷻ bolak-balikkan. Nabi ﷺ mengatakan bahwasanya hati-hati kita itu berada diantara dua jari Allāh ﷻ, Allāh ﷻ membolak-balikkan hati manusia sesuai dengan kehendaknya.

Dan kita mengetahui tentang firman Allāh ﷻ

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [البقرة: 132

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.’”

(QS. Al-Baqarah [2]: 132)

Kita memahami ayat ini bahwasanya ayat ini berisi tentang wasiat dan perintah Ibrahim kepada anak-anaknya dan juga Ya’qub kepada anak-anaknya untuk Istiqomah di atas Islam, jangan sampai melenceng dari Islam, dan kita memahami firman Allāh ﷻ

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ﴾ [البقرة: 130].

[البقرة: 130]

Tidaklah membenci millahnya Ibrahim kecuali orang yang menjadikan dirinya bodoh, kecuali orang yang bodoh, orang yang melenceng dari Islam, tidak Istiqomah di atas Islam, itu adalah orang yang سَفِه orang yang bodoh, karena orang yang berakal menginginkan kebahagiaan bagi dirinya dan kebahagiaan yang sebenarnya adalah kebahagiaan yang Allāh ﷻ janjikan dengan islam ini.

Maka orang yang berusaha mencari kebahagiaan di luar Islam ini adalah orang yang bodoh dan ayat ini menunjukkan tentang wajibnya kita untuk Istiqomah di atas Islam

وَأَشْبَاهِ هَذِهِ الأُصُولِ الكِبَارِ

Dan ayat-ayat yang serupa dengan ayat-ayat yang agung ini, أُصُول terkadang maknanya adalah dalil, waashlu hādzihil mas’alah atau asal dari permasalahannya adalah firman Allāh ﷻ, maksudnya adalah dalil, karena dalil ini memang menjadi yang utama dia yang menjadi pegangan bagi kita

وَأَشْبَاهِ هَذِهِ الأُصُولِ الكِبَارِ الَّتِي هِيَ أَصْلُ الأُصُولِ، وَالنَّاسُ عَنْهَا فِي غَفْلَةٍ

Dan semisal dengan dalil-dalil yang besar ini atau pondasi-pondasi yang besar ini, yang dia adalah pokok dari pokok pokoknya dan bahwasanya manusia berada di dalam kelalaian di dalam masalah ini. Banyak orang yang lalai tentang pentingnya istiqomah di atas Islam dan bahwasanya bid’ah ini adalah sesuatu yang bertentangan dengan Islam

وَبِمَعْرِفَتِهَا يَتَبَيَّنُ مَعْنَى الأَحَادِيثِ فِي هَذَا البَابِ وَأَمْثَالِهَا

Dan dengan mengenal ini, dengan memahami ucapan Abul ‘āliyah ini, engkau bisa memahami dengan baik makna hadits-hadits yang ada di dalam bab ini dan yang semisalnya, maksudnya adalah hadits-hadits yang kita sebutkan yang isinya adalah perintah untuk Istiqomah di atas Islam seperti hadits Hudzaifah Ibnu Yaman, ma min maulūdin yūladu ‘alal fitrah kemudian juga hadits-hadits tentang haudh maka ini semua kita memahami kenapa kita harus istiqomah di atas Islam dan larangan kita untuk melakukan bid’ah di dalam agama

وَأَمَّا الإِنْسَانُ الَّذِي يَقْرَأُهَا وَأَشْبَاهَهَا وَهُوَ آمِنٌ مُطْمَئِنٌّ؛ أَنَّهَا لَا تَنَالُهُ، وَيَظُنُّهَا فِي قَوْمٍ كَانُوا، فَبَادُوا، ﴿مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا القَوْمُ الخَاسِرُونَ﴾ [الأعراف: 99]

Adapun seseorang manusia yang dia membaca dalil-dalil ini dan juga yang semisalnya sedangkan dia dalam keadaan آمِنٌ مُطْمَئِنٌّ, membaca ayat ayatnya membaca haditsnya tapi dia dalam keadaan tenang

أَنَّهَا لَا تَنَالُهُ

bahwasanya fitnah-fitnah ini, kejelekan-kejelekan ini, hawa nafsu ini tidak akan mengenai dirinya. Jadi orang Islam harusnya dia takut terkena fitnah ini, takut dia melenceng dan keluar dari jalan yang lurus. Adapun orang yang sekedar membaca dalil-dalil tadi tapi dia dalam keadaan آمِنٌ dalam keadaan merasa aman, ah nggak mungkin ini terkena ke saya, مُطْمَئِنٌّ dalam keadaan hatinya tenang tidak ada rasa takut terjerumus dalam kesesatan.

Dia menyangka bahwasanya kesesatan-kesesatan tadi hanya untuk nāsin kānu, ini hanya untuk orang-orang yang sudah berlalu saja, فَبَادُوا yang mereka berpisah dengan kita, seakan-akan fitnah bid’ah, fitnah syirik itu hanya untuk orang lain bukan untuk dirinya sehingga dia menyangka, dia merasa tenang, merasa aman tidak mungkin dia terkena kesesatan tadi, menyangka ini adalah untuk orang-orang yang sudah berlalu أْمَنا مَكْرَ اللَّهِ dalam keadaan dia merasa aman dari makar Allāh ﷻ

فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا القَوْمُ الخَاسِرُونَ

Maka tidak aman dari makar Allāh ﷻ kecuali orang-orang yang rugi, orang yang merasa aman dari makar Allāh ﷻ inilah orang yang rugi.

Adapun orang yang khawatir, ketika melihat fitnah banyak orang yang berjatuhan di dalam bid’ah, di dalam kesyirikan, di dalam kemaksiatan maka dia khawatir dirinya terjerumus ke dalam yang dialami orang-orang tersebut, maka dia akan berusaha, maka dia akan berdoa, maka dia akan mengambil sebab bagaimana selamat dari kesesatan tadi.

Kemudian Syaikh mengatakan

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا

Dan dari Abdullah bin Mas’ud beliau mengatakan Rasulullah ﷺ membuat sebuah garis, satu garis saja

ثُمَّ قَالَ: «هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ

Ini adalah jalan Allāh ﷻ, menunjukkan bahwasanya jalan Allāh ﷻ itu hanya satu dan dia adalah jalan yang lurus, sebagaimana dalam ayat shirāthal mustaqim, tharīqil mustaqim, sabīlil mustaqim

ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ

Kemudian beliau menggambar garis-garis yang lain baik di sebelah kanannya maupun di sebelah kirinya

ثُمَّ قَالَ: «هَذِهِ سُبُلٌ

Ini adalah subul, ini adalah jalan-jalan yang disebutkan di dalam ayat

وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ

[Al An’am:153]

عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ

Di atas masing-masing dari jalan ini ada setan yang dia mengajak kepada jalan-jalan ini. Dia ajak orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus ini untuk mengikuti jalannya

وقَرَأَ

kemudian Nabi ﷺ membaca

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ، فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ﴾ [الأنعام:153]

Ini adalah jalan مُسْتَقِيمًا yang lurus فَاتَّبِعُوهُ maka hendaklah kalian mengikutinya, dan ini adalah syahidnya kita disuruh mengikuti ini, jangan kita berbelok ke kiri dan ke kanan menyimpang dari Islam

وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ

Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan, subul ini, yang ada di sebelah kanan dan juga sebelah kiri karena inilah yang akan memecah kalian dari jalan Allāh ﷻ. Awalnya kalian berkumpul di sini, ketika kita sudah menoleh ke kanan dan ke kiri maka akhirnya masing-masing kita berada di aliran-aliran tadi, kalian akan pecah belah dari jalan Allāh ﷻ ini adalah syahidnya kita harus istiqomah di atas Islam dan jangan sampai kita menyimpang ke kanan maupun kiri

رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ

Hadits ini diriwayatkan oleh Imām Ahmad dan juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i, dan hadits ini adalah hadits yang shahih diriwayatkan sebagaimana ucapan Mu’allif disini diriwayatkan oleh Imām Ahmad dan juga An Nasa’i

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 11 – Halaqah 89 | Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman Bag 04

Halaqah 89 | Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman Bag 04

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-89 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Nabi ﷺ mengatakan

وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ

Meskipun اعْتَزِلْ , ketika engkau meninggalkan aliran-aliran tadi, bagaimana supaya tidak terseret oleh aliran-aliran tadi, engkau berusaha dengan berbagai usaha diantaranya adalah kita menggigit akar pohon, tetapi tujuannya agar bagaimana dia tidak terseret oleh arus fitnah tadi, dipegang, diseret, didakwahi oleh aliran-aliran tadi, dia tidak mau mengikuti aliran-aliran tadi, agar tidak terseret dia seakan-akan menggigit akar pohon

وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ

Meskipun engkau harus menggigit akar pohon, yaitu pohon yang besar.

Ini sekedar permisalan, seandainya antum berusaha ingin terlepas dari aliran-aliran tadi sampai seandainya antum menggigit akar pohon tadi, maksudnya ini adalah ibaroh dari kuatnya kita di dalam meninggalkan aliran-aliran tadi.

حَتَّى يُدْرِكَكَ المَوْتُ

Sampai datang kepadamu kematian

وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Dan engkau dalam keadaan menggigit akar pohon tadi.

Meskipun antum harus kelaparan, karena ingin memegang agama antum, tidak ingin melepaskan akar pohon tadi, takut terbawa oleh aliran-aliran tadi, terus berpegang dengan agama ini sampai engkau meninggal dunia. Ucapan beliau ḥatta ya’tiyakal maūt ini adalah perintah untuk Istiqomah di atas Islam, jangan kita mengikuti aliran-aliran tadi yang mengajak kepada sunnah bukan sunnah Nabi ﷺ, yang memberikan petunjuk bukan petunjuk Nabi ﷺ.

Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim dari Hudzaifah Ibnu Yaman

زَادَ مسْلِم

Ditambah oleh Imām Muslim

ثُمَّ مَاذَا؟

Al-Imām Muslim ada ziyadah, bahwasanya Hudzaifah bertanya lagi, setelah itu apa lagi ya Rasulullah ﷺ? Yaitu setelah banyaknya aliran-aliran tadi, banyaknya duāt yang mengajak kepada pintu jahannam, kemudian setelahnya apa?

قَالَ: «ثُمَّ يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مَعَهُ نَهْرٌ وَنَارٌ

Kemudian setelah itu, yaitu di akhir zaman, akan keluar fitnah yang paling besar di akhir zaman yaitu keluarnya Dajjal, dia membawa sungai dan juga membawa api, يَخْرُجُ berarti dia sudah ada sekarang sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Imām Muslim dari Tamim Ad-Dari’ dan bahwasanya beliau termasuk orang yang pernah bertemu dengan Dajjal di masa ketika beliau masih Nasrani sebelum beliau masuk Islam.

Terdampar beliau dan beberapa orang yang bersama beliau di sebuah pulau kemudian bertemu dengan makhluk yang berbulu tebal sehingga tidak diketahui mana depannya mana belakangnya dan dia bisa berbicara dan mengatakan bahwasanya kalian sedang ditunggu oleh seseorang disana. Kemudian akhirnya mereka masuk ke dalam sebuah gua dan melihat orang yang sedang dibelenggu kemudian terjadilah percakapan, diantaranya dia bertanya tentang apakah sudah keluar Nabi di jazirah Arab, mereka mengatakan ia sudah keluar. Apa yang terjadi, saling berperang antara mereka yaitu antara Nabi dengan kaumnya, mana yang menang, terkadang yang menang ini terkadang yang menang yang itu, kemudian Dajjal mengatakan seandainya mereka mengikuti Nabi tersebut niscaya itu adalah kebaikan bagi mereka.

Kemudian dia bertanya tentang sebuah tempat apakah sudah kering tempatnya atau airnya dan seterusnya dan ini diceritakan oleh Tamim kepada Rasulullah ﷺ setelah beliau masuk ke dalam agama Islam dan Nabi ﷺ mengikrar bahwasanya ini adalah dajjal, menunjukkan bahwasanya dia sudah ada sekarang, maka Dajjal akan keluar dan ini adalah fitnah dan شَرّ yang ditanyakan oleh

Hudzaifah Ibnu Yaman.

مَعَهُ نَهْرٌ وَنَارٌ

Dia membawa sungai dan api.

Diantara fitnah yang besar saat itu dia mengaku sebagai Robb, ia mengaku sebagai Allāh ﷻ yang menciptakan memberikan rezeki dan seterusnya dan saat itu manusia dalam keadaan kekeringan yang berkepanjangan. Air tidak turun dan tanah tidak mengeluarkan makanan, antum bisa bayangkan bagaimana keadaan saat itu, air tidak ada dan dalam keadaan mereka kelaparan, tidak ada makanan yang dimakan, semuanya butuh sementara tanah tidak mengeluarkan hasilnya.

Keluar dajjal ini kemudian dia mengaku sebagai Robb dan Allāh ﷻ mengizinkan Dajjal ini ketika dia mengatakan kepada langit turunkanlah hujan maka dia pun menurunkan hujan, ketika dia mengatakan kepada tanah keluarkanlah hasil kalian maka tanah mengeluarkan hasilnya. Antum bisa membayangkan bagaimana manusia dalam keadaan lapar dalam keadaan haus melihat yang demikian, tentunya mereka akan terfitnah, sudah tidak berpikir panjang lagi untuk mengikuti orang ini, bahkan dia mengaku sebagai Allāh ﷻ, sebagai Rabb.

Orang-orang yang kafir maka dengan mudah sekali dia mengikuti Dajjal ini karena dia kufur, kemudian dia tidak mengenal Allāh ﷻ, tidak pernah belajar ma’rifatullah, bagaimana sifat-sifat Allāh ﷻ, sehingga ketika ada orang yang mengaku demikian, apalagi dia memiliki kemampuan yang luar biasa akhirnya dia mengikuti. Adapun orang Islam yang mereka belajar kemudian mereka berusaha untuk mengenal Allāh ﷻ dengan nama dan juga sifatnya, mempelajari hadits-hadits Nabi ﷺ yang menyebutkan tentang sifat-sifat dajjal dan bahwasanya Allāh ﷻ tidak dilihat kecuali setelah kita meninggal dunia,

أنكم لن تروا ربكم حتى تموتوا

kata Nabi ﷺ, kalian tidak akan melihat Rabb kalian sampai kalian meninggal dunia, ini kaidah yang mereka ketahui dan keimanan mereka Allāh ﷻ tidak akan dilihat sekarang di dunia, kalau aku meninggal dunia barulah nanti kelak bisa melihat Allāh ﷻ, ketika dia masih hidup kok ada orang yang mengaku sebagai Allāh ﷻ dan dia sadar saya ini masih hidup, ini ada orang yang mengaku sebagai Allāh ﷻ, maka seorang muslim langsung dan tidak ragu-ragu ini adalah Dajjal, ini pendusta karena Nabi ﷺ telah mengabarkan kepada kita, kita tidak mungkin melihat Allāh ﷻ sampai kita meninggal dunia, dia tidak akan tertipu dengan kemampuannya yang luar biasa, apalagi ketika dia mengingat apa yang digambarkan oleh Nabi ﷺ.

Ini sudah dikabarkan oleh Nabi ﷺ bahwasanya dia akan membawa sungai dan juga api dan bahwasanya dia akan mengaku sebagai Allāh ﷻ dan tertulis didahinya kafara atau tertulis kafir dan setiap orang yang beriman baik yang bisa membaca atau yang tidak bisa membaca semuanya akan bisa membaca dengan izin Allāh ﷻ tulisan yang ada di dahi Dajjal tadi.

فَمَنْ وَقَعَ فِي نَارِهِ؛ وَجَبَ أَجْرُهُ، وَحُطَّ وِزْرُهُ

Barangsiapa yang terjatuh ke dalam api yang dia bawa, jadi dia menawarkan api dan juga sungai, barangsiapa yang masuk ke dalam api nya Dajjal ini maka dia akan mendapatkan pahala dan akan dihilangkan darinya dosa.

Ini fitnah besar, bayangkan ada api yang benar-benar kelihatan api dan di sini ada sungai kita disuruh milih, kalau bukan orang yang beriman akan memilih sungai, lebih enak masuk sungai dari pada masuk api, tapi orang yang beriman ketika dia belajar agama, ini menunjukkan tentang pentingnya mempelajari agama dan pentingnya kita mengetahui yang syarr supaya kalau terjadi kita bisa selamat dari kejelekan tadi, selamat dari fitnah tadi karena kita sudah belajar biidznillah ini adalah api dan ini adalah sungai, Nabi ﷺ mengatakan kalau masuk ke dalam api ini kita akan mendapatkan pahala, maka seorang yang beriman berilmu dan juga mengamalkan dia akan memilih masuk ke dalam api tersebut, maka akan mendapatkan pahalanya dan akan dihilangkan dosanya

وَمَنْ وَقَعَ فِي نَهْرِهِ؛ وَجَبَ وِزْرُهُ، وَحُطَّ أَجْرُهُ

Dan barangsiapa yang lebih memilih masuk ke dalam sungai tadi maka dia berdosa

وَحُطَّ أَجْرُهُ

Dan akan dihilangkan pahalanya, dosanya dia dapatkan dan pahalanya akan di hilangkan karena dia mengikuti dajjal. Allahu a’lam mungkin maksudnya adalah keluar dari agama Islam dan orang yang keluar dari agama Islam maka dia telah batal

وَمَن يَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتۡ وَهُوَ كَافِرٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ

Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat…

[Al Baqarah:217]

قُلْتُ: ثُمَّ مَاذَا؟

Kemudian aku bertanya lagi, kemudian setelah itu apa ya Rasulullah ﷺ, kemudian setelah kejelekan ini, setelah fitnah besar ini apa ya Rasulullah ﷺ,

قَالَ: «ثُمَّ هِيَ قِيَامُ السَّاعَةِ

Yang terjadi setelah itu adalah terjadinya قِيَامُ السَّاعَةِ, karena keluarnya Dajjal ini adalah termasuk asyratus sa’ah al-qubro, dia adalah termasuk tanda-tanda dekatnya السَّاعَةِ yang paling besar yang jumlahnya ada sepuluh. Ini adalah tanda-tanda yang terakhir, sudah memang menjelang terjadinya السَّاعَةِ termasuk di antara sepuluh ini adalah keluarnya dajjal, maka yang terjadi setelah itu adalah tidak lama lagi akan terjadi قِيَامُ السَّاعَة.

Hadits tentang ثُمَّ يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مَعَهُ نَهْرٌ وَنَارٌ ini yang meriwayatkan Abu Daud

ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «ثُمَّ يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مَعَهُ نَهْرٌ وَنَارٌ، فَمَنْ وَقَعَ فِي نَارِهِ؛ وَجَبَ أَجْرُهُ، وَحُطَّ وِزْرُهُ، وَمَنْ وَقَعَ فِي نَهْرِهِ؛ وَجَبَ وِزْرُهُ، وَحُطَّ أَجْرُهُ»، قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «ثُمَّ هِيَ قِيَامُ السَّاعَةِ

Ziyadah ini ada didalam Abu Daud dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah, adapun yang diucapkan oleh Mu’allif bahwasanya ini adalah tambahan dari Imām Muslim, Allahu a’lam, setahu kita yang ada tambahannya disini adalah yang dikeluarkan oleh Abu Daud dan tambahan ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 11-Halaqah 88 | Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman Bag 03

Halaqah 88 | Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman Bag 03

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
 
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-88 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Hudzaifah bertanya lagi kepada Nabi

قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟

Ya Rasulullah ﷺ apa yang engkau perintahkan kepadaku ketika aku menemui zaman tersebut? Zaman disana banyak دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ, yang mereka berpakaian sama dengan pakaian kita, madzharnya sama dengan madzhar kita, berbicara seperti ucapan kita tapi dia tahu ini bukan mengajak kepada sunnah sehingga banyak manusia yang tertipu, bagaimana seandainya aku menemui zaman yang demikian.

Ini adalah pertanyaan yang wafq dari seorang Hudzaifah Ibnu Yaman, untuk melihat pertanyaan-pertanyaan beliau adalah pertanyaan-pertanyaan yang sangat berfaedah. Ciri-cirinya bagaimana, seandainya saya sudah mengenal ciri-cirinya dan saya tahu ini adalah seperti yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ apa yang harus ana lakukan, ini yang lebih penting yaitu mengenal apa yang harus dilakukan ketika menemui fitnah tadi

قَالَ

maka Nabi ﷺ memberikan kuncinya, memberikan jalan keluarnya dan inilah Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ datang dengan petunjuk, datang dengan kebaikan bagi manusia, tidak ada sebuah masalah kecuali di sana ada jalan keluarnya. Hudzaifah dan juga para sahabat dan para salaf dan kaum muslimin yakin bahwasanya di dalam petunjuk Nabi ﷺ inilah sebaik-baik petunjuk

وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dan Beliau ﷺ menyebutkan petunjuk ini bukan dari hawa nafsunya tapi Beliau ﷺ berbicara dengan wahyu. Allāh ﷻ yang mengetahui apa yang terjadi di masa yang akan datang dan apa jalan keluar bagi manusia, mewahyukan kepada Beliau ﷺ tentang perkara ini. Beliau ﷺ mengatakan kepada Hudzaifah

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ

Jalan keluarnya kalau banyak da’i-da’i yang mengajak kepada jahanam, termasuk diantaranya adalah duāt khawarij, yang banyak orang yang tertipu dengan pakaian mereka, dengan jenggot mereka, dengan banyaknya mereka membaca Alquran.

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ

Kalau dalam keadaan demikian maka hendaklah engkau melazimi جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ, jangan kau tinggalkan jamaahnya kaum muslimin, adapun duāt tadi maka mereka mengajak untuk memisahkan diri mereka dari jamaahnya kaum muslimin

وَإِمَامَهُمْ

Dan hendaklah engkau melazimi imamnya kaum muslimin. Kalau di sana ada sebuah baldah, sebuah negara, sebuah negeri, ada imamnya kaum muslimin bersama kaum muslimin maka ketika terjadi fitnah tadi jangan engkau keluar dan memberontak kepada penguasa tetapi justru engkau melazimi jama’ahnya kaum muslimin dan juga imam mereka.

Maksudnya adalah mendengar dan taat kepada penguasa, bukan keluar dan memberontak kepada penguasa, mendengar dan taat dengan aturan yang telah kita ketahui yaitu mendengar dan taat di dalam kebaikan, mendengar dan taat kepada penguasa di dalam kebaikan, jangan kita mengikuti apa yang dilakukan oleh dan apa yang didakwahkan oleh دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ.

Ini adalah jalan keluar dan dimaksud dengan imam di sini adalah al-imamu a’dzhom,

ini adalah imam yang besar yaitu penguasa kaum muslimin dan yang dimaksud dengan jamaah di sini adalah jamaahnya kaum muslimin, mereka adalah muslimin. Imam yang ma’ruf yang dikenal oleh kaum muslimin seandainya mereka ditanya man imāmukum? Maka mereka mengatakan si Fulan, baik yang laki-laki maupun yang wanita yang kecil maupun yang besar siapa pemimpin kamu dia mengatakan si fulan ini berarti adalah imam yang ma’ruf, adapun imam yang tidak diketahui kecuali hanya oleh segelintir orang saja maka ini tidak masuk di dalam imam yang dimaksud.

Kemudian syarat yang kedua imam tersebut adalah imam yang memiliki qudrah,

dia memiliki kemampuan, memiliki kekuasaan yang dengannya dia bisa mengeluarkan peraturan untuk kaum muslimin yang ada di negerinya. Ketika dia memutuskan si Fulan harus dipecat misalnya, si fulan harus diasingkan, si fulan yang dihukum demikian, dia memiliki kekuatan tersebut maka inilah yang dimaksud dengan imam yang syar’i.

Kemudian di antara syaratnya imam tersebut adalah imam yang maujud yaitu imam tersebut ada di permukaan bumi,

bukan imam yang dianggap oleh sebagian tapi hakikatnya dia tidak ada.

Tiga syarat ini disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah kalau tidak salah di dalam Minhajussunnah.

Pertama dia adalah maujud, ada, bukan seperti orang-orang rafidhah menganggap bahwasanya imam Mahdi, imam mereka itu berada di sirdab, mereka meyakini itu adalah pemimpin tapi dia nggak ada wujudnya di permukaan bumi, ini tidak terpenuhi syaratnya.

Kemudian yang kedua dia adalah imam yang ma’ruf diketahui oleh penduduk negeri tersebut, adapun hanya diketahui oleh lima orang, sepuluh orang, diangkat menjadi pemimpin kemudian menganggap itu imamnya tapi ketika kaum muslimin yang lain ditanya mereka tidak mengerti maka ini bukan imam yang dimaksud, bukan imam yang syar’i yang demikian, dan ini banyak jamaah-jamaah yang mereka mengangkat imam sendiri, berpisah lagi kemudian masing-masing membuat dan mengangkat imam lagi dan seterusnya, itu yang mengetahui hanya segelintir orang saja, kita tidak tahu siapa pemimpin jamaahnya fulan, jamaah fulaniyyah yang banyak sekali kita tidak tahu pemimpin mereka, ini bukan imam yang syar’i.

Kemudian yang ketiga syaratnya harus memiliki qudroh, ucapannya didengar, kalau dia mengatakan keputusan demikian maka itu dengarkan dan dilaksanakan maka ini adalah syarat imam yang syar’i. Adapun ucapan dia tidak didengar bahkan tidak diketahui oleh kaum muslimin maka ini dia bukan imam yang syar’i.

قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟

Ini menunjukkan tentang fiqihnya Hudzaifah ibnu yaman, iya kalau saat itu memang ada pemimpin dan ada orang-orang yang mendengar dan taat kepada pemimpin tersebut, nah sekarang kalau keadaannya hancur-hancuran, pemimpin terbunuh misalnya, manusia seperti hewan ternak yang mereka tidak ada penggembalanya, masing-masing membuat jamaah, masing-masing saling berperang satu dengan yang lain, tidak ada imam yang ditaati dan didengar, sampai ke sana pertanyaan dari Hudzaifah ibnu yaman, apa yang menjadi kemungkinan terjadi maka beliau tanyakan.

Dan sebagian ulama mengatakan ini menunjukkan tentang bolehnya bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi kalau memang itu bermanfaat tapi kalau yang tidak ada manfaatnya maka ini termasuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak sepantasnya ditanyakan kepada para ulama. Dan sudah berlalu ketika membahas tentang khulashah ta’dzimi ‘ilmi bahwasanya termasuk pengagungan kita terhadap ilmu adalah menjaga di dalam masalah pertanyaan ini.

Termasuk diantaranya apa yang ditanyakan kepada guru, sang Mu’allim maka termasuk pengagungan kita terhadap ilmu adalah menjaga pertanyaan, diantara pertanyaan yang tidak sepantasnya adalah bertanya sesuatu yang tidak ada manfaatnya atau bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi.

Sehingga sebagian ulama ketika ditanya, Syaikh demikian dan demikian, dia bertanya dulu apakah itu sudah terjadi, belum, dia mengatakan tinggalkan sampai dia terjadi, kalau sudah terjadi nanti saya jawab. Ini mungkin kita bawa kepada sesuatu yang memang tidak ada manfaatnya dan bisa dijawab ketika dia sudah ada seperti misalnya permasalahan-permasalahan fiqih mungkin, bagaimana kalau kendaraannya demikian, bagaimana dan seterusnya, mungkin itu bisa di akhir kan sampai itu benar-benar terjadi.

Disini beliau mengatakan

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟

Bagaimana seandainya saat itu tidak ada jamaah, tidak ada kaum muslimin, tidak ada orang-orang yang mendengar dan taat kepada imam, وَلاَ إِمَامٌ dan tidak ada imamnya. Imamnya terbunuh misalnya, manusia dalam keadaan kacau balau, masing-masing membuat jamaah masing-masing menghalalkan, dan yang lain

قَالَ

maka Nabi ﷺ memberikan petunjuk yang lain, apa petunjuk Beliau ﷺ? Nabi ﷺ mengatakan

فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الفِرَقَ كُلَّهَا

Jalan keluarnya adalah kamu tinggalkan firqoh-firqoh itu semuanya, karena masing-masing duāt tadi ketika dia berdakwah maka dia menemukan jamaah, sehingga ada firqohnya, ini firqohnya fulan, kemudian duāt yang lain juga demikian, mendapatkan jamaah dan mendapatkan pengikutnya dan da’inya juga masih mengajak, sementara kita mau bergabung dengan imamnya kaum muslimin tidak ada.

Maka jalan keluarnya adalah tinggalkan seluruh aliran tadi, dan ini adalah bantahan bagi yang mengatakan bahwasanya sama saja kita mengikuti aliran itu atau aliran yang lain, silahkan engkau mengikuti aliran mana saja karena semuanya akan menyampaikan kita ke dalam surga, ini adalah ucapan orang yang bingung.

Jadi sebagian orang karena dalam keadaan bingung dia mengatakan semuanya adalah benar, ini mengajak, ini mengajak, ini mengajak, akhirnya dia bingung kemudian mengatakan apa semuanya adalah benar.

Nabi ﷺ mengatakan

فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الفِرَقَ كُلَّهَا

Tidak boleh kita mengikuti satupun dari firqoh-firqoh tadi.

اعْتَزِلْ jangan mengikuti dan mengijabahi imamnya atau bergabung dengan jama’ah tadi, tidak boleh karena itu adalah aliran-aliran yang sesat, yang mereka menyimpang dari jalan yang lurus, kalau sampai kita mengikuti aliran-aliran tadi maka kita akan dijerumuskan ke dalam jahanam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 11 – Halaqah 87 | Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman Bag 02

Halaqah 87 | Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-87 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Setelahnya Hudzaifah bertanya lagi kepada Nabi ﷺ

قُلْتُ

Aku mengatakan

فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟

Apakah setelah kebaikan yang ada دَخَن nya tadi kemudian datang lagi kejelekan, maka Nabi ﷺ mengatakan

نَعَمْ

Iya akan datang kejelekan lagi, fitnatun amyāt, lebih dari pada yang sebelumnya. Yang sebelumnya خَيْر ada kejelekan, ada sesuatu yang mengeruhkan berupa kebid’ahan, yang setelahnya akan datang شَرّ dan disifati oleh Nabi ﷺ bahwasanya شَرّ tadi berupa fitnatun amyāt, fitnah yang buta artinya orang yang terjatuh ke dalam fitnah ini maka dia seperti orang yang buta tidak mengetahui apa yang harus di lakukan dalam keadaan bingung dalam keadaan dia tidak mengetahui apa yang harus dilakukan.

Dan di sana ada

دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ

Di masa itu, di masa banyaknya fitnah, diantara yang bikin bingung banyak manusia adalah adanya da’i-da’i, namanya da’I, mungkin pakaiannya, ucapannya, sama dengan pakaian ulama, ucapannya juga mirip dengan ucapan ulama sehingga inilah yang banyak membingungkan kebanyakan dari manusia.

Itukan pakaiannya sama, dia juga punya titel, dia juga hafal Qur’an bahkan dia juga menghafal hadits, oh dia juga punya sanad dan seterusnya, tapi ternyata mereka adalah

دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا

Mereka berdiri di depan pintu pintu tersebut, dan ini adalah perumpamaan maksudnya mereka دُعَاةٌ mengajak manusia berada di atas jahanam di sana ada دُعَاةٌ yang berdiri di depan surga, ada yang mengajak manusia untuk melakukan amalan-amalan yang memasukkan mereka ke dalam surga, dan di sana ada دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ, ada da’i-da’i yang mereka berdiri di atas pintu-pintu jahanam, bukan mengajak manusia ke jalan Allāh ﷻ tapi kepada jahanam.

Bagaimana nasib orang yang menoleh kemudian mengikuti dakwah dari دُعَاةٌ tadi

مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا

Barangsiapa yang menjawab ajakan dari da’i-da’i tadi, dia mau menoleh dan mau bergerak menuju da’i tadi قَذَفُوهُ فِيهَا maka langsung oleh da’i tadi dilemparkan ke dalam jahanam. Barangsiapa yang menjawab dan menoleh dan tidak Istiqomah di atas jalan yang lurus tadi maka akibatnya akan terjerumus ke dalam jahannam.

Dan ini adalah menunjukkan tentang wajibnya kita untuk Istiqomah di atas islam, terus kita berjalan di atas Islam ini di belakang Nabi ﷺ, di belakang para sahabat, di belakang para aimma ahlussunnah wal jamaah. Dan fitnah semakin ke sana semakin besar dan ajakan دُعَاةٌ yang berada di atas jahanam ini semakin syadid maka jangan sampai seseorang melenceng dan menyimpang dari jalan yang lurus ini.

Berdoa kepada Allāh ﷻ dan terus dia menuntut ilmu mensenjatai dirinya dengan ilmu tadi supaya kalau ada da’i yang mengajak kepada jahanam dia tahu, ini ngajak kepada kesesatan terus dia berjalan, ini juga ngajak kepada kesesatan terus dia berjalan, karena mereka juga bervariasi di dalam ajakan, diwahyukan oleh setan dari kalangan Jin dengan berbagai syubhat, ditebarkan di media diucapkan kepada manusia. Kalau kita tidak memiliki ilmu dengan kejelekan yang mereka ucapkan maka di khawatirkan kita akan menoleh, menyimpang dan mengikuti dakwah mereka yang akhirnya mereka akan menjerumuskan kita ke dalam jahanam.

Dan tentunya ini sangat pas sekali dibawakan oleh Muallif di dalam bab ini karena ini menunjukkan tentang wajibnya kita Istiqomah di atas Islam dan berhati-hati dengan دُعَاةٌ yang mereka berada di atas atau di depan pintu pintu jahanam ini dan adanya fitnah yang menjadikan banyak orang buta dan tidak mengetahui, dan tentunya ini bagi orang yang tidak berilmu.

Adapun orang yang menuntut ilmu maka dia menuntut mencari cahaya, karena ilmu adalah nur. Ketika dia menuntut ilmu berarti dia mencari cahaya sehingga ketika terjadi fitnah tersebut dia dalam keadaan beriman, seseorang semakin dalam ilmunya maka akan semakin tahu fitnah bahkan sebelum terjadinya fitnah apa yang dia pelajari didalam agama ini maka dia akan mengetahui berdasarkan apa yang dia pelajari dari agama ini.

Sehingga disebutkan bahwasanya fitnah itu diketahui kalau para ulama itu mengetahui sebelum terjadinya fitnah, makanya mereka melarang manusia kaum muslimin untuk memberontak kepada penguasa, karena mereka tahu bukan berarti mereka mengetahui ilmu yang ghoib tapi berdasarkan apa yang mereka pelajari didalam agama ini bahwasanya setelah pemberontakan maka ini akan terjadi kerusakan, terjadi fitnah yang besar.

Adapun orang-orang yang jahil baru mengetahui fitnah ketika setelah terjadinya, itu adalah ucapan orang yang jahil, adapun para ulama sebelum terjadinya fitnah berdasarkan ilmu yang mereka pelajari mereka sudah bisa meraba, dengan sidq dan ilmu yang ada di dalam diri para ulama tersebut.

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! صِفْهُمْ لَنَا؟

Bukan hanya berhenti disitu ucapan Hudzaifah Ibnu Yaman, beliau semakin penasaran fitnatun amyāt, دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ dan beliau tidak melihat yang demikian, yang beliau lihat sekarang adalah sahabat, kaum muslimin yang mereka murni berpegang teguh dengan sunnah Nabi ﷺ ternyata Nabi ﷺ mengabarkan bahwasanya kelak akan adaدُعَاةٌ yang mengajak kepada pintu jahanam, maka Hudzaifah bertanya

يَا رَسُولَ اللَّهِ! صِفْهُمْ لَنَا؟

Ya Rasulullah ﷺ sifatkan kepada kami orang-orang tersebut, da’i-da’i tersebut yang mengajak kepada pintu-pintu jahanam, yang berada di atas pintu-pintu jahanam, yang mendakwahkan kepada kesesatan. Kenapa beliau mengatakan صِفْهُمْ لَنَا sifatkan kepada kami tentang mereka ini, karena beliau ingin mengenalnya sehingga kalau suatu saat qoddarollah beliau menemui orang-orang tersebut maka beliau berada di atas ilmu, oh ini yang digambarkan oleh Nabi ﷺ tidak boleh kita tertipu dengan madzhar mereka, dengan kefasihan mereka tapi yang kita lihat adalah hakikatnya kepada apa mereka mengajak, kepada apa mereka berdakwah

فَقَالَ: «هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا

Maka Nabi ﷺ, ḥirs Beliau ﷺ untuk umat ini, dan ingin orang-orang yang mengikuti Beliau ﷺ Istiqomah di atas jalan yang lurus ini, di atas Islam, maka Beliau ﷺ mengabarkan mereka adalah kaum dari jildah kita. Yang dimaksud dengan jildah adalah madzhar sesuatu luarnya, jildah adalah sesuatu yang di luarnya, bungkusnya itu dinamakan dengan jildah, makanya jilid dinamakan dengan jilid karena dia membungkus manusia, mujallad awal mujallad tsani karena dia adalah pembungkusnya dan dulu bungkusnya biasanya berasal dari kulit.

هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا

Dzhohirnya kelihatannya dia adalah berasal dari kita

وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا

Dan mereka berbicara dengan lisan kita, ada yang mengatakan أَلْسِنَتِنَا disini adalah berbicara dengan bahasa Arab. Dhohirnya seperti orang Islam yang lain fasih di dalam bahasa arab, jadi mereka ini bukan orang-orang yang diluar agama Islam tapi justru mereka adalah berasal dari kita sendiri.

Dhohirnya, jildahnya adalah orang Islam dan ucapan mereka juga ucapan orang Islam yaitu berbicara dengan bahasa Arab dan ada yang mengatakan بِأَلْسِنَتِنَا disini adalah berbicara dengan lisanu syar’, berbicara dengan lisannya syariah, mungkin dia nggak ngomong dengan bahasa Arab tapi sedikit-sedikit Allāh ﷻ berfirman, Rasulullah ﷺ bersabda meskipun dia nggak hapal arabnya, ini juga dinamakan dengan berbicara dengan lisanu syar’, berbicara dengan lisannya agama.

Oleh karena itu kita jangan tertipu dengan hanya sekedar madzhar, dengan luarnya, bungkusnya atau dengan kepandaian dia berbicara tapi yang kita lihat adalah hakikatnya, apa yang dia ajak, apakah kepada Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat ataukah selain itu, yang dilihat oleh Allāh ﷻ adalah hakikatnya bukan hanya sekedar madzharnya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 11 – Halaqah 86 | Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman Bag 01

Halaqah 86 | Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman Bag 01

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-86 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وَعَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ:

يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ» قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ» قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ» قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا» قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! صِفْهُمْ لَنَا؟ فَقَالَ: «هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا» قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَلْزَمُ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ»، قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟ قَالَ «فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ، حَتَّى يُدْرِكَكَ المَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ» أَخْرَجَاهُ
وَزَادَ أَبُو دَاوُدَ: قُلْتُ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «ثُمَّ يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مَعَهُ نَهْرٌ وَنَارٌ، فَمَنْ وَقَعَ فِي نَارِهِ؛ وَجَبَ أَجْرُهُ، وَحُطَّ وِزْرُهُ، وَمَنْ وَقَعَ فِي نَهْرِهِ؛ وَجَبَ وِزْرُهُ، وَحُطَّ أَجْرُهُ»، قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «ثُمَّ هِيَ قِيَامُ السَّاعَةِ»

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman; Dahulu manusia mereka bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan dan aku bertanya kepada Beliau ﷺ tentang kejelekan karena aku takut kejelekan tersebut menemui diriku. Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ, wahai Rasulullah ﷺ dahulu kami berada di dalam jahiliyah dan juga kejelekan kemudian akhirnya Allāh ﷻ datang kepada kami dengan kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan lagi?,

Beliau ﷺ mengatakan iya ada kejelekan, apakah setelah kejelekan ini setelah fitnah ini akan ada kebaikan lagi? Beliau ﷺ mengatakan ya ada kebaikan lagi, tetapi di sana ada دَخَنٌ, ada kotorannya.

Hudzaifah bertanya lagi kepada Nabi ﷺ apakah kotoran tersebut yang menyelinap, menyelip di dalam kebaikan tadi?, Beliau ﷺ mengatakan yang menjadikan, yang mengotori kebaikan tadi adalah sebuah kaum yang mereka tidak melakukan sunnah Nabi ﷺ, mengambil petunjuk bukan dengan petunjuk Nabi ﷺ, mengamalkan bukan dengan amalan Nabi ﷺ dan mengambil petunjuk bukan dengan petunjuk Nabi ﷺ.

Engkau mengenal dari mereka dan engkau mengingkari. Setelahnya aku mengatakan apakah setelah kebaikan yang ada دَخَنٌ nya tadi kemudian datang lagi kejelekan? maka Nabi ﷺ mengatakan ya, fitnah yang buta, dan di sana ada dai-dai tapi ternyata mereka adalah دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ mereka berdiri di depan pintu-pintu tersebut dan ini adalah perumpamaan maksudnya mereka دُعَاةٌ mengajak manusia berada di atas jahanam barang siapa yang menjawab ajakan dari da’i-da’i tadi maka langsung oleh da’i tadi langsung dilemparkan ke dalam jahanam.

Maka Hudzaifah bertanya ya Rasulullah ﷺ sifatkan kepada kami orang-orang tersebut, maka Beliau ﷺ mengabarkan mereka adalah kaum dari جِلْدَة kita dan mereka berbicara dengan lisan kita, maka Hudzaifah bertanya ya Rasulullah ﷺ apa yang engkau perintahkan kepadaku ketika aku menemui zaman tersebut? Beliau ﷺ mengatakan kepada Hudzaifah kalau dalam keadaan demikian maka hendaklah engkau melazimi جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ jangan engkau tinggalkan jama’ahnya kaum muslimin dan hendaklah engkau melazimi imamnya kaum muslimin.

Maka Hudzaifah bertanya lagi bagaimana seandainya saat itu tidak ada jama’ah, tidak ada kaum muslimin, tidak ada orang-orang yang mendengar dan taat kepada imam dan tidak ada imamnya, maka Nabi ﷺ memberikan petunjuk yang lain. Nabi ﷺ mengatakan kamu tinggalkan firqoh-firqoh itu semuanya meskipun engkau harus menggigit akar pohon, yaitu pohon yang besar, sampai datang kepadamu kematian dan engkau dalam keadaan menggigit akar pohon tadi.

Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim dari Hudzaifah bin Al-Yaman.

Al-Imam Muslim ada ziyadah, bahwasanya Hudzaifah bertanya lagi; setelah itu apalagi ya Rasulullah ﷺ? Kemudian setelah itu, yaitu di akhir zaman, akan keluar fitnah yang paling besar di akhir zaman yaitu keluarnya dajjal, dia membawa sungai dan juga membawa api, barang siapa yang masuk kedalam apinya dajjal ini maka dia akan mendapatkan pahala dan akan dihilangkan darinya dosa dan barangsiapa yang lebih memilih masuk ke dalam sungai tadi maka dia berdosa dan akan dihilangkan pahalanya. Kemudian aku bertanya lagi kemudian setelah itu apa ya Rasulullah ﷺ, yang terjadi setelah itu adalah terjadinya قِيَامُ السَّاعَةِ

وَعَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الخَيْرِ

Dahulu manusia, maksudnya adalah para sahabat Nabi ﷺ, mereka bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan, tentang besarnya keutamaan amal, bagaimana cara melakukan amalan ini dan seterusnya, dan maksudnya di sini adalah aghlab, sebagian besar, ada juga di antara para sahabat selain Hudzaifah yang dia bertanya tentang الشَّرِّ, di sini Hudzaifah berbicara tentang aghlab yaitu kebanyakan manusia mereka bertanya tentang kebaikan

وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ

Dan aku bertanya kepada Beliau ﷺ tentang kejelekan, tentang fitnah yang terjadi, tentang kejelekan yang terjadi, dan maksudnya disini adalah aghlab juga, jadi sebagian besar pertanyaan Hudzaifah adalah tentang kejelekan bukan berarti beliau sama sekali tidak bertanya tentang kebaikan, disana ada beberapa riwayat, ada beberapa hadits, beliau juga bertanya tentang kebaikan, jadi baik yang pertama كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ atau yang kedua وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ maksudnya disini adalah sebagian besarnya, bukan berarti beliau sama sekali tidak bertanya tentang kebaikan dan bukan berarti para sahabat sama sekali tidak bertanya tentang kejelekan.

Kenapa beliau bertanya tentang kejelekan padahal kebanyakan para sahabat mereka bertanya tentang kebaikan, ini ada maksudnya, beliau mengatakan

مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

Karena aku takut kejelekan tersebut menemui diriku, artinya bertemu dengan kejelekan kalau dia tidak tahu dan tidak punya ilmu tentang kejelekan tadi maka dikhawatirkan dia terjerumus karena dia tidak mengetahui. Berbeda kalau sebelumnya dia sudah diberitahu tentang ilmu dan dikabarkan tentang kejelekan ini maka ketika datang biidznillah, kalau Allāh ﷻ memberikan taufik kepadanya dengan ilmu tadi dia akan selamat. Ini adalah kejelekan yang kemarin dikabarkan oleh Nabi ﷺ dan petunjuk Beliau ﷺ aku harus demikian dan yakin bahwasanya di dalam petunjuk Beliau ﷺ ada keselamatan di dunia dan juga di akhirat maka dia lakukan.

Inilah yang dimaksudkan oleh Hudzaifah ibnu yaman رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ dan ini menunjukkan tentang fiqihnya dan pemahaman beliau. Dan demikian seorang muslim di dalam kehidupan beragama dia mempelajari al-khair wa syarr, dia mempelajari kebaikan dan juga mempelajari kejelekan. Mempelajari apa itu amal saleh apa itu tauhid dan juga mempelajari tentang yang bertentangan dengan kebaikan tersebut, belajar tentang macam-macam syirik dan harus di atas ilmu diatas cahaya mengetahui tentang macam-macam syirik.

Kita harus mempelajari nawaqidhul Islam, sesuatu yang membatalkan keislaman kita, kita harus mempelajari sesuatu yang membatalkan

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Dikarang di sana Al-Bida’wan Nahyu ‘Anha, macam-macam bid’ah dan juga larangannya, di sana ada yang mengarang tentang Al-Kabair dosa-dosa besar dan tujuannya adalah supaya kita tidak melakukan atau terjerumus ke dalam kejelekan tadi maka harus seimbang. Orang yang hanya mempelajari kebaikan saja tapi dia tidak mempelajari kejelekan dikawatirkan, dan tidak bisa kita pastikan mungkin saja dia selamat, tapi dikhawatirkan ketika terjadi kejelekan dia tidak bisa membedakan antara kejelekan dengan kebaikan sehingga dengan mudah dia terjerumus ke dalam kejelekan.

Sehingga disebutkan oleh sebagian

عَرَفْتُ الشّرَّ لا لِلشّرِّ

Aku mengetahui kejelekan itu bukan untuk kejelekan tersebut maksudnya bukan untuk mengamalkan kejelekan tersebut

ولَكِنْ لِتَوَقّيهِ

Akan tetapi untuk menjaga diriku dari kejelekan tadi

ومَن لا يعرِفُ الشّرَّمنَ الناسِ يقعْ فيهِ

Barangsiapa yang tidak mengetahui yang jelek maka dia akan terjerumus ke dalam kejelekan tersebut, maksudnya adalah dikhawatirkan orang yang berjalan di sebuah jalan dan dia tidak mengetahui bahwasanya di situ ada lubang yang besar yang membahayakan dikawatirkan ketika orang berjalan di jalan tadi, dia akan terjerumus ke dalam lubang tadi. Tapi kalau orang yang bertanya dan diberitahu, pak kira-kira di jalan ini ada yang membahayakan tidak? Oh iya ada di sana dekat belokan misalnya, maka dia akan berhati-hati.

Inilah yang dimaksud oleh Hudzaifah. Kemudian pertanyaan beliau

فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ

Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ, wahai Rasulullah ﷺ

إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ

Wahai Rasulullah ﷺ, dahulu kami berada di dalam jahiliyah dan juga kejelekan.

Di alam jahiliyah, alam kebodohan, bodoh dengan sebodoh-bodohnya, menyembah selain Allāh ﷻ, berdusta atas nama Allāh ﷻ merubah millahnya Ibrahim, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allāh ﷻ atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allāh ﷻ, terjerumus ke dalam berbagai kemaksiatan, ini ada semuanya di zaman jahiliyah, riba, judi, khamr, zina.

Dalam keadaan kami جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ kami dalam keadaan bodoh dan dalam kejelekan, شَر di sini masuk di dalamnya kesyirikan, kebid’ahan, kemaksiatan terkumpul semuanya di dalam jahiliyah

فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الخَيْرِ

Kemudian akhirnya Allāh ﷻ datang kepada kami dengan kebaikan ini, yang dimaksud dengan خَيْر di sini adalah Al-Islam yang dengannya mereka keluar dari jahiliyah dengan segala jenisnya, maka tentunya adalah kenikmatan tersendiri bagi mereka, merasakan terang benderang di dalam hidupnya, ketenangan di dalam hidupnya, ketenangan yang tidak pernah mereka rasakan ketika mereka dahulu di masa jahiliyah.

Apakah setelah kebaikan ini wahai Rasulullah ﷺ

فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟

Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan lagi yaitu akan datang jahiliyah seperti dulu lagi atau tidak

قَالَ: نَعَمْ

Beliau ﷺ mengatakan iya, ada kejelekan. Kapan ini? ketika terjadinya fitnah, dibunuhnya Utsman رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.

Di masa Nabi ﷺ jelas ini adalah خَيْر, dimasa Abu Bakr kemudian di masa Umar bin Khattab kemudian di masa Utsman, dan setelah dibunuhnya Utsman رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ maka datanglah شَرّ datanglah kejelekan, قَالَ: نَعَمْ maka Nabi ﷺ mengatakan iya ada شَرّ, kelak ada fitnah nanti

قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ

Apakah setelah kejelekan ini, setelah fitnah ini akan ada kebaikan lagi? Beliau ﷺ mengatakan

قَالَ: نَعَمْ

Iya ada kebaikan lagi

وَفِيهِ دَخَنٌ

Tetapi di sana ada دَخَنٌ, jadi ada kotorannya tidak murni seperti ketika di zaman Nabi ﷺ, zaman Abu Bakr, zaman Umar itu masih dalam keadaan kebaikannya dalam keadaan murni, belum ada orang-orang yang membuat bid’ah di dalam agama setelah شَرّ tadi ada خَيْر tapi di dalamnya ada دَخَنٌ ada kotorannya. Mereka mengaku memeluk agama Islam tetapi bukan lagi murni seperti di zaman Rasulullah ﷺ, Abu Bakr dan Umar

قُلْتُ

Hudzaifah bertanya lagi kepada Nabi ﷺ

وَمَا دَخَنُهُ؟

Apakah kotoran tersebut yang menyelinap, menyelip di dalam kebaikan tadi

قَالَ: «قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي

Yang menjadikan دَخَنٌ, yang menjadikan kotor, yang mengotori kebaikan tadi adalah sebuah kaum yang mereka tidak melakukan sunnah Nabi ﷺ, mengamalkan tetapi bukan dengan sunnahnya Nabi ﷺ kalau bukan dengan dengan sunnahnya Nabi ﷺ berarti melakukan bid’ah. Inilah yang mengotori, inilah yang menyelinap di dalam kebaikan tadi, muslim tapi dia masih mencari jahiliyah padahal dia sudah muslim, ini disifati oleh Nabi ﷺ dengan دَخَن, inilah yang mengotori, inilah yang menjadikan kebaikan tadi menjadi terkena, terkontaminasi, terkotori, yaitu dengan sebab adanya kaum yang mereka mengamalkan bukan sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ

ويَهْتدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي

Kalau يَهْتدُونَ kurang lebih makna sama dengan () yaitu mengambil petunjuk bukan dengan petunjuk Nabi ﷺ, mengamalkan bukan dengan amalan Nabi ﷺ dan mengambil petunjuk bukan dengan petunjuk Nabi ﷺ tapi kalau يَهْدُونَ maksudnya adalah kalau dia menjadi orang yang memberikan petunjuk, berdakwah, mengajari orang, maka dia mengajari bukan dengan petunjuk Nabi ﷺ.
Jadi ketika dia mengamalkan, kaum ini ketika mengamalkan bukan dengan sunnah Nabi ﷺ, ketika dia mendakwahi bukan mendakwahi dengan petunjuk Nabi ﷺ tapi mengajak manusia kepada sesuatu yang baru.

Didalam shahih Bukhari قَوْمٌ يَهْدُونَ, didalam shahih Muslim juga demikian يَهْدُونَ, dan ada di sebagian lafadz يَهْتدُونَ, jadi dua-duanya ada dan maknanya kalau يَهْدُونَ berarti ketika dia berdakwah memberikan penerangan kepada orang lain, memberikan penerangan tapi bukan dengan petunjuk Rasulullah ﷺ artinya mengajak manusia, memberikan petunjuk kepada mereka dengan kebid’ahan bukan dengan petunjuk Nabi ﷺ

تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ

Engkau mengenal dari mereka dan engkau mengingkari, artinya ada amalan yang mereka lakukan ada yang ma’ruf, kalian mengenalnya karena ini sesuai dengan agama Islam, shalat mungkin, ketika bulan romadhon mereka berpuasa, mereka berhaji dan seterusnya

وَتُنْكِرُ

Tetapi ada amalan mereka yang mungkar. Ada yang ta’rif karena sesuai dengan Islam ada yang mungkar karena tidak sesuai dengan Islam tidak sesuai dengan contoh Nabi ﷺ.

Di sini menunjukkan bahwasanya bid’ah ini adalah perkara yang jelek, Nabi ﷺ mensifati bid’ah ini adalah dengan دَخَن, sesuatu yang mengotori, sesuatu yang kotor dan mengotori Islam dan dia adalah sesuatu yang mungkar, berarti mereka adalah muslim dan ini adalah خَيْر mereka menjadi seorang muslim dan ini adalah خَيْر tetapi sayang keislaman mereka, mereka kotori dengan bid’ah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 11 – Halaqah 85 | Pembahasan Dalil Kedelapan dan Kesembilan

Halaqah 85 | Pembahasan Dalil Kedelapan dan Kesembilan

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-85 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وَلَهُمَا: فِي حِدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ

Dan didalam shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah ibn Abbas

فَأَقُولُ كَمَا قَالَ العَبْدُ الصَّالِحُ

Maka aku akan mengatakan seperti yang dilakukan oleh hamba Allāh ﷻ yang sholeh maksudnya adalah Nabi ‘Isa. Apa yang dilakukan oleh Nabi Isa ketika dihari kiamat Beliau ditanya oleh Allāh ﷻ

ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ

[Al Ma”idah:116]

Ada manusia yang menyembah kepadamu, menjadikan kamu sebagai sesembahan selain Allāh ﷻ, apakah kamu dahulu mengatakan kepada orang-orang untuk menyembah dirimu dan juga ibumu maka diantara ucapan Beliau

قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ
مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ

[ المائدة:116-117]

Beliau tidak mengetahui, aku melihat mereka selama aku bersama mereka

فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي

Ketika Engkau sudah mematikan aku, maksudnya adalah menidurkan Beliau dan mengangkat Beliau keatas

كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ

Engkau-lah yang melihat keadaan mereka, ini yang diucapkan oleh Nabi Isa. Aku melihat ketika aku masih bersama mereka setelah aku tidak bersama mereka maka aku tidak melihat keadaan mereka, tidak tahu bahwasanya ternyata ada manusia yang menyembah Beliau. Ada yang menyembah Beliau, Beliau tidak tahu, yang Beliau tahu ketika Beliau bersama mereka yaitu belum ada orang yang menyembah kepada Beliau, maka Nabi Muhammad ﷺ mengingat ucapan Nabi Isa ini dan Beliau ﷺ mengatakan

فَأَقُولُ كَمَا قَالَ العَبْدُ الصَّالِحُ

Aku akan berucap seperti yang diucapkan oleh hamba yang sholeh, yaitu apa?

وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ

Aku melihat mereka menyaksikan mereka selama aku bersama mereka tapi setelah Beliau ﷺ meninggal dunia maka Beliau ﷺ tidak tahu apa yang terjadi, apa yang mereka ihdats setelah Beliau ﷺ meninggal dunia, ternyata ada yang membuat bid’ah didalam agama ternyata ada yang melakukan pemurtadan, ini haditsnya

وَإِنَّ أُنَاسًا مِنْ أَصْحَابِي يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ

Ada sebagian orang diantara sahabatku ternyata mereka masuk di dalam ذَاتَ الشِّمَالِ maksudnya adalah dimasukkan ke dalam Jahannam

فَأَقُولُ أَصْحَابِي أَصْحَابِي

Beliau ﷺ mengatakan sahabatku-sahabatku

فَيَقُولُ إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ

Mereka senantiasa murtad setelah engkau berpisah dengan mereka, yaitu setelah meninggal Nabi ﷺ disana ada orang-orang yang murtad

فَأَقُولُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ

maka saat itu Beliau ﷺ akan mengucapkan seperti yang diucapkan oleh hamba yang sholeh

وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي إِلَى قَوْلِهِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ini menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ berlepas diri dari orang-orang yang murtad setelah Nabi ﷺ atau merubah agamanya setelah Nabi ﷺ dan ini menunjukkan tentang bahaya meninggalkan Islam dan sebab meninggalkan Islam diantaranya adalah karena sering melakukan bid’ah, sebab meninggalkan Islam dan Nabi ﷺ berlepas diri dari mereka, -orang-orang yang murtad dari agama Islam- maka Beliau ﷺ berlepas diri dari mereka, di antara sebab murtad adalah karena melakukan bid’ah di dalam agama, karena terus melakukan bid’ah akhirnya lama kelamaan setan menghiasi-hiasi bid’ah tersebut dan membisiki bahwasanya tidak perlu dengan islam lagi tidak perlu dengan sunnah lagi dan akhirnya keluar dari agama Islam.

Kemudia setelah itu beliau mengatakan

وَلَهُمَا: عَنْهُ مَرْفُوعًا

dan bagi keduanya maksudnya adalah Bukhori dan juga Muslim, diangkat sampai Nabi ﷺ

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ

Tidak ada seorang anak yang dilahirkan kecuali di atas fitrah, dan yang dimaksud dengan fitrah di sini adalah Al-Islam. Anak yang dilahirkan oleh ibunya maka pertama dia dilahirkan dalam keadaan fitrah yaitu dalam keadaan Islam, seandainya dia tumbuh dan berkembang bersih tidak ada pengaruh dari luar, tidak ada pengaruh dari orang tua, tidak ada pengaruh dari setan maka akan tumbuh di atas fitrah, maka dia akan menjadi seorang muslim.

Namun apakah demikian, tidak, ternyata di sana ada pengaruh-pengaruh dari luar sehingga fitrah tersebut terkadang berubah, terkadang berasal dari orang tua, terkadang dari setan. Adapun dari orang tua maka disebutkan dalam hadits ini

فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ

Maka kedua orang tuanya menjadikan dia Yahudi

أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

Atau menjadikan dia Nasrani

أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Atau menjadikan dia majusi.

Penyebutan menjadikan yahudi, menjadikan nasrani, menjadikan majusi menunjukkan bahwasanya yang dimaksud dengan fitrah tadi adalah Islam, buktinya apa, karena setelahnya disebutkan hal-hal yang bertentangan dengan Islam dan ini menunjukkan bahwasanya Yahudiyyah, Nasraniyyah dan juga Majusiyyah ini bertentangan dengan Islam.

Sebagaimana sudah berlalu, meskipun orang Yahudi menyandarkan mereka kepada seorang Nabi ﷺ, orang Nasrani juga demikian namun setelah kedatangan Nabi ﷺ kalau mereka tidak mengikuti Nabi ﷺ maka mereka telah keluar dari Islam dan agama mereka adalah agama yang bathil.

Dan sudah disebutkan bahwasanya agama yang bathil terbagi menjadi dua, pertama adalah agama yang memang ajarannya bertentangan dengan agama Islam seperti majusiyyah, watsaniyyah, dan ada diantaranya agama yang dia asalnya adalah agama para Nabi dan juga para Rasul, mereka mengikuti kitab mengikuti Nabi cuma menjadi bathil setelah kedatangan Rasulullah ﷺ. Karena setelah kedatangan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ tidak boleh bagi seseorang yang telah mendengar kedatangan Beliau ﷺ kecuali mengikuti Beliau ﷺ.

كَمَا تُنْتَجُ البَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ

Sebagaimana seekor binatang ternak dia melahirkan, memproduksi binatang ternak yang sempurna. Unta atau sapi atau kambing misalnya, ketika dia melahirkan maka dia mengeluarkan anak yang sempurna tidak ada kekurangan, جَمْعَاءَ berasal dari kata جَمْع maksudnya menyeluruh, sempurna, tidak ada yang terpotong, kakinya sempurna, telinganya sempurna, matanya sempurna dan seterusnya.

Disini Beliau ﷺ karena berbicara dengan orang-orang Arab yang mereka mengenal hewan-hewan ternak tersebut ingin memudahkan pemahaman bagi mereka dan sekali lagi menggunakan perumpamaan ini di gunakan oleh Nabi ﷺ dengan tujuan untuk memudahkan memahami apa yang Beliau ﷺ sampaikan, tidak masalah demikian dan ini adalah termasuk uslub didalam berdakwah namun yang perlu diperhatikan jangan sampai kita membuat permisalan yang bertentangan dengan syariat.

هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

Apakah kalian merasakan didalam anak hewan ternak tadi مِنْ جَدْعَاءَ ada sesuatu yang terpotong atau apakah telinganya terpotong, karena kebiasaan mereka menandai dengan memotong sebagian anggota badan hewan ternak tersebut. Sebelum dipotong apakah kalian melihat di dalam anak hewan ternak tersebut cacat atau terpotong telinganya misalnya, di sini Beliau ﷺ ingin memudahkan pemahaman bagi mereka bahwasanya asalnya seorang anak manusia dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan dia di atas Islam menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ dan ini menunjukkan tentang keutamaan Islam

حَتَّى تَكُونُوا أَنْتُمْ تَجْدَعُونَهَا؟

Sehingga kalianlah yang akhirnya menjadikan dia terpotong, asalnya dalam keadaan sempurna kemudian kalian yang memotongnya.
Demikian pula manusia yang dilahirkan oleh ibunya maka dia dalam keadaan fitrah di atas Islam dan kemudian yang merubah adalah orang itu sendiri atau dari orang tuanya atau dari syaithan sehingga berubah dari awalnya adalah Islam menundukan diri kepada Allāh ﷻ akhirnya dia menjadi orang yang membangkang, membangkangnya sampai keluar dari hakikat atau dari pondasi Islam menjadi orang yang kafir atau membangkangnya adalah dengan cara melakukan bid’ah atau melakukan dosa besar karena ini semua tentunya bertentangan dengan Islam.

ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ

Kemudian Abu Hurairah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ membaca firman Allāh ﷻ

فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

﴾ [الروم: 30]

Ini adalah fitrah Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ fitrahkan manusia di atasnya. Hadits ini muttafaqun ‘alaih diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Maka beliau mendatangkan hadits ini untuk menunjukkan kepada kita bahwasanya Islam ini adalah fitrah manusia dan bahwasanya bid’ah, kesirikan maka ini adalah sesuatu yang menyelisihi fitrah. Kalau ini adalah fitrah yang sudah Allāh ﷻ fitrahkan di atasnya manusia maka hendaklah kita menjaga fitrah ini dan istiqomah di atas fitrah ini, tidak keluar dari fitrah ini baik dalam artian keluar dari agama Islam atau dalam artian membuat perkara yang baru di dalam agama karena membuat perkara yang baru di dalam agama ini juga termasuk sesuatu yang bertentangan dengan Islam, bertentangan dengan penyerahan diri maka tentunya ini adalah dorongan dan perintah bagi kita semua untuk Istiqomah di atas Islam yaitu Istiqomah di atas fitrah

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 11 – Halaqah 84 | Pembahasan Dalil Ketujuh Hadits Dari Abu Hurairah

Halaqah 84 | Pembahasan Dalil Ketujuh Hadits Dari Abu Hurairah

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-84 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.
Beliau mengatakan

وَلَهُمَا: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا

Beliau mengatakan وَلَهُمَا berarti diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim

Beliau ﷺ mengatakan aku berkeinginan untuk melihat saudara-saudara kami, atau kami berkeinginan, seandainya kita, Beliau ﷺ dan juga para sahabat, itu melihat saudara-saudara mereka

قَالُوا: أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ، يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

Mereka mengatakan, bukankah kami adalah إِخْوَانَكَ، يَا رَسُولَ اللَّهِ؟, kami adalah saudara-saudaramu ya Rasulullah, yaitu saudara-saudara didalam Islam. Ini yang dipahami oleh para sahabat saat itu

قَالَ: «أَنْتُمْ أَصْحَابِي

Maka Beliau ﷺ mengatakan bahwasanya maksud إِخْوَان disini bukan إِخْوَان yang umum sebagaimana dalam firman Allāh ﷻ (Al-Hujurat ayat 10) tapi إِخْوَان yang Beliau ﷺ maksud saudara-saudara se-islam yang belum datang, adapun yang sudah bersama Beliau ﷺ maka dinamakan dengan أَصْحَاب yaitu lebih khusus lagi, bukan hanya إِخْوَان tapi أَصْحَاب, صَاحِب lebih dekat lagi

قَالَ: «أَنْتُمْ أَصْحَابِي

Kalian adalah para sahabatku, karena kalian bertemu, beriman, dan meninggal dalam keadaan iman, kalian adalah para sahabat

وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ»

Adapun إِخْوَانا yang aku berkeinginan untuk melihat mereka saja, maka mereka adalah orang-orang yang belum datang setelahku, yaitu yang belum datang saat Beliau ﷺ mengucapkan ucapan ini maka mereka yang dimaksud dengan إِخْوَان yang Nabi ﷺ berkeinginan untuk melihat mereka.

Dan ini menunjukkan tentang bagaimana rohmannya dan sayangnya Nabi ﷺ kepada umat Beliau ﷺ secara umum. Sampai ketika Beliau ﷺ saat itu belum melihat orang-orang Islam yang datang setelah Beliau ﷺ, ada di dalam hati Beliau ﷺ keinginan untuk hanya sekedar melihat mereka saja, ingin melihat orang-orang Islam yang datang setelah Beliau ﷺ, ini menunjukkan tentang kecintaan Beliau ﷺ kepada umatnya dan rahmat (kasih sayang) Beliau ﷺ kepada umatnya sampai Beliau ﷺ berkeinginan untuk melihat saja melihat umat yang datang setelah Beliau ﷺ.

فَقَالُوا: كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ؟

Mereka mengatakan bagaimana engkau mengenal orang yang belum datang diantara umatmu, bagaimana aku bisa mengenal mereka

قَالَ: «أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ، أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ؟

Bagaimana pendapat kalian seandainya ada seseorang dia memiliki satu kuda, kuda tersebut ada warna putih di dahinya kemudian warna putih di tangannya dan juga kakinya

بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ

Dia berada di tengah-tengah kuda-kuda yang دُهْمٍ بُهْم, yang mereka adalah kuda-kuda yang sangat hitam, semuanya hitam, di tengah-tengah kuda-kuda yang semuanya berwarna hitam, دُهْمٍ artinya adalah hitam, بُهْم maksudnya adalah polos hitamnya tidak ada coret-coretnya atau ada putihnya atau belang-belangnya tidak, polos hitam itu namanya بُهْم. Berarti dia adalah kuda-kuda yang semuanya berwarna hitam dari awal sampai akhir semuanya berwarna hitam kecuali satu saja ada kuda yang kepalanya dahinya putih dan kaki dan tangannya putih

أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ؟

Apakah laki-laki ini mengenal kuda yang غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ tadi?

قَالُوا: بَلَى

Mereka mengatakan iya.

فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الوُضُوءِ،

Setelah Beliau ﷺ membuat permisalan ini, dan boleh seseorang membuat permisalan kalau memang tidak bertentangan dengan dalil.

Karena manusia di sini ada dua jenis, ada sebagian mereka membuat perumpamaan-perumpamaan, cantolan-cantolan tapi kalau dilihat ternyata cantolan tadi tidak sesuai dengan dalil, ini bahaya, bahaya dengan sebagian yang memperbanyak permisalan- permisalan tadi karena orang awam ketika mereka mendengar dan mereka tidak tahu tentang dalil, ketika membuat permisalan dan perumpamaan tadi masuk ke akal mereka menganggap ini sesuatu yang pasti, sesuatu yang hak, sehingga dengan mudah mereka mengikuti perumpamaan-perumpamaan tadi.

Seperti misalnya orang yang mengumpamakan bahwasanya kita memiliki tujuan yang sama yaitu ingin baik, ingin masuk ke dalam surga. Ini perumpamaannya seperti orang yang mau ke Jakarta, terserah dia mau melewati tol yang mana semuanya meskipun tolnya berbeda akan menuju ke kota yang sama yaitu Jakarta. Kemudian mengatakan ana ikut aliran ini antum ikut aliran tersebut, yang penting kita Istiqomah tidak keluar dari jalan tol tadi kita akan sampai sama-sama ke Jakarta, oh iya ya benar berarti. Ini hati-hati dengan cantolan-cantolan seperti ini, dilihat dalilnya dulu kalau sesuai dengan dalil silahkan dipake kalau tidak sesuai dengan dalil berarti ini adalah perumpamaan yang salah.

Karena Allāh ﷻ menyebutkan dalam banyak dalil bahwasanya jalan menuju Allāh ﷻ itu hanya satu bukan berbilang, jadi mengumpamakan jalan menuju Allāh ﷻ dengan jalan jalan menuju Jakarta tadi ini adalah permisalan yang salah dan banyak aliran-aliran yang membuat perumpamaan-perumpamaan seperti ini dan banyak yang tertipu, maka kita harus kritis melihat apakah perumpamaan ini sesuai dengan dalil atau tidak.

Nabi ﷺ membuat permisalan dan ini adalah untuk memudahkan pemahaman

فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الوُضُوءِ،

Mereka akan datang dalam keadaan غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الوُضُوءِ, dalam keadaan kepalanya putih, tangan dan juga kakinya berwarna putih dengan sebab berwudhu.

وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الحَوْضِ،

Dan aku akan mendahului mereka diatas telaga

أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي

Ketahuilah bahwasanya akan diusir beberapa orang di hari kiamat dari telagaku

كَمَا يُذَادُ البَعِيرُ الضَّالُّ

sebagaimana akan diusir seekor unta yang tersesat.

Maksudnya orang-orang Arab mereka punya unta misalnya, biasanya mereka masing-masing pengembala itu punya telaga atau tempat air yang dikhususkan untuk onta-ontanya, kalau misalnya di sana ada onta selain ontanya datang maka akan diusir, tidak boleh, akan diusir onta tersebut dari telaga yang dikhususkan untuk onta-ontanya

أُنَادِيهِمْ: أَلَا هَلُمَّ!

Beliau ﷺ akan memanggil mereka, kenapa kalian tidak kesini

فَيُقَالُ:

Dikatakan kepada Nabi ﷺ

إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ

Sesungguhnya mereka telah mengganti setelahmu

Ketika engkau ada mereka biasa-biasa saja, mengikut, tapi setelah engkau tidak ada maka mereka بَدَّلُوا, maksudnya adalah merubah agama ini, merubah sunnah Nabi ﷺ yang sudah Beliau ﷺ sampaikan kepada umat.

Tentunya ini adalah perkara yang besar, sekali lagi Beliau ﷺ sudah sampaikan dengan pengorbanan yang sangat luar biasa ternyata ada sebagian orang yang kemudian dengan mudah dia mengganti apa yang sudah disampaikan oleh Nabi ﷺ, membuat sesuatu yang baru

فَأَقُولُ: سُحْقًا! سُحْقًا

Ketika Beliau ﷺ mendengar kenapa orang-orang tersebut diusir dari telaga Beliau ﷺ maka Beliau ﷺ mengatakan سُحْقًا! سُحْقًا, celaka-celaka yaitu bagi orang yang mengganti agama Nabi ﷺ

سُحْقًا! سُحْقًا

Maksudnya adalah jauh-jauh, pergi-pergilah, menjauhlah, kalau memang mereka mengganti dan membuat bid’ah didalam agama maka menjauhlah, jangan minum dari telaga Nabi ﷺ. Tentunya ini adalah sekali lagi kehinaan dan ini adalah siksaan bagi mereka

Dan sebagaimana hadits yang pertama ini menunjukkan tentang pentingnya istiqomah di atas islam diatas sunnah, dan diharamkannya seseorang berbuat bid’ah dan bid’ah ini adalah bagian dari ketidaksempurnaan Islam seseorang

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah

وَلِلْبُخَارِيِّ: «بَيْنَا أَنَا قَائِمٌ إِذَا زُمْرَةٌ، حَتَّى إِذَا عَرَفْتُهُمْ

Ketika aku dalam keadaan berdiri, kalau didalam haditsnya naa’imun, disini didalam syarhnya qoimun, shahih. Qoimun maksudnya adalah al-haudh

بَيْنَا أَنَا قَائِمٌ

Ketika aku dalam keadaan berdiri, maksudnya berdiri di telaganya, maksudnya dalam keadaan berdiri di telaganya melayani umat Beliau ﷺ

إِذَا زُمْرَةٌ

Tiba-tiba ada zumroh, satu kelompok manusia,

حَتَّى إِذَا عَرَفْتُهُمْ

Sehingga ketika aku mengenal mereka dan mereka pun mengenalku artinya mereka adalah umat Nabi ﷺ. Beliau ﷺ mengenal mereka dari sebab bekas wudhu mereka dan mereka pun mengenal Nabi ﷺ

خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِي وَبَيْنِهِمْ،

Tiba-tiba ada رَجُلٌ, ada yang mengatakan رَجُلٌ disini hakikatnya adalah seseorang malaikat

بَيْنِي وَبَيْنِهِمْ

Yang dia berada antara diriku dengan zumroh tadi, muncul seseorang yang ada di antara diriku dengan mereka

فَقَالَ: هَلُمَّ،

Maka dia mengatakan هَلُمَّ, Ayo

فَقُلْتُ: أَيْنَ؟

Nabi ﷺ mengatakan kepada orang ini mau diajak ke mana mereka, kenapa laki-laki ini mengatakan kepada mereka yaitu zumroh tadi, yang mereka mengenal Nabi ﷺ dan Nabi ﷺ pun mengenal mereka, laki-laki ini mengatakan kepada zumroh tadi هَلُم (ayo) padahal inikan di dekat siapa? Didekat Nabi ﷺ di dekat telaga Beliau ﷺ. Ini mau diajak ke mana kenapa nggak disuruh mampir dan minum ke telaganya Nabi ﷺ bahkan dia mengatakan ayo, maka Nabi ﷺ mengatakan ilaina mau diajak kemana

قَالَ: إِلَى النَّارِ وَاللَّهِ،

Dia mengatakan, mereka mau diajak ke neraka demi Allāh ﷻ

قُلْتُ: مَا شَأْنُهُمْ؟

Nabi ﷺ mengatakan kenapa demikian, apa dosa mereka

قَالَ: إِنَّهُمُ ارْتَدُّوا بَعْدَكَ عَلَى أَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى

Kemudian dia mengatakan sesungguhnya mereka ini murtad setelah dirimu atau bisa diartikan kembali ke belakang setelah dirimu

ثُمَّ إِذَا زُمْرَةٌ،

Kemudian ada kelompok yang lain

حَتَّى إِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِي وَبَيْنِهِمْ، فَقَالَ: هَلُمَّ، فَقُلْتُ: أَيْنَ؟

Datang kelompok lain lagi kemudian muncul laki-laki lagi dan mengatakan ucapan yang sama dan Nabi ﷺ juga mengucapkan ucapan yang sama

قَالَ: إِنَّهُمُ ارْتَدُّوا بَعْدَكَ عَلَى أَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى

Berarti dua kali disebutkan kejadiannya di sini

فَذَكَرَ مِثْلَهُ

Kemudian disebutkan semisalnya

قَالَ:

maka Nabi ﷺ mengatakan

فَلاَ أُرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ إِلَّا مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ»

Kemudian Beliau ﷺ mengatakan, maka aku tidak melihat, bisa dibaca فَلاَ أرَاهُ atau فَلاَ أُرَاهُ kalau أُرَاهُ berarti maka aku tidak berpandangan atau berpendapat, menyangka, bahwasanya tidak selamat diantara mereka kecuali هَمَلِ النَّعَمِ, kecuali seperti ternak yang tersia-sia. هَمَلِ maksudnya adalah mu’mal yaitu tersia-sia. النَّعَمِ artinya adalah ternak seperti unta dan lain-lain, sebagian mengatakan مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ maksudnya adalah sedikit sekali. Beliau ﷺ mengabarkan bahwasanya tidak selamat di antara mereka dari neraka kecuali sangat sedikit, jadi dari zumroh-zumroh tadi yang selamat dari neraka itu hanya sedikit.

فَلاَ أُرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ إِلَّا مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ»

Aku menganggap, memandang, bahwasanya tidak selamat di antara mereka dari neraka kecuali seperti ternak yang tersia-siakan, dan ternak yang tersia-sia ini sedikit dibandingkan ternak yang terlihat.

Allāhu a’lam bahwasanya disini orang-orang yang bid’ah tadi, yang mereka melakukan sesuatu yang baru setelah Nabi ﷺ, tentunya mereka masuk di dalam hadits ini sebagaimana hadits-hadits yang sebelumnya, bahwasanya yang selamat dari neraka di antara mereka ini sedikit, kebanyakan masuk kedalam neraka dan ini kembali seperti yang sudah pernah kita jelaskan bahwasanya orang yang mengikuti aliran-aliran itu mereka tahta masyiatillah, kalau Allāh ﷻ menghendaki maka Allāh ﷻ akan siksa dengan sebab bid’ah yang mereka lakukan, kalau Allāh ﷻ menghendaki maka Allāh ﷻ ampuni bid’ah tadi dan disini Nabi ﷺ mengatakan

فَلاَ أُرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ إِلَّا مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ»

Tidak selamat kecuali sedikit, berarti banyak diantara mereka yang masuk ke dalam neraka tapi ada diantara mereka yang Allāh ﷻ menghendaki untuk diampuni.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 11 – Halaqah 83 | Pembahasan Dalil Kelima dan Keenam

Halaqah 83 | Pembahasan Dalil Kelima dan Keenam

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-83 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

Beliau mengatakan Rasulullah ﷺ bersabda sesungguhnya Allāh ﷻ tidak melihat kepada jasad-jasad kalian, gemuk kurus tinggi pendek tampan jelek, Allāh ﷻ tidak melihat jasad-jasad kalian. Itu Allāh ﷻ yang menciptakan, menjadikan yang satu tinggi yang satunya pendek yang satunya hitam satunya putih, Allāh ﷻ menciptakan itu semua, Allāh ﷻ tidak melihat yang demikian.

وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ

Dan Allāh ﷻ juga tidak melihat kepada harta kalian, yang kaya yang miskin yang sedang, derajat di sisi Allāh ﷻ bukan pada kekayaan dan bukan pada jasad seseorang. Oleh karena itu jangan kita himmah kepada besarnya jasad atau banyaknya harta, Allāh ﷻ tidak melihat yang demikian. Apa yang Allāh ﷻ lihat

وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Akan tetapi Allāh ﷻ melihat kepada hati-hati kalian kepada qolbu-qolbu kalian dan juga melihat pada amalan-amalan kalian. Allāh ﷻ melihat pada qolbu-qolbu kalian, bagaimana dengan keikhlasannya, keimanannya, rasa takutnya, rasa mahabbahnya, mengharapnya kepada Allāh ﷻ, tawakkalnya kepada Allāh ﷻ, kebersihan hatinya dari riya, zuhudnya, maka Allāh ﷻ melihat pada hati-hati tersebut.

Kalau Allāh ﷻ melihat pada hati kita maka hendaklah kita memperhatikan hati kita tersebut, malu apabila hati tersebut dalam keadaan kotor dengan riya, sum’ah, syahwat yang muharromah, maka hendaklah seseorang jangan memperhatikan jasadnya, hartanya dan berlebihan didalam masalah jasad dan juga harta kemudian dia menyepelekan masalah hatinya. Hendaklah dia memperhatikan hatinya karena sadar bahwasanya Allāh ﷻ melihat kepada hatinya. Ketika seseorang tidak merasa dilihat oleh Allāh ﷻ hatinya sehingga dia biarkan hatinya dalam keadaan kotor, tidak menjaganya dari kemaksiatan dan seandainya dia kotor tidak dia bersihkan dengan istighfar dan dengan bertaubat kepada Allāh ﷻ.

Itu yang dilihat oleh Allāh ﷻ yang pertama, kalau itu dilihat maka kita perhatikan bagaimana seseorang ketika dia merasa mobilnya dilihat oleh orang lain ya dia berusaha untuk senantiasa bersih, seandainya tergores pagi hari sorenya sudah mulus karena dia merasa banyak orang yang melihat pada mobilnya misalnya akhirnya dia perhatian. Kalau kita merasa hati kita dilihat oleh Allāh ﷻ maka hendaklah kita perhatian ekstra terhadap hati kita, jangan di kotori dan merasa malu kalau sampai mengotori hatinya, kalau sampai kotor maka segera di bersihkan dengan istighfar taubat dan amal yang sholeh.

Disamping hati maka yang dilihat oleh Allāh ﷻ adalah أَعْمَالِكُمْ amalan kalian. Allāh ﷻ tidak melihat jasad kalian dan harta kalian tapi Allāh ﷻ melihat pada amalan kalian, dilihat amalan kalian apakah amalan kalian sesuai dengan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ atau tidak karena amalan yang diridhoi oleh Allāh ﷻ, yang diterima oleh Allāh ﷻ adalah amalan yang sesuai dengan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan tidak ada di atasnya agama kami maka amalan tersebut tertolak.

Allāh ﷻ amalan ini sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ atau tidak, sesuai dengan islam atau tidak atau dia masih mengikuti hawa nafsunya kemudian mengamalkan amalan-amalan yang bid’ah. Ketika seseorang hamba menyadari bahwasanya Allāh ﷻ melihat pada amalannya maka dia berusaha untuk melaksanakan amalan tersebut sesuai dengan Islam dan istiqomah terus di atas amalan yang sesuai dengan Islam. Istiqomah karena Allāh ﷻ melihat terus jadi bukan hanya pada amalan ini Allāh ﷻ melihat tapi juga amalan yang seterusnya dan seterusnya sampai dia meninggal dunia.

Berarti sabda Nabi ﷺ

وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

di dalamnya ada dorongan bagi kita untuk beramal sesuai dengan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ dan istiqomah di atas Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ dan makna Istiqomah di atas Islam diantaranya adalah mengamalkan amalan sesuai dengan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ ini adalah bagian dari Islam, menyerahkan diri kepada Allah.

Kemudian beliau mendatangkan sabda Nabi ﷺ

وَلَهُم عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ «أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ، حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ اخْتُلِجُوا دُونِي، فَأَقُولُ: أَيْ رَبِّ! أَصْحَابِي، يَقُولُ: لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Dan didalam hadits Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin mas’ud beliau mengatakan Rasulullah ﷺ bersabda aku akan mendahului kalian di atas telaga, maksudnya adalah telaga Beliau ﷺ, aku akan mendahului kalian di atas telaga tersebut, akan diangkat kepadaku, diangkat kepadaku seakan-akan mau didatangkan kepada Nabi ﷺ beberapa orang dari ummatku ketika aku mengambil air untuk memberikan gelas tadi kepada orang-orang tadi, tiba-tiba mereka dihalangi dariku maka Beliau ﷺ mengatakan wahai Robb mereka ini adalah para sahabat, dikatakan kepada Beliau ﷺ sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka setelahmu.

وَلَهُم عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ

Dan didalam shahih Bukhori dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, beliau mengatakan Rasulullah ﷺ bersabda

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ

Aku akan mendahului kalian di atas telaga, maksudnya adalah telaga Beliau ﷺ, faroth artinya adalah mutaqoddim, Beliau ﷺ akan mendahului kita sampai ke telaga Beliau ﷺ, menunjukkan bahwasanya diantara iman dengan hari akhir adalah beriman bahwasanya Nabi ﷺ memiliki حَوْض dan bahwasanya Beliau ﷺ akan mendahului kita Beliau ﷺ akan kesana dan melayani.

Ketika manusia termasuk di antaranya kaum muslimin dalam keadaan mereka kehausan berada di padang mahsyar, panas dan waktu yang sangat panjang kemudian mereka mendapatkan kenikmatan meminum air yang sangat lezat disebutkan dalam hadits

أبرد من الثلج dia lebih dingin daripada es, semakin dingin semakin nikmat. Dan dia lebih manis daripada madu, أحلى من العسل, dan ini adalah kenikmatan tersendiri, kemudian dia lebih putih daripada susu, kemudian disebutkan didalam hadits barang siapa yang meminum darinya maka dia tidak akan haus selama-lamanya. Ditambah lagi kenikmatan siapa yang melayani, Rasulullah ﷺ.

Dan disebutkan didalam hadits bahwasanya disana nanti akan disediakan gelas, teko, كنجوم السماء yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dia adalah seperti bintang yang ada di langit. ‘Seperti’ di sini disamakan diserupakan dari dua sisi, sisi yang pertama dari sisi indahnya, jadi gelas yang dipakai teko yang dipakai adalah gelas-gelas yang indah dan ini kenikmatan sendiri ketika meminum dari gelasnya dan gelas yang mengkilap yang indah, kemudian yang kedua dilihat dari sisi banyaknya kita itu bahwasanya umat Islam ini adalah umat yang banyak meskipun dia umat yang banyak jangan khawatir kita tidak akan antri ketika meminum telaganya Nabi ﷺ, Allāh ﷻ telah menyediakan teko yang banyak dan gelas-gelas yang banyak.

Sehingga antum datang langsung, bukan menunggu dalam keadaan menahan hausnya, tidak, langsung disitu dan yang melayani adalah Nabi ﷺ ditambah lagi kenikmatan yang lain telaga ini adalah telaga yang sangat luas, panjangnya satu bulan perjalanan dan lebarnya juga satu bulan perjalanan dan ini adalah nikmat tersendiri. Berbeda kalau telaganya cuma sedikit sementara yang datang orang banyak, antum ketakutan kehabisan sebelum antum meminum telaga tadi, tapi ini telaga yang sangat luas dengan sifat air yang tadi kita sebutkan.

Aku akan mendahului kalian di atas telaga tersebut

لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ

Akan diangkat kepadaku (seakan-akan mau didatangkan kepada Nabi ﷺ) beberapa orang dari umatku, dari mana Beliau ﷺ mengetahui itu adalah umat Beliau ﷺ, dari bekas wudhu, dilihat dari jauh orang-orang ini adalah putih wajahnya tangannya artinya dia berwudhu di dunia makanya Beliau ﷺ mengatakan min ummati, mereka dari ummatku, dari sekian banyak manusia Beliau ﷺ mengetahui ciri-ciri ummat Beliau ﷺ dari bekas wudhunya

حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ

Ketika aku mengambil air untuk memberikan gelas tadi kepada orang-orang tadi, Beliau ﷺ melayani umatnya dan ini adalah kenikmatan tersendiri dilayani oleh Nabi Muhammad ﷺ, senang Beliau ﷺ melihat mereka yaitu ummatnya datang, memberikan air kepada mereka menghapuskan dahaga dan haus mereka.

اخْتُلِجُوا دُونِي

Tiba-tiba mereka dihalangi dariku, sudah mau dikasihkan air tersebut kepada mereka tiba-tiba dihalangi dari Beliau ﷺ dijauhkan dari Beliau ﷺ, bagaimana perasaan Nabi ﷺ yang sangat sayang kepada umatnya ingin memberikan faedah ingin memberikan air yang ada didalam telaga Beliau ﷺ yang Allāh ﷻ berikan kepada Beliau ﷺ

فَأَقُولُ: أَيْ رَبِّ! أَصْحَابِي

Maka Beliau ﷺ mengatakan wahai Robb mereka ini adalah para sahabat, orang Islam yang Beliau ﷺ mengenalnya dari tanda-tanda yang ada di dalam jasad mereka

يَقُولُ: لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Dikatakan kepada Beliau ﷺ sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka setelahmu
Yang diucapkan kepada Beliau ﷺ

لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

didalamnya ada beberapa faedah. Yang pertama menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ tidak mengetahui ilmu yang ghoib dan Beliau ﷺ tidak tahu apa yang terjadi setelah kematian Beliau ﷺ karena disebutkan disini لاَ تَدْرِي engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan setelahmu, yaitu setelah engkau meninggal dunia apa yang mereka lakukan berupa kebaikan berupa kejelekan engkau tidak tahu,

kalau Nabi ﷺ tidak mengetahui lalu bagaimana diyakini bahwasanya orang yang meninggal dunia ini tahu yang dilakukan oleh keluarganya tahu apa yang dilakukan oleh istrinya dan seterusnya, tidak ada yang tahu. Nabi ﷺ sendiri Beliau ﷺ tidak tahu apa yang terjadi setelah Beliau ﷺ meninggal dunia.

مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Apa yang mereka perbuat, yang mereka ada-adakan setelah dirimu

Kalimat أَحْدَثُوا bisa merupakan kalimat yang umum, masuk di dalamnya murtad sebelumnya Islam kemudian dia murtad dari agamanya dan Nabi ﷺ ketika Beliau ﷺ meninggal dunia tahunya ini sahabatnya setelah itu murtad dan kalau murtad itu Beliau ﷺ tidak tahu cuma pas meninggal dunia tahunya dia adalah seorang shahabat, pernah bertemu dengan Beliau ﷺ mengaku beriman setelah Beliau ﷺ meninggal dunia dia murtad dan ada yang murtad setelah meninggalnya Nabi ﷺ dan dia murtad ini bukan dinamakan dengan shahabat, yang diakhiri hidupnya dengan riddah keluar dari agama Islam maka ini tidak dinamakan dengan shahabat

karena pengertian shahabat

مَنْ لَقِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْلِماً ثُمَّ مَاتَ عَلَى الإِسْلاَمِ

Orang yang bertemu dengan Nabi ﷺ dalam keadaan dia beriman kemudian meninggal dalam keadaan Islam, dalam keadaan Iman. Kalau dia meninggal dalam keadaan murtad tidak dinamakan dengan shahabat.
Termasuk didalam kalimat أَحْدَثُوا disini orang yang melakukan bid’ah di dalam agama karena bid’ah ini adalah مُحْدَث

وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

Berarti masuk didalamnya مُحْدَث adalah membuat bid’ah didalam agama sehingga banyak ulama menyebutkan bahwasanya orang-orang khowarij dan orang-orang ahlul bid’ah mereka masuk di dalam hadits ini termasuk orang-orang yang tidak bisa atau tidak meminum telaganya Nabi ﷺ dengan sebab mereka membuat bid’ah didalam agama.

Bagaimana Nabi ﷺ mendakwahkan islam dengan pengorbanan yang luar biasa menyampaikan risalah Allāh ﷻ, ini tata cara ibadah ini akidah ini akhlak kemudian ada sebagian orang yang datang meremehkan sunnah Beliau ﷺ memilih bid’ah daripada sunnah Nabi ﷺ, ini tidak pantas untuk minum telaganya Nabi ﷺ.

Banyak para ulama yang ketika menjelaskan مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ ini maksud di dalamnya ahlul bid’ah, al-murjiah al-mu’tazilah al-khawarij, jadi ini menunjukkan tentang keutamaan Istiqomah di atas Islam yang telah disampaikan oleh Nabi ﷺ, maka Istiqomah ini menjadi sebab seseorang kelak bisa meminum telaganya Nabi ﷺ. Adapun orang yang memilih bid’ah daripada Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ maka ini dikhawatirkan dia termasuk orang yang tidak meminum telaganya Nabi ﷺ

Dengan kehinaan yang seperti ini, sudah datang dalam keadaan berangan-angan ingin minum, sudah mau datang, mau dikasih oleh Nabi ﷺ ternyata dijauhkan dari telaga tersebut tentunya dia akhirnya tidak bisa minum dalam keadaan terus masih dalam keadaan haus, kemudian yang kedua dia terhina dengan perlakuan seperti ini. Dia sudah mau datang mau minum dan merasa kita ini umatnya Nabi ﷺ ternyata diusir tidak bisa meminum telaganya Nabi ﷺ, maka ini adalah pertama dia tetap dalam keadaan haus yang luar biasa sudah lama tidak minum kemudian dalam keadaan terhina dan lebih tersiksa lagi melihat orang lain minum sementara dia sendiri tidak minum.

Jelas hadits ini menunjukkan tentang perintah untuk Istiqomah di atas Islam dan tahdzir peringatan manusia supaya jangan membuat sesuatu yang baru di dalam agama Islam dan bukan berarti mereka tidak meminum dari telaganya Nabi ﷺ kemudian mereka tidak masuk surga, tidak saling melazimkan antara dua perkara ini.

Jadi saat itu hukumannya dia tidak meminum telaganya Nabi ﷺ, berbeda dengan umat Islam yang lain tapi bukan berarti mereka diharamkan masuk ke dalam surga, kalau dia muslim dan bid’ahnya tidak sampai mukaffirah maka kelak dia akan masuk ke dalam surga, tapi ini hukuman tersendiri bagi orang yang melakukan bid’ah di dalam agama.

Dan bukan berarti orang yang meminum dari telaganya Nabi ﷺ kemudian dia tidak masuk neraka, bukan berarti dia tidak masuk neraka, kalau dia termasuk umatnya Nabi ﷺ tapi dia melakukan dosa besar maka orang yang melakukan dosa besar taḥta masyiatillah, kalau Allāh ﷻ menghendaki maka Allāh ﷻ ampuni dosa besar tadi kalau Allāh ﷻ menghendaki maka Allāh ﷻ tidak ampuni dan dimasukkan ke dalam neraka terlebih dahulu.

Sehingga nanti akan melewati jembatan shirath mungkin saja orang yang sebelumnya dia meminum telaganya Nabi ﷺ hilang dahaganya ketika dia melewati jembatan shirath ternyata dia terjatuh kedalam neraka, tapi kalau dia terjatuh dan dia sudah meminum telaganya Nabi ﷺ maka dia tidak akan merasakan kehausan di dalam neraka, tidak merasakan haus di dalam neraka mungkin terbakar sebagian anggota tubuhnya tapi dia tidak merasakan haus karena Nabi ﷺ mengatakan

مَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا

Orang yang meminum dari telaga tersebut maka dia tidak akan haus selama-lamanya, seandainya dia masuk ke dalam neraka maka tidak akan haus dalam neraka tersebut.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 11 – Halaqah 82 | Penjelasan Umum Bab, Pembahasan Dalil Pertama, Kedua, Ketiga, dan Keempat

Halaqah 82 | Penjelasan Umum Bab, Pembahasan Dalil Pertama, Kedua, Ketiga, dan Keempat

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-82 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

Didalam bab ini setelah beliau berbicara tentang masalah bid’ah dan tentang bahayanya dan tentang ancaman bagi orang yang melakukan bid’ah dan bahwasanya itu adalah bagian dari sesuatu yang bertentangan dengan Islam itu sendiri, maka di dalam bab ini beliau akan membacakan atau membawakan dalil-dalil yang isinya adalah perintah untuk istiqomah di atas Islam, di atas kepasrahan kepada Allāh ﷻ di dalam masalah aqidah, didalam masalah ibadah, tata cara ibadah, di dalam permasalahan-permasalahan yang lain sampai kita meninggal dunia

Belum datangkan dalil-dalil yang mengharuskan kita untuk terus Istiqomah di atas Islam dengan makna yang sudah kita sebutkan berulang kali dan juga di dalam bab ini beliau akan menunjukkan kepada kita tentang tahdzir minal bid’ah (peringatan tentang bid’ah) yang merupakan sesuatu yang menunjukkan ketidak-istiqomahan seseorang didalam Islam. Jadi inti dari bab ini adalah perintah untuk terus istiqomah di atas Islam termasuk diantaranya dengan meninggalkan bid’ah.

Beliau membawakan firman Allāh ﷻ dan dijadikan ini sekaligus sebagai judul bab ini

بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

Firman Allāh ﷻ, maka hendaklah engkau menegakan wajahmu untuk agama ini, meluruskan wajahmu untuk agama ini, حَنِيفًا dalam keadaan mengarahkan menghadapkan wajah ini hanya untuk Allāh ﷻ dan inilah makna Al-Islam. حَنِيفًا menyerahkan diri kita hanya kepada Allāh ﷻ inilah makna Islam

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ

Maka hendaklah engkau tegakkan wajahmu hanya untuk agama ini, hanya untuk ibadah kepada Allāh ﷻ, dan أَقِمْ ini adalah perintah dan asal dari perintah adalah untuk menunjukkan kewajiban, menunjukkan tentang wajibnya seseorang menjaga Islam ini sampai dia meninggal dunia dan ini adalah fitrah

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

Ini adalah fitrah Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ fitrahkan kepada manusia yaitu Islamnya dia untuk Allāh ﷻ ini adalah fitrah Allah. Asalnya manusia menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ, Islam asal, tapi berubah fitrah tersebut dengan sebab orang tuanya dengan sebab lingkungan

فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

asalnya dia adalah مَوْلُود عَلَى الْفِطْرَةِ

كل مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

setiap anak yang lahir itu dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikan dia yahudi atau majusi atau nasrani, terkadang bisa berubah fitrah tadi dengan sebab orang tua, terkadang berubah fitrah tadi dengan sebab dakwah ahlul bathil lingkungan dan seterusnya.

Kalau itu adalah fitrah maka kewajiban kita adalah menjaga fitrah tadi sampai kita meninggal dunia

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ القَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

[Ar Rum:30]

Kemudian beliau mendatangkan dalil yaitu firman Allāh ﷻ

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

[البقرة: 132]

Dan firman-Nya: “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.’”

(QS. Al-Baqarah [2]: 132)

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ

Maka Ibrahim berwasiat dengannya, wasiat ibrahim adalah untuk Islam karena sebelumnya Allāh ﷻ mengatakan kepadanya

إِذۡ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسۡلِمۡۖ

Ketika Robbnya berkata kepada Ibrahim, Islamlah engkau wahai Ibrahim

قَالَ أَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

[Al Baqarah:131]

Aku menyerahkan diriku untuk Robbul ‘alamin

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ

maka Ibrahim mewasiatkan putra-putranya dengan wasiat tersebut, yaitu wasiat untuk Islam (إِذۡ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسۡلِمۡۖ) maka itulah yang diwasiatkan oleh Ibrahim kepada putra-putranya. وَيَعْقُوبُ, demikian pula Ya’qub juga berwasiat kepada putra-putranya dengan wasiat ini

يَابَنِيَّ

Wahai anak-anakku

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ

Wahai anak-anakku sesungguhnya Allāh ﷻ telah memilihkan untuk kalian agama

Agama Islam ini adalah agama yang Allāh ﷻ pilih untuk kalian yang isinya adalah mentauhidkan Allāh ﷻ, menyerahkan ibadah hanya kepada Allāh ﷻ saja, ini adalah agama kalian agama yang Allāh ﷻ pilih untuk kalian

فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Maka janganlah kalian meninggal dunia kecuali kalian dalam keadaan islam.

Ini adalah perintah untuk istiqomah terus di atas Islam termasuk diantaranya jangan sampai kita melakukan bid’ah baik bid’ah yang berkaitan dengan akidah i’tiqad maupun bid’ah amaliah karena itu adalah bukan termasuk keislaman yang demikian bahkan bertentangan dengan Islam itu sendiri. Maka ayat ini

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Didalamnya ada perintah untuk istiqomah di atas Islam. Pegang Islam dan jangan sampai kita meninggal dunia kecuali dalam keadaan kita pasrah, bertauhid, meninggalkan bid’ah, jangan mundur ke belakang, jangan menjauh dari Islam, jangan menjauh dari tauhid, jangan menjauh dari sunnah, jangan kita meninggal kecuali dalam keadaan Islam, perintah untuk Istiqomah di atas agama ini.

Kemudian beliau mendatangkan dalil yang lain yaitu firman Allāh ﷻ

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

Kemudian Kami wahyukan kepadamu supaya engkau wahai Muhammad mengikuti millahnya Ibrahim yang lurus

وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَ

(QS. An-Nahl [16]: 123)

Dan tidaklah dia termasuk orang-orang yang musyrikin

Maka di dalam ayat ini Allāh ﷻ mewahyukan kepada Nabinya, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ, apa yang Allāh ﷻ wahyukan kepada Beliau ﷺ? Supaya engkau mengikuti millahnya Ibrahim yaitu Islam, حَنِيفًا, menyerahkan hanya kepada Allāh ﷻ menghadap hanya kepada Allāh ﷻ (وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَ) dan tidaklah beliau termasuk orang-orang yang musyrikin.

Maka ayat ini menunjukkan perintah untuk tetap di atas Islam, perintah untuk mengikuti millahnya Ibrahim sampai kapan? sampai meninggal sampai akhir, mengikuti millahnya Ibrahim bukan hanya di sebagian umurnya tapi sampai akhir umurnya sampai akhir hayatnya Beliau ﷺ diperintahkan untuk mengikuti millahnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang lurus dan tidaklah beliau termasuk orang-orang yang musyrikin. Maka diantara bentuk keislaman kita dan bentuk mengikutnya kita terhadap millah Ibrahim adalah seseorang istiqomah di atas sunnah dan menjauhi kebid’ahan.

Kemudian beliau mendatangkan sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Tirmidzi

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ وُلَاةً مِنَ النَّبِيِّينَ،

Sesungguhnya bagi setiap Nabi itu ada وُلَاةً مِنَ النَّبِيِّينَ, wulāt itu jamak dari wali dan yang dimaksud dengan wali kita sebutkan yang dekat walā – yalī, yang mengikuti, jadi makna walī adalah yang dekat, setiap Nabi itu memiliki orang-orang yang dekat dengan beliau di antara para Nabi

وَإِنَّ وَلِيِّي مِنْهُمْ أَبِي

Dan sesungguhnya orang yang dekat denganku di antara mereka di antara para Nabi adalah أَبِي bapakku Ibrahim

وَخَلِيلُ رَبِّي

Dan dia adalah kekasih dari Robbku.

Jadi Ibrahim di sini adalah badal dari أَبِي maksudnya abi Ibrahim

وَإِنَّ وَلِيِّي مِنْهُمْ أَبِي وَخَلِيلُ رَبِّي

Ini menunjukkan bahwasanya yang paling afdhol diantara manusia setelah Nabi Muhammad ﷺ adalah Nabi Ibrahim karena beliau adalah walinya Beliau ﷺ, walinya Nabi Muhammad ﷺ, orang yang paling dekat derajatnya dengan Nabi ﷺ yaitu Ibrahim dan beliau adalah خَلِيلُ رَبِّي adalah kekasih Allāh ﷻ

ثُمَّ قَرَأَ

Kemudian Beliau ﷺ membaca Firman Allāh ﷻ

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ المُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya manusia yang paling dekat dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikuti beliau yaitu mengikuti beliau di dalam millahnya

أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ

maka yang mengikuti millahnya Ibrahim merekalah orang-orang yang paling dekat dengan Ibrahim yaitu muwahiddīn, al-ahnaf, orang-orang yang mengikuti hanifiyyah maka orang yang paling dekat dengan Nabi Ibrahim adalah orang-orang yang mengikuti beliau sebagaimana firman Allāh ﷻ

أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ

[An Nahl:123]

Diantara yang mengikuti millah beliau adalah

وَهَذَا النَّبِيُّ

dan Nabi ini yaitu Nabi Muhammad ﷺ karena Beliau ﷺ mengikuti millahnya Ibrahim,

أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ

وَالَّذِينَ آمَنُوا

dan juga orang-orang yang beriman

وَاللَّهُ وَلِيُّ المُؤْمِنِينَ

(QS. Ali Imron [3]: 68)

dan Allāh ﷻ Dia-lah yang menolong orang-orang yang beriman

Jadi bukan orang Yahudi yang dekat dengan Ibrahim karena mereka menyelisihi Ibrahim dan bukan orang-orang Nasrani yang dekat dengan Ibrahim karena mereka menyelisihi Ibrahim, yang dekat dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikuti beliau, siapa di antaranya, Nabi ﷺ dan juga orang-orang yang beriman, dan Allāh ﷻ Dia-lah yang akan menolong orang-orang yang beriman.

Hadits ini shahih diriwayatkan oleh AT-Tirmidzi dan lafadznya

إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ وُلَاةً مِنْ النَّبِيِّينَ وَإِنَّ وَلِيِّي أَبِي وَخَلِيلُ رَبِّي ثُمَّ قَرَأَ
{ إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ }

Didalamnya ada perintah dan dorongan untuk terus istiqomah diatas islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ karena orang yang dekat dengan Beliau ﷺ adalah orang yang mengikuti agama Beliau ﷺ, orang yang dekat dengan Beliau ﷺ adalah orang yang dekat dengan agama Beliau ﷺ sehingga orang yang istiqomah di atas Islam dan dia menjauhi bid’ah dan istiqomah di atas sunnah sampai dia meninggal dunia maka dia adalah orang yang paling dekat dengan Nabi ﷺ sebagaimana orang yang mengikuti Ibrahim mengikuti millah beliau maka dia menjadi orang yang paling dekat dengan Ibrahim.

Sebagaimana orang yang mengikuti Ibrahim yang mengikuti millah beliau adalah orang yang paling dekat dengan Ibrahim maka orang yang mengikuti Nabi ﷺ, mengikuti sunnah Beliau ﷺ, menjauhi bid’ah, maka dia menjadi orang yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan orang yang dekat dengan Nabi ﷺ maka Allāh ﷻ Dia-lah walinya, Allāh ﷻ yang akan menolong orang-orang yang beriman yang istiqomah di atas islam di atas sunnah dan juga menjauhi kebid’ahan.

Sehingga hadits ini menunjukkan tentang keutamaan Istiqomah di atas sunnah karena kalau kita mengikuti Beliau ﷺ maka kita akan dekat dengan Beliau ﷺ sebagaimana orang yang mengikuti Ibrahim maka dia adalah orang yang paling dekat dengan Ibrahim.

Kemudian beliau mendatangkan hadits yang selanjutnya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

Dari Abu Hurairah Radiallahu Anhu marfu’an hadits ini diangkat kepada Nabi

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا

Islam itu mulai dalam keadaan ghorib, dalam keadaan asing, orang-orang, mereka di atas jahiliyah diatas kesyirikan, menyerahkan ibadah kepada Allāh ﷻ dan juga kepada selain Allāh ﷻ, membuat perkara yang baru di dalam millahnya Ibrahim, mengikuti hawa nafsunya, berdusta atas nama Allāh ﷻ, dan seluruh jahiliyah, kemudian datang islam yang isinya penyerahan diri kepada Allāh ﷻ, tinggalkan kesyirikan, serahkan ibadah hanya kepada Allāh ﷻ, jangan melakukan bid’ah di dalam millah ini, ikuti syariat yang ada jangan mengikuti hawa nafsu dan seterusnya.

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا

ketika datang maka orang merasa ini adalah perkara yang aneh, rata rata manusia saat itu dalam keadaan jauh dari Islam, jauh dari penyerahan diri kepada Allāh ﷻ, datang Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan mengajak manusia kepada Islam.

وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ

Setelah dia tersebar dakwah ini, sedikit demi sedikit dakwah jahiliyah tadi sudah terkikis kemudian satu persatu manusia masuk ke dalam agama Islam bahkan diakhir hayat Beliau ﷺ masuk manusia kedalam agama Islam afwajan, semuanya mengenal Islam tidak ada satu rumah di Madinah ketika awal Islam masuk ke kota Madinah kecuali masuk di dalamnya Islam. Sampai akhirnya dibuka kota Makkah pada tahun 8 Hijriyah dan ketika orang-orang Quraisy mereka berbondong-bondong masuk kedalam agama Islam maka orang-orang Arab badui yang selama ini hanya menunggu saja kabar yang terjadi karena mereka dalam keadaan bingung panutan mereka adalah orang-orang Quraisy tapi ternyata orang Quraisy terbelah menjadi dua Islam dengan syirik mereka harus ikut yang mana, padahal selama ini mereka menjadikan orang-orang Quraisy sebagai teladan

Akhirnya mereka mendengar saja, kita tunggu saja apa yang terjadi tahun ke delapan Nabi Muhammad ﷺ berhasil membuka kota Makkah, akhirnya mereka baru yakin baru sadar ini benar-benar seorang Nabi ﷺ . Quraisy yang selama ini mereka jadikan panutan mereka agungkan masuk ke dalam Islam, akhirnya orang-orang Baduy pun mereka masuk kedalam agama islam.

Jadilah islam menjadi sesuatu yang tersebar bukan sesuatu yang asing lagi setelah sebelumnya di awal Islam datang dalam keadaan غَرِيبًا. Maka Nabi ﷺ mengabarkan dimasa itu Islam dalam keadaan jaya, Beliau ﷺ mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang dan ini adalah tanda kenabian Beliau ﷺ

وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ

Dan akan kembali Islam tersebut غَرِيبًا kembali asing كَمَا بَدَأَ sebagaimana di awal atau sebagaimana awalnya. Manusia saat itu melihat tersebarnya Islam, semangatnya manusia melaksanakan agama Islam maka Nabi ﷺ mengabarkan kelak akan kembali asing. Tauhid akan kembali asing, mengikuti sunnah menghidupkan sunnah akan kembali asing, dianggap sebagai seorang yang asing, aneh kok bisa yang lainnya mengikuti hawa nafsunya, berhura-hura dan sebagainya, ada orang yang ternyata dia masih memperhatikan agamanya.

Kemudian Beliau ﷺ memberikan dorongan dengan menyebutkan pahala bagi orang-orang yang asing saat itu

فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

maka طُوبَى bagi orang-orang yang asing, yang dianggap aneh, di tengah-tengah manusia yang rusak ternyata dia masih belajar tauhid belajar aqidah ditengah-tengah manusia yang rusak dia mempelajari sunnah bertanya apa yang disunnahkan ketika demikian apa yang disunnahkan ketika demikian, dia perhatikan dirinya, menjauhi kemaksiatan, Nabi ﷺ mengabarkan

فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

طُوبَى bagi orang-orang yang asing saat itu.

Ada sebagian yang menafsirkan طُوبَى disini adalah surga dan ada yang mengatakan dia adalah nama pohon yang ada di dalam surga. Baik diartikan dengan طُوبَى maknanya adalah surga atau pohon yang ada di dalam surga, menunjukkan tentang pahala yang besar, karena orang yang mendapatkan pohon didalam surga berarti dia masuk ke dalam surga.

Siapakah ghurobah tadi dan apa hubungannya dengan bab ini, mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh di atas Islam, kenapa mereka menjadi ghurobah, karena sebab Islam yang mereka peluk, yang mereka pegang. Karena disebutkan di awalnya بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا Islam telah dimulai dalam keadaan asing, yaitu ajaran Islam dan ajaran Islam tadi akan menjadi asing kembali. Orang-orang yang memeluk ajaran Islam yang menjadi asing kembali nanti dinamakan dengan ghurobah karena mereka memeluk Islam yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ yang saat itu ajaran Islam asing sehingga orang yang memeluk dan berpegang teguh dengan dalam Islam tadi dia adalah ghurobah.

Ucapan Nabi ﷺ fatūbā berarti di sini ada dorongan dari Beliau ﷺ supaya kita ini tetap istiqomah di atas Islam supaya kita masuk ke dalam surganya Allāh ﷻ. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan termasuk istiqomah di atas Islam adalah mengikuti sunnah Nabi ﷺ tata cara Beliau ﷺ dan meninggalkan bid’ah, adapun melakukan bid’ah maka ini bagian dari ketidak-istiqomahan, ketidak-islaman. Berarti disini ada dorongan bagi kita untuk terus istiqomah memegang Islam termasuk diantaranya adalah tata cara didalam masalah ibadah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 10 – Halaqah 81 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Anas bin Malik

Halaqah 81 | Pembahasan Dalil Kelima Hadits Anas bin Malik

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-81 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mendatangkan hadist Nabi ﷺ

وَفِيهِ

Dan didalamny yaitu hadits yang shahih

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذُكِرَ لَهُ أَنَّ بَعْضَ الصَّحَابَةِ قَالَ

Dari Anas bin Malik (semoga Allāh ﷻ meridhai beliau) bahwasanya Rasulullah ﷺ disebutkan untuk beliau bahwa sebagian sahabat berkata.
Jadi ada beberapa orang sahabat Nabi ﷺ yang datang ke keluarga Nabi ﷺ, kemudian bertanya kepada beliau tentang bagaimana ibadahnya Nabi ﷺ, disini disebutkan bahwasanya Anas bin Malik menceritakan

جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوْتِ أزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Datang 3 orang kesebagian keluarga Nabi ﷺ, maksudnya adalah sebagian istri Nabi ﷺ, ingin bertanya tentang

يَسْأَلُوْنَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ingin bertanya tentang bagaimana ibadah Nabi ﷺ, yaitu tentang nawafil, ibadah Nabi ﷺ yang beliau lakukan di dalam rumah Beliau ﷺ, tentunya yang mengetahui adalah istri-istri Beliau ﷺ, makanya mereka datang dan bertanya bagaimana ibadah Beliau ﷺ di rumah, menunjukkan tentang bagaimana semangatnya para sahabat tersebut di dalam beribadah kepada Allāh ﷻ, bertanya tentang ibadah Nabi ﷺ

فَلَمَّا أُخْبِرُوْا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوْهَا

Ketika di kabarkan kepada mereka ibadahnya Nabi ﷺ di rumah adalah demikian dan demikian kalau malam demikian kalau siang demikian. Maka sepertinya tiga orang tadi ini تَقَالُّوْهَا, mereka menganggap ini sedikit, apa yang dilakukan oleh Nabi ﷺ ini sedikit tidak seperti yang mereka bayangkan sebelumnya sebelum datang, ini yang disampaikan oleh sebagian istri Nabi ﷺ mengabarkan tentang bagaimana ibadah beliau ternyata mereka menganggap ini adalah ibadah yang sedikit kemudian setelah mereka mengetahui sedikitnya ibadah Nabi ﷺ tidak seperti yang mereka bayangkan maksudnya, akhirnya mereka membuat makhroj sendiri, membuat alasan sendiri

أَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ وَقدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ

Kemudian mereka mengatakan dimana kita dibandingkan Nabi ﷺ, artinya kalau Beliau ﷺ ibadahnya sedikit seperti yang kita dengar tadi dari istri Nabi ﷺ karena memang beliau sudah diampuni dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang sehingga kalau Beliau ﷺ ibadahnya demikian itu lumrah karena sudah dijamin diampuni dosanya yang telah lalu dan akan datang.
Kalau kita siapa yang menjamin, intinya mereka ingin mengatakan berarti kita harus memperbanyak ibadah meskipun Nabi ﷺ tidak seperti kita dalam banyaknya ibadah itu karena beliau sudah diampuni dosanya sedangkan kita kan belum sehingga kita jangan menyamakan diri kita dengan Beliau ﷺ kita harus memperbanyak ibadah.
Ini ucapan mereka akhirnya mereka masing-masing mengucapkan ucapan ini ingin mewujudkan ibadah yang lebih banyak

قَالَ أَحَدُهُمْ

Salah satu diantara mereka mengatakan

أَمَّا أَنَا فَأُصَلِّيْ اللَّيْلَ أَبَداً

Adapun ana maka aku akan sholat al-lail, maksudnya adalah semalam penuh, فَأُصَلِّيْ اللَّيْلَ, aku akan melakukan sholat malam terus, أَبَداً (selama-lamanya) maksudnya adalah tidak mau tidur, malam seluruhnya dia gunakan untuk sholat.
Ada pun yang lain

أَنَا أَصُوْمُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ

Adapun ana maka ana akan terus-menerus berpuasa, dia setiap hari berpuasa, وَلَا أُفْطِرُ dan aku tidak akan berbuka, maksudnya tidak akan dia tinggalkan 1 hari kecuali dia dalam keadaan berpuasa

وَقَالَ الْآخَرُ

Adapun yang ketiga dia mengatakan

أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَداً

Adapun ana maka ana akan meninggalkan wanita, maksudnya tidak akan menikah selama-lamanya. Masing-masing dari mereka tiga orang tadi ingin mempertinggi kuantitas dari ibadah mereka dan tidak ingin melakukan sesuatu yang mengurangi ibadah mereka

فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ

Kemudian Nabi ﷺ datang, disebutkan kepada Beliau ﷺ bahwasanya sebagian sahabat mengatakan

أَمَّا أَنَا فلَا آكُلُ اللَّحْمَ

Ada pun aku maka aku tidak akan memakan daging, ini berarti lafadz tambahan daripada lafadz yang disebutkan dalam shahih Bukhari. Bahwasanya ada di antara mereka yang mengucapkan ucapan ini yaitu tidak akan memakan daging

وقال الآخر أمَّا أنا فأقومُ ولا أنامُ

Adapun yang lain maka dia mengatakan ada pun ana maka aku akan sholat malam tanpa tidur

وَقَالَ الْآخَرُ: أمَّا أنا فلَا أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ

Adapun ana maka ana tidak akan menikah

وَقَالَ الْآخَرُ

dan yang lain mengatakan

أمَّا أنا فأَصُوْمُ الدَّهْرَ

Adapun ana maka ana akan berpuasa selama-lamanya.

فلَا آكُلُ اللَّحْمَ ini ada di dalam lafadz al-imam Muslim

فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا آكُلُ اللَّحْمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا أَنَامُ عَلَى فِرَاشٍ

Ini disebutkan dalam sebagian riwayat

أمَّا أنا فأَصُوْمُ الدَّهْرَ, فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم

Maka Nabi ﷺ setelah mendengar ucapan mereka ini Beliau ﷺ mengatakan

أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا

Beliau ﷺ panggil itu orang-orang yang mengucapkan ucapan tadi karena sudah sampai kepada beliau kabar tentang ucapan mereka maka Beliau ﷺ memanggil mereka dan mengatakan

أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا

Apakah kalian yang tadi mengucapkan demikian dan demikian,

yang mengucapkan saya shalat malam terus, dia mengatakan saya akan puasa terus dan seterusnya

أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ

Ketahuilah demi Allāh ﷻ kata Beliau ﷺ sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allāh ﷻ dan paling bertaqwa di antara kalian.

Jadi kalau kalian berbicara tentang ini adalah menunjukkan rasa takut kami ini menunjukkan tentang taqwa kami kepada Allāh ﷻ ketahuilah bahwasanya aku, kata Beliau ﷺ, adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada Allāh ﷻ dan orang yang paling bertaqwa diantara kalian, itu sesuatu yang diterima oleh mereka, Nabi ﷺ beliaulah yang paling takut kepada Allāh ﷻ dan paling bertaqwa kepada Allāh ﷻ tapi lihat

لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ

Akan tetapi meskipun aku adalah orang yang takut dan bertaqwa kepada Allāh ﷻ aku tetap berpuasa dan aku berbuka.

Terkadang Beliau ﷺ berpuasa dan terkadang Beliau ﷺ berbuka, tidak seterusnya berpuasa, berarti sunnah Beliau ﷺ adalah terkadang berbuka terkadang berpuasa

وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ

Dan aku shalat (yaitu shalat malam) dan aku tidur

Petunjuk Nabi ﷺ beliau tidur di awal malam kemudian setelah itu bangun di akhir malam berarti Beliau ﷺ melakukan shalat kemudian Beliau ﷺ bangun, tidak seluruh malam Beliau ﷺ gunakan untuk shalat semuanya, tapi ada istirahat untuk badannya untuk jasadnya, ini adalah sunnah Nabi ﷺ dan Beliau ﷺ adalah orang yang paling bertaqwa.

وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ

Dan aku menikahi para wanita

Padahal Beliau ﷺ adalah orang yang paling bertaqwa dan paling takut kepada Allāh ﷻ tetapi Beliau ﷺ menikah menunjukkan bahwasanya ketaqwaan bukan berarti seseorang tidak menikah, ketaqwaan bukan berarti seseorang tidak tidur di waktu malam, ketaqwaan bukan berarti dia berpuasa terus-menerus, tidak.

Jadi sunnah Nabi ﷺ berpuasa dan berbuka, shalat (malam) dan tidur, dan juga menikahi wanita

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Maka barangsiapa yang membenci jalanku tadi, jalan Nabi ﷺ adalah yang disebutkan oleh Beliau ﷺ sebelumnya, berpuasa diselingi dengan Ifthar, shalat ada tidurnya dan dia juga menikah dengan wanita. Ini adalah diantara sunnah Nabi ﷺ, maka Beliau ﷺ mengingatkan barangsiapa yang membenci sunnahku ini, jalanku ini, maka dia bukan termasuk golonganku, bukan termasuk orang yang mengikuti jalanku, فَلَيْسَ مِنِّي maksudnya adalah bukan termasuk orang yang mengikuti jalanku.

Lafadz yang disebutkan beliau di sini

لَكِنِّي أَنَامُ وَأقُومُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ وَآكُلُ اللَّحْمَ

Akan tetapi aku tidur dan aku bangun, aku berpuasa dan aku berbuka, aku menikah dengan wanita dan aku makan daging.

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي؛ فَلَيْسَ مِنِّي

Maka barangsiapa yang membenci sunnahku maka dia bukan termasuk golonganku (bukan termasuk orang yang mengikuti jalanku).

Disini beliau mendatangkan hadits ini untuk menunjukkan tentang celaan bid’ah dan bahwasanya bid’ah ini bisa menyebabkan seseorang membenci sunnah Nabi ﷺ, bisa menjadikan seseorang membenci agama Islam itu sendiri dan kalau orang sudah membenci agama Islam maka dia bukan orang yang mengikuti jalannya Nabi ﷺ

Dari mana bisa demikian antum lihat yang dilakukan oleh sahabat di sini, shalat malam, puasa ini ada dalilnya ada sunnahnya tapi kalau dilakukan secara berlebihan tidak sesuai dengan yang dilakukan oleh Nabi ﷺ maka ini termasuk bisa dikhawatirkan nanti bisa menjadikan dia membenci sunnahnya Nabi ﷺ, akibatnya فَلَيْسَ مِنِّي dia bukan termasuk orang yang menempuh jalannya Nabi ﷺ. Padahal ini asalnya adalah disunnahkan, perkara yang disunnahkan (shalat malam, puasa) tapi ketika dilakukan lebih, melenceng dari jalan Nabi ﷺ, berlebihan, justru malah bisa menjadikan seseorang bukan termasuk orang yang mengikuti jalan Nabi ﷺ .

Lalu bagaimana dengan orang yang melakukan sesuatu yang bid’ah, kalau yang disunnahkan saja akibatnya tadi itu فَلَيْسَ مِنِّي, lalu bagaimana dengan orang yang melakukan sesuatu yang bid’ah, sama sekali tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ, maka semakin jauh dari jalannya Nabi ﷺ, kalau sesuatu yang disunnahkan saja oleh Beliau ﷺ tapi dilakukan berlebihan فَلَيْسَ مِنِّي apalagi sesuatu yang bid’ah yang memang tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ maka ini semakin dahsyat فَلَيْسَ مِنِّي nya yaitu bukan orang yang mengikuti jalanku.

Disini beliau mengatakan dan ini jarang sekali beliau mengucapkan dengan ucapan beliau biasanya ayat hadits atsar, disini beliau berbicara

فَتَأَمَّلْ!

kata beliau, hendaklah engkau memperhatikan merenungi

إِذَا كَانَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ أَرَادَ التَّبَتُّلَ لِلْعِبَادَةِ

ketika ada sebagian orang-orang yang mulia dari kalangan sahabat Nabi ﷺ ingin التَّبَتُّل yaitu ingin mengkhususkan hidupnya untuk ibadah, ini yang melakukan seorang sahabat dan yang dilakukan adalah sesuatu yang asalnya dia adalah sunnah cuma berlebihan,

قِيْلَ فِيْهِ هَذَا الكَلَامُ الغَلِيظُ

meskipun demikian Nabi ﷺ mengucapkan ucapan yang sangat keras ini, yaitu ucapan Beliau ﷺ

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي؛ فَلَيْسَ مِنِّي

orang yang benci terhadap sunnahku maka dia bukan termasuk golonganku.

Ini Beliau ﷺ berbicara di depan para sahabat, demikian diucapkan kalau sampai seorang sahabat غِبَ عَنْ سُنَّتِي ﷺ maka فَلَيْسَ مِنِّي

وَسُمِّيَ فِعْلُهُ رُغُوبًا عَنِ السُّنَّةِ

dan Beliau ﷺ menamakan perbuatan mereka ini sebagai bentuk kebencian terhadap sunnah Beliau ﷺ, harusnya mengikuti Beliau ﷺ, sholat dan tidur, berpuasa dan kadang tidak berpuasa dan seterusnya, Beliau ﷺ menamakan ini sebagai bentuk kebencian terhadap sunnah Beliau ﷺ.

فَمَا ظَنُّكَ بِغَيْرِ هَذَا مِنَ البِدَعِ؟

Lalu bagaimana pendapatmu tentang selain ini dari bid’ah-bid’ah?

Kalau sesuatu yang asalnya sunnah saja, shalat malam puasa atau seperti tadi tidak memakan daging, ini sesuatu yang mubah itu yang dikatakan oleh Nabi ﷺ lalu bagaimana dengan selain ini berupa bid’ah-bid’ah.

وَمَا ظَنُّكَ بِغَيْرِ الصَّحَابَةِ؟

Lalu bagaimana seandainya ini yang melakukan adalah selain sahabat?

Seorang sahabat saja yang kita tahu keutamaan mereka melakukan ini bisa sampai فَلَيْسَ مِنِّي, lalu bagaimana dengan selain sahabat yang tentunya keutamaan mereka tidak melebihi keutamaan para sahabat رضي الله تعالى عنهم, tentunya ini adalah lebih dahsyat yang demikian

Ini juga menunjukkan tentang bahaya bid’ah dan bahwasanya bid’ah ini dikawatirkan termasuk bentuk kebencian terhadap sunnah Nabi ﷺ dan orang yang membenci sunnah Nabi ﷺ maka bukan termasuk golongan Nabi ﷺ

فَلَيْسَ مِنِّي disini maksudnya adalah tidak mengikuti diriku, dalam Al-Quran Allāh ﷻ mengatakan ketika menyebutkan tentang tholut dan juga jalut

[Al Baqarah:249]

فَمَن شَرِبَ مِنۡهُ فَلَيۡسَ مِنِّي وَمَن لَّمۡ يَطۡعَمۡهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّيٓ

Maksudnya adalah orang yang meminum, kan Beliau mengatakan jangan minum, maka barangsiapa yang meminum فَلَيۡسَ مِنِّي maksudnya bukan mengikuti petunjukku, karena dia minum petunjuk Beliau adalah jangan minum, kalau minum berarti فَلَيۡسَ مِنِّي tidak mengikuti petunjukku, وَمَن لَّمۡ يَطۡعَمۡهُ barangsiapa yang tidak meminum فَإِنَّهُۥ مِنِّيٓ maksudnya adalah dia termasuk orang yang mengikuti diriku.

Jadi فَلَيۡسَ مِنِّي bukan berarti dia keluar dari agama Islam, maksudnya tidak mengikuti jalanku tidak mengikuti sunnahku, berarti di dalam bab ini ada poin-poin yang menunjukkan tentang bahaya bid’ah diantaranya bahwasanya orang yang melakukan bid’ah maka dikhawatirkan akan menyeret dia membenci Islam itu sendiri.

Kemudian diantara bahaya bid’ah disini adalah menjadikan seseorang terputus dari kecintaan Nabi ﷺ, semakin dia melakukan bid’ah semakin banyak maka akan semakin jauh dari kecintaan Nabi ﷺ dan ini ditunjukkan oleh hadits

إِنَّ آلَ أَبِي [فُلَانٍ] لَيْسُوا لِي بِأَوْلِيَاءَ إِنَّمَا أَوْلِيَاء المتقون

Kemudian diantara bahaya bid’ah bahwasanya orang yang melakukan bid’ah maka ini bukan termasuk orang yang mengikuti Nabi ﷺ sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Anas, kalau amalan yang asalnya sunnah saja dilakukan secara berlebihan bisa dinamakan tidak mengikuti Nabi ﷺ apalagi orang yang benar-benar dari awal melakukan sesuatu yang bukan sunnah Nabi ﷺ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته