Tag Archives: kajian

Semua Imam Madzhab Yang Empat Bermanhaj Salaf

Semua Imam Madzhab Yang Empat Bermanhaj Salaf

Syaikh Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql hafizhahullah mengatakan:

أئمة المذاهب الأربعة الإمام أبو حنيفة ومالك والشافعي وأحمد كلهم على مذهب أهل السنة والجماعة في الجملة، ولا إشكال في ذلك عند عامة المسلمين

Para imam madzhab yang empat, yaitu imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Asy Syafi’i, dan imam Ahmad, semuanya di atas madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah secara umum. Tidak ada keraguan dalam hal ini di antara kaum Muslimin.

وإنما من أتى بعدهم من المنتسبين لهذه المذاهب حصل عند بعضهم خروج عن مذهب السلف في العقيدة، ومع مرور الزمن أصبح الانتساب لهذه المذاهب انتساب فقهي فقط

Namun orang-orang setelah mereka yang menisbatkan diri kepada madzhab mereka, terjadi pada sebagian mereka penyimpangan dari madzhab salaf. Namun sejalan dengan bergulirnya waktu, ternyata penisbatan kepada madzhab mereka ini hanya sebatas penisbatan dalam bidang fikih.

أما في جانب العقيدة فكثير من المتأخرين الذي انطووا تحت هذه المذاهب خالفوا أئمة مذاهبهم في جانب الاعتقاد، وأصبحت عقائدهم منحرفة عن مذهب أهل السنة والجماعة ولا شك أن هؤلاء لا يمثلون أئمة المذهب

Adapun dalam aspek akidah, banyak kalangan muta’akhirin yang menisbatkan diri pada madzhab-madzhab tersebut ternyata menyelisihi akidah imam madzhab mereka sendiri. Sehingga akidah yang mereka yakini adalah akidah yang menyimpang dari madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah. Dan tidak diragukan lagi bahwa dalam hal ini mereka tidak meneladani para imam madzhab mereka.

Sumber: https://ar.islamway.net/fatwa/33544

@fawaid_kangaswad

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 25

Halaqah 25 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Menunjukkan Sifat Datang Bagi Allāh ﷻ

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Insya Allāh kita lanjutkan dan masuk pada pembahasan yang baru yaitu dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifatul Maji’ wal Ityan, artinya adalah sifat datang bagi Allāh ﷻ dan bahwasanya Allāh ﷻ kelak di hari kiamat akan datang, yaitu datang untuk mengadili diantara para hamba hamba-Nya untuk fashlu qadha, untuk mengadili diantara mereka.

Diantara ayat yang beliau datangkan disini adalah firman Allāh ﷻ

وَقَولُهُ:ِهَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ وَالْمَلآئِكَةُ وَقُضِيَ الأَمْرُ

Tidaklah mereka menunggu, nadzhara kalau setelahnya adalah maful bihi langsung maka maknanya adalah menunggu, tapi kalau nadzhara ilā maknanya adalah melihat dengan kedua mata,

وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ ٢٢

إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ ٢٣

berarti disini nadzhara ilā melihat kepada dengan mata, kemudian disana ada nadzhara fī hi, maka yang di maksud adalah memperhatikan atau mencermati nadzhartu fī kalami fulan, aku mencermati ucapan si fulan. Disini nadzhara langsung kepada maf’ul bihnya, maka maknanya menunggu.

هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ

Tidaklah mereka menunggu kecuali kedatangan Allāh ﷻ, ini orang-orang kafir ketika mereka melakukan kekufuran ketahuilah bahwasanya mereka tidak akan berhenti di dunia saja, di sana ada adzab yang akan datang kepada mereka disana akan ada hisab, Allāh ﷻ tidak menciptakan manusia dalam keadaan tidak diperintahkan dan tidak dilarang dan tidak dihisab, Allāh ﷻ tidak menciptakan mereka dalam keadaan abatsan, tidak menciptakan mereka dalam keadaan sudan, maksudnya adalah sia-sia tidak diperintah dan tidak dilarang, akan ada disana hisab.

Maka mereka ini orang-orang kuffar yang sudah mati maupun yang masih hidup tidaklah menunggu kecuali kedatangan Allāh ﷻ yaitu ketika Allāh ﷻ akan menghisab manusia di padang mahsyar dan di sini syahidnya

أَن يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ

Siapa yang datang di sini, Allāh ﷻ, akan datang kepada mereka untuk menghisab mereka

فِي ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَام

Di dalam ظُلَلٍ yaitu bayangan, مِّنَ الْغَمَام dari awan yang putih, artinya ketika akan dijelaskan setelahnya, jika Allāh ﷻ datang maka terbelah langit kemudian muncul di sana غَمَام yang tidak mengetahui besarnya kecuali Allāh ﷻ, awan yang putih yang sangat besar yang tidak mengetahui besarnya kecuali Allāh ﷻ.

Ini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Al-I’tiyan, yaitu Allāh ﷻ datang, bagaimana datangnya Allāh ﷻ, sesuai dengan keagungan-Nya, tidak sama dengan datangnya manusia, sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ.

وَالْمَلآئِكَة

Dan juga para malaikat, artinya para malaikat juga akan datang, Allāh ﷻ bukan hanya mengumpulkan manusia dan juga jin dan juga hewan-hewan tapi Allāh ﷻ akan juga mengumpulkan seluruh malaikat, Allāh ﷻ Dia-lah Al-Malik, Dia-lah Raja yang sebenarnya. Allāh ﷻ kumpulkan di hari tersebut semuanya Al-Awwalin Wal-Akhirin, yang pertama maupun yang akan datang semuanya akan dikumpulkan oleh Allāh ﷻ, dan ini adalah perkumpulan yang sangat besar, malaikat berapa jumlah mereka, manusia dari awal sampai akhir berapa jumlah mereka, jin berapa jumlah mereka, hewan-hewan semuanya dikumpulkan oleh Allāh ﷻ dan semuanya dalam keadaan khusyuk, dalam keadaan diam, laa yatakallamuun mereka tidak berbicara kecuali orang yang Allāh ﷻ izinkan.

Diantara ucapan Allāh ﷻ saat itu adalah

أنا الملك أنا الديان

Aku-lah Raja yang sebenarnya dan Aku-lah Ad-Dayyan (Aku-lah yang akan menghisab / Aku-lah yang akan menghitung).
Makhluk sebanyak itu semuanya akan dihisab oleh Allāh ﷻ, akan dihitung satu per satu amalannya yang baik maupun yang buruk, dan yang demikian adalah

عَلَى ٱللَّهِ يَسِير

Adalah sesuatu yang sangat mudah bagi Allāh ﷻ, menghitung satu orang sama dengan menghitung miliaran bahkan triliunan manusia dan jin, Allāh سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ, Allāh ﷻ adalah Dzat yang sangat cepat perhitungan-Nya, teliti, tidak ada yang ketinggalan dan dihitung oleh Allāh ﷻ dengan sangat cepat, tidak ada yang terdzolimi di antara mereka. Maka ini sesuatu yang sangat mengerikan bagi orang-orang yang lalai di dunia, menyangka bahwasanya hartanya itulah yang akan mengekalkan dia, jabatan dia itu akan mengekalkan dia

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ فَيَقُولُ هَآؤُمُ ٱقۡرَءُواْ كِتَٰبِيَهۡ

Adapun orang yang mereka mengambil kitabnya dengan tangan kanannya maka dia mengatakan silakan kalian baca kitabku, dengan kebahagian dan kegembiraan dia mengucapkan ucapan ini

فَيَقُولُ هَآؤُمُ ٱقۡرَءُواْ كِتَٰبِيَهۡ ١٩

إِنِّي ظَنَنتُ أَنِّي مُلَٰقٍ حِسَابِيَهۡ ٢٠

Aku dulu meyakini bahwasanya aku akan menemui hisab ini. Sehingga dia berhati-hati dalam kehidupan dunia, hati-hati dalam mencari rezeki, hati-hati dalam berbicara, hati-hati dalam beramal, karena dia tahu bahwasanya dia akan hisab oleh Allāh ﷻ

إِنِّي ظَنَنتُ أَنِّي مُلَٰقٍ حِسَابِيَهۡ ٢٠

فَهُوَ فِي عِيشَةٖ رَّاضِيَةٖ ٢١

فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٖ ٢٢

قُطُوفُهَا دَانِيَةٞ ٢٣

كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓ‍َٔۢا بِمَآ أَسۡلَفۡتُمۡ

Makanlah dan minumlah kalian dengan apa yang kalian kerjakan dahulu

فِي ٱلۡأَيَّامِ ٱلۡخَالِيَةِ ٢٤

di hari-hari yang telah berlalu, yaitu kalian mengisi kehidupan kalian dan umur kalian dengan ibadah.

Tapi bagaimana dengan orang yang mengambil kitabnya dengan tangan kirinya

وَأَمَّا مَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِشِمَالِهِۦ فَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي لَمۡ أُوتَ كِتَٰبِيَهۡ ٢٥

Dia mengambil kitabnya dengan tangan kirinya, dia mengatakan seandainya aku tidak mengambil kitabku

وَلَمۡ أَدۡرِ مَا حِسَابِيَهۡ ٢٦

Dan aku tidak tahu tentang hisabku

يَٰلَيۡتَهَا كَانَتِ ٱلۡقَاضِيَةَ ٢٧

Seandainya kematian itu yang mengakhiri semuanya

مَآ أَغۡنَىٰ عَنِّي مَالِيَهۡۜ ٢٨

Tidak bermanfaat bagiku hartaku

هَلَكَ عَنِّي سُلۡطَٰنِيَهۡ ٢٩

Dan kekuasaanku, jabatanku semuanya sudah lenyap, tidak bermanfaat dihari tersebut.

Maka orang yang gembira saat itu adalah orang yang meyakini tentang hisab di hari tersebut, tapi orang-orang yang kuffar yang mereka tidak meyakini hisab dan mereka sembarangan dan semaunya di dalam kehidupan ini mengikuti hawa nafsunya, makan semaunya, bangun semaunya, tidur semaunya, berzina semaunya, tidak ada aturan, maka apa yang terjadi bagi mereka di hari tersebut? tentunya bencana, orang yang tidak beriman dengan hari akhir.

وَالْمَلآئِكَة

Dan para malaikat di hari tersebut juga mereka datang. Datangnya malaikat sesuai dengan keadaan dia dan datangnya Allāh ﷻ sesuai dengan kesempurnaan Allāh ﷻ

وَقُضِيَ الأَمْرُ

Setelah itu akan diputuskan seluruh perkara, yaitu akan dihisab manusia, ini menunjukkan bahwasanya datangnya Allāh ﷻ adalah untuk bi fashlil qadha saat itu untuk menghitung dan menghisab manusia. Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن تَأْتِيهُمُ الْمَلآئِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ

Tidaklah mereka menunggu kecuali akan datang kepada mereka malaikat, sekali lagi ini orang-orang kuffar yang mereka mendustakan para Rasul, yang kufur tidaklah mereka menunggu kecuali nanti akan datang malaikat, yaitu malaikatul maut, malaikat Al-maut yang akan mencabut nyawa mereka

أَوْ يَأْتِيَ رَبُّك

Atau datang Allāh ﷻ, disini syahidnya, yaitu datang Allāh ﷻ di masyhar yaitu tempat pengumpulan mereka

أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّك

Atau datang kepada mereka sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allāh ﷻ.

Jadi di sini di sebutkan tiga, datang malaikat dan ini adalah perkara yang mengerikan juga, malaikatul maut ketika akan mencabut nyawa orang yang kafir apakah sama dengan ketika dia mencabut nyawa orang yang beriman, beda. Ketika mereka mencabut nyawa orang kafir maka dengan adzab, di bawakan kain kafan dari neraka, dicabut nyawa mereka dengan adzab, dengan susah seperti mencabut bulu yang ada di kulit sehingga mereka merasakan pedihnya ketika nyawa mereka dicabut, mereka tidaklah menunggu kecuali datangnya malaikatul maut tersebut atau datang Allāh ﷻ di hari kiamat untuk menghisab mereka, ini juga lebih pedih lagi atau tidaklah mereka menunggu kecuali datangnya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allāh ﷻ

يَوۡمَ يَأۡتِي بَعۡضُ ءَايَٰتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفۡسًا إِيمَٰنُهَا

[Surat Al-An’am Ayat 158]

Hari di mana datang sebagian tanda kekuasaan Allāh ﷻ tidak akan bermanfaat sebuah jiwa keimanan mereka, seandainya dia melihat tanda kekuasaan tadi maka kemudian dia beriman maka tidak akan bermanfaat. Disebutkan di dalam hadits bahwasanya yang dimaksud dengan tanda kekuasaan tadi adalah terbitnya matahari dari arah tenggelamnya. Nabi ﷺ mengatakan

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنَ الْمَغْرِبِ

Tidak akan datang hari kiamat sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya

فَإِذَا طَلَعَتْ فَرَآهَا النَّـاسُ آمَنُوا أَجْمَعُوْنَ

لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِيْ إِيْمَانِهَا خَيْرًا.

Ketika dia terbit dari arah tenggelamnya, biasanya dia dari timur kemudian ke arah barat kemudian ketika akan terbit dia minta izin dulu kepada Allāh ﷻ tapi saat itu oleh Allāh ﷻ disuruh kembali, disuruh kembali dari arah tenggelam dia, manusia menunggu ini ke mana matahari tidak muncul-muncul, biasanya jam sekian dia sudah terbit ini tidak keluar, tiba-tiba muncul dari arah barat, jadi ini adalah perkara yang besar, selama ini manusia selama ribuan tahun matahari terus terbit dari timur, ini terbit dari barat maka menggoncangkan manusia mereka beriman semuanya.

فَذَلِكَ حِيْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا

Itu adalah waktu dimana sudah tidak bermanfaat iman seseorang, kalau sebelum terbitnya matahari dari arah tenggelamnya tadi mereka tidak beriman, setelah terbit dari arah tenggelamnya dia beriman, sebagaimana firman Allāh ﷻ

لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ

yang dia sebelumnya tidak beriman

أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا

[Al-An’aam: 158]

atau orang yang ketika sebelumnya dia sudah beriman, kalau sebelum matahari terbit dari arah tenggelamnya dia sudah beriman, setelah terbit dari arah tenggelamnya dia baru beramal sholeh, sebelumnya dia orang-orang beriman tapi belum beramal sholeh, ketika sudah terbit dari arah tenggelamnya dia baru beramal sholeh maka ini juga tidak akan bermanfaat, tidak akan di terima oleh Allāh ﷻ karena baru tahu sekarang, baru beriman setelah dia melihat maka ini tidak bermanfaat bagi orang tersebut. Yang mereka tunggu yaitu orang-orang kuffar adalah seperti ini, kalau mereka beriman ketika datang tanda kekuasaan tadi maka tidak akan lagi bermanfaat bagi mereka

كَلاَّ إِذَا دُكَّتِ الأَرْضُ دَكًّا دَكًّا وَجَاء رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

Sekali-kali tidak apabila bumi diguncangkan dengan segoncang-goncangnya, دُكَّتِ artinya adalah zulzilat, yaitu digoncangkan digempakan oleh Allāh ﷻ dengan دَكًّا دَكًّا yaitu dengan segoncang-goncangnya, dan ini menunjukkan bahwasanya keguncangan saat itu berulang kali, diguncangkan oleh Allāh ﷻ berulang kali bukan hanya sekali, dan lebih besar dan lebih dahsyat dari gempa yang pernah dirasakan oleh seseorang atau manusia di dunia, karena diguncangkan sebenar-benarnya oleh Allāh ﷻ sebagaimana dalam ayat yang lain

إِذَا زُلۡزِلَتِ ٱلۡأَرۡضُ زِلۡزَالَهَا

Kalau di sini

إِذَا دُكَّتِ الأَرْضُ دَكًّا دَكًّا

guncangan yang sangat, kemungkinan ini adalah perkara yang sangat menakutkan, kemudian

وَجَاء رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

Dan akan datang Robb mu, yaitu ke Padang Mahsyar dengan maji’ atau datang yang sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ, dan Al-Maji’ itu maknanya hampir sama dengan Al-Ityan, dan para ulama ketika mereka menjelaskan tentang sifat datang maka mereka seperti menyamakan antara sifat Al-Ityan dengan Al-Maji’, sehingga seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al-Aqidah Wasitiyah ini menggabungkan jadi satu, sifat Al-Ityan dan juga Al- Maji’, jadi ini adalah dua kata yang hampir sama satu dengan yang lain meskipun ada sebagian yang mereka membedakan, tentunya secara bahasa ada yang membedakan, ada yang mengatakan bahwasanya Al-Ityan ini adalah datang dengan cara yang mudah tapi kalau Al-Maji’ ini umum.

Dan dalam Al-Quran Allāh ﷻ banyak seperti menyamakan antara kalimat ataa dengan jaa’a, Allāh ﷻ mengatakan dalam Al-Quran ataa amrullah, dalam ayat yang lain jaa’a amrullah, sebagian ayat Allāh ﷻ mengatakan ataahum nasruna, dalam ayat yang lain Allāh ﷻ mengatakan jaa’ahum nasruna, jadi hampir sama antara Al-Ityan dengan Al-Maji’. Sehingga dalil tentang Al-Ityan yaitu kedatangan Allāh ﷻ dan juga dalil tentang Al-Maji’ ini di jadikan satu menunjukkan juga tentang sifat datang bagi Allāh ﷻ yaitu Al-Maji’ dan juga Al-Ityan.

Kemudian di sana ada hadits yang menunjukkan tentang samanya dua makna ini, di dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan (ini hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim)

إذا تلقاني عبدي بشبر تلقيته بذراع وإذا تلقاني بذراع تلقيته بباع وإذا تلقاني بباع جئته أتيته بأسرع

Apabila hamba-Ku mendatangi-Ku dengan شبر yaitu satu jengkal, تلقيته بذراع maka Aku akan menyambutnya dengan satu hasta, kalau dia datang kepada-Ku dengan satu hasta maka Aku pun akan menyambutnya dengan satu باع, yaitu lebih dekat lagi, dan kalau dia menyambut-Ku atau mendatangi-Ku dengan satu bā’,

جئته أتيته بأسرع

Aku akan mendatanginya dengan lebih cepat. Disini disebutkan جئته أتيته dan sebagian seperti Al-Imam An-Nawawi Rahimahullāh menerangkan bahwasanya ini adalah penguatan karena maknanya sama, ja’a dengan itiyan ini maknanya sama, ketika Allāh ﷻ mengatakan

جئته أتيته

Aku mendatangi dia Aku mendatangi dia, berarti menunjukkan taukid, menguatkan bahwasanya Allāh ﷻ lebih dekat dan lebih cepat, maka tidak ada isykal disini dan apa yang dilakukan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah disini menunjukkan bahwasanya makna antara Al-Ityan dengan Al-Maji’ ini adalah hampir sama yaitu datang. Kemudian

وَالْمَلَكُ

Dan malaikat, dan Al-Malak disini adalah lil jins (yaitu jenis), jadi maksudnya bukan satu malaikat tapi jenis malaikat, semua malaikat mereka datang saat itu

صَفًّا صَفًّا

Mereka bershaf-shaf, ada yang mengatakan bahwasanya malaikat pada langit yang pertama ini berada di shaf yang pertama, kemudian malaikat yang di langit yang kedua di shaf yang kedua mengitari manusia dan jin yang dikumpulkan oleh Allāh ﷻ di padang mahsyar, Allahua’lam ada yang mengatakan demikian.
Kemudian ayat yang terakhir di sini adalah

وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاء بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلائِكَةُ تَنزِيلاً

Dan di hari dimana langit akan terpecah, تَشَقَّق artinya adalah tanfathir yaitu terpecah, terbelah, بِالْغَمَامِ dengan ghomam, ghomam adalah awan yang putih tadi. Ketika Allāh ﷻ turun maka diantara pemandangan yang terjadi saat itu adalah terbelahnya langit, kemudian terbelah dengan awan yang putih.

وَنُزِّلَ الْمَلائِكَةُ

Dan turun para malaikat

تَنزِيلاً

Dengan sebenar-benar turun, mereka akan turun dan akhirnya mereka bershaf-shaf sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Fajr.
Jadi ayat ini sebenarnya tidak berkaitan dengan sifat Allāh ﷻ cuma dia adalah keladziman dari sifat Allāh ﷻ Al-Maji’, jadi kalau kita lihat tidak ada di situ penyebutan Al-Maji’ atau Al-Ityan, di situ hanya disebutkan apa yang terjadi saat itu, yaitu terbelahnya langit dan terbelah dengan awan dan turunnya malaikat dengan sebenar-benar turun sebagaimana ini disebutkan dalam ayat yang lain yaitu Firman Allāh ﷻ dalam surat Al-Baqarah

هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ

Ini jelas disebutkan tentang turunnya Allāh ﷻ

وَالْمَلآئِكَةُ

Dan datangnya malaikat. Di sini juga disebutkan turunnya malaikat, cuma tidak disebutkan di sini sifat Allāh ﷻ Al-Maji’ atau Al-Ityan, didatangkan oleh muallif di sini karena ada yang mengatakan ini adalah keladziman dari turunnya atau datangnya Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 24

Halaqah 24 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Menunjukkan Sifat Marah Bagi Allāh ﷻ Bagian 2

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-24 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Insya Allāh kita lanjutkan dan masuk pada dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Al-Ghodhob (sifat marah)

وَقَولُهُ :ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ

Yang demikian karena mereka mengikuti apa yang menjadikan Allāh ﷻ murka, ini ada didalam

surah Muhammad (ayat 28), sebelumnya Allāh ﷻ mengatakan (ayat 25-27)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱرۡتَدُّواْ عَلَىٰٓ أَدۡبَٰرِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلۡهُدَى ٱلشَّيۡطَٰنُ سَوَّلَ لَهُمۡ وَأَمۡلَىٰ لَهُمۡ

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُواْ لِلَّذِينَ كَرِهُواْ مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ سَنُطِيعُكُمۡ فِي بَعۡضِ ٱلۡأَمۡرِۖ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِسۡرَارَهُمۡ

فَكَيۡفَ إِذَا تَوَفَّتۡهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَضۡرِبُونَ وُجُوهَهُمۡ وَأَدۡبَٰرَهُمۡ

yaitu orang-orang munafik, maka Allāh ﷻ mengabarkan di sini, maka bagaimana seandainya malaikat-malaikat mematikan mereka, memukul wajah-wajah mereka dan juga bagian belakang mereka, karena mereka mengikuti apa yang membuat murka Allāh ﷻ, ini syahidnya, mereka mengikuti yaitu melakukan mengamalkan apa yang membuat murka Allāh ﷻ dan mereka membenci keridhohan Allāh ﷻ.

Berbeda dengan orang yang beriman yang mereka berusaha untuk mendapatkan ridho Allāh ﷻ, beramal untuk mendapatkan keridhoan Allāh ﷻ sementara orang-orang munafiqin mereka membenci keridhoan Allāh ﷻ.

فَأَحۡبَطَ أَعۡمَٰلَهُمۡ

Maka Allāh ﷻ membatalkan dan menggugurkan amalan mereka. Jadi syahidnya di sini adalah Firman Allāh ﷻ

ٱتَّبَعُواْ مَآ أَسۡخَطَ ٱللَّهَ

mereka mengikuti apa yang menjadikan Allāh ﷻ marah.

Berarti Allāh ﷻ memiliki sifat Sukhthun atau Sakhoth, bisa dibaca sukhthun bisa dibaca sakhoth, dua-duanya adalah sifat atau mashdar sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ. Maka seorang muslim tentunya tidak ingin memiliki sifat orang-orang munafik yang mereka mengikuti apa yang menjadikan Allāh ﷻ murka, seorang muslim adalah seorang yang dia berusaha untuk bagaimana Allāh ﷻ itu ridho kepadanya, bagaimana Allāh ﷻ itu cinta kepadanya yaitu dengan melakukan perkara-perkara yang membuat ridho Allāh ﷻ, apa perkara yang membuat ridho Allāh ﷻ tentunya dengan melaksanakan perintah Allāh ﷻ dan juga menjauhi apa yang Allāh ﷻ larang. Seorang muslim berbeda dengan seorang yang munafik, dia berusaha untuk mengikuti apa yang membuat ridho Allāh ﷻ bukan yang membuat murka Allāh ﷻ

وَكَرِهُوا رِضْوَانَه

Mereka pun membenci keridhoan Allāh ﷻ.

Berarti di sini juga menetapkan tentang sifat ridho atau sifat ridhwan, bisa sifat ridho bisa sifat ridhwan, dan sifat ridho ini sudah berlalu pembahasannya ketika di sebutkan Firman Allāh ﷻ

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Allāh ﷻ ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allāh ﷻ.

فَأَحۡبَطَ أَعۡمَٰلَهُمۡ

Maka Allāh ﷻ membatalkan amalan mereka, bisa juga di sini kita mengambil satu sifat diantara sifat Allāh ﷻ yaitu sifat Ihbath yaitu sifat membatalkan, ini adalah sifat fi’liyyah cuma yang menjadi syahid yang utama di sini adalah sukhthun atau sakhoth, bisa juga kalau kita meneliti ayat ini maka di sana ada sifat yang lain, bahkan ada nama Allāh ﷻ yaitu Lafdzul Jalalah, disana ada sifat sakhoth sukhth, ada sifat ridhwan, ada sifat ihbath, demikian pula ayat yang sebelumnya bisa juga diambil sifat ghodhob, sifat la’nah, kemudian juga Lafdzul Jalalah, ada nama Allāh ﷻ Lafdzul Jalalah dan ada sifat Al-Uluhiyah. Kemudian setelahnya

فَلَمَّآ ءَاسَفُونَا ٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ فَأَغۡرَقۡنَٰهُمۡ

(الزخرف – 55)

Maka ketika mereka membuat marah Kami, yaitu fir’aun dan juga bala tentaranya, ءَاسَفُونَا artinya adalah membuat marah Kami, Al-Asaf ini adalah sifat yang terkandung dalam ءَاسَفُون maknanya adalah syiddatul ghodhob yaitu kemarahan yang besar, berarti bersama dengan sukhthun atau sakhoth tadi. Dan di sana ada makna yang lain dari Al-Asaf yaitu syiddatul huzn, jadi kalimat asaf ada dua makna ada syiddatul ghodhob ada syiddatul huzn, ada kemarahan yang sangat ada kesedihan yang sangat, dari mana kita tahu dan bagaimana kita mengartikan, dilihat konteksnya tentunya.

Ketika di sini

فَلَمَّآ ءَاسَفُونَا ٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ

Ketika mereka membuat marah Kami maka Kami pun menghukum mereka, فَأَغۡرَقۡنَٰهُم kami pun menenggelamkan mereka berarti di sini apa Syiddatul Al-Ghodhob. Di sana ada syiddatul hizn dan juga dalam firman Allāh ﷻ yang lain tadi

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗا

Ini maksudnya adalah marah yang sangat, dan dia menguatkan ghodhban, sebelumnya ghodhban itu sudah menunjukkan haal yaitu keadaan dia marah, ditambah lagi dengan Asifan ini menguatkan.
Adapun dalam firman Allāh ﷻ

يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ

yang diucapkan oleh Nabi ﷺ Ya’qub ketika sedih dengan perginya Yusuf, dia mengatakan يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ, makna asaf di sini sedih yaitu syiddatul hizn, dia sangat sedih dengan apa yang terjadi, dan lain antara kesedihan dengan tidak ridho dengan takdir Allāh ﷻ. Sedih sesuatu yang tabiat, ini adalah tabiat manusia ketika dia berpisah dengan orang yang dia cintai dia bersedih dan tidak meladzimkan dari kesedihan tadi tidak Ridho dengan takdir Allāh ﷻ.

Makanya Nabi ﷺ ketika berpisah dengan Ibrahim putra beliau apa yang beliau katakan, sungguh hati ini sedih dan mata ini mengalir air mata dan sesungguhnya kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim, kami tidak mengatakan kecuali apa yang membuat ridho Allāh ﷻ. Sedih ini adalah tabiat manusia, tidak mengurangi keimanan seseorang karena sedih ini, Nabi ﷺ Ya’qub bersedih, ini adalah tabiat karena dia melihat kesholehan Yusuf dan anak yang menyejukkan mata sehingga ketika beliau kehilangan maka beliau bersedih bahkan menangis bahkan sampai buta saking sedihnya dan saking banyak air mata yang keluar dari beliau Alaihissalam.

Syahidnya disini bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Asaf, Al-Ghodhob, kemudian As-Sukhth kemudian sifat Asaf maka ini hampir sama maknanya

ٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُم

Maka kami mengadzab mereka. Berarti diantara sifat Allāh ﷻ adalah intiqa, sifat Allāh ﷻ adalah sifat intiqa, dan disini adalah sifat fi’liyyah, asaf ini juga sifat fi’liyah intiqa juga demikian, berkaitan dengan masyiatullah.

فَأَغۡرَقۡنَٰهُم

Sifat Iqghraq, yaitu menghilangkan, ini juga termasuk sifat, jadi sifat di sini bukan hanya Asaf saja tapi Iqghraq kemudian Intiqa juga sifat Allāh ﷻ dan ini adalah sifat yang kita ambil dari af’al, sifat fi’liyyah, yang kita ambil dari pekerjaan-pekerjaan Allāh ﷻ. Sehingga kalau kita membuka Al-Quran dan membuka satu halaman diantara halaman-halaman yang ada di mushaf dan kita disuruh untuk mengeluarkan di situ sifat-sifat Allāh ﷻ maka jangan lupa kita juga menyebutkan sifat-sifat fi’liyyah dan sifat-sifat fi’liyyah bagi Allāh ﷻ dalam Al-Quran banyak sekali, sifat tanzil, sifat inzal yaitu sifat menurunkan sifat Iqghraq sifat Intiqa sifat ta’dzib dan seterusnya.

^^ Kemudian setelahnya

وَقَوْلُهُ: وَلَـكِن كَرِهَ اللَّهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ

Dan akan tetapi Allāh ﷻ membenci berangkatnya mereka sehingga Allāh ﷻ akhirnya menahan mereka. Ini Allāh ﷻ berbicara tentang orang-orang munafiqin yang mereka malas untuk berjihad bersama orang-orang yang beriman, berat untuk berjihad, berat untuk mengorbankan apa yang dia miliki dalam rangka berjihad fisabilillah. Allāh ﷻ mengatakan akan tetapi Allāh ﷻ benci datangnya mereka dan ikutnya mereka dalam peperangan, Allāh ﷻ tidak senang kalau ada orang-orang munafik yang ikut berperang bersama hamba-hambanya yang sholeh, hamba-hamba yang beriman. Allāh ﷻ memerintahkan berjihad fisabilillah tapi Allāh ﷻ juga memiliki sifat benci datangnya orang-orang munafik di dalam dan ikut serta dalam jihadnya orang-orang yang beriman.

وَلَـكِن كَرِهَ اللَّهُ انبِعَاثَهُم

Sehingga Allāh فَثَبَّطَهُمْ, maka Allāh ﷻ menahan mereka, tsabbatha artinya adalah mana’ (habis) yaitu mencegah mereka, menahan mereka sehingga dijadikan oleh Allāh ﷻ mereka malas dan berat untuk mengikuti jihad, siapa yang menjadikan itu, Allāh ﷻ. Berarti di sini kita menetapkan sifat Kurh, sifat membenci, kemudian juga kita menetapkan sifat Tatsbith, yaitu menahan.

Dan diantara yang bisa kita ambil pelajaran di sini, hendaklah seorang muslim waspada ketika dia mulai malas, ketika mulai dia berat untuk melakukan amal sholeh dikhawatirkan ini adalah bentuk hudzlan, Allāh ﷻ mulai meninggalkan dia, فَثَبَّطَهُمْ, Allāh ﷻ menahan dia sehingga tidak beramal, berat bagi dia untuk mengamalkan amal shaleh, dikawatirkan ini adalah termasuk bentuk hudzlan Allāh ﷻ terhadap seseorang, Allāh ﷻ meninggalkan dia sehingga dijadikan dia berat untuk melakukan amal sholeh, berat untuk muroja’ah, berat untuk melakukan shalat malam, berat untuk menuntut ilmu.

Maka hati-hati seseorang karena ini semua sebabnya adalah karena dosa-dosa kita, karena dosa-dosa yang kita lakukan (maksiat) ini jelas berpengaruh terhadap istiqomahnya seseorang, sehingga jadilah dia orang yang malas dalam melakukan amal shaleh tetapi ketika berbuat maksiat dia semangat untuk melakukan kemaksiatan.

وَقَوْلُهُ

Dan juga Firman Allāh ﷻ

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُون

Dan sungguh besar kemarahan di sisi Allāh ﷻ kalian mengucapkan apa yang tidak kalian kerjakan.

Contoh seperti mengingkari janji, dia mengucapkan sesuatu tapi tidak dikerjakan, dia mengingkari janjinya maka kemarahan disisi Allāh ﷻ yang sangat ketika kalian mengucapkan apa yang tidak kalian lakukan. Sehingga seorang muslim ketika mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat marah maka seorang hamba yang hakiki (yang sebenarnya) ketika dia mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ yang dia sembah memiliki sifat marah dia akan berusaha untuk menghindari perkara-perkara yang membuat marah Allāh ﷻ, dia akan cari perkara-perkara apa yang membuat marah Allāh ﷻ sehingga dia bisa menghindari, ini seorang hamba Allāh ﷻ yang hakiki demikian, minimal dia benci terhadap apa yang membuat marah Allāh ﷻ dia berusaha bagaimana dia meninggalkan perkara yang membuat marah Allāh ﷻ, ketika dia melihat orang lain dan dia juga makhluk Allāh ﷻ dia melakukan sesuatu yang membuat marah Allāh ﷻ maka dia pun bersedih.

Dalam kehidupan kita sehari-hari kalau kita benar-benar, misalnya kita punya majikan atau atasan misalnya, kita sudah berusaha untuk menghindar dari perkara-perkara yang membuat marah majikan kita, kita sudah tahu sudah bertahun-tahun bermuamalah dengan beliau, dan kita tahu ini yang membuat beliau tidak senang dan seterusnya, ketika melihat rekan kita melakukan perkara yang membuat murka atasan kita, kita tidak senang, kita ingatkan dia, fulan jangan engkau melakukan yang demikian nanti bapak marah, nanti bapak akan demikian dan demikian, itu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Maka seorang hamba Allāh ﷻ yang sebenarnya minimal dia akan benci segala sesuatu yang membuat murka Allāh ﷻ, dan benci juga orang lain melakukan perkara-perkara yang membuat murka Allāh ﷻ, ini seorang hamba yang sebenarnya dan dia senang apa yang membuat ridho Allāh ﷻ dan senang juga dan bahagia dan gembira ketika orang lain melakukan perkara yang membuat ridho Allāh ﷻ. Melihat si fulan Masya Allāh dia rajin dalam shalat berjama’ah, rajin dalam menuntut ilmu, atau si Fulan seorang da’i misalnya, temannya seorang dai Masya Allāh ﷻ dia rajin dalam menyampaikan ta’lim kepada manusia, maka dia kembali kepada dirinya ini termasuk perkara yang membuat ridho Allāh ﷻ maka dia berusaha untuk mencintai si Fulan karena dia melakukan perkara yang membuat ridho Allāh ﷻ yang dia sembah, ini seorang hamba yang hakiki mengikuti ridho Allāh ﷻ dan senang apabila orang lain mengikuti dan melakukan perkara yang membuat ridho Allāh ﷻ.

Dan sesuatu yang tercela kalau seseorang mengaku dia hamba Allāh ﷻ tapi dia mencintai sesuatu yang dibenci oleh Allāh ﷻ dan Rasul-Nya, atau sebaliknya dia membenci sesuatu yang dicintai oleh Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya, ini kebalikan, harusnya dia sebagai seorang hamba mengikuti keridhoan Allāh ﷻ, senang dengan apa yang membuat ridho Allāh ﷻ dan benci dengan apa yang mau membuat kebencian Allāh ﷻ dan kemurkaan Allāh ﷻ, bukan justru sebaliknya.

Ini di antara pelajaran yang bisa kita ambil, karena Allāh ﷻ memiliki sifat marah sesuai dengan keagungan-Nya maka kita sebagai seorang hamba Allāh ﷻ berusaha untuk menjauhi perkara-perkara yang membuat murka Allāh ﷻ. Kita ambil pelajaran dari umat-umat terdahulu apa yang menjadikan mereka dimurkai, contoh di sini tadi orang yang membunuh tanpa hak ini membuat murka Allāh ﷻ, kemudian apa yang dilakukan oleh orang-orang munafiqin berupa kenifaqan membuat murka Allāh ﷻ, kemudian juga seseorang mengingkari janjinya ini membuat murka Allāh ﷻ, dan apa yang dilakukan oleh Firaun dan juga bala tentaranya ini membuat murka Allāh ﷻ karena mereka mendustakan ayat-ayat Allāh ﷻ mendustakan Nabi-Nya, dan perkara-perkara yang lain ini termasuk pengamalan terhadap sifat Al-Ghodhob yang kita pelajari ini.

Jadi seorang muslim bukan hanya sekedar dia membaca ayat-ayat tentang Ghodhob, Allāh ﷻ memiliki sifat Ghodhob, kemudian berlalu begitu saja, tapi orang belajar ingin mengamalkan, kalau Allāh ﷻ memiliki sifat ini berarti Ana harus menjauhi perkara yang membuat murka Allāh ﷻ, apa yang membuat murka Allāh ﷻ ada dalil-dalilnya dan disebutkan diantaranya adalah dalam kitab ini, dan secara umum maksiat dengan berbagai jenisnya ini membuat murka Allāh ﷻ atau membuat kemarahan Allāh ﷻ, apalagi dosa kufur, syirik, nifaq, bid’ah maka seorang muslim menghindari perkara-perkara yang membuat murka Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 23

Halaqah 23 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Menunjukkan Sifat Marah Bagi Allāh ﷻ Bagian 1

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-23 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Insya Allāh kita lanjutkan dan masuk pada pembahasan yang baru yaitu dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Al-Ghodhob, sifat marah. Dalil-dalil yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalamnya ada penetapan sifat Allāh ﷻ yaitu Al-Ghodhob, dan makna Al-Ghodhob adalah marah dan As-Sakht atau As-Shukhtu dan maknanya adalah Siddatul Ghodhob (kemarahan yang sangat), demikian pula sifat ridho dan sifat Al-Asaf ini juga maknanya Siddatul Ghodhob kemarahan yang sangat dan dalil tentang bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Al-Qur yaitu benci dan At-Tatsbith yaitu menahan, dan disana ada sifat Al-Maqt, ini adalah sifat-sifat yang terkandung dalam ayat-ayat yang dibawakan oleh Muallif.

Digabungkan di sini ayat yang menunjukkan tentang sifat ghodhob sifat Sakht, sifat Al-Asaf sifat Al-Maqt karena maknanya mutaqarib, maknanya hampir sama, dekat. Al-Ghodhob adalah marah kalau sukhtun artinya adalah Syiddatul Ghodhob yaitu kemarahan yang sangat, demikian pula makna asaf, maka termasuk bagusnya di dalam penulisan semua ini di gabungkan jadi satu dan didekatkan karena maknanya hampir sama. Adapun ayat yang pertama

وَقَوْلُهُ

Dan firman Allāh ﷻ

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا

Dan barangsiapa yang membunuh seorang yang beriman, seorang muslim dan yang dimaksud dengan مُؤْمِنًا di sini adalah orang yang memiliki keimanan, baik seorang mukmin yang tinggi keimanannya ataupun yang rendah, seorang muslim yang penting dia muslim dan dia memiliki ashlul Iman, memiliki pokok-pokok dari keimanan, yang kita tahu bahwasanya hukumnya adalah haram karena darah seorang muslim adalah diharamkan sebagaimana dalam hadits

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ

Sesungguhnya darah-darah kalian dan harta-harta kalian dan kehormatan-kehormatan kalian adalah haram atas kalian, yaitu tidak boleh kita membunuh saudara seislam, mengambil hartanya tanpa hak, merusak kehormatannya. Bagaimana hukum orang yang membunuh seorang muslim yang sudah dijaga oleh Allāh ﷻ, dia adalah jiwa yang ma’sūmah, jiwa yang dijaga oleh Allāh ﷻ, Allāh ﷻ yang telah menciptakannya dan Allāh ﷻ yang telah menghidupkannya, menghidupkannya dengan nyawa dan menghidupkan hatinya dengan Islam dengan iman.

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا

Barangsiapa yang membunuh seorang muslim, dan ini masuk juga laki-laki maupun wanita baik yang dewasa maupun yang anak kecil, yang jelas dia adalah seorang yang muslim

مُّتَعَمِّدًا

dalam keadaan dia sengaja, sengaja membunuhnya, sadar bahwasanya ini adalah seorang muslim dan dia membawa atau melakukan sesuatu yang memang kalau dikenakan kepada orang tersebut akan meninggal dunia, di tebas lehernya atau ditusuk jantungnya atau diracun atau dibakar berarti di sini membunuh dengan sengaja (مُّتَعَمِّدًا).

Berarti di sana ada membunuh yang tidak disengaja, maka ini hukumnya berbeda, sengaja dengan tidak sengaja berbeda, orang yang membunuh secara tidak sengaja mungkin dia ada pertengkaran, dia melakukan sesuatu tapi kebanyakan kalau di gitukan saja itu orang tidak meninggal, kok tahu-tahu ini meninggal maka ini berarti khoto’, atau maksudnya adalah seorang yang misalnya dia memanah misalnya, yang dia tuju adalah seekor buruan tapi salah sehingga tidak sengaja terkena seorang yang beriman, berarti di sini membunuhnya adalah karena sebuah kesalahan, ini hukumnya lain tentunya tidak sama antara orang yang sengaja membunuh dengan orang yang tidak sengaja.

Bagaimana dengan orang yang sengaja dan dia menyadari dan melakukan usaha, melakukan perbuatan yang memang dengannya bisa membunuh orang ini adalah dosa yang besar, Allāh ﷻ menghidupkan kemudian ada seorang makhluk mematikannya tanpa haq, disisi Allāh ﷻ ini adalah dosa yang besar, termasuk dosa-dosa besar yang disayangkan banyak orang yang bermudah-mudahan.

Kalau kita membaca berita hampir setiap hari ada saja orang yang melakukan pembunuhan padahal di negeri yang mayoritas mereka adalah muslim seakan-akan membunuh nyawa atau membunuh manusia ini seperti membunuh seekor hewan, padahal dia adalah seorang muslim yang memiliki kedudukan di sisi Allāh ﷻ yang di sebutkan di dalam hadits, sungguh hilangnya dunia dan seisinya ini lebih ringan di sisi Allāh ﷻ daripada terbunuhnya jiwa seorang muslim.

Hilangnya dunia ini antum bayangkan, hilangnya dunia dan seisinya, apa yang ada di dunia ini berupa perkara-perkara yang di mata manusia itu adalah sangat berharga tapi di sisi Allāh ﷻ hilangnya dunia ini lebih ringan daripada terbunuhnya seorang muslim, keislaman dia mengangkat dia sehingga dia memiliki kedudukan di sisi Allāh ﷻ maka bagaimana seseorang bermudah-mudahan menghilangkan nyawa seseorang, seorang muslim atau muslimah dia adalah temannya atau istrinya atau suaminya atau anaknya, sehingga tidak heran apabila di dalam Islam orang yang membunuh dengan sengaja maka di sana ada qishosh, yaitu dibunuh dia

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡقِصَاصُ فِي ٱلۡقَتۡلَىۖ

Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian adanya qishosh di dalam orang-orang yang terbunuh

ٱلۡحُرُّ بِٱلۡحُرِّ وَٱلۡعَبۡدُ بِٱلۡعَبۡدِ وَٱلۡأُنثَىٰ بِٱلۡأُنثَىٰۚ

[Al-Baqarah:178]

Orang yang merdeka dengan orang yang merdeka, seorang budak dengan seorang budak, dan seorang wanita dengan seorang wanita.

وَلَكُمۡ فِي ٱلۡقِصَاصِ حَيَوٰةٞ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ

[Al-Baqarah:179]

Dan bagi kalian di dalam qishosh itu ada kehidupan wahai orang-orang yang memiliki akal.

Artinya di dalam qishosh ini ada hikmah, ada hikmah yang dalam yaitu menjaga kehidupan manusia, karena orang yang terbiasa melakukan pembunuhan atau sekali dia melakukan pembunuhan, terkadang masalahnya adalah masalah yang sepele, rebutan tempat kemudian dia membunuh, orang yang terbiasa atau sekali dia membunuh maka setelahnya sangat mudah bagi dia untuk membunuh lagi bukan sesuatu yang berat bagi dia, sekali dia membunuh kalau ada masalah lagi dengan mudah dia akan membunuh, sudah terbiasa melihat darah sudah terbiasa dia mencincang orang, memotong lehernya, memotong tangannya dan seterusnya, sehingga banyak kasus dia ketahuan membunuh kemudian ternyata sebelumnya sudah membunuh belasan orang, ketahuan baru yang kesekian. Dan sejarah juga menyatakan demikian, ada sebagian orang yang dikenal puluhan ribu manusia meninggal karena perintah dia, bukan sesuatu yang berat bagi dia untuk mengatakan bunuh si fulan gantung si fulan dan seterusnya.

Di dalam sebuah ayat Allāh ﷻ mengatakan

مِنۡ أَجۡلِ ذَٰلِكَ كَتَبۡنَا عَلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا 

Orang yang membunuh sebuah jiwa bukan karena dia membunuh jiwa yang lain, أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ tanpa sebab kerusakan di bumi maka dia seperti orang yang yang membunuh seluruh manusia

وَمَنۡ أَحۡيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحۡيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعٗاۚ 

[Al-Ma’idah:32]

Dan barangsiapa yang menghidupkan sebuah jiwa maka dia seperti menghidupkan seluruhnya.

Orang yang membunuh sekali tanpa sebab maka dengan mudah dia akan membunuh yang lain, dan kita tidak akan nyaman kalau kita tahu bahwasanya si fulan pernah membunuh tanpa hak kemudian kita dan dia tinggal dalam satu RT satu RW misalnya, dia berkeliaran dengan senjatanya misalnya atau dengan kedzoliman dia berkeliaran di jalan bertemu dengan manusia, siapa diantara kita yang tenang hidup bersama orang seperti itu, yang sewaktu-waktu dia bisa kalau naik pitam dan kalau dia marah kalau dia ingin dia membunuh orang lain, sehingga dalam Islam ditegakkan di sana qishosh. Itu hukuman di dunia.

فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا

[An-Nisa’:93]

Orang yang membunuh seorang yang beriman dengan sengaja maka balasannya adalah jahannam خَٰلِدٗا فِيهَا . Dan ini menunjukkan bahwasanya ini adalah dosa besar, ketika sebuah dosa diancam dengan neraka atau jahanam ini menunjukkan bahwasanya dosa itu adalah termasuk dosa besar. Pelaku dosa besar kalau dia tidak bertobat dari dosanya sebelum dia meninggal dunia maka di hari kiamat dia tahta masyiatillāh, dia berada di bawah kehendak Allāh ﷻ, kalau Allāh ﷻ menghendaki Allāh ﷻ mengampuni dosa membunuhnya ini dan kalau Allāh ﷻ menghendaki maka Allāh ﷻ akan memasukkan dia ke dalam jahanam untuk diadzab sementara disana.

Diazab sementara lalu apa makna firman Allāh ﷻ

خَٰلِدٗا فِيهَا

Dia dalam keadaan kholid di dalamnya, bukankah kholid artinya mereka adalah kekal di dalam neraka? Para ulama di sini memiliki penjelasan dan juga pengarahan bahwasanya Al-khulud di dalam bahasa Arab terkadang maknanya adalah selamanya didalam neraka dan terkadang maknanya adalah al-khulud disini adalah tinggal di dalam neraka dalam waktu yang sangat lama sehingga dinamakan dengan khulud, mereka tinggal lama di dalam neraka dan ini adalah menunjukkan tentang adzab yang pedih yang diterima oleh orang yang membunuh tanpa hak.

Dan tinggal di dalam neraka sebentar, adzab dan kepedihan yang sangat, kita di dunia menaruh ujung jari kita di atas api dalam waktu satu detik saja kita tidak mampu atau kita merasa kepanasan, satu detik saja, lalu bagaimana kalau lebih daripada itu, sepuluh detik, satu menit, lima menit, itu baru neraka dunia. Dan disebutkan dalam hadits bahwasanya neraka yang ada pada kita di dunia ini itu adalah satu diantara tujuh puluh bagian neraka di akhirat, menunjukkan bahwasanya suhu api di sana jauh lebih tinggi daripada api yang ada di dunia ini, yang seperti ini saja kita tidak tahan lalu bagaimana seandainya suhunya dilipatgandakan menjadi tujuh puluh kali.

Seandainya seseorang berada dalam tempat tersebut satu hari saja maka ini adalah sesuatu yang sangat mengerikan, lalu bagaimana seandainya dia tinggal di sana dalam waktu yang sangat lama خَٰلِدٗا فِيهَا artinya adalah tinggal yang sangat lama, menunjukkan tentang bagaimana besarnya dosa orang yang membunuh tanpa hak, yang harusnya seseorang muslim takut dengan masalah ini, takut kepada Allāh ﷻ jangan sampai dia bermudah-mudahan didalam membunuh. Dan Allāhua’lam diantara sebab mudahnya seseorang melakukan pembunuhan di zaman sekarang adanya tontonan-tontonan yang di situ di ajarkan tentang kekerasan, pembunuhan, peperangan bahkan di dalam permainan-permainan juga di sana ada melatih atau mencontohkan kepada anak-anak kekerasan-kekerasan tersebut, sehingga sebagian mempraktekkan ini kepada temannya.

Satu orang misalnya karena mereka habis melihat tontonan yang di situ ada pengeroyokan dan seterusnya, satu orang temannya melakukan kesalahan kemudian di keroyok ramai-ramai, dipukulin ramai-ramai dan mereka tidak sadar ternyata temannya ini sudah terluka, kepalanya terluka ininya dan itu sehingga dia meninggal dunia, maka waspada seseorang dari permainan-permainan seperti ini. Kemudian خَٰلِدٗا فِيهَا, dia kekal di dalamnya

وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُ

Dan Allāh ﷻ akan marah kepadanya, dan disini syahidnya Allāh ﷻ akan marah kepadanya, menunjukkan bahwasanya di antara sifat Allāh ﷻ adalah Ghodhob, dan Ghodhob atau marah ini adalah sifat fi’liyyah yang berkaitan dengan Dzat Allāh ﷻ dan Dia termasuk sifat Khobariyyah, fi’liyyah khobariyah, Fi’liyyah karena dia berkaitan dengan Masyiatullah, Allāh ﷻ marah kepada siapa yang di kehendaki dan kapan Dia kehendaki, dan Dia termasuk sifat yang Khobariyyah karena sifat Ghodhob ini tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil sehingga dia adalah sifat fi’liyyah khobariyyah.

وَلَعَنَهُ

Dan Allāh ﷻ melaknatnya.

Sebelumnya ketika kita menetapkan sifat ghodhob (marah) bagi Allāh ﷻ maka kita menetapkan sifat ghodhob tersebut, marah tersebut sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ, tidak sama dengan marah yang dimiliki oleh makhluk. Sebagian Ahlul bid’ah mereka menolak sifat ghodhob, ada yang menafikannya seperti mu’tazilah, ada yang menta’wilnya dengan irodah, lagi-lagi mereka menta’wilnya dengan irodah yaitu keinginan untuk mengadzab, mereka ta’wil dengan irodah mengatakan bahwasanya ghodhob (marah) inikan yang namanya marah itukan mendidihnya darah padahal Allāh ﷻ kan tidak punya darah kata mereka, sehingga kalau kita mensifati Allāh ﷻ dengan Ghodhob berarti kita mensifati bahwasanya Allāh ﷻ punya darah dan seterusnya, dan darah tersebut mendidih kemudian terjadilah yang dinamakan dengan marah, maka ini ucapan yang bathil.

Tidak meladzimkan ketika kita mensifati Allāh ﷻ dengan Ghodhob bahwasanya Allāh ﷻ memiliki apa yang dimiliki oleh makhluk berupa darah, kita katakan Allāh ﷻ marah sesuai dengan keagungannya tidak sama dengan marahnya makhluk, makhluk mereka marah dan Allāh ﷻ memiliki sifat marah dan marahnya Allāh ﷻ tidak sama dengan marahnya makhluk. Didalam Al-Quran Allāh ﷻ mengatakan

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنَادَوۡنَ لَمَقۡتُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُ مِن مَّقۡتِكُمۡ أَنفُسَكُمۡ

[Ghafir:10]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir akan dipanggil, sungguh kemarahan Allāh ﷻ lebih besar daripada kemarahan kalian terhadap diri kalian sendiri.

Jadi saat itu orang-orang kafir mereka benci dan marah terhadap diri mereka sendiri, menyesal karena mereka di dunia mengikuti hawa nafsunya, tidak beriman, kufur, akhirnya di hari tersebut, di hari kiamat mereka marah pada diri mereka sendiri dan kemarahan Allāh ﷻ kepada mereka lebih besar, ini menunjukkan bahwasanya makhluk juga memiliki sifat maqt. Dan Allāh ﷻ mengatakan

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗا

Dan ketika Musa kembali kepada kaumnya dalam keadaan ghodhban (dalam keadaan marah) أَسِفٗا (dengan marah yang sangat)

قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُونِي مِنۢ بَعۡدِيٓۖ

[Al-A’raf:150]

Beliau mengatakan sungguh jelek apa yang kalian lakukan setelahku (karena mereka menyembah patung seekor sapi).

Berarti makhluk memiliki sifat ghodhob tapi beda antara ghodhob yang dimiliki oleh Allāh ﷻ dengan ghodhob yang dimiliki oleh makhluk, ini qaidah akan terus berulang-ulang, itsbat bi la tamtsil, kita menetapkan tanpa kita menyerupakan, dan tanzih bi la ta’til, kita mensucikan tanpa kita meniadakan, tanpa kita menafikan sifat-sifat Allāh ﷻ.

وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُ

Dan Allāh ﷻ melaknat dia, subhanallah, diancam dengan jahanam, lama di dalam jahanam dan Allāh ﷻ marah kepadanya, dan dosa yang diiringi dengan marahnya Allāh ﷻ ini juga menunjukkan dia adalah dosa besar

وَلَعَنَهُ

Dan Allāh ﷻ melaknatnya, melaknat artinya adalah dijauhkan dari rahmat Allāh ﷻ, ini juga yang menunjukkan bahwasanya dosa ini adalah termasuk dosa besar. Para ulama ketika membicarakan tentang definisi dosa besar yaitu dosa yang diiringi dengan laknat, dengan ancaman neraka, ada hukuman di dunia, dan orang yang membunuh مُّتَعَمِّدًا (dengan sengaja) yaitu membunuh seorang muslim dengan sengaja ada hukuman di dunia yaitu qishosh, berarti terkumpul dalam dosa ini beberapa tanda yang menunjukkan bahwasanya dia adalah dosa besar.

Dan dosa besar dalam Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah ini perkara yang membahayakan akan tetapi dia tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam, bagaimana kalau dia membunuh seratus orang misalnya, sama, dosanya adalah dosa yang banyak tapi dia tidak sampai keluar dari agama Islam. Di dalam sebuah ayat Allāh ﷻ mengatakan

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱقۡتَتَلُواْ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَاۖ فَإِنۢ بَغَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا عَلَى ٱلۡأُخۡرَىٰ فَقَٰتِلُواْ ٱلَّتِي تَبۡغِي حَتَّىٰ تَفِيٓءَ إِلَىٰٓ أَمۡرِ ٱللَّهِۚ

[Al-Hujurat:9]

Kalau ada dua kelompok dari kalangan orang-orang yang beriman, ٱقۡتَتَلُواْ saling membunuh saling berperang satu dengan yang lain, ٱقۡتَتَلُواْ artinya adalah saling membunuh satu dengan yang lain, masing-masing membawa pedang masing-masing membawa senjata ingin membunuh saudaranya, Allāh ﷻ mengatakan

فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَاۖ

Hendaklah kalian damaikan diantara keduanya. Di sini Allāh ﷻ masih mensifati dua kelompok ini dengan iman.

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

Dari kalangan orang-orang yang beriman, berarti mereka tidak kufur, mereka masih disifati sebagai orang yang beriman. Dan dalam ayat

فَمَنۡ عُفِيَ لَهُۥ مِنۡ أَخِيهِ شَيۡءٞ

Barangsiapa yang diampuni atau dimaafkan oleh saudaranya, yaitu dimaafkan oleh wali-wali dari yang terbunuh tadi, maka hendaklah dia

فَٱتِّبَاعُۢ بِٱلۡمَعۡرُوفِ

[Al-Baqarah:178]

Hendaklah mereka mengikuti itu dengan kebaikan, dan di sini Allāh ﷻ masih mensifati orang yang membunuh tadi sebagai Akhi (saudara) yaitu saudara seislam.

Saking besarnya dosa membunuh ini sampai sebagian sahabat ada yang mengatakan bahwasanya orang yang membunuh ini tidak diterima taubatnya karena melihat betapa besarnya dosa membunuh ini, dan ini diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas dan juga yang lain dan Allāhu A’lam ini dibawa kepada keras didalam memberikan peringatan, supaya manusia tidak bermudah-mudahan dalam membunuh, dan yang shahih tentunya bahwasanya sebesar apapun dosa bahkan seandainya itu adalah dosa kekufuran kalau seseorang bertaubat kepada Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ akan mengampuni. Dalam sebuah hadits

من تاب تاب الله عليه

Barangsiapa yang bertaubat maka Allāh ﷻ akan memberikan taubat kepadanya. Dan Allāh ﷻ mengatakan

قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ

[Az-Zumar:53]

Sesungguhnya Allāh ﷻ mengampuni dosa semuanya, kalau dia yaitu orang yang melakukan pembunuhan tadi bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuha maka Allāh ﷻ akan mengampuni dosanya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

(QS. At-Tahrim : 8)

Dan sudah berlalu bahwasanya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang banyak bertaubat kepada Allāh ﷻ, dia membunuh sebanyak apapun kalau dia bertaubat kepada Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ mencintai orang yang bertaubat kepada-Nya. Cuma perlu diketahui bahwasanya orang yang membunuh ini bukan hanya melakukan pelanggaran terhadap hak Allāh ﷻ, ada tiga hak yang berkaitan dengan orang yang membunuh ini. Pertama adalah hak Allāh ﷻ, kemudian adalah hak wali yaitu hak wali dari yang terbunuh, kemudian yang ketiga adalah hak orang yang terbunuh.

Hak Allāh ﷻ kalau misalnya orang yang membunuh tadi dia bertaubat kepada Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ akan menerima taubatnya, ini adalah hak Allāh ﷻ jika dia bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuha maka Allāh ﷻ akan menerima taubatnya. Hak wali, mereka berhak untuk meminta qishosh, meminta di qishosh atau mereka meminta diyat (tebusan), atau mereka memaafkan sama sekali jadi tidak meminta diyat dan seterusnya, kalau wali tadi atau wali tersebut memaafkan atau meminta diyat berarti di sini sudah terpenuhi hak wali. Kepada Allāh ﷻ dia sudah bertaubat, kalau misalnya wali mereka memaafkan di dunia dan tidak sampai di qishosh maka di sini dia sudah memenuhi hak Allāh ﷻ dan sudah memenuhi hak wali.

Tinggal yang ketiga hak orang yang terbunuh tadi, ini tidak bisa tentunya di dunia tapi tunggu di hari kiamat, karena disebutkan di dalam hadits bahwasanya orang yang terbunuh nanti akan didatangkan, disini dalam sunan An-Nasa’i, Rasulullāh ﷺ mengatakan

يجيء المقتول بالقاتل يوم القيامة

Orang yang terbunuh akan datang membawa orang yang membunuhnya dihari kiamat, ini keadilan Allāh ﷻ

فيقول

Dia mengatakan

سل هذا فيم قتلني

Tanyalah ini yah Allāh ﷻ kenapa dia membunuhku, dia mengatakan

قتلته على ملك فلان

Aku membunuhnya karena milik si fulan.

Yang bisa kita ambil pelajaran di sini bahwasanya kelak orang yang dibunuh, yaitu di hari kiamat akan mendatangkan orang yang membunuh dan akan terjadi di sana hisab diantara mereka, berarti tinggal hak ini dia tunggu kapan sampai di hari kiamat, maka ini adalah tiga hak yang ada yang menjadi kewajiban orang yang membunuh, kewajiban untuk bertobat kepada Allāh ﷻ, kewajiban kepada wali dan juga kewajiban dia kepada orang yang dia bunuh.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 22

Halaqah 22 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Sifat Ridha Bagi Allāh ﷻ Dan Nama Allāh Ar-Rahman Ar-Rahim Dan Sifat Yang Terkandung Di Dalamnya Bagian 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-22 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau rahimahullah mendatangkan beberapa ayat yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ di antara nama-Nya adalah Ar-Rahman Ar-Rahim dan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Rahmah. Di dalam sebuah hadits, dan ini menunjukkan tentang luasnya rahmat Allāh ﷻ,

إنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَومَ خَلَقَها مِائَةَ رَحْمَةٍ

Sesungguhnya Allāh ﷻ menciptakan Rahmah, ketika Allāh ﷻ menciptakannya ada seratus rahmah. Perlu diketahui bahwasanya Rahmat ketika di sandarkan kepada Allāh ﷻ maka ini ada dua jenis, ada Rahmat yang disandarkan kepada Allāh ﷻ dan itu adalah sifat Allāh ﷻ, berarti di sini idhafatu shifah ila maushuf, menyandarkan sifat kepada yang disifati seperti misalnya Allāh ﷻ menyebutkan tentang ucapan Sulaiman Alaihissalam disini, ketika dia melihat pembicaraan semut kemudian dia tersenyum kemudian mengatakan

وَقَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ ١٩

[An-Naml:19]

Berarti disini rahmat Allāh ﷻ disandarkan kepada Allāh ﷻ, dan yang dimaksud dengan rahmat disini adalah shifah, yaitu penyandaran idhafatu shifah ila maushuf, kalau ini adalah sifat Allāh ﷻ maka sifat Allāh ﷻ bukan makhluk. Tapi disana ada rahmah yang disandarkan kepada Allāh ﷻ dan itu adalah makhluk, sebagaimana firman Allāh ﷻ dalam ayat yang lain

وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱبۡيَضَّتۡ وُجُوهُهُمۡ فَفِي رَحۡمَةِ ٱللَّهِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ١٠٧

[Aali Imran:19]

Dan adapun orang-orang yang bersinar wajah-wajah mereka maka mereka di dalam rahmat Allāh ﷻ, yaitu di dalam surga Allāh ﷻ, mereka kekal di dalamnya.

فِي رَحۡمَةِ ٱللَّه

Di dalam rahmat Allāh ﷻ di sini adalah, yang dimaksud dengan Rahmah disini adalah makhluk yang diciptakan oleh Allāh ﷻ, jadi surga Allāh ﷻ adalah rahmat Allāh ﷻ.

Makanya dalam hadits Allāh ﷻ mengatakan

أنتِ رحمتي ُ

Engkau wahai surga adalah Rahmat-Ku

أرحمُ بك مَن شئت

Aku merahmati denganmu siapa yang Aku kehendaki. Dan Allāh ﷻ mengatakan

يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِ

Allāh ﷻ memasukkan siapa yang dikehendaki di dalam rahmat-Nya, yaitu ke dalam surga, berarti ini adalah rahmat Allāh ﷻ yang merupakan makhluk Allāh ﷻ, idhafatu al-makhluq ila khaliqihi, mengidhofakan makhluk kepada yang menciptakan.

Hadits yang kita sebutkan disini, Allāh ﷻ ketika menciptakan rahmat dan rahmat disini berarti Rahmat yang makhluk bukan sifat Allāh ﷻ, Allāh ﷻ menciptakan seratus Rahmat, kalau Rahmah yang merupakan sifat Allāh ﷻ

وَسِعَتْ كُلَّ شَيْء

meliputi segala sesuatu. Seratus Rahmah ini

فأمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وتِسْعِينَ رَحْمَةً

Allāh ﷻ tahan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan Rahmah, ditahan disisi Allāh

وأَرْسَلَ في خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً واحِدَةً

Dan Allāh ﷻ mengutus untuk makhluk-Nya semuanya satu Rahmat saja, satu Rahmat Allāh ﷻ kirimkan kepada makhluk-Nya semuanya

فلوْ يَعْلَمُ الكافِرُ بكُلِّ الذي عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ، لَمْ يَيْئَسْ مِنَ الجَنَّةِ

Seandainya orang yang kafir mengetahui tentang rahmat Allāh ﷻ yang ada di sisi ini, yang sembilan puluh sembilan tadi, niscaya dia tidak akan putus asa untuk masuk kedalam surga, kalau mereka melihat dan mengetahui tentang sembilan puluh sembilan rahmat Allāh ﷻ

ولو يَعْلَمُ المُؤْمِنُ بكُلِّ الذي عِنْدَ اللَّهِ مِنَ العَذابِ، لَمْ يَأْمَن مِنَ النَّارِ

Seandainya orang yang beriman, sebaliknya, kalau dia mengetahui segala azab yang ada di sisi Allāh ﷻ, kalau dia melihat dan mengetahui azab yang ada di sisi Allāh ﷻ, maka dia tidak akan merasa aman dari neraka.

Didalam hadits yang lain Beliau ﷺ mengatakan

إن لله مائة رحمة أنزل منها رحمة واحدة بين الجن والإنس والبهائم والهوام، فيها يتعاطفون، وبها يتراحمون

Sesungguhnya Allāh ﷻ memiliki seratus Rahmah, Allāh ﷻ turunkan diantaranya satu Rahmat dan itu disebar di antara Jin, mereka saling menyayangi, di antara manusia di antara hewan ternak di antara hewan-hewan yang melata,

فيها يتعاطفون

dengan rahmat yang satu ini yang sudah dibagikan oleh Allāh ﷻ untuk mereka semuanya, mereka saling mencintai satu dengan yang lain,

وبها يتراحمون

dengannya mereka saling menyayangi satu dengan yang lain, kasih sayang ada pada diri kita kepada orang lain itu adalah bagian dari rahmat Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ turunkan tadi, itu semuanya adalah Rahmat yang satu yang Allāh ﷻ turunkan.
Kalau kita memperhatikan bagaimana kasih sayang ibu kepada anaknya yang luar biasa, kecintaan orang tua kepada anaknya, kecintaan seorang istri kepada suaminya, suami kepada istrinya, itu kalau di kumpulkan seluruh manusia dari zaman dulu sampai sekarang dan hari kiamat bagaimana jumlah Rahmat tadi, jumlah kasih sayang tadi.

وبها تعطف الوحش على ولدها

Dengan Rahmat tadi seekor hewan yang buas menyayangi anaknya. Itu semua adalah satu Rahmat yang Allāh ﷻ berikan kepada makhluk semuanya, termasuk diantaranya adalah Rahmat yang turun kepada kita berupa rezeki, berupa kesehatan, dijaga dari bencana maka ini adalah satu saja di antara seratus rahmat Allāh ﷻ

وأخر الله تسعا وتسعين رحمة يرحم بها عباده يوم القيامة

Dan Allāh ﷻ mengakhirkan sembilan puluh sembilan Rahmah (berarti rahmah disini adalah makhluk, rahmat yang makhluk) dengannya Allāh ﷻ menyayangi hamba-hamba-Nya di hari kiamat.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana Allāh ﷻ yang satu Rahmat saja demikian besarnya kita melihatnya, demikian besarnya kita merasakan rahmat Allāh ﷻ yang satu ini di dunia, lalu bagaimana dengan sembilan puluh sembilan Rahmat yang Allāh ﷻ akhirkan dan itu Allāh ﷻ sayangi dengannya hamba-hamba-Nya di hari kiamat.

Maka seorang muslim seharusnya dia memiliki roja’ terhadap rahmat Allāh ﷻ, tidak putus asa terhadap rahmat Allāh ﷻ, sikap dan juga sifat seorang yang beriman yang dia membaca Al-Quran dan mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ wasi’at rahmatuhu kulla syai’ maka dia senantiasa mengharap dan mengharap rahmat Allāh ﷻ.
Tidak ada kata dan tidak ada rumus di dalam dirinya atau dalam kehidupan dia putus asa dari rahmat Allāh ﷻ, musibah sebesar apapun dan kesulitan sesulit apapun ketika dia beriman bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Ar-Rahman Ar-Rahim dan bahwasanya Rahmat-Nya dalam meliputi segala sesuatu maka dia senantiasa memiliki harapan dan memiliki harapan Rahmat dari Allāh ﷻ. Sehingga di dalam Al-Qur’an Allāh ﷻ mengatakan mensifati orang-orang yang beriman

يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ

[Surah Al-Isra’:57]

Mereka adalah orang-orang yang mengharap rahmat Allāh ﷻ, menghadapi segala perkara dan menghadapi segala musibah ataupun kenikmatan maka dia senantiasa mengharap rahmat Allāh ﷻ, dan rahmat Allāh ﷻ lebih dia harapkan daripada amal shalehnya, dia beramal dia beribadah tapi dia mengetahui bahwasanya amal ibadah yang dia lakukan ini penuh dengan kekurangan, dia mengetahui yang demikian, dia mengetahui tentang kekurangan dia dan kekurangan ibadahnya dan juga amalannya, sehingga dalam doa mungkin bisa dilihat lagi apakah ini ma’tsur dari Nabi ﷺ atau tidak

وَرَحْمَتُكَ أَرْجَى عِنْدِيْ مِنْ عَمَلِيْ

Dan rahmat-Mu ya Allāh ﷻ itu lebih saya harapkan daripada amalanku, kasih sayang-Mu ya Allāh ﷻ lebih aku harapkan daripada amalanku. Seseorang jangan dia terlalu berharap dan sangat berharap dari amalannya, amalannya penuh dengan kekurangan, kalau bukan karena rahmat Allāh ﷻ amalan yang kita lakukan ini tidak ada bandingannya, tidak bisa menjadi ganti dari surga yang Allāh ﷻ berikan kepada kita.

Seandainya kita berpikir misalnya satu rahmat Allāh ﷻ atau satu nikmat yang Allāh ﷻ berikan kepada kita berupa penglihatan, kalau dibandingkan amal yang kita lakukan dengan nikmat yang berupa penglihatan ini niscaya amalan yang kita lakukan yang begitu banyaknya mungkin tapi penuh dengan kekurangan tidak bisa mengganti nikmat penglihatan, belum lagi nikmat pendengaran, belum lagi nikmat pernapasan, belum lagi nikmat bisa mencerna makanan, untuk mengganti kenikmatan-kenikmatan dunia saja tidak cukup dengan amalan yang kita lakukan.

Bahkan ketika kita beramal menggunakan nikmat Allāh ﷻ, antum shalat, antum sedekah itu dari nikmat Allāh ﷻ juga, bagaimana kita bisa mengganti nikmat Allāh ﷻ yang ada di dunia ini dengan amal yang kita gunakan sementara kita beribadah itu adalah juga merupakan nikmat Allāh ﷻ. Lalu bagaimana bisa seseorang mengharap dia mengganti nikmat yang ada di dalam surga dengan amalan-amalannya, bukan, kita masuk ke dalam surga adalah dengan rahmat Allāh ﷻ bukan ganti dari amalan-amalan kita, amalan kita hanyalah sebab, kita disuruh untuk beriman dan kita disuruh untuk beramal sebagai sebab saja, sebagai sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Allāh ﷻ mengatakan

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤئًا ۢبِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۙ
جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

ب di sini adalah ba’ yang sababiyah, yaitu bahwasanya amalan kita adalah sebab masuknya kita ke dalam surga tapi bukan ganti. Di dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan

لَنْ يَدْخُلَ الْـجَنَّةَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ

Salah seorang diantara kalian tidak masuk surga dengan amalannya, surga ini bukan ganti dari amalannya, kemudian mereka mengatakan

وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

Engkau juga demikian wahai Rasulullāh ﷺ? Beliau ﷺ mengatakan

وَلاَ أَنَ

Aku juga, yaitu aku juga demikian artinya aku masuk surga bukan karena ganti dari amalan yang aku lakukan di dunia, padahal Nabi ﷺ jelas amalan Beliau ﷺ adalah amalan yang paling baik, iman Beliau ﷺ adalah amalan yang paling tinggi tapi itu bukan kemudian surga ini menjadi ganti dari iman dan juga amalan Beliau ﷺ, yang menjadikan kita masuk ke dalam surga adalah rahmat Allāh ﷻ

إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

Kecuali Allāh ﷻ memberikan kepadaku dan meliputi aku dengan rahmat-Nya. Demikian kita semua masuk ke dalam surga Allāh ﷻ adalah dengan rahmat Allāh ﷻ. Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan

رَحْمَتَكَ أَرْجُو

Rahmat-Mu Ya Allāh ﷻ yang aku harapkan, kita beriman kita beramal ini adalah sebab tapi rahmat Allāh ﷻ itulah yang lebih kita harapkan daripada amal yang kita lakukan.

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا

Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Dan Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Menyayangi orang-orang yang beriman. Dan ini adalah rahmah yang khasah, rahmah yang khusus yang Allāh ﷻ khususkan bagi orang-orang yang beriman sebagaimana tadi sudah kita sebutkan contohnya, yaitu nikmat hidayah, nikmat menempuh jalan yang lurus, nikmat mengikuti sunnah Nabi ﷺ, nikmat taubat, maka ini adalah rahmat Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ khususkan bagi orang-orang yang beriman, surga juga demikian. Kemudian, dan Allāh ﷻ mengatakan

ْكَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ

Allāh ﷻ telah menetapkan atas diri-Nya, mewajibkan atas diri-Nya rahmah. Allāh ﷻ menetapkan atau bisa juga mewajibkan atas diri-Nya Rahmah, dan Allāh ﷻ mewajibkan atas diri-Nya apa yang Dia kehendaki dan makhluk tidak boleh mewajibkan kepada Allāh ﷻ, disini Allāh ﷻ mewajibkan atas diri-Nya dan dalam hadits kudsi Allāh ﷻ mengharamkan atas diri-Nya kedzoliman

يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا

Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya Aku mengharamkan atas diri-Ku kedzaliman, Allāh ﷻ mengharamkan atas diri-Nya kedzaliman dan Allāh ﷻ mewajibkan atas dirinya Rahmat yaitu menyayangi.

Didalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan

إِنَّ الله لمّا خلق الله الخلق كتب في كتابِ

Allāh ﷻ ketika menciptakan makhluk-Nya Allāh ﷻ menulis sebuah tulisan atau mewajibkan

فهو عنده فوق العرش

Dan itu disisi-Nya berada di atas Arsy

إن رحمتي سَبَقَتْ غَضَبِي

Bahwasanya rahmat-Ku itu mendahului marah-Ku, menunjukkan bagaimana kebesaran kasih sayang Allāh ﷻ. Kalau seseorang mencermati nama Allāh ﷻ dan juga memperhatikan sifat rahmah yang Allāh ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an dan juga sunnah Nabi ﷺ dan dia memperhatikan apa yang ada di sekitarnya dan memperhatikan dirinya sendiri, mengulang kembali bagaimana Allāh ﷻ merahmati dari semenjak dia kecil sampai dia sekarang menjadi orang yang dewasa, bagaimana Allāh ﷻ membimbing, bagaimana Allāh ﷻ memudahkan maka akan muncul di dalam dirinya sifat optimis dan tidak putus asa, senantiasa berharap kepada Allāh ﷻ sesempit apapun keadaannya. Tidaklah berputus asa dari rahmat Allāh ﷻ kecuali orang-orang yang tidak mengenal Allāh ﷻ, bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Penyayang

ْكَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ

Allāh ﷻ telah mewajibkan atas dirinya Ar-Rahmah.
Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ

وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Dan Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Al-Ghofur nama di antara nama-nama Allāh ﷻ dan memiliki sifat Al-Ghofr, sifat yang terkandung di dalamnya adalah Al-Ghofr dan Al- Ghofr artinya adalah As-Sakr yaitu menutupi. Allāh ﷻ adalah Dzat yang sangat menutupi yaitu menutupi dosa-dosa hamba-Nya, sangat menutupi, demikian nama Allāh ﷻ Al-Ghofur.

Antum lihat pada diri antum sendiri dan kita semuanya, betapa banyak dosa-dosa yang kita lakukan Allāh ﷻ menutupi, Allāh ﷻ tutupi sehingga tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ dan juga diri kita sendiri, teman kita tidak mengetahui, istri kita tidak mengetahui, anak kita tidak mengetahui padahal kita melakukan sebuah kemaksiatan, kenapa mereka tidak mengetahui karena Allāh ﷻ menutupi, kalau Allāh ﷻ menghendaki Allāh ﷻ akan buka dosa-dosa tadi dan kemaksiatan-kemaksiatan tadi sehingga dilihat oleh orang lain tapi Allāh ﷻ Dia-lah Al-Ghofur Dia-lah Yang Maha Menutupi.

Sehingga seseorang mengatakan, memohon kepada Allāh ﷻ Allahummaghfirliy, ya Allāh ﷻ ighfirliy, diantara maknanya adalah tutupilah aku, yaitu tutupilah dosaku jangan sampai terbongkar, terbuka sehingga tersebar di media massa misalnya atau di media sosial. Allahummaghfirliy, ya Allāh ﷻ tutupilah aku, ya Allāh ﷻ tutupilah aku, kalau Allāh ﷻ menghendaki dengan caranya bisa saja aib-aib kita dan dosa-dosa kita dan maksiat kita terbongkar, apalagi di zaman sekarang seorang bisa dengan kepandaiannya bisa melacak password, bisa membongkar akun orang lain, kalau Allāh ﷻ menghendaki tinggal menggerakkan mereka sehingga terjadilah apa yang terjadi, tapi Allāh ﷻ Dia-lah Al-Ghofur, Dia-lah Yang Maha Menutupi dosa

وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Dan syahidnya disini adalah Ar-Rahim karena di sini beliau sedang mendatangkan ayat-ayat yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat rahmah.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

اللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Maka Allāh ﷻ Dia-lah yang sebaik-baik penjaga. Menjaga apa? Pertama menjaga amalan, Allāh ﷻ Dia-lah yang menyimpan amalan kita, apakah ada yang tercecer dari amalan yang kita lakukan, tidak, tasbih yang antum ucapkan, kita sendiri tidak tahu berapa kali kita bertasbih, tahmid yang antum ucapkan, sholawat, atau sholat berapa rakaat yang antum lakukan, puasa yang antum lakukan, Allāh ﷻ catat semuanya itu dan Allāh ﷻ jaga semuanya itu untuk kita, maka Dia-lah sebaik-baik penjaga.

Kalau kita sebagai makhluk disuruh untuk menulis, jangankan orang lain, apa yang kita lakukan sendiri, amalan yang kita lakukan sendiri, pekerjaan yang kita lakukan sendiri maka kita tidak akan mampu untuk melakukannya, jangankan amalan dalam sehari yang satu jam saja kita suruh menulis semuanya kita tidak akan mampu, tapi Allāh ﷻ menjaga, dijaga oleh Allāh ﷻ. Allāh ﷻ menjaganya dan mereka sudah lupa tapi Allāh ﷻ menjaganya.

Demikian pula di antara maknanya Allāh ﷻ Dia-lah sebaik-baik penjaga yang menjaga kita dari musibah, banyak di sana sebenarnya hal-hal yang bisa memudhoroti kita tapi Allāh ﷻ menjaga kita dari musibah tadi. Banyak di sana bakteri, banyak di sana virus, banyak di sana hal-hal yang mengancam keselamatan kita tapi Allāh ﷻ jaga kita, apa yang ada di sekitar kita ini sekarang ada listrik misalnya, yang kalau sampai kesetrum seseorang bisa meninggal di tempat tapi Allāh ﷻ jaga, Allāh ﷻ jaga kabelnya, Allāh ﷻ jaga temboknya sehingga kita tidak terkena mudhorot tadi kecuali memang sudah datang ajalnya.

Kalau kita renungkan maka Allāh ﷻ telah menjaga kita dari banyak hal, dan di sana ada penjagaan Allāh ﷻ khusus untuk wali-wali-Nya, khusus untuk orang-orang yang beriman dan bertakwa yaitu dijaga dari kesesatan, dijaga dari penyimpangan, dijaga dari syubhat dan syahwat, maka Allāh ﷻ Dia-lah sebaik-baik hafidzan, Dia-lah sebaik-baik yang menjaga. Sehingga seorang muslim bertawakal hanya kepada Allāh ﷻ, ini diucapkan oleh Nabi Ya’qub Alaihissalam, beliau mengatakan ketika akan melepas putranya Bin Yamin

فَٱللَّهُ خَيۡرٌ حَٰفِظٗاۖ

Allāh ﷻ Dia-lah yang sebaik-baik penjaga.

Makhluk, apa yang bisa dia lakukan, jadi seorang muslim bertawakal hanya kepada Allāh ﷻ dan meyakini bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah sebaik-baik penjaga. Ketika kita melepas anak kita kembali ke pesantren atau ketika dia sekolah siapa yang menjaga dia kalau bukan Allāh ﷻ, dari mobil yang kencang, dari mungkin sedang berkelahi dengan temen-temen yang lain, yang kita tidak tahu anak-anak terkadang dia membawa senjata tajam, terkadang dia membeli sesuatu yang termudhoroti Allāh ﷻ yang menjaga mereka.

فَٱللَّهُ خَيۡرٌ حَٰفِظٗاۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

Dan Dia-lah yang paling menyayangi, أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِين adalah Allāh ﷻ.

Makhluk, mereka juga memiliki sifat rahmah tapi siapa yang Arham, Allāh ﷻ, tidak ada yang lebih sayang daripada Allāh ﷻ. Oleh karena itu seorang ketika misalnya dia kehilangan seseorang yang dia cintai dan dia sangat sayang kepada orang tersebut, mungkin kehilangan anaknya yang sedang lucu-lucunya yang sedang dia ingin menumpahkan rahmatnya dan kasih sayang untuk anak tersebut, ketika dia meninggal dunia dia harus memahami bahwasanya Allāh ﷻ lebih sayang kepada anak tadi daripada dia.
Ketika kita menyayangi atau kasihan kepada seseorang yang fakir, orang yang miskin, maka Allāh ﷻ lebih sayang kepada mereka daripada kita, sehingga di sini menghindarkan ujub bagi seseorang, menghindarkan ujub pada dirinya dan juga menjadikan dia ridho dengan apa yang Allāh ﷻ takdirkan, Allāh ﷻ lebih sayang kepada anak kita dari pada diri kita sendiri.

Demikian pula ketika kita tertimpa musibah misalnya maka kita berharap ini adalah bagian dari rahmat Allāh ﷻ, ingin mengingatkan kita dari kelalaian kita. Di dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ

Allāh ﷻ kalau mencintai sebuah kaum maka Allāh ﷻ akan menguji mereka.

Diuji mereka, diturunkan kepada mereka bala, ujian dan juga cobaan. Jadi kita menetapkan sifat Rahmah bagi Allāh ﷻ dan tidak boleh kita mengingkari, karena ada sebagian yang mengingkari nama Ar-Rahman atau menetapkan nama Ar-Rahman tapi mengingkari sifat Rahmah, Al jahmiyah mereka mengingkari nama dan juga sifat Allāh ﷻ, mu’tazilah mereka menetapkan nama Allāh ﷻ tapi mengingkari sifat Allāh ﷻ sehingga mereka mengatakan Rohman bi la Rahmah, Dia adalah Ar-Rahman tapi tidak memiliki Rahmah.

Dan ada diantara mereka yang mentakwil dengan mengatakan bahwasanya rahmat Allāh ﷻ disini maksudnya adalah iradatul in’am atau kehendak Allāh ﷻ untuk memberikan nikmat. Kalau kita tanya kenapa dia mengingkari atau mentakwil rahmat Allāh ﷻ dengan demikian, karena kalau kita menetapkan rahmat Allāh ﷻ kita telah menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk sehingga kita takwil dengan irodah. Kita katakan, ketika antum mentakwil rahmat Allāh ﷻ dengan irodah bukankah makhluk juga memiliki irodah sehingga kalau kita mentakwil Rahmat Allāh ﷻ dengan iradatul in’am berarti sama saja kita juga menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk karena makhluk juga memiliki irodah, kita semuanya memiliki kehendak, memiliki keinginan.

Kalau dia mengatakan oh tidak, irodah makhluk sesuai dengan kekurangannya adapun irodah Allāh ﷻ sesuai dengan kesempurnaannya, sesuai dengan keagungannya. Kita katakan demikian pula rahmat Allāh ﷻ yang kita tetapkan adalah sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ dan rahmat yang dimiliki oleh manusia dan juga makhluk sesuai dengan kekurangannya, karena makhluk juga memiliki sifat rahmah. Allāh ﷻ mengatakan

مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ

[Al-Fath:29]

Mereka saling merahmati satu dengan yang lain. Dan Nabi ﷺ mengatakan

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ

Orang-orang yang penyayang maka mereka akan disayang oleh Allāh ﷻ. Maka jadilah kita orang yang menyayangi orang lain sehingga Allāh ﷻ akan menyayangi kita, menyayangi kita dengan Rahmat yang umum maupun Rahmat yang khusus.

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

Hendaklah kalian menyayangi orang yang ada di bumi niscaya Allāh ﷻ akan menyayangi kalian. Jadi sayangi orang lain, kasihanilah orang lain karena Allāh ﷻ, yaitu kita berharap Allāh ﷻ akan menyayangi kita.

Kemudian yang kedua hendaklah kita jangan putus asa dari rahmat Allāh ﷻ, hidup penuh dengan ujian, penuh dengan bala dan juga cobaan, sebesar apapun ujian yang menimpa kita, kesulitan apapun yang kita hadapi maka jangan kita putus asa dari Rahmat Allāh ﷻ dan yakin bahwasanya apa yang Allāh ﷻ takdirkan itulah yang terbaik bagi kita dan kita anggap mungkin itu adalah sesuatu yang kita benci ternyata di situ ada kebaikan bagi kita.

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ

(QS Al-Baqarah: 216)

Mungkin engkau benci sesuatu padahal itu adalah baik bagi kalian dan mungkin engkau mencintai sesuatu padahal itu adalah jelek bagi kalian.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah -Halaqah 21

Halaqah 21 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Sifat Ridha Bagi Allāh ﷻ Dan Nama Allāh Ar-Rahman Ar-Rahim Dan Sifat Yang Terkandung Di Dalamnya Bagian 01

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-21 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mendatangkan sebuah ayat yang menunjukkan bahwasanya diantara sifat Allāh ﷻ yang harus kita yakini dan harus kita tetapkan untuk Allāh ﷻ adalah sifat Ar-Ridho.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

قَوْلُهُ: ِرَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Allāh ﷻ Ridho kepada mereka dan mereka pun Ridho kepada Allāh ﷻ.

ِرَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Allāh ﷻ ridho kepada mereka, yaitu kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, ini menunjukkan bahwasanya diantara sifat Allāh ﷻ adalah Ridho dan ridho termasuk sifat fi’liyah khobariyyah. Sifat fi’liyah karena dia berkaitan dengan masyiatullah (kehendak Allāh ﷻ), Allāh ﷻ meridhoi siapa yang Dia kehendaki, kapan Dia kehendaki, ini termasuk sifat Fi’liyah. Dan ini adalah sifat khobariyah juga, sifat khobariyyah yaitu sifat Allāh ﷻ yang hanya diketahui dari arah kabar Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya, artinya hanya diketahui dengan dalil, disana ada sifat aqliyah yaitu sifat Allāh ﷻ yang diketahui dengan dalil dan diketahui dengan akal.

Adapun menetapkan sifat Allāh ﷻ dengan akal saja maka ini tidak boleh, jadi terkadang sifat Allāh ﷻ ada yang diketahui dengan dalil saja, tidak bisa dengan akal manusia yang terbatas dan terkadang di sana ada sifat Allāh ﷻ yang diketahui dengan dalil sekaligus dengan akal. Kalau yang dalil saja maka dinamakan dengan sifat khobariyah, dari kata khobar artinya sifat ini hanya diketahui dari kabar Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya. Dan di sana ada sifat Al-Aqliyah yaitu sifat yang diketahui dengan kabar (dalil) dan juga dengan akal manusia.

Misalnya Allāh ﷻ Dia-lah yang mencipta segala sesuatu, ketika seseorang berpikir, ketika seorang mencermati berarti Allāh ﷻ memiliki sifat Qudroh, ketika dia melihat bahwasanya penciptaan Allāh ﷻ adalah penciptaan yang sangat detail dan sangat kokoh penciptaan-Nya, tidak ada kekurangan sedikitpun, banyak hikmah, maka dia mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Ilmu, sifat ilmu sifat qudro ada dalam dalil ‘alimun qadir (Allāh ﷻ Maha Mengetahui Maha Berkuasa), dan bisa diketahui juga dengan akal manusia.

Sifat ridho ini termasuk yang khobariyyah, tidak diketahui kecuali dengan dalil, kalau Allāh ﷻ tidak memberitahukan kepada kita bahwasanya dia memiliki sifat ridho maka kita tidak akan mengetahuinya. Berarti disini kita harus menetapkan sifat ridho bagi Allāh ﷻ, jangan kita menolaknya seperti mu’tazilah yang menafikan sifat-sifat Allāh ﷻ atau mentakwilnya seperti asy-sya’iroh mentakwil sifat ridho ini dengan irodah, sebagaimana mereka mentakwil sifat mahabbah dengan irodah, ridho juga demikian, alasannya sama karena menurut mereka kalau kita menetapkan sifat ridho bagi Allāh ﷻ berarti kita menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk, dimana makhluk memiliki sifat ridho, sehingga mereka ada yang menolaknya dan ada yang mentakwilnya.

Adapun Ahlul Sunnah Waljama’ah maka mereka menetapkan sebagaimana Allāh ﷻ menetapkan dan meyakini bahwasanya sifat ridho bagi Allāh ﷻ ini tidak sama dengan sifat ridho yang dimiliki oleh makhluk, sifat ridho yang dimiliki oleh Allāh ﷻ adalah sifat ridho yang sesuai dengan keagungan dan juga kesempurnaan Allāh ﷻ. Adapun ridho yang dimiliki oleh manusia maka sesuai dengan kekurangan dia, Allāh ﷻ ketika meridhoi maka itu berdasarkan karunia Allāh ﷻ, itu adalah karunia Allāh ﷻ, anugerah Allāh ﷻ dan itu berdasarkan ilmu, adapun manusia terkadang dia ridho dengan sesuatu padahal dia tidak mengetahui itu adalah perkara yang tidak baik sebenarnya atau beda dengan hakikatnya.

Dan ridho Allāh ﷻ ini adalah nikmat yang sangat besar, ketika Allāh ﷻ ridho kepada seseorang hamba maka ini adalah kenikmatan yang sangat besar bahkan lebih besar daripada kenikmatan-kenikmatan Jannah, kenikmatan-kenikmatan surga yang disebutkan oleh Nabi

فيهَا مَ لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرِ

Di dalamnya ada kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, di dengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia. Kalau kita berbicara tentang kenikmatan-kenikmatan surga Allāh ﷻ maka itu adalah kenikmatan-kenikmatan yang sangat besar, yang sangat luar biasa yang tidak pernah terbetik dalam hati manusia dan tidak pernah dilihat oleh mata manusia, tidak pernah didengar oleh telinga manusia, ternyata di sana ada yang lebih besar dan lebih nikmat daripada kenikmatan-kenikmatan surga tersebut yaitu keridhoan Allāh ﷻ kepada orang-orang yang beriman. Sehingga di dalam sebuah ayat Allāh ﷻ mengatakan

وَرِضۡوَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ

Dan keridhoan dari Allāh ﷻ itulah yang lebih besar, yaitu didalam surat At-Taubah (72) ketika Allāh ﷻ mengatakan

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ

Allāh ﷻ menjanjikan kepada orang-orang yang beriman laki-laki dan juga wanita, surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan tempat tinggal tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘adn.

Setelah itu Allāh ﷻ mengatakan, setelah menyebutkan sebagian kenikmatan yang Allāh ﷻ janjikan kepada orang-orang yang beriman yaitu surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan ini adalah nikmat tersendiri, merasakan nikmat adalah kenikmatan kekal di dalam kenikmatan itu adalah kenikmatan tersendiri, dan tempat tinggal tempat tinggal yang baik, kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَرِضۡوَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ

Dan keridhoan dari Allāh ﷻ kepada mereka, yaitu orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun wanita, itu adalah Akbar, sesuatu yang lebih besar, yang demikian adalah keberuntungan yang sangat besar.

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah, Rasulullāh ﷺ mengatakan

إنَّ الله – عز وجل – يَقُولُ لأَهْلِ الجَنَّةِ : يَا أهْلَ الجَنَّةِ

Sesungguhnya Allāh ﷻ berkata kepada penduduk surga, Wahai penduduk surga

فَيقولُونَ : لَبَّيكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ

Iya ya Allāh ﷻ, iya wahai Robb kami

فَيقُولُ : هَلْ رَضِيتُم ؟

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan, Apakah kalian sudah ridho?, yaitu ketika mereka diberikan oleh Allāh ﷻ surga dan berbagai kenikmatan karena sebab amalan-amalan dan iman yang mereka lakukan di dunia

هَلْ رَضِيتُم apakah kalian telah ridho

فَيقُولُونَ : وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى يَا رَبَّنَا وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أحداً مِنْ خَلْقِكَ

Kemudian mereka mengatakan, bagaimana kami tidak ridho ya Allāh ﷻ sedangkan Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang Engkau tidak berikan kepada seorangpun dari makhluk-mu.

Jadi masing-masing dari mereka merasa dirinya yang paling diberikan kenikmatan oleh Allāh ﷻ padahal sebagaimana kita tahu hum darojatun ‘indallah, mereka ini adalah berderajat-derajat, mereka ini memiliki kedudukan yang berbeda-beda di surga, seorang Nabi ﷺ tentunya beda tingkatannya dengan siddiq, orang yang shaleh tentunya dengan orang yang ashi yaitu orang yang berbuat maksiat di antara orang-orang yang beriman.

Masing-masing dari mereka saat itu merasa diberikan oleh Allāh ﷻ sesuatu yang paling nikmat yang tidak diberikan kepada yang lain dan Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu sehingga dalam ayat wa rodhu ‘anhu, dan merekapun ridho, yaitu mereka gembira dengan kenikmatan-kenikmatan yang Allāh ﷻ berikan kepada mereka saat itu dalam surga, dan masing-masing merasa dirinya diberikan yang paling baik, yang paling nikmat dari Allāh ﷻ, wa rodhu ‘anhu, dan merekapun ridho kepada Allāh ﷻ

فَيقُولُ : ألاَ أُعْطِيكُمْ أفْضَلَ مِنْ ذلِكَ ؟

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan, Aku akan berikan kepada kalian sesuatu yang lebih afdhol, yang lebih nikmat dari itu semuanya, Subhanallāh, maka orang-orang yang beriman penduduk surga saat itu mengatakan

فَيقُولُونَ : وَأيُّ شَيءٍ أفْضَلُ مِنْ ذلِكَ ؟

Mereka mengatakan wahai Robb ku apa sesuatu yang lebih afdhol dari apa yang sudah Engkau berikan kepada kami. Mereka sudah merasakan nikmatnya nikmat surga, ternyata di sana ada yang lebih afdhol daripada kenikmatan surga tadi, semoga Allāh ﷻ memasukkan kita semuanya ke dalam surga dan memberikan kepada kita apa yang lebih baik daripada kenikmatan surga yaitu ridho Allāh ﷻ, disini Allāh ﷻ mengatakan

فَيقُولُ

Allāh ﷻ mengatakan

أُحِلُّ عَلَيكُمْ رِضْوَانِي

Aku halalkan untuk kalian keridhoan-Ku, Allāh ﷻ ridho, Allāh ﷻ ridho dan senang dengan kita dan ridho dengan kita

فَلاَ أسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أبَداً

Maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah ini selama-lamanya, Subhanallāh, Allāh ﷻ ridho kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kepada penduduk surga dan berjanji tidak akan marah kepada mereka selama-lamanya.

Kita di dunia seandainya kita sering dimarahi misalnya oleh orang tua kita ketika kita masih kecil, kemudian orang tua kita mengatakan bapak tidak akan marah sama kamu setelah ini, ibu tidak akan marah sama kamu setelah ini, bagaimana perasaan kita, gembira dan bahagia, Alhamdulillah berarti setelah ini aku tidak akan dimarahi lagi, yang ada adalah rahmah, yang ada adalah kelembutan, yang ada adalah kasih sayang.

Maka orang-orang yang beriman yang mereka memiliki rasa takut terhadap azab Allāh ﷻ, takut terhadap kemarahan Allāh ﷻ ketika mendengar bahwasanya Allāh ﷻ menghalalkan atas mereka keridhaan Allāh ﷻ dan Allāh ﷻ tidak akan marah kepada mereka selama-lamanya tentunya ini adalah sesuatu yang sangat menggembirakan mereka, yang sangat membahagiakan mereka, tidak dimarahi oleh Allāh ﷻ setelah itu, Allāh ﷻ akan ridho kepada mereka dan ridho Allāh ﷻ sekali lagi berdasarkan ilmu. Kalau Allāh ﷻ sudah meridhoi sebuah kaum maka itu adalah keutamaan yang besar, para sahabat radhiallāhu Ta’ala Anhu adalah orang-orang yang sudah di kabarkan oleh Allāh ﷻ bahwasanya Allāh ﷻ ridho kepada mereka

رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ

Allāh ﷻ ridho kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allāh ﷻ, dan ridho Allāh ﷻ berdasarkan ilmu, Allāh ﷻ tahu tentang kedudukan mereka dan keistiqomahan mereka dan keimanan mereka, keikhlasan mereka, muroqobahnya mereka, sungguh-sungguhnya mereka dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Dan apakah ilmu Allāh ﷻ hanya terbatas satu waktu saja, tidak, tentunya ilmu Allāh ﷻ Maha Luas, segala sesuatu yang terjadi dan yang akan terjadi Allāh ﷻ mengetahui, Allāh ﷻ mengetahui bahwasanya para sahabat Radhiallāhu Ta’ala Anhum di masa yang akan datang mereka akan Istiqomah di atas Islam dan meninggal di atas Islam, maka Allāh ﷻ mengabarkan di dalam Al-Qur’an bahwasanya Allāh ﷻ Ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allāh ﷻ, yaitu ridho Allāh ﷻ sebagai Robb-nya, sebagai sesembahannya, bahagia menjadi seorang hamba di antara hamba-hamba Allāh ﷻ, bersyukur kepada Allāh ﷻ dijadikan dan dipilih sebagai seorang hamba di antara hamba-hamba Allāh ﷻ.

Maka ini adalah sifat yang harus kita tetapkan bagi Allāh ﷻ yaitu sifat ridho, ridho sesuai dengan kesempurnaan Allāh ﷻ dan sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ, tidak ada di sana tasybih, tidak ada di sana penyerupaan sifat ridho Allāh ﷻ dengan ridho makhluk, makhluk ridho sebagaimana dalam ayat ini dan Allāh ﷻ juga memiliki sifat ridho, ridho yang pertama tidak sama dengan yang ridho yang kedua. Ridho yang pertama yaitu ridho Allāh ﷻ sesuai dengan keagungan-Nya dan ridho makhluk ini sesuai dengan kekurangan mereka.

Kemudian setelahnya beliau Rahimahullah mendatangkan beberapa ayat yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ di antara namanya adalah Ar-Rahman Ar-Rahim dan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Rahmah. Ayat yang pertama yang beliau datangkan adalah

وَقَوْلُهُ

Dan juga firman Allāh ﷻ

بسم الله الرحمن الرحيم

Ini adalah ayat di dalam Al-Qur’an, untuk Al-Fatihah maka basmalah ada yang mengatakan bahwasanya bismillahirrahmanirrahim ini adalah bagian dari Al-Fatihah, dia adalah ayat yang pertama dan ada yang mengatakan dia adalah ayat yang pertama dalam Al-Quran tapi bukan termasuk Al-Fatihah, Al-Fatihah diawali dengan alhamdulillahirobbilalamin. Basmalah- basmalah yang seterusnya yang ada di awal Al-Baqarah Ali-Imran An-Nisa’ dan seterusnya sampai An-Nas maka itu adalah yang menandai awal dari sebuah surat, yang memisahkan antara satu surat dengan surat yang lain, kecuali basmalah yang ada dalam surat An-Naml (ayat 30)

إِنَّهُۥ مِن سُلَيۡمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

maka ini adalah bagian dari sebuah surat dan semuanya sepakat bahwasanya ini semua adalah termasuk ayat di antara ayat-ayat Allāh ﷻ, termasuk diantaranya ayat yang memisahkan antara surat maka ini ayat dia cuma tidak dihitung, tidak dihitung misalnya Al-Ikhlas ayat yang pertama qul huwallahu ahad, bismillahirrohmanirrohim bukan termasuk Al-Ikhlas.

بسم الله

Dengan menyebut nama Allāh ﷻ. Yang ditetapkan di dalam ayat ini di antara nama-nama Allāh ﷻ yaitu Lafdzul Jalalah, yang memiliki sifat uluhiyah, mengandung sifat Uluhiyah, kemudian Ar-Rahman mengandung sifat Rahmah, Ar-Rahim juga mengandung sifat Rahmah, apa beda antara Ar-Rahman dengan Ar-Rahim kalau dua-duanya sama-sama mengandung sifat Rahmah yang artinya adalah kasih sayang, Allāh ﷻ memiliki sifat kasih sayang.

Ada di antara ulama yang mengatakan bahwasanya Ar-Rahman ini adalah sifat Rahmah bagi Allāh ﷻ yang umum, umum untuk seluruh makhluknya karena makhluk-makhluk Allāh ﷻ ada diantara mereka yang taat, ada diantara mereka yang maksiat, ada diantara mereka yang muslim, ada diantara mereka yang kafir, masing-masing dari mereka merasakan rahmat Allāh ﷻ yang umum, seperti nikmat diberikan umur, nikmat rezeki, nikmat sehat nikmat anak dan juga istri dan keluarga, maka ini adalah umum, baik orang yang beriman maupun orang yang kafir semuanya mendapatkan rahmat ini.

Ar-Rahman mengandung sifat Rahmah yang rahmat ini adalah rahmat yang Ammah, rahmat yang umum, adapun Ar-Rahim maka mengandung sifat Rahmah yang khusus yaitu sifat Rahmah ya Allāh ﷻ khususkan bagi orang-orang yang beriman, di sana ada kasih sayang Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ berikan kepada orang-orang yang beriman, iman mereka ini adalah bagian dari kasih sayang Allāh ﷻ, Allāh ﷻ menyayangi mereka sehingga diberikan mereka iman, amal shaleh mereka ini juga termasuk bagian dari rahmat Allāh ﷻ, maka ini adalah Rahmat yang khusus bagi orang-orang yang beriman dan juga beramal sholeh, nikmat hidayah. Dan didalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan

إن الله يعطي الدنيا من يحب ومن لا يحب ولا يعطي الدين إلا من يحب

Sesungguhnya Allāh ﷻ memberikan dunia ini bagi orang yang Allāh ﷻ cintai dan orang yang Allāh ﷻ tidak cintai, dan tidak memberikan agama kecuali bagi orang yang Allāh ﷻ cintai saja. Rahmat khusus ini hanya untuk orang-orang yang beriman, sehingga dalam sebuah ayat Allāh ﷻ mengatakan

وَكَانَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَحِيمٗا

[Surah Al-Ahzab:43]

Dan Allāh ﷻ itu dengan orang-orang yang beriman Rohim, menunjukkan bahwasanya nama Ar-Rahim ini mengandung sifat Rahmah yang khusus yang Allāh ﷻ berikan kepada orang-orang yang beriman.

Sifat Rahmah ini juga ditakwil oleh orang-orang yang mereka menyangka bahwasanya kalau kita menetapkan rahmat bagi Allāh ﷻ berarti kita menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk, karena yang memiliki kasih sayang dan memiliki sifat kasih sayang yang didalamnya ada perasaan kasihan ini adalah makhluk dan Allāh ﷻ kalau memiliki sifat Rahmah berarti Allāh ﷻ sama dengan makhluk atau kita menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk-Nya. Sehingga ada diantara mereka, mu’tazillah jelas mengingkari sifat Rahmah, dan asy-sya’iroh mereka kembali mentakwil sifat Rahmah bagi Allāh ﷻ. Mereka mengatakan Rahmah adalah irodah juga, irodatul in’am, irodah Allāh ﷻ untuk memberikan kenikmatan, jadi dikembalikan ridho Rahmah ini kepada irodah.

Dan sifat rohmah ini adalah termasuk sifat yang bisa dzatiya bisa fi’liyah sekaligus, jadi ada di antara sifat yang disifati dengan dzatiya fi’liyah. Dzatiya karena dia senantiasa ada pada diri Allāh ﷻ, Allāh ﷻ dari dulu memiliki sifat Rahmah, sehingga ada yang mengatakan bahwasanya Ar-Rahman ini mengandung sifat Rahmah Allāh ﷻ yang lazimah, adapun dinamakan dengan sifat yang fi’liyah karena dia berkaitan dengan kehendak Allāh ﷻ, Allāh ﷻ merahmati siapa yang dikehendaki, Allāh ﷻ memberikan rahmat kepada siapa yang Allāh ﷻ kehendaki. Sehingga dari sisi ini karena dia berkaitan dengan masyiatullah sehingga dia merupakan sifat fi’liyyah, ini mungkin sama dengan sifat Al-Kalam, Allāh ﷻ memiliki sifat kalam dzatiya fi’liyyah, zatiyah karena dari dulu Allāh ﷻ memiliki sifat kalam, fi’liyyah karena Allāh ﷻ berbicara kepada siapa yang Dia kehendaki, kapan Dia kehendaki. Kalau ada pertanyaan apakah sifat Rahmah khobariyah atau aqliyah, sifat Rahmah Allāh ﷻ adalah sifat aqliyah karena dia bisa ditetapkan dengan khobar dan sekaligus dengan akal.

Kemudian beliau membawakan firman Allāh ﷻ

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا

Ini adalah ucapan para malaikat yang mereka bertawasul dengan menyebut sifat dan juga sifat Allāh ﷻ yaitu Rahmah dan juga Ilm, mereka mengatakan

رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَيۡءٖ رَّحۡمَةٗ وَعِلۡمٗا فَٱغۡفِرۡ لِلَّذِينَ تَابُواْ وَٱتَّبَعُواْ سَبِيلَكَ

Wahai Robb kami, Engkau meluasi segala sesuatu dengan rahmat dan juga dengan ilmu, artinya segala sesuatu pasti terliputi dengan rahmat Allāh ﷻ tidak terkecuali dan pasti terliputi dengan ilmu Allāh ﷻ, Allāh ﷻ Maha Mengetahuinya dan mengetahui tentang sesuatu tersebut, كُلَّ شَيۡءٖ segala sesuatu, tidak mungkin di dunia ini ada sesuatu yang tidak diketahui oleh Allāh ﷻ dan semuanya merasakan rahmat Allāh ﷻ. Ada yang mengartikan

رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَيۡءٖ رَّحۡمَةٗ وَعِلۡمٗا

yaitu wasi’at rahmatuka wa ilmuka kulla syai’, Rahmat-Mu ya Allāh ﷻ dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.

Rahmat Allāh ﷻ sebagaimana telah disebutkan, Ar-Rahman mengandung sifat Rahmah yang sifatnya umum termasuk makhluk hidup maupun makhluk mati yang beriman maupun yang kafir, segala sesuatu pasti merasakan rahmat Allāh ﷻ, virus sekalipun dia merasakan rahmat Allāh ﷻ, makhluk yang kafir sekalipun dia juga merasakan rahmat Allāh ﷻ, dia merasakan nikmatnya hidup, nikmatnya makanan, nikmatnya minuman, ini adalah kasih sayang Allāh ﷻ tapi kasih sayang Allāh ﷻ yang umum untuk mereka, segala sesuatu baik makhluk yang mati maupun makhluk yang hidup yang di atas maupun yang di bawah merasakan rahmat Allāh ﷻ, rahmat Allāh ﷻ ada yang umum dan ada yang khusus.

Adapun yang khusus sebagaimana kita sebutkan, nikmat Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ berikan bagi orang-orang yang beriman, diberikan dia hidayah kepada jalan yang lurus, diberikan petunjuk, di terangkan jalan hidupnya, di jadikan dia bersabar di tengah-tengah bencana dan juga musibah, maka ini nikmat, ini adalah bagian dari rahmat Allāh ﷻ. Dijadikan dia bersyukur ketika dia mendapatkan kenikmatan, maka ini juga bagian dari rahmat Allāh ﷻ yang dengannya mereka mendapatkan pahala dan akan dibalas oleh Allāh ﷻ kelak di hari kiamat dengan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, ini juga rahmat Allāh ﷻ, rahmat Allāh ﷻ yang khusus bagi orang-orang yang beriman.

رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَيۡءٖ رَّحۡمَةٗ وَعِلۡمٗا

Berarti di sini ada penetapan sifat rahmah bagi Allāh ﷻ, ditambah lagi Al-Ilm (sifat ilmu bagi Allāh ﷻ) dan sudah berlalu penjelasan dan ayat-ayat yang berkaitan dengan penyebutan sifat ilmu. Ini menunjukkan adanya hubungan antara sifat rahmah dengan ilmu, jadi rahmat Allāh ﷻ itu berdasarkan ilmu, berbeda dengan rahmat makhluk yang terkadang dia menyayangi tapi bukan berdasarkan ilmu, berdasarkan perasaannya saja, perkiraan saja, mengetahui di jalan misalnya ada orang yang kelihatannya dia kasihan padahal dia adalah orang yang punya, orang yang kaya, dia mengemis karena di dalam hatinya ada penyakit ingin mengemis, tapi hakikatnya dia adalah orang yang punya sebenarnya, ini kasih sayang yang kita miliki.

Terkadang menggunakan perasaan, ketika seorang orang tua misalnya menyayangi anaknya juga tidak jarang demikian, menyayangi anak dengan memberikan sesuatu yang justru memudhoroti dia. Adapun Allāh ﷻ maka Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Menyayangi dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui

رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَيۡءٖ رَّحۡمَةٗ وَعِلۡمٗا

Orang yang kafir sekalipun, orang yang fajir sekalipun maka mereka juga merasakan rahmat Allāh ﷻ dan di akhirat Rahmat tersebut hanya Allāh ﷻ berikan kepada orang-orang yang bertakwa, adapun orang-orang kafir maka mereka tidak akan merasakan Rahmat Allāh ﷻ, di akhirat hanya untuk orang-orang yang bertakwa saja, yang ada di dalam neraka hanyalah azab dan azab bagi orang-orang yang kafir.

Adapun orang yang berbuat maksiat di kalangan kaum muslimin maka mereka akan mendapatkan rahmat Allāh ﷻ dan mungkin mereka mendapatkan azab setelah itu mereka mendapatkan rahmat Allāh ﷻ, adanya orang yang memberikan syafaat atau makhluk yang memberikan syafaat atau memang rahmat Allāh ﷻ saja, bukan syafaatusyafi’in, tidak ada yang memberikan syafaat tapi Allāh ﷻ menyayangi dia, merahmati dia kemudian mengeluarkan dia dari neraka.

Allāh ﷻ mengatakan

فَسَأَكۡتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ

[Surah Al-A’raf:156]

Maka Aku akan menulisnya, akan menetapkannya untuk orang-orang yang bertaqwa.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 20

Halaqah 20 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Sifat Mahabbah Bagi Allāh ﷻ Bag 03: QS Al-Maidah 54, Ash-Shof 04, Dan Ali Imron 31

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Masuk kita pada pembahasan berkaitan dengan nama dan juga sifat Allāh ﷻ yaitu sifat Al-Mahabbah yaitu sifat mencintai bagi Allāh ﷻ

فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

Maka Allāh ﷻ akan mendatangkan sebuah kaum yang Allāh ﷻ mencintai mereka dan merekapun mencintai Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mengatakan dalam Al-Qur’an

وَمَن يَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ
[Surah Al-Baqarah:217]

Barang siapa yang murtad di antara kalian dari agamanya maka Allāh ﷻ akan mendatangkan sebuah kaum yang lain, yang sifatnya Allāh ﷻ mencintai mereka dan merekapun mencintai Allāh ﷻ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِ
[Surah Al-Ma’idah:54]

Wahai orang-orang yang beriman siapa saja di antara kalian yang murtad dari agamanya, mau keluar dari agama Islam itu tidak memudhoroti Allāh ﷻ, mau keluar dari sunnah kembali ke belakang itu tidak memudhoroti Allāh ﷻ, Allāh ﷻ akan datangkan dan Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu, Allāh ﷻ akan datangkan sebuah kaum, Allāh ﷻ cinta kepada mereka tidak seperti kalian, Allāh ﷻ mencintai mereka وَيُحِبُّونَهُ dan merekapun cinta kepada Allāh ﷻ, tidak seperti kalian yang kalian tidak mencintai Allāh ﷻ, Allāh ﷻ akan datangkan kaum tersebut dan akan diganti orang-orang yang murtad tadi dengan sebuah kaum yang Allāh ﷻ cinta kepada mereka dan mereka pun cinta kepada Allāh ﷻ.

Ini juga menjadi dalil bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat mencintai, siapa orang-orang yang akan didatangkan oleh Allāh ﷻ, yang Allāh ﷻ cinta kepada mereka dan merekapun cinta kepada Allāh ﷻ?

أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

Sifatnya kaum tersebut adalah orang-orang yang أَذِلَّة, orang-orang yang merendahkan dirinya terhadap orang-orang yang beriman, bukan orang yang membesarkan dirinya atau menyombongkan dirinya di hadapan orang-orang yang beriman, tapi dia أَذِلَّة, dzillah artinya adalah merendahkan diri. Ada sebagian salaf yang mengatakan maksud merendahkan diri seperti seorang anak di hadapan bapak, seperti seorang budak di hadapan majikannya, itu keadaan orang yang beriman bersama orang yang beriman yang lain, terlihat dari cara bicaranya, terlihat dari cara duduknya, terlihat dari cara berdirinya ketika berhadapan dengan orang-orang yang beriman.

Orang-orang beriman secara umum dia memiliki keimanan, kita adzillah ‘alal-mu’minin, kita merendahkan diri di hadapan orang-orang yang beriman bukan menyombongkan diri. Kemudian

أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ

Dan mereka adalah orang-orang yang tegas terhadap orang-orang yang kafir, tegas kepada orang-orang yang kafir bukan orang yang bermudah-mudahan dengan mereka.

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ
[Surah Al-Fath:29]

Mereka adalah orang-orang yang tegas terhadap orang-orang yang kafir.

Jangan karena mereka banyak misalnya atau mereka kaya kemudian kita lembek agama kita dan kita korbankan agama kita untuk membuat senang mereka, kita harus tegas, jangan sampai kita meninggalkan sebagian ajaran agama kita, dan itu adalah hukumnya wajib kemudian kita tinggalkan karena kita merasa tidak enak dengan orang-orang kafir tersebut. Orang yang tegas dalam agamanya maka termasuk orang yang Allāh ﷻ cintai.

يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ

Yang mereka berjihad dijalan Allāh ﷻ. Orang yang cinta kepada Allāh ﷻ dengan kecintaan yang sama dia akan korbankan apa yang dia miliki meskipun adalah sesuatu yang paling berharga, dan justru di sinilah dia merasa puas bisa mengorbankan sesuatu yang paling berharga yang dia miliki untuk yang sangat dia cintai, puas dia, bangga bahagia. Sebagaimana orang tua yang sangat mencintai anaknya, ketika dia capek dan dia mendapatkan sesuatu misalnya uang untuk membelikan barang yang dicintai oleh anaknya yang sangat dia cintai meskipun dia capek tapi dia merasa bahagia, bahagia bisa membuat senang orang yang dia cintai. Seorang hamba maka ketika kecintaan dia di dalam hatinya sangat kepada Allāh ﷻ

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبّٗا لِّلَّهِۗ
[Surah Al-Baqarah:165]

Dan orang-orang yang beriman sangat kecintaannya kepada Allāh ﷻ.

Maka dia merasa bahagia, merasa gembira dan puas apabila dia mengorbankan untuk Allāh ﷻ apa yang paling dia cintai, sampai nyawanya sendiri dia korbankan untuk mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ, untuk Dzat yang sangat dia cintai, sampai harta yang dia miliki, sampai dia harus berpisah dengan keluarganya dia lakukan itu semuanya untuk mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ yang sangat dia cintai.

يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٖۚ

Dan mereka tidak takut celaan orang yang mencela.

Selama ini adalah dicintai oleh Allāh ﷻ maka dia tidak peduli dengan selalu orang yang mencela, orang kafir membenci, orang musyrik membenci, pengikut hawa nafsu mereka membenci, yang penting Allāh ﷻ mencintai dia. Dia tidak takut dengan celaan orang yang mencela apabila memang itu atau di dalam amalan tersebut ada kecintaan Allāh ﷻ, Allāh ﷻ mencintai dia dan mencintai amalan tersebut.

ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ٥٤
[Surah Al-Ma’idah:54]

Demikian adalah keutamaan dan karunia Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ berikan kepada siapa yang Allāh ﷻ kehendaki.
Menjadi seorang wali Allāh ﷻ ini adalah sebuah keutamaan, wali Allāh ﷻ adalah orang yang Allāh ﷻ cintai, orang yang Allāh ﷻ cintai dan mereka pun cinta kepada Allāh ﷻ dia adalah seorang wali yang mendapatkan keutamaan ini.

وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيم

Dan Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Luas dan Maha Mengetahui.

Maka hendaklah kita semangat untuk memiliki sifat ini, yaitu sifat tawadhu dengan orang-orang yang beriman, kita tawadhu lillah, supaya Allāh ﷻ mencintai kita.

من تواضع لله رفعه

Orang yang tawadhu pada Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ akan mengangkat derajatnya. Bukan tambah rendah orang yang tawadhu, orang yang tawadhu akan semakin diangkat oleh Allāh ﷻ berbeda dengan orang yang sombong orang yang meninggikan dirinya maka akan direndahkan oleh Allāh ﷻ.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
[Al-Mu’min:60]

Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku, semakin dia sombong sampai dia tidak mau beribadah kepada Allāh ﷻ maka akan masuk ke dalam jahannam dalam keadaan terhina. Dan Nabi ﷺ mengatakan

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan meskipun hanya sebesar semut yang kecil, Allāh ﷻ hinakan dia. Dan ini menunjukkan tentang keutamaan merendahkan diri dengan orang-orang yang beriman, keutamaan berjihad, tegas terhadap orang-orang kafir, keutamaan seseorang melaksanakan sesuatu yang diridhoi oleh Allāh ﷻ dan dia tidak takut celaan orang yang mencela. Ayat yang lain

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنيَانٌ مَّرْصُوص

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang berperang dijalan-Nya, yaitu berjihad dijalan Allāh ﷻ, dalam keadaan صَفًّا yaitu dalam keadaan satu shaf, Allāh ﷻ senang dengan orang-orang beriman yang mereka berjalan mereka berjuang berperang dijalan Allāh ﷻ dalam keadaan satu shaf.

كَأَنَّهُم بُنيَانٌ مَّرْصُوص

Mereka seperti bangunan yang kokoh, yaitu yang saling berdempetan satu dengan yang lain. Ini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang memiliki sifat seperti ini, berjihad dan ketika berperang mereka berbaris satu shaf seperti bangunan yang sangat kuat.

Kemudian setelahnya dalil yang terakhir yang berkaitan dengan Mahabbah ini

وَقَوْلُهُ

Dan Allāh ﷻ berfirman

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ
[Surah Aali-Imran:31]

Katakanlah (wahai Muhammad) kalau kalian benar-benar cinta kepada Allāh ﷻ, ini turun karena di sana ada sekelompok manusia, sebuah kaum yang mereka mengaku cinta kepada Allāh ﷻ dan ini banyak, orang-orang yang mereka mengaku cinta kepada Allāh ﷻ tapi apakah pengakuan-pengakuan tersebut bisa dibenarkan, kita perlu bukti katakanlah, kalau kalian benar-benar cinta kepada Allāh ﷻ ini buktinya, apa buktinya فَٱتَّبِعُونِي hendaklah kalian mengikuti aku, berarti ini adalah bukti cinta kita kepada Allāh ﷻ.

Bagaimana bisa menjadi bukti, orang yang cinta kepada Allāh ﷻ maka dia akan berusaha untuk melakukan sesuatu yang dicintai Allāh ﷻ, antum senang kepada anak antum, cinta kepada anak antum, dan kita tahu dia senangnya ana melakukan gerakan seperti ini maka kita rela untuk melakukan gerakan ini supaya dia tertawa supaya dia senang. Kalau kita cinta kepada Allāh ﷻ maka orang yang benar-benar cinta kepada Allāh ﷻ dia berusaha untuk melakukan segala sesuatu yang dicintai oleh Allāh ﷻ, kalau memang kita benar-benar cinta kepada Allāh ﷻ maka kita berusaha untuk bertaqwa, kita berusaha untuk menjadi orang yang Ihsan, menjadi orang yang adil, sering bertaubat kepada Allāh ﷻ, berusaha untuk membersihkan diri, berjihad fi sabilillah, kalau memang benar-benar kita cinta kepada Allāh ﷻ maka kita akan melakukan perkara-perkara yang dicintai oleh Allāh ﷻ.

Siapa orang yang paling melakukan perkara yang dicintai oleh Allāh ﷻ, tidak lain beliau adalah Rasulullah ﷺ, Beliau ﷺ sudah mencapai derajat khalil yaitu menjadi kekasih Allāh ﷻ dan ini adalah derajat yang paling tinggi dalam kecintaan, derajat yang paling tinggi dalam kecintaan yaitu derajat khullah. Kalau kita bertanya amalan apa yang Beliau ﷺ lakukan, ucapan apa yang Beliau ﷺ lakukan sehingga beliau dicintai oleh Allāh ﷻ, sifat dan akhlak apa yang ada pada Beliau ﷺ sehingga Beliau ﷺ dicintai oleh Allāh ﷻ, itu ada pada diri Rasulullah ﷻ.

Berarti kita melihat kepada Beliau ﷺ dan mengikuti Beliau ﷺ supaya kita bisa mengamalkan amalan Beliau ﷺ, bersifat dan berakhlak dengan akhlak dan juga sifat Beliau ﷺ sehingga akhirnya Allāh ﷻ pun mencintai kita. Kita yakin bahwasanya kita tidak akan sampai kepada derajat Beliau ﷺ tapi kita nushaddiq wa nuqarrib, kita berusaha untuk mendekat, semakin dekat dan semakin dekat dengan kesempurnaan.

فَٱتَّبِعُونِي

Maka hendaklah kalian mengikuti aku, karena apa yang dilakukan oleh Beliau ﷺ adalah dicintai oleh Allāh ﷻ, semakin kita ittiba’ kepada Nabi ﷺ maka semakin dicintai oleh Allāh ﷻ, kita berlomba untuk bagaimana kita lebih asdaq, kita lebih dekat dan lebih mengikuti Rasul ﷺ daripada yang lain dalam seluruh perkara kita, keyakinan, masalah aqidah bagaimana aqidah kita lebih sesuai dengan sunnah Rasul ﷺ daripada yang lain, berlomba dengan banyak membaca. Dalam amalan kita, amal sholeh kita juga demikian, bagaimana ana lebih mengikuti Rasul ﷺ daripada yang lain, ini fastabiqul khairat kita disuruh untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Kemudian

يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُم

Kalau kalian mengikuti aku, dan ini adalah bukti nyata kita cinta kepada Allāh ﷻ, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar daripada kecintaan kalian kepada Allāh ﷻ, yaitu يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ Allāh ﷻ akan mencintai kalian, dan dicintai oleh Allāh ﷻ itu lebih besar perkaranya daripada kita mencintai Allāh ﷻ. Kita mencintai Allāh ﷻ nikmat tapi ketika Allāh ﷻ mencintai kita maka itu lebih besar.

ليس الشأن أن تُحب ولكن الشأن أن تُحَب

Bukanlah perkaranya engkau mencintai tetapi perkaranya adalah engkau dicintai. Nikmat dicintai oleh Allāh ﷻ, karena kalau Allāh ﷻ sudah mencintai seorang hamba Allāh ﷻ akan memberikan pahala yang besar, akan dijadikan manusia yang ada di sekitar kita itu cinta kepada kita dan ini yang kita isyaratkan bagaimana kita gembira dicintai oleh keluarga, dicintai oleh masyarakat.

إن الله تعالى إذا أحب عبدا دعا جبريل

kata Rasul ﷺ. Sesungguhnya Allāh ﷻ apabila mencintai seorang hamba Allāh ﷻ akan memanggil Jibril.

فقال

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

إني أحب فلانا فأحببه

Kalau Allāh ﷻ sudah cinta kepada seorang hamba Allāh ﷻ panggil Jibril dan Allāh ﷻ mengatakan, mengabarkan kepada Jibril, sesungguhnya Aku mencintai fulan maka cintai dia Jibril, Allāh ﷻ menyuruh Jibril untuk mencintai si fulan, ini derajat yang tinggi ketika seseorang mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ, Allāh ﷻ kalau sudah cinta kepada seorang hamba Allāh ﷻ suruh Jibril untuk mencintai hamba tersebut.

فيحبه جبريل

Maka malaikat Jibril pun mencintai orang tadi

ثم ينادي في السماء

Kemudian malaikat Jibril memanggil di langit sana

فيقول

Kemudian dia mengabarkan kepada para malaikat

إن الله يحب فلانا فأحبوه

Sesungguhnya Allāh ﷻ telah mencintai si Fulan, menyebutkan namanya dan kehormatan, keistimewaan, keutamaan, Allāh ﷻ menyebutkan nama kita, malaikat Jibril menyebutkan nama kita karena kita dicintai oleh Allāh ﷻ sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai si Fulan فأحبوه maka hendaklah kalian mencintainya

فيحبه أهل السماء

Sehingga penduduk langit mereka mencintai orang tersebut

ثم يوضع له القبول في الأرض

Kemudian akan dijadikan dia menjadi orang yang diterima di bumi, di cintai oleh orang lain, diharapkan kehadirannya, maka kecintaan manusia ini jangan menjadi tujuan bagi kita, tujuan bagi kita adalah bagaimana Allāh ﷻ mencintai ana dengan saya mengikuti Rasul ﷺ, dengan saya bertauhid dengan saya berbuat Ihsan, kalau Allāh ﷻ sudah mencintai kita maka Allāh ﷻ menjadikan manusia cinta kepada kita, dan kita akan mendapatkan rahmat yang khusus dari Allāh ﷻ mendapatkan perhatian yang khusus dari Allāh ﷻ, sebagaimana dalam hadits Qudsi

فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Kalau Aku sudah mencintai seseorang maka Aku adalah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, penglihatannya yang dia melihat dengannya, kakinya yang dengannya dia berjalan. Para ulama menjelaskan maksudnya adalah diberikan taufik oleh Allāh ﷻ untuk melakukan perkara yang diridhoi oleh Allāh ﷻ.

Jadi ciri seseorang dicintai oleh Allāh ﷻ kalau dia tidak mendengar kecuali yang diridhoi oleh Allāh ﷻ, tidak melihat kecuali perkara yang dicintai oleh Allāh ﷻ, tidak memukul kecuali memang saatnya dia memukul dan itu diperbolehkan, dan tidak berjalan kecuali ke tempat-tempat yang diridhoi oleh Allāh ﷻ, kalau demikian maka ini ciri bahwasanya seseorang dicintai oleh Allāh ﷻ. Maka masing-masing melihat pada dirinya sendiri apa yang ada pada dirinya, dan tentunya ini bertingkat-tingkat, semakin sempurna berarti semakin dia dicintai oleh Allāh ﷻ. Ada sebagian yang mungkin derajatnya pertengahan, terkadang maksiat terkadang tidak, berarti kecintaan Allāh ﷻ kepada dirinya juga sesuai dengan keadaan dia.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan kalau dia memohon perlindungan kepada-Ku Aku akan lindungi dia. Minta perlindungan kepada Allāh ﷻ dilindungi dari penyakit, dilindungi dari musibah, dilindungi dari kefaqiran, Aku akan lindungi dia dan kalau dia meminta maka Aku akan memberikan kepadanya. Subhanallāh, ini adalah keutamaan yang besar yang Allāh ﷻ berikan kepada orang-orang yang Allāh ﷻ cintai, apakah hanya kecintaan Allāh ﷻ saja yang dia dapatkan?

وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُم

Allāh ﷻ akan mengampuni dosa kalian. Ittiba’urrasul pahalanya diantaranya adalah diampuni dosanya, makanya kita ittiba’ussunnah karena diantara faedahnya adalah diampuni dosa kita, mengikuti Rasul ﷺ maka ini menjadi sebab seseorang diampuni dosa-dosanya selain dia mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ

وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

Dan Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Maka di dalam ayat yang terakhir di sini ada penetapan sifat mahabbah bagi Allāh ﷻ, kemudian ada juga Lafdzul Jalalah disini Allāh ﷻ, dan juga penyebutan bahwasanya Allāh ﷻ itu dicintai dan Allāh ﷻ mencintai, karena ada sebagian kelompok yang dia mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ tidak mencintai dan Allāh ﷻ tidak dicintai. Allāh ﷻ tidak mencintai dan Allāh ﷻ tidak dicintai ini orang-orang jahmiyah mereka menolak sifat Mahabbah dari Allāh ﷻ karena menganggap bahwasanya ini adalah penyerupaan Allāh ﷻ dengan makhluk, cinta kata mereka ini adalah condongnya hati kepada sesuatu dan mereka membayangkan ini adalah sifat makhluk sehingga tidak boleh kita mensifati Allāh ﷻ dengan sifat makhluk sehingga mereka pun menolak sifat cinta dari Allāh ﷻ dan mereka mengingkari Nabi ﷺ Ibrahim itu sebagai seorang khalilullah

وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبۡرَٰهِيمَ خَلِيلٗا
[An-Nisa’:125]

Dan Allāh ﷻ menjadikan Ibrahim sebagai kekasih, karena kekasih berarti dia dicintai oleh Allāh ﷻ, ini mereka menolak.
Di zaman dahulu ada seorang gubernur atau yang semisalnya, beliau adalah Khalid bin Abdillah Al-Qosrih. Saat Idul Adha beliau berkhotbah kemudian setelah berkhotbah beliau mengatakan kepada manusia Wahai manusia hendaklah kalian menyembelih, kemudian beliau mengatakan bahwasanya aku hari ini akan menyembelih seorang yang bernama Ja’at, yaitu Ja’at bin Dirham, karena dia menyangka, meyakini bahwasanya Allāh ﷻ tidak menjadikan Ibrahim sebagai khalil dan bahwasanya Allāh ﷻ tidak berbicara kepada Musa, yaitu mengingkari sifat Kalam bagi Allāh ﷻ dan mengingkari sifat Mahabbah bagi Allāh ﷻ kemudian turun dari mimbar kemudian beliau menyembelih atau membunuh Ja’at bin Dirham karena dialah yang memiliki pemikiran muattilah, memiliki pemikiran ta’til yaitu mengingkari sifat-sifat Allāh ﷻ.

Ada diantara mereka yang mentakwil, ini lebih ringan dari yang pertama, mereka mentakwil sifat Mahabbah ini, tidak menetapkan sifat Mahabbah bagi Allāh ﷻ alasannya sama karena ini tasybih sehingga mereka mentakwil sifat Mahabbah ini dengan sifat Irodah, mau maksud Mahabbah di sini bukan mencintai tapi maksudnya adalah irodah di sini, berarti dia mentakwil Mahabbah dengan irodah, sebagaimana mereka mentakwil juga dikembalikan kepada irodah, dikembalikan kepada qudroh, As-Sama’ wal Bashar dikembalikan kepada ilmu. Mereka mengatakan bahwasanya Mahabbah di sini adalah irodah, dan ada yang mentakwil Mahabbah disini bahwasanya adalah memberikan pahala dan ada yang mentakwil maksudnya adalah irodah tsawab, ingin memberikan pahala, ini masing-masing mereka dalam mentakwilkan.

Adapun Ahlul Haq yaitu Ahlul Sunnah Wal Jama’ah maka tidak ada yang isykal bagi mereka, kita tetapkan bagi Allāh ﷻ sifat Mahabbah sebagaimana Allāh ﷻ sebutkan dalam banyak ayat tadi sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ, Mahabbah yang Allāh ﷻ miliki tidak sama dengan yang Mahabbah yang ada pada diri mahluk, sifat Mahabbah yang Allāh ﷻ miliki adalah sifat Mahabbah yang berdasarkan ilmu, yang pada tempatnya. Adapun kita makhluk kadang kita mencintai sesuatu padahal itu mudhorat bagi kita.

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ
[Surah Al-Baqarah:165]

Kadang engkau mencintai sesuatu padahal itu adalah jelek bagi kalian, itu keadaan kita, mencintai seseorang padahal tidak pantas dia untuk dicintai. Maka ketika seseorang menetapkan sifat Mahabbah bagi Allāh ﷻ maka sama sekali tidak ada di dalamnya tasybih (menyerupakan) Allāh ﷻ dengan makhluk. Dan mu’tazilah termasuk yang menafikan sifat Mahabbah ini karena secara umum mereka menetapkan nama dan menolak sifat, termasuk sifat yang terkandung dalam sebuah nama mereka tolak, sifat yang berdiri sendiri seperti sifat Mahabbah mereka pun juga mengingkari yang demikian.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

SILSILAH ‘ILMIYYAH PEMBAHASAN KITĀB AL-‘AQĪDAH AL-WĀSITHIYYAH | HALAQAH 19

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Halaqah 19 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Sifat Mahabbah Bagi Allāh ﷻ Bag 02: QS At-Taubah 7 Dan Al-Baqarah 222

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Masuk kita pada pembahasan berkaitan dengan nama dan juga sifat Allāh ﷻ yaitu sifat Al-Mahabbah yaitu sifat mencintai bagi Allāh ﷻ, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendatangkan ayat yang ke tiga

فَمَا اسْتَقَامُواْ لَكُمْ فَاسْتَقِيمُواْ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Selama mereka Istiqomah untuk kalian, artinya mereka lurus tidak membatalkan perjanjian mereka, ini berkaitan dengan seorang muslim atau kaum muslimin memiliki perjanjian perdamaian dengan orang-orang kafir, selama mereka istiqomah yaitu menjaga perjanjian mereka

فَاسْتَقِيمُواْ لَهُمْ

Maka hendaklah kalian istiqomah untuk mereka, yaitu jangan membatalkan, seorang muslim harus memegang janjinya, janji berdamai selama 5 tahun tidak boleh saling menyerang, kita sebagai seorang muslim diharuskan untuk menjaga, memegang janji ini. Bukan sifat seorang muslim menghianati janji, menghianati perjanjian, itu bukan sifat seorang muslim, tapi seorang muslim dia takut kepada Allāh ﷻ dan mengetahui bahwasanya perjanjian ini akan ditanya dihadapan Allāh ﷻ

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِۖ

[Surah Al-Isra’:34]

Hendaklah kalian menyempurnakan janji kalian.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bertaqwa.

Artinya seseorang menjaga perjanjian tersebut, ini adalah bagian dari ketaqwaan karena orang yang bertaqwa kepada Allāh ﷻ, orang yang takut kepada Allāh ﷻ dia khawatir kalau dia membatalkan perjanjiannya maka akan menjadi permasalahan tersendiri bagi dia di hari kiamat

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٤

Hendaklah kalian menyempurnakan janji, sesungguhnya perjanjian itu akan ditanya.

Orang yang bertaqwa kepada Allāh ﷻ dan hari akhir, yang benar-benar dia yakin dengan hari akhir dan ingin keselamatan dirinya dihari akhir, janji dia kepada siapapun termasuk diantaranya adalah kepada orang-orang kuffar akan dia pegang.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bertaqwa.

Termasuk di antara sifat orang yang bertaqwa adalah mereka memegang janjinya, istiqomah dalam janjinya, selama orang-orang musyrikin tadi memegang janjinya, tapi kalau mereka yang terlebih dahulu menyelisihi janji seperti yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy dan sekutu mereka ketika mereka terlebih dahulu yang mengkhianati perjanjian Hudaibiyah, maka dalam keadaan demikian boleh kita untuk menyerang karena mereka yang terlebih dahulu menyelisihi janji, sehingga Nabi ﷺ ketika mengetahui dan sampai kabar kepada Beliau ﷺ bahwa orang-orang Quraisy dan juga sekutunya mereka membatalkan perjanjian Hudaibiyah, Beliau ﷺ segera mengumpulkan kaum muslimin yang ada di Madinah dan sekitarnya untuk pergi ke Mekah, membuka kota Mekah.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bertaqwa.

Berarti di antara sifat atau di antara golongan yang dicintai oleh Allāh ﷻ adalah orang-orang yang bertaqwa. Ketika kita mendengar ayat seperti ini harusnya kita ini semangat, bagaimana Ana bisa menjadi orang yang bertaqwa, Ana ingin dicintai oleh Allāh ﷻ, maka seseorang bertanya apa yang dimaksud dengan taqwa, taqwa sebagaimana disebutkan oleh Talq bin Habib

أن تعمل بطاعة الله علي نور من الله ترجو ثواب الله. و أن تترك معصية الله علي نور من الله تخاف عذاب الله

Engkau melakukan ketaatan kepada Allāh ﷻ, beramal sholeh, diatas cahaya, yaitu sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ bukan berdasarkan kejahilan tapi berdasarkan cahaya, berdasarkan ilmu, ada dalilnya bukan hanya sekedar hawa nafsu, bukan hanya sekedar ikut-ikutan, bukan hanya sekedar mengikuti adat istiadat dan kebiasaan,

علي نور من الله

berada di atas cahaya, yaitu di atas ilmu, itu namanya taqwa. Adapun amal shaleh dikatakan itu amal shaleh tapi tidak berdalil, apakah itu masuk dalam taqwa, tidak, taqwa yaitu kalau amal shalehnya berdasarkan dalil.

ترجو ثواب الله

Dan engkau mengharap pahala dari Allāh ﷻ, bukan mengharap pahala dari manusia, kalau riya sum’ah tidak dinamakan dengan taqwa, kemudian engkau meninggalkan kemaksiatan

علي نور من الله

berdasarkan dalil, bukan berdasarkan ikut-ikutan tapi berdasarkan dalil

تخاف عذاب الله

engkau takut terhadap azab Allāh ﷻ, bukan karena takut kalau dia terkena penyakit sehingga dia tidak mau berzina, ini bukan karena Allāh ﷻ, bukan karena takut terhadap Allāh ﷻ tapi takut terhadap penyakit tertentu, taqwa kepada Allāh ﷻ kalau Antum meninggalkan kemaksiatan karena Allāh ﷻ, yaitu karena takut kepada Allāh ﷻ.

Berarti bertaqwa kembali kepada ikhlas dan kembali kepada mengikuti sunnah Nabi ﷺ, ingin dicintai oleh Allāh ﷻ jadilah orang yang bertaqwa, yang beramal shaleh meninggalkan kemaksiatan berdasarkan ilmu. Berarti kalau ingin bertaqwa harus menuntut ilmu, menjadi seorang yang mau menghadiri majelis ilmu karena di situ dia mendapat ilmu, membaca, mendengarkan, menulis, menjadi seorang penuntut ilmu supaya kita bisa menjadi orang yang benar-benar bertaqwa sehingga kita menjadi orang yang dicintai oleh Allāh ﷻ.

Ihsan juga demikian, orang bisa mencapai derajat Ihsan bisa menyesuaikan dan bisa mengikuti sunnah Nabi ﷺ harus menuntut ilmu, maka menuntut ilmu ini adalah pintu dan kunci seluruh kebaikan, ingin menjadi orang yang bertaqwa, ingin menjadi orang yang muhsin, ingin menjadi orang yang adil juga berdasarkan ilmu karena adil itu kalau sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Kemudian setelahnya beliau mengatakan atau mendatangkan firman Allāh ﷻ

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan mencintai orang-orang yang membersihkan dirinya.

Disini Allāh ﷻ menyebutkan golongan yang lain yang mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ yaitu golongan yang pertama adalah At-Tawwābīn, At-Tawwāb artinya adalah orang yang sering memperbanyak, bukan hanya sekali dalam setahun bahkan ada yang sekali dalam lima tahun, yang Allāh ﷻ cintai mereka adalah orang yang sering melakukan taubat kepada Allāh ﷻ karena dia merasa dirinya penuh dengan dosa dan seandainya dia beramal sholeh pun amal shalehnya penuh dengan kekurangan.

Allāh ﷻ mencintai seorang hamba yang demikian, yang terus-menerus dia melakukan taubat kepada Allāh ﷻ, memperbanyak melakukan taubat kepada Allāh ﷻ. Dan taubat yang dimaksud disini tentunya adalah taubat yang nasuh, taubat yang kholis, taubat yang murni, taubat yang memenuhi syarat bukan hanya sekedar taubat yang sekedar ucapan, tapi Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang sering bertaubat dengan taubat yang nasuh, taubat yang terpenuhi tiga syarat. Pertama dia menyesal, menyesal dalam hatinya, pedih hatinya ketika dia mengingat kembali dosa tadi.

Kemudian yang kedua dia tinggalkan, kalau memang dosa tadi masih menempel pada dirinya dia lepaskan, kalau dosa tadi berupa meninggalkan kewajiban maka segera dia melakukan kewajiban kalau dosa tadi berupa melakukan perkara yang diharamkan maka segera dia singkirkan perkara-perkara yang berkaitan dengan dosa tadi, kalau dia melakukan atau bekerja di tempat yang diharamkan maka dia tinggalkan pekerjaan itu, kalau dia melakukan perjudian maka dia tidak berjudi dan tidak mendatangi lagi tempat-tempat perjudian.

Kemudian syarat yang ketiga dia memiliki tekad dan juga azam, ya Allāh ﷻ saya tidak akan melakukannya di masa yang akan datang, menyesal sekali dengan apa yang terjadi, sekarang dia bertekad kuat membuka lembaran baru, tidak akan melakukan dosa ini di masa yang akan datang. Inilah yang dimaksud dengan taubat nasuha, kalau ini terus dilakukan oleh seseorang, bukan hanya sekali dalam dua tahun dalam empat tahun tapi terus dia lakukan, sering dia lakukan maka Allāh ﷻ mencintai seorang hamba yang demikian sifatnya.

Kalau dosa tadi berkaitan dengan hak orang lain maka ditambah dengan syarat yang keempat yaitu harus mengembalikan hak tadi, kalau itu berupa harta maka harus dikembalikan hartanya dengan cara apapun baik dia mengetahui atau dia tidak mengetahui, yaitu orang yang punya harta tadi seandainya harta yang kita ambil dari nya tadi sampai kepadanya tanpa tahu siapa yang mengiriminya tidak masalah, kita kirim misalnya lewat pos atau lewat rekening dia atau melalui orang lain dengan merahasiakan identitas misalnya, tidak masalah.

Atau kalau misalnya itu berkaitan dengan kehormatan, pernah terjadi masalah misalnya antara kita dengan dia dan kita sampai mencaci dia, menghina dia maka kita minta maaf, tapi kalau perkara yang tidak dia ketahui misalnya kita pernah membicarakan kejelekan dia dan dia tidak tahu kalau kita membicarakan kejelekannya maka cukup dengan mendoakan kebaikan untuk orang tersebut sampai kita merasa sudah memberikan yang lebih baik kepadanya atau mengganti apa yang sudah kita lakukan. Ini adalah taubat yang nasuh kalau memang di sana berkaitan dengan hak orang lain, Allāh ﷻ cinta dengan seorang hamba yang sering melakukan taubat yang nasuh

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
[Surat At-Tahrim Ayat 8]

Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian dengan taubat yang nasuh, bukan taubat yang biasa tapi taubat yang nasuh, taubat yang lurus, taubat yang murni, yang suci, inilah yang dikatakan oleh Allāh ﷻ

عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

Semoga Robb kalian menghapuskan dari kalian dosa-dosa kalian

وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ

Dan memasukkan kalian ke dalam surga-Nya

تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

Inilah taubat yang nasuh yang atasnya Allāh ﷻ memberikan pahala dengan dihapuskan dosa, dimasukkan ke dalam surga. Nabi ﷺ adalah termasuk orang yang tawwābīn, termasuk orang yang banyak bertaubat kepada Allāh ﷻ, berapa kali Beliau ﷺ bertaubat dalam sehari, seandainya kita setiap hari bertaubat satu kali, hari ini bertaubat, besok bertaubat dengan taubat yang nasuh, subhanallāh maka Insya Allāh kita termasuk orang-orang yang tawwābīn.

Seandainya setiap hari kita bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuh, kita akan melihat keadaan kita lebih baik dari pada sebelumnya. Nabi ﷺ bertaubat setiap hari tujuh puluh kali, apakah Antum bayangkan bahwasanya beliau bertaubat tujuh puluh kali dengan taubat yang tidak nasuh atau taubat sambel atau taubat yang sekedar ucapan, tentunya tidak. Beliau ﷺ mengatakan

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Demi Allāh ﷻ sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allāh ﷻ dan bertaubat kepadanya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.

Bukan hanya tujuh puluh kali tapi lebih dari tujuh puluh kali beristighfar bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuh. Itu Nabi ﷺ yang sudah diampuni dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang demikian beliau bertaubat, bukan sekali dua kali tapi lebih dari tujuh puluh kali, maka seorang muslim tentunya tergugah hatinya untuk bertaubat kepada Allāh ﷻ dan tidak mengakhir-akhirkan bertaubat dari dosa, segera itu hukumnya adalah wajib, karena asal dari perintah itu adalah untuk segera kita lakukan. Allāh ﷻ mengatakan

تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hendaklah kalian bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuh. Dan Allāh ﷻ mengatakan

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
[Surah An-Nur:31]

Hendaklah kalian bertaubat kepada Allāh ﷻ semuanya, semuanya baik yang laki-laki maupun wanita, baik orang arabnya maupun selain arabnya, baik seorang ulamanya maupun thalibul ilm maupun orang awamnya, تُوبُوا إِلَى اللَّهِ taubatlah kalian kepada Allāh ﷻ, kembali kepada Allāh ﷻ جَمِيعًا semuanya wahai orang-orang yang beriman لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ semoga kalian termasuk orang-orang yang beruntung.

Jangan kita mengikuti was-was dari syaitan yang senantiasa nanti taubatnya nanti, nanti, nanti sampai datang kematian, kalau sudah datang kematian Allāh ﷻ tidak akan menerima taubat seseorang

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

Sesungguhnya Allāh ﷻ menerima taubat seorang hamba selama belum يُغَرْغِرْ, belum ada suara ghargharah, suara nyawa mau keluar, kalau sudah ada suara nyawa mau keluar maka tidak akan diterima oleh Allāh ﷻ. Dan tidak ada antara kita yang mengetahui kapan kematian, sehingga bersegeralah untuk bertaubat kepada Allāh ﷻ kita semuanya. Kita koreksi diri kita, kita muhasabah dan jangan ragu-ragu, Allāh ﷻ menjanjikan al-falah, Allāh ﷻ menjanjikan keberuntungan, orang yang taubat tidak akan rugi, jangan seorang mengikuti was-was dari syaithan, nanti kalau kamu taubat kamu tidak bisa begini, tidak bisa begitu, Allāh ﷻ akan berikan kenikmatan yang lebih baik daripada kenikmatan kemaksiatan dengan kita bertaubat kepada Allāh ﷻ.

Yang sudah merasakan ini banyak, orang-orang sholeh, para Nabi ﷺ, orang-orang yang shiddiqin mereka sudah merasakan nikmatnya hidup di dalam taubat kepada Allāh ﷻ, di samping kita juga akan mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ

Allāh ﷻ mencintai hamba-hamba yang seperti ini, mencintai seorang hamba yang senang dia bertaubat kepada Allāh ﷻ.
Dan mungkin saja orang yang bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuha melakukan dosa, karena bukan berarti orang yang bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuha kemudian dia menjadi seorang malaikat, tidak, dia tetap sebagai seorang insan, sebagai seorang manusia, sebagai seorang anak Adam yang dikatakan oleh Nabi ﷺ

كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ

Setiap anak Adam itu sering bersalah. Meskipun kita sudah bertaubat mungkin saja terjadi kesalahan lagi dan mungkin saja melakukan kesalahan yang sama tapi siapa orang yang paling baik diantara orang-orang yang sering bersalah?

وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Sebaik-baik orang yang sering bersalah adalah orang yang sering bertaubat kepada Allāh ﷻ.

Kalau memang kita mengakui Ana sering bersalah, ana insan, ana seorang manusia maka jadilah orang yang terbaik di antara mereka, orang yang terbaik di antara mereka adalah orang yang sering bertaubat kepada Allāh ﷻ, inilah orang yang paling baik diantara mereka dan inilah orang yang dicintai oleh Allāh ﷻ, tentunya semakin banyak kita bertaubat semakin dicintai oleh Allāh ﷻ.

وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Dan Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bersuci.

Ada dua makna disini, bersuci dalam artian membersihkan jiwanya, berarti disini bersuci yang ma’nawi, membersihkan jiwanya dari dosa, ini hubungannya dengan At-Tawwābīn tadi, Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang membersihkan dirinya, dia tidak ingin kotor, risih dia dengan kotoran dosa yang ada dalam dirinya maka dia segera bertaubat kepada Allāh ﷻ, setiap kali kotor lagi dia bersihkan lagi dengan taubat kepada Allāh ﷻ dia ingin menjadi orang yang bersih, senantiasa menjadi orang yang bersih dari dosa, tidak betah dengan dosa yang terlalu lama menumpuk di dalam dirinya, Allāh ﷻ cinta dengan seorang hamba yang demikian orang yang ingin bersih.

Jadi jangan seseorang hanya pandai bersih dalam dzhohirnya saja, mandi rajin, pakai pakaian yang rapi, pakai berbagai alat yang menjadikan dia lebih bersih, lebih cerah dan seterusnya tapi dia terus melakukan dosa, kotor dan sangat kotor dirinya dengan dosa dan juga maksiat meskipun secra dzhohir dia memiliki badan yang bersih.

Makna yang kedua adalah bersih secara dzhohir, maksudnya adalah orang yang senang bersuci, ingin setiap keadaan dia dalam keadaan dia suci dengan wudhu, kalau dia junub maka segera dia mengangkat hadats besarnya, kalau dia hadats kecil dia berwudhu kembali, dia ingin dirinya dalam keadaan berwudhu terus, dalam keadaan suci terus. Maka ini masuk dalam pengertian ayat ini, Allāh ﷻ mencintai seseorang yang demikian, ini menjadi dalil tentang keutamaan bersuci atau dalam keadaan suci secara mutlak yaitu seseorang yang senantiasa dalam keadaan suci, ketika dia batal dia wudhu kembali, maka ini termasuk amal shaleh, dengannya seseorang mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

SILSILAH ‘ILMIYYAH PEMBAHASAN KITĀB AL-‘AQĪDAH AL-WĀSITHIYYAH – HALAQAH 18

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Halaqah 18 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Sifat Mahabbah Bagi Allāh ﷻ Bag 01: QS Al-Baqarah 195 Dan Al-Hujurat 9

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Masuk kita pada pembahasan yang baru berkaitan dengan nama dan juga sifat Allāh ﷻ yaitu sifat Al-Mahabbah yaitu sifat mencintai bagi Allāh ﷻ. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mendatangkan setelahnya dalil-dalil dari Al-Qur’an yang menunjukkan bahwasanya diantara sifat Allāh ﷻ yang harus kita tetapkan bagi Allāh ﷻ sebagaimana Allāh ﷻ kabarkan adalah sifat Al-Mahabbah yaitu mencintai dan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat mencintai dan sifat mencintai adalah termasuk sifat fi’liyyah yang berkaitan dengan Masyiatullah.

Sifat terbagi menjadi dua ada sifat dzatiyyahh dan juga sifat fi’liyah, sifat dzatiyyah adalah sifat yang senantiasa ada pada diri Allāh ﷻ dan tidak berkaitan dengan Masyiatullah, Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mengetahui maka ini termasuk sifat dzatiyyah, Allāh ﷻ memiliki sifat ‘ulu (sifat Tinggi) maka ini adalah sifat dzatiyyah, Allāh ﷻ memiliki nama Ar-Rahman dan memiliki sifat Rahmah yang terkandung dalam Ar-Rahman maka ini adalah sifat dzatiyyahh, tidak berkaitan dengan Masyiatullah sehingga itu senantiasa ada pada diri Allāh ﷻ.

Berbeda dengan sifat fi’liyyah, ini berkaitan dengan Masyiatullah ﷻ, kalau Allāh ﷻ menghendaki maka Allāh ﷻ bersifat dengan sifat tadi dan kalau Allāh ﷻ menghendaki maka Allāh ﷻ tidak bersifat dengan sifat tadi. Berarti berkaitan dengan Masyiatullah seperti contohnya Al-Mahabbah, Allāh ﷻ menghendaki untuk mencintai seseorang atau mencintai sebuah amalan atau sebuah sifat, ini berkaitan dengan kehendak Allāh ﷻ, maka Al-Mahabbah ini termasuk sifat fi’liyyah berkaitan dengan kehendak Allāh ﷻ. Sifat istiwa termasuk sifat fi’liyyah karena dia berkaitan dengan kehendak Allāh ﷻ yaitu Allāh ﷻ beristiwa dan Dia-lah yang menghendaki dirinya untuk beristiwa.

Allāh ﷻ menyebutkan, terkadang mengabarkan bahwasanya Allāh ﷻ mencintai sebagian orang sebagaimana dalam ayat-ayat yang disebutkan oleh Syaikh di sini, Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang Muhsinin, Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang berjihad dijalan-Nya, Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bertakwa, dan terkadang dikabarkan bahwasanya Allāh ﷻ mencintai sebuah akhlak atau sebuah sifat misalnya, sebagaimana dalam sebuah hadits ketika Nabi ﷺ mengatakan

إِنَّ فِيْكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ

Sesungguhnya engkau memiliki dua sifat خَصْلَة)) yang dicintai oleh Allāh ﷻ, yaitu الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ sifat al-hilm (tidak mudah marah) wal anāh, dan engkau memiliki sifat hati-hati, tidak tergesa-gesa, menunjukkan bahwasanya terkadang Allāh ﷻ mencintai sebuah sifat dan terkadang sebagaimana dalam ayat-ayat yang disebutkan oleh Syaikhul Islam di sini mencintai orang-orangnya.

Jadi Allāh ﷻ mencintai amalannya, mencintai orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang melakukan ihsan, kemudian kita sebagai seorang hamba di antara keinginan kita yang besar adalah bagaimana Allāh ﷻ Robb yang kita sembah ini mencintai kita, bagaimana Allāh ﷻ yang kita sembah, yang kita minta, yang kita kerahkan hidup kita ini adalah untuk-Nya, bagaimana Allāh ﷻ mencintai kita, karena ini adalah nikmat yang besar, seorang hamba dicintai oleh Robbnya.

Kita dalam kehidupan sehari-hari seandainya seorang yang membantu orang lain atau bekerja di tempat orang lain dan dia merasakan bahwasanya tempat dia bekerja tadi pemiliknya, majikannya mencintai dia, senang kepada orang tersebut maka ini adalah sebuah kehormatan tersendiri. Ada sebagian orang mungkin bekerja sama orang lain tapi majikan tidak suka, tidak suka sama orang tersebut, terlihat dari ucapannya, terlihat dari perilakunya, terlihat dari wajahnya, ini dalam perkara dunia kita ingin orang yang kita khidmah dia, kita membantu dia dengan senang hati dia juga mencintai kita. Intinya mencintai atau dicintai oleh orang lain, disenangi oleh orang lain maka ini adalah kenikmatan tersendiri.

Antum menjadi orang yang dicintai oleh istri Antum atau dicintai oleh suami atau dicintai oleh orang tua, dicintai oleh anak-anak maka ini adalah kenikmatan tersendiri. Dibenci oleh anak, dibenci oleh istri, dibenci oleh suami maka ini sesuatu yang menyedihkan, sesuatu yang menjadikan kita tidak enak, dicintai oleh masyarakat, dicintai oleh tetangga, dicintai oleh lingkungan, kenikmatan. Tapi dibenci oleh mereka, dikucilkan oleh mereka merupakan sebuah kesempitan, sebuah kesengsaraan.

Masing-masing dari kita ingin dan senang apabila dicintai, maka seorang muslim yang menjadi puncak dia adalah bagaimana dia dicintai oleh Allāh ﷻ, ketika dia mendapatkan Mahabbatullah, mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ maka dia akan sangat-sangat berbahagia, sangat gembira ketika Allāh ﷻ mencintai dia. Meskipun ada makhluk diantara makhluk-mahluk Allāh ﷻ yang benci kepadanya tapi itu bukan tujuan dia yang penting adalah, yang paling utama di sisinya adalah dia dicintai oleh Allāh ﷻ.

Maka seorang muslim berusaha melakukan perkara, memiliki sifat yang dicintai oleh Allāh ﷻ, dia cari apa yang dicintai oleh Allāh ﷻ sehingga dia amalkan amalan-amalan tersebut, siapa orang-orang yang dicintai oleh Allāh ﷻ sehingga dia berusaha untuk menjadi bagian dari orang-orang tersebut, apa sifat dan juga akhlak yang dicintai oleh Allāh ﷻ sehingga dia berusaha untuk memiliki sifat tersebut, terus dia mencari bagaimana agar dia termasuk orang yang dicintai Allāh ﷻ, berusaha untuk melakukan, mengucapkan, bersifat dengan sifat-sifat yang dicintai oleh Allāh ﷻ, amalan-amalan yang dicintai oleh Allāh ﷻ, itulah keinginan dia dan itulah yang dia pikirkan dalam kehidupannya, bagaimana Allāh ﷻ Ridha kepadanya, bagaimana Allāh ﷻ mencintai dirinya.

Ayat-ayat yang akan disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah di antara ayat-ayat yang menunjukkan siapa-siapa orang yang dicintai oleh Allāh ﷻ dan tentunya ini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Mahabbah.

وَقَوْلُهُ

Dan juga firman Allāh ﷻ

وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan hendaklah kalian berbuat Ihsan sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang Ihsan.

Ihsan di sini bisa memiliki dua makna dan dua-duanya benar, Ihsan dalam artian berbuat baik kepada orang lain baik dengan harta atau dengan ucapan yaitu dengan memberikan nasehat kepadanya misalnya, atau dakwah karena dakwah ini juga termasuk berbuat baik kepada orang lain, memberikan pengajaran, atau kita membantu orang lain dengan tenaga kita, bisa juga berbuat baik kepada orang lain dengan syafa’at yaitu kita memiliki kedudukan kemudian kita membantu dia dengan kedudukan kita, itu makna yang pertama.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang berbuat baik, menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat mencintai dan diantara yang dicintai oleh Allāh ﷻ adalah orang-orang yang Muhsinin, orang-orang yang suka membantu orang lain, membantu dalam hal apa saja dan tidak harus perkara yang besar. Antum membantu orang lain sesuai dengan kemampuan antum, maka di antara cara supaya kita dicintai oleh Allāh ﷻ hendaklah kita masuk dalam jajaran orang-orang yang suka membantu orang lain, berbuat baik kepada orang lain. Kalau kita memiliki harta lebih maka kita membantu orang yang miskin, orang yang fakir meskipun tidak seberapa, cukup untuk makan dia sekali dua kali misalnya, Allāh ﷻ cinta dengan orang-orang yang suka berbuat baik kepada orang lain. Atau membantu keluarga dirumah, membantu anak di dalam memahami atau kita membantu dengan tenaga, maka semuanya itu adalah termasuk cara-cara berbuat Ihsan kepada orang lain, jangan kita menjadi orang yang berat untuk membantu orang lain, kita membantu supaya kita dicintai oleh Allāh ﷻ dan dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Dan Allāh ﷻ menolong seorang hamba selama hamba tersebut masih mau menolong saudaranya. Ini makna yang pertama.

Makna yang kedua, Al-ihsanu berarti Al-Itqan yaitu berusaha untuk sempurna didalam melakukan amalan yaitu melakukan amal shaleh, sempurna di dalam melakukan amal shaleh, sempurna dari sisi bathin maupun dari sisi dzhohir, dari sisi bathin adalah dia berusaha untuk ikhlas, merasa diawasi oleh Allāh ﷻ di dalam amalannya, sehingga dia tidak berpaling kepada manusia tapi beramal lillah. Kemudian sempurna dari sisi dzhohirnya yaitu sesuai dengan sunnah Nabi

وَأَحْسِنُوَاْ

Hendaklah kalian sempurnakan dan kokohkan amalan kalian, yaitu ikhlaskanlah amalan tersebut karena Allāh ﷻ dan dzhohirnya sesuaikan dengan sunnah Nabi ﷺ. Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ ketika ditanya tentang apa itu ihsan

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau menyembah kepada Allāh ﷻ seakan-akan engkau melihat-Nya dan kalau engkau tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.

Orang yang merasa diawasi oleh Allāh ﷻ maka dia akan memperbaiki bathinnya dan juga memperbaiki dzhohirnya, orang yang memiliki sifat demikian dalam beramal

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang ihsan, yaitu orang yang berusaha ikhlas di dalam amalannya, tidak riya, tidak sum’ah dan dia berusaha untuk sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ dalam shalatnya, dalam wudhunya, dalam pakaian, dalam cara tidurnya, Allāh ﷻ cinta dengan orang-orang yang demikian. Berarti kita berusaha untuk termasuk orang-orang yang muhsinin dalam artian dia berusaha memperbaiki dan menyempurnakan amalan, jangan kita asal-asalan dalam beramal, shalat asal-asalan, wudhu asal-asalan, berpakaian asal-asalan, tidur asal-asalan, kita berusaha untuk ihsan, merasa diawasi oleh Allāh ﷻ, memperbaiki bathin kita dan niat kita dan juga memperbaiki dzhohir kita, terus kita berusaha bagaimana sesuai amalan kita dengan sunnah.

Mungkin antum sudah belajar tata cara wudhu, tata cara shalat, tapi seseorang terkadang lalai, terkadang lupa, ada perkara-perkara yang sebenarnya sudah antum pelajari tapi karena tidak diamalkan akhirnya antum lupa bahkan seakan-akan baru tahu sekarang itu adalah sunnah Nabi ﷺ. Antum baca kembali tentang apa yang disunahkan dalam shalat, apa yang disunahkan dalam wudhu kemudian Antum praktekan sehingga semakin ke sana, semakin tua semakin baik amalan kita semakin sempurna amalan kita, ini satu diantara cara untuk mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ.

Sehingga kita berdakwah kepada Tauhid supaya manusia mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ, kita mengajak manusia kepada sunnah supaya manusia mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ, karena Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang muhsinin, orang-orang yang memperbaiki amalannya baik amalan yang dzhohir maupun amalan yang bathin, bagaimana manusia ini dicintai oleh Allāh ﷻ dengan Ihsan nya.

—–Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ

وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Dan hendaklah kalian berbuat adil, aqsatho – yuqsithu artinya adalah berbuat adil, وَأَقْسِطُوا hendaklah kalian berbuat adil, di sana ada muqsithun, di sana ada qāsithun, kalau qāsithun, qāsith maknanya adalah ja’ir yaitu orang yang dzalim, tapi kalau muqsith orang yang adil. Allāh ﷻ mengatakan

وَأَمَّا ٱلْقَٰسِطُونَ فَكَانُوا۟ لِجَهَنَّمَ حَطَبًا
[Al-Jinn:15]

Yaitu orang-orang yang dzalim, orang-orang yang kuffar maka mereka menjadi bahan bakar atau kayu bakar untuk jahannam, dengannya jahannam menyala, ini qāsith yang artinya adalah ja’ir yaitu orang yang dzalim. Adapun al-muqsith (ini adalah muf’il, kalau tadi adalah fa’il) artinya adalah Al-Adl orang yang adil. Jangan kita pahami وَأَمَّا ٱلْقَٰسِطُونَ berarti orang yang adil, tidak, itu adalah orang yang dzalim, orang-orang yang kuffar.

Dan hendaklah kalian berbuat adil, berbuat adil dalam menghukumi, ada perseturuan, ada perkelahian, ada persengketaan maka kita disuruh untuk berbuat adil, kita ikuti kebenaran, kita ikuti keadilan, jangan kita mendzalimi salah satu diantara kedua belah pihak hanya karena sebab yang satunya adalah termasuk satu negara atau satu suku atau satu organisasi dengan ana, tidak. Tidak boleh kita berbuat dzalim, kita diperintahkan untuk berbuat adil, bukan termasuk ajaran Islam mendzalimi, termasuk mendzalimi musuh tidak boleh. Meskipun kita benci dengan pihak tertentu, tidak boleh kita mendzalimi mereka

وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ
[Surah Al-Ma’idah:8]

Jangan sampai kebencian kalian kepada sebuah kaum menjadikan kalian tidak adil kepada mereka.

Islam mengajarkan untuk adil meskipun kepada musuh, kalau memang teman kita salah ya salah, kalau memang dia yang dzalim kita katakan dia dzalim harus mengembalikan haknya, ٱعۡدِلُواْ hendaklah kalian berbuat adil karena yang demikian adalah lebih dekat dengan ketakwaan, وَأَقْسِطُوا hendaklah kalian berbuat adil, dan adil di sini umum baik adil dalam masalah ketika kita menjadi seorang penguasa sebuah wilayah atau sebuah daerah, termasuk juga seandainya seseorang adil di dalam rumahnya, dia memiliki istri lebih dari satu maka dia adil terhadap istri-istrinya, ketika dia bermuamalah dengan putra-putrinya maka dia berbuat adil dengan mereka tidak menzalimi salah satu diantara keduanya. Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang berbuat adil

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang berbuat adil.

Ingin dicintai oleh Allāh ﷻ dan masuk di dalam golongan orang-orang yang dicintai oleh Allāh ﷻ maka kita harus berbuat adil sesuai dengan kemampuan kita, jangan kita membiasakan diri berbuat dzolim meskipun dengan orang-orang yang dekat dengan kita, meskipun orang lain tidak melihat seperti kepada anak-anak kita

اعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلادِكُمْ

kata Rasul ﷺ, hendaklah kalian berbuat adil kepada anak-anak kalian.

Didalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ menyatakan

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di sisi Allāh ﷻ kelak, yaitu di hari kiamat, akan berada di atas mimbar-mimbar yang berasal dari cahaya, berada di atas mimbar yaitu sesuatu yang lebih tinggi daripada yang lain, Allāh ﷻ memuliakan mereka di antara manusia di berikan kepada mereka tempat yang lebih tinggi daripada manusia yang lain عَلَى مَنَابِرَ mereka berada di atas mimbar-mimbar مِنْ نُورٍ yang terbuat dari cahaya, Allāhu ‘ala kulli syai’in qadīr, Allāh ﷻ mampu melakukan segala sesuatu, menjadikan disana mimbar dan orang-orang yang ada berada di atasnya dan mereka tidak terjatuh itu adalah dengan kekuasaan Allāh ﷻ

عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ

Disebelah kanan Allāh ﷻ

وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ

Dan kedua tangan Allāh ﷻ adalah kanan

الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

Siapa mereka, orang-orang yang muqsithīn, mereka adalah orang-orang yang adil di dalam hukum mereka, seseorang bisa adil ketika dia kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits, dia memiliki ketakwaan kepada Allāh ﷻ, rasa takut kepada Allāh ﷻ, tidak mau mendzolimi manusia

وَأَهْلِيهِمْ

Dan mereka adil di dalam keluarga mereka, berarti termasuk istri dan juga anak, adil kepada mereka

وَمَا وَلُوا

Dan apa-apa yang mereka memiliki kekuasaan, memiliki wilayah, memiliki daerah sebagai kepala suku, sebagai bupati, sebagai camat dan seterusnya dia berbuat adil di dalam memegang kekuasaan ini, janji dari Allāh ﷻ bagi mereka akan ditempatkan mereka di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, ditambah lagi kecintaan Allāh ﷻ kepada mereka yaitu orang-orang yang berbuat adil.
Ini golongan yang kedua yang mereka dicintai oleh Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 17

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 17 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Sifat Al-Masyi’ah dan Al-Iradah Allāh ﷻ QS Al-Kahfi Ayat 39, Al-Baqarah Ayat 253, Al-An’am Ayat 125, Dan Al-Maidah Ayat 1

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Kita berpindah kepada ayat-ayat yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Al-Masyi’ah dan juga Al-Irodah.

Syaikhul Islam beliau mengatakan

وَقَوْلُهُ

Dan juga firman Allāh ﷻ

وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Didalam surah Al-Kahfi ketika ada hiwar/pembicaraan antara orang yang beriman dengan orang yang kafir, satunya beriman kepada Allāh ﷻ dan hari akhir yang satunya tidak beriman kepada adanya hari akhir dan dia kufur dengan nikmat Allah ﷻ, Allāh ﷻ mengatakan

وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Seandainya ketika engkau masuk جَنَّتَكَ yaitu kebunmu, قُلْتَ مَا شَاء engkau mengatakan Masya Allāh, ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, Masya Allāh di sini adalah artinya apa-apa yang dikehendaki oleh Allāh ﷻ artinya Hādza Masya Allāh ﷻ ini adalah dengan apa yang Allāh ﷻ kehendaki. Ketika dia melihat kebunnya yang luar biasa sifatnya, yang sangat menyejukkan mata harusnya dia mengatakan Masya Allāh ﷻ, ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ. Allāh ﷻ yang memberikan rezeki, Allāh ﷻ yang menghidupkan, Allāh ﷻ yang menyuburkan, Allāh ﷻ yang menjadikan dia berbuah, harusnya dia mengatakan Masya Allāh ﷻ ini dengan kehendak Allāh ﷻ, لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ dan mengatakan tidak ada kekuatan kecuali dengan Allāh ﷻ, yaitu Allāh ﷻ lah yang memberikan kekuatan kepada kita.

Berarti di sini ucapan مَا شَاء اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ isinya adalah mensifati Allāh ﷻ dengan Masyi’ah, Allāh ﷻ memiliki Masyi’ah, ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, tidak terjadi dengan sendirinya. Ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ dan seluruh yang terjadi di permukaan bumi adalah dengan kehendak Allāh ﷻ

مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ

Apa yang Allāh ﷻ kehendaki terjadi, apa yang terjadi di seluruh permukaan bumi baik berupa penciptaan zat maupun penciptaan sifat makhluk-Nya maupun apa yang dilakukan terjadi dengan kehendak Allāh ﷻ. Adanya kita adalah dengan kehendak Allāh ﷻ dan apa yang kita lakukan adalah dengan kehendak Allāh ﷻ bahkan kehendak kita adalah dengan kehendak Allāh ﷻ.

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
[QS At-Takwir 29]

Tidaklah kalian menginginkan kecuali Allāh ﷻ yang menghendaki.

Artinya keinginan kita dan kehendak kita adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, inilah makna kehendak kita itu di bawah kehendak Allāh ﷻ, masyi’atu makhluq taḥta masyi’atillāh

مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ, وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ

Dan apa yang Allāh ﷻ tidak kehendaki tidak akan terjadi. Maka ketika kita melihat nikmat yang Allāh ﷻ berikan kepada kita, kita katakan Masya Allāh, ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ. Kita sandarkan nikmat yang Allāh ﷻ berikan ini kepada Allāh ﷻ, jangan kita sandarkan kepada diri kita sendiri, ini adalah dengan kepandaianku dalam bertani, ini adalah kecerdasanku dalam bisnis, ini adalah pengalamanku dalam bekerja selama dua puluh tahun, ini adalah kepandaianku dalam mengatur manusia sehingga negara atau daerah dalam keadaan demikian aman dan seterusnya, tidak, itu adalah dengan kehendak Allāh ﷻ.

لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Tidak ada kekuatan kecuali dengan Allāh ﷻ. Kita bisa, kita mampu dan kita memiliki kekuatan adalah dengan pertolongan Allāh ﷻ, kalimat yang indah yang diucapkan oleh orang yang beriman yang dia mengakui bahwasanya nikmat yang ada pada dirinya itu adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, Alhamdulillah, kalau Allāh ﷻ tidak memudahkan niscaya dia tidak akan mendapatkan yang demikian.

Seandainya ketika engkau masuk dan melihat kebunmu engkau mengatakan demikian, menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia memiliki sifat Masyi’ah kita, makhluk juga memiliki sifat masyi’ah, apakah ketika kita menetapkan sifat Masyi’ah bagi Allāh ﷻ berarti kita menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk, tidak, Masyiatullah sesuai dengan Kesempurnaan-Nya dan masyi’ah kita sesuai dengan kekurangan kita. Kita memiliki masyi’ah (kehendak) apakah setiap kehendak yang kita inginkan kemudian terkabulkan, kita ingin punya mobil tapi apakah keinginan kita terpenuhi, itulah keadaan masyi’ah kita tapi Masyiatullah adalah manusia yang nafilah, Masyi’ah yang pasti terlaksana

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
[QS Ya-Sin 82]

Sesungguhnya perkara Allāh ﷻ apabila menghendaki sesuatu tinggal mengatakanكُنْ (jadilah) فَيَكُونُ (maka dia akan terjadi). Itulah kehendak, kehendak yang apabila Allāh ﷻ menghendaki terjadi

مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ, وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ

Apa yang Allāh ﷻ kehendaki terjadi dan apa yang Allāh ﷻ tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Sehingga Al-Imam As-Syafi’i beliau mengatakan

مَا شِئْتَ كَانَ، وإنْ لم أشَأْ – وَمَا شِئْتُ إن لَمْ تَشأْ لَمْ يكنْ

Apa yang Engkau kehendaki ya Allāh كَانَ terjadi وإنْ لم أشَأْ meskipun aku tidak menghendaki, dan apa yang aku kehendaki jika Engkau tidak menghendaki ya Allāh maka tidak akan terjadi.

Berarti kehendak kita itu di bawah kehendak Allāh ﷻ

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan tidak lah kalian menghendaki kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki.

Maka tidak ada di sana kelaziman kita menetapkan Masyi’ah bagi Allāh ﷻ kemudian kita berarti menyerupakan Masyi’ah Allāh ﷻ dengan masyi’ah makhluk. Di dalam Al-Qur’an Allāh ﷻ menetapkan masyi’ah bagi kita, makhluk juga memiliki masyi’ah

لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ
[QS At-Takwir 28]

Siapa di antara kalian yang ingin istiqomah

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan tidak berkehendak kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki.

Berarti kita juga memiliki kehendak. Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَقَوْلُهُ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلَ ٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُ وَلَٰكِنِ ٱخۡتَلَفُواْ فَمِنۡهُم مَّنۡ ءَامَنَ وَمِنۡهُم مَّن كَفَرَۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ

Dan juga firman Allāh ﷻ, kalau Allāh ﷻ menghendaki niscaya tidak akan berperang orang-orang yang datang setelah mereka setelah jelas bagi mereka bertemu, di sini Allāh ﷻ menceritakan tentang adanya iqtital (peperangan) antara orang yang beriman dengan para rasul dan orang yang tidak beriman dengan para rasul, kalau Allāh ﷻ menghendaki niscaya tidak akan berperang tapi terjadi peperangan

وَلَٰكِنِ ٱخۡتَلَفُواْ

Akan tetapi mereka berselisih kemudian akhirnya mereka berperang

فَمِنۡهُم مَّنۡ ءَامَنَ وَمِنۡهُم مَّن كَفَرَۚ

Ada diantara mereka yang beriman dan ada diantara mereka yang kufur. Kalau Allāh ﷻ menghendaki niscaya mereka tidak berperang

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ

Seandainya Allāh ﷻ menghendaki niscaya mereka tidak akan berperang. Berarti berperangnya mereka dengan kehendak Allāh ﷻ, kalau Allāh ﷻ menghendaki mereka tidak berperang maka mereka tidak akan berperang, menunjukkan bahwasanya peperangan yang terjadi perseteruan yang terjadi antara Ahlul Haq dengan Ahlul Bathil ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, dan apa yang Allāh ﷻ kehendaki terjadi. Kita ingin supaya manusia beriman semuanya

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ…
[QS Yunus 99]

Seandainya Allāh ﷻ menginginkan niscaya akan beriman seluruh orang yang berada di bumi.
Kita juga inginnya demikian, tapi Allāh ﷻ menghendaki lain, sunnatullah ada diantara mereka yang kufur ada diantara mereka yang beriman

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ

Akan tetapi Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki.

Tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Allāh ﷻ kehendaki, Allāh ﷻ menghendaki ada diantara mereka yang beriman ada diantara mereka yang kufur sementara kita ingin seandainya manusia semuanya beriman, tapi ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ, Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia inginkan.

Sehingga seseorang bersabar sebagai orang yang telah diberikan hidayah oleh Allāh ﷻ pasti di sana ada suara, disana ada fitnah, di sana ada ancaman, di sana ada gangguan itu semua terjadi dengan kehendak Allāh ﷻ, maka kita bersabar dan kalau kita ketahui Allāh ﷻ dengan kehendak-Mu maka akan ada dalam diri kita ketenangan. Tidaklah mereka menulis tulisan yang jelek, mengucapkan ucapan yang menghujat, mencela kecuali itu dengan kehendak Allāh ﷻ untuk menguji kesabaran kita dan menjadikan kita introspeksi diri, mengoreksi diri kita mungkin kita yang kurang hikmah di dalam dakwah, mungkin kita yang kurang ikhlas didalam dakwah, atau untuk mengangkat derajat kita sehingga kita dengan ujian tadi kita bersabar dan diangkat derajat kita.

وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ

Akan tetapi Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki. Berbeda dengan kita, banyak kehendak kita dalam hati yang kita inginkan/angan-angankan tapi tidak terwujud, sampai kita meninggal dunia tidak terwujud. Ada yang ingin menjadi seorang kaya, ada seorang ingin menjadi seorang dokter, ingin menjadi seorang presiden, ingin menjadi seorang ulama, apakah keinginan mereka pasti terpenuhi, tidak, tapi Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki.

Disini Masyi’ah yang dimaksud disini adalah Iradah Kauniyah, diawal ayat Allāh ﷻ mengatakan وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ dan kalau Allāh ﷻ menghendaki, kemudian di akhir Allāh ﷻ mengatakan وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ akan tetapi Allāh ﷻ melakukan apa ya Dia kehendaki. Iradah yang terkandung dalam kalimat يُرِيدُ ini adalah iradah kauniyah, ini sinonim dengan Masyi’ah, jadi Masyi’atullah itu sama dengan Iradah Kauniyah.

Para ulama menjelaskan berdasarkan dalil, iradah Allāh ﷻ itu ada dua macam, iradah yang pertama dinamakan dengan iradah kauniyah atau dengan nama lain Masyi’ahtullah, jadi Allāh ﷻ memiliki sifat Masyi’ah dan memiliki sifat irodah, iradah kauniyah sama dengan Masyi’atullah. Seluruh apa yang terjadi di permukaan bumi ini, yang baik maupun yang buruk ini semuanya dengan Masyi’atullah dengan irodatullah yang kauniyah, dan inilah yang dimaksud dalam ucapan kita مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ, apa yang Allāh ﷻ kehendaki terjadi, baik berupa ketaatan maupun kemaksiatan, ini iradah kauniyah.

Dan dia tidak berkaitan dengan kecintaan Allāh ﷻ artinya Allāh ﷻ menghendaki terjadi sesuatu tapi Allāh ﷻ tidak mencintainya, Allāh ﷻ tidak meridhoinya. Diciptakannya syaithan dengan kehendak Allāh ﷻ tapi Allāh ﷻ tidak mencintai syaithan. Adanya kemaksiatan, kesyirikan, bid’ah dengan kehendak Allāh ﷻ tapi Allāh ﷻ tidak mencintai kesyirikan, bid’ah dan juga kemaksiatan. Allāh ﷻ mentakdirkan dan Allāh ﷻ menghendaki tapi iradah yang dimaksud disini adalah iradah kauniyah, tidak ada kaitanya dengan mahabbatullah. Dan ayat tentang

وَلَوْلَآ إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَآءَ
[Al-Kahfi:38]

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلَ ٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِم

Ini adalah Masyi’ah dan dia adalah iradah kauniyah.

Disana ada iradah syar’iah, iradah syar’iah ini berkaitan dengan mahabbatullah, kalau iradah kauniyah tadi tidak berkaitan dengan mahabatullah tapi ini iradah berkaitan dengan kecintaan Allāh ﷻ. Misalnya Allāh ﷻ ingin orang-orang beriman, ingin manusia yang diutus kepada mereka para rasul ini beriman, Allāh ﷻ mengutus kepada mereka Rasul, menurunkan kepada mereka kitab dan juga petunjuk, ingin supaya mereka beriman ini iradah syar’iah, iradah yang berkaitan dengan mahabbatullah.

Apakah iradah syar’iah pasti terjadi sebagaimana iradah kauniyah? jawabannya tidak, buktinya Allāh ﷻ menginginkan manusia beriman tapi yang terjadi iradah kauniyah Allāh ﷻ ada diantara mereka yang beriman ada diantara mereka yang tidak beriman.

Berarti iradah syar’iah tidak mengharuskan terjadinya, jadi kalau kita ditanya perbedaan antara iradah kauniyah dengan iradah syar’iah minimal ada dua,

pertama iradah kauniyah pasti terjadi adapun iradah syar’iah maka murodnya, yang diinginkan oleh Allāh ﷻ belum tentu terjadi,

kedua iradah kauniyah terkadang murodnya dicintai oleh Allāh ﷻ terkadang tidak dicintai oleh Allāh ﷻ tapi iradah yang syar’iah dicintai oleh Allāh ﷻ, murodnya sesuatu yang diinginkan itu pasti dicintai oleh Allāh ﷻ. Contoh iradah syar’iah Allāh ﷻ mengatakan

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ
[Al-Baqarah:185]

Allāh ﷻ menginginkan kemudahan untuk kalian. Ini iroda syar’iah

وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيۡكُمۡ
[An-Nisa’:27]

Dan Allāh ﷻ ingin untuk memberikan taubat kepada kalian. Ini iradah syar’iah yang berkaitan dengan kecintaan Allāh ﷻ

إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ
[Al-Ahzab:33]

Allāh ﷻ ingin menghilangkan dari kalian رِجْس, perkara yang jelek amalan-amalan yang jelek, wahai Ahlul Bayt. Iradah disini adalah iradah yang sya’iah yang mungkin terjadi dan mungkin tidak terjadi, harus kita bedakan antara dua iradah ini. Karena tidaklah tersesat orang yang tersesat di dalam masalah takdir kecuali di antaranya adalah karena dia tidak bisa membedakan antara iradah kauniyah dengan iradah syar’iah dianggapnya sesuatu yang terjadi pasti dicintai oleh Allāh ﷻ, tidak membedakan antara Iradah kauniyah dengan iradah syar’iah.

Sehingga jabriyah ketika berbuat maksiat dikatakan kenapa engkau berbuat maksiat, ini terjadi berarti dia dicintai oleh Allāh ﷻ, dia terus berbuat maksiat melakukan kesyirikan melakukan kebid’ahan melakukan dosa besar alasannya karena ini berarti dicintai oleh Allāh ﷻ, tidak mengetahui bahwasanya iradah ada dua kauniyah dengan syar’iah.

———-

وَقَوْلُهُ: فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ

Dan juga firman Allāh ﷻ, maka barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki untuk diberikan hidayah maka Allāh ﷻ akan membuka dadanya untuk Islam.

Barangsiapa yang Allāh ﷻ ingin untuk memberikan petunjuk kepadanya, Allāh ﷻ jadikan dadanya yang biasanya inginnya menolak, inginnya membantah, inginnya katanya kritis, tapi Allāh ﷻ jadikan hatinya ini yasyraḥ, Allāh ﷻ bukakan dadanya untuk tunduk untuk mengikuti kebenaran. Kalau Allāh ﷻ menghendaki untuk memberikan hidayah kepada seseorang, dijadikan hatinya ini luas untuk menerima kebenaran.

Alhamdulillah yang telah meluaskan dada kita untuk beriman kepada Allāh ﷻ padahal kita tidak pernah melihat Allāh ﷻ, yang meluaskan dada kita untuk beriman dengan Rasul ﷺ padahal kita hanya mendengar nama Beliau ﷺ, mendengar sifat Beliau ﷺ, sampai kepada kita ucapan Beliau ﷺ kita tidak pernah melihat Beliau ﷺ. Siapa yang menjadikan dada-dada kita ini menjadi tunduk dan luas, Allāh ﷻ, Allāh ﷻ yang menghendaki.

Maka ihmadullāh, maka pujilah Allāh ﷻ dan kita memuji Allāh ﷻ yang telah menghendaki untuk memberikan hidayah kepada kita, hamba Allāh ﷻ ini banyak, makhluk Allāh ﷻ ini banyak tapi Allāh ﷻ pilih, Allāh ﷻ kehendaki sebagiannya untuk dibuka dadanya, dilapangkan dadanya, maka jangan kita sia-siakan nikmat Allāh ﷻ ini. Bagaimana cara bersyukurnya, dengan mengamalkan agama ini dengan baik sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ inginkan, ini adalah nikmat Allāh ﷻ, Allāh ﷻ menghendaki itu nikmat sekali, Allāh ﷻ menghendaki kita untuk mendapatkan hidayah.

وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ

Barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki untuk menyesatkannya, berarti ini iradah kauniyah, yang pertama juga iradah kauniyah, terkadang iradah kauniyah berkaitan dengan kebencian Allāh ﷻ terkadang sesuatu yang dicintai oleh Allāh ﷻ. Kita mendapatkan hidayah iradah kauniyah sekaligus iradah syar’iah, iradah kauniyah terjadi memang kita mendapatkan hidayah dan iradah syar’iah karena inilah yang dicintai oleh Allāh ﷻ, dan barangsiapa yang Allāh ﷻ sesatkan, ada orang tersesat yang terjadi di sini adalah berkaitan dengan iradah kauniyah karena kesesatan tidak dicintai oleh Allāh ﷻ tapi ini tidak berkaitan dengannya iradah syar’iah karena Allāh ﷻ tidak mencintai kesesatan.

Barangsiapa yang Allāh ﷻ menghendaki maksudnya adalah iradah kauniyah disini untuk menyesatkan dia

يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا

Allāh ﷻ akan menjadikan dadanya di sini menjadi sempit, menjadi sesak. Ketika ditawarkan Islam, ditawarkan tauhid, hatinya menjadi sempit ketika mendengar tentang tauhid, maunya datang ke wali, maunya bergantung kepada nyi Fulan kyai fulan, tenangnya ketika dia datang ke kuburan dan meminta-minta kepada ahlul kubur, sesak ketika mendengar dakwah tauhid, sesak ketika mendengar orang mengajak kepada sunnah, benci dengan orang yang mengajak kepada sunnah dan mungkin itu adalah keadaan kita dahulu, tapi karunia dari Allāh ﷻ kemudian Allāh ﷻ menghendaki untuk memberikan hidayah kepada kita ini adalah minnah ini adalah karunia dari Allāh ﷻ

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا۟ ۖ قُل لَّا تَمُنُّوا۟ عَلَىَّ إِسْلَٰمَكُم ۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَىٰكُمْ لِلْإِيمَٰنِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
[Al-Hujurat:17]

Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan karunia kepada kita, karunia-Nya dan kelebihan-Nya dan keutamaan-Nya untuk kita

كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء

Seakan-akan dia seperti orang yang mau naik ke atas, naik kelangit. Bagaimanapun usaha kita tidak bisa, kita bukan malaikat yang diberikan oleh Allāh ﷻ sayap sehingga dia bisa terbang dengan izin Allāh كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء seakan-akan dia seperti orang yang naik ke atas, dalam keadaan susah sekali, dalam keadaan dia sesak. Alhamdulillah yang telah menghendaki untuk memberikan hidayah kepada kita.

ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًا ۚ
[Saba:13]

Hendaklah kalian beramal wahai keluarga Daud sebagai bentuk syukur kita kepada Allāh ﷻ. Jelas disini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat iradah, ada sebagian orang yang Allāh ﷻ irodahkan Allāh ﷻ kehendaki untuk memberikan hidayah, ada di antara yang Allāh ﷻ kehendaki untuk disesatkan. Maka hati-hati dan hendaklah kita banyak membaca doa

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Karena disebutkan dalam hadits bahwasanya hati manusia ini berada diantara dua jari di antara jari-jari Allāh ﷻ, Allāh ﷻ gerakan kapan saja Dia menghendaki, jangan sampai kita termasuk orang yang kufur dengan nikmat Allāh ﷻ, nikmat hidayah. Sudah tahu ilmunya, sudah tahu hidayah maka jalankanlah, pegang erat-erat, jangan kita sepelekan, jangan kita bermudah-mudahan, khawatirnya kalau kita tidak bersyukur nanti akan diambil oleh Allāh ﷻ. Ada yang mengatakan nikmat itu kalau disyukuri akan datang terus, akan ada terus dan kalau jadi kufur maka dia akan meninggalkan kita, dan makna ini ada dalam firman Allāh ﷻ

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
[Ibrahim:7]

Kalau kalian bersyukur kepada Allāh ﷻ niscaya kami akan menambahkan.

Kemudian setelahnya Allāh ﷻ mengatakan

وَقَوْلُهُ: ِ أُحِلَّتْ لَكُم بَهِيمَةُ الأَنْعَامِ إِلاَّ مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

Dan juga firman Allāh ﷻ, dihalalkan untuk kalian bahīmatul an’ām (yaitu hewan-hewan ternak, tiga jenis unta dengan dua jenisnya baik yang berpunuk satu maupun yang berpunuk dua, sapi dengan dua jenis yaitu sapi dan juga kerbau, demikian pula kambing yang domba atau yang berbulu tipis) maka dihalalkan bagi kalian bahimatul an’am

إِلاَّ مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ

Kecuali yang sudah dibacakan kepada kalian. Ada disana yang dikecualikan seperti yang meninggal dalam keadaan terjatuh atau dalam keadaan mayit/bangkai maka ini tidak diperbolehkan

غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ

Dalam keadaan tidak menghalalkan hewan buruan sedangkan kalian dalam keadaan ihram. Termasuk berburu yang dilarang adalah ketika dalam keadaan ihram, Allāh ﷻ menghalalkan bahimatul an’am kemudian Allāh ﷻ mengecualikan keadaan kita dilarang untuk berburu ketika dalam keadaan ihram, kita dilarang untuk memakan bangkai atau memakan hewan yang tidak disebut nama Allāh ﷻ misalnya, Allāh ﷻ mengharamkan dan Allāh ﷻ menghalalkan.

إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

Allāh ﷻ menghukumi sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Artinya Allāh ﷻ memberikan hukum, mengatakan ini halal ini haram itu sesuai dengan kehendak Allah, Allāh ﷻ Dia-lah yang berhak. Yang perlu kita pahami dan sudah berlalu bahwasanya Allāh ﷻ diantara namanya Al-Hakim, Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki sifat Al-Hukm dan Dia memiliki sifat Al-Hikmah, meskipun Allāh ﷻ Dia-lah yang berhak mengharamkan dan menghalalkan tapi ketika Allāh ﷻ mengharamkan itu berdasarkan hikmah, ketika Allāh ﷻ menghalalkan maka itu berdasarkan hikmah, ketika Allāh ﷻ memerintahkan berdasarkan hikmah, ketika Allāh ﷻ melarang berdasarkan hikmah.

Jadi jangan dipahami إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ Allāh ﷻ menghukum, mengeluarkan hukum sesuai dengan kehendaknya kemudian dibayangkan seperti makhluk yang lemah, ketika dia memiliki kedudukan kemudian dia sewenang-wenang, terserah saya mau mengatakan ini boleh atau tidak boleh, tidak berdasarkan hikmah, tidak berdasarkan ilmunya keadaan makhluk. Tapi Allāh ﷻ Dia-lah yang يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ, dan ini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki sifat iradah, Allāhu A’lam iradah dalam firman Allāh إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ disini adalah Iradah Syar’iah, karena hukum yang dimaksud disini adalah hukum syar’i karena berkaitan dengan tahlil dan juga tahrim maka ini adalah hukum syar’i Allāhu A’lam, dan Allāh ﷻ dalam hukum kauni juga dengan يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ Allāh ﷻ menghukumi dengan hukum yang kauni juga sesuai dengan kehendak-Nya sebagaimana telah berlalu

وَلَـكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

Akan tetapi Allāh ﷻ Dia-lah yang melakukan apa yang Dia kehendaki.

Sebagian ahlul bid’ah ada yang menafikan sifat yang iradah ini, seperti mu’tazilah secara umum keyakinan mereka Allāh ﷻ memiliki nama tetapi tidak memiliki sifat sehingga mereka menafikan sifat iradah bagi Allāh ﷻ. Dan ada yang mengatakan bahwasanya iradah Allāh ﷻ itu iradah yang satu saja yaitu iradah yang azaliah tapi mereka menafikan iradah-iradah Allāh ﷻ yang mutajaddidah, yang terus ada, padahal Ahlussunnah dan mereka melihat dalil bahwasanya iradah Allāh ﷻ itu mungkin berulang-ulang

إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا
[Yāsīn:82]

Kalau Allāh ﷻ menginginkan sesuatu maka Allāh ﷻ mengatakan كُن fayakun, menunjukkan bahwasanya iradah Allāh ﷻ bisa berulang-ulang. Wallahu A’lam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته