Tag Archives: kajian

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 46 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim

Halaqah 46 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-46 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan,

وفيه: أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم؟

Dan didalamnya (mungkin kembali kepada Hadits yang shahih) atau maksudnya adalah didalam Hadits yang diriwayatkan Bukhori & juga Muslim .

أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم؟

Ini Hadits yang lain, jika Hadits yang sebelumnya

من فارق الجماعة شبرا فمات فميتته جاهلية

Ini adalah haditsnya Abdullah Ibnu Abbas, adapun hadits yang dimaksud oleh beliau disini – أبدعوى الجاهلية – maka yang dimaksud adalah haditsnya Jabir Ibnu Abdillah, dari mana kita tahu ini hadits yang dimaksud oleh pengarang di sini, pertama beliau mengatakan – وفيه – maksudnya adalah didalam hadits yang shahih yang tadi kita sebutkan bisa didalam Hadits yang shahih atau didalam Hadits yang juga diriwayatkan oleh Bukhori dan juga Muslim.

Kemudian kita melihat penjelasan dari Ibnu Taimiyyah yang dinukil oleh beliau disini karena beliau setelah mendatangkan hadits Ini, beliau mendatangkan ucapan Ibnu Taimiyyah & disini beliau menyebutkan sebuah hadits yaitu adanya kasus yang hampir menjadikan disana perseteruan antara muhajirin & anshor.

Haditsnya

أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ غَزَوْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kami berperang bersama Rasulullah ﷺ

وَقَدْ ثَابَ مَعَهُ نَاسٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ حَتَّى كَثُرُوا وَكَانَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلٌ لَعَّابٌ فَكَسَعَ أَنْصَارِيًّا

Dan telah pergi bersama beliau beberapa orang dari kalangan Muhajirin sehingga mereka banyak (banyak berkumpul orang² Muhajirin), diantara orang² Muhajirin tersebut ada seorang laki² yang la’ab (suka bermain)

فَكَسَعَ أَنْصَارِيًّا

Maka dia memukul dubur dari orang Anshor tadi (mungkin mencolek) & dia adalah rajulun yang la’ab (suka bercanda) -al Kasa – mungkin memukul dengan tangannya atau dengan kakinya (ditendang pantatnya dengan kaki atau dipukul dengan tangannya) – – ada yang mengatakan dia adalah memukul makna nya sama pantat – bil kodam – dengan kakinya
Apa yang terjadi

فَغَضِبَ الْأَنْصَارِيُّ غَضَبًا شَدِيدًا

Maka orang Anshor tadi marah dengan marah yang sangat – حَتَّى تَدَاعَوْا – sampai akhirnya mereka saling memanggil satu dengan yang lain

وَقَالَ الْأَنْصَارِيُّ يَا لَلْأَنْصَارِ وَقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ

Berkata orang Anshor Ini – yaitu memanggil orang² Anshor _wahai orang² Anshor_
Berkata orang Muhajirin tadi – – _wahai orang² Muhajirin_

Jadi orang Anshor tadi memanggil kawan²nya dari golongan Anshor & orang Muhajirin memanggil kawan²nya Muhajirin,

فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

Maka Nabi ﷺ keluar (mungkin keluar dari kemah nya) kemudian beliau mengatakan

مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

kenapa kalian mengajak ajakan orang² ahli jahiliyyah karena mereka dahulu taasubnya bukan kepada agama Islām tapi taasubnya adalah kepada qobilah ya quraisy, ya fulan, qobilah fulan bin fulan yang mereka seru adalah bukan kepada Islām tapi taasub terhadap golongan-kesukuan

maka Nabi ﷺ ketika mendengar

يَا لَلْمُهَاجِرِينَ … يَا لَلْأَنْصَارِ

Beliau keluar & mengatakan kenapa kalian masih menyeru kepada seruan ahlu jahiliyyah, wala dan baro nya bukan kepada Islām

ثُمَّ قَالَ مَا شَأْنُهُمْ

Kemudian beliau menyebutkan tentang apa yang terjadi diantara mereka

فَأُخْبِرَ بِكَسْعَةِ الْمُهَاجِرِيِّ الْأَنْصَارِيَّ

Kemudian beliau dikabarkan tentang apa yang terjadi
(ada seorang Muhajirin dia memukul/menendang pantatnya seorang Anshor)

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ

Kemudian Nabi ﷺ mengatakan tinggalkan ini karena sesungguhnya adalah jelek (busuk). Maksudnya adalah ta’asub dengan selain Islām meskipun itu ta’asub terhadap Muhajirin & Anshor yang mereka adalah laqob² ini ada didalam Al Quran tapi kalau menggunakan laqob² tersebut Muhajirin & juga Anshor & menjadikan dia ta’asub bukan kepada Islām tapi kepada orangnya, kalau ta’asubnya terhadap Islām orang Anshor juga Islām orang Muhajirin juga Islām, kenapa dia memanggil Ya Ahlal Anshor/Muhajirin, berarti disini ta’asubnya bukan kepada Islām tapi kepada orangnya, karena sama² Muhajirin karena ta’asubnya dengan Muhajirin.

Kalau Taasubnya adalah benar yaitu Ta’asubnya adalah kepada Islām maka dia memandang juga Anshor karena Anshor juga Muslimin & juga sebaliknya. Maka dakwah seperti ini dakwah kepada selain Islām tapi kepada golongan kepada orang per orang selain Nabi ﷺ maka ini adalah dakwah jahiliyyah disifati oleh Nabi ﷺ

فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ

Ini adalah perkara yang jelek/busuk.

Didalam shahih Muslim

كن مع النبي صلى الله عليه وسلم في غزات

Ini adalah didalam sebuah peperangan

فكسع رجل من المهاجرين رجل من الأنصاري فقال الأنصاري يا للأنصار فقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ فقال رسول الله ﷺ ما بال دعوى الجاهلية

Kalau tadi

ما بال دعوى أهل الجاهلية
قالوا يا رسول الله كسع رجل من الْمُهَاجِرِين رجلا من الأنصار فقال دعوها فإنها منتنة فسمع بذلك عبد الله بن أبي فقال فعلوها أما والله لئن رجعنا إلى المدينته ليخرجن الأعز منها الأذل..

Itu adalah kisah yang sebenernya sebagaimana kisah ini diisyaratkan didalam nukilan syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Setelahnya.

Jadi lafadz (shahih Muslim)

ما بال دعوى الجاهلية

Di dalam shahih Bukhori

ما بال دعوى أهل الجاهلية

Tidak ada kalimat – وأنا بين أظهركم – mungkin disini beliau karena menukil dari ucapan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah & syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan – أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم؟ – akhirnya beliau mengikuti & khusnudzon terhadap syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang lafadz Ini, dan ini pentingnya kita (jika sebagai thulabul ilmu) maka jika Kita masih bisa kembali kepada nukilan yang ada didalam kitab asalnya itu lebih baik, karena disana terkadang pengarang menukil dengan makna mungkin benar mungkin salah.

Jadi kalau kita bisa kembali kepada asalnya maka ini lebih baik.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post navigation

Fawaid seputar penyakit ‘ain


Ada beberapa faedah yang saya dapatkan dari penjelasan Syaikh Dr. Sulaiman Ar Ruhaili hafizhahullah berikut ini, di antaranya:

  • Penyakit ‘ain itu benar adanya dan berbahaya. Namun tidak boleh seseorang mengaitkan segala keburukan dengan ‘ain. Maksudnya, tidak boleh sedikit-sedikit menyangka kena ‘ain.

Seorang Mukmin harus pertengahan antara ifrath (berlebihan) dan tafrith (meremehkan).

  • ‘Ain ada dua:
  • [1] ‘ain hasidah, yang terjadi karena pandangan hasad (iri; dengki)
  • [2] ‘ain mu’jabah, yang terjadi karena pandangan kagum.

Dan seseorang bisa terkena ‘ain karena pandangan kagumnya pada diri sendiri.

  • Cara paling utama mencegah terjadi ‘ain pada diri sendiri adalah dengan banyak tawakal (menggantungkan hati) kepada Allah dan banyak berdzikir.
  • Tidak benar jika seseorang berlebihan menyembunyikan barang-barangnya yang bagus dengan alasan karena takut terkena ‘ain.
  • Tidak boleh mencegah ‘ain dengan tamimah (jimat).
  • Tidak boleh menjadikan mushaf Al Qur’an sebagai jimat untuk mencegah ‘ain. Ini perkara yang dilarang.
  • Termasuk mencegah ‘ain dengan jimat adalah dengan menempelkan tulisan “masya Allah tabarakallah”. Ini perkara yang dilarang.
  • Termasuk mencegah ‘ain dengan jimat adalah dengan menempelkan simbol-simbol dengan huruf Arab. Ini juga perkara yang dilarang.

Simak lengkapnya:
https://www.youtube.com/watch?v=xZrUKDZ2pXw

Wallahu a’lam.

Fawaid Kang Aswad

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 45 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Ketiga

Halaqah 45 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Ketiga

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-45 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan,

وفي الصحيح:

Di dalam Ash-Shahih

من فارق الجماعة شبرا فمات فميتته جاهلية

_barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah_, memisahkan dari jamaah nya Rasulullāh ﷺ & juga para shahabatnya yang mereka berada diatas jalan yang lurus, _شبرا meskipun hanya sejengkal kemudian dia meninggal_
Dan tidak kembali ke jalan yang lurus tadi / tidak bergabung kembali kepada jamaah nya Rasulullāh ﷺ & juga para shahabat sebelum dia meninggal dunia, _فميتته جاهلية maka meninggalnya dia adalah (sifatnya) Jahiliah

Dan bukan berarti disini dia meninggal dalam keadaan kafir (diluar agama Islām), karena mufarroqotu jamaah sudah kita sebutkan ada bermacam², terkadang meninggalkan jamaah atau berpisah dengan jamaah meninggalkan atslul Islām / meninggalkan Islām yang merupakan jalan ini & dia adalah sesuatu yang membatalkan keIslāman nya maka meninggalnya disini adalah meninggal dalam keadaan kafir, kalau memang dia memisahkan dari jamaah tersebut dengan sesuatu yang membatalkan keIslāman.

Tapi kalau mufaroqoh nya disini / meninggalkan jamaah disini melakukan sesuatu yang tidak sampai membatalkan keIslāman dia, bid’ah yang tidak mukafiro atau kemaksiatan, kemudian dia meninggal dunia maka meninggalnya adalah meninggal Jahiliah tapi tidak sampai kepada keluar dari agama Islām.

Dan segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Jahiliah ini adalah perkara yang tercela karena dia adalah bertentangan dengan Islām & sesuatu yang bertentangan dengan Islām ada bermacam², ada yang memang bertentangan secara Ushul, Islām menyeru pengesaan kepada kepada Allāh ﷻ di dalam Ibadah kemudian Jahiliah menyeru kepada menyekutukan Allāh ﷻ, maka ini jelas bertentangan dengan fatslul Islām, ini mengeluarkan seseorang dari agama Islām. Tapi disana ada sesuatu yang bertentangan dengan agama Islām tetapi tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām, seperti kemaksiatan & juga bid’ah yang tidak mukafiro maka ini bukan sesuatu yang mengeluarkan seseorang dari agama Islām.

Syahidnya kenapa disini Beliau mendatangkan lafadz ini karena diantara bentuk mufaroqotul jamaah adalah memberikan nama kepada dirinya selain dengan nama yang sudah Allāh ﷻ berikan kepadanya, semuanya yang ada disini memberikan kepada mereka nama yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada mereka, muslimin mukminin ibadallāh.

Ternyata dia lebih memilih nama² yang lain selain nama muslimin mukminin ibadallāh, maka ini termasuk mufaroqotu Al Jamaah, karena seluruh jamaah yang ada disini jamaahnya Rasulullāh ﷺ & seluruh yang ada diatas jalan yang lurus nama mereka adalah nama yang Allāh ﷻ berikan kepada mereka.

Maka jika masih memilih nama yang lain, tidak kembali kepada Islām berarti dia termasuk orang yang mufaroqotu Al Jamaah, akibat nya jika dia meninggal dunia maka dia meninggal dunia dalam keadaan sifat kematiannya adalah sifat Jahiliah, Jadi sifat yang tercela dengan perincian yang tadi disebutkan, tapi disini jika hanya sekedar berbeda penisbatan kemudian pelanggaran yang ada di dalamnya (disana ada pelanggaran) tetapi tidak sampai mengeluarkan dia dari agama Islām maka jahiliah disini adalah jahiliah yang tidak sampai mengeluarkan dia dari agama Islām, tapi jika dia mengajak kepada nama selain Islām ditambah lagi ajaran yang ada di dalamnya yang dia seru adalah ajaran yang merupakan satu diantara pembatal keIslāman maka _mitatuhu Jahiliah_ jahiliah disini sampai maknanya mengeluarkan dia dari agama Islām.

Jadi jahiliah disini umum, bisa jahiliah yang mengeluarkan seseorang dari agama Islām bisa jahiliah tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām dan semuanya dinamakan dengan Jahiliah.

Misalnya menjadikan orang yang sholeh yang sudah meninggal sebagai perantara, termasuk pembatal keIslāman & dia termasuk perkara jahiliah. Ta’asub terhadap orang tua, suku, tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām, terkadang ada ta’asub terhadap kesukuan, ta’asub terhadap negaranya termasuk perkara jahiliah tetapi tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām.

Jadi jahiliah jangan langsung di pahami setiap yang jahiliah berarti mengeluarkan seseorang dari agama Islām, harus ada perincian disana.

Berarti disini ada ancaman yang lain yaitu meninggal dalam keadaan jahiliah & termasuk mufaroqotul jamaah adalah menamakan dirinya dengan selain Islām dan juga Iman selain hamba Allāh ﷻ.

Hadits Ini diriwayatkan Bukhori & juga Muslim dari Abdullah Ibnu abbas , di dalam shahih Muslim juga dari Abdullah Ibnu Abbas.

«مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً».

Dalam shahih Muslim

«مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فمِيتَةً جَاهِلِيَّةً».

Ini lafadz yang ada di shahih bukhori & Muslim, adapun disini disebutkan famitatuhu jahiliyatun & makna nya sama.

Kenapa beliau mendatangkan lafadz ini, makna mufaroqotu jamaah diantara bentuknya adalah memberikan nama dengan nama yang bukan diberikan oleh Allāh ﷻ, ini termasuk menyelisihi jamaah mereka semua menamakan diri dengan muslimin, mukminin ibadallāh tapi dia sendiri menisbahkan bukan kepada Islam, iman & juga Ibadallāh maka ini termasuk mufaroqotu jamaah yang ancamannya jika dia meninggal dunia maka mitatun jahiliyyah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Halaqah 44 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua Bag 03

Halaqah 44 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua Bag 03

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-44 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan bahwasanya Rasulullāh ﷺ bersabda

ومن دعا بدعوى الجاهلية فإنه من جثى جهنم

Dan barangsiapa yang menyeru dengan seruan jahiliah
Yang dimaksud dengan seruan jahiliah adalah seruan selain seruan kepada agama Islām. Islām & jahiliah ini adalah bertolak belakang satu dengan yang lain.

Segala sesuatu yang menyeru kepada sesuatu yang bertentangan dengan Islām dinamakan dengan Jahiliah, menyeru kepada selain Islām maka ini menyeru kepada Jahiliah.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ

Apakah mereka mencari hukum jahiliah

Jadi yg dimaksud dengan Jahiliah adalah segala sesuatu yang bertentangan dengan agama Islām, dakwah jahiliah berarti seruan untuk mengajak manusia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan agama Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

ومن دعا بدعوى الجاهلية

Barangsiapa yang menyeru kepada seruan jahiliah.

Diantaranya misalnya dia menisbahkan diri kepada sesuatu yang bukan kembali kepada Islām diantaranya adalah
Pertama, menyeru kepada sesuatu yang bertentangan dengan Islām, Islām mengajarkan kita beriman dengan Nama & sifat Allāh ﷻ kemudian dia menyeru kepada pengingkaran kepada Nama & juga Sifat Allāh ﷻ, Islām mengajarkan kita untuk tidak menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk kemudian dia menyeru kepada penyerupaan Nama dan sifat Allāh ﷻ terhadap makhluk

Maka ini masuk kedalam sabda Nabi ﷺ

فإنه من جثى جهنم

Dia termasuk جثى جهنم yaitu orang² yang masuk kedalam Jahanam

Dan ini adalah ancaman bagi orang yang menyeru kepada dakwah jahiliah, menyeru kepada sesuatu yang bertentangan dengan Islām.

Bisa maknanya kalau dia menyeru kepada sesuatu yang membatalkan keIslāman berarti جثى جهنم menjadi orang yang kafir & dia kekal di dalam neraka, tapi kalau yang dia seru dia adalah jahiliah bertentangan dengan agama Islām tetapi tidak sampai kepada pembatal keIslāman maka dia terancam dengan masuk kedalam Neraka, dan kalau dia seorang muslim maka dia kelak akan keluar dari Neraka dan akan masuk kedalam Surga.

Jadi جثى جهنم apakah dia kekal atau tidak kekal dilihat dari dakwah jahiliah yang dia serukan, apakah Jahiliah disini sampai membatalkan keIslāman dia atau tidak.

فقال رجل يا رسول الله: وإن صلى وصام؟

Maka seorang laki-laki mengatakan _Ya Rasulullāh, meskipun orang tersebut shalat & juga puasa?
Dia shalat, melakukan 5 shalat waktu, berpuasa di bulan Ramadhan tapi sayang diwaktu yang sama dia mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Islām.

قال: وإن صلى وصام،

Meskipun dia orang yang shalat & berpuasa

Menunjukkan bahwasanya disana terkadang ada orang yang secara dzhohir, shalat bersama kita melakukan shalat 5 waktu dan juga berpuasa di bulan Ramadhan tapi dia mengajak kepada aliran yang sesat, mengajak kepada kemaksiatan, kebidahan.

فادعوا بدعوى الله الذي سماكم

Maka hendaklah kalian mengajak / memanggil dengan panggilan Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ namakan kalian dengannya.

Berarti

ومن دعا بدعوى الجاهلية

Bisa juga diartikan _Barangsiapa yang memanggil dengan panggilan jahiliah_ bisa diartikan yang pertama menyeru kepada selain Islām atau yang kedua memanggil dengan panggilan selain agama Islām, panggilan jahiliah selain Islām, selain Iman, selain hamba Allāh ﷻ maka balasannya adalah dia termasuk jama’ahnya jahanam yaitu orang² yang masuk kedalam Jahanam.

Apa nama² yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kita, Al Muslimin wal Mu’minin Ibadallāh, diantaranya adalah muslimin atau orang² yang beriman atau hamba² Allāh ﷻ, atau mengatakan

يا عباد الله اوصيكم ونفسي بتقوى الله

atau mengatakan ayyuhal muslimin, ma’asyirol mu’minin dan seterusnya, kita memanggil mereka dengan nama² yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kita, ketika beliau mengatakan – فادعوا – maka ini adalah perintah & perintah asalnya adalah wajib, berarti wajib bagi kita untuk memberikan nama diri kita dengan nama yang sudah Allāh ﷻ berikan.

Kemudian yang sebelumnya ancaman orang yang menyeru dengan seruan jahiliah atau memanggil dengan panggilan jahiliah bukan dengan nama yang Allāh ﷻ berikan kepada kita bahwasanya dia adalah – من جثى جهنم – dan جثى artinya adalah jama’at, جثى جهنم maksudnya adalah jamaah nya jahanam. Ini menunjukkan tentang larangan menyeru dengan seruan jahiliah, memberi nama dengan nama² Jahiliah,

Apa yang dimaksud dengan nama² jahiliah : nama² dimana Wala dan Baro tidak kembali kepada Islām itu sendiri tapi kembali kepada negara, orang, kembali kepada organisasi, ormas, suku, itu dinamakan dengan دعوى الجاهلية bukan dakwah Islām.

Berarti hadits ini jelas menunjukkan kepada kita tentang bab yang disebutkan oleh muallif tentang celaan keluar dari dakwah Islām, keluar dari nama² Islām, ini adalah perkara yang diharamkan, wajib bagi kita untuk tetap berada di dalam nama Islām, jangan membuat nama² sendiri & ini adalah termasuk bagian dari menyerahkan diri kita kepada Allāh ﷻ.

Selain kita menyerahkan diri di dalam masalah aqidah, menyerahkan diri di dalam Ibadah, tidak beribadah kecuali dengan cara yang Allāh ﷻ ajarkan kepada kita melalui lisan Nabi Nya, menyerahkan diri dengan akhlak, demikian pula dengan masalah Nama, jangan kita mencari nama yang lain, kita mencukupkan diri dengan nama yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kita, Muslimin, mukminin, ibadallāh, kalau tidak demikian maka kita telah menyelisihi perintah Nabi ﷺ yang mengatakan

فادعوا بدعوى الله

Dan dikhawatirkan masuk kedalam ancaman Nabi

ومن دعا بدعوى الجاهلية فإنه من جثى جهنم.

Awalnya adalah dari nama yang tidak disyariatkan di dalam Islām akhirnya menyeret manusia kepada perkara yang lebih jauh dari itu, awalnya diawali dari sebuah nama yang tidak disyariatkan.

رواه أحمد والترمذي وقال: حديث حسن صحيح

Hadits ini diriwayatkan oleh imam Ahmad & juga ath Tirmidzi & dia adalah dikatakan oleh Al Imam ath Tirmidzi حديث حسن صحيح.
Syaikh Al Albani beliau menshahihkan hadits ini, Al Imam ath Tirmidzi mengatakan حديث حسن صحيح
.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 43 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua bag 02

Halaqah 43 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-43 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan bahwasanya Rasulullāh ﷺ bersabda

فإنه من فارق الجماعة قيد شبر

Ketika beliau menyebutkan tentang masalah Al Jamaah, perintah untuk kumpul & bersatu diatas Islām, maka beliau menyebutkan tentang ancaman orang yang memisahkan diri dari jama’ahnya Rasulullāh ﷺ yang mereka berkumpul diatas jalan yang satu

فإنه من فارق الجماعة قيد شبر

Karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah meskipun hanya sepanjang 1 jengkal

فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه

Sungguh dia telah melepaskan tali keIslāman dari lehernya

إلا أن يراجع

kecuali dia mau kembali

Yang dimaksud dengan – ربقة – asalnya adalah tali yang digunakan untuk mengikat unta & dengannya seseorang bisa mengatur unta tersebut, menyeretnya kemanapun kita inginkan, biasanya ada dileher unta atau yang semacamnya, ini dinamakan – ربقة – selama kita pegang tali tersebut Maka kita masih bisa mengatur dengan baik hewan tersebut tapi kalau kita lepas – ربقة – tadi yang ada pada leher hewan tadi maka dia akan pergi, berpisah dengan kita.

Maka barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah Nabi ﷺ meskipun hanya 1 jengkal maka sungguh dia telah melepaskan tali keIslāman dari lehernya, maka menunjukkan tentang peringatan dari memisahkan diri dari Jamaah Rasulullāh ﷺ.

Dan mufarroqoh disini ada 2 makna, mufarroqoh sampai dia meninggalkan ajaran Nabi ﷺ yang menjadikan dia keluar dari Islām seperti misalnya orang yang melakukan syirik yang besar atau melakukan 1 diantara pembatal² keIslāman, mufarroqoh jenis ini tentunya dia sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām

Tapi disana ada mufarroqoh yang tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām, seorang melakukan kebidahan ghoiro mukaffiro atau dia melakukan kemaksiatan maka ini termasuk jenis mufarroqoh tapi tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām.

Yang dimaksud dengan Jamaah adalah jama’ahnya Rasulullāh ﷺ, jangan kita maknai sendiri, kemudian menamakan jamaah kita adalah yang dimaksud di dalam hadits ini, membuat sebuah jamaah kemudian menganggap bahwasanya seluruh hadits yang disitu ada kalimat jamaah berarti itu adalah jamaah nya, barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah kemudian dia langsung menafsirkan jamaah kita ini berarti dia telah melepaskan ikatan Islām dari lehernya, kemudian mengkafirkan selain jama’ahnya. Jamaah yang ada di luar sana juga menganggap jamaah disini adalah jamaah mereka dan mereka juga mengeluarkan orang lain dari Islām karena tidak mengikuti jamaahnya mereka.

Dan pemahaman yang benar bahwasanya jama’ah disini adalah jama’ahnya Rasulullāh ﷺ yang mereka berada diatas jalan yang lurus, maka barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah tersebut sungguh dia telah melepaskan tali keIslāman dari lehernya & tali keIslāman disini mungkin yang dia lepaskan adalah Ushul diantara Ushul² Islām atau yang dia lepaskan dia adalah sesuatu yang merupakan kesempurnaan di dalam agama Islām bukan termasuk Ushul nya, karena Al Islām itu sendiri ada arkan dan dia memiliki furu’ nya. Kalau yang dia tinggalkan adalah satu diantara perkara yang merupakan Ushulul Islām kemudian dia melakukan 1 diantara pembatal² keislaman maka ini yang dia lepaskan adalah seluruh keIslāman itu sendiri, tapi kalau yang dia lepaskan adalah bagian dari Islām tetapi tidak sampai membatalkan keIslāman dia berarti yang dia lepaskan adalah bukan Ushulnya tapi adalah bagian dari Islām yang tidak sampai mengeluarkan dia dari agama Islām apabila dia melepaskan 1 unsur tadi.

إلا أن يراجع

Kecuali dia dalam keadaan mau bertaubat & kembali kepada Islām.

Mungkin kembali kepada Ushul Islām berarti dia kembali Muslim setelah murtadnya atau dia kembali menyempurnakan Islām, pokok Islām nya masih hanya ada kekurangan di dalam Islāmnya kemudian dia bertobat maka akan kembali sempurna lagi keIslāman dia yang sebelumnya berkurang dengan sebab kebidahan, dengan sebab kemaksiatan yang dia lakukan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 42 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua

Halaqah 42 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-42 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau rahimahullah mengatakan

عن الحارث الأشعري رضي الله عنه عن النبي ﷺ أنه قال: آمركم بخمس الله أمرني بهن السمع، والطاعة، والجهاد والهجرة، والجماعة. فإنه من فارق الجماعة قيد شبر فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه، إلا أن يراجع. ومن دعا بدعوى الجاهلية فإنه من جثى جهنم. فقال رجل يا رسول الله: وإن صلى وصام؟ قال: وإن صلى وصام، فادعوا بدعوى الله الذي سماكم المسلمين والمؤمنين عباد الله
رواه أحمد والترمذي وقال: حديث حسن صحيح

Dari Harits Al Asy’ari semoga Allāh ﷻ meridhoi beliau bahwasanya Rasulullāh ﷺ bersabda:

Aku memberi perintah pd kalian dengan 5 perkara yang Allāh ﷻ telah memerintahkan aku dengan 5 perkara tersebut,

Perkara yang pertama & kedua adalah mendengar & taat dan

ketiga berjihad, dan Allāh ﷻ juga memerintahkan diriku (dan ini adalah perintahku untuk kalian)

yang keempat yaitu untuk berhijrah &

Yang kelima adalah Al Jamaah,

maka barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah meskipun hanya 1 jengkal maka dia telah melepaskan ikatan Islām dari lehernya kecuali dia dalam keadaan mau bertaubat & kembali kepada Islām & barangsiapa yang menyeru dengan seruan jahiliyah maka dia termasuk جثى جهنم yaitu orang² yang masuk kedalam Jahanam

Maka seorang laki² mengatakan Ya Rasulullāh meskipun orang tersebut shalat & juga berpuasa? meskipun dia adalah orang yang shalat & berpuasa. Maka hendaklah kalian memanggil dengan panggilan Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ telah menanamkan kalian dengan panggilan tersebut, Al Muslimin wal Mu’minin Ibadallāh diantaranya adalah muslimin atau orang² yang beriman atau hamba² Allāh ﷻ.


Hadits ini diriwayatkan oleh imam Ahmad & juga ath Tirmidzi & dia adalah dikatakan oleh Al Imam ath Tirmidzi حديث حسن صحيح.
Syaikh Al Albani beliau menshahihkan hadits ini, Al Imam ath Tirmidzi mengatakan حديث حسن صحيح.

Beliau mengatakan

عن الحارث الأشعري رضي الله عنه

Dari Al-Harits Al Asy’ari رضي الله عنه

عن النبي ﷺ أنه قال قال: آمركم بخمس الله أمرني بهن:

aku memperingatkan kalian dengan 5 perkara & 5 perkara tadi Allāh ﷻ telah memerintahkan aku dengan 5 perkara tersebut_
Kemudian beliau sampaikan ini kepada umat beliau & ini menunjukkan tentang kedudukan 5 perkara tersebut, Allāh ﷻ perintahkan ini kepada Nabi-Nya & Allāh ﷻ juga perintahkan ini kepada umat-Nya.

السمع، والطاعة،

Perkara yang pertama & kedua adalah mendengar & taat.

Yang dimaksud adalah mendengar & taat kepada penguasa, ini menunjukkan tentang kedudukan – السمع، والطاعة – di dalam agama Islām, mendengar dan taat kepada penguasa didalam agama Islām, Allāh ﷻ yang memerintah kepada Nabi-Nya sebagaimana Allāh ﷻ memerintahkan kepada kita (Umat Nya) karena di dalam mendengar dan taat kepada pemerintah dan juga penguasa ini ada maslahat yang besar bagi rakyat, dan sebaliknya di dalam pemberontakan, tidak mendengar dan juga tidak taat kepada penguasa maka ini ada mudhorot bagi rakyat.

والجهاد

Dan berjihad

Maka Allāh ﷻ memerintahkan kepada Nabi-Nya sebagaimana Allāh ﷻ juga memerintahkan kepada umat beliau ﷺ, untuk berjihad fisabilillah, berjihad berperang fisabilillah dengan menggunakan harta & juga dengan jiwanya.

والهجرة والجماعة

Dan Allāh ﷻ juga memerintahkan kepada diriku & ini adalah perintah ku untuk kalian yaitu untuk berhijrah & sudah berlalu pengertian hijrah ketika membahas tentang Tsalatsatul Ushul, berpindah dari negeri kesyirikan menuju negeri Islām kalau memang disana ada sebabnya maka disyariatkan disana untuk berhijrah & sudah berlalu pembagian hukum hijrah menjadi 2, wajib & juga mustajab. والهجرة ini adalah perintah Allāh ﷻ kepada Nabi Nya dan dia juga adalah perintah Nabi ﷺ untuk kita semuanya.

والجماعة

Dan yang kelima adalah Al Jamaah.

Dan makna Al Jamaah adalah Al Ijtima, kita diperintahkan untuk bersatu & yang dimaksud adalah bersatu diatas Islām bersatu diatas kitabullah, ini adalah perintah Nabi ﷺ untuk kita semuanya diantaranya adalah perintah untuk berijtima/bersatu, berpegang dengan jamaahnya Rasulullāh ﷺ & tidak keluar dari jamaah beliau ﷺ, yang terdiri dari orang² yang berpegang teguh dengan agama beliau ﷺ, berpegang teguh dengan sunnah beliau ﷺ .

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 41 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Pertama Bag 02

Halaqah 41 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Pertama Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-41 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Allāh ﷻ telah menamakan kita & menamakan orang² sebelum kita yang mereka adalah orang² yang meng Esa kan Allāh ﷻ di dalam ibadah sebagai muslimin, maka cukupkan dengan nama tersebut, jangan kita memilih nama yang lain, karena Allāh ﷻ sudah memberi nama kita dengan nama tersebut .

Di dalam penamaan Allāh ﷻ tentunya disana adalah penanaman yang paling baik, Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan kita dengan nama tersebut & tidak sembarangan Allāh ﷻ memberikan nama. Oleh karena itu keluar dari nama ini yaitu nama Islām atau nama yang tidak kembali kepada makna Islām maka ini termasuk ketidaksempurnaan di dalam keislaman seseorang.

Bahkan memberi nama kita dengan Muslimin atau dengan nama yang kembali makna nya kepada Islām ini adalah hukumnya wajib. Tidak boleh seseorang keluar dari nama selain nama Islām, sebagaimana Allāh ﷻ telah menanamkan kita dengan Muslimin maka itulah yang kita jadikan nama, jangan kita keluar dari selain nama tersebut kemudian membuat nama² yang lain yang mubtadaah yang mungkin nama nya dilihat dari lafadz nya tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam agama Islām demikian pula isinya bahkan tidak sesuai & tidak mencerminkan agama Islām itu sendiri.

Seandainya seseorang yang diamalkan adalah amalan Islām dari awal hingga akhir tapi dia tidak memberikan nama kepada dirinya sendiri dengan nama yang Allāh ﷻ berikan, tidak kembali dengan makna Islām maka ini adalah perkara yang diharamkan. Apalagi selain nama & nisbah tidak sesuai dengan Islām & tidak kembali kepada nilai² Islām ternyata isinya juga bertentangan dengan agama Islām maka ini – ظلمات فوق زلمة (kegelapan diatas kegelapan) .

Jadi keharusan kita adalah isinya sesuai dengan Islām penamaannya juga harus sesuai dengan Islām, itu yang Allāh ﷻ inginkan dari kita. Jangan kita mencari nama yang lain, kita berikan kepada diri kita sesuai dengan nama yang Allāh ﷻ berikan kepada kita, muslimin, mukminin, ibadallah, orang-orang yang beriman atau orang² Islām atau hamba² Allāh ﷻ, ini semua kalau dilihat maka kembali kepada satu makna atau nama² yang lain yang kembali kepada nilai² Islām itu sendiri.

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا

Dia lah Allāh ﷻ yang telah menanamkan kalian dengan Muslimin, sebelum ini, yaitu yang ada di dalam kitab² sebelumnya Allāh ﷻ menamakan umat² sebelumnya adalah muslimin juga -وَفِي هَذَا – dan di dalam Al Qur’an ini Allāh ﷻ menamakan kita sebagai muslimin.

Maka ini adalah dalil tentang wajibnya menamakan diri sesuai dengan nama yang Allāh ﷻ berikan kepada kita, karena nama ini jelas ada pengaruhnya kepada diri seseorang & Allāh ﷻ sekali lagi memberikan nama kepada kita dengan Muslimin mukminin ibadallāh pasti disana ada hikmahnya.

Allāh ﷻ pilih diantara sekian banyak nama, kemudian Allāh ﷻ memilih nama² tersebut. Nama ini berpengaruh dengan kejiwaan, dengan amalan seseorang, ketika diberi nama dengan Muslimin & kita mengetahui dengan maknanya muslimin berarti menyerahkan diri, berarti kita sebagai seorang yang muslim harus menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ secara total, kami dinamakan dengan mukminin yaitu orang² yang beriman maka kalau orang yang beriman konsekuensinya adalah demikian & demikian, kita harus percaya, harus beramal, harus beriman dengan takdir, beriman dengan hari akhir & jika beriman kita harus beramal.

Atau dinamakan dengan ibadallāh berarti kita adalah hamba Allāh ﷻ, yang namanya hamba harus beribadah kepada Al Ma’bud, taat kepada-Nya bukan membangkang, membenarkan apa yang Dia ucapkan & bukan mendustakan apa yang Dia ucapkan, mengikuti Rasul yang Dia utus, bukan membangkang kepada Rasul yang Dia utus. Itu adalah pengaruh dari sebuah nama kepada kejiwaan seseorang.

Maka Allāh ﷻ memberikan nama kepada kita dengan muslimin, mukminin, ibadallāh, tentunya disana ada hikmah, ada pengaruh terhadap diri kita maka jangan kita mencari nama yang lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

UNTUK DUNIA

Tulisan ini dikirim seorang teman:

Ada seorang bapak yg memperlakukan shalat Dhuha seperti shalat wajib. Alasan nya karena khawatir tidak dapat rezeki..

Ada lagi pemuda yg tak lepas Dhuha tiap hari nya demi mendapatkan bonus tempat kerja nya. Sementara diri nya selalu kesiangan saat shalat subuh..

Di tempat berbeda ada yg mengukur banyak nya tahajud yg dilakukan dengan kesuksesan..⁣
Ada yg begitu getol sedekah cuma demi mendapatkan cash back rupiah di tiap usaha nya..

Seorang Tabi’in yg banyak berinteraksi dengan sahabat pernah ditanya, apakah surah dalam Qur’an yg paling sering membuat para sahabat menangis..?, Lalu dijawab : Quran Surah HUD..⁣
Kemudian ditanyakan lagi ayat berapakah dari surah tersebut yg membuat para sahabat menangis? Dan dijawab :
ayat 15-16..⁣

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:⁣

مَنْ كَا نَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَ زِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَا لَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ⁣

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan.”⁣

اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ لَـيْسَ لَهُمْ فِيْ الْاٰ خِرَةِ اِلَّا النَّا رُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ⁣

“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.”⁣
(QS. Hud : Ayat 15-16)⁣

Inilah alasan kenapa Abdurahman bin Auf sering menangis ketika mendapatkan kenikmatan duniawi. Sahabat yg mulia ini khawatir bila kenikmatan di dunia saat ini merupakan nikmat akhirat yg disegerakan. Hingga kelak di akhirat tak didapatkan lagi nikmat-nikmat itu..

Luruskan lagi niat-niat kita..⁣
Dhuha kita jangan diukur dengan bertambah nya rezeki..⁣
Tahajjud kita jangan diukur dengan pesat nya bisnis kita..⁣
Sedekah kita jangan diukur dengan mewah nya rumah dan kendaraan..⁣

Ukurlah diri kita dengan para sahabat Nabi yg mulia.
Seberapa bagus Dhuha, tahajjud, dan sedekah mereka dibanding kita. Sementara mereka banyak juga yg tak hidup dalam kemewahan.⁣
Kalau ukuran kesuksesan semua karena banyak nya Dhuha, Tahajjud dan Sedekah, tentulah orang-orang kafir tak ada yg sukses..⁣

Luruskan Niat..⁣
Niatkan Dhuha sebagai sedekah untuk 360 ruas sendi kita.⁣
Niatkan Tahajjud sebagai ibadah tambahan menutup yang kurang-kurang.⁣
Niatkan sedekah kita untuk memadamkan panas nya api neraka..⁣
Dengan niat begitu maka Insya Allah balasan untuk akhirat kita tetap ada dan dunia kita dipermudah segala urusan nya..⁣

Allahu Musta’an..⁣. 🤲🏻

Rasulullah Shalallahi Alaihi Wasallam bersabda:

“Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yg mengamalkan, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala”, aamiin

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Halaqah 40 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Pertama

Halaqah 40 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Pertama

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-40 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

باب ما جاء في الخروج عن دعوى الإسلام

Ini adalah bab yang keenam yang didatangkan oleh Mualif di dalam kitab beliau fadhlul Islām.

Setelah beliau menyebutkan beberapa bab yang penting tentang masalah Islām,

Bab tentang keutamaan Islām,
Bab Wujubul Islām,
Bab Tafsiril Islām
Bab tentang kebatilan selain agama Islām

Dan kita telah mengambil bab yang kelima yaitu Bab وجوب الاستغناء بمتابعته الكتاب عن كل ما سواه. Bab tentang kewajiban untuk merasa cukup dengan mengikuti Al Qur’an dari segala sesuatu selain Al Qur’an & maksud dari penyebutan Al Qur’an mencakup di dalamnya adalah Sunnah Rasulullāh ﷺ.

Semakin kesana semakin jelas tentang makna Islam yang dibawa beliau rahimahullah & bahwasanya termasuk konsekuensi dari keIslāman kita adalah merasa cukup dengan apa yang ada di dalam Islām, merasa cukup dengan apa yang ada di dalam Al Qur’an dan juga Sunnah & meninggalkan segala sesuatu selain agama Islām ini.

Maka di dalam bab yang keenam beliau ingin menyampaikan kepada kita bahkan tentang masalah nama / penyandaran / penisbatan, termasuk diantara konsekuensi dari keIslāman kita adalah kita menisbahkan diri kita / memberikan nama diri kita dengan nama² yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kita. Kalau sebelumnya seseorang dia di dalam Islām tetapi memakai nama² yang lain, bangga dengan nama² tersebut padahal itu semua adalah isinya bertentangan dengan agama Islām, mungkin namanya Islām tapi isinya bertentangan dengan agama Islām, atau memang aslan nama tersebut adalah nama yang tidak kembali kepada agama Islām itu sendiri.

Maka termasuk kesempurnaan keIslāman kita & konsekuensi dari keIslāman kita, kita lepas baju² yang tidak ada kaitannya dengan Islām & kita merasa cukup dengan nama yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kita, kita adalah muslim, kita adalah orang yang beriman, kita adalah hamba Allāh ﷻ atau nama² yang lain yang kalau dicermati Itu kembali kepada agama Islām (Itu tidak masalah).

Tapi kalau sampai kita masih taasub & fanatik bukan dengan Islām, Taasub & fanatik terhadap sukunya- negeri nya- yayasan nya/organisasi nya kemudian membangun loyalitas dan juga berlepas diri berdasarkan itu semua. Misalnya kalau sesama suku kita cintai diluar suku tidak dicintai meskipun dia berada diatas kebenaran, kalau berasal dari negara kita dicintai/loyal kepada nya kalau tidak kita berlepas diri, kalau sesama Yayasannya/organisasinya maka wala kepadanya tapi jika diluar organisasinya meskipun dia adalah muslim menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ maka dia berlepas diri. Maka ini bukan termasuk Islām seseorang.

Bahkan termasuk keIslāman seseorang adalah dia harus melepas itu semua & menjadi Wala dan juga Baro nya ini kepada Islām, berbaju dengan baju Islām memberikan nama kepada dirinya sesuai dengan nama yang Allāh ﷻ berikan kepadanya.

Beliau mengatakan disini

باب ما جاء في الخروج عن دعوى الإسلام

Bab tentang apa² yang datang yaitu dalil² yang datang di dalam masalah keluar dari dakwah Al Islam, penyebutan Al Islam. Maksudnya adalah ancaman, kalau disini berbicara tentang Al khuruj keluar nya dari sebutan Islām menggunakan nama² yang lain, menggunakan nama diambil dari Imam nya, atau diambil dari ajaran nya yang dengannya dia menyelisihi ajaran Islām.

Berarti disini – الخروج عن دعوى الإسلام – disini tercela kalau itu tercela maka – ما جاء – disini apa yang datang minal Wa’id berupa ancaman. Dalil² disini adalah ancaman. Beliau mengatakan

وقوله تعالى: هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا

[الحج: 78].

Mendatangkan firman Allāh ﷻ _Dia lah yang telah menamakan kalian sebagai Al Muslimin sebelumnya & di dalam Al Qur’an_

Kelengkapan dari ayat ini firman Allāh ﷻ dalam surat Al Hajj

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Naam

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ

Dialah Allāh ﷻ telah menyelamatkan kalian (setiap orang yang menyembah kepada Allāh ﷻ saja) sebagai muslimin sebelumnya,

Yaitu semenjak sebelumnya yaitu sebelum kita / sebelum umatnya Rasulullāh ﷺ yang di dalam kitab² sebelumnya, Allāh ﷻ menamakan setiap hamba Allāh ﷻ yang meng Esa kan Allāh ﷻ dinamakan sebagai muslimin, sebagaimana sudah berlalu ketika kita menyebutkan bagaimana dakwah Nabi Sulaiman

واعيني مسلمين

_hendaklah kalian datang kepadaku dalam keadaan muslimin_

Dan Nabi Musa ‘alaihissalam mengatakan,

إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ

QS Yunus 89

Dan Allāh ﷻ mengatakan kepada Ibrahim

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

QS Al Baqarah 131-133

Demikianlah Allāh ﷻ menamakan orang² sebelum kita, para hamba Allāh ﷻ yang mereka meng Esa kan Allāh ﷻ di dalam ibadah dinamakan dengan Muslimin

وفي هذا

Demikian pula di dalam Al Qur’an orang yang menyembah Allāh ﷻ saja maka dinamakan sebagai seorang muslimin.

Allāh ﷻ mengatakan

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ

Dan ini di dalam Al Qur’an, Dia-lah yang menamakan kalian sebagai الْمُسْلِمِينَ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 39 | Bab 05 Mencukupkan Diri Dengan Mengikuti Alquran dan Sunnah – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua Hadits Riwayat Imam An Nasai Dari Sahabat Jabir Bag 03

Halaqah 39 | Bab 05 Mencukupkan Diri Dengan Mengikuti Alquran dan Sunnah – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua Hadits Riwayat Imam An Nasai Dari Sahabat Jabir Bag 03

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-39 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Di dalam Sunan Ad Darimy, disini disebutkan,

جَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي مَرَرْتُ بِأَخٍ لِي مِنْ بَنِي قُرَيْظَةَ

Berarti beliau melewati seorang Yahudi dari Quraidzhoh,

فَكَتَبَ لِي جَوَامِعَ مِنْ التَّوْرَاةِ

maka dia menuliskan beberapa kalimat² yang jawami’ di dalam Taurat.

أَلَا أَعْرِضُهَا عَلَيْكَ

Maukah aku bacakan ini kepadamu,

قَالَ فَتَغَيَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَقُلْتُ لَهُ أَلَا تَرَى مَا بِوَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عُمَرُ رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا قَالَ فَسُرِّيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَصْبَحَ فِيكُمْ مُوسَى ثُمَّ اتَّبَعْتُمُوهُ وَتَرَكْتُمُونِي لَضَلَلْتُمْ إِنَّكُمْ حَظِّي مِنْ الْأُمَمِ وَأَنَا حَظُّكُمْ مِنْ النَّبِيِّينَ

Adapun Syaikh Al Albani rahimahullah maka beliau memandang bahwa Hadits ini adalah Hadits yang Hasan. Beliau mengatakan disini (beliau menyebutkan syawahidnya disini sehingga beliau menghukumi hadits ini sebagai hadits yang hasan sebagaimana dalam misykatu al mashabih dengan sebab adanya syawahid tersebut yang menguatkan hadits ini). Wallahu a’lam hadits ini adalah hadits yang hasan sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah.

Ikhwani wa rahimakumullah

Bab ini jelas menunjukkan kepada kita tentang wajibnya mencukupkan diri dengan apa yang ada di dalam Al Qur’an dan juga di dalam Sunnah Rasulullāh ﷺ & ini mencakup hal² yang berkaitan dengan berita² dari apa yang ada di dalam Al Qur’an dan juga Hadits maka itulah yang kita cukupkan, perincian² yang mungkin disebutkan di dalam kitab sebelumnya yakinlah bahwasanya apa yang ada di dalam Al Qur’an dan hadits itu sudah cukup. Mungkin di kitab sebelumnya disebutkan tentang berapa hari terjadinya banjir, apakah air, air tersebut yang asin atau tawar misalnya.

Disana ada beberapa perkara yang mungkin tidak disebutkan di dalam Al Qur’an dan ada di dalam kitab sebelumnya maka kita katakan kita cukupkan diri dengan apa yang ada di dalam Al Qur’an dan juga di dalam Sunnah ﷺ berupa akhbar, kalau Allāh ﷻ mengabarkan sesuatu kemudian Allāh ﷻ tidak memberi tahukan kepada kita tentang sesuatu maka kita cukupkan diri dengan apa yang Allāh ﷻ kabarkan, itu sudah cukup untuk keselamatan kita, keimanan kita, sudah cukup, tidak perlu kita takalluf / membebani diri dengan sesuatu yang tidak kita mampu, kemudian berusaha untuk mencari² kemudian berusaha untuk mengotak atik dengan akalnya atau dengan sumber yang lain, yang disitu seakan² dia tidak merasa cukup dengan apa yang ada di dalam Al Qur’an dan apa yang ada di dalam As Sunnah, seperti yang dilakukan oleh sebagian yang mungkin mencari² sesuatu yang sebenarnya cukuplah kita dengan apa yang ada di dalam Al Qur’an.

Tentang misalnya beberapa tahun lagi umat Islām ini masih ada, kita sekarang berada disini dan sebentar lagi akan demikian² kemudian mengotak atik dan seterusnya maka ini termasuk takalluf, yang demikian cukup dengan firman Allāh ﷻ

يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَىٰهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّى ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَآ إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ

Cukup Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui kapan terjadinya As Sa’ah & kewajiban kita adalah mempersiapkan saja sebagaimana di dalam Hadits, Nabi ﷺ ditanya oleh sebagian shahabat

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ عَنِ السَّاعَةِ فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟

Ya Rasulullāh kapan terjadinya hari Kiamat?

Maka Nabi ﷺ mengarahkan penanya ini dengan sesuatu yang lebih penting dari pada sibuk dengan kapan hari kiamat (kita sudah diakhir zaman, kurang berapa tahun lagi dan seterusnya), maka beliau mengarahkan kepada sesuatu yang lebih penting daripada itu beliau mengatakan,

قَالَ: وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟

_apa yang sudah engkau persiapkan?_

Engkau bertanya tentang kapan terjadinya As Sa’ah, apa yang sudah engkau persiapkan? Ini yang lebih penting.

As Sa’ah akan terjadi dalam waktu dekat atau tidak itu akan terjadi tapi apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapi hari tersebut .

Maka ini termasuk praktek dari merasa cukup dengan apa yang ada di dalam Al Qur’an dan juga apa yang ada di dalam as Sunnah & ini banyak juga bukan hanya di dalam masalah akhbar tapi juga di dalam masalah ibadah, di dalam masalah hukum² maka kita harus yakin bahwasanya masalah halal dan juga haram apa yang ada di dalam Al Qur’an dan juga Sunnah ini sudah cukup untuk mengetahui mana yang halal mana yang diharamkan sehingga tidak perlu seseorang mencari² dari yang lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post navigatio