Tag Archives: Ramadhan Bulan Untuk Melatih Kesabaran

Ramadhan Bulan Untuk Melatih Kesabaran (Bagian 2)

 

BimbinganIslam.com
Kamis, 11 Ramadhan 1437 H / 16 Juni 2016 M
Ustadz Firanda Andirja, MA
Materi Tematik | Ramadhan Bulan Untuk Melatih Kesabaran (Bagian 2)
———————————-
MELATIH KESABARAN (BAG 2)
  • Kemudian, tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdakwah, di awal dakwah beliau seluruh orang mendustakannya.
Akan tetapi istri beliau, Khadījah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā membantu suaminya dengan penuh pengorbanan, dengan seluruh hartanya.
Disaat Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam sangat butuh dengan bantuan sang kekasih, bantuan istrinya Khadījah, Allāh Subhānahu wa Ta’āla memanggil Khadījah, mencabut nyawa Khadījah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā.
Sehingga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tatkala itu sangat bersedih. Sangatlah bersedih dengan meninggalnya istrinya yang sangat dia cintai yang selama ini membantunya dengan seluruh harta, dengan seluruh perasaan, dan seluruh kasih sayang dari sang istri.
  • Kemudian setelah itu paman beliau yang bernama Abū Thalib, yang selama ini membela Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, sang paman tidak membiarkan seorang pun dari kāfir Quraishy untuk mengganggu sang keponakan (Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam) akhirnya sang pamanpun. meninggal dunia.
Sehingga tatkala itu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun sangat bersedih, ditinggal oleh Khadījah dan juga pamannya, Abū Thalib.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun berjalan dengan linglung, tidak sadar, tiba-tiba Beliau sudah berada di suatu tempat.
Kenapa beliau sampai linglung?
Karena kesedihan yang amat sangat, sehingga para ulamā tatkala itu menamakan tahun tersebut sebagai tahun kesedihan yang dialami Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Setelah itu beliau pergi ke Tha’if untuk berdakwah, ditemani oleh Zaid bin Haritsah. Namun Beliau akhirnya diusir oleh penduduk Tha’if, bahkan tatkala beliau keluar dari kota Tha’if disambut dengan dua barisan.
Dengan dua barisan, buat apa?
Untuk menyambut Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan lemparan batu. Anak-anak, orang-orang gila, dikumpulkan, untuk apa? Untuk melempar Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, untuk menghinakan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Maka merekapun melempari Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan kerikil-kerikil, dan Zaid bin Haritsah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu berusaha untuk menangkis batu-batu tersebut. Akan tetapi beliau tidak mampu, sehingga masih banyak kerikil yang melukai Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dan menumpahkan darah Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
  • Kalau kita bicara tentang anak-anak, kita tahu betapa sedihnya seorang ayah yang kehilangan anaknya. Seorang ibu yang kehilangan satu orang anaknya sangat sedih, akan tetapi Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam seluruh anaknya.
⇛Beliau memiliki tujuh orang putra dan putri. Enamnya meninggal tatkala beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam masih hidup  kecuali Fathimah.
⇛Fathimah meninggal setelah wafatnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, enam bulan setelah wafat Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
⇛Putra Beliau, Abdullāh dan Qashim meninggal di hadapan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
⇛Kemudian putri-putri beliau Ummu Kaltsum, Ruqayyah, Zainab, seluruhnya meninggal di hadapan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
⇛Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang mengkafankan dan menguburkan putri-putrinya.
Bisa kita bayangkan bagaimana sedihnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
⇛Tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dianugrahi seorang putra yang bernama Ibrāhim, maka Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun bergembira, mengabarkan kepada para shahābat bahwasanya Beliau telah dianugrahi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla seorang putra yang Beliau namakan Ibrāhim.
Akan tetapi ternyata kegembiraan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak bertahan lama.
⇛Tatkala sang putra berumur dua tahun, sang putra sakit keras. Dan berada di pangkuan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam sang putra yang sangat dicintai meninggal. Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sangat bersedih. Sampai akhirnya Beliau pun mengeluarkan (meneteskan) air mata.
Beliau berkata:
إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ والقَلب يَحْزنُ ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا ، وَإنَّا لِفِرَاقِكَ يَا إبرَاهِيمُ لَمَحزُونُونَ
“Sungguh mata meneteskan air mata, dan sesungguhnya hati sangat bersedih, akan tetapi kami tidak mengucapkan kecuali yang mendatangkan keridhāan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan kami sesungguhnya sangat bersedih dengan kepergian engkau, wahai putraku, Ibrāhim.”
(Hadīts Riwayat Bukhāri no 1303)
Inilah Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam betapa banyak ujian yang dihadapi oleh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
  • Belum lagi ujian dalam dakwah Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam,
√ Beliau dituduh dengan orang gila
√ Beliau dicap dengan tuduhan-tuduhan yang sangat buruk
√ Beliau dikatakan sebagai orang gila
√ Beliau dikatakan sebagai dukun
√ Beliau dikatakan sebagai penyair
√ Beliau dikatakan sebagai orang sinting.
Ini tidak mudah sebagaimana yang kita bayangkan.
Ujian yang sangat berat yang dihadapi oleh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tatkala Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdakwah dimusuhi oleh orang yang paling dekat dengan dia, pamannya sendiri (saudara ayahnya) Abū Lahab.
Tatkala musim haji, orang-orang berdatangan di Mina, maka Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ingin mendakwahi mereka.
Sampai-sampai Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam merendahkan dirinya, mengatakan:
أَلاَ رَجُلٌ يَحْمِلُنِي إِلَى قَوْمِهِ فَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلاَمَ رَبِّي
“Apakah ada orang yang mau mengajakku untuk berdakwah di kaumnya ? Sesungguhnya orang-orang Quraishy melarangku untuk menyampaikan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”
(HR Tirmidzi nomor 2849, versi Maktabatu AlMa’arif Riyadh nomor 2925)
Sampai-sampai Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam merendahkan dirinya, dan mengharap ada orang yang mengantarkannya untuk berdakwah di kabilah-kabilah Arab.
Maka pergilah Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ke setiap kabilah yang datang di Mina untuk berhaji. Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendakwahkan Islām kepada mereka. Akan tetapi ternyata sang paman, Abū Lahab laknatullāh alaih, senantiasa mengekor Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Begitu Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdakwah menyampaikan Islām, sang paman pun berdiri dan mengatakan, “Jangan kalian ikuti keponakanku, yang telah keluar dari adat nenek moyangnya.”
Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun tidak memperdulikan sang paman. Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam pergi ke kabilah yang lain, akan tetapi sang paman, Abū Lahab, tetap mengekor dan menguntit.
Setiap Nabi berdakwah, maka diapun mengucapkan kalimat yang sama.
Inilah ujian yang dihadapi, yang sebagian kecil yang dihadapi Nabi kita Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Karenanya, tatkala seorang hamba diuji dengan berbagai ujian, ingatlah bahwasanya sosok yang paling dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga pernah diuji.
Maka ini akan memberikan tasliyah, akan menghibur dirinya.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam besabda dalam suatu hadīts :
أَشَدُّ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Orang yang paling besar ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shālih , kemudian yang berikutnya, dan yang berikutnya.
Seseorang diuji berdasarkan ukuran kadar keimānannya. Kalau ternyata keimānannya sangat kuat, maka Allāh tambah ujiannya.
Jika dia tegar tatkala menghadapi ujian, Allāh tambah ujiannya dan tatkala imānnya lemah, maka Allāh akan ringankan ujiannya.”
(Hadīts Riwayat Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Syaikh Al-Albāniy rahimahullāh dalam Shahīh At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadīts ini shahīh)
Karenanya, jika ujian menimpa, jika musibah menerpa, maka bersabarlah, sesungguhnya demikianlah orang-orang berimān, dia akan diuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Ibarat pohon yang semakin tinggi, maka semakin akan kuat angin yang menerpanya, akan tetapi pohon tersebut semakin tegar, dan semakin kuat, menangkis angin yang kencang tersebut.
Oleh karenanya, kita senantiasa berhusnuzhān kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Jika ada ujian yang menimpa kita, kita katakan sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Bisa jadi engkau membenci sesuatu, akan tetapi itu yang terbaik bagimu, dan bisa jadi engkau mencintai sesuatu, akan tetapi itu buruk bagimu, Allāh yang lebih mengetahui dan kalian tidak mengetahui.”
(QS Al Baqarah : 216)
Semoga puasa Ramadhān ini melatih kita untuk senantiasa bersabar, sehingga membentuk jiwa kita yang kuat. Dan bersabar dalam menghadapi segala ujian dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلّم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
___________________________
MELATIH KESABARAN

Ramadhan Bulan Untuk Melatih Kesabaran (Bagian 1)

BimbinganIslam.com
Rabu, 10 Ramadhan 1437 H / 15 Juni 2016 M
Ustadz Firanda Andirja, MA
Materi Tematik | Ramadhan Bulan Untuk Melatih Kesabaran (Bagian 1)
———————————-

MELATIH KESABARAN (BAG.1)

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Alhamdulillāh, segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam senantiasa semoga tercurahkan kepada suri tauladan kita Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Bulan suci Ramadhān merupakan bulan yang penuh dengan kemuliaan. Bulan yang mengajarkan kita banyak nilai-nilai ibadah. Diantaranya mengajarkan kita untuk bersabar.
Seorang yang berpuasa, dia harus menyabarkan dirinya untuk meninggalkan perkara-perkara yang dia syahwatkan. Dia harus meninggalkan minuman, makanan, bahkan berhubungan dengan istrinya harus dia tinggalkan, semuanya demi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Latihan ini melatih seorang muslim untuk bersabar tatkala menghadapi hal-hal yang mungkin tidak disukai oleh syahwatnya, atau tidak disukai oleh nafsunya.
Oleh karenanya, jikalau kita ditimpa dengan musibah-musibah yang tidak kita sukai hendaknya kita bersabar.
Dan kita yakin bahwasanya segalanya telah ditakdirkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Bukankah diantara rukun imān yang enam yaitu berimān kepada taqdir, baik taqdir yang baik maupun taqdir yang buruk.
Tatkala seseorang ditimpa dengan musibah, maka hendaknya dia ingat bahwasanya seluruhnya telah ditakdirkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan tatkala Allāh menakdirkan musibah baginya, tentunya ada hikmah yang sangat mulia dibalik musibah tersebut.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menjanjikan untuk menguji kaum yang beriman, kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh Kami akan menguji kalian (orang-orang yang berimān) dengan sedikit ketakutan, dan rasa lapar, dan kekurangan (kekurangan harta, maupun kekurangan jiwa, maupun kekurangan hasil tumbuh-tumbuhan) kemudian kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.”
(QS Al Baqarah :155)
Allāh tidak menguji kita dengan ujian yang terlalu berat yang tidak mampu kita hadapi, tapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidaklah menguji hambanya kecuali yang mampu untuk dipikul oleh sang hamba.
Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Tatkala kita ditimpa dengan ujian, tatkala kita ditimpa dengan musibah, maka mari kita ingatlah sosok suri tauladan kita Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Beliau telah diuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan banyak ujian. Ditimpa dengan berbagai macam musibah :
√ Rasa lapar
√ Rasa takut
√ Kekurangan harta
√ Kekurangan jiwa
√ Hilangnya kekasih-kekasih yang beliau cintai
Semuanya pernah dialami oleh Rasūl kita Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
⇛Adapun rasa takut, sesungguhnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah hendak dibunuh, atau hendak ingin dibunuh oleh orang-orang kāfir Quraishy.
Orang-orang Kafir Quraishy mereka mengumpulkan seluruh para pemuda dari berbagai macam kabilah.
Sekitar 50 orang pemuda dari berbagai macam kabilah, dari berbagai macam suku, ingin membunuh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam secara serentak. Mereka bermaksud mengumpulkan kabilah yang banyak ini, agar jika Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam terbunuh, maka darahnya tersebar di kabilah-kabilah ini. Sehingga kabilah Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam sallam, suku Nabi, tidak bisa menuntut balas dendam.
Akhirnya terkumpulkanlah 50 orang pemuda, yang setiap pemuda tersebut menghunuskan pedang siap untuk menumpahkan darah Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Maka datanglah mereka beramai-ramai mengepung rumah Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Ini adalah perkara yang sangat menakutkan, 50 orang pemuda dengan pedang yang terhunus, dan ingin mengeroyok Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam , dan ingin serentak membunuh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Akan tetapi Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, menghadapi tantangan tersebut dengan tenang. Sehingga akhirnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla menolong Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
(Tafsir Ibnu Katsir, Al Anfal ayat 30)
⇛Rasa takut yang lain yang pernah ditimpa oleh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan shahābatnya, Abū Bakar Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu
tatkala Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Abū Bakar ingin pula dibunuh oleh orang-orang kāfir Quraishy.
Bahkan orang-orang kāfir Quraishy memberikan tawaran hadiah yang besar bagi siapa saja yang bisa membunuh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam atau Abū Bakar Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu
Maka Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Abū Bakar harus keluar dari kota Mekkah, berhijrah menuju kota Madīnah.
Dan orang-orang Kāfir Quraishy terus berlomba-lomba untuk bisa membunuh Nabi dan Abū Bakar Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu.
Akhirnya, Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Abū Bakar harus sembunyi di sebuah gua, yang dikenal dengan gua Tsur, di jabal Tsur.
Tatkala itu pasukan orang-orang kāfir Quraishy sudah tiba di mulut gua, di jabal Tsur, di gunung Tsur. Maka tatkala itu Abū Bakar Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu pun takut, karena orang-orang Quraishy sudah berada di mulut gua.
Apa kata Abu Bakar Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu ? “Kalau saja salah seorang diantara mereka melihat kearah kaki mereka maka mereka akan melihat kita”.
(HR Bukhari nomor 3380, versi Fathul Bari nomor 3653 dan Muslim nomor 4389, versi Syarh Muslim nomor 2381)
Rasa takut yang meliputi hati Abū Bakar Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, akan tetapi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menghadapi semuanya dengan tenang, dengan berkata:
“Wahai Abū Bakar, bagaimana menurutmu dengan dua orang yang Allāh adalah ketiganya? Tentunya Allāh akan menolong mereka,” kata Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
 لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Jangan engkau sedih, sesungguhnya Allāh bersama kita.”
Lihatlah, inilah rasa takut yang pernah dialami oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga pernah diuji dengan rasa lapar. Suatu saat  Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam keluar rumahnya karena lapar, mencari makanan, tiba-tiba Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertemu dengan Abū Bakar, ternyata Abū Bakar juga keluar karena mencari makan. Tiba-tiba Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bertemu dengan Umar bin Khaththab, ternyata ketiga-tiganya keluar karena kelaparan.
Inilah yang pernah dialami oleh Nabi kita Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Oleh karenanya, ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā pernah mengatakan:
Aisyah radhiallahu ‘anhaa:
إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلَالِ ثُمَّ الْهِلَالِ ثَلَاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ فَقُلْتُ يَا خَالَةُ مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ قَالَتْ الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ
“Kami melihat hilal, kami melihat hilal, kami melihat hilal, tiga hilal dalam dua bulan, dan tidak ada suatu pun yang dimasak, tidak ada api yang dinyalakan dirumah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Rasūlullāh hanya makan butiran kurma dan minum air putih.”
(Hadīts Riwayat Bukhāri no 2567 dan Muslim no 2972)
Bagaimana rasa lapar yang dialami oleh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ?
Suatu saat, tatkala Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam perang Khandaq, Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menggali parit bersama para shahābat. Parit yang sulit untuk digali. Kita tahu bagaimana tanah kota Madīnah yang begitu keras.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam harus menggali parit Khandaq yang jaraknya empat meter dan dalamnya empat meter dengan jarak yang jauh sekali dengan panjang sangat jauh.
Tatkala itu para shahābat kelaparan, tidak ada makanan. Maka para shahābat pun mengikatkan sebutir batu di perut-perut mereka untuk menahan rasa lapar yang mereka rasakan.
Merekapun mengadu kepada Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang rasa lapar yang mereka dapati. Kemudian Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam membuka perutnya, ternyata Nabi kita Shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga sedang mengikat perutnya dengan batu, bahkan dua butir batu. Dia ikatkan diperutnya dalam rangka untuk menahan rasa lapar.
Oleh karenanya, Abdurrahmān bin Auf Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu pernah menangis tatkala dihidangkan sebuah roti, sebuah roti yang terbuat dari gandum.
Maka diapun menangis. Orang-orang disekeliling Abdurrahmān bin Auf Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu berkata:
و ما يبكيك
“Apa yang membuat engkau menangis wahai Abdurrahmān?”
مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيْرِ يَوْمَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ حَتَّى قُبِضَ رَسُوْلُ اللهِ ص البخارى و مسلم
“Sesungguhnya Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah kenyang karena makan roti ini, demikian juga keluarga Muhammad tidak pernah kenyang karena roti ini.”
(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim, Fathul Bari juz 7, halaman 397)
Inilah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang pernah diuji dengan rasa lapar.
Adapun mengenai kesedihan, tentang hilangnya kekasih yang dicintainya, sanak keluarganya, maka sering dialami oleh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
⇛Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam diuji sejak kecil. Telah diuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla lahir dalam keadaan tidak berayah. Sungguh perkara yang sangat menyedihkan, tidak memiliki ayah.
⇛Kemudian ibunya meninggal tatkala Beliau berumur enam tahun. Tatkala beliau pulang dari bersafar bersama ibunya dari kota Mekkah ke kota Madīnah , tatkala di suatu tempat yang namanya Abwa’, maka sang ibupun (Aminah) kemudian sakit parah, dan sang anak yang masih kecil Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, melihat bagaimana sakitnya sang Ibu, melihat bagaimana ibunya yang sekarat, dan menghadapi sakaratul maut, seluruhnya dilihat oleh dua mata Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Bagaimana kita bisa bayangkan kesedihan seorang anak kecil, melihat ibunya meninggal di hadapan matanya.
Ramadhan Bulan Untuk Melatih Kesabaran-1
___________________________