Tag Archives: thaharah

Mandi Yang Disunnahkan Di Dalam Syariat (Ghusl)

 

 

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 06 Muharram 1438H / 07 Oktober 2016M
? Ustadz Fauzan ST, MA
? Matan Abū Syujā’ | Kitab Thahārah
? Kajian 22 | Mandi Yang Disunnahkan Di Dalam Syariat (Ghusl)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H022
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

(فصل) والاغتسالات المسنونة سبعة عشر غسلا غسل الجمعة والعيدين والاستسقاء والخسوف والكسوف والغسل من غسل الميت والكافر إذا أسلم والمجنون والمغمى عليه إذا أفاقا والغسل عند الإحرام ولدخول مكة وللوقوف بعرفة وللمبيت بمزدلفة ولرمي الجمار الثلاث وللطواف.

Mandi mandi yang disunnahkan ada 17 keadaan yaitu: mandi untuk Jum’at, 2 (dua) hari raya, shalat minta hujan (istisqa’), gerhana bulan, gerhana matahari, setelah memandikan mayit, orang kafir apabila masuk Islam, orang gila dan ayan (epilepsi) apabila sembuah, saat akan ihram, akan masuk Makkah, wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Muzdalifah, melempar Jumrah yang tiga, tawaf. (Fiqh AtTaqrib Matan Abi Syuja’)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

MANDI YANG DISUNNAHKAN DI DALAM SYARI’AT (GHUSL)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد.

Para Sahabat penuntut ilmu yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, pada halaqah yang ke-22 ini kita akan memasuki pembahasan tentang “Mandi Yang Disunnahkan Di Dalam Syari’at”

قال المصنف رحمه الله :
((والاغتسالات المسنونة سبعة عشر غسلا))

((Dan mandi-mandi yang disyari’atkan (disunnahkan) ada 17 macam))

Namun yang disebutkan oleh Penulis disini hanya ada 16 saja, wallāhu a’lam.

● ⑴

((غسل الجمعة))

((Mandi untuk shalat Jum’at))

Bagi seseorang yang akan berangkat untuk shalat Jum’at maka disunnahkan untuk mandi. Dan ini adalah pendapat jumhur pendapat Syāfi’i yang mengatakan bahwa hukumnya adalah sunnah. Adapun pendapat ulama zhāhiriyyah mengatakan hukumnya adalah wajib berdasarkan hadits Riwayat Muslim.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى مِنْكُمْ الْجُمُعَة فَلْيَغْتَسِلْ

“Barangsiapa yang hendak datang untuk menunaikan shalat Jum’at maka mandilah.” (HR Muslim)

Dan di dalam hadits tersebut ada kalimat perintah dan kalimat perintah menunjukkan bahwasanya hukumnya adalah wajib.

Namun pendapat jumhur adalah pendapat yang rajih (benar) karena di sana ada dalil-dalil yang lain yang memalingkan makna perintah tadi dari wajib menjadi sunnah. Diantaranya adalah sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنْ اغْتَسَلَ فَهُوَ أَفْضَلُ

“Barangsiapa yang berwudhū’ di hari Jum’at, maka sudah cukup dan barang siapa yang mandi maka itu lebih baik.” (HR. Ash-hābus Sunān dan dihasankan oleh Imam Tirmidzi)

● ⑵ & ⑶
((والعيدين))

((Mandi untuk shalat dua ‘Īd: ‘Īdul Fithri & ‘Īdul Adha))

Berkata Imam Nawawi di dalam Majmū’ Syarh Al-Muhadzdzab:

وقال الشافعيّ وأصحابه: يستحب الغسل في العيدين، وهذا لا خلاف فيه والمعتمد فيه أثر ابن عمر، والقياس على الجمعة

Berkata Imām Syāfi’i dan Ash-hāb: “Disunnahkan untuk mandi untuk kedua shalat ‘id dan ini tidak ada perbedaan pendapat didalamnya dan yang menjadi sandaran dalam masalah itu adalah contoh perbuatan Ibnu ‘Umar juga qiyās terhadap shalat Jum’at.”

● ⑷

((والإستسقاء))

((Mandi untuk shalat istisqa/shalat untuk meminta hujan))

Dan ini dalilnya adalah qiyās atau disamakan dengan dalil shalat Jum’at (qiyās terhadap shalat Jum’at. Dan merupakan moment (saat-saat) berkumpulnya manusia disatu tempat, oleh karena itu disunnahkan untuk mandi.

● ⑸

((والخسوف))

((Mandi untuk melaksanakan shalat khusūf/gerhana bulan))

● ⑹

((والكسوف))

((Mandi untuk melaksanakan shalat kusūf/gerhana matahari))

Dalilnya pun sama yaitu qiyās terhadap shalat Jum’at dan juga tempat berkumpulnya manusia, oleh karena itu disunnahkan untuk mandi.

● ⑺

((والغسل من غسل الميت))

((Mandi karena memandikan mayyit))

Dalil: Sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Barangsiapa yang memandikan mayit, maka mandilah. Dan barangsiapa yang mengusung mayat, maka berwudhū’lah.” (HR Abū Dāwud, Tirmidzi dan beliau menghasankan hadits ini)

⇒ Dan perintah disitu maksudnya adalah sunnah sebagaimana diterangkan (dijelaskan) atau ada qarāin dari hadits yang lain yang menunjukkan bahwasanya perintah disana bukan bermaksud wajib namun bermaksud sunnah.

● ⑻

((والكافر إذا أسلم))

((Orang kafir apabila masuk Islam))

Maka disunnahkan untuk mandi, berdasarkan hadits Qays bin ‘Āshim, beliau berkata:

أَنَّهُ أَسْلَمَ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Qays bin ‘Āshim masuk Islam, kemudian Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam menyuruhnya untuk mandi dengan air dan daun sidr (daun bidara).” (HR Ash-hābus Sunān dengan sanad yang hasan)

● ⑼

((والمجنون))

((Orang yang gila lalu kemudian tersadar))

● ⑽

((والمغمى عليه إذا أفاقا))

((Orang yang pingsan yang kemudian siuman))

Maka disunnahkan bagi keduanya untuk mandi. Dan keduanya disamakan hukumnya karena sama-sama hilang akalnya. Dan ini berdasarkan hadits ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā didalam Riwayat Bukhāri dan Muslim yang menceritakan tentang manakala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sakit di akhir hayat Beliau. Kemudian Beliau pingsan dan manakala siuman Beliau meminta air untuk mandi.

● ⑾

((والغسل عند الإحرام))

((Mandi manakala akan mulai ihram))

Berdasarkan hadits dari Zayd bin Tsābit beliau berkata:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله َّ-صلى الله عليه وسلم- تَجَرَّدَ لإِهْلاَلِهِ فَاغْتَسَلَ

“Saya melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melepaskan pakaiannya untuk memulai ihram dan Beliau mandi.” (HR Tirmidzi dan beliau menghasankan)

● ⑿

((و لدخول مكة))

((Mandi karena masuk ke dalam Mekkah))

Berdasarkan perbuatan Ibnu ‘Umar dan beliau menyebutkan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melakukan hal itu. (HR Al-Khamsah kecuali Imam Tirmidzi)

● ⒀

((وللوقوف بعرفة))

((Mandi karena wuqūf di ‘Arafah))

Dan inipun berdasarkan perbuatan Ibnu ‘Umar dan juga diqiyaskan bahwasanya hal ini adalah tempat berkumpulnya manusia, oleh karena itu disunnahkan untuk mandi.

● ⒁

((للمبيت بمزدلفة))

((Mandi karena mabit di Muzdalifah))

● ⒂

((ولرمى الجمار الثلاث))

((Mandi karena melempar jumrah yang tiga))

Dalilnya adalah qiyās bahwasanya ini adalah tempat berkumpulnya manusia di dalam ibadah.

● ⒃

((وللطواف))

((Mandi untuk melaksanakan thawāf))

Yang dimaksud disini oleh Penulis adalah seluruh thawāf (baik thawāf qudūm, thawāf ifādhah dan thawāf yang lainnya).

Ini adalah pendapat Imam Syāfi’i dalam Qawlul Qadīm (pendapat Beliau yang lama), yang mana mengatakan bahwasanya: “Mandi untuk thawāf adalah sunnah.”

Namun pendapat beliau yang baru dalam Qawlul Jadīd bahwasanya: “Tidak disunnahkan mandi untuk thawāf.” Berdasarkan hadits ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā beliau mengatakan:

أن النَّبِيَّ صلى اله عليه وسلم أَوَّلَ شَيْءٍ بَدَأَ بِهِ حِينَ قَدِمَ مَكَّةَ أَنَّهُ تَوَضَّأَ ثُمَّ طَافَ بِالْبَيْتِ (رواه الشيخان)

“Bahwasanya hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam tatkala masuk ke dalam Mekkah adalah Beliau berwudhū’ kemudian thawāf di Ka’bah.”

Demikian yang bisa kita sampaikan dalam pasal ini.
———-

Kita tutup dengan wasiat dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dari Abī Sa’īd Al-Khudriy radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا, فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ؟ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا, وَاتَّقُوا النِّسَاءَ, فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ, كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Bahwasanya dunia adalah manis dan hijau (indah) dan sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan jadikan kalian untuk mewarisinya (menggantikan satu orang dari orang-orang sebelumnya), maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan melihat apa yang akan kalian lakukan?

Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan berhati-hatilah kalian dari fitnah para wanita karena sesungguhnya awal terjadinya fitnah (musibah) dikalangan Bani Isrāil adalah pada wanita.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, Para Sahabat sekalian, semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita sebagai orang-orang yang tidak tertipu dengan gemerlapnya kehidupan dunia dan dengan tipuan dunia.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita orang-orang yang senantiasa istiqamah untuk kemudian menghadap Allāh dalam keadaan yang selamat.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم

thaharah-kajian-22

Kewajiban-Kewajiban Dan Sunnah Di Dalam Mandi

BimbinganIslam.com
Jum’at, 16 Dzulqa’dah 1437H / 19 Agustus 2016M
Ustadz Fauzan ST, MA
Matan Abū Syujā’ | Kitab Thahārah
Kajian 21 | Kewajiban-Kewajiban Dan Sunnah Di Dalam Mandi
⬇ Download Audio: https://goo.gl/WKVbtI
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

KEWAJIBAN-KEWAJIBAN DAN SUNNAH DI DALAM MANDI JUNUB

(فصل) وفرائض الغسل ثلاثة أشياء النية وإزالة النجاسة إن كانت على بدنه وإيصال الماء إلى جميع الشعر والبشرة. وسننه خمسة أشياء التسمية والوضوء قبله وإمرار اليد على الجسد والمولاة وتقديم اليمنى على اليسرى.
Fardhu/rukun atau perkara yang harus dilakukan saat mandi junub ada 3 (tiga) yaitu (1) niat, (2) menghilangkan najis yang terdapat pada badan, (3) mengalirkan air ke seluruh rambut dan kulit badan.
Hal-hal yang disunnahkan saat mandi junub ada 5 (lima) yaitu: (1) Baca bismillāh, (2) Wudhū sebelum mandi, (3) Mengusapkan tangan pada badan, (4) Bersegera, (5) Mendahulukan anggota badan yang kanan dari yang kiri.
(Fiqh AtTaqrib Matan Abi Syuja’)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد
Para Sahabat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, pada halaqah yang ke-21 ini kita akan membahas tentang “Kewajiban-kewajiban & Sunnah-sunnah Di Dalam Mandi”.
■ BAGIAN PERTAMA | KEWAJIBAN-KEWAJIBAN MANDI 
Pada bagian pertama kita akan menjelaskan tentang farāidh (kewajiban-kewajiban) di dalam mandi.
قال المصنف:
((وفرائض الغسل ثلاثة أشياء))
((Dan hal-hal yang termasuk di dalam kewajiban/rukun mandi ada 3 macam))
⇒Maksudnya disini adalah bahwasanya 3 perkara ini harus ada di dalam thāharah (mandi) seseorang agar mandinya termasuk mandi yang dianggap sah di dalam syari’at.
Jika tidak ada 3 hal ini maka thahārahnya tidak dianggap sah di dalam syari’at. 
• SYARAT PERTAMA
((النية))
((Niat))
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya.”
(HR Bukhari & Muslim) 
Dan mandi bisa merupakan kebiasaan belaka, namun juga dia bisa bernilai ibadah. Dan yang membedakan hal itu adalah niat seseorang.
Oleh karena itu, jumhur (mayoritas) para ulama dari kalangan Mālikiyyah, Syāfi’iyyah dan Hanābilah mereka mengatakan bahwa:
◆ Niat adalah syarat sahnya thahārah mandi seseorang.
Niat itu letaknya didalam hati, seseorang yang hendak mandi junub maka dia hendaknya meniatkan didalam dirinya untuk:
✓Melaksanakan thahārah mandi agar mengangkat hadats akbar yang ada pada dirinya, atau
✓Berniat melaksanakan mandi wajib, atau
✓Thahārah mandi untuk shalat.
✓Dan semisalnya.
Oleh karena itu tidak sah dan tidak cukup jika hanya berniat untuk mandi saja atau sekedar thahārah saja, tanpa ada niat untuk mengangkat hadats atau berniat agar bisa melaksanakan ibadah seperti shalat dan lainnya.
• SYARAT KEDUA
((و إزالة النجاسة إن كانت على بدنه))
((Dan menghilangkan najis yang ada pada dirinya))
Jika terdapat pada seseorang najis ‘ayni (yaitu najis yang bisa dirasakan oleh panca indera) maka najis/kotoran tersebut harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum dia mandi.
✓Dan syarat kedua ini adalah ittifāq (kesepakatan) para imam madzhab.
• SYARAT KETIGA
((وإيصال الماء جميع الشعر والبشرة))
((Dan meratakan air ke seluruh rambut dan kulit))
Ini adalah wajib hukumnya baik mereka yang berambut tipis maupun berambut lebat harus diratakan semua.
Di sana ada pertanyaan;
● Pertanyaan:
Wajibkah di dalam mandi untuk menyela-nyela rambut ataukah cukup hanya mengguyur saja?”
● Jawaban:
Pendapat Syāfi’iyyah dan jumhur mayoritas para ulama, selain kalangan Mālikiyyah, bahwasanya menyela-nyela rambut adalah WAJIB. 
◆ Dalil:
Hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ali radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, beliau berkata:
مَنْ تَرَكَ مَوْضِعَ شَعْرَةٍ مِنْ جَنَابَةٍ لَمْ يَغْسِلْهَا فُعِلَ بِهَا كَذَا وَكَذَا مِنْ النَّارِ
“Barangsiapa yang meninggalkan secuil dari rambutnya dari janābah dan tidak dicuci atau tidak dimandikan maka akan disiksa demikian demikian dari api neraka.”
(HR Abū Dāwud dan Ibnu Mājah) 
✓Namun yang benar, hadits di atas adalah hadits yang MAUQUF dan merupakan perkataan ‘Ali dan bukan perkataan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
◆ Dalil yang lain yaitu: 
⒜ Keumuman ayat 
وَإِن كُنتُم ْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا
Bahwasanya dalam ayat (surat Al-Maidah ayat 6) bermakna UMUM maka wajib meratakan ke seluruh badan termasuk kulit kepala.
⒝ Hadits ‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā yang menceritakan tentang tata cara wudhū’ atau tata cara mandi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Beliau mengatakan di dalam hadits tersebut:
يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ
“Beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air dan kemudian menyela-nyela rambutnya.”
(HR Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)
● Pertanyaan:
 Seseorang wanita yang mengikat rambutnya dengan kepang, apakah wajib untuk melepas atau menguraikan rambutnya pada saat mandi wajib?
● Jawaban:
Untuk mandi, di sana ada 2 macam;
⑴ MANDI JANĀBAH
Untuk mandi janābah para ulama bersepakat bahwasanya tidak wajib mengurai rambut yang diikat karena disana ada masyaqqah (kesulitan) dan syari’at memberikan keringanan.
Dan juga disana ada dalil yang lain, berdasarkan hadits dari Ummu Salamah, beliau berkata kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِي فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ قَالَ : لَا إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِين
“Saya adalah wanita yang memiliki kepang yang sulit diurai, apakah harus saya urai untuk mandi junub?”.
Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:
“Tidak perlu, cukup engkau tuangkan diatas kepalamu 3 tuangan lalu guyurkan air pada badanmu maka engkau telah suci.”
(HR Muslim No. 330)
⑵ MANDI WAJIB DISEBABKAN HĀIDH ATAU NIFĀS
Para ulama berselisih pendapat.
⒜ WAJIB
Bagi para ulama yang menyatakan wajib, hal itu disebabkan karena:
• Keumuman dalil-dalil yang ada.
• Haidh ataupun nifas terjadi tidak sesering seperti janābah.
⇒ Haidh 1 bulan sekali dan nifas bisa 1-3 tahun sekali.
Dan di dalam hadits Ummu Salamah hanya disebutkan perihal mandi junub dan tidak disebutkan tentang mandi hāidh.
⒝ TIDAK WAJIB
Adapun yang mengatakan bahwasanya tidak wajib untuk diurai, mereka berdalil juga dengan hadits Ummu Salamah dalam riwayat yang lain bahwasanya disana ada tambahan kalimat :
أَفَأَنْقُضُهُ لِلْحَيْضَةِ وَالْجَنَابَةِ؟ فَقَالَ لَا
“Apakah aku harus menguraikan rambut tersebut untuk mandi (yang disebabkan) haidh dan mandi (yang disebabkan) junub?”.
Berkata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam: “Tidak”
⇒ Disana ada tambahan kata لِلْحَيْضَةِ.
Oleh karena itu, bagi yang mengatakan tidak wajib menyatakan bahwa:
◆ Baik pada mandi junub ataupun mandi karena haidh atau nifas adalah sama yaitu tidak wajib untuk mengurai rambutnya.
■ BAGIAN KEDUA | SUNNAH-SUNNAH MANDI 
قال المصنف:
((وسننه خمسة أشياء))
((Dan sunnah-sunnah dalam mandi ada lima hal))
• PERTAMA
((التسمية))
((Membaca Basmalah/Bismillāh))
Membaca “Bismillāh” sebelum melakukan thahārah mandi sebagaimana yang sudah dijelaskan pada banyak tempat tentang masru’iyyahnya untuk membaca basmalah.
• KEDUA
((والوضوء قبله))
((Dan berwudhū’ sebelum mandi))
Berdasarkan hadits ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā yang menjelaskan tentang tata cara mandi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam secara lengkap.
Beliau mengatakan:
كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه و سلم إِذَا اِغْتَسَلَ مِنْ اَلْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ, ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ, فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ, ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوْءَ هُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ اَلْمَاءَ, فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ اَلشَّعْرِ, حَتَّى إِذَا رَأَى أنْ قَدْ إِسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ, ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ, ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ
“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam apabila Beliau mandi junub (kata ‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā menceritakan), Beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya.
Kemudian tangan kanannya menuangkan air kepada tangan kirinya.
Lalu Beliau mencuci kemaluan (yaitu dengan tangan kirinya tadi).
Kemudian Beliau berwudhū’ seperti wudhū’ untuk shalat. Lalu Beliau setelah itu mengambil air dan memasukkan jari-jari Beliau ke rambut bagian dalam.
Dan apabila Beliau merasa sudah merata maka Beliau tuangkan air ke kepalanya 3 kali tuangan.
Lalu Beliau mengguyur seluruh tubuhnya dan membasuh kakinya.”
(HR Khamsah/Imam yang lima)
• KETIGA
((وإمرار اليد على الجسد))
((Mengusapkan tangan ke seluruh tubuh))
Tujuannya adalah memastikan bahwa air telah merata ke seluruh tubuhnya.
• KEEMPAT
((والموالاة))
((Berkesinambungan))
⇒ Yaitu antara satu kegiatan dengan kegiatan yang lain secara berkesinambungan.
• KELIMA
((و تقديم اليمنى على اليسرى))
((Mendahulukan bagian yang sebelah kanan dari bagian yang sebelah kiri))
Berdasarkan hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَامُنَ فِي كُلِّ شَيْءٍ ، حَتَّى فِي وُضُوئِهِ وَانْتِعَالِهِ
“Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam suka mendahulukan bagian sebelah kanan dalam segala urusan sampai-sampai dalam urusan berwudhū’ dan urusan memakai sandal.”
(HR Bukhari dan Muslim) 
Sampai disini halaqah kita yang ke-21 dan kita tutup dengan firman Allāh Ta’āla:
يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian itu sedang berjalan menuju Tuhanmu, niscaya kalian akan menemui Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”
(QS Al-Insyiqāq: 6)
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan kepada kita ats-tsabāt dan istiqāmah (keteguhan) di dalam beragama.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
و السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
____________________________
Kewajiban-Kewajiban Dan Sunnah Di Dalam Mandi

Pembagian Jenis Air Berdasarkan Penggunaan Dalam Thahārah (Bagian 3)

Jum’at, 17 Jumadal Ūlā 1437H / 26 Februari 2016M
Ustadz Fauzan ST, MA
Matan Abū Syujā’ | Kitab Thahārah
Kajian 07 | Pembagian Jenis Air Berdasarkan Penggunaan Dalam Thahārah (Bagian 3)
⬇ Download Audio: https://goo.gl/yJOp2Y
~~~~~~~~~~~~~~~

PEMBAGIAN JENIS AIR BERDASARKAN PENGGUNAANNYA DALAM THAHĀRAH (BAGIAN 3)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله, أما بعد.

Para Sahabat sekalian, kita lanjutkan pada halaqah yang berikutnya (yang ke-7).

Pada penjelasan kali ini penulis ingin menjelaskan bagian ke-3 dari jenis air dari sisi thaharahnya, yaitu “Jenis yang suci namun tidak mensucikan”.

قال المصنف رحمه الله:
((وَطَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ وَهُوَ اْلمَاءُ اْلمُسْتَعْمَلُ وَالْمُتَغَيُرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ))

((Jenis yang suci namun dia tidak mensucikan, yaitu air musta’mal (air bekas) & air yang berubah karena tercampur dengan benda-benda suci))

Dua jenis ini termasuk air yang suci namun tidak mensucikan (thāhir ghairu muthahhir).

Disini Penulis menjelaskan tentang:

● PERTAMA
Air bekas (air musta’mal)

Apa yang dimaksud air bekas? Adalah air bekas cucian dari thahārah yang wajib. Misalnya:

• Wudhū’ yang wajib
• Mandi yang wajib

Maka air bekas tersebut dikatakan sebagai air musta’mal, yang mana di dalam madzhab Syāfi’ī, air musta’mal ini termasuk air yang suci tapi dia tidak bisa mensucikan.

Akan tetapi, pendapat yang benar adalah pendapat jumhur yang mengatakan bahwasanya:

√ Air musta’mal itu adalah tetap dia air mutlak selama tidak berubah warnanya, baunya maupun rasanya, yang bisa digunakan untuk bersuci.

Dalil:
Sebuah hadits dari Abū Daud rahimahullāh, yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhu, beliau berkata,

اغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَفْنَةٍ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَتَوَضَّأَ مِنْهَا أَوْ يَغْتَسِلَ فَقَالَتْ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ جُنُبًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَاءَ لَا يُجْنِبُ

Bahwasanya salah seorang dari istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mandi dari sebuah bejana. Kemudian datang Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ingin berwudhu dari bejana tersebut (ingin mandi).

Berkata istri Beliau:

“Wahai Rasūlullāh, sesungguhnya tadi saya itu junub (mandi junub).”

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun berkata:

“Sesungguhnya air itu tidak junub.”

Ini adalah dalil bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menggunakan air bekas cucian (air musta’mal), bekas thahārah wajib dan digunakan untuk bersuci (berwudhū’).

Dan ini menunjukkan bahwasanya pendapat jumhur-wallāhu a’lam-lebih rajih (lebih kuat), bahwasanya:

√ Air musta’mal selama dia masih bersifat sebagai air mutlak (yang tidak berubah warna, bau maupun rasanya) maka dia bisa digunakan untuk bersuci.

Wallāhu a’lam.

● KEDUA

Kemudian yang ke-2 yang disebutkan sebagai jenis air yang thāhir ghairu muthahhir (suci tapi tidak mensucikan) yaitu:

((وَالْمُتَغَيُرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ))
((Air yang berubah disebabkan tercampur dengan benda-benda suci))

Kita bisa lihat bahwasanya:

◆ ⑴ Yang tercampur adalah benda-benda suci.

Jika benda-benda najis maka dia tidak termasuk pada jenis ini.

◆ ⑵ Air mutlak tersebut berubah, baik warnanya, baunya maupun rasanya.

Salah satu dari sifat ini apabila berubah maka dia tercabut dari sifat mensucikan, maka dia termasuk jenis yang suci namun tidak mensucikan.

Contohnya: Air teh

Tatkala air mutlak kemudian dicampur teh maka berubah menjadi air teh, berubah warnanya, bau atau rasa maka air teh ini tidak dapat digunakan untuk berwudhū’ atau bersuci.

Kemudian contoh lainnya misalnya:

• Air kopi
• Air susu
• Dan contoh-contoh yang lainnya.

Disebutkan oleh para ulama, diantara PATOKAN dalam perubahan tadi adalah:

• ⑴ Sebuah perubahan yang JELAS.

Jadi apabila perubahannya tidak jelas atau sangat sedikit sekali maka tidak merubah sifat air mutlak tadi, dari sifatnya sebagai air yang suci dan mensucikan.

Namun, apabila perubahannya itu jelas maka dia akan mencabut sifatnya dari sifat mensucikan menjadi sifat yang suci namun tidak mensucikan.

Kemudian yang kedua,

• ⑵ Perubahan tersebut disebabkan benda-benda suci yang DAPAT DIHINDARI.

Contohnya: teh, kopi.

Ini bisa dihindari. Apabila bercampur dengan benda-benda tersebut maka sifat air mutlak menjadi thāhir ghairu muthahhir (suci namun tidak mensucikan).

Apabila tercampur dengan benda-benda suci yang tidak dapat dihindari. Contohnya:

⑴ Air sungai yang tercampur dengan lumpur yang kemudian berubah warnanya, baunya maupun rasanya.

⑵ Mata air yang tercampur dengan daun-daun yang berguguran sehingga merubah sifat warnanya, baunya maupun rasanya.

Yang semua itu tidak dapat dihindari maka air tersebut TETAP pada sifat asalnya yaitu thāhir wa muthahhir (suci dan mensucikan).

Demikian yang bisa kita jelaskan pada jenis air yang ke-3 ini, kita cukupkan.

و صلى الله على محمد و على آله و صحبه و سلم

Sampai berjumpa pada halaqah berikutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته