Taman-taman Surga

  Taman-taman Surga 

Generasi salafush-shalih adalah orang-orang yang amat memahami keutamaan ilmu dan majelis ilmu.

Lalu bagaimana dengan generasi umat Islam hari ini?
Sayang, meski kebanyakan majelis ilmu itu gratis, padahal menjanjikan keutamaan yang luar biasa saat hadir di dalamnya, tak banyak orang yang berbondong-bondong untuk menghadirinya.

Buktinya, meski majelis ilmu menjamur di mana-mana, biasanya yang hadir jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Bandingkan dengan “majelis sepak bola” atau “majelis konser musik”; meski setiap orang harus mengeluarkan puluhan atau bahkan ratusan ribu untuk membeli karcis masuk, toh peminatnya selalu membludak walau harus berdesak-desakan.
Padahal jelas, “majelis-majelis” semacam ini tak menjanjikan apa-apa selain kesenangan sesaat.

Itulah realitas generasi umat hari ini. Mereka benar-benar telah ‘buta’, tak lagi dapat melihat keutamaan dan keindahan taman-taman surga. Seindah apapun taman di dunia tak pernah ada yang kemudian disebut dengan ‘taman surga’.
Karena itu, menarik saat Baginda Rasulullah SAW menyebut-nyebut adanya ‘taman surga’, bukan di surga, tetapi di dunia ini.

  Anas bin Malik menuturkan bahwa Baginda Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para Sahabat, “Jika kalian melewati taman-taman surga, makan dan minumlah di dalamnya.”
Para Sahabat bertanya, “Apakah taman surga itu, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Halaqah-halaqah (majelis-majelis) dzikir.” (HR at-Tirmidzi)

Melalui hadits ini, tegas Rasulullah menyamakan majelis dzikir dengan taman surga, tentu dari sisi kemuliaan dan keutamaannya, sekaligus menyebut orang yang ada di majelis-majelis dzikir sebagai orang-orang yang sedang menikmati hidangan di taman-taman surga itu (Syarh Ibn Bathal, II/5)

#YukNgaji

Karena topiknya sama, maka kajian di bawah ini sengaja dikirim disini:

MATERI
  Ketika Pesona Surga Mulai Memudar 

PEMATERI
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc

Sementara yg lain ada yg sibuk berlibur, bersyukurlah kita yang bisa berekreasi di taman surga.

Lebih indah dari semua obyek wisata lain. Memberi ketenangan lebih dari obyek yang lain, karena mendatanginya merupakan kebajikan yang dijanjikan atasnya kehidupan yang baik, pahala yang lebih baik, an nahl Ayat 97

Taman ini memiliki keutamaan :
Ampunan2 dari Allah atas dosa-dosa kita
Terangkat derajat pengunjungnya. Atasnya Allah menginginkan kebaikan.
Pahala ibadah haji dengan kwalitas haji yang sempurna.

Namun waspadalah karena pesona taman surga itu bisa pudar karena kesalahan kita.
Kalau kita tidak cerdas, taman surga itu tidak akan memberi manfaat bagi kita.
Waspadalah karena ada yang memperoleh kerak neraka justru darinya. Bagaimana bisa?
Bagaimana kiatnya supaya supaya tdk demikian?

Agar pesona taman surga itu tidak pudar, dan kita terhindar dari ilmu yang tidak manfaat yang utama adalah:

  BERSIHKAN HATI 
Ada hal yang harus kita lakukan sebelum duduk di taman surga,   dari ulama Saleh Abu Zain, yaitu sebelum belajar kita hrs MEMBERSIHKAN HATI  dari riya, benci, sombong, pemarah, dsb yang mengotorinya.
Al Quran dan Sunnah ibarat air, sedangkan hati kita ibarat gelas kosong
QS 74 -Al mudatsir :1-4
Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan! Agungkanlah Tuhanmu, bersihkanlah pakaianmu.

Makna dari “bersihkanlah pakaianmu” memiliki nilai sejarah yaitu apa yang mengangkat Muhammad jadi Rasul, untuk bangun, pakaiannya disuruh dibersihkan…maksudnya hati dan niat harus disucikan dari noda-nodanya.
Allah memerintahkan pada Muhammad untuk membersihkan hatinya. Padahal sebagai “tanda kenabian”nya, Muhammad itu dadanya di”bedah” dan “dibersihkan” oleh malaikat Jibril.
(sedangkan pengukuhan sebagai nabi tersurat dalam QS  Al Alaq)

Ilmu dan hati tidak bisa dipisahkan. Inti dari ilmu adalah ibadah hati: bagaimana keihlasan, ketawadhuan kita, dan lebih intinya lagi adalah : betapa kita takut pada Allah
Bukan hanya hafalan quran atau penampilan baju (bukan mengecilkan arti keduanya).
Takut adalah amalan hati.
Kunci sukses para ulama adalah menata hati nya sllu dalam keadaan baik,sebelum menuntut ilmu.
Bukan shalat atau puasanya, juga tanpa mengecilkan arti  keduanya.
Kalau kalbu baik, maka baiklah semuanya.

Ulama klasik menghabiskan wkt mrka utk menata hati
Kl yg skrg lbh banyak pd amalan dzhohir , juga tdk bermaksud mengecilkannya.
Para ulama tahu apa sumber dr sgl kebaikan yaitu hati.

Hati hrs sllu dijaga :
•keikhlasan (yg paling berat dan utama)
•ketawadhuan
Merasa rendah dihadapan ilmu, firman Allah, hadist2 Nabi, dst
Semakin belajar semakin merasa kerdil, hina di mata Allah krn makin bnyak yg kita gatau, dan dosa kita banyak

Hati seorang penuntut ilmu sejati adalah semakin banyak tahu semakin merasa kerdil

Mari kita hadiri majelis2 ilmu minimal yang ada di sekitar rumah kita, di kota kita, atau bahkan di luarkota.

 

 

taman surga -istiqomah-bandung

taman surga – Mesjid Istiqomah Bandung

tamansurga-mesjid raya cipaganti-bandung

taman surga – Mesjid Raya Cipaganti – Bandung