TAUQIF dan ITTIBA’

 

TAUQIF dan ITTIBA’

 

Dasar ibadah adalah “tauqif” (menahan diri, tidak dilaksanakan kecuali ada dalil).
Syarat diterimanya amal adalah memurnikan ittiba’ (sikap mengikuti) kepada Rasulullah Saw :
اَلأَصْلُفِىاْلعِبَادَةِالتَّوْقِيِفُوَاْلإِتِّبَاعُ
“Hukum asal ibadah adalah TAUQIF dan ITTIBA’ ( bersumber pada ketetapan Allah dan mengikuti Rasul)“. (Abdul Hamid Hakim dalam al Bayan : 188)
Oleh karena itu, Allah memerintahkan untuk mengikuti Rasul Saw, Allah Swt berfirman, “Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (mengikuti sunnah Rasul Saw) niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu‘”. (QS. Ali Imran:31)
Dalinya berdasarkan hadits :
مَنْعَمِلَعَمَلاًلَيْسَعَلَيْهِأَمْرُنَافَهُوَرَدٌّ
“Barangsiapa yang membuat suatu amalan dalam agama kita ini yang tidak ada tuntunannya (contohnya), maka amalan tsb tertolak”.(HR. Bukhari no.2679. HR. Muslim no.1718)
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (Q.S. Al-Hasyr:7)
Rasulullah Bersabda, “Barangsiapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tsb tertolak”. (Muttafaqun alaihi)
Oleh karena itu, seorang pun tidak boleh keluar dari segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Alquran dan As-Sunnah, lakukanlah semua ibadah berdasarkan Sunnah Rasulullah Saw, tinggalkan ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah Saw, karena amalan tsb tidak akan diterima oleh Swt.
Jika seluruh hidup kita diisi dengan amal ibadah kepada Allah Swt sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, maka itulah keberkahan sesungguhnya.
Salam !
Copas dari KTQS

Leave a Reply