Telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam

BimbinganIslam.com
Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA
Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 52 | Telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
Download Audio: https://goo.gl/aUcgJD

TELAGA RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-52 dari Silsilah Beriman kepada hari akhir adalah tentang ” Telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam”.

 

Di antara beriman kepada Hari Akhir adalah beriman tentang adanya telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada Hari Kiamat.
Hadits-hadits yang datang dalam masalah ini mencapai derajat mutawatir, diantaranya adalah sabda beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً

“Sesungguhnya setiap Nabi memiliki telaga. Sesungguhnya mereka akan saling berbangga siapa yang diantara mereka yang telaganya paling banyak didatangi. Dan aku berharap akulah yang telaganya akan paling banyak didatangi.”
( Hadits shahih riwayat Tirmidzi )

 

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنْ اللَّبَنِ وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنْ الْمِسْكِ وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا

“Telagaku sepanjang satu bulan perjalanan, airnya lebih putih daripada susu dan baunya lebih wangi daripada minyak kasturi dan qizannya ( yaitu sejenis teko ) sebanyak bintang di langit. Barangsiapa yang meminum darinya maka dia tidak akan haus selama-lamanya.”
( HR Bukhāri dan Muslim )

 

Sebagian ulama mengatakan bahwasanya seandainya dia masuk ke dalam neraka setelah itu karena dosa yang dia lakukan maka dia tidak akan diadzab dengan rasa haus.
Umat beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan mendatangi telaga beliau dan meminum darinya.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:
“Dan aku akan menolak manusia dari telagaku sebagaimana seseorang menolak onta orang lain dari telaganya.”
Maka para sahabat bertanya kepada beliau:
“Wahai Rasūlullāh, apakah engkau mengenal kami pada hari tersebut ?”
Beliau menjawab:
“Ya, kalian mempunyai tanda yang tidak dimiliki umat-umat yang lain. Kalian akan mendatangi telagaku dalam keadaan putih wajah, tangan dan kaki kalian dari bekas berwudhu.”
( HR Muslim )

 

Orang yang beriman ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam masih hidup kemudian dia murtad sepeninggal beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka akan dijauhkan dari telaga beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Di dalam sebuah hadits, beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:
“Aku akan mendahului kalian di atas telaga dan akan dinampakkan beberapa orang di antara kalian kemudian tiba-tiba dijauhkan dariku.
Aku pun bertanya:
‘Wahai Robbku, bukankah mereka adalah para sahabatku?’
Maka dikatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan setelah dirimu’.”
( HR Bukhāri dan Muslim dari Abdullāh Bin Mas’ud radhiyallāhu ‘anhu)

 

Di dalam hadits yang lain dikatakan kepada beliau:
“Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka rubah setelahmu.”
( HR Bukhāri dan Muslim )
Sebagian ulama mengatakan bahwasanya membuat bid’ah di dalam agama termasuk merubah yang dimaksud dalam hadits ini.
Dikhawatirkan dia tidak bisa meminum dari telaga Nabi shallAllãhu ‘alaihi wasallam.
Namun bukan berarti apabila dia masuk ke dalam neraka, dia kekal di dalamnya. Karena yang kekal di dalam neraka hanyalah orang-orang kafir.
Dua hadits terakhir menunjukkan bahwasanya setelah meninggal dunia, beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak mengetahui apa yang dilakukan umatnya.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa meminum dari telaga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada hari di mana kita sangat membutuhkannya.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
‘Abdullāh Roy
Di kota Al Madīnah

 

telaga Rasul