TERKABULNYA DOA

Oleh : K.H. Athian Ali M. Da’i, MA
 
“Wa idzaa sa-alaka ‘ibaadii ‘annii fa innii qariibun ujiibu da’watad daa’i idzaa da’aani falyastajiibuu Hi wal yu’minuu bii la’alfahum yarsyuduun” 
(Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.
Aku memperkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku, sebab itu hendaklah mereka memohon perkenan kepada-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka memperoleh petunjuk)
(QS. Al Baqarah; 2 :186)
 
Setiap mu’min seharusnya meyakini, bahwa segala sesuatu dalam hidup ini hanya akan terjadi dengan izin Allah 
(Q.S. Al Baqarah; 2 : 255).
Betapapun optimalnya usaha seseorang selama Allah SWT belum menyatakan “Kun”(jadi) maka sesuatu tidak akan pernah terjadi, karena segala sesuatu hanya akan terjadi dengan “Kun fa yakuun” Allah SWT
(Q.S. Yaasiin; 36 : 82).
Setiap mu’min tentu sangat meyakini bahwa manusia adalah makhluk yang, “laa haula wa laa quwwata illaa billaahi” (Tiada daya-upaya dan kekuatan kecuali dengan Allah).
 
Manusia tidaklah pernah sekalipun dapat menentukan hasil.
Karenanya, apa yang kita lakukan selama menjalani kehidupan ini hanyalah berusaha dan berupaya. Itu pun dengan memanfaatkan potensi yang telah Allah limpahkan kepada kita.
Kita manfaatkan potensi mata untuk melihat, kaki untuk melangkah, akal untuk berfikir, tangan untuk memegang dan memanfaatkan potensi-potensi lain yang notabene potensi-potensi tersebut sewaktu-waktu bisa dicabut kembali oleh Allah.

 

Dengan keyakinan seperti ini, maka berusaha dan berdo’a adalah “dua” hal yang tidak mungkin bisa terpisahkan dari ranah kehidupan kita.
Namun demikian, terkadang masih pula muncul pertanyaan:
“Sudah lama berusaha dan berdoa, kenapa tidak/belum juga dikabul?
Padahal, Allah SWT menjanjikan:
“Aku memperkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdo’a kepada-Ku”
(QS, Al Baqarah,2:186).
Adakah kemungkinan Allah ingkar janji? 
Jawabnya: Mustahil Allah mengingkari janji-Nya.

 

Di sinilah kita sangat perlu memahami, sehingga jangan sampai akhirnya kita menjadi buruk sangka kepada Allah.
Yang harus kita tanamkan dalam diri kita adalah keyakinan bahwa Allah SWT pasti memenuhi janji-Nya.
Kita perlu memahami jika do’a yang kita mohonkan kepada Allah terkesan tidak dikabul atau belum dikabul atau memang tidak dikabul oleh Allah.

Paling tidak, ada “tiga” kemungkinan. 

Pertama, sebagai ujian keimanan.
Allah SWT bermaksud menguji kita ketika kita memohon sesuatu kepada-Nya, apakah kita lebih mencintai Allah ataukah lebih mencintai apa yang kita minta?
Dalam QS. Al ‘Ankabuut ayat 2-3 Allah SWT berfirman:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.
Konsekuensinya, tentu setiap orang mu’min sudah harus bersiap-siap untuk diuji keimanannya oleh Allah.
Selain itu ada juga ujian lain yang datangnya dari godaan iblis atas izin-Nya.
Inilah hal yang sangat mendasar, bahwa ujian bagi seorang mu’min adalah memilih prioritas antara cinta kepada yang dia minta kepada-Nya, dengan cinta dia kepada Allah.
Bagi seorang mu’min tentu harus lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas cinta dia kepada selain Allah dan Rasul-Nya
(QS. Al Baqarah, 2:165; At Taubah, 9:24).
Jika do’a kita belum terkabul karena termasuk kemungkinan yang pertama ini yakni sebagai ujian
keimanan, maka selayaknyalah kita bersyukur kepada-Nya karena kita di hadapan-Nya telah diakui sebagai orang yang mu’min.
Betapa ruginya seseorang jika mengaku sebagai mu’min tapi oleh Allah SWT tidak mengakuinya sebagaimana orang-orang Baduy yang mengaku beriman kepada Rasulullah tapi ditolak oleh Allah
(QS.AI Hujuraat, 49:14).

 

Kedua, Allah SWT memilihkan yang terbaik bagi hamba-Nya.
Disadari atau tidak, terkadang kita masih salah persepsi dalam menyikapi terkabulnya do’a. Dikatakan, terkabul do’a seseorang apabila apa yang dimohonkan dikabulkan oleh Allah, padahal Allah Mahatahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Sehingga Allah SWT mengingatkan manusia dalam firman-Nya: “Dan manusia berdo’a untuk kejahatan sebagaimana dia berdo’a untuk kebaikan. Adalah manusia suka tergesa-gesa”
(QS. Al Israa’: 17:11).
Ayat ini mengisyaratkan bahwa tidak menutup kemungkinan ada seseorang yang berdo’a ingin kekayaan yang melimpah, padahal dengan kekayaan tersebut akan menjerumuskannya ke jurang kenistaan, sebagaimana yang terjadi dalam diri Qarun
(QS. Al Qashash, 28:76-78).
Juga dalam kisah Tsa’labah di zaman Rasulullah Saw.
Karenanya, hendaknya kita memegang prinsip dan keyakinan bahwa selama kita hidup di  jalan-Nya, pasti yang Allah pilihkan untuk kita adalah yang terbaik.

 

Ketiga, doa seseorang memang tidak dikabul Allah karena yang bersangkutan tergolong orang yang tidak patut do’anya didengar dan dikabulkan oleh Allah karena terkabulnya do’a hanya diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang sudah dekat dengan Allah
(QS. Al Baqarah, 2:186).
Agar do’a seseorang dikabul oleh Allah maka dia harus berupaya terlebih dahulu dari status ‘Abid menjadi ‘ibad.
Adapun kriteria orang-orang yang tergolong ‘ibaadurrahmaan terdapat dalam
QS. Al Furqaan ayat 63-77.
Jika kriteria tersebut sudah dapat dipenuhi maka doanya pasti dikabul oleh-Nya. Allah SWT berfirman:
“Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu”
(QS. Al Mu’min, 40:60), dan
di mana pun ia berada, Allah akan selalu dekat dengannya, lebih dekat daripada dia dengan urat lehernya sendiri
(QS.Qaaf, 50:16).

 

Hendaknya kita yakini bahwa Allah Mahatahu tentang diri kita, maka sibukkan diri kita dengan beribadah kepada Allah, perbanyak berzikir dalam arti luas
(QS. Ali Imran, 3:190-191) daripada meminta. 
Dalam sebuah hadits Qudsi dinyatakan: “Barangsiapa sibuk berdzikir kepada-Ku sehingga lupa minta-minta, Aku akan berinya sebaik yang Ku-berikan kepada mereka yang minta-minta” 
(HR. Bukhari, Abu Dzaar dan Al Baihaqi), 
Juga dalam hadits lain dinyatakan: “Jika engkau mendekati-Ku sejengkal, Aku mendekatimu sedepa dan bila engkau mendekati-Ku sedepa, Aku dekati engkau sehasta. Dan bila engkau datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadamu berlari”
(HR. Ahmad).

 

Ada beberapa kriteria terkabulnya do’a seseorang seperti yang diisyaratkan
dalam QS. Al Baqarah ayat 186.
 
Pertama, “Jika ibad-ibad-KU bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat”.
Pada beberapa ayat yang senada, jika ada pertanyaan demikian maka lanjutan ayat menyatakan: “Qul” (Katakanlah). 
Di sinilah ayat 186 menjadi ayat yang sangat istimewa berbeda dengan bentuk ayat yang lain, seolah-olah manusia bertanya kepada Rasul lalu Rasul mengadu kepada Allah, ketika Allah menjawab tidak melalui Rasul. 
Dalam hal ini Allah SWT menekankan bagi orang-orang yang sudah dekat jika akan berhubungan dengan-Nya tanpa melalui perantara termasuk Rasul.

 

Kedua. menjadi seorang ‘ibad.
Menjadi seorang yang hidupnya senantiasa menempuh jalan yang telah ditetapkan-Nya, meninggalkan segala sesuatu yang menjadi larangan-Nya. 
Ketiga, jika seseorang berdoa hanya kepada Allah. 
Dalam ayat 186 Surah Al Baqarah dinyatakan:
“Aku memperkanankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku” .
Ini mutlak dinyatakan karena dikhawatirkan ada orang yang berdoa kepada selain Allah.
Hal ini diingatkan Allah SWT melalui firman-Nya:
“Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah adalah hamba-hamba serupa kamu. Karena itu serulah mereka, (tentunya) mereka akan memperkenankan permintaanmu jika kamu memang orang-orang yang benar”
(QS. AlA’raaf, 7:194). 
Juga dalan firman-Nya:
“Jika mereka kamu seru, tidaklah mereka mendengar seruan kamu, dan sekiranya mereka mendengar tidaklah mereka dapat nemperkenankan kamu. Dan pada hari kiamat, mereka akan mengingkari perbuatan kamu (orang-orang) yang mempersekutukan itu. Dan tidak ada yang memberitakan kepadamu (Muhammad) seperti (yang diberitakan) oleh Yang Maha Mengetahui” (QS. Faathir, 35:14).
Syarat ini kita harus berhati-hati agar jangan sampai kita berdoa kepada selain Allah, meminta kepada pohon atau kepada arwah si fulan.

 

Keempat, memenuhi kewajiban terlebih dahulu sebelum meminta.
Hendaknya sebelum memohon kepada Allah, penuhi terlebih dahulu hak-hak Allah dan laksanakan yang menjadi kewajiban kita serta beriman kepada Allah agar kita mendapat petunjuk.

 

Wallahu a’lam bish-shawab.
 

Top of Form
Bottom of Form

Leave a Reply