TETANGGA KITA

Tetangga adalah orang yang kediamannya dekat dengan kita. Sebutan tetangga cakupannya umum. Tidak pandang bulu siapakah tetangga tsb, baik yang muslim ataupun yang kafir, ahli ibadah ataupun fasik, teman ataupun musuh.

 

Sedangkan mengenai batasannya, beragam ulama memberikan batasan tetangga. Ada yang membatasinya dengan 40 rumah dari semua penjuru arah, dan hadits yang mendasarinya adalah hadits dho’if.

 

Namun pengertian tetangga tidak hanya terbatas pada tetangga dalam artian hunian, tapi lebih luas dari itu. Sehingga juga mencakup tetangga di tempat kerja, di bangku sekolah, pasar, teman perjalanan, dll..

 

Perihal tetangga mendapatkan perhatian besar dalam syariat ini. Karena itu tak heran bila Allah menyebutkannya setelah perintah beribadah hanya kepada-Nya.

Allah berfirman:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua( ibu-bapak), karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu”. (An-Nisa’:36)

 

Bahkan saking pentingnya, sampai-sampai Rasul saw bersabda:

“Jibril terus saja berpesan kepadaku mengenai tetangga (untuk selalu berbuat baik kepadanya), sampai-sampai aku menyangka akan turun wahyu bahwa seseorang akan mewarisi tetangganya”.

(muttafaq ‘alaih)

 

Lebih-lebih lagi kesaksian tetangga terhadap kita menjadi tanda cerminan jati diri kita.

 

Rasulullah bersabda :

“Bila engkau mendengar para tetanggamu berucap ‘engkau telah berbuat baik’, maka sungguh engkau telah berbuat baik. Dan bila engkau mendengar mereka mengatakan ‘engkau telah berbuat buruk’, maka sungguh engkau telah berbuat buruk”. (HR. Ahmad)

 

Maka seorang muslim yang cerdas yang mengharapkan surga-Nya, tentu tidak rela bila ia harus tertahan dari surga karena perlakuan buruknya terhadap tetangga.

 

Salam !

copas dari KTQS Bandung

Leave a Reply