Utang

Utang, Telat Bayar, Denda Mengincar

Assalamu’alaykum Sahabat CintaQuran.

 

Hutang piutang dalam kehidupan memang wajar. Tapi kalo hutangnya nggak dibayar, itu namanya kurang ajar. Karena Rasul sendiri tidak mau menshalatkan jenazah sahabat yang masih berhutang sebelum ada yang mau menanggung hutangnya untuk dibayar. Bagi yang berhutang, diperbolehkan menunda pembayaran jika belum ada dan yang meminjamkan dianjurkan untuk bersabar. Namun ketika yang berhutang sering menunda pembayaran, benteng kesabaran bisa bubar. Makanya ada yang mensiasati dengan denda jika terlambat bayar. Sepertinya wajar, padahal termasuk dosa riba yang membuat keimanan kita tercemar.

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah: 275)

”Tindakan menunda pembayaran utang oleh orang kaya adalah suatu kezaliman.” (HR Bukhari)

Pada masa Rasul dan para shahabat, tidak ada denda penalti bagi yang menunda pembayaran. Mereka hanya ditahan sesuai kebijakan pemerintah Islam saat itu.  Karena pemberi utang hanya berhak atas sejumlah uang yang dipinjamkannya, tidak lebih. Baik ia mendapatkannya tepat pada waktunya atau setelah terjadi penundaan. Tambahan berapa pun yang diambilnya sebagai kompensasi dari penundaan pembayaran tiada lain adalah riba yang diharamkan (riba nasi’ah).  Bagi yang berhutang, segeralah melunasi agar tidak tertahan di akhirat kelak. Dan bagi pemberi hutang, jangan tergoda memberlakukan denda karena keterlambatan pembayaran. Semoga  اللَّهُ melidungi kita dari kesusahan dan kesedihan; dari kelemahan dan kemalasan; dari kepengecutan dan kekikiran; dan  dari lilitan hutang dan paksaan orang-orang.