WANITA HAID

Ada 3 Kajian tentang wanita haid. Agar berkesinambungan membacanya, maka penyajiannya digabungkan

WANITA HAID (1)

☑ MEMEGANG MUSHAF AL-QUR’AN

Dalam QS al-Waq’iah 79,
la yamussuhu illa almuthahharun
“tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan”

BUKAN dalil larangan menyentuh Alquran bagi yang tidak suci, yang dimaksud dalam ayat tsb adalah para malaikat yang suci, seperti yang dijelaskan pada QS ‘Abasa 13-16, demikian Imam Malik menjelaskan dalam kitabnya, al-Muwaththa.

☑ MEMBACA AL-QUR’AN

Dari Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw berdzikir kpd Allah pada setiap keadaannya”. (HR.Muslim dan Bukhari)
Hadits ini menyatakan bhw Dzikir kepada Allah disunnahkan di setiap keadaan. Termasuk dalam makna dzikir adalah membaca Al Qur’an.

☑ HADITS-HADITS DHAIF

 

1. Dari Ibnu Umar, Rasulullah saw  bersabda: “Wanita haid dan orang yang junub tidak boleh membaca (walaupun satu ayat) Alquran.” (HR. Ibnu Majah)
2. Ali ia berkata, “Dalam keadaan apapun, selain junub, Rasul saw  selalu membacakan Alquran kepada kita.” (HR.Tirmizi)
3. Jabir berkata, “Wanita haid dan nifas serta orang junub tdk boleh membaca Alquran”. (HR.Tirmizi)
4. Dari Abdullah bin Abi Bakr, bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah saw kepada Amru bin Hazm: “Janganlah memegang Al Qur’an kecuali orang suci”. (HR Malik secara mursal, dan disambung oleh An Nasai dan ibnu Hibban, dan ia ma’lul, shahih jami’ ash shaghier no 13738)

Hadis-hadis di atas tidak ada yang shahih (valid) satu pun. Semuanya dha’if (lemah). Titik lemah hadis riwayat Imam Tirmizi dan Ibnu Majah pada Ismail bin Ayyash.

 

 

Penjelasan Imam Bukhari tentang kisah ‘Aisyah ra

Imam Bukhari, seperti dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam karyanya, Fath al-Bari (kitab ulasan Shahih Bukhari), memandang HADITS HADITS YANG MELARANG WANITA HAID MEMBACA AL-QUR’AN ITU TIDAK SHAHIH.

Maka, ia termasuk ulama yg memperbolehkan wanita haid dan orang Junub membaca Alquran. Pendapatnya diperkuat dengan hadis Aisyah,

Suatu ketika, Aisyah pergi haji bersama Rasul.Di tengah-tengah pelaksanaan haji itu, Aisyah haid.Hal ini membuatnya menangis sedih.Sebab, merasa hajinya pada tahun itu batal. Melihat Aisyah menangis, Rasul berkata kepadanya,

“Itu (haid) sudah menjadi ketentuan Allah untuk perempuan. Tetap lakukan saja, apa yang dilakukan oleh para jamaah haji yang lain, selain thawaf, kecuali setelah kamu suci dari haid itu.”

Atas dasar hadis ini Imam Bukhari berkesimpulan, bahwa wanita haid (juga orang junub) boleh membaca Alquran.

Argumentasinya, ibadah haji memuat ragam dzikir dan doa. Dan itu tidak dilarang oleh Rasul bagi wanita haid dan orang junub, kecuali thawaf, seperti disebut oleh hadis di atas.

Larangan thawaf ini semata karena ia adalah shalah makhshushah (ibadah tersendiri), yang disyaratkan harus suci dari hadas.

Selain thawaf, semua ritual haji, yang berupa zikir dan doa itu, boleh dilakukan oleh wanita haid dan orang junub. Dan membaca Alquran adalah sebagai “dzikir”, maka diperbolehkan bagi wanita haid dan orang junub, sebagaimana Rasul memperbolehkan ritual-ritual haji (selain thawaf) bagi Aisyah yang sedang haid.

Imam Bukhari juga melandaskan pembolehan itu dengan hadis lain, yang juga diriwayatkannya sendiri (juga diriwayatkan oleh Imam Muslim),

Dari Aisyah, ia berkata, “Nabi saw selalu berdzikir kepada Allah setiap saat.”

 

☑ KESIMPULAN

Bagi yang berjunub (berhadats kecil atau besar) serta Wanita Haid / Nifas BOLEH MEMEGANG MUSHAF AL-QUR’AN dan MEMBACA AL-QUR’AN, karena tidak ada dalil shahih dan sharih yang melarangnya.

Dan karena itu juga, tidak harus berwudhu dahulu sebelum memegang dan membaca al-Qur’an.

——————————————————————————————————-

WANITA HAID (2)

 

WANITA HAID BOLEH MELAKUKAN HUBUNGAN INTIM ?

Rumah tangga harus dibangun atas dasar taat pada hukum dan muasyaraoh bilma’ruf di antara mereka. Keduanya selalu meperlakukan pasangannya dengan penuh kemuliaan.

“Dan perlakukanlah istri dengan cara ma’ruf” (QS an-Nisa:19),

“Bagi wanita berhak mendapatkan perlakuan ma’ruf, sebagaimana ia wajib memperlakukan suaminya dengan ma’ruf”. (QS al-Baqaroh:228).

Seorang istri harus tetap melayani dan patuh pada suami termasuk melayani hubungan badan.

Tetapi pada saat yang sama suami harus memperlakukan istri dengan ma’ruf (baik, penuh penghargaan).

Benar ada hadits yang menjelaskan tentang ancaman bagi wanita yang menolak berhubungan dengan suaminya bahwa ia akan dilaknati malaikat (HR Ahmad, Bukhori dan Muslim). Tetapi harus ingat bahwa suami tunduk pada peraturan tindakan ma’ruf pada pasangannya.

Rasulullah bersabda : yang artinya : “Jika seseorang di antara kalian menggauli istrinya maka hendaknya jangan terburu-buru sampai istrinya puas”. (HR Abu Ya’la, lihat majmauzzawaid 4/295). Ini semua dimaksudkan agar hubungan pasangan itu ma’ruf.

Bolehkah ML saat isteri dalam keadaan haid?

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu HENDAKLAH KAMU MENJAUHKAN DIRI DARI PEREMPUAN HAID; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yg diperintahkan Allâh kepadamu.Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yg taubat dan menyukai orang-orang yg mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah/2: 222)

Suami boleh menggauli dan mencumbui saat istri haid asal tidak melakukan hubungan intim.

—————————————————————————————————

 

BOLEHKAH WANITA HAID MASUK MASJID?

HADITS LARANGAN

☑ Larangan wanita haid masuk masjid :

لاَأُحِلُّ الْمَسْجِدُ ِلحَائِضٍُ وَلا َجُنُبٍ

“Aku tidak menghalalkan masjid untuk wanita yang haidh dan orang yang junub.” (HR.Abu Daud no.232, al Baihaqi II/442-443)

Akan tetapi hadits di atas merupakan HADITS DHOIF (lemah) meski memiliki beberapa syawahid (penguat) namun sanad-sanadnya lemah sehingga tidak bisa menguatkannya dan tidak dapat dijadikan hujjah.Asy Syaukani menyebutkan ke-dho’if-an hadits ini dalam Irwa’ul Gholil’ I/201-212 no. 193.

☑ “Aku tdk menghalalkan masjid bagi orang junub dan tdk pula bagi wanita haid.” (HR. Abu Daud 1/232, Baihaqi 2/442. Didlaifkan dalam Al Irwa’ 1/124)

HADITS inipun DHOIF (lemah) karena ada rawi bernama Jasrah bintu Dajaajah.

“Sebagai akhir”, kata Asy Syaikh Mushthafa, “kami memandang tdk ada dalil yg shahih yg tegas melarang wanita haid masuk ke masjid, dan berdasarkan hal itu boleh bagi wanita haid masuk masjid atau berdiam di dalamnya”. (Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/191-195)

HADITS MEMBOLEHKAN

☑ Dihadits shahih Nabi Saw mengatakan kepada ‘Aisyah ra yang terkena haid sewaktu melaksanakan ibadah haji bersama beliau Saw :
“Lakukanlah apa yang diperbuat oleh seorang yg berhaji kecuali jangan engkau Thawaf diKa’bah”. (HR. Bukhari no 1650)

Dalam hadits di atas Nabi Saw tidak melarang ‘Aisyah untuk masuk ke masjid dan sebagaimana jamaah haji boleh masuk ke masjid maka demikian pula wanita haid boleh masuk masjid.

☑ Dalam hadits shahih lainnya Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya orang Muslim itu tidak najis.” (HR. Bukhari no 283 dan Muslim no 116)

Hadits ini lebih gamblang bahwa orang muslim itu tidak najis.

 

KESIMPULANNYA tidak ada larangan YANG TEGAS bagi wanita haid untuk masuk masjid, yang jelas selama wanita haid tersebut aman dari kemungkinan darahnya mengotori masjid, maka tdk apa-apa ia duduk di dalam masjid untuk mendengarkan ceramah atau lainnya selain shalat tentunya

 

Wanita Haid TIDAK BOLEH Melakukan: Shalat, Shaum, Thawaf dan ML

 

Salam !

copas dari KTQS

 

 

Leave a Reply